Menyimak dan memahami teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana 12.1 Mokhamad Irman

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

 


Daftar isi

Menyunting menyimak dan memahami teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana


Bali di Titik Nol Perjalanan ini mendaki, mengejar kabut-kabut tipis di lereng utara Gunung Abang, dikepung pemandangan surgawi, untuk menemui kenyataan pahit yang terbiarkan di sana selama beberapa generasi. Gadis kecil itu bernama Novi... “Umur saya, sebelas tahun,“ katanya. Wajah berlepotan debu itu tersipu. Rambutnya kemerahan sedikit. Kulitnya bersisik. Ia hanya setahun duduk di sekolah dasar. Ayahnya, Nyoman Sitor, tidak tega membiarkan anaknya naik turun bukit setiap hari untuk sekolah. Satu-satunya sekolah dasar terletak di pusat Desa Trunyan, sekitar 3,5 kilometer dari dusun. Novi tidak sendiri. I Made Jepri lebih merelakan anak perempuan semata wayangnya ikut sang ibu berjualan ke Denpasar daripada bersekolah. Ibu dan anak itu pulang ke dusun lima minggu sekali. Di Dusun Banjar Madya, banyak anak tak selesai SD. Kebanyakan penduduk di dusun berpenduduk 670 orang itu tidak bisa baca tulis. Bahkan, kelian (kepala dusun) Banjar Madya, Nyoman Putra (23 tahun), hanya sampai kelas 3 SD meski bukan berarti pendidikannya berhenti pada tingkat itu. Dusun Banjar Madya, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dibutuhkan sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil pribadi dari Kuta, ditambah 2,5 jam jalan kaki menanjak ke arah puncak Gunung Abang yang berketinggian sekitar 2.153 meter. Jarak dari ujung jalan beraspal sampai ke bale banjar di dusun itu sekitar dua kilometer, tetapi menanjak dengan kemiringan antara 20-60 derajat. Di bawah ada bagian yang gembur tertutup tebu yang tebalnya semata kaki, berkubang di sana-sini. Perjalanan ini dimanjakan gambaran sempurna tentang tanah air nan elok permai. Sulit memilih kata untuk mendeskripsikannya ketika membaui wangi tanaman hutan dan tanah lembab yang terinjak ketika mendengar suara serangga musim panas yang gempita dan ketika kabut mendekat, memeluk tubuh, mengusir lelah, menyerap keringat dan yang dibawa dari udara bersuhu 39 derajat Celcius dengan kelembaban tinggi di bawah. Kabut berarak lagi ke ketinggian tertentu, seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti perjalanan mengejar kabut ..... Di balik keindahan Seluruh suasana itu dengan mudah meluputkan pemandangan sebenarnya tentang separuh Bali yang lain: perbukitan gundul, pepohonan meranggas, ladang kosong, dan pekarangan yang kerontang. Bau tinja manusia kerap mengambar ke diterbangkan angin. Sampai hari ini, warga dusun tak kenal kamar mandi dan jamban. “Kami ingin punya kamar mandi dan jamban, tetapi di sini air susah sekali,” ujar Wayan Putra. “Pada musim kemarau seperti ini, kami mandi dua-tiga hari sekali.” Kenyataan ini meruntuhkan gambaran tentang kemakmuran Bali etalasenya dipajang di Nusa Dua, di Kuta, Sanur, dan pada 16 titik pengembangan wisata lainnya di pulau seluas 5.632,86 kilometer persegi itu; tentang Bali yang berada di papan atas dalam peta pariwisata dunia, dan tentang eksotismenya yang dipuja-puja. Andai tahu situasi nyata di perutnya, entah apakah bunyi, “Jangan mati sebelum menginjak Bali,” masih digunakan; atau memang kenyataan