Penganalisisan Nilai-Nilai Kehidupan Pada Cerpen 9.1

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

  1. Menganalisis nilai-nilai kehidupan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan

Pada Pelajaran 3, kamu pernah menulis kembali isi cerpen yang pernah kamu baca. Kali ini kamu akan belajar menulis cerpen dari peristiwa yang pernah kamu alami.
Dalam menulis cerpen, hal-hal yang harus diperhatikan, antara lain adalah

  1. tema, yaitu pokok permasalahan yang mendasari cerita,
  2. tokoh, yaitu pelaku yang ada dalam cerita,
  3. alur, yaitu rangkaian peristiwa atau urutan jalannya cerita ,
  4. latar, yaitu tempat, waktu, dan suasana dalam cerita, dan
  5. amanat, yaitu pesan yang terkandung dalam cerita.

Bacalah cerpen berikut yang ditulis berdasarkan peristiwa yang dialami penulis dengan motor butut!

                                                         TEMAN SETIA
                                                   Karya: Atiek Sandra

Ban motor Asha kempes lagi. Padahal belum lagi dimulai perjalanan dari sekolah ke rumahnya. Baru saja keluar dari gerbang tiba-tiba..... pess! Kesal sekali.
Asha menoleh kanan-kiri, sepi.
“Bannya kempes, Mbak?” Suara deru motor berhenti di sampingnya dan menyapa. Tampak dari baju seragamnya seorang guru.
“Eh. iya Pak...”
“Di belokan, itu di bawah pohon kersen ada bengkel kecil,” lanjut Pak Guru itu sambil menunjuk. Tak begitu jauh. “Terima kasih Pak,” angguk Asha.
Bapak itu berlalu. Motor dituntun dengan kedongkolan yang masih bersemayam di hatinya. Seingatnya, baru seminggu lalu dia menambalkan ban motor butut itu. Belum satu bulan Bapak membelikan ban dalam motor itu. Tiga hari lain dia terlambat masuk kelas juga karena motor itu mogok distarter.
”Uuh!” Asha mengusap keringat yang menitik di pelipis dengan ujung kerudung putihnya. Kenapa tak ada sosok baik hati lewat dan membantu menuntunkannya. Barangkali orang yang melihat kondisi motornya malah mencibir menertawainya “Salah sendiri, motor tua masih dipakai.” Ah, Asha menunduk. Malu.
Rasa malu itu sebenarnya selalu dirasakan bila dia berada di tempat parkir sekolahnya. Motor keluaran lebih sepuluh tahun lalu itu tampak mencolok di antara deretan motor teman-temannya yang sebagian besar masih gres, keluaran terbaru. Kadang Asha sengaja mengambil motor paling akhir atau saat sudah agak sepi. Tapi, hasilnya seperti ini. Teman-temannya sudah berlalu dari tadi. Dia menuntun motor beberapa ratus meter sampai ke bengkel, sendirian.
“Pak, Bapak enggak ingin motor baru? Pak.... tipe terbaru yang di iklan, kata teman Asha bagus.... Mesinnya awet. Tapi agak mahalan, sih,” rajuk Asha berpromosi. “Tapi tipe yang sebelumnya masih bagus juga Pak, lebih murah sedikit. Teman saya juga pakai.” Bapak hanya tersenyum sambil meneruskan mengelap velg motor kesayangannya. Asha ikut jongkok. Warna hitam motor itu sudah kusam. Kulit jok sadel sudah bolong-bolong. Starter pun masih memakai kaki.
“Tapi, di diler dekat alun-alun itu juga dapat kok. Pak, tukar tambah motor lama.”
“Tolong Sha, ambil kotak perkakas di dalam, ini mur pelat nomornya copot. Lama-lama dapat jatuh, kamu ditangkap polisi nggak punya plat nomor.” Sepertinya Bapak tak peduli. Asha gemas, rayuannya tak mempan.
“Motor ini dulu juga pernah baru. Malah... jasanya sudah bertahun-tahun mengantar Bapak ke mana-mana, masak dilupakan begitu saja. Yang penting kamu rajin merawatnya, pasti nggak kalah dengan motor zaman sekarang,” jelas Bapak lagi.
“Kemarin, baru Bapak servis Sha, sekarang nggak akan mogok lagi....” Dia diam, hanya memelototkan mata, alis naik dan bibirnya monyong. Tapi, itu di belakang bapaknya.
Motor lama, ya, lama aja, masak mau bersaing dengan produk sekarang. Kalau jalan bareng, lawan melesat, dia terlambat. Habis, jalan seperti nenek-nenek berjingkat. Buah Kersen merah jatuh di pangkuan menghapus lamunan Asha. Orang bengkel itu masih merendam ban motornya.
“Kalau haus, itu ada air putih di kendi, Mbak!” Asha berterima kasih. Asha bertopang dagu. Terbayang, temannya yang tak punya motor lebih suka pinjam motor lain yang baru. Duh, sakit hati Asha. Padahal kalau dipikir ada untungnya juga, bensinnya utuh!
“Mbak, mesin motor ini masih bagus Io... pasti rajin sekali merawatnya. Masih banyak Iho Mbak, orang yang cari motor tipe ini.”
Asha mengangguk kebingungan. Dia sama sekali tak paham dengan mesin motor. Dia hanya malu dengan motornya yang kelewat zaman.
Orang bengkel itu menuntun motor siap diserahkan pada Asha. Tiba-tiba.... “Jambret ... jambret ... tolooooong ...!” seorang Ibu berteriak-teriak minta tolong sambil menudingkan jarinya ke arah motor yang tancap gas. Dua penumpangnya berjaket hitam, pemboncengnya menenteng tas wanita, pasti milik ibu itu. Tukang becak yang mangkal di dekat ibu itu hanya terpana. Lalu.... “Mbak, pinjam motornya!” Greeeeeng .... Orang bengkel itu nekat memacu motor Asha, tanpa menunggu jawabnya. Dengan lincah bak pembalap profesional, motor tua itu meliuk, kencang mengejar si penjambret. Orang di sekitar mulai berdatangan mengerumuni si ibu yang menangis.
Tak berapa lama, motor Asha muncul dengan pengendara menyeringai gembira. Dia berhenti di kerumunan, Asha berjalan mengikutinya. Dari sela kerumunan Asha mendengar orang bengkel itu bertutur.
“Bu, penjambret itu sudah ditangkap. Sekarang dibawa ke kantor polisi, Ibu datang saja ke sana....”
“Wah, ternyata motor penjambret itu kalah dengan motor ini... tadi saya pepet, lalu saya tendang motornya. Mereka jatuh, dikeroyok.” lanjutnya bak sang pahlawan sambil menepuk-nepuk motor Asha.
Ada rasa bangga menyelip di hati Asha. Wajah kusutnya hilang. Ternyata, aku salah menilaimu, sobat. Kamu tak kalah dengan mereka, makin tua makin berjasa. Bagiku, kamulah sang pahlawan itu. Mulai sekarang, kamu akan menjadi teman setiaku.
Sumber: Solo Pos, Juli 2007

Beri Penilaian

Rating : 3.5/5 (142 votes cast)


Peralatan pribadi