Penyuluhan Pertanian

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

I. PENDAHULUAN Penyuluhan pertanian merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang baru dari ilmu-ilmu sosial. Sebagai suatu ilmu sosial penyuluhan merupakan suatu ilmu yang mempelajari cara-cara dan proses perubahan pada manusia dan masyarakat agar perubahan tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan. Penyuluhan pertanian mengharapkan adanya proses pertanian yang selalu maju. Oleh karena itu disamping mendasarkan dirinya pada ilmu-ilmu sosial, penyuluhan juga menghendaki pengetahuan teknis pertanian bagi mereka yang menggunakan ilmu ini didalam praktek. Seseorang yang menginginkan adanya perubahan kehidupan pertanian, sedikit banyak harus mengetahui ilmu-ilmu pertanian. Penyuluhan pertanian menitikberatkan pandangannya pada orang dan orang-orang (masyarakat) yang terlibat dalam kehidupan dibidang pertanian. Penyuluhan pertanian menginginkan adanya perubahan pada orang dan masyarakat yang berusaha dibidang pertanian sehingga mereka mau mengadakan perubahan-perubahan dalam cara berfikir, cara kerja dan cara hidupnya menuju kemajuan dan kesejahteraan mereka pada khususnya, masyarakat tani dan negara pada umumnya. Ilmu-ilmu yang menunjang ilmu penyuluhan pertanian adalah sosiologi, psikologi, ilmu mendidik, leadership, ilmu komunikasi dan lain-lain yang mempelajari kehidupan manusia. Yang melengkapai ilmu penyuluhan pertanian adlah ilmu-ilmu lain dibidang pertanian terutama ilmu ekonomi pertanian dan ilmu-ilmu teknik pertanian. Hal ini terutama diperlukan bagi mereka yang menggunakan ilmu penyuluhan pertanian dalam praktek. Oleh karena setiap kegiatan dijalankan oleh manusia dan penyuluhan merupakan ilmu yang ”menggarap” manusia, maka penyuluhan merupakan ilmu terpakai (applied science). Orang yang menggunakan ilmu penyuluhan didalam praktek dinamakan penyuluh (extention worker, extention agent). Mereka ini menyebarkan teknologi-teknologi baru dan menemukan masalah-masalah baru didalam praktek. Mereka menghendaki perubahan dalam masyarakat. Oleh karena itu ada orang yang berpendapat bahwa penyuluhan pertanian berdiri diantara ilmu-ilmu teknik pertanian dan ilmu-ilmu sosial pertanian. Ada lagi yang berpendapat bahwa karena didalam praktek, penyuluhan itu selain harus menguasai dan menggunakan metode-metode dalam ilmu penyuluhan, juga harus pandai merasakan dan mengerti atas feeling dan kecintaan terhadap masyarakat tersebut. Oleh karena itu mereka beranggapan bahwa penyuluhan merupakan ilmu dan seni (science and art). Lepas dari tepat tidaknya anggapan di atas, bukan maksud tulisan ini untuk membahasnya. Kembali pada awal tulisan ini penyuluhan menghendaki perubahan-perubahan. Dengan berkembangnya teknologi karena kebutuhan-kebutuhan yang meningkat dan berubah, memerlukan manusia-manusia yang dapat dan mau mengimbangi perubahan-perubahan yang selalu menuju pada kemajuan. Kemajuan-kemajuan mana memerlukan pula orang-orang yang berfikiran dan bertindak maju. Disinilah penyuluhan pertanian memegang peranan.

II. BEBERAPA PENGERTIAN DASAR PENYULUHAN PERTANAN 2.1 Arti Penyuluhan Pertanian Penyuluhan pertanian adalah suatu sistem pendidikan di luar sistem sekolah yang biasa, dimana orang belajar sambil bekerja dan belajar dengan mengerjakan sendiri. Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk merubah kelakuan (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) manusia yang dididik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik. Yang dimaksud dengan penyuluhan pertanian adalah suatu usaha atau kegiatan untuk merubah perilaku (kelakuan) petani dan keluarganya, sehingga mereka tahu, mau dan dapat memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha meningkatkan kehidupan dan penghidupannya. Sebagai suatu sistim pendidikan, penyuluhan pertanian mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri khusus yang berbeda dengan sistem pendidikan biasa. Adanya ciri-ciri dan sifat-sifat khusus ini disebabkan: 1. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari adanya kegiatan penyuluhan akan secara langsung mempengaruhi kehidupan petani. 2. Setiap saat petani sibuk dengan kegiatan bertaninya sebagai sumber penghidupan pokok sehingga waktu dan tempat pendidikan tidak tertentu. 3. Petani sebagai orang yang dididik mempunyai fikiran-fikiran, pandangan-pandangan, keinginan-keinginan dan kebiasaan yang terutama dipengaruhi oleh lingkunganya. Lingkungan pedesaan dan lingkungan pertanian (spirituil, fisik maupun materiil). Atas dasar pemikiran ini maka sistem pendidikan dalam penyuluhan pertanian mempunya corak tersendiri. Pendidikan bersifat informil (non-formal education); sedang sistem pendidikan biasa (sekolah, perguruan) sifatnya formal (formal education), walaupun tujuannya sama yaitu merubah perilaku manusia. Untuk dapat melihat perbedaan lebih lanjut antara sistm pendidikan formal dengan sistem pendidikan informal dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Kurikulum Formil : tetap Informil : disesuaikan dengan persoalan yang ada dalam masyarakat saat itu. 2. Kewajiban belajar Formil : murid harus belajar, kalau tidak, akan mendapat hukuman (tidak naik kelas dll). Informil : tak ada sanksi apapun, tak ada paksaan untuk mentaati apa-apa yang dianjurkan dalam penyuluhan. 3. Lalu lintas pelajaran Formil : umummnya satu arah; dari guru ke murid Informil : dari dua pihak; dari penyuluh berbentuk ide-ide baru sedang dari petani berbentuk pengalaman-pengalaman dan problem-problem setempat. 4. Hubungan yang dididik dan yang mendidik Formil : ada yang dididik (murid) dan ada yang mendidik (guru) Informil : walaupun dalam kenyataan ada yang bermaksud merubah kelakukan dan ada yang dirubah kelakuannya (petani), tapi tidak atas dasar hubungan guru dan murid petani seolah-olah sebagai teman yang sama-sama berusaha untuk memajukan pertanian. 5. Waktu dan tempat pendidikan Formil : tertentu Informil : tak tentu kapan saja, dimana saja dan kesempatan yang digunakan untuk kegiatan penyuluhan. 6. Pembatasan Umur : Formil : ada pembatasan umur Informil : siapa saja dapat ikut serta; orang dewasa, pemuda, anak-anak. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai pengertian penyuluhan pertanian, berikut ini diuraikan pendapat dari beberapa penulis sebagai berikut : 1. Hasnosuwignjo & Attila Garnadi Penyuluhan pertanian adalah pendidikan pada rakyat tani baik di rumah, ditempat-tempat tertentu atau dimana saja mereka dapat ditemui. Dengan demikian, penyuluh merupakan seorang pendidik. 2. A. T. Mosher Menurut Mosher, penyuluhan dapat diartikan sebgagai suatu proses pendidikan diluar bangku sekolah yang mempunyai sifat-sifat berikut : a. Diberikan kepada masyarakat pedesaan sesuai dengan kepentingan / kebutuhan pada waktu tertentu serta berhubungan dengan mata pencaharian / usahanya. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidupnya dan sekaligus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. b. Hubungan teknik pendidikan khusus untuk disesuaikan dengan sifat-sifat dan kepentingan petani. c. Dijalankan dengan bantuan berbagai kegiatan, baik kegiatan yang langsung menunjang pendidikan tersebut, seperti program penyuluhan, time schedule, evaluasi maupun kegiatan yang tidak langsung menunjang seperti penyediaan sarana produksi, fasilitas pengolahan hasil dan sebagainya. d. Pelaksanaan pendidikan tersebut diadakan dalam suasana kerja sama dan saling menghargai. Dari uraian di atas kelihatan disini bahwa pengertian dari penyuluhan yang dilaksanakan adalah pendidikan dimana materinya disesuaikan dengan kepentingan / kebutuhan masyarakat tani. Pelaksanaannya didasarkan atas suatu kerja sama dan saling menghargai antara penyuluh dan petani. Oleh karena itu penemuan / kepentingan / kebutuhan yang primer merupakan faktor mutlak dalam rencana penyuluhan pertanian. Disamping itu dengan jelas dapat diketahui perbedaan sistem pendidikan di sekolah (formil) dengan sistem pendidikan dalam penyuluhan pertanian. 3. Jack Perner Dalam menguraikan tentang penyuluhan pertanian, Jack Perner mengemukakan bahwa penyuluhan pertanian merupakan ilmu terpakai yang secara khusus mempelajari teori, prosedur dan cara-cara yang dapat digunakan untuk menyampaikan teknologi baru yang didapat dari penelitian baik ilmu-ilmu pertanian maupun ilmu sosial kepada petani melalui proses pendidikan sehingga mereka mengerti, menerima dan menggunakannya untuk memecahkan kesukaran-kesukaran yang dihadapi. Disini teknologi baru merupakan materi dari penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian dapat berhasil baik, bila kita dapat menemukan persoalan-persoalan primer yang ada pada petani serta jalan pemecahannya. 4. A. H. Savile Mengartikan penyuluhan pertanian sebagai suatu bentuk pengembangan masyarakat terutama dalam bidang pertanian dengan menggunakan proses pendidikan sebagagai cara pendekatannya untuk megatasi / memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat. Masalah tidak ditanggapi secara individual tetapi ditanggapi sebagai masalah yang dihadapi masyarakat secara keseluruhan. 5. Mac. P. Millikan & David Hoopgood Penyuluhan adalah pendidikan yang sifatnya tidak formil yang ditujukan pada masyarakat pedesaan dari segala umur untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam memecahkan / menghadapi masalah yang dihadapi. 6. Menurut Buku pedoman pelaksanaan dan petunjuk teknis posluhtan BPPK KP Kab.Maros Penyuluhan Pertanian Adalah proses pembelajaran bagi petani dan keluarganya serta pelaku usaha pertanian lainnya agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses pasar, tehnologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas,efesiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya. 7. Kampus Pertanian, Penerbit Penebar Swadaya Penyuluhan Pertanian adalah Sistem pendidikan nonformal Bidang Pertanian yang diperuntukan bagi Petani nelayan, dan keluarganya agar dinamika dan kemampuan dalam memperbaiki kehidupan dan penghidupan dengan kekuasaan sendiri dapat berkembang serta kesejahteraan dan fastisitasi dalam pembergunaan pertanian meningkat 8. Menurut A.W.Van Den Ban & HS. Hawkinspirarlit, 1999 Penyuluhan Pertanian yaitu merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi, informasi di bidang pertanian yang secara sadar dengan tujuan membantu petani dan nelayan memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan sendiri. 9. Menurut UU Republik Indonesia No. 16 Tahun 2006 Pasal I BAB I tentang system penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, tehnologi, permodalan dan sumber daya lainnya, upaya untuk meningkatkan produktifitas, efesiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. 10 Menurut Wahyu Aksari Penyuluhan Pertanian adalah pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal di bidang pertanian agar mereka mampu menolong dirinya sendiri baik di bidang ekonomi, sosial maupun politik sehingga peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka dapat dicapai. Penyuluhan Pertanian adalah Sistem Pemberdayaan Petani dan Keluarganya Melalui Kegiatan Pembelajaran yang Bertujuan agar Para Petani dan Keluarganya Mampu secara Mandiri Mengorganisasikan Dirinya dan Masyarakatnya untuk Bisa Hidup Lebih Sejahtera. Petani harus diajak belajar bagaimana memelihara dan memanfaatkan sumberdaya yang ada dilingkungannya untuk kesejahteraannya yang lebih baik secara berkelanjutan 11 Soeharto, N.P.2005 Penyuluhan pertanian bagian dari sistem pembangunan pertanian yang merupakan system pendidikan di luar sekolah (pendidikan non formal) bagi petani beserta keluarganyadan anggota masyarakat lainnya yang terlibat dalam pembangunan pertanian, dengan demikian penyuluhan pertanian adalah suatu upaya untuk terciptanya iklim yang kondusif guna membantu petani beserta keluarga agar dapat berkembang menjadi dinamis serta mampu untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupannya dengan kekuatan sendiri dan pada akhirnya mampu menolong dirinya sendiri 12 Salim,F. (2005) penyuluhan pertanian adalah upaya pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal dibidang pertanian ,agar mampu menolong dirinya sendiri baik dibidang ekonomi, sosial maupun politik, sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka dapat dicapai 13 Setiana. L. 2005 Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan 14 Mardikanto, 2003 penyuluhan adalah proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan semua “stakeholders” agribisnis melalui proses belajar bersama yang partisipatip, agar terjadi perubahan perilaku pada diri setiap individu dan masyarakatnya untuk mengelola kegiatan agribisnisnya yang semakin produktif dan efisien, demi terwujudnya kehidupan yang baik, dan semakin sejahtera secara berkelanjutan Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapatlah disimpulkan bahwa penyuluhan bukan merupakan suatu sistem penerangan saja, tetapi merupakan suatu sistem pendidikan. Sistem pendidikan dalam penyuluhan ditujukan khusus pada kaum tani dan masyarakat pedesaan secara informal. Bahan yang diajarkan disesuaikan dengan kebutuhan petani/masyarakat pedesaan dengan maksud supaya mereka melaksanakan / menerapkan apa yang disuluhkan untuk perbaikan kehidupan mereka sendiri. 2.2 Fungsi Penyuluhan Pertanian Dengan perubahan yang terjadi dalam diri petani, keluarganya dan masyarakatnya sehingga mereka dapat memecahkan masalanya itu maka penyuluhan pertanian berfungsi untuk dapat menolong menemukan masalahnya sendiri, kemudian secara bersama-sama berusaha memecahkan masalah itu. Tumbuhnya masalah ini disebabkan karena adanya kebutuhan-kebutuhan. Oleh karena itu penyuluhan pertama-tama harus dapat menemukan kebutuhan petani yang sebenarnya. Ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Setiap petani ingin mendapatkan produksi dan pendapatan (income) yang setinggi-tingginya. Setiap orang ingin hidup sejahtera. Tapi kebutuhan apakah yang harus dipenuhi untuk mencapai produksi, pendapatan dan kesejahteraan yang tinggi ini. Tugas penyuluh adalah menyadarkan petani akan kebutuhan-kebutuhannya ini sehingga mereka secara sadar dan dengan kemauannya sendiri berusaha memenuhi kebutuhan itu. Dengan berkembangnya pengetahuan, kebutuhan-kebutuhan orang juga berkembang (bertambah dan berubah) sehingga orang berusaha untuk menemukan cara-cara (teknologi) baru untuk dapat memenuhi kebutuhan itu. Hasil penemuan ini tentunya harus dilaksankaan dalam praktek. Kenyataan menunjukkan bahwa hasil penemuan (pengetahuan dan teknologi) yang baru itu tidak secara otomatis (begitu saja) diserap kedalam praktek. Sehingga selalu terjadi gap antara praktek disatu pihak dengan pengetahuan dan teknologi di lain pihak. Padahal perkembangan yang pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan pula penyerapan yang cepat kedalam praktek. Fungsi penyuluh adalah sebagai jembatan untuk menghilangkan gap ini. Sebaliknya dalam masyarakat timbul pula masalah-masalah baru yang memerlukan pemecahan para ahli. Tugas penyuluh pula untuk menemukan, menginventarisasikan dan membawa masalah dari masyarakat ini kepada pihak Ilmu Pengetahuan untuk dapat menemukan pemecahannya. Jadi penyuluhan merupakan jembatan yang bersifat “two way traffic”; dua arah, antara pengetahuan dan praktek serta pengalaman masyarakat. Perkembangan pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan ini menghasilkan program-program baik yang bersifat nasional maupun regional. Demikian juga program-program dalam masyarakat sendiri tercipta untuk menangani masalah-masalah setempat. Dalam hal ini penyuluh berfungsi untuk untuk menyampaikan, mengusahakan dan menyesuaikan agar program nasional dan regional dapat dilaksanakan oleh masyarakat, serta program-program masyarakat dapat diperhatikan oleh pembuat program tingkat nasional dan regional. Karena perkembangan ilmu, teknologi dan kebutuhan ini berlangsung terus menerus maka penyuluhan pertanianpun harus terus menerus (kontinyu). Penyuluhan tidak akan berhenti, karena selalu menginginkan keadaan yang selalu lebih baik dan selalu lebih maju. 2.3 Tujuan Penyuluhan Pertanian Seperti telah diketahui penyuluhan termaksud untuk mengadakan perombakan-perombakan baik dalam diri petani maupun masyarakat (community)-nya, kearah yang lebih baik dan lebih sejahtera. Perubahan yang diinginkan terjadi dalam diri petani adalah : 1. Perubahan dari apa yang mereka ketahui 2. Perubahan dari apa yang dapat mereka kerjakan 3. Perubahan sikap mereka terhadap mereka sendiri, terhadap masyarakatnya dan terhadap lingkungan fisiknya. 4. Perubahan dari apa-apa yang sesungguhnya mereka kerjakan. Setiap tindakan dan kelakuan manusia didorong oleh adanya motif untuk bertindak atau berfikir dan melakukan sesuatu. Untuk dapat terjadinya perubahan-perubahan tadi maka motif dari tindakan dan pemikiran ini harus dapat berubah juga. Penyuluhan menginingkan agar motif tindakan petani ini merupakan motif yang baik, ataupun kalau motif untuk bertindak lebih baik, mengusahakan agar timbul motif dalam diri petani. Untuk merubah kelakuan manusia dapat pula digunakan cara pelaksanaan (compulsion); tapi cara ini mutlak bukan cara penyuluhan pertanian. Dengan merupakan kelakuan petani ini diharapkan masyarakat tani menjadi dinamis, mempunyai reseptivitas yang tinggi dan penuh responsif terhadap hal-hal yang baru. Penyuluhan juga bermaksud untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan petani sehingga mereka dapat berusaha tani secara lebih menguntungkan. Hal ini akan menyebabkan peningkatan pendapatan; sehingga dengan naiknya pendapatan ini petani dapat hidup lebih layak. Tentu saja untuk meningkatkan pendapatan petani ini dapat saja diberikan bantuan finanisil (misal : petani disamping penghasilannya diberi tambahan uang), tapi ini bukan maksud dari penyuluhan. Penyuluhan harus bersifat mendidik. Jadi bantuan finansiil diberikan sebagai penunjang terhadap kegiatan pendidikan, sebab tanpa bantuan finansiil, pendidikan akan tidak berdaya. Demikian juga bantuan finansiil tanpa pendidikan akan menyebabkan pemborosan-pemborosan dan kemelaratan. Jadi tujuan penyuluhan dapat disimpulkan dengan usaha mencapai pertanian yang lebih modern, usahatani yang lebih menguntungkan dan hidup yang lebih sejahtera (better farming, better bussiness, better living). Dengan mengubah perilaku (pengetahuan, suikap, ketrampilan) petani, keluarga dan masyarakatnya bukan berarti bahwa penyuluhan pertanian itu menggerakkan petani, keluarganya dan masyarakatnya saja, tapi menggerakkan pertanian dengan tujuan untuk menuju pertanian modern demi tercapainya kesejahteraan semuanya. Pertanian modern ini dicirikan oleh beberapa hal, antra lain : a. Para petaninya penuh dinamika b. Flexible c. Mempunyai produktifitas tinggi. Untuk mencapai ini diperlukan a. Manusia yang lebih maju (petani-petani usahawan, pegawai dan sebagainya). b. Management dan teknologi yang selalu lebih baik dan selalu berkembang (hasil-hasil penelitian, percobaan dsb) c. Bahan, alat, biaya produksi yang selalu tersedia (sarana produksi, tenaga kerja dan sebagainya). d. Prasarana-prasarana yang berfungsi lancar (irigasi, perhubungan, tata niaga dan sebagainya). e. Suasana (iklim) kegiatan yang menguntungkan (kebijaksanaan / politik, permintaan pasar, ketertiban dan sebagainya). Dengan penyuluhan terhadap kaum tani, dapat menambah kesanggupannya dalam usaha untuk memenuhi keinginan-keinginan. Jelasnya bahwa perilaku petani harus dirubah sedemikian sehingga dengan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang lebih baik mereka dapat memperbaiki cara bercocok tanamnya, lebih beruntung dalam usaha taninya serta lebih layak hidupnya. Secara umum dapatlah dikemukakan bahwa tujuan penyuluhan pertanian untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan petani dalama mengusahakan usaha taninya menjadi lebih menguntungkan. Disamping itu menurut tingkatnya, tujuan penyuluhan dapat dibedakan atas tujuan dasar, tujuan umum dan tujuan kerja. Tujuan Dasar, adalah tujuan akhir yang dianggap seharusnya ada didalam masyarakat antara lain tercapainya masyarakat adil dan makmur, spirituil dan materiil. Tujuan Umum adalah tujuan yang sifatnya agak jelas, tapi masih untuk golongan yang besar seperti meningkatkan penghasilan, memperbaiki taraf hidup, menambah keahlian dan sebagainya. Tujuan operasionil merupakan tujuan yang dipergunakan sebagai arah kegiatan usaha. Dari fihak penyuluh tujuannya adalah agar petani mau melaksanakan apa yang disuluhkan sedang bagi petani tujuannya untuk meningkatkan produksi, pendapatan dan sebagainya. Tujuan kerja dapat dibagi menjadi atau tujuan jangka panjang (aim) yaitu tujuan yang baru dapat dicapai dalam jangka waktu yang lama misalnya tercapainya masyarakat adil makmur. Tujuan jangka pendek (objective) tujuan yang ingin dicapai dalam waktu yang dekat misalnya peningkatan produksi. Tujuan pendek dapat diperinci dalam apa yang harus dicapai dalam waktu tertentu misalnya dalam jangka 1 tahun yakni apa yang disebut target. Garis besar tujua penyuluhan yang dikemukakan oleh beberapa penulis adalah sebagai berikut: 1. A.T. Mosher Di Amerika tujuan dari penyuluhan pertanian dapat diperinci dalam tiga tujuan utama yaitu : a. Membantu petani dalam usahanya untuk memperoleh mata pencaharian. b. Membantu petani untuk memperbaiki kehidupan fisiknya c. Mengembangkan masyarakat 2. Harold Dusentary Tujua dari penyuluhan pertanian adalah sebagai berikut: a. Menambah pengetahuan petani sehingga petani dapat mengusahakan usahataninya lebih efisien dan mempertinggi pendapatannya. b. Mendorong petani untuk menghasilkan bahan makanan yang diperlukan agar dapat makan dan hidup yang lebih baik. c. Menambah pengetahuan petani tentang keadaan-keadaan dan kesempatan yang ada di luar desanya. Dengan demikian mobilitas petani untuk bekerja di luar desanya menjadi lebih besar. d. Membuka kesempatan bagi petani untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya. Bakat-bakat yang dimiliki petani disalurkan sehingga bakat tersebut dapat dikembangkan. e. Membentuk suatu masyarakat tani yang bangga akan pekerjaanya, bebas dalam cara berfikir, konstruktuf dalam pandangan, cakap, efisien dan percaya pada diri sendiri. 3. Wahyuaksari Agar pertnaian di Indonesia dapat berkembang serta dapat memajukan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Selain itu dapat menambah pengetahuan serta perubahan sikap yang lebih baik yang akan diambil petani untuk kedepannya. 2.4 Falsafah Penyuluhan Pertanian Dasar pemikiran dalam penyuluhan perlu diketahui sebagai landasan kerja penyuluhan agar pelaksanaannya berlangsung dengan baik dan benar. Sebagai suatu sistem pendidikan, falsafah penyuluhan tidak dapat dipisahkan dari falsafah pendidikan pada umumnya. Falsafah penyuluhan mencakup beberapa aliran falsafah pendidikan antara lain idialisme, pragmatisme dan realisme. Sesuai dengan tujuan penyuluhan seorang penyuluh mempunyai cita-cita atau idealisme, tetapi berpijak teguh atas kenyataan yang dialami jadi pragmatis. Penyuluh bekerja secara logis dan objektif sebagaimana halnya seorang realis. Ini dapat dilihat dari tujuan (aim) penyuluha yakni masyarakat adil dan makmur yang mengarah pencerminan suatu idealisme. Semboyan lain dalam penyuluhan seperti belajar dengan berbuat (learning by doing) dan melihat baru percaya (seeing and believing) masing-masing mencerminkan aliran pragmatis dan realistis. Falsafah penyuluhan pertanian mengakui pentingnya individu petani dalam mencapai kesejahteraan pribadi dan masyarakat. Penyuluh hanya bekerja sama dengan petani dan membantunya dalam usahanya sendiri untuk mencapai tujuan akhir. Bersama-sama petani berusaha untuk menemukan problem yang mereka hadapi dan membantu mencari jalan pemecahannya. Pengakuan terhadap pentingnya individu dinyatakan dalam bentuk pelaksanaan penyuluhan yang dilakukan atas dasar kerja sama saling menghargai antara penyuluh dan petani. Jelas bahwa falsafah penyuluhan tidak ada sifat perintah apalagi paksaan. Kesadaran bahwa segala resiko kegagalan akibat tindakan yang salah hanya dipetani sendiri yang akan merasakannya dan tidak ada orang lain termasuk penyuluh yang akan membantunya tanpa syarat, membangkitkan falsafah tersebut. Lain dari pada itu perubahan perilaku yang diperoleh dengan paksaan / perintah yang biasanya disertai dengan ancaman / sanksi tidak pernah bertahan lama. Selagi ada pengawasanm, anjuran / perintah akan dilaksanakan bila tidak akan berhenti. Karena itu sesuai dengan kesadaran yang diperoleh dari perubahan pengetahuan dan ketrampilan dalam diri pribadi petani. Bentuk falsafah dalam penyuluhan disebut falsafah yang elektic, yakni kombinasi dari falsafah idealisme, pragmatisme dan realisme. Sebagai suatu kegiatan pendidikan yang informil dengan ciri-ciri dan sifatnya yang khusus penyuluh mempunyai falsafah tersendiri yang menjadi dasar pemikiran, dasar tindakan penyuluh dalam melakukan kegiatan penyuluhannya. Tadi telah dikemukakan bahwa penyuluhan pertanian bermaksud untuk merubah kelakuan petani sehingga mereka dapat memecahkan masalahnya sendiri. Oleh karen itu masalah yang dianut oleh penhyuluhan pertanian adalah bahwa penyuluhan itu berarti menolong orang sehingga mereka dapat menolong dirinya sendiri (to help people help themselves). Jadi dalam hal ini perlu ditimbulkan adanya kemampuan self-help dalam diri petani (masyarakat tani) dalam usahanya menuju ksejahteraan. Oleh karena itu dalam bekerjanya penyuluh pertanian harus bekerja bersama dengan petani (to work with people). Bukan sekedar bekerja untuk petani, sebab ini hanya berarti membantu petani tanpa menimbulkan adanya self-help. Harus diingat bahwa petani itu belajar sambil bekerja dan belajar dengan mengerjakan sendiri. Dengan bekerja bersama dengan petani, maka petani akan terlatih dalam menemukan dan memecahkan masalah serta terlatih dalam mencari dan menemukan kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik dalam usaha perbaikan sehingga dapat menjadi mereka seorang yang berinisiatif dan berswadaya. Selain itu dengan ikut berperannya petani dalam setiap kegiatan akan menyebabkan timbulnya kepercayaan akan kemampuan dirinya sendiri, sehingga dapat berpartisipasi lebih aktif dalam setiap program perbaikan. Dari uraian di atas terlihat bahwa penyuluhan menganut azaz demokrasi. 2.5 Beda Antara Penyuluhan dan Penerangan Sering dikacaukan pengertian mengenai penyuluhan dan penerangan. Sebenarnya penerangan hanya merupakan sebagian dari kegiatan penyuluhan. Dengan penerangan kita tidak mengharapkan agar orang yang diberi penerangan itu menerapkan apa yang kita sampaikan. Hanya sekedar memberi tahu (to inform). Sebagai contoh dapat dikemukakan mengenai penerangan tentang cara-cara bertani kepada masyarakat umum. Kita tak mengharapkan mereka melaksanakan pertanian itu tapi hanya supaya mereka tahu, mengerti dan mempunyai perhatian tentang apa yang terjadi dalam pertanian.

III. SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN DI INDONESIA 3.1 Periode Sebelum 1945 Sebagaimana diketahui bahwa sebelum tahun 1945, Indonesia berturut-turut berada dalam kekuasaan Belanda, Inggris dan Jepang. Belanda memerintah Indonesia dalam dua tahap. Tahap pertama dimulai sejak zaman V.O.C. (tahun 1653) s/d masuknya Inggris pada tahun 1814. Tahap kedua dimulai pada tahun 1816 setelah Raples menyerahkan kembali kekuasaannya. Pemerintah Belanda tahap kedua ini baru berakhir dengan masuknya Jepang pada tahun 1942. dari tahun 1942 s/d 1945 Indonesia berada dalam kekuasaan Jepang. Selama pemerintahan Belanda tahap pertama dan selama pemerintahan Raples tidak ada suatu bentuk penyuluhan pertanianpun di Indonesia. Setelah pemerintahan Belanda yang kedua didirikanlah sekolah Pertanian di Bogor pada tahun 1903. Sejak saat ini boleh dikatakan ada usaha-usaha / kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian. Sampai tahun 1910, kegiatan penyuluhan pertanian ini tidak disampaikan langsung pada petani tetapi melalui Pangreh-Praja dalam bentuk peraturan-peraturan dan perintah. Pada tahunh 1905 didirikan Departemen Pertanian yang salah satu tugasnya adalah penyuluhan yakni menyalurkan hasil penyelidikan kepada petani. Tahun 1911 dibentuklah Dinas Penyuluhan Pertanian, tetapi dalam melaksanakan tugasnya masih belum dapat berhubungan langsung dengan petani. Walaupun sudah ada Dinas Penyuluhan, tetapi Pangreh-Praja masih tetap memegang peranan penting dan penyuluhan masih dalam bentuk perintah. Keadaan ini baru berakhir setelah tahun 1921 dimana Cultur Stelsel telah dihapuskan (1917) dan Dinas Penyuluhan Pertanian dapat langsung berhubungan dengan petani, serta jauh dari sifat paksaan. Sejak tahun 1921, usaha perbaikan pertanian yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian dilaksanakan oleh petani dengan penuh tanggungjawab berdasarkan keinsyafan, setelah petani melihat sendiri bukti-bukti yang nyata dari percobaan dan percontohan. Sistem penyuluhan yang dipakai saat ini adalah Olie-vlok Method yakni sistem tetesan minyak. Usaha penyuluhan dipusatkan disatu tempat yang keadaannya paling menguntungkan serta dapat menjamin berhasilnya usaha tersebut. Dengan cara ini diharapkan apa yang dilaksanakan ditempat itu dapat ditiru oleh orang-oprang disekitarnya dan menjalar ke tempat lain disekelilingnya dan demikian seterusnya. Sebelum perang dunia kedua, hasil kwalitatif yang diperoleh sangat memuaskan tetapi kuantitatif sangat lambat jalannya. Setelah perang dunia kedua, Indonesia berada di bawah pemerintahan militer Jepang. Urusan pertanian kembali pada Pangreh-Praja sedang Dinas Pertanian dipaksa menjalankan perintah dalam usaha perbaikan pertanian serta diikut sertakan dalam usaha praktisi tidak ada (dan usaha pertanian dititik beratkan pada usah tanaman pangan). Sejarah penyuluhan setelah Indonesia merdeka dapat dibagi dalam 3 periode uatama yakni periode 1945 – 1957; periode 1958 – 1963 dan periode 1963 sampai sekarang. 3.2 Periode 1945 - 1957 Dalam periode 1945 – 1957 ada usaha-usaha untuk menemukan suatu sistem penyuluhan yang dapat menjamin hasil kuantitatif yang lebih besar dalam waktu yang lebih pendek. Pada tahun 1947, Soetardjo, mengemukakan gagasan untuk mengintensifkan penyuluhan melalui BPMD (Balai Pendidikan Masyarakat Desa) yang diadakan disetiap kecamatan diseljuruh Indonesia. BPMD sendiri merupakan tempat (Balai) dengan halaman yang cukup luas (+ 2 ha) dan diusakan sedemikian rupa sehingga menjadi percontohan yang menarik. Di dalam balai diadakan kursus-kursus / pertemuan-pertemuan untuk meningkatkan pengetahuann dan ketrampilan disamping menyediakan alat pertanian dan alat produksi yang diperlukan. Pada prinsipnya sistem penyuluhan dengan BPMD ini sama dengan tetesan minyak, hanya secara sistematis jumlahnya diperbesar. 3.3 Periode 1958 - 1963 Kenaikan jumlah penduduk serta perubahan menu rakyat setelah merdeka, mempengaruhi kebutuhan beras di Indonesia. Konsumsi beras meningkat dan untuk mengatasi hal ini perlu peningkatan produksi pangan secara masal dan integral. Pada tahun 1959 duibentuklah Badan Produksi Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (disingkat BMPT) dengan tugas meningkatkan produksi beras. Sebagai pelaksanaan dalam usaha intensifikasi pertanian ditugaskan Perusahaan Padi Centra. Dengan demikian penyuluhan untuk peningkatan produksi beras dengan intensifikasi juga diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan tersebut yang bekerja secara zakelyk. Kepada petani yang mengusahakan padi pada Center yang ditunjuk diberi kredit pupuk dan uang yang kemudian dikembalikan pada waktu panen dan dalam bentuk padi kering dengan harga pemerintah. Dari segi penyuluhan, kelihatan bahwa sistem tetesan minyak telah beralih ke penyuluhan secara masal. tetapi tugas penyuluhan yang pada prinsipnya adalah tugas pendidikan dan dorongan dibebani dengan tugas lain berupa tugas pengumpulan padi dengan harga yang rendah. Akibatnya petani mempunyai tanggapan yang kurang baik terhadap tugas penyuluhan itu sendiri. 3.4 Periode 1963 - sekarang Kenyataannya usaha Padi Centra ini mengalami kegagalan sehingga mendorong pemerintah untuk menemukan sistem penyuluhan baru yang lebih baik untuk dapat meningkatkan produksi pangan. Pada tahun 1963 dicoba suatu sistem penyuluhan yang baru yang pada mulanya diberi nama Demonstrasi Masal (Demas) dan kemudian dirubah menjadi Bimbingan Masal (Bimas). Demas dilaksanakan pada musim penghujan 1964/1965 dan dalam pelaksanaan selanjutnya yaitu musim penghujan 1965/66 sampai sekarang dinamakan Bimas. Beberapa bentuk Bimas yang pernah dilaksanakan disamping Bimas Nasional adalah Bimas Gotong Royong pada musim penghujan 1968/1969. Pada saat ini Bimas dengan melengkapinya dengan Unit Desa dalam mana bergerak satu badan usaha (Badan Usaha Unit Desa / BUUD) yang melayani segala kebutuhan petani untuk melaksanakan usaha taninya. Bentuk ini masih dalam taraf pengembangan. Sesuai dengan kemajuan zaman dan keadaan yang berkembang, bentuk / sistem penyuluhan ini akan terus berkembang mengikuti dan mempelopori kemajuan.