itu tak berhubungan dengan gambaran yang diciptakan untuk mimpi indah pada pendatang; atau lebih parah lagi, jangan-jangan situasi itu justru menjadi bagian dari “eksotisme” dan surga bagi peneliti. Kabut turun ketika kami tiba di depan Bale Banjar. Uap putihnya menerobos pepohonan. “Kabut ini pertanda baik bagi kami,” kata Nyoman Darsana (25). Dilupakan. Pada setiap tamu yang datang, Wayan Putra selalu mengharapkan air untuk warganya. Janji pemerintah, kata dia, hanya tinggal sebagai janji. Di dusun itu, sumber air bersih bergantung pada air hujan. Sangat terbatas sehingga menipiskan sumber kehidupan dan menyempitkan pilihan hidup. Selama musim penghujan, air ditampung di bak-bak tembok tertutup. Ada 16 bak di situ, setiap bak digunakan 10 keluarga. Tetapi, seringkali cadangan air tak cukup untuk melewati musim kemarau sehingga warga harus mencari air ke Danau Batur dengan berjalan kaki selama tiga jam sekali jalan. ”Di Kuta dan area-area wisata lainnya di Bali, air bersih berlimpah. Di sini untuk mendapat air satu ember saja susah.” Sayangnya, bantuan yang datang bukan yang sangat dibutuhkan. Desa itu baru sekali mendapat bantuan, Rp 8 juta, dari pemerintah kabupaten. Mungkin karena tak punya pengalaman dengan bantuan, uang itu malah digunakan untuk memperbaiki balai banjar dan jalan setapak menuju balai dan puri. Status sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT) membuat desa itu mendapat bantuan dari Departemen Sosial, tahun 2005, berupa satu panel sel surya matahari yang digunakan untuk menerangi pura dan balai. Bantuan lain berupa material, termasuk seng untuk membangun rumah warga yang semula dari bambu, menjadi rumah tembok. “Pada saat itulah, terjadi penebangan kayu besar-besaran di sini,” kata Wayan Cipta. Departemen Sosial juga memberi bantuan penghijauan bibit kayu jati, 35 batang per KK, tetapi rata-rata yang hidup hanya dua pohon. “Bantuan itu salah musim karena diberikan saat musim kemarau,“ sambung Wayan Cipta. Pos kesehatan baru ada lima bulan terakhir , biasanya dilayani seorang mantri kesehatan, seminggu empat kali di Bale Banjar. Sebelumnya hanya pelayanan puskesmas keliling sebulan sekali. Tetapi, gunanya tak banyak karena warga tak bisa membayar ongkosnya, Rp 5.000 di pos kesehatan dan Rp 3.500 di puskesmas keliling. Meski penghidupan sangat sulit, warga Dusun Banjar Madya tabu mengemis . “Malu,” sergah Wayan Putra. Mereka memilih bekerja keras dengan hasil yang sangat tidak memadai. Sebagian besar pekerjaan warga adalah bertani tadah hujan. Jika curah hujan masih memadai, mereka dapat menanam bawang merah. Tetapi, biaya produksinya tak kecil. Panen bagus menghasilkan sekitar 60 kilogram bawang per are tiap enam bulan dengan penghasilan bersih tak lebih dari Rp 200.000. Mereka biasa berjalan kaki hingga 10 kilometer dengan beban 50 kilogram di punggung. Pendapatan itu dipakai untuk membeli beras sebagai pencampur makanan pokok dan kebutuhan pokok lain. Makanan utama warga adalah singkong dan jagung. Jika uang habis, warga mencari kayu bakar. “Satu pikul harganya Rp. 10.000, kami dapat setelah jalan kaki memikul selama tiga jam,” kata Wayan Aryana (25 tahun). Dengan situasi seperti itu, cita-cita menguap dari kamus anak-anak. Tetapi, Novi tahu, 20 teman seumurnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuta.....

A. Hakikat Apresiasi

Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati suatu karya sastra yang berakhir dengan timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya tersebut dan berakibat subjek apresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara sadar. Karya sastra dapat dikenal atau dipahami melalui unsur-unsur yang membangunnya atau disebut dengan unsur intrinsik. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik, yaitu tema, plot/alur, tokoh, watak tokoh, latar, setting, amanat/pesan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Selain dari unsur intrinsik dan teks seni berbahasa, juga dapat diapresiasi dengan menelaah penggunaan atau pilihan kata serta istilah yang terdapat dalam teks tersebut. Termasuk dalam hal ini, mencari kata-kata kunci yang menjadi penanda tema teks yang bersangkutan. Di samping pengamatan terhadap unsur-unsur intrinsik dan pemakaian unsur bahasanya, untuk memahami suatu karya sastra atau teks seni berbahasa dapat dilakukan pula pengamatan terhadap unsurunsur ekstrinsik, yaitu hal-hal yang melatar belakangi terciptanya teks seni berbahasa tersebut. Hal-hal tersebut antara lain latar belakang pengarang, tujuan penulisan, latar sosial-budaya, lingkungan kehidupan pengarang, serta latar belakang pendidikan.

B. Proses Apresiasi

Sebelum melakukan apresiasi, umumnya seseorang memilih bentuk karya sastra atau jenis teks seni berbahasa yang disukai, misalnya bentuk karya sastra prosa, puisi, drama, atau film. Kesukaan itu akan melangkah pada upaya seseorang untuk mengetahui atau memahami lebih dalam karya yang dipilihnya. Sebuah karya sastra dapat disukai dan digemari oleh seseorang oleh karena karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri yang menimbulkan empati bagi penggemarnya. Hal itu disebabkan proses penciptaan karya sastra meliputi hal-hal berikut ini.

1. Upaya mengeksplorasi jiwa pengarangnya yang diejawantahkan ke dalam bentuk bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.

2. Upaya menjadikan sastra media komunikasi antara pengarang atau pencipta dan peminat sastra.

3. Upaya menjadikan sastra sebagai alat penghibur dalam arti merupakan alat pemuas hati peminat sastra.

4. Upaya menjadikan isi karya sastra merupakan satu bentuk ekspresi yang mendalam dari pengarang atau sastrawan terhadap unsur-unsur kehidupan. Dengan kata lain, merupakan hasil proses yang matang bukan sekadar diciptakan. Untuk mengapresiasi sebuah karya sastra atau teks seni berbahasa, perlu dilakukan aktivitas berupa:

(1) mendengarkan/menyimak

(2) membaca

(3) menonton

(4) mempelajari bagian-bagiannya

(5) menceritakan kembali

(6) mengomentari

(7) meresensi

(8) membuat parafrasa

(9) menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan karya tersebut

(10) merasakan seperti: mendeklamasikan (untuk puisi ) atau melakonkan (untuk drama )

(11) membuat sinopsis untuk cerita, dan sebagainya Selain aktivitas merespons karya sastra seperti disebutkan di atas,

langkah-langkah mengapresiasi sebuah karya sastra yang diminati secara umum meliputi hal-hal berikut

1. Menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap karya sastra berdasarkan sifat-sifat karya sastra tersebut

2. Menganalisis atau menguraikan unsur-unsur karya sastra tersebut,baik unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya

3. Menikmati atau merasakan karya sastra berdasarkan pemahaman untuk mendapatkan penghayatan

4. Mengevaluasi atau menilai karya sastra dalam rangka mengukur kualitas karya tersebut

5. Memberikan penghargaan kepada karya sastra berdasarkan tingkat kualitasnya

C. Jenis Apresiasi

Dalam tahapan apresiasi tertinggi, seseorang akan dapat memberikan penilaian dan penghargaan yang posisif bagi sebuah karya sastra. Ia pun dapat memberikan penjelasan secara objektif dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut kepada orang lain. Setelah melakukan pilihan kepada sebuah bentuk karya sastra yang menarik pikiran dan perasaan atau jiwa seninya, seseorang akan merespons karya tersebut dengan dua bentuk sikap atau jenis apresiatif, yaitu apresiasi yang bersifat kinetik atau sikap tindakan dan apresiasi yang bersifat verbalitas Apresiasi bersifat kinetik, yaitu sikap memberikan minat pada sebuah karya sastra lalu berlanjut pada keseriusan untuk melakukan langkahlangkah apresiatif secara aktif. Misalnya, untuk bentuk karya sastra berupa prosa fiksi seperti cerpen dan novel, tindakan apresiatifnya ialah memilih cerpen atau novel yang sesuai kehendaknya. Selanjutnya, membaca dan menyenangi novel sejenis, menyenangi tema atau pengarangnya, memahami pesan-pesannya, jalan ceritanya, serta mengenal tokoh-tokoh dan watak tokohnya, bahkan secara ekstrim ada yang berkeinginan mengindentifikasi diri menjadi tokoh yang digemari dalam karya prosa tersebut. Puncak dari sikap apresiasinya ialah ingin dapat membuat karya cerpen atau novel seperti itu. Setidak-tidaknya dapat memberikan komentar atau tanggapan tentang hal yang berhubungan dengan novel yang digemari. Untuk karya puisi, memerhatikan pembacaan puisi, menyukai puisi-puisi tertentu, berusaha memahami makna puisi yang disukai, mengenal para penyair jenis puisi yang disukai, berusaha dapat membaca puisi dengan baik, dan puncaknya berkeinginan dapat membuat puisi karya sastra drama apresiasif kinetiknya menyukai pementasan drama, tertentu, mengenal karakter tokohnya, para kru di belakangnya, dan ingin melakonkan tokoh tertentu pada drama sejenis. Sekarang mungkin objeknya lebih kepada bentuk tayangan film yang memiliki unsur-unsur yang sama dengan drama. Apresiasi bersifat verbal, yaitu pemberian penafsiran, penilaian, dan penghargaan yang berbentuk penjelasan, tanggapan, komentar, kritik, dan saran serta pujian baik secara lisan maupun tulisan. Dalam kaitannya dengan aspek kompetensi menyimak, apresiasi bermula pada proses mendengarkan penyampaian karya sastra secara lisan dengan serius dan saksama, kemudian berlanjut pada pencapaian langkah-langkah apresiasi yang telah dijelaskan di atas. Untuk pembelajaran tentang apresiasi sastra, semua bentuk karya sastra yang dapat diperdengarkan harus dipelajari. Bentuk karya sastra tersebut berjenis prosa dan puisi.

D. Pengertian Prosa

Prosa ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima, irama, dan kemerduan bunyi seperti puisi. Bahasa prosa seperti bahasa sehari-hari. Menurut isinya, prosa terdiri atas prosa fiksi dan nonfiksi.

1. Prosa Fiksi

Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif/imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng. 1. Cerpen adalah cerita rekaan yang pendek dalam arti hanya berisi pengisahan dengan fokus pada satu konflik saja dengan tokohtokoh yang terbatas dan tidak berkembang. Alur cerita sederhana hanya memaparkan penyelesaian konflik yang diungkapkan.

2. Novel

berasal dari bahasa Italia, novella yang berarti barang baru yang kecil. Kemudian, kata tersebut menjadi istilah sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Novel lebih panjang isinya dari pada cerpen. Konflik yang dikisahkannya lebih luas. Para tokoh dan watak tokoh pun lebih berkembang sampai mengalami perubahan nasib. Penggambaran latar lebih detail. Bersamaan dengan perjalanan waktu terjadi perubahan-perubahan hingga konflik terselesaikan.

3. Dongeng

adalah cerita rekaan yang sama dengan cerpen atau novel. Hanya di dongeng, cerita yang dikisahkan adalah tentang hal-hal yang tak masuk akal atau tak mungkin terjadi. Misalnya, orang dapat menjelma jadi binatang, binatang dapat berkata-kata, dan sebagainya. Dongeng biasanya menjadi sarana penyampaian nasihat tentang moral atau bersifat alegoris.

Contoh dongeng: Kancil dan Buaya, Jaka dan Pohon Kacang Ajaib, Eneng dan Kaos Kaki Ajaib, dan lain-lain.