IV. KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN 4.1 Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Seiring dengan bergulirnya pelaksanaan sertifikasi penyuluh pertanian yang didasarkan pada kompetensi kerja penyuluh pertanian, ternyata di lapangan masih banyak penyuluh pertanian yang belum mengetahui secara pasti mengenai standard kompetensi tersebut. Kita patut bersyukur, diantara penyuluh yang tersebar di beberapa instansi seperti penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan ternyata baru penyuluh pertanian yang mempunyai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, sedangkan penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan masih belum mempunyai standar kompetensi tersebut. Bangga sekaligus tidak mudah untuk memenuhinya apalagi masih banyak penyuluh pertanian yang belum mengetahui dan memahami Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) ini. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia atau biasa disingkat SKKNI sesuai dengan Peraturan Menteri Tenga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Per.21/MEN/X/2007 tentang tata cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia selanjutnya disebut SKKNI untuk penyuluh pertanian telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : KEP.29/MEN/III/2010 tanggal 5 Maret 2010 tentang Penetapan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Pertanian Bidang Penyuluhan Pertanian menjadi Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/02/MENPAN/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka Kreditnya, jenjang jabatan fungsional penyuluh pertanian dibagi menjadi Penyuluh Pertanian Trampil dan Penyuluh Pertanian Ahli. Penyuluh Pertanian Trampil terdiri dari Penyuluh Pertanian Pemula, Penyuluh Pertanian Pelaksana, Penyuluh Pertanian Pelaksana Lanjutan dan Penyuluh Pertanian Penyelia. Sedangkan pada jenjang Penyuluh Pertanian Ahli terdiri dari Penyuluh Pertanian Muda, Penyuluh Pertanian Pertama, Penyuluh Pertanian Madya dan Penyuluh Pertanian Utama. Sesuai dengan jenjang jabatanya maka penyuluh pertanian mempunyai kegiatan dan tanggungjawab yang berbeda-beda. Penyuluh Pertanian Trampil, mulai dari Penyuluh Pertanian Pemula sampai Penyuluh Pertanian Penyelia diperlukan kompetensi yang sama, namun ruang lingkup dan area pekerjaanya berbeda. Oleh karena itu jenjang Penyuluh Pertanian Trampil dikelompokkan dalam satu level yaitu Penyuluh Pertanian Fasilitator. Penyuluh Pertanian Fasilitator ini setara dengan jenjang Sertifikasi III pada Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (KKNI). Kompetensi yang diperlukan bagi Penyuluh Pertanian Muda dan Penyuluh Pertanian Pertama adalah sama namun lingkup pekerjaan dan areanya berbeda sehingga kedua jenjang Penyuluh Pertanian Ahli ini dikelompokkan dalam satu level, yaitu Penyuluh Pertanian Supervisor, yang setara dengan jenjang Sertifikasi V pada KKNI. Sedangkan Penyuluh Pertanian Madya dan Penyuluh Pertanian Utama mempunyai kompetensi yang sama yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaanya namun ruang lingkup dan area tugasnya berbeda sehingga dikelompokkan dalam level Penyuluh Pertanian Advisor yang setara dengan jenjang Sertifikasi VII pada KKNI. 4.2 Kompetensi Penyuluh Pertanian Kompetensi Penyuluh Pertanian adalah kebulatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang berwujud tindakan cerdas dan bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas penyuluhan pertanian. Mendasarkan pada pengertian kompetensi penyuluh pertanian tersebut, maka unit-unit kompetensi penyuluh pertanian dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu Kompetensi Umum/Dasar, Kompetensi Inti/Fungsional dan dan Kompetensi Khusus/Spesialisasi. 1. Kompetensi Umum/Dasar mencakup unit-unit kompetensi yang berlaku umum dan dibutuhkan pada semua level penyuluh pertanian. Kompetensi umum ini terdiri dari Mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan, Mengorganisasikan pekerjaan, Melakukan komunikasi dialogis, Membangun jejaring kerja dan Mengorganisasikan masyarakat. 2. Kompetensi Inti/Fungsional mencakup unit-unit kompetensi yang berlaku dan diperlukan dalam mengerjakan tugas-tugas inti fungsional dan merupakan unit-unit yang wajib (compulsory) untuk bidang keahlian penyuluhan pertanian. Kompetensi Inti ini terdiri dari Mengumpulkan dan mengolah data potensi wilayah; Menyusun program penyuluhan; Menyusun materi penyuluhan; Membuat dan menggunakan media penyuluhan; Menerapkan metode penyuluhan pertanian; Menumbuhkembangkan kelembagaan petani; Mengevaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian; Mengevaluasi dampak pelaksanaan penyuluhan pertanian; Mengembangkan metode, sistem kerja atau arah kebijakan penyuluhan pertanian serta Melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian penyuluhan pertanian. 3. Kompetensi Khusus/Spesialisasi mencakup unit-unit kompetensi yang bersifat spesifik dalam bidang keahlian agribisnis. Kompetensi khusus meliputi : a. Kelompok sub sistem agroinput, terdiri dari Mengelola kegiatan produksi benih tanaman, Mengelola kegiatan produksi pupuk dan pestisida tanaman, Mengelola kegiatan produki bibit ternak, Mengelola kegiatan produksi pakan dan obat ternak; serta Mengelola kegiatan alat dan mesin pertanian. b. Kelompok sub sistem Agroproduksi, terdiri dari Mengelola kegiatan produksi tanaman pangan, Mengelola kegiatan produksi tanaman hortikultura, Mengelola kegiatan produksi tanaman perkebunan, Mengelola kegiatan produksi ternak besar, Mengelola kegiatan produksi ternak kecil, Mengelola kegiatan produksi ternak unggas. c. Kelompok sub sistem agroprosesing, terdiri dari Mengelola pengolahan hasil tanaman pangan, Mengelola kegiataan pengolahan hasil tanaman hortikultura, Mengelola kegiatan pengolahan hasil tanaman perkebunan, dan Mengelola kegiatan pengolahan hasil ternak. d. Kelompok susbsistem agroniaga, terdiri dari Mengelola kegiatan pemasaran produk pertanian ke pasar domestik dan ke pasar luar negeri. e. Kelompok susbsistem jasa penunjang, terdiri dari Mengelola kegiatan fasilitasi akses permodalan dan fasilitasi akses sumber informasi dan teknologi. 4.3 Unit Kompetensi Penyuluh Pertanian. Mendasarkan pada kodifikasi dan identifikasi kompetensi penyuluh pertanian, dapat disampaikan unit kompetensi penyuluh pertanian dengan Kode Unit Kompetensi dan Judul Unit Kompetensinya sebagai berikut : 1. Kelompok Kompetensi Dasar. Kelompok kompetensi dasar terdiri dari unit kompetensi : a. TAN PP01.001.01. Mengaktualisaikan Nilai-nilai Kehidupan. b. TAN.PP01.002.01. Mengorganisasikan Pekerjaan. c. TAN.PP01.003.01. Melakukan Komunikasi Dialogis. d. TAN.PP01.004.01. Membangun Jejaring Kerja. e. TAN.PP01.005.01. Mengorganisasikan Masyarakat. 2. Kelompok Kompetensi Inti/Fungsional, terdiri dari unit kompetensi : a. TAN.PP02.001.01. Mengumpulkan dan Mengolah Data Potensi Wilayah (Fasilitator). b. TAN.PP02.002.01. Mengumpulkan dan Mengolah Data Potensi Wilayah (Supervisor). c. TAN.PP02.003.01. Menyusun Programa Penyuluhan Pertanian (Fasilitator). d. TAN.PP02.004.01. Menyusun Programa Penyuluhan Pertanian (Supervisor). e. TAN.PP02.005.01. Menyususn Programa Penyuluhan Pertanian (Advisor). f. TAN.PP02.006.01. Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian (Fasilitator). g. TAN.PP02.007.01. Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian (Supervisor). h. TAN.PP02.008.01. Membuat dan Menggunakan Media Penyuluhan Pertanian (Fasilitator). i. TAN.PP02.009.01. Membuat dan Menggunakan Media Penyuluhan Pertanian (Supervisor). j. TAN.PP02.010.01. Menerapkan Metode Penyuluhan Pertanian (Fasilitator). k. TAN.PP02.011.01. Menerapkan Metode Penyuluhan Pertanian (Supervisor). l. TAN.PP02.012.01. menumbuhkembangkan Kelembagaan Petani (Fasilitator). m. TAN.PP02.013.01. Menumbuhkembangkan Kelembagaan Petani (Supervisor). n. TAN.PP02.014.01. Menumbuhkembangkan Kelembagaan Petani (Advisor). o. TAN.PP02.015.01. Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (Fasilitator). p. TAN.PP02.016.01. Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (Supervisor). q. TAN.PP02.017.01. Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (Advisor). r. TAN.PP02.018.01.Mengevaluasi Dampak Pelaksanaan Penyuluhan (Supervisor). s. TAN.PP02.019.01. Mengevaluasi Dampak Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (Advisor). t. TAN.PP02.020.01. Mengembangkan Metode, Sistem Kerja atau Arah Kebijakan Penyuluhan Pertanian (Advisor). u. TAN.PP02.021.01. Melaksanakan Kegiatan Pengembangan Keprofesiaan Penyuluh Pertanian (Advisor). 3. Kompetensi Khusus/Spesialisasi, terdiri dari : a. TAN.PP03.001.01. Mengelola Kegiatan Produksi Benih Tanaman Pangan. b. TAN.PP03.002.01. Mengelola Kegiatan Produksi Pupuk dan Pestisida Tanaman. c. TAN.PP03.003.01. Mengelola Kegiatan Produksi Bibit Ternak. d. TAN.PP03.004.01.Mengelola Kegiatan Produksi Pakan dan Obat Ternak. e. TAN.PP03.005.01. Mengelola Kegiatan Produksi Alat dan Mesin Pertanian. f. TAN.PP03.006.01. Mengelola Kegiatan produksi tanaman pangan g. TAN.PP03.007.01. Mengelola kegiatan produksi tanaman Hortikultura. h. TAN.PP03.008.01. Mengelola Kegiatan Produksi Tanaman Perkebunan. i. TAN.PP03.009.01. Mengelola Kegiatan Produksi Ternak Besar. j. TAN.PP03.010.01. Mengelola Kegiatan Produksi Ternak Kecil. k. TAN.PP03.011.01. Mengelola Kegiatan Produksi Ternak Unggas. l. TAN.PP03.012.01. Mengelola Kegiatan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan. m. TAN.PP03.013.01. Mengelola Kegiatan Pengolahan Hasil Tanaman Hortikultura. n. TAN.PP03.014.01. Mengelola Kegiatan Pengolahan Hasil Tanaman Perkebunan. o. TAN.PP03.015.01. Mengelola Kegiatan Pengolahan Hasil Ternak. p. TAN.PP03.016.01. Mengelola Kegiatan Pemasaran Produk Pertanian ke Pasar Domestik. q. TAN.PP03.017.01. Mengelola Kegiatan Pemasaran Produk Pertanian Ke Luar Negeri. r. TAN.PP03.018.01. Mengelola Kegiatan Fasilitasi Akses Permodalan. s. TAN.PP03.019.01. Mengelola Kegiatan Fasilitasi Akses Sumber Informasi dan Teknologi. t. TAN.PP03.020.01. Melakukan Perencanaan Usaha Agribisnsis. Unit-unit kompetensi ini dikelompokkan (clustering) menurut kualifikasi level penyuluh pertanian baik itu Penyuluh Pertanian Fasilitator, Penyuluh Pertanian Supervisor dan Penyuluh Pertanian Advisor. Masing-masing cluster / kelompok kompetensi pada masing-masing level kualifikasi penyuluh pertanian dimasukkan dalam satu paket yang disebut Paket Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Penyuluh Pertanian. 4.4 Paket SKKNI Penyuluh Pertanian. Paket SKKNI penyuluh pertanian terdiri dari Paket SKKNI untuk Penyuluh Pertanian Fasilitator, Paket SKKNI untuk Penyuluh Pertanian Supervisor dan Paket SKKNI untuk Penyuluh Pertanian Advisor. 1. SKKNI Penyuluh Pertanian Fasilitator. Paket SKKNI penyuluh pertanian untuk level Penyuluh Pertanian Fasilitator adalah sebagi berikut : a. Kompetensi Umum / Dasar, terdiri dari 5 unit kompetensi umum yaitu Mengaktualisaikan nilai-nilai kehidupan (TAN.PP01.002.01); Mengorganisasikan pekerjaan (TAN.PP01.002.01); . Melakukan Komunikasi Dialogis (TAN.PP01.003.01); Membangun Jejaring Kerja (TAN.PP01.004.01) dan Mengorganisasikan Masyarakat (TAN.PP01.005.01). b. Kompetensi Inti / Fungsional, terdiri dari 8 unit kompetensi yaitu Mengumpulkan dan Mengolah Data Potensi Wilayah (TAN.PP02.001.01); Menyusun Programa Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.003.01); Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.006.01); . Membuat dan Menggunakan Media Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.008.01); Menerapkan Metode Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.010.01); Menumbuhkembangkan Kelembagaan Petani (TAN.PP02.012.01); dan Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.015.01). c. Kompetensi Khusus/Spesialisasi, terdiri dari1 unit kompetensi dengan cara memilih dari salah satu sub sistem agribisnis. 2. SKKNI Penyuluh Pertanian Supervisor. a. Kompetensi Umum / dasar, untuk penyuluh pertanian Supervisor unit kompetensi umum / dasar jenis dan jumlahnya sama seperti halnya pada Penyuluh Pertanian Fasilitator . b. Kompetensi Inti / Fungsional, terdiri dari 9 unit kompetensi yaitu Mengumpulkan dan Mengolah Data Potensi Wilayah (TAN.PP02.002.01); Menyusun Programa Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.004.01); Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.007.01); Membuat dan Menggunakan Media Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.009.01); . Menerapkan Metode Penyuluhan Pertanian; Menumbuhkembangkan Kelembagaan PTAN.PP02.013.01.etani Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.016.01); dan Mengevaluasi Dampak Pelaksanaan Penyuluhan (TAN.PP02.018.01). c. Kompetensi Khusus/ Spersialisasi, terdiri dari 2 unit kompetensi dengan cara memilih masing-masing 1 unit kompetensi dari 2 sub sistem agribisnis yang berbeda. 3. SKKNI Penyuluh Pertanian Advisor. a. Kompetensi Umum/dasar penyuluh pertanian advisor sama dengan unit kompetensi untuk Penyuluh Pertanian Fasilitator maupun Penyuluh Pertanian Supervisor. b. Kompetensi Inti / Fungsional untuk Penyuluh Pertanian Advisor terdiri dari : Menyususn Programa Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.005.01); Menumbuhkembangkan Kelembagaan Petani (TAN.PP02.014.01); Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.017.01); Mengevaluasi Dampak Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (TAN.PP02.019.01); Mengembangkan Metode, Sistem Kerja atau Arah Kebijakan Penyuluhan Pertanian ( TAN.PP02.020.01); dan Melaksanakan Kegiatan Pengembangan Keprofesiaan Penyuluh Pertanian (TAN.PP02.021.01). c. Kompetensi Khusus / Spesialisasi penyuluh pertanian advisor terdiri 4 unit kompetensi yang terdiri dari 1 unit kompetensi pada 4 subsistem agribisnis.


V. PROSES ADOPSI DAN KOMUNIKASI PENYULUHAN PERTANIAN 5.1 Proses Adopsi (Pengetrapan) Perubahan kelakuan yang terjadi dalam petani melalui pendidikan / penyuluhan biasanya berjalan lambat. Hal ini disebabkan karena dalam penyuluhan hal-hal yang disampaikan / diajarkan sebelum dapat diterima dan dipraktekkan (diadopsi = diterapkan), memerlukan keyakinan dalam diri petani bahwa hal-hal baru ini akan berguna dan tak merugikan bagi dirinya. Bila dalam diri petani telah timbul keyakinan akan manfaat dari hal-hal (teknologi) yang baru itu sehingga mereka mau melakssanakannya artinya petani tersebut telah mengetrapkan hal-hal (teknologi) baru tersebut. Kecepatan setiap orang dalam mengetrapkan hal-hal (teknologi) baru itu tidak sama, ada yang lambat, ada yang cepat. Berdasarkan cepat lambatnya mengetrapkan hal-hal (teknologi) baru yang bisa disebut innovasi, dalam masyarakat terdapat beberapa golongan orang-orang. a. Inovator (pelopor) Golongan ini biasanya merupakan perintis yang selalu mula-mula mentrapkan hal-hal baru. Kadang-kadang mereka mencari sendiri hal-hal baru ini tanpa menunggu adanya kegiaan penyuluhan. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin tahu dan ingin mencoba. Oleh adanya sifat ingin tahu dan ingin mencoba ini, maka hubungan mereka dengan dunia luar amat luas (cosmopolite). Mereka langsung mencari keterangan ke daerah-daerah yang berada di luar lingkungannya (Lembaga Penelitian, Pergjuruan Tinggi, Jawatan-jawatan pemerintah tingkat atas). Orang-orang ini sering dan suka bepergian sehingga pengalaman dan pengetahuannya luas. Sering mereka menemukan sendiri hal-hal baru. Mereka umumnbya kaya, mempunyai tanah yang luas bila dibandingkan dengan tetangganya. Keterangannya mencoba hal-hal baru inipun disebabkan karena keberaniannya menanggung resiko kegagalan, karena memang dia cukup kuat penghidupannya. Oleh adanya perbedaan setatus dengan petani kebanyakan ini maka umumnya golongan ini kurang luwes, susah bergaul dengan petani kebanyakan. Orang-orang (petani kebanyakan) segan terhadapnya, menganggap mereka jauh tinggi diatasnya. Secara relatif kebanyakana pendiddikannya lebih tinggi dari masyarakat sekitarnya. b. Early Adopter (Pengetrapan Dini) Golongan ini menterapkan hal-hal baru setelah innovator (lebih lambat dari golongan innovator), tetapi selalu lebih dulu dari pada orang kebanyakan. Pergaulannya lebih terbuka daripada inovator. Dalam hal kekayaan umumnya mereka hampir sama dengan petani kebanyakan, sehingga perbedaan status ini tak terlihat menonjol. Pendidikan umumnya lebih tinggi dari pada orang kebanyakan, umurnnya relatif muda. Juga mempunyai sedikit sifat cosmospolite tetapi tidak setinggi innovator. Umumnya mereka lebih bersifat localite, suka membaca buku, surat kabar atau majalah. Sifat keterbukaannya menyebabkan mereka dapat bergaul rapat dengan petani kebanyakan. Oleh karena itu sering menjadi contoh atau teladan bagi petani tetangganya. Mereka juga dapat bergaul dengan tingkat yang lebih tinggi (misal : dengan golongan innovator, pemerintah dan sebagainya). c. Early Majority (Pengetrap Awal) Golongan ini lebih lambat mengetrapkan hal-hal baru, tetapi mudah terpengaruh bila hal-hal baru itu telah banyak diyakinkannya. Hal ini disebabkan kaena kedudukan ekonomin ya tak begitu kuat. Tetapi kaena sifatnya lebih terbuka dan mudah bergaul mereka mudah sekali terpengaruh. Karena bertindak hati-hati, takut kalau usahanya gagal. d. Late Majorithy (Pengetrap Akhir) Keadaan ekonominya umumnya kurang mampu, sehingga mereka sangat hati-hati dalam bertindak sesuatu. Pengetrapan hal-hal baru sangat lambat. Mereka menerapkan hal-hal baru setelah golongan early majority mengetrapkan seluruhnya. Jika kebanyakan telah berhasil mereka baru mencoba-coba. e. Laggard (Golongan Penolak) Umumnya mereka berumur sudah agak lanjut, sekitar 50 tahun ke atas. Mereka juga biasanya kemampuan ekonominya kurang dan pendidikannya rendah atau bahkan buta huruf. Mereka kurang menyukai perubahan-perubahan. Bersikap apatis terhadap hal-hal baru. Di Indonesia belum ada penelitian untuk menentukan angka-angka yang pasti mengenai proporsi mereka masing-masing dalam masyarakat. Di Amerika Serikat pernah diperoleh hasil penelitian angka-angka sebagai berikut : Innovator 2,5 % Early adopter 13,5 % Early majority 34,0 % Late majority 34,0 % Laggard 16,0 % Jadi yang terbanyak adalah golongan majority, sedangkan perbandingan antara early majority dan late majority adalah sama. Untuk sampai kepada taraf yakin dan mau menerapkan biasanya petani melalui beberapa tahap yang merupakan proses mental, tak dapat dilihat dari luar. Kita hanya dapat melihatnya dari sikap dan perlakuannya. Tahap-tahap dari proses adopsi ini adalah sebagai berikut: a. Awareness (tahu dan sadar) Pada tahap ini petani baru tahu dan sadar bahwa telah ada hal-hal baru yang belum biasa ia laksanakan. Hal ini terjadi karena ia berhubungan (berkomunikasi) dengan pihak lain (penyuluh, tetangga, famili dan lain-lain). Kesadaran dan pengetahuan tentang adanya hal baru ini menimbulkan sikap dalam diri petani (sikap acuh tak acuh jadi sikap menaruh perhatian). Usaha dari penyuluh adalah untuk menimbulkan sikap menaruh perhatian terhadap hal baru yang ia suluhkan. b. Interest (menaruh minat) Dari adanya perhatian ini petani dapat meningkat pada tahap menaruh minat terhadap hal-hal baru tersebut. Minat ini biasanya timbul setelah early adopter menterapkan. Petani mulai bertanya-tanya. Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai hal baru itu. c. Evaluation (penilaian) Petani mulai berfikir-fikir. Ia telah mengetahui lebih banyak, kemudian ia mempertimbangkan keteranganp-keterangan yang telah diterimanya. Mereka mengadakan perhitungan, walau secara taksiran. Kalau sekitarnya menguntungkan mereka akan mencobanya. Dalam tahap ini peranan penyuluhan amat penting. Ia membantu pertimbangan-pertimbangan petani dengan memberi penjelasan lebih detail mengenai keuntungan dan kebaikan hal-hal baru tersebut. Pada tahap ini penyuluh lebih giat berusaha menghilangkan keragu-raguan dalam diri petani. d. Trial (percobaan) Setelah petani yakin dan hilang keragu-raguannya mengenai manfaat hal baru tersebut mereka mulai mencoba-coba melaksanakannya. Sering terjadi tahap mencoba ini tak dilakkan sendiri, tetapi dengan cara melihat sepak terjang orang lain (tetangganya) atau demonstrasi / peragaan dalam rangka kegiatan penyuluhan. Dalam hal ini terjadi peniruan. Apabila petani berhasil dalam percobaannya mereka akan lebih yakin dan mau menerapkan. Apabila terjadi kegagalan mereka untuk seterusnya sulit untuk mempercayai lagi. Oleh karena itu peranan penyuluh dan tetangga disini amat penting. e. Adoption (adopsi, penerapan). Petani sudah yakin benar akan manfaat hal baru tersebut, maka ia untuk seterusnya akan melaksanakannya. Dalam kenyataannya seringkali terjadi petani melampaui tahap-tahap tersebut, atau tahap tersebut dialami sebentar saja. Lamanya masing-masing tahap ini dialami oleh petani, tidak tentu dan tidak sama. Makin cepat keseluruhan tahap dilampaui makin baik. Yang tercepat menyelesaikan tahap ini tentunya innovator dan early-adopter. Pengetahuan tentang tahap-tahap adopsi ini sangat penting diketahui, sehingga kegiatan penyuluhan dapat dilakukan secara tepat, sesuai dengan tahap yang dijalani oleh petani saat itu. 5.2 Proses Komunikasi Komunikasi adalah proses transmisi atau penerusan dari faktor-faktor, kepercayaan, sikap, reaksi emosi atau lain-lain pengetahuan diantara makhluk hidup. Dengan mengadakan komunikasi orang bermaksud untuk menyampaikan fikiran kepada orang lain, dalam rangka mempengaruhi orang tersebut sesuai dengan apa yang dihapkannya. Jalannya proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Sumber (source) atau (komunikator). Komunikasi terjadi karena adanya sumber yang mempunyai maksud untuk mengadakan komunikasi. Untuk melakukan komunikasi dengan orang lain ini, sumber dapat menggunakan cara (bahasa)

  • Lisan
  • Tulisan
  • Isyarat
  • Gambar
  • Gabungan dari macam-macam cara di atas.

Dengan mengadakan pemilihan terhadap bermacam-macam cara komunikasi ini, berati sumber tadi melakukan pengkodean (encoding), artinya ia merubah apa-apa yang akan disampaikannya dalam komunikasi tersebut sehingga dapat sampai kepada orang yang dituju serta dapat mempengaruhi orang tersebut sesuai dengan apa yang diharapkannya. 2. Amanat (massage) Amanat adalah fikiran-fikiran yang akan disampaikan (dikomunikasikan) dalam proses komunikasi tersebut. Dalam kegiatan penyuluhan amanat ini berbentuk pengetahuan-pengetahuan, teknologi-teknologi, rencana-rencana yang merupakan materi dari kegiatan penyuluhan. 3. Saluran (chanel) Agar fikiran yang telah dirubah bentuknya dengan encoding tadi dapat sampai kepada orang lain yang dimaksudkan dalam usaha melakukan komunikasi ini, diperlukan adanya saluran untuk menyampaikannya. Bentuk saluran ini bermacam-macam bergantung kepada amanat serta encoding dari amanat itu dan bergantung pula kepada orang yang akan dikomunikasi itu. Dalam hal ini sumber harus pandai memilih saluran yang tepat agar komunikasinya berhasil. Dalam kegiatan penyuluhan saluran inipun sama dengan media penyuluhan. 4. Penerima (receiver) Penerima adalah orang yang akan dipengaruhi fikirannya oleh sumber atau komunikator tadi, sehingga kelakuannya berubah seperti apa yang diharapkannya. Oleh karena amanat yang ia terima harus dapat dipahaminya maka si penerima harus dapat melakukan penafsiran dahulu (decoding) terhadap amanat yang telah berbentuk kode itu (lisan, tulisan, isyarat, gambar). Apabila digambarkan maka bentuk dari komunikasi itu (secara sederhana) adalah seperti bagan di bawah ini.

     Sumber                      Saluran                     Penerima

Massage massage

Seringkali komunikasi tidak berhasil, terjadi kegagalan. Hal ini dapat disebabkan karena : a. Sumber : Tidak menguasai amanat yang akan dikomunikasikan Kesalahan menggunakan kode Kesalahan memilih saluran b. Penerima : Kepandaian menafsirkan kode Tingkat pengalaman (field of experience) yang berbeda dengan sumber. Mengenai saluran dan amanat dibahas lebih lanjut dalam bab materi dan media penyuluhan. Pada prinsipnya kegiatan penyuluhan, merupakan proses komunikasi, dimana si penyuluh sebagai sumber dan petani sebagai penerima. Oleh karena itu penyuluh harus dapat memahami ilmu komunikasi ini. Yang terutama harus diperhatikan adalah penguasaan teknik berkomunikasi (kepandaian menentukan amanat, memilih metode, memilih saluran) sehingga penyuluhan dapat berhasil. Disamping itu harus diperhatikan pula faktor-faktor sipenerima yang dipengaruhi oleh kecakapan menafsirkan kode (harus menggunakan bahasa, gambar yang sederhana yang mudah dimengerti oleh petani) serta tingkat pengalaman yang berbeda (pendidikan, pengalaman dsb.). Dalam komunikasi ada istilah yang disebut feed back. Feed back adalah suatu kegiatan komunikasi kembali dari sipenerima terhadap sumber berbagai akibat dari adanya komunikasi dari sumber kepada penerima. Jadi dalam feed back keadaan menjadi terbalik, sumber jadi penerima, dan penerima menjadi sumber. Merupakan suatu komunikasi yang timbal balik. Dengan adanya komunikasi kembali (feed back) ini, sumber dapat melihat sampai sejauh mana komunikasinya ini mencapai seperti apa yang diharapkan sehingga dapat dilakukan langkah-langkah lebih lanjut. Jadi merupakan suatu evaluasi (penilaian). Oleh karena itu komunikasi yang baik, adalah apabila dapat terjadi feed back, dan penyuluh harus berusaha supaya terjaadi feed back ini. Penerimaan yang salah akan menimbulkan salah faham terhadap pesan yang disampaikan tersebut. Komunikasi yang baik akan berjalan timbal balik atau dua arah (two way traffic). Dalam penyuluhan bentuk komunikasi ini sangat diperlukan agar dapat diambil tindakan-tindakan selanjutnya dari feed back yang diperoleh. Dengan demikian komunikasi akan berjalan terus dan dapat dibina dengan baik. Pesan yang diberikan kadang-kadang tidak diterima seluruhnya atau hanya diterima sebagian sebagai akibat dari cara penyuluhan yang salah, penyuluh tidak memguasai apa yang disuluhkan atau komunikannya sendiri tidak dapat / tidak mau menerimanya. Untuk menghindari hal ini supaya tidak terjadi, maka apa yang akan disuluhkan serta bagaimana cara penyuluhannya harus betul-betul dikuasai. Disamping itu perlu diketahui seperti buta huruf untuk komunikasi tertulis. Pada penyuluhan pertanian, komunikasi tidak hanya berjalan dua arah tapi ada fihak ketiga yang turut dalam komunikasi yaitu para ahli pertanian yang merupakan sumber teknologi baru serta para ahli lainnya yang berhubungan dengan pertanian. Komunikasi langsung antara para ahli dengan petani jarang terjadi karena kurangnya kesempatan atau hal-hal yang lain tidak memungkinkan untuk terjadinya komunikasi. Karena tidak adanya komunikasi langsung antara para ahli dengan petani maka masalah-masalah yang dihadapi petani tidak diketahui oleh para ahli yang mampu untuk mencari jalan pemecahannya. Disinilah fungsi penyuluh yakni menjadi penghubung antara kedua belah pihak. Untuk maksud ini si penyuluh harus mengetahui sumber-sumber tekniologi baru yang dapat dijadikan bahan penyuluhan, mengenai sifat-sifat, bahasa, istilah-istilah, cara berfikir dan tingkat pendidikan petani serta mengetahui teknik berkomunikasi. Seperti dikemukakan di atas, proses komunikasi mempunyai komponen-komponen yang satu dengan lainnya saling berhubungan. Komponen-kompionen tersebut adalah : 1. Penghubung atau komunikator ialah hak yang mempunyai prakarsa menggerakkan proses komunikasi serta memelihara kelangsungannya misalnya penyuluh pertanian. 2. Tujuan atau objective dalam komunikasi yakni apa yang diharapkan dari terjadinya komunikasi tersebut misalnya kenaikan produksi. 3. Sasaran adalah pihak yang diusahakan untuk menerima anjuran perbaikan atau perubahan. Pada sasaran ini diharapkan akan timbul perubahan-perubahan baik sikap, pengetahuan maupun ketrampilan. 4. Amanat atau pesan adalah apa yang disampaikan oleh penghubung kepada sasaran. Dalam penyuluhan pertanian amanat ini berupa anjuran-anjuran yang diharapkan akan dilaksanakan oleh petani misalnya penerapan panca usaha. 5. Saluran atau chanel adalah jalan / cara yang digunakan dalam menyampaikan amanat. 6. Perlakuan atau treatment amanat ialah bagaimana meneruskan amanat itu melalui saluran tertentu misalnya penyampaian dalam bentuk pidato, dialog, dagelan atau wayang. Pada prinsipnya ada tiga golongan teknik berkomunikasi yang dapat dilakukan yaitu : 1. Komunikasi secara lisan untuk: a. Perorangan b. Kelompok c. Masal 2. Komunikasi tertulis untuk : a. Perorangan b. Kelompok c. Masal 3. Komunikasi secara terproyeksi, untuk : a. Perorangan b. Kelompok c. Masal Untuk memantapkan proses komunikasi diperlukan usaha tahap demi tahap, sampai akhirnya amanat yang disampaikan mencapai sasaran dalam bentuk yang diharapkan, yakni dilaksanakannya apa yang dianjurkan. Tahapan usaha dalam berkomunikasi ini adalah usaha-usaha untuk : 1. Menarik perhatian sasaran terhadap hal baru yang akan disampaikan. Pada tahap ini komunikasinya lebih bersifat propaganda. 2. Mengubah hati yakni menimbulkan persaan terbuka pada sasaran untuk sesuatu yang baru saja disadari tersebut. 3. Membangkitkan keinginan yakni menimbulkan keinginan untuk memperoleh / mengetahui lebih banyak atau mengerjakan cara baru yang diajarkan. 4. Meyakinkan yakni menghilangkan perasaan ragu-ragu pada sasaran sehingga mereka yakin akan kebaikandan manfaat dari apa yang disampaikan. 5. Menggerakkan usaha yakni mengusahakan agar apa yang disampaikan dilaksanakan / dipraktekkan oleh sasaran secara luas dan terus menerus. Proses konmunikasi dalam penyuluhan pertanian antara para ahli (sumber teknologi baru), penyuluh dan petani dapat digambarkan sebagai berikut:

                 A




B C


A : Sumber teknologi baru B : Penyuluh C : Petani Komunikasi antara para ahli (sumber teknologi baru) dapat langsung dengan petani tetapi ini sedikit sekali terjadi. Teknik Berkomunikasi Cara Penyampaian Cara Pendekatan Tahap Komunikasi Tahap Adopsi Lisan Perorangan Menggerakkan usaha Adopsi / Penerapan Tertulis Kelompok Membangkitkan keinginan Penilaian Terproyeksi Masal Menarik Perhatian Kesadaran

PROSES KOMUNIKASI / ADOPSI DAN PENYULUHAN PERTANIAN

                                                                                                Trapkan (adoption)
                                                                                           Coba (trial)
                                                                                   Minat (interest)
                                                                               Sikap (attitud)
                                                                 Tahu (awareness)
                                                 Saluran   Penerima    Effek
                                                (channel)    (Receiver)

Komunikasi Sumber/ Pesan

                      Source     (massage)




Penyuluhan Pelaksana Materi Media Sasaran Tujuan

- aparat - struktur organisasi - Cara-cara pemecahan masalah (Panca Usaha) - Penguasan hasil - Pemasaran Hasil - Pembangunan Masyarakat Desa - Media Hidup • Kontak tani • Kelompok tani - Media Mati • Surat Kabar • Majalah • Radio • dll - Petani dan keluarga serta masalahnya - Membantu petani memecahkan persoalan yang dihdapinya dengan cara-cara yang terbukti baik


VI. PENYULUH PERTANIAN 6.1 Pengertian Penyuluh Pertanian Penyuluh pertanian adalah orang yang memberikan dorongan kepada para petani agar mau mengubah cara berfikirnya dan cara hidupnya yang lama dengan cara yang baru melalui proses penyebaran informasi seperti pelatihan, kursus, kunjungan yang berkaitan dengan perubahan dan perbaikan cara-cara berusahatani, usaha peningkatan prodiktivitas pendapatan petani serta perbaikan kesejahteraan keluarga petani atau masyarakat. Didalam kenyataanya, kualifikasi penyuluh tidak cukup hanya dengan memenuhi persyaratan keterampilan, sikap dan pengetahuan saja, tetapi keadaan atau latar belakang sosial budaya (bahasa, agama, kebiasaan-kebiasaan) seringkali justru lebih banyak menentukan keberhasilan penyuluh yang dilaksanakan. Karena itu penyuluh yang baik sejauh mungkin harus memiliki latar belakang sosial budaya yang sesuai dengan keadaan sosial budaya masyarakat sasarannya (Mardikanto, 1993). Seorang penyuluh dapat membantu petani dalam usaha mereka meningkatkan produksi dan mutu hasil produksi guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu penyuluh mempunyai banyak peran antara lain sebagai pembimbing petani, organisator, dinamisator, pelatih, teknisi, dan jembatan penghubung antara keluarga petani dan instansi penelitian dibidang pertanian (Suhardiyono,1992). 6.2 Penyuluh pertanian yang akan diterima petani 1. layak untuk dipercaya, 2. tahu persis situasi petani sehingga dapat menunjukkan permasalahan yang dihadapi sekaligus menunjukkan alternatif pemecahannya, 3. selalu ada jika dibutuhkan, dalam arti penyuluh pasti punya waktu untuk sasaran 4. penyuluh tidak sering ganti 6.3 Kemampuan yang harus dimiliki Penyuluh Pertanian 1. Kemampuan berkomunikasi 2. Sikap penyuluh: menghayati profesinya, menyukai masyarakat sasaran, yakin bahwa inovasi yang disampaikan telah teruji 3. Kemampuan penyuluh tentang: isi, fungsi, manfaat dan nilai-nilai yang terkandung dalam inovasi; segala sesuatu yang masyarakat suka atau tidak suka 4. Kemampuan untuk mengetahui karakteristik sosial budaya wilayah dan sasarannya (bahasa, agama, kebiasaan, dll.) 6.4 Peran Penyuluh Pertanian 1. Sebagai fasilitator: orang yang memberikan fasilitas atau kemudahan 2. Sebagai mediator: orang yang menghubungkan lembaga pemerintah / lembaga penyuluhan dengan sasaran 3. Sebagai dinamisator: orang yang dapat menimbulkan (menjadikan) dinamis

6.5 Fungsi Penyuluh 1. Memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada petani tentang pengetahuan dan perkembngan pertanian 2. Membantu petani memperoleh pengetahuan yang lebih terperinci tentang cara memecahkan masalah-masalah pertanian 3. Meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihan yng dianggap paling tepat 4. Membantu petani menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan kedepan 6.6 Penyuluh sebagai Profesi Secara harfiah, profesi didefinisikan sebagai kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia. Beberapa aspek yang terlihat pada seorang berprofesi yaitu : terlatih, memberi jasa kepada umum, menjadi anggota organisasi profesi, dan mempunyai sertifikat profesi. WACANA yang selama ini beredar bahwa penyuluh pertanian akan menjadi tenaga profesi hampir mendekati kenyataan. Jika sebelumnya program sertifikasi telah berhasil diterapkan pada profesi guru, maka mulai tahun 2010 ini program sertifikasi tersebut juga mulai diterapkan pada penyuluh pertanian. Konon khabarnya, kuota pada tahap awal program sertifikasi ini hanya untuk 3.000 penyuluh pertanian dari 28.900 penyuluh di Indonesia, atau mencakup 10,4%. Upaya untuk menjadikan penyuluh pertanian sebagai tenaga profesi tersebut juga diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UU-SP3K). Undang-undang tersebut menyiratkan pentingnya standar kompetensi kerja bagi para penyuluh. Untuk meningkatkan kompetensi penyuluh diperlukan adanya sistem keprofesian penyuluhan yang meliputi standarisasi, akreditasi dan sertifikasi kompetensi penyuluh (Pasal 21 ayat 3). Berdasarkan sertifikasi, Penyuluh PNS memperoleh kesetaraan persyaratan, jenjang jabatan, tunjangan jabatan fungsional, tunjangan profesi dan usia pensiun (Penjelasan Pasal 22 ayat 1). Melalui sertifikasi maka penyuluh yang semula tenaga fungsional, nantinya akan menjadi tenaga profesi. Langkah ini sangat penting mengingat besarnya tuntutan terhadap penyuluh pertanian sejalan dengan perubahan paradigma pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian yang berorientasi pada sistem dan usaha agribisnis menuntut konsekuensi lebih besar dari penyuluh untuk memandang adanya saling ketergantungan antar pelaku usaha, baik pada on farm, off farm maupun non farm. Hal itu menuntut dipenuhinya kebutuhan inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan secara seimbang serta pendampingan yang memadai di tingkat petani. Untuk mensosialisasikan program sertifikasi tersebut, maka Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI)-DPW Provinsi Jawa Tengah telah menyelenggarakan seminar pada tanggal 28 Januari 2009 dengan tema “Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Penyuluh Pertanian”.


VII. SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN 7.1 Sasaran Penyuluhan Sasaran penyuluhan pertanian adalah petani beserta keluarganya. Agar dapat berkomunikasi dengan baik maka seorang penyuluh pertlu mengetahui sifat-sifat khas yang dimiliki oleh petani serta masyarakat desa pada umumnya. Secara ringkas sasaran penyuluhan adalah 1. Seseorang yang berperan sebagai partner penyuluh pertanian 2. Bukan sebagai obyek penyuluhan 3. Orientasi penyuluhan 7.2 Sifat Sasaran Rogers mengemukakan bahwa pada umumnya terdapat persamaan antara petani-petani di Indonesia dengan petani di lain-lain tempat. Sifat-sifat khas ini disebutnya sebagai 10 buah element yang menghiraukan. Untuk mendapatkan landasan pokok dalam penterapan methode penyuluhan, di bawah ini diuraikan sifat-sifat tersebut satu persatu sebagai berikut: 1. Saling curiga mencurigai dalam pergaulan diantara mereka sendiri (natural distruct in interpersonal relation). Pembicaraan yang menonjol dalam masyarakat desa biasanya berkisar tentang seseorang yang memperoleh sukses. Setiap orang yang memperoleh kemajuan, apalagi dengan tiba-tiba dianggap melakukan yang bukan-bukan. Pendekatan dalam masalah ini sama sekali tidak ada. Hal ini disebabkan karena mereka melihat kemungkinan-kemungkinan yang sangat terbatas untuk maju. Pada umumnya sifat ini kelihatan dalam masyarakat yang lama sekali menderita. Sifat kegotongroyongan dalam masyarakat desa menunjukkkan bahwa dalam masyarakat yang diinginkan keadaan yang serba sama. 2. Kehilangan daya untuk menemukan ide-ide baru. Maksudnya ialah bahwa masyarakat desa pada umumnya tidak mampu untuk menemukan atau menetrapkan ide-ide baru yakni ide-ide yang dapat melepaskan mereka dari kesukaran sumber-sumber alam yang dipunyai 3. Tidak mampu untuk menguasai masa depannya (totalisme). Bagi mereka, soal masa depan adalah soal nanti. Segala-galanya serba tidak mungkin untuk dijangkau dan tidak ada usaha untuk mencari pemecahan masalah. Segala sesuatu yang terjadi pada dirinya dianggap sudah nasib. 4. Tingkat aspirasi yang rendah (low aspirational level) Ini ditunjukkan oleh rendahnya motivasi untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari sekarang. Rendahnya aspirasi untuk meningkatkan taraf kehidupan juga merupakan gejala dari hal tersebut. Seluruh pola-pola konsumsi dalam masyarakat sangat sederhana. 5. Tidak mampu untuk mengekang nafsu (lack of deffered to gradification). Masyarakat desa umumnya tidak dapat menahan dieri terhadap apa yang diingini. Mereka tidak cermat dan tidak mampu untuk mengambil keputusan yang lebih menguntungkan. Dasar dari tindakan lebih mengarah ke pemenuhan keinginan (nafsu). 6. Kurang membedakan apa yang ada kini, apa yang sudah berjalan dan apa yang ada di masa depan (limeted time expected). Dalam hal ini rencana untuk masa depan tidak ada dan kenangan masa lalu tetap berbekas dalam dirinya. 7. Hubungan dengan keluarga sendiri sangat erat tetapi tidak dengan orang lain (familisme). Bila bukan dengan keluarga sendiri tidak dapat saling mengoreksi. Terhadap yang bukan sanak, kecurigaan besar sekali dan tidak dapat bekereja sama. Dalam masayarakat yang bermarga, keadaan seperti ini masih kuat sekali dan terhadap pertumbuhan koperasi sangat besar pengaruhnya. 8. Sangat menggantugkan diri pada pemerintah (dependent upon goverment authority). Walaupun mereka sangat menggantungkan diri pada pemerintah tapi dibalik itu ada semacam kecurigaan. Segala ajakan tidak segera diterima walaupun ajakan tersebut nyata-nyata untuk perbaikan kehidupan mereka. Sifat ketergantungan ini kita lihat misalnya pada pembuatan irigasi yang menurut anggapan mereka ini adalah tugas dari pemerintah. 9. Sifat sangat lokal (Lockalikoness). Keterbatasan gerak dari masyarakat, menyebabkan banyak diantara mereka tidak tahu akan apa yang terjadi di luar lingkungannya. Keadaan ini kadang-kadang membawa mereka ke dalam sifat yang lebih buruk lagi seperti anggapan bahwa mereka sudah mempunyai kelebihan dalam segala hal, seperti katak di bawah tempurung. 10. Kehilangan kemampuan untuk mengetahui dan menempatkan diri dalam kemauan orang lain (lack of empaty). Impaty merupakan unsur pokok dalam komunikasi. Jadi bila tidak ada impaty, maka komunikasi tidak mungkin terjadi. Melihat kesepuluh sifat-sifat di atas yang dimiliki oleh sebagian besar dari sasaran penyuluhan, maka jelaslah bahwa proses penyuluhan tidak dapat berlangsung begitu saja. Sifat ini hampir dimiliki oleh semua masyarakat desa di seluruh pelosok dunia, hanya saja tingkatnnya mungkin berbeda-beda. Golongan innovator dan pengetrap dini seperti dikemukakan dalam bab-bab sebelumny adalah kehilangan sebagian besar dari sifat-sifat di atas. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa sifat-sifat tersebut dapat dirubah / berubah, terutama dengan adanya hubunhgan keluar, banyak menunjukkan kemajuan-kemajuan walaupun masih terbatas pada golongan tertentu di desa. Dengan penyuluhan yang baik proses perubahan dapat dipercepat asalkan dilakukan dengan metode yang tepat sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh masyarakat desa tersebut. Bagi masyarakat desa di Indonesia, dengan adanya penekanan dari penjajah menyebabkan beberapa sifat di atas menjadi sangat menonjol seperti : fatalisme, motivasi dan impaty. 7.3 Golongan Petani dari Segi Penyuluhan Menonjolnya sifat terakhir ini mengharuskan dilaksanakannya penyuluhan dengan cara yang sebaik-baiknya. Dari segi penyuluhan, petani dapat digolongkan atas petani naluri, petani maju, petani teladan dan kontak atani. 1. Petani naluri adalah petani yang cara usahanya masih seperti yang diwariskan oleh nenek moyangnya. 2. Petani maju adalah petani-petani yang sudah menggunakan teknologi baru dalam usahanya dan bersikap maju / progressif. 3. Petani teladan adalah petani-petani yang usahanya dicontoh oleh petani setempat, tapi ia sendiri tidak aktif menyebar luaskan. 4. Kontak tani adalah petani teladan yang ikut aktif dalam usaha menyebarluaskan teknologi baru kepda petani-petani di daerahnya.

VIII. METODE PENYULUHAN PERTANIAN 8.1 Pengertian Metode Penyuluhan Pertanian adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan pertanian oleh penyuluh pertanian kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar mereka tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru. Umumnya pesan terdiri dari sejumlah simbol dan isi pesan inilah yang memperoleh perlakuan. Bentuk perlakuan tersebut memilih, menata, menyederhanakan, menyajikan dll. Dilain pihak simbol dapat diartikan kode-kode yang digunakan pada pesan. Simbol yang mudah diamati dan paling banyak digunakan yaitu bahasa. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh penyuluh pertnaian atau sumber unutk memilih serta menata isi pesan dan simbol yang digunakan pada pesan dapat dikatakan teknik penyuluhan pertanian. Dilain pihak kegiatan penyuluhn pertanian terlibat dalam proses belajar mengajar karena penyuluhan termasuk dalam sistem pendidikan non formal. Sesusi dengan tujuan , proses belajar mengajar dalam penyuluhan pertanian menghendaki retensi yang tinggi atau efek yang maksimal. Untuk memperoleh retensi yang tinggi setiap audien memerlukan belajar yang berulang. Dengan demikian teknik penyuluhan pertanian dapat didefinisikan sebagai keputusan – keputusan yang dibuat oleh sumber atau penyuluh dalam memilih serta menata simbul dan isi pesan menentukan pilihan cara dan frekuensi penyampaian pesan serta menentukan bentuk penyajian pesan. 8.2 Tujuan 1. Meningkatkan efektifitas penyuluhan pertanian dengan pemilihan metode yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasarannya 2. Agar penyuluh pertanian dapat menetapkan suatu metode atau kombinasi beberapa metode yang tepat dan berhasil guna. 3. Agar kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan untuk menimbulkan perubahan yang dikehendaki. 8.3 Prinsip Sebelum menerpakan metode penyuluhan pertanian yang harus diperhatikan bagi penyuluh adalah memahami prinsip prinsip yang dapat dijadikan landasan untuk memilih metode yang tepat: 1. Pengembangan untuk berpikir kreatif Melalui penyuluhan, bukanlah dimaksud agar masyarakat penerima manfaat selalu menguntungkan diri kepada petunjuk, nasehat, atau bimbingan penyuluhannya. Tetapi sebaliknya, melalui penyuluhan harus mampu dihasilkannya petani yang mampu dengan upayanya sendiri mengatasi masalah-masalah yang dihadapi, serta mampu mengembangkan kreatifitasnya untuk memanfaatkan setiap potensi dan peluang yang diketahuinya untuk terus menerus dapat memperbaiki mutu hidupnya. Karena itu, pada setiap kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh harus mampu memilih metoda yang sejauh mungkin dapat mengembangkan daya nalar dan kreatifitas masyaraket penerima manfaatnya. 2. Tempat yang paling baik adalah di tempat kegiatan penerima manfaat dapat dipastikan bahwa, setiap individu sangat mencintai profesinya, karena itu tidak suka diganggu (untuk meninggalkan pekerjaan rutinnya), serta selalu berperilaku sesuai dengan pengalamannya sendiri dan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya sehari-hari. Oleh sebab itu, dalam banyak kasus, kegiatan penyuluhan sebaiknya dilaksanakan dengan menerapkan metoda yang dilaksnakan di lingkungan pekerjaan (kegiatan) penerima manfaatnya. Hal ini dimaksudkan agar a . tidak banyak mengganggu (menyita waktu) kegiatan rutinnya. b. Penyuluh dapat memahami betul keadaan penerima manfaat, termasuk masalh-masalah yang dihadapi dan petensi serta peluang yang dapat dimanfaatkan utnuk perbaikan mutu hidup mereka. c. Kepada penerima manfaat dapat ditunjukkan contoh-contoh nyata tentang masalah dan petensi serta peluang yang dapat ditemukan dilingkungan pekerjaannya sendiri, sehingga mudah dipahami dan diresapi serta diingat oleh penerima manfaatnya. 3. Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya sebagai makhluk sosial, setiap individu akan selalu berperilaku sesuai dengan kondisi lingkungan sosialnya, atau setidak-tidaknya akan selalu berusaha menyesuaikan diri diri dengan perilaku orang-orang disekitarnya. Karena itu, kegaiatan penyuluhan akan lebih efisien jika diterapkan hanya kepada beberapa warga masyarakat, terutama yang diakui oleh lingkungannya sebagai “panutan” yang baik. 4. Ciptakan hubungan yang akrab dengan penerima manfaat Kegiatan penyuluhan adalah upaya mengubah perilaku orang lain secara persuasif dengan menerapkan sietem pendidikan. Adanya hubungan pribadi yang akrab antara penyuluh dengan penerima manfaatnya, akan merupakan syarat yang harus dipenuhi, setidak-tidaknya akan memperlancar kegiatan penyuluhan itu sendiri. Keakraban hubugna antara penyuluh dan penerima manfaat ini menjadi sangat penting. Karena dengan keakraban itu akan tercipta suatu keterbukaan megemukakan masalah dan menyampaikan pendapat. Disamping itu, saran-saran yang disampaikan penyuluh dapat diterima dengan senang hati seperti layaknya saran seorang sahabat tanpa ada prasangka atau merasa dipaksa. 5. Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan. Kegiatan penyuluhan adalah upaya untuk mengubah perilaku penetima manfaat, baik pengetahuannya, sikapnya atau keterampilannya. Dengan demikian, metoda yang diterapkan harus mampu merangsang penerima manfaat untuk selalu siap (dalam arti sikap dan pikiran) dan dengan suka hati atas kesadaran atau pertimbangan nalarnya sendiri melakukan perubahan-perubahan demi perbaikan mutu hidupnya sendiri. Keluarganya dan masyarakatnya. 8.4 Pemilihan dan Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan Pertanian 8.4.1 Dasar Pemilihan Penggunaan panca indera tidak terlepas dari suatu proses belajar mengajar karena panca indera tersebut terlibat di dalamnya Hal ini dinyatakan oleh Socony Vacuum Oil Co. yang di dalam penelitiannya memperoleh hasil sebagi berikut 1 % melalui indera pengecap, 1,5 % melalui indera peraba 3,5 % melalui indera pencium 11 % melalui indera pendengar dan 83 % melalui indera penglihatan. Dalam mempelajari sesuatu seseorang akan mengalami suatu proses adopsi yang berlangsung secara bertahap melalui serangkaian pengalaman mental psikologis sebagai berikut : 1. Tahap penumbuhan perhatian, dimana seorang sekedar mengetahui adanya suatu gagasan / ide atau praktek baru untuk pertama kalinya. 2. Tahap pertumbuhan minat, dimana seseorang ingin mengetahui lebih banyak perihal baru tadai dan berusaha mencari informasi lebih lanjut. 3. Tahap menilai, dimana seseorang mampu membuat perbandingan 4. Tahap mencoba, dimana seseorang mencoba gagasan baru atau praktek baru. 5. Tahap menerapkan, dimana seseorang meyakini gagasan atau praktek baru itu dan menerapkan sepenuhnya secara berkelanjutan di dalam usahataninya. Kemampuan seseorang untuk mempelajari sesuatu berbeda-beda demikian juga tahap perkembangan mental, keadaan lingkungan dan kesempatan, sehingga perlu ditetapkan suatu metode penyuluhan pertanian yang berhasil guna dan berdaya guna. Untuk penerapan dari metode dan teknik penyuluhan pertanian dengan mengamati terlebih dahulu dasar pertimbangan pemilihan metode dan teknik penyuluhan pertanian yang terdiri : 1. Sasaran a. Yang perlu diperhatikan tingkat pengetahuan sasaran, ketrampilan dan sikap sasaran b. Kondisi sosial budaya sasaran penyuluhan c. Banyaknya sasaran yang dicapai. 2. Sumberdaya penyuluhan Yang perlu dipertimbangan untuk sumberdaya penyuluhan pertanian ini: a. Kemampuan penyuluh yang meliputi pengusaan ilmu dan ketrampilan serta sikap yang dimiliki. b. Materi penyuluhan yang akan disampaikan c. Ketersediaan sarana dan biaya penyuluhan 3. Keadaan Daerah a. Musim dan iklim b. Keadaan usahatani c. Keadaan lapangan 4. Kebijaksanan Pembangunan Pertanian a. Yang berasal dari pemerintah pusat dan daerah b. Yang berasal dari masyarakat petani 8.4.2 Ragam metode dan teknik Ragam metode dan teknik penyuluhan pertanian yang dapat dipilih untuk dapat diterapkan dapat didasarkan pada aspek : Komunikasi : - langsung seperti anjangsana, pertemuan kelompok, kursustani, karyawisata/widyawisata, ceramah, FDG. - tidak langsung seperti penggunaan media cetak (poster, leaflet, folder, brosur, majalah, koran), penggunaan media elekrtonik (televisi, film radio), dialog melalui media komunikasi. Psikososial : - massal seperti menyabaran media cetak, pengunaan media elektronik, pertemuan umum, pameran, kampanye. - kelompok seperti demontrasi, FDG, kursustani, pertemuan kelompok, karyawisata/widyawisata, ceramah. - individu/perorangan seperti anjangsana rumah/tempat usaha, surat menyurat, telepon. Panca indera : - penglihatan seperti brosur, folder, leaflet, majalah, poster dan koran - pendengaran seperti tape recoder, radio, telepon - kombinasi pendengaran dan penglihatan seperti pemutaran film dan televisi Pemilihan dan menerapan metode penyuluhan pertanian berdasar komunikasi dikaitkan dengan tahapan adopsi 8.5 Metode Penyuluhan Menurut Pendekatannya Sebagai suatu kegiatan yang menginginkan adanya perbaikan-perbaikan, didalam pelaksanaanya, penyuluhan memerlukan cara-cara (metoda) yang dapat digunakan untuk menimbulkan perubahan-perubahan dalam diri petani menuju perbaikan-perbaikan yang diinginkan itu. Metode tersebut selain harus bersifat mendidik, didaktik, (self-help) dalam diri petani. Didalam prakteknya semua metoda yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan didasarkan kepada pendekatan-pendekatan (approach) yang dilakukan terhadap diri petani, keluarganya dan masyarakatnya. 8.5.1 Metoda Pendekatan Perorangan (Personal Approach) Metode ini melakukan pendekatan kepada setiap orang secara perorangan. Disini terjadi dialog langsung antara penyuluh dan petani secara individu. Metode ini paling efektif, sebab petani dapat langsung memecahkan masalahnya yang spesifik (khusus) untuk dirinya dengan bimbingan penyuluh. Tentu saja karena banyaknya jumlah petani, metode ini memakan waktu dan tenaga. Termasuk metode ini adalah : kunjungan ke rumah (home-visit), kunjungan kesawah / usaha tani (farm-visit), anjangsono, hubungan surat menyurat, hubungan telepon. 8.5.2 Metode Pendekatan Kelompok (group-approach) Pendekatan dilakukan terhadap kelompok orang (lebih dari seorang). Metode ini biasanya efektif dan efisien. Para petani dapat berdiskusi, saling tukar pendapat dan pengalaman. Hasilnya akan lebih mantap. Termask kedalam metode ini : demontrasi, field-day, kursus, darmawisarta, diskusi, dan lain-lain yang sifatnya kelompok. Dalam masyarakat, secara disadari atau tidak, biasanya terdapat kelompok-kelompok yang terjadi atas dasar kesadaran dan keserasian (informil maupun formil). Terhadap kelompok inilah dilakukan berbagai metode pendekatan kelompok. Didalam kelompok tadi biasanya terdapat seseorang (atau lebih) yang lebih menonjol dari teman-temannya sesama kelompok. Orang ini biasanya menjadi tempat petani bertanya (informal leader), dapat mempengaruhi kelompoknya (opinion leader), sehingga seolah-olah orang ini memimpin kelompoknya (local leader). Sering pula orang demikian disebut key-peoper atau key-person. Kepada “leader” ini dilakukan pendekatan perorangan sehingga ini menjadi early-adopter dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan demikian orang ini dapat menjadi kontak tani (contak person) yang menyebarkan ilmu dan ketrampilan yang didapatkannya dari penyuluh kepada kelompoknya. Kalau kelompok ini belum ada dalam masyarakat petani setempat, maka penyuluh harus berusaha menstimulir (bukan membentuk) adanya kelompok ini, serta menstimulir terjadinya kontak-kontak tani. 8.5.3 Metode Pendekatan Masal Dalam cara ini kegiatan penyuluhan dilakukan secara masal terhadap masa yang banyak. Penerangan biasanya banyak dilakukan dengan cara ini. Untuk sekedar menyampaikan informasi cara ini cukup baik. Tapi untuk memantapkan hasil kegiatan penyuluhan, agar petani mau menerapkan apa yang dimaksud dalam kegiatan penyuluhan tersebut, cara ini kurang efektif. Memang cara ini tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, sebab informasi sekaligus diberikan terhadap orang yang jumlahnya banyak. Oleh karena itu untuk memantapkan hasil yang dicapai, metode ini harus dilanjutkan dengan metode yang telah disebutkan terlebih dahulu, dimana jumlah petaninya lebih sedikit. Oleh karena setiap metode, dalam pelaksanaannya mempunyai tingkat efektifitas dan penggunaan waktu serta tenaga yang berbeda, seringkali metode pendekatan ini penggunaannya dihubungkan dengan keadaan tingkat (tahap) adopsi dari petani. 1. Untuk mencapai tahap kesadaran (tahu) pada diri petani tentang adanya hal baru, biasanya cukup dengan kegiatan informal saja. Ini dapat dilakukan dengan metode pendekatan masal, agar informasi tersebar luas. 2. Untuk merubah sikap petani, hingga mereka mencapai tahap mempunyai minat terhadap hal baru tersebut biasanya pendekatan-pendekatan masal tadi dilanjutkan dengan metode pendekatan kelompok dan penerangan. Petani biasanya mulai menaruh minat apabila golongan early adopter telah menerapkan. Oleh karena itu pendekatan perorangan ditujukan kepada golongan ini serta dapat menyebar ketetangga-tetangga (olie-vlek system). 3. Setelah petani menaruh minat, selanjutnya mereka akan mempertimbangkan mengenai pelaksanaan hal baru tersebut. Pada tahap ini metoda pendekatan kelompok dan perorangan makin diintensifkan. Pendekatn perorangan sekarang meningkat pada petani anggota kelompok atau petani lain, disamping kepada kontak-kontak tani dan early adopter. 4. Tahap selanutnya, yaitu tahap percobaan, akan banyak menimbulkan masalah-masalah yang spesifik untuk setiap petani dalam melaksanakan percobaannya melaksanakan hal baru terswebut. Oleh karena itu pada tahap ini banyak dilakukan metode pendekatan perorangan. Metode pendekatan kelompok juga dijalankan terus dan tidak berkurang, sebab petani selamanya banyak membicarakan masalahnya dengan sesama tetangganya. Tapi kegiatan pendekatan perorangan lebih banyak. Dengan pemecahan masalah teknis yang terperinci serta spesifik tiap petani, diharapkan usaha coba-coba yang dilaksanakan petani akan berhasil, sehingga selanjutnya petani akan menerapkan inovasi yang dianjurkan. 5. Bila petani sudah merapkan hal-hal baru ini, penyuluh tak boleh melelaskan dan membiarkannya. Dia harus terus mendampingi petani dan kelompoknya, agar hal baru ini lebih sempurna. Msalah-masalah akan timbul terus. Harus ingat tujuan penyuluihan yang menginginkan keadaan yang selalu lebih baik. Walaupun demikian yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana dapat melayani sasaran sebanyak mungkin, sesering mungkin dan semudah mungkin. Seperti diuraikan terdahulu, sasaran penyuluhan mempunyai sifat-sifat tertentu, sehingga untuk memperoleh hasil yang memuaskan, metode penyuluhan harus didasarkan atas keadaan sasaran. Dengan demikian, apa yang disuluhkan akan tepat mengenai sasarannya pada waktunya dan mudah diterima / dimengerti. 8.6 Metode Penyuluhan Menurut Mekanisme Penerimaan oleh Sasaran Menurut mekanisme penerimaan oleh sasaran, metode penyuluhan dapat digolongkan atas metode yang dapat dilihat dan didengar. Pada metode yang dapat dilihat pesan penyuluhan diterima lewat penglihatan untuk memulai proses adopsinya. Menurut metode ini pesan disampaikan dalam bentuk poster, gambar, pameran tanpa penjelasan vokal, pemutaran film bisu dan slide. Metode yang dapat didengar adalah dimana amanat diterima lewat pendengaran untuk memulai proses adopsinya misalnya siaran lewat radio, hubungan per telpon, pidato, ceramah dll. Dengan media yang dapat dilihat dan didengar adalah metode dimana pesan diterima lewat penglihatan dan pendengaran untuk memulai proses adopsi, seperti menyampaikan pesan melalui pertunjukan film bersuara, siaran televisi, kursus dengan menggunakan alat peraga / praktek dll. Hasil penangkapan oleh sasaran terhadap apa yang disampaikan dalam penyuluhan menurut masing-masing metode di atas adalah sebagai berikut (HASNOSUWIGNJO & ATTILA GARNADI) : 1. Hasil penangkapan dari mendengarkan saja : 10% 2. Hasil penangkapan dari melihat saja : 50% 3. Hasil penangkapan dari melihat, mendengar dan mengerjakan sendiri : 90 % Jelaslah bahwa dengan menggunakan metode yang dapat dilihat, didengar dan dipraktekkan akan memberikan hasil penangkapan tertinggi. 8.7 Metode Penyuluhan berdasar Mekanisme Penyampaian Dari segi mekanisme penyampaian pesan dan saluran komunikasi, metode penyuluhan dapat dibagi atas : 1. Mekanisme penyampaian a. Secara lisan b. Secara tertulis c. Secara terproyeksi 2. Saluran komunikasi a. Secara langsung b. Secara tak langsung Pada metode yang langsung, penyuluh berhubungan dengan sasaran dalama bentuk pembicaraan-pembicaraan pada kunjungan ke rumah, disawah atau dimana saja bertemu dengan petani dan dalam kursus-kursus karya wisata dan lain-lain. Sebagian pendapat menganggap bahwa metode ini lebih menganai sasaran, meyakinkan dan sifatnya lebih akrab sehingga menimbulkan pertalian sosial.antara penyuluh dengan sasaran. Akan tetapi untuk memperoleh kwalitas sasaran yang benar, cara ini membutuhkan tenaga dan biaya yang besar pula. Para penyuluh sukarela (kontak tani) umumnya menggunakan metode ini dan hasilnya dirasakan lebih kekal. Metode ini sering disebut ratu perjoangan memperoleh pengetrap (the Quality of the battle to capture adopters). Dengan cara tidak langsung penyuluh dapat juga menyampaikan pesan kepada sasaran melalui perantara. Pada tahap-tahap permulaan dari proses komunikasi (yaitu menarik perhatian dan menggugah hati) metode ini sangat banyak menolong serta memberikan kesan yang lebih lama dan meyakinkan. Dalam metode ini pesan disampaikan melalui pertunjukan film, slides, pameran-pameran, siaran radio / televisi, selingan dalam pertunjukkan sandiwara serta penerbitan / publikasi barang-barang cetakan, demonstrasi, karya wisata, pameran, perlombaan, kursus, diskusi dll. Cara pendekatan ini mudah dilakukan melihat keadaan dan norma-norma sosial masyarakat tani Indonesia seperti hidup berkelompok, bergortong royong dan berjiwa musyawarah. Dengan pendekatan metode secara masal, penyuluh menyampaikan pesan secara langsung atau tidak langsung kepada orang banyak sekaligus pada waktu yang sama misalnya pada pertemuan besar dalam bentuk pidato, siaran pedesaan melalui radio / televisi, pertunjukan wayang, sandiwara, dagelan, penempelan poster serta penyebaran bahan-bahan catatan lainnya. Dengan cara ini pesan dapat disampaikan meluas keseluruh masyarakat, tapi pengaruhnya hanya sepintas lalu. Untuk menarik perhatian, menggugah hati dan mengingatkan kembali metode ini baik digunakan. 8.8 Metode Penyuluhan yang Biasa Dilaksanakan di Indonesia Beberapa metode penyuluhan pertanian yang biasa digunakan oleh penyuluh pertanian di Indonesia antara lain ialah : 1. Ceramah Ceramah merupakan suatu pertemuan untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relatif cepat. Tujuan : untuk menyampaikan informasi yang lengkap dengan penyelasan yang lebih mendalam. 2. Kunjungan rumah dan usahatani Dengan cara ini penyuluh berhubungan langsung dengan petani serta keluarganya di rumah atau di usahataninya untuk suatu tujuan penyuluhan. Biasa saja disebut anjang sana, anjang karya. Dengan demikian akan terbentuk hubungan pribadi antara penyuluh dan petani, sehingga lebih cepat menimbulkan kepercayaan petani dan keluarganya kepada penyuluh Atas dasar kepercayaan ini dapat terjadi pertukaran pendapat mengenai masalah pribadi maupun masyarakat dan dengan demikian masalah yang tidak disadari sasaran dapat disadarkan serta dibahas mengenai kemungkinan-kemungkinan cara pemecahannya. Teknik pendekatan dan pribadi penyuluh sangat menentukan berhasil tidaknya usaha penyuluhan dengan menggunakan metode ini. 3. Kunjungan kantor Dalam hal ini sasaran datang ke kantor untuk mencari informasi, jadi kebalikan dari pertama. Kejadian ini masih jarang terjadi dan bila terjadi penyuluh sedapat mungkin harus melayani sasaran (-tamu-) dengan sebaik-baiknya, sehingga sasaran merasa puas. 4. Pertemuan Umum Metode ini biasanya digunakan untuk memperkenalkan program-program pembangunan masyarakat desa atau program lain yang berhubungan dengan kegiatan pertanian seperti program penyuluhan yang akan dilaksanakan, dsb.nya. Pertemuan biasanya dihadiri oleh ssemua fihak yang ada dalam masyarakat pedesaan sehingga materi yang disampaikan juga terdiri atas beberapa informasi tertentu untuk menjadi pertimbangan dan untuk dilaksanakan di kemudian hari. 5. Pertemuan diskusi Ditujukan untuk kelompok kecil petani, biasanya tidak lebih dari 12 orang, sehingga tiap peserta dapat aktif dalam diskusi. Biasanya digunakan untuk mengumpulkan saran-saran terhadap satu masalah yang harus dipecahkan atau saran-saran mengenai suatu hal yang akan diselenggarakan. Dalam diskjusi peranan pimpinan banyak menentukan apakah diskusi tersebut dapat berhasil atau tidak. Pertemuan diskusi merupakan pertmuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pendapat mengenai suatu kegiatan yang akan diselenggarakan tau gua mengumpulakan saran-saran untuk memecahkan persoalan Tujuan mengajak petani untuk membicarakan dan memecahkan maslah yang berkaitan dengan penerapan teknologi baru, penyaluran sarana produksi, pemasaran hasil, pengorganisasian kegiatan kelompok tani dan kelestarian sumberdaya alam. 6. Pertemuan kursus Dimaksudkan untuk memberikan informasi sebanyak-banyaknya, dan secepat-cepatnya. Pertemuan semacam ini sangat baik untuk dipakai dengan konak-kontak tani, tokoh masyarakat pedesaan, pimpinan pemuda tani, demonstrator serta petani-petani lain yang berminat. Untuk lebih efektif dapat disertai dengan pemberian selebaran (leaflet, brosur, folder dan seterusnya), mengenai topik yang dibahas serta penggunaan alat peraga dalam meberikan pelajaran. Kursus tani merupakan proses belajr mengajar yang khusus diperuntukan bagi petani dan keluarganya yang diselenggarakan secara sistematis, teratur dan dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dari khursus tani : a. meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan petani dalam memecahkan masalah yang dijumpai dalam usahataninya b. meningakatkan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan dalam menerapkan teknologi yang lebih menguntungkan . c. menumbuhkan calon kontaktani yang bersedia dan mampu menyebarkan teknologi pertanian yang lebih menguntungkan d. menggugah dan mengembangkan kesadaran dan swadaya serta kepemimpinan keluarga tani. 7. Demonstrasi Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan / membuktikan secara nyata tentang cara dan atau hasil penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan bagi petani – nelayan. Berdasarkan sasaran yang akan dicapai demonstrasi dibedakan atas demostrasi usahatani perorangan (demplot), demonstrasi usahatani kelompok (demfarm), demonstrasi usahatani gabungan kelompok (dem area) Tujuan demonstrasi a. Tujuan demonstrasi plot yaitu untuk memberikan contoh bagi petani disekitarnya untuk menerapkan teknologi baru di bidang pertanian. b. Tujuan demonstrasi farm yaitu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan anggota kelomoktani serta memberikan contah petani disekitarnya menerapkan teknologi baru melali kerjasama kelompok. c. Tujuan demonstrasi area yaitu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tani melalui kerjasama antar kelompok tani untuk menerapkan inovasi baru di bidang pertanian serta memberikan contoh bagi petani sekitarnya. Dalam pelaksanaannya dapat berupa demonstrasi cara dan demonstrasi hasil. a. Demonstrasi cara Maksudnya untuk memperlihatkan secara singkat kepada kelompok petani tentang bagaimana melaksanakan suatu cara kerja baru atau cara kerja lama yang lebih sempurna. Jelas bahwa tujuannya adalah unutk menambah ketrampilan dalam melakukan pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. b. Demonstrasi hasil Cara ini ditujukan untuk memperlihatkan hasil suatu cara kerja baru, dengan maksud agar sasaran mengetahui cara beru tersebut cocok untuk diterapkan di daerahnya dan memberikan hasil yang menguntungkan. Dengan cara karyawisata, pertemuan lapangan (Farmers Filed Days) dan publisitas demointrasi hasil ini dapat lebih dimanfaatkan. 8. Karyawisata Dengan cara ini suatu kelompok tani bersama-sama mengadakan perjalanan untuk melihat hasil penerapan dari suatu metode baru dalam keadaan yang sehungguhnya serta melihat cara melakukan sesuatu yang baru. Tujuan adalah untuk menggugah hati serta langsung meyakinkan mereka akan manfaat dari penerapan teknologi baru tersebut. Selama dalam perjalanan dan sesudahnya dapat dimanfaatkan untuk mengadakan diskusi antar peserta karyawisata tersebut. Karyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar sambil bekerja suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya. Tujuan a. Memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar sambil melakukan sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya. b. Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal. 9. Pameran Dimaksudkan untuk mempengaruhi orang agar mau menerima cara-cara baru serta menarih perhatian orang terhadap hasil dari cara-cara baru tersebut. Secara sitematis diperlihatkan / dipercontohkan contoh, model, barang dan sebagainya dalam urutan-urutan tertentu, sehingga menarik perhatian, mengguhgah hati dan membangkitkan keinginan bagi pengunjung. Pameran merupakan usaha untuk memperhatikan atau mempertunjukan model, contoh, barang, peta, grafik, benda hidaup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu. Suatu pameran melingkupi tiga tahap usaha komunikasi yaitu menarik perhatian, mengguggah hati dan membangkitkan keinginan serta bila memungkin tahap menyakinkan diharapkan dapat juga tercapai. Tujuan a. Mempengaruhi orang untuk menerima cara-cara baru dan memperlihatkan teknologi baru sekaligus ditunjukan hasil hasil yang telah dicapai. b. Menarik perhatian banyak orang dan meningkatkan pengertian dan minat c. Menumbuhkan pengertian dan apresiasi terhadap pembangunan pertanian 10. Pertunjukan Film Pertunjukan film kepada masyarakat tani disamping memberikan hiburan, tapi dimaksudkan juga untuk menarik perhatian untuk suatu hal yang sedang dilaksanakan. Dari segi penyuluhan, efektifitasnya masih diragukan. Walaupun demikian bagi penonton yang selektif banyak manfaatnya. 11. Kata yang tertulis Dalam komunikasi metode ini cukup efektif. Dalam penyuluhan memberikan sumbangan yang berharga untuk tempat penyajian bahan bacaan yang sekaligus menjadi alat pembantu penyuluhan. Hambatan utama dari penggunaan metode ini disamping biayanya yang mahal, juga masih banyak petani yang buta huruf. 12. Kampanye Dapat digunakan jika sudah ada kepastian bahwa suatu anjuran tertentu sudah diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. Dilancarkan dalam waktu yang singkat dan tepat dengan cara penyajian yang menarik perhatian orang-orang terhadap masalah tertentu.. Metode ini dimaksudkan juga untuk mengikutsertakan seluruh masyarakat dan untuk menciptakan suasana psikologis (precondition) yang sesuai guna penerapan suatu teknologi baru. 13 Magang Magang merukan proses belajar mengajar anatar petani, dimana seorang petani belajar dari pengalaman kerjanya pada suatu usatani dalam keadaan sesungguhnya di lapangan dengan bimbingan petani yang berhasil menjalankan usahanya. Tujun dari magang: a. Menumbuhkan kreativitas, sikap kritis, rasa percaya diri dan jiwa kewirausahaan petani b. Menumbuhkan minat dan keyakinan petani pemagang terhadap usahatani sebagai sumber mata pencaharian. c. Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan social dan interaksi positif antar sesama petani d. Meningkatkan ketrampilan, kecakapan dan rasa percaya diri petani pengajar dalam mengajar petani lain. 14 Mimbar Sarasehan Mimbar sarasehan merupakan forum konsultasi antar kelompok andalan (KTNA) dengan pihak pemerintah yang diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan memusyawarahkan dan mencapai kesepakatan mengenai hal-hal yang menyangkut masalah-masalah pelaksanaan program pemerintah dan kegiatan petani dalam rangka pembangunan pertanian. Tujuan a. Memahami keadaan dan masalah yang dihadapi pembangunan pertanian di lapangan. b. Mencapai kesepakatan bersama tentang pemecahan maslah berserta penyusunan rencana kegiatan yang mencakup usahatani dan kehidupan petani dan keluarganya. c. Melaksnakan penerapan kegiatan di lapangan sesuai dengan kesepakatan bersama. d. Meningkatkan peranan dan peranserta petani sebagai subyek pembangunan e. Mewujudkan hubungan timbal balik yang serasi antar kontaktani dan pemerintah dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan pertanian untuk memperbaiki perencanaan masa yang akan datang. 15 Perlombaan Perlombaan merupakan kegiatan dengan aturan tertentu untuk menumbuhkan persaingan yang sehat antar petani untuk mencapai prestasi yang diinginkan secara maksimal Tujuan a. Menarik perhatian petani terhadap suatu hal dalam usahatani b. Meningkatkan prestasi petani dalam berusahatani yang lebih baik dan lebih menguntngkan c. Menumbuhkan dan meningkatkan peransaerat petani dan kerjasama diantara petani. 16 Temu Karya Temu karya merupakan pertemuan antar petani untuk bertukar pikiran dan pengalaman serta belajar atau saling mengajarkan sesuatu ketrampilan dan pengetahuan untuk diterapkan Tujuan a. Membuka kesempatan tukar menukar pengalaman dan ketrampilan b. Mempercepat penerapan teknologi baru. c. Memperluas cakrawala berfikir d. Meningkatkan keakraban antar petani 17 Temu Lapang Temu lapang meruapakan pertemuan antara petani dengan peneliti untuk salaing tukar menukar informasi tentang tenologi yang dihasilkan oleh peneliti dan umpan baik dari petani. Tujuan a. Membuka kesempatan bagi petani untuk mendapatkan informasi teknologi hasil penelitian b. Membuka kesempatan bagi peneliti untuk mendapatkan umpan balik dari hasil-hasil penelitiannya c. Menyalurkan teknologi di kalangan petani secara lebih cepat. 18 Temu Tugas Temu tugas merupakan pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian pengaturan dan pelayanan dalam lingkup pertanian. Tujuan Mencapai suatu pandangan, sikap dan perilaku dalam melaksanakan suatu kegiatan pembangunan 19 Temu Usaha Temu usaha merupakan pertemuan antara petani dengan pengusaha dibidang pertanian Tujuan a. Menumbuhkan rangsangan kea rah usahatani komersial kerjasama usaha dan kewirausahaan b. Membuka kesempatan bagi petani untuk mempromosikan hasil usahanya c. Membuka kesempatan untuk menambah pengetahuan dibidang pemasaran serta dibidang teknologi produksi dan pengolahan hasil d. Mengadakan transaksi usaha yang menguntungkan kedua belah pihak. 20 Temu Wicara Temu wicara merupakan pertemuan antara petani dengan pemerintah untuk bertukar mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan, khususnya pembangunan pertanian serta mengenai keinginan, gagasan, dan pelaksanaan pembangunan oleh petani di lapangan. Tujuan a. Meningkatkan pengetahuan dan pengertian petani tentang pembangunan pertanian pada khususnya serta pembangunan nasional b. Meningkatkan motivasi petani untuk melaksanakan kegiatan pembangunan pertanian c. Membuka saluran umpan balik dari masyarakat tani kepada pemerintah. 21 Widyawisata Widyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya, atau melihat suatu akibat tidak diterapkannya teknologi di suatu tempat. Tujuan a. Meyakinkan peserta dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya. b. Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal. 22 Sekolah Lapang Sekolah lapang merupakan kegiatan pertemuan berkala yang dilakukan oleh sekelompok petani pada hamparan tertentu, yang diawali dengan membahas masalah yang sedang dihadapi, kemudian diikuti dengan curah pendapat, berbagi pengalaman tentang alternatif dan pemilihan cara pemecahan masalah yang palibng efektif dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Tujuan a. Petani memiliki kesempatan mengidentifikasi kebutuhan ilmu dan ketrampilan dalam melaksanakan usahataninya b. Petani belajar untuk menambah ilmu dan ketrampilan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya ditempat yang sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi sehari-hari. c. Petani mampu menganalisis dan mengambil keputusan yang rasional tentang tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan memperbaiki usahataninya berdasarkan hasil lapangan. d. Para petani mampu bekerjasama dalam proses belajar untuk meningkatkan produktivitas usahataninya secara berkelanjutan.

Pemilihan dan menerapan metode penyuluhan pertanian berdasar komunikasi dikaitkan dengan tahapan adopsi TAHAP ADOPSI SADAR MINAT MENILAI COBA ADOPSI PERUBAHAN PERILAKU --PENGETAHUAN-- PENGETAHUAN --PENGETAHUAN--

          DAN                                                                     DAN 
         SIKAP                                                           KETRAMPILAN 

MEDIA YANG DIGUNAKAN  TERPROYEKSI --------- -------LISAN----

 ------------------MEDIA CETAK----------- 

HUBUNGAN PENYULUH DAN KLIEN ----TAK LANGSUNG ----------

                                               -----------------LANGSUNG-------- 

PENDEKATAN PSIKOSOSIAL MASSAL----------- -------KELOMPOK ----

                                                                       --------INDIVIDU -

8.9 Analisis Efektivitas Penggunaan Metode Dan Teknik Penyuluhan Pertanian 8.9.1 Lingkup Analisis Metode penyuluhan merupakan cara penyampaian pesan agar dapat terjadi perubahan sehingga sasaran tahu, mau dan mampu dalam menerapkan inovasi baru. Ketika penyuluh telah dapat menetapkan cara untuk menyampaikan pesan diharapkan keputusan tersebut dapat memberikan tingkat efektivitas yang optimalmaksimal untuk kegiatannya. Untuk mengamati apakah cara untuk menyampaikan suatu pesan itu tersebut berdaya guna ataukah perlu disempurnakan dapat dilakukan analisis tingkat efektivitasnya. Sesuai dengan pendayagunaan teknik penyuluhan pertanian yaitu terjadinya efek yang optimal dalam proses komunikasi inovasi. Oleh karena itu keputusan cara penyampaian pesan yang diambil penyuluh harus dapat ditata dan diolah. 1. Lingkup teknik pendayagunaan penyuluhan pertanian meliputi : a. Memilih dan menata simbol, b. Memilih dan menata isi pesan, c. memilih cara penyamapain pesan baik tunggal maupun kombinasi 2. Lingkup pendayagunaan teknik penyuluhan pertanian dalam perlakuan terhadap simbol : a. Memilih bahasa yang tepat b. Memilih bentuk bahasa c. Memilih kata-kata yang mudah dimengerti d. Mendayagunakan tatabahasa dan gaya bahasa e. Mendayagunakan inovasi dan aksentuasi 3. Lingkup pendayagunaan teknik penyuluhan pertanian dalam perlakuan terhadap pesan a. Memilih isi pesan yang memenuhi persyaratan inovasi yang dianjurkan b. Menata isi pesan agar : 1) Cocok dengan cara penyampaian yang digunakan 2) Cocok dengan bentuk penyajian yang di tampilkan 3) Sesuai dengan daya anut sasaran 4) Saling mengisi dengan kegiatan petani sesuai dengan tahapan proses adopsi. 8.9.2 Analisis Efektifitas Analisis dapat dilakukan dengan cara membandingkan standart yang telah ditentukan dengan data yang diperoleh dengan dari kegiatan dari menerapan metode dan teknik penyuluhan pertanian. Selanjutnya dilakukan memasukan dalam kategori tingkat efektifitas. Untuk langkah menganalisis sebagai berikut : 1. Penetapkan terlebih dahulu cara penyampaian, isi pesan dan simbol. 2. Dari cara penyampaian, isi pesan dan simbol tentukan aspek yang akan dilakukan pengukuran 3. Setiap aspek yang akan diukur tentukan standart yang diharapkan. 4. Dari standart yang ditentukan kemudian dapat ditetapkan tingkatkan/ kategori efektifitas dari penggunaan cara penyampaian pesan tersebut. 5. Pengukuran dari tingkat efektitas ini dapat dibuatkan instrumen yang berkaitan dengan cara penyampaian pesan tersebut, sebagai berikut : a. Untuk pendayagunan teknik penyuluhan penggunaan media cetak (flipcahart, leaflet, folder, brosur, poster, koran, majalah) instrumen yang dapat digunakan mulai pengamatan dari perlakuan bahasa, perlakuan isi pesan dan bentuk penyajian. b. Untuk pendayagunaan teknik penyuluhan pertanian dalam bentuk pertemuan (mimbar sarasehan, temu wicara, temu usaha, temu karya, karyawisata , demonstrasi pertemuan kelompok) intsrumen yang dapat digunakan perlakuan pada saat prapertemuan, perlakuan pada saat pertemuan, perlakuan pada saat pasca pertemuan. Contoh instrumen untuk perlakuan saat prapertemuan : Berapa orang petani atau kontaktani yang layak menjadi pemrakarsa pada temu karya. Dari jumlah tersebut berapa persen yang dapat menjadi pemrakarsa ? a lebih dari 80 % b Antara 50 – 80 % c Kurang dari 50 % Instrumen dapat dikembangkan sesuai dengan tahapan perlaku yang akan diterapkan dari suatu metode. 6. Pengumpulan data dari sasaran dapat dilakukan dengan wawancara dan survey langsung. 7. Data yang telah dikumpul dapat dilakukan sortir dan cleaning, data sehingga lebih akurat. Selanjutnya data ditabulasikan untuk siap dilakukan analisis. 8. Menghitung jumlah jawaban yang telah dikumpulkan ( a, b dan c) dari pertanyaan yang diajukan. Untuk yang menilai huruf a diberi angka 3, b diberi nilai 2 dan c diberi nilai 1 9. Untuk mengetahui tingkat efektifitas dapat diperoleh dari seluruh aspek perlakuan yang capai dibagi total nilai maksimal, kemudian hasilnya dikalikan 100 % 10. Hasil yang dicapai dapat dibandingkan dengan tingkatan apakah cara penyampaian pesan yang telah diputuskan efektif, cukup efektif , kurang efektif atau tidak efektif dsb. 8.10 Perancanangan Metode Dan Teknik Penyuluhan Bila dasar pertimbangan untuk pemilihan ini telah terpenuhi maka untuk merancang metode dan teknik penyuluhan pertanian dengan melakukan tahapan : 1. Mengidentifikasi dan analisis data yang dari sasaran, penyuluh dan perlengkapannya, keadaan daerah/wilayah dan kebijakan pembangunan Setelah memiliki data dasar, kegiatan selanjutnya menetapkan tahap penerapan sasaran. Untuk keperluan in penyuluh dapat menganalisis dari sebagian data. Apa tahap penerapan sasaran sudah ada atau sudah disiapkan, maka langkah berikutnya adalah mencoba menteapkan alternatif meode penyuluhan 2. Menetapkan alternatif metode penyuluhan pertanian. Alternatif metode ini dapat didekati dengan penggolongan berdasarkan jumlah sasaran yaitu secara pendekatan massal, kelompok maupun perorangan. a. Metode dengan pendekatan massal dipergunakan untuk menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan serta memberikan informasi selanjutnya. b. Metode dengan pendekatan kelompok dapat dipergunakan untuk lebih rinci memeberikan informasi tentang suatu teknologi atau praktek. Metode tersebu ditujukan untuk dapat membanu seseorang dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau sampai tahap menerapkan. c. Metode pendekatan perorangan , dapat sangat berguna dalam tahap mencoba hingga menerapkan, metode perorangan ini dilakukan apabila sasaran sudah hampir samapai tahap mencoba dan bersedia mencoba yang tentunya memerlukan bimbingan untuk memantapkan keputusnya. d. Untuk faktor ini juga tidak lepas dari pengalaman dan masa kerja /tugas penyuluh. Penyuluh yang belum memiliki pengalaman atau dalam taraf permulaan metode penyuluhan yang terbaik adalah pendekatan perorangan. Bila kemampuan dalam pengenal sasaran dan keadaan lapangan sudah dimiliki, maka metode penyuluhan yang efektif dalam menjangkau sasaran adalah pendekatan kelompok atau massal. 3. Menetapkan metode penyuluhan pertanian. Penyuluh baru dapat memikirkan metode yang cocok dengan kondisi keadaan lapangan dan sasaran. Penetapan metode dapat satu jenis atau lebih / beberapa metode. Dalam mencapai suatu tujuan perlu dilaksanakan pemecahan dengan kombinasi metode tertentu. Pertimbangan tentang musim, keadaan usahtani, permasalahan di lapangan, fasilitas sasaran penyuluhan yang telah dikemukakan terdahulu, sangat diperlukan dalam menetapkankombinasi metode. Pertimbangan akan menghasilkan permilihan ini satu atau lebih metode penyuluhan. Bila metode yang akan diterapkan lebih dari satu maka perlu dilakukan pengulangan, urutan atau kombinasi. Pengulangan : misalnya kursus tani I diualangi dengan yang ke II dan seterusnya dengan materi lanjutan. Urutan : misalnya kursustani diikuti dengan wiyawisata, perlombaan dan lain-lain Kombinasi : misalnya waktu demonstrasi sekaligus dilaksanakan lomba antar peserta dan menyebarkan publikasi. 4. Setelah penyuluh dapat menetapkan cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan/materi, selanjutnya penyuluh menyusun bagaimana untuk mengetahui bahwa teknik yang digunakan akan memperoleh tingkat efektivitas yang optimal. Yang dapat dicermati dari saat persiapan, pelaksanaan dan pasca pelaksanan ketika telah ditetapkan metode untuk diterapkan


IX. MATERI, MEDIA DAN ALAT PEMBANTU PENYULUHAN PERTANIAN 9.1 Materi Penyuluhan Pertanian Seperti dikemukakan bahwa fungsi penyuluhan adalah untuki merubah sikap petani agar mau melaksanakan apa yang dianjurkan. Sama halnya dengan metode penyuluhan yang harus disesuaikan dengan keadana sasaran, maka materi dari penyuluhan harus juga sesuai dengan kebutuhan sasaran agar tertarik perhatiannya sehingga terdorong untuk melaksanakannya. Bagi masyarakat tani hal-hal yang menarik perhatiannya umumnya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan perbaikan usaha dan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apa yang menjadi problem baginya biasanya akan mendorong keinginan baginya untuk dapat mengatasi problem tersebut setelah mereka menyadari bahwa problem tersebut harus mereka pecahkan. Akan tetapi keterbatasan mereka dalam berbagai hal seperti pengetahuan dan ketrampilan tidak tahu dan sadar akan adanya problem yang ada / mungkin timbul, apalagi untuk mencari jalan pemecahannya. Dalam keadaan seperti ini penyuluh membantu untuk menemukan problem-problem yang ada / mungkin terjadi serta memberikan alternatif-alternatif untuk pemecahannya. Alternatif-alaternatif inilah yang menjadi materi dalam penyuluhan. Jelaslah bahwa materi penyuluhan harus disesuaikan dengan kebutuhan sasaran, tentang apa yang menarik bagi mereka untuk diperbaiki. Teknologi baru hasil penelitian merupakan materi dalam penyuluhan, setelah diuji kebenarannya untuk daerah tertentu. Sudah barang tentu, balai-balai penelitian pertanian menjadi sumber dari materi penyuluhan. Pemilihan materi penyuluhan yang sesuai untuk mengatasi problem utama dalam masyarakat akan sangat menarik bagi petani sehingga apa yang disuluhkan akan mereka kerjakan. Mac F, Milikan dan David Hoopgood : dalam uraiannya sangat mementingkan materi yang disuluhkan sehingga memperoleh responsibility dari masyarakat. Agar petani mempunyai respons yang lebih besar, materi penyluhan harus mempunyai sifat-sifat berikut: a. Profitable Seperti yang disuluhkan harus memberikan keuntungan yang nyata kepada petani, setelah mereka melaksanakan anjuran tersebut. Materi penyuluhan yang tidak akan memberi keuntungan juga tidak akan menarik hati petani. b. Complementer Materi penyuluhan dapat mengisi kegiatan-kegiatan yang sifatnya complementer dari pada kegiatan yang ada sekaang. c. Compatibility Materi penyuyluhan tidak boleh bertentangan dengan adat istiadat dan kebudayaan masyarakat tani setempat. Umumnya materi penyuluhan yang bertentangan dengan adat kebiasaan petani tidak akan mendapat respon. d. Simplicity Materi penyuluhan harus cukup sederhana, mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan skill yang terlalu tinggi. Hal ini sesuai dengan tingkat pengetahuan petani yang akan dianjurkan harus sederhana dalam penggunaannya. e. Availability Materi penyuluhan supaya tersedia pengetahuannya dalam diri petani sehingga dapat dengan mjudah diterimanya. Biaya / barang yang diperlukan untuk melaksanakan anjuran tersebut harus dapat / mampu disediakan petani. Pengetahuan dan ketrampilan petanipun harus disesuaikan. Bila tidak demikian, petani tidak akan dapat melaksanakan anjuran yang dibderikan dan bahkan sama sekali tidak akan tertarik. f. Immediate aplicability Materi yang disuluhkan harus dapat dimanfaatkan dan memberikan hasil dengan segera. Sudah menjadi sifat petani untuk dengan segera menikmati hasil usahanya, Sebagai contoh, sangat sukar untuk menganjurkan peremajaan pada tanaman keras dengan menggunakan bibit unggul. Akan tetapi penggunaan bibit unggul pada tanaman berumur pendek misalnya padi segera mendapat tanggapan karena buktinya dapat dirasakan dalam waktu yang singkat. g. In expensiveness Materi penyuluhan tidak memerlukan ongkos tambahan yang terlalu besar untuk menerapkannya. Syarat ini mutlak perlu diperhatikan mengingat kemampuan ekonomi petani masih sangat rendah. h. Low-risk

	Materi penyuluhan tidak boleh mempunyai resiko yang besar seperti resiko busuk, resiko tidak laku dijual, resiko pencurian dan sebagainya. Resiko dari penerapan apa yang dianjurkan harus rendah, sehingga bila timbul kegagalan tidak menyebabkan fatal bagi petani.

i. Spectaculer - ipact Impact dari pelaksanaan apa yang dianjurkan harus menarik dan menonjol. Misalnya kenaikan produksi yang ingin dicapai melalui anjuran-anjuran tertentu harus cukup tinggi. Bibit unggul yang dianjurkan harus dapat menaikkan produksi 40 – 50% dan sebagainya. Bila impact dari pelaksanaan anjuran tersebut menonjol, maka respon petani akan lebih besar. Sebaliknya respon petani tidak akan memuaskan bila impact dari materi penyuluhan terebut rendah. k. Excandible Materi penyuluhan harus dapat dipraktekkan dalam berbagai keadaan dan mduah diperluas dalam berbagai kondisi yang berbeda-beda. Dengan demikian, materi penyuluhan harus cukup flexible dan tidak terlalu spesifik. Dari kesepuluh syarat di atas dapat dibuat pillihan terhadap alternatif-alternatif pemecahan problem disuatu daerah untuk dijadikan materi penyuluhan. Sudah barang tentu syarat tersebut tidak mungkin dapat terpenuhi secara keseluruhan tetapi keadaan yang mendekati akan berpengaruh besar terhadap hasil penyuluhan. 9.2 Media Penyuluhan Pertanian Dalam proses komunikasi pada penyuluhan pertanian diperljukan saluran komunikasi berupa media penyuluhan. Media penyuluhan dapat berupa media hidup seperti kontak tani dan media mati seperti radio, televisi, majalah, koran, pamflet, poster dan sebagainya. Didalam masyarakat selalu terjadi pengelompokan orang berdasarkan pemikiran yang bersifat kepercayaan, idiologi, kedudukan sosial/ekonomi serta tingkat kebudayaan. Diantara masing-masing kelompok selalu juga terjadi perbedaanp-perbedaan yang sifatnya prinsipiil, sehingga dalam hal tertentu tidak dapat disatukan. Didalam satu kelompok masih ada kemungkinan terdapat berbagai aliran yang satu dengan lainnya berbeda dalam hal tertentu. Bila akan digunakan sebagai media penyuluhan, maka dari berbagai aliran dicari persamaan yang dapat menyatukan mereka sampai tingkatan tertentu. Pertentangan yang ada didalamnya harus dihindarkan. Berdasarkan hal tersebut, maka sifat-sifat yang harus dimiliki oleh media penhyuluhan antara lain ialah: 1. Harus dapat menyatukan berbagai fihak dan dapat menghindarkan pertentangan yang ada dalam tiap individu. Siat media harus umum dan dapat menampung segala keinginan yang ada dalam masyarakat. Demikian juga halnya dengan media mati, harus berisikan hal-hal yang tidak menimbulkan pertentangan tersebut. 2. Harus cukup sederhana sehingga mudah dimengerti oleh sasaran penyuluhan dan mudah dilola serta tidak terlalu banyak membutuhkan keahlian dalam pengelolaannya. Kesederhanaan dalam media penyuluhan sudah mengandung pengertian masyarakat, daya tanggap serta kemampuan masyarakat. Media penyuluhan yang sedehana akan lebih mudah ditangkap dan disenangi masyarakat. 3. Media tersebut hendaknya dengan mudah dapat diikuti atau diperoleh oleh setiap orang sehingga hanya membutuhkan pengorbanan yang kecil dari orang yang membutuhkannya. Dalam hal ini kalau media itu merupakan media hidup tidak terlalu banyak persyaratan yang ditentukan. Media mati hendaknya murah dan mudah diperoleh. 4. Media tersebut harus berisikan dan / atau diisi dengan masalah-masalah yang secara praktis dapat diselenggarakan oleh masyarakat. Untuk maksud ini diperlukan pengisian program jangka pendek dan disesuaikan dengan apa yang ada di dalam masyarakat. Program ini harus sejalan dengan program jangka panjang. 5. Biaya untuk pembinaan media hendaknya cukup murah dan biaya yang harus dikeluarkan oleh anggota masyarakat sebagai sasaran penyuluhan harus terpikul oleh mereka. 6. Media yang diadakan hendaknya dapat dikembangkan sehingga media itu selalu dapat menanggapi setiap kegiatan yang berkembang dalam masyarakat. 7. Media penyuluhan harus diusahakan dapat mempunyai pengaruh yang baik. Dengan pengaruh baiknya itu, dengan mudah pula dapat menarik pengertian pihak-pihak lain yang ada diluar kelompok sehingga timbul kepentingan untuk berkelompok semacam itu. 8. Media penyuluhan hendaknya dapat mengadakan hubungan seluas-luasnya secara terbuka dengan pihak lain. Dengan demikian kelompok tersebut dapat berkembang. 9. Segala usaha yang dilakiukan lewat media penyuluhan hendaknya mempunyai bekas (residual effect). Apa yang dilakukan sekarang hendaknya masih diketahui dan mempunyai kesan pada waktu-waktu mendatang. Dengan demikian hal-hal yang dianggap buruk supaya jangan berulang, sedang hal yang baik tetap bertahan dalam waktu yang lama. Bila kesembilan hal tersebut dimiliki oleh media penyuluhan baik media hidup maupun media mati, maka fungsinya sebagai media komunikasi penyuluhan dapat berjalan denan baik. 1. Media Hidup a. Kontak Tani Dalam melakukan penyuluhan, seseorang penyuluh mendekati individu-individu yang ada dalam masyarakat tani dengan harapan individu-individu tersebut akan menyebarkan masalah-masalah pada orang lain. Dari satu kelompok biasanya ada satu atau dua atau lebih orang yang berpengaruh. Orang yang berpengaruh ini dalam penyuluhan dipengaruhi agar dapat dijadikan alat untuk mempengaruhi kelompok-kelompoknya. Dengan kewibawaan yang dimilikinya dalam kelompok, diharapkan apa yang dianjurkan lebih cepat meluas. Mereka ini dinamakan kontak tani. Kontak tani biasanya adalah petani teladan yang dengan suka rela ikut aktif dalam usaha menyebarkan teknologi baru kepada petani-petani di daerahnya. Kontak tani perlu dibina agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik melalui kursus-kursus serta usaha lain yang dapat meningkatkan kemampuannya. Akan tetapi terlalu erat hubungan penyuluh dengan kontak tani serta terlalu banyak penghargaan yang diberikan padanya dapat mengakibatkan jauhnya kontak tani tersebut, dan kelompoknya sehingga mempengaruhi tugasnya. b. Kelompok tani Kelompok tani terdiri dari petani-peani dengan usahataninya yang telah mengelompok dan didalamnya terdapat central figur (pusat perhatian) karena kelebihan-kelebihannya dari yang lain dalam hal tertentu. Bila central figur ini dapat dipengaruhi, seluruh anggota kelompok akan terpengaruh. Kesukaran yang mungkin dihadapi ialah bahwa central figur ini sendiri masih bersifat tradisional sehingga sukar terpengaruh. Akan tetapi bila beberapa kelompok tani sudah dapat dipengaruhi cara berfikirnya, maka kelompok tersebut dapat dibina lebih lanjut menjadi himpunan tani. Himpunan tani sudah merupakan organisasi formil sehingga diperlukan orang yang mampu membina organisasinya secara formil. Kelompok informil yang ada dalam masyarakat desa, melalui siaran pedesaan yang khusus ditujukan kepada mereka diharapkan akan menjadi kelompok yang lebih aktif. Individu-individu yang mempunyai kepentingan yang sama yaitu untuk mendengarkan siaran pedesaan ini secara tidak sadar merupakan suatu kelompok yang dinamakan kelompok pendengar. Dari siaran yang ditujukan khusus untuk mereka diharapkan akan timbul diskusi dan keinginan untuk menerapkannya. Beberapa kelompok lainnya yang dapat dijadikan media dalam penyuluhan antara lain kelompok tani taruna (KTT), kelompok pemuda tani (KPT) serta kelompok pramuka taruna tani. 2. Media mati Media mati dalam penyuluhan dapat berupa segala peralatan yang tersedia dalam masyarakat yang dapat diisi dengan usaha-usaha penyuluhan yang dapat diterima oleh petani. Yang biasa dipakai antara lain: surat kabar, majalah, radio, televisi, leaflet, poster, pamflet yang pada hakekatnya terdiri tulisan, gambar suara. a. Surat Kabar Pada masyarakat tani seperti di Indonesia surat kabar fungsinya adalah sebagai alat informasi pertanian. Yang dimuat lebih banyak bersifat berita yang hubungannya dengan penyuluhan pertanian misalnya harga. Karangan yang bersifat teknis / ulasan / uraian kurang tepat untuk dimasukkan dalam surat kabar, karena pengedepannya setelah membaca membutuhkan waktu, sedang terbitnya surat kabar tersebut dalam jangka waktu yang pendek. Surat kabar merupakan benda yang sukar disimpan dalam waktu yang lama oleh petani. Jika masyarakat tani sudah maju. Uraian teknis mungkin dapat dimasukkan dan memberikan manfaat. Cara lain yang dapat digunakan ialah dengan membuat uraian teknis atau sejenisnya dalam waktu yang tidak terlalu pendek. Bahasa yang digunakan sebaiknya digunakan untuk bahasa dari kebanyakan anggota masyarakat (bahasa sedang). b. Majalah Dibandingkan dengan surat kabar jangka waktu terbitnya lebih lama. Didalam media ini lebih banyak urian-uraian teknis, karangan informasi. Cara penyusunan dapat berupa penulisan dalam buku, wawancara, percakapan dan sebagainya tergantung selera masyarakat yang ada. Dalam penyusunan tulisan ini dapat juga dalam bentuk legenda, karena legenda masih sangat disenangi masyarakat terutama masyarakat desa. Majalan lebih tahan lama disimpan dibandingkan dengan surat kabar dan tidak pernah usang. Isinya akan tetap menarik. Hambatan utama dalam penggunaan majalah sebagai media penyuluhan pada saat ini ialah diperlukan biaya yang besar dan petani sendiri kemampuannya masih sangat terbatas dalam pengetahuannya (buta huruf) maupun ekonominya. c. Radio / Televisi Perbedaan prinsipiil antara penggunaan radio dengan televisi dalam penyuluhan ialah bahwa dengan televisi disamping mendengarkan orang dapat melihat pembicara. Melalui radio bisa disiarkan bahan-bahan yang bersifat informatif atau pendidikan langsung yang bersifat uraian, wawancara, ceritera dan lain-lain. Dari hasil mendengarkan siaran diharapkan kiranya pendengar akan mendiskusikan hal-hal yang disiarkan tersebut diantara mereka dan pertanyaan dari pendengar kepada pembina siaran. Untuk maksud ini perlu dibina kelompok pendengar dan dari kelompok tersebut perlu ada satu orang yang memimpinnya Penggunaan televisi dalam penyuluhan dilihat dari segi penerimaan akan lebih efektif, tetapi mengingat sarana ini masih belum tersebar maka manfaatnya belum begitu besar. Dengan televisi materi yang disampaikan lebih mudah dijelaskan dan akan lebih mudah dimengerti sasaran. d. Pamplet, Leaflet dan Poster Media ini dapat dengan mudah disebarkan atau ditempel di tempat-tempat umum tempat yang sering dikunjungi misalnya balai pertemuan dan sebagainya. Pemasangan di tempat yang tepat dan dengan cara yang tepat akan memberikan hasil yang cukup memuaskan, dimana media tersebut banyak mendpat perhatian dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang agak lama. Kelemahan pemakaian alat ini ialah terbatas pada orang-orang yang sudah pandai membaca. 9.3 Alat Pembantu Penyuluh Penyuluhan merupakan sistem pendidikan informil. Dengan demikian dalam penyuluhan ada proses belajar dimana peranan pengajar (dalam hal ini penyuluh) sangat penting tidak saja dalam menentukan materi yang diajarkan, tetapi juga kecepatan jalannya pelajaran dan perhatian dari siswa. Semakin besar perhatian peserta akan semakin baik penerimaannya dan semakin cepat pula jalannya pelajaran. Untuk ini alat-alat pembantu dalam pelajaran sangat penting. Karena penhyuluhan juga merupakan sistem pendidikan maka alat-alat pembantu penyuluhan besar artinya terhadap penerimaan dari apa yang disuluhkan. Manfaat dari alat pembantu dalam penyuluhan antara lain ialah : a. Membantu menarik perhatian para peserta sehingga pelajaran menjadi lebih menarik b. Membantu penyuluh menjelaskan pelajararan sedemikian rupa sehingga lebih mudah dan lebih cepat dimengerti. c. Membantu penyuluh menyajikan pelajaran lebih teratur, menurut urutan dan susunan yang mudah dimengerti. d. Membantu penyuluh dalam mengingat detail masalah yang disampaikan e. Peserta akan mengingat lebih lama apa yang dilihat daripada yang didengar. Alat pembantu pengajaran dalam penyuluhan dapat dibagi atas : a. Alat pembantu yang berhubungan dengan tempat dimana proses belajar berlangsung. b. Alat pembantu yang berhubungan dengan penyajian pelajaran. Dalam penyuluhan pelajaran dapat diberikan dimana saja ada kesempatan bertemu dengan petani. Tetapi bila penhyuluh yang mengambil prakarsa dalam pertemuan, maka tempatnya harus dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan suasana yang baik / tepat untuk pertemuan informil seperti pengaturan tempat duduk yang tidak akan menimbulkan perasaan berbeda diantara peserta, ketenangan, penerangan yang cukup dan sebagainya. Alat pembantu yang berhubungan dengan penyajian pelajaran antara lain: 1. Alat pembantu yang dapat dilihat (visual aid) 2. Alat pembantu yang dapat didengar (Audio aid) 3. Alat pembantu yang dapat dilihat dan/ didengar (audio visual aid). Hasil penelitian terbukti bahwa manusia belajar lebih banyak, lebih cepat dan mengingat pelajaran lebih lama dengan cara melihat dari pada mendengar. Akan tetapi kombinasi melihat dan mendengar adalah cara yang baik, bahkan menggunakan Visual aid adalah cara yang lebih baik lagi (Attila Garnadi). Sementara pendapat mengemukakan bahwa visual aid dalam penyuluhan mutlak diperlukan mengingat bahwa alat ini dapat menarik dan menguasai perhatian, meneguhkan dan mengekalkan ingatan, membantu pembentukan ingatan dan menolong menguraikan suatu yang mustahil. Macam-macam visual aid yang dapat digunakan antara lain : 1. Benda-benda yang sesugguhnya a. Benda hidup seperti hewan, tumbuh-tumbuhan. b. Benda mati. 2. Benda tiruan dari benda-benda yang sesungguhnya antara lain : model, patung, dll 3. gambar-gambar yang dibuat dengan pertolongan alat optik baik gambar diam maupun bergerak misal photo, slide, strip, film dll 4. Gambar-gambar yang tidak menggunakan bantuan alat optik misalnya lukisan, ilustrasi, brosur, leaflet, folder, kain bentangan, papan panel, papan magnit dll. Alat-alat pembantu didalam penyuluhan ini mempunyai sifat-sifat khas tersendiri seperti : 1. Dapat memperbaiki keadaan yang kurang memenuhi syarat seperti penerangan untuk tempat yang kurang terang, sesuai sistem untuk memperjelas pembicaraan, (kipas angin, air conditioning untuk mengatur hawa dan sebagainya). 2. Dapat digunakan untuk menarik perhatian sasaran, memusatkan dan menahan perhatian beberapa lama. 3. Dapat mengingatkan kembali akan ha-hal yang tidak menarik perhatian lagi misalnya poster. 4. Dapat menambah jumlah sasaran yang dapat dijangkau dalam suatu kegiatan penyuluhan misalnya radio. 5. Dapat diulang kembali menurut keperluannya. 6. Dapat memberi pedoman untuk usaha sendiri. Bila alat-alat pembantu tersebut digunakan dalam kombinasi dan dalam usaha yang terpadu, akan memberikan hasil yang maksimal. Alat-alat tersebut saling isi mengisi, yang satu akan menambah efektifitas yang lainnya dan kesempatan untuk mencari kombinasi cukup luas.

X. PROSES PENYULUHAN PERTANIAN Dalam penyuluhan pertanian terdapat beberapa prinsip yang harus dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan. Prinsip tersebut antara lain ialah bahwa penyuluhan pertanian seharusnya : 1. Ditujukan kepada seluruh keluarga petani 2. Ditujukan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan sasaran. 3. Bersifat luwes dan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan. 4. Diselenggarakan atas dasar rencana kerja yang disusun bersama oleh penduduk setempat dengan penyuluh pertanian. 5. Diselenggarakan menurut keadaan yang nyata. 6. Diselenggarakan atas dasar kerja sama yang erat antara penyuluh, penelitian dan pendidikan 7. Merupakan pendidikan untuk demokrasi. 8. Disini atas dasar perubahan yang terjadi pada sasaran. Berdasarkan prinsip-prinsip di atas maka untuk menyelenggarakan penyuluhan yang baik terlebih dahulu perlu diketahui keadaan masyarakat setempat, baik keadaan fisik, ekonomi maupun sosialnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan ketiga hal ini harus diketahui, tapi mengingat titik pembahasan adalah pertanian maka bidang ini dibahas lebih mendalam. Dari pembahasan mengenai data yang diperoleh dapat diketahui masalah-masalah yang ada untuk selanjutnya menentukan tujuan penyuluhan di daerah tersebut. Dengan demikian maka proses penyuluhan dapat dibagi dalam beberapa kegiatan berikut: 1. Survey 2. Penyusunan program 3. Pelaksanaan penyuluhan 4. Evaluasi Penyuluhan tidak berhenti setelah evaluasi, tetapi dari evaluasi pelaksanaan penyuluhan terdahulu dapat disusun program baru untuk memenuhi objektive yang baru, atau mengadakan survey baru untuk mengetahui kebutuhan baru dari manusia. Secara singkat proses penyuluhan dapat digambarkan sebagai berikut:

Rencana II III Kalender Kereja Kerja dan Pelaksanaan


                                                           Review

Program I Va IV Evaluasi Penyuluhan



                                                  Vb
                                                Survey

XI. KEPEMIMPINAN DALAM PENYULUHAN PERTANIAN 11.1 Pengertian Kepemimpinan Dalam bab terdahulu telah disebutkan mengenai adanya kelompok dan adanya orang yang berpengaruh dalam kelompok itu. Yang dimaksud dengan kelompok disini adalah kelompok manusia dalam mana mereka mempunyai kepentingan yang sama masalah yang sama, serta memerlukan pemecahan secara bersama atau dasar keserasian. Mereka biasanya hidup bersama dan ada interaksi antara satu sama lain dan kondisi hidup bersamaan. Dalam penyuluhan pertanian dikenal adanya kelompok-kelompok ini yaitu kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok pendengar, kelompok pemuda (pemuda tani, club) dan lain-lain. Kesemuanya sifatnya informil. Apabila kelompok ini telah berkembang dan mereka menghendakinya, dapat juga menjadi formil. Istilah himpunan tani dalam lingkungan Dinas Pertanian Rakyat merupakan pula suatu kelompok yang formal dari petani-petani. Demikian juga dengan koperasi dan pemuka taruna bumi (pemuda). Seperti telah diuraikan dalam bab terdahulu biasanya dalam kelompok ini ada yang dianggap (secara sadar ataupun tidak) sebagai pemimpin oleh sesama anggota kelompok. Pemimpin ini adalah pemimpin informal (local leader, opinion leader, informal leader). Dalam lingkungan penyuluhan pertanian yang dimaksud dengan pemimpin yang ada dalam masyarakat adalah pemimpin yang informal tadi, bukan hanya pemimpin yang disebabkan oleh jabatannya dan pangkatnya, jadi kepemimpinan disini adalah leadership yang timbulnya secara alami. Menurut Soekarno (1968), yang dimaksud dengan kepemimpinan (leadership) adalah suatu usaha mempengaruhi orang lain dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan (leadership is the activity of in fluencing people to strive willingly for muthual objectives). 11.2 Kepemimpinan dalam Penyuluhan Pertanian Penyuluhan pertanian, sesuai dengan namanya yang demokrasi, berusaha mengembangkan kepemimpinan sosial ini. Penyuluhan harus berusaha menemukan dan mengembangkan local leader untuk membinanya menjadi kontak tani, sehingga mereka dapat menjadi penyebar hal-hal baru yang efektif. Yang penting disini adalah adanya rasa pengkuan dari anggota kelompok bahwa dia akan mengikuti jejak, dan mendukung pemimpinnya. Pembinaan terhadap leader ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Terus memberikan tambahan pengetahuan dan ketrampilan berusaha. 2. Memupuk hubungan antara penyuluhan dan kontak tani. 3. Mengembangkan kepemimpinannya dengan latihan, membiasakan bertanggungjawab, kursus, dan lain-lain yang dapat menambah kemampuannya. Demikian juga terhadap kelompok yang dipengaruhinya harus dilaksanakan pembinaan terus dalam arti meningkatkan: 1. Kesadaran akan arti dan pentingnya berkelompok. 2. Kepercayaan pada kekuatan kelompoknya 3. Swadaya dan kegotongroyongan (kerjasama kelompok) 4. Keinginan untuk bertani lebih baik, berusaha tani lebih menguntungkan, dan hidup lebih banyak

DAFTAR PUSTAKA A.W. van den Ban dan H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius Ban, van den, A.W. dan Hawkins, A.S. Penyuluhan Pertanian, Kanisius, Yogyakarta. Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departeman Kehutanan dan Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Departemen Pertanian. 1995. Pedoman Pemilihan Metode Penyuluhan. Pertanian. Pusat Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Draf Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. 2005. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Departemen Pertanian. Kartasapoetra, A.G., 1988. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta Mardikanto, T., 1999. Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta. Padmowihardjo, S., 2000. Metode Penyuluhan Pertanian, Universitas Terbuka, Jakarta. Salim, F. 2005. Dasar-dasar Penyuluhan Pertanian (materi dalam diklat dasar-dasar funsional penyuluh). Samsudin, U. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian,Bina Cipta, Bandung. Setiana. L. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Soedijanto, 2004. Menata Kembali Penyuluhan Pertanian di Era Agribisnis, Departemen Pertanian, Jakarta. Soediyanto Padmowihardjo. 1994. Metode Penyuluhan Pertanian. Modul. Universitas Terbuka. Jakarta. Soeharto,N.P. 2005. Progama Penyuluhan Pertanian ( materi dalam diklat dasar – dasar funsional penyuluh). Tarya Kusnadi. 1999. Teknik Penyuluhan Pertanian. Modul. Universitas Terbuka. Jakarta. Totok Mardikanto. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Undang-undang No. 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Jakarta Van Den Ban dan HS Hawkins. 1998. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. .


INDEK

adopsi, 21, 22, 38, 39 Adoption, 22 Amanat, 23, 25 anjang karya, 41 anjang sana, 41 applied science, 1 Audio aid, 56 audio visual aid, 56 Availability, 52 Awareness, 21 Badan Produksi Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah, 12 Badan Usaha Unit Desa, 12 Balai Pendidikan Masyarakat Desa, 12 Bimas, 12 Bimas Gotong Royong, 12 Bimas Nasional, 12 Bimbingan Masal, 12 BMPT, 12 BPMD, 12 BUUD, 12 central figur, 54 chanel, 23, 25 community, 7 Compatibility, 51 Complementer, 51 compulsion, 7 contak person, 38 cosmopolite, 20 decoding, 23 Demas, 12 demonstrasi, 22, 40, 42 Demonstrasi cara, 42 Demonstrasi hasil, 43 Demonstrasi Masal, 12 Departemen Pertanian, 11 Dinas Penyuluhan Pertanian, 11 Early Adopter, 20 Early Majority, 21 elektic, 10 encoding, 23 Evaluation, 22 Excandible, 52 extention agent, 1 extention worker, 1 Falsafah penyuluhan pertanian, 9 farm-visit, 37 Feed back, 24 feeling, 1 field of experience, 23 field-day, 38 formal education, 2 Fungsi penyuluh, 6 Golongan Penolak, 21 group-approach, 38 home-visit, 37 idialisme, 9 Immediate aplicability, 52 In expensiveness, 52 income, 6 informal leader, 38, 59 innovasi, 20 Inovator, 20 Interest, 21 Kampanye, 44 Karyawisata, 43 Kata yang tertulis, 44 kebutuhan, 1, 3, 6, 7, 12, 51, 58 keinginan, 2, 6, 8, 25, 26, 32, 43, 51, 53, 54 kelompok pemuda tani, 55 kelompok pramuka taruna tani, 55 Kelompok tani, 27, 54 kelompok tani taruna, 55 key-peoper, 38 key-person, 38 Komunikasi, 22, 24, 25, 26 komunikator, 22, 23, 25 Kontak tani, 27, 33, 54 KPT, 55 KTT, 55 Kunjungan kantor, 41 Laggard, 21 Late Majorithy, 21 leadership, 1, 59 Leaflet, 56 learning by doing, 9 local leader, 38, 59 localite, 21 Low-risk, 52 Majalah, 27, 55 massage, 23, 26 Media Penyuluhan Pertanian, 53 menaruh minat, 21, 22, 38, 39 non-formal education, 2 objective, 8, 25 Olie-vlok Method, 11 opinion leader, 38, 59 Pameran, 43 Pamplet, 56 Pangreh-Praja, 11 Pelopor, 20 Pendidikan, 2, 20 penerapan, 22, 25, 43, 44, 52 Penerima, 23, 26 Pengetrap Akhir, 21 Pengetrap Awal, 21 Pengetrapan Dini, 20 Penghubung, 25 pengkodean, 23 penilaian, 22, 24 penyuluh, 1, 3, 6, 8, 9, 10, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 31, 37, 38, 39, 40, 41, 51, 54, 56, 58 Penyuluhan pertanian, 1, 2, 3, 4, 59 percobaan, 8, 11, 22, 39 Perlakuan, 25 Personal Approach, 37 Pertemuan diskusi, 41 Pertemuan kursus, 42 Pertemuan Umum, 41 Pertunjukan Film, 44 Perusahaan Padi Centra, 12 pesan, 24, 25, 39, 40, 41 Petani maju, 33 Petani naluri, 33 Petani teladan, 33 Poster, 56 pragmatisme, 9, 10 precondition, 44 Profitable, 51 Proses Adopsi, 20 Proses Komunikasi, 22 Radio, 27, 55 ratu perjoangan, 40 realisme, 9, 10 receiver, 23 residual effect, 54 Saluran, 23, 25, 26, 40 Sasaran, 25, 27, 31 science and art, 1 seeing and believing, 9 self-help, 10, 37 Simplicity, 51 Spectaculer - ipact, 52 Surat Kabar, 27, 55 tahu dan sadar, 21, 51 target, 8 Televisi, 55 treatment, 25 Trial, 22 Tugas penyuluh, 6 Tujuan, 7, 8, 25, 27, 43 Tujuan Dasar, 8 tujuan jangka panjang, 8 Tujuan jangka pendek, 8 Tujuan kerja, 8 Tujuan operasionil, 8 Tujuan Penyuluhan Pertanian, 8 Tujuan Umum, 8 two way traffic, 6, 24 Unit Desa, 12 visual aid, 56, 57 zakelyk, 12


Beri Penilaian

Rating : 0.0/5 (0 votes cast)


Peralatan pribadi