Contoh cerita berbentuk dongeng

                                                                                              BAYANGAN DI CERMIN

Di sebuah pulau terpencil, jauh di tengah lautan, tinggallah sepasang suami istri dengan rukun dan damai, tidak pernah mengalami persengketaan. Namun pada suatu senja, ketika sang suami kembali dari laut, ia menemukan sepotong cermin terletak di pantai. Diambilnya cermin itu, dan alangkah heran hatinya melihat bayangan manusia di dalamnya. Inilah agaknya ayahku yang meninggal beberapa bulan yang lalu, pikirnya. Cepat-cepat dia pulang ke rumah. Cermin itu dibungkusnya lalu disimpannya di bawah bantal. Hal ini tidaklah diceritakannya kepada istrinya. Keesokan harinya, ketika istrinya membersihkan tempat tidur, dia menemukan bungkusan itu. Alangkah kagetnya dia setelah membukanya, dan menemukan ada seorang wanita di dalam benda yang dibungkus dengan rapi itu. Suamiku sudah berkhianat, pikirnya. Dulu dia berjanji akan setia sampai mati. Rupanya sewaktu ke laut, dia mengambil kesempatan mencari wanita lain. Ketika suaminya pulang dari laut senja hari, dia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya, tetapi dengan omelan. “Dulu kamu mengatakan sayalah satu-satunya wanita di dalam hidupmu. Kamu berjanji setia sampai mati. Tetapi sekarang kamu punya wanita simpanan,” tuduhnya. Suaminya kaget. Dia tidak mengerti apa maksud istrinya. “Lha, ada apa ini? Mengapa kamu bilang saya punya simpanan?” tanyanya. “Ini! Lihatlah!” teriak sang istri sambil menyerahkan cermin itu kepada suaminya. Sang suami melihat ke dalam cermin, kemudian berkata, “Lihatlah baik-baik, ini bayangan mendiang ayahku.” “Ayahmu?” teriak istrinya sambil merebut kembali cermin itu. Dia kembali melihat ke dalamnya, dan kembali terlihat bayangan wanita. “Bohong! Ini wanita!” teriaknya. Dengan sabar sang suami datang mendekat, sambil berkata, “Mari kita lihat bersama, dan kita buktikan bayangan siapa yang ada di dalam benda ajaib itu.” Namun, alangkah bertambah kagetnya mereka ketika melihat sekarang ada dua bayangan di dalam cermin itu, seorang laki-laki dan seorang wanita. Dalam kekagetan dan kebingungan itu, tiba-tiba cermin itu terlepas dari tangan dan jatuh, lalu pecah berderai. Sekarang tidak ada lagi bayangan laki-laki dan wanita. Dan mereka pun tidak bertengkar lagi. (Diceritakan kembali oleh Letmiros dalam “Menulis Secara Populer” oleh Ismail Marahimin, 2001) Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu: tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.

a. Tema

Tema ialah inti atau landasan utama pengembangan cerita. Hal yang sedang diungkapakan oleh pengarang dalam ceritanya. Tema dapat bersumber pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya. Misalnya, tentang cinta, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan, dan sebagainya

b. Alur/Plot

Alur ialah jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita. Dari mana pengarang memulai cerita mengembangkan dan mengakhirinya. Alur terdiri atas alur maju, alur mundur (flash back), alur melingkar, dan alur campuran.

Tahapan-tahapan alur yaitu:

(1) pengenalan

(2) pengungkapan masalah

(3) menuju konflik

(4) ketegangan

(5) penyelesaian Perhatikan skema berikut:




c. Penokohan

Penokohan ialah cara pengarang mengambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan terdiri atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung sebagai pemeran sekaligus penggerak cerita dan orang-orang yang hanya disertakan di dalam cerita. Dan watak tokoh, yaitu penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh cerita. Untuk menimbulkan konflik, biasanya di dalam cerita ada tokoh yang berperan penting dengan kepribadian yang menyenangkan dan ada tokoh yang berseberangan tindak-tanduk dan perilakunya dengan tokoh sentral tersebut. Tokoh utama disebut dengan tokoh protagonis dan lawannya adalah tokoh antagonis. Cara pengarang menggambarkan para tokoh cerita ialah dengan secara langsung dijelaskan nama tokoh beserta gambaran fisik, kepribadian, lingkungan kehidupan, jalan pikiran, proses berbahasa, dan lain-lain. Dapat juga dengan cara tidak langsung, yaitu melalui percakapan/dialog, digambarkan oleh tokoh lainnya, reaksi dari tokoh lain, pengungkapan kebiasaan tokoh, jalan pikiran, atau tindakan saat menghadapi masalah.

d. Latar/Setting Latar cerita

adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. Latar merupakan sarana memperkuat serta menghidupkan jalan cerita.

e. Amanat Amanat cerita

adalah pesan moral atau nasehat yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasehat disampaikan oleh pengarang dengan cara tersurat yakni dijelaskan oleh pengarang langsung atau melalui dialog tokohnya; dan secara tersirat atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan dapat menangkap pesan setelah membaca keseluruhan isi cerita.

f. Sudut Pandang Pengarang

Sudut pandang pengarang atau point of view ialah posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang dalam cerita terbagai menjadi dua, terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.

a. Pengarang terlibat di dalam cerita.

Terdiri atas pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita juga dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sentral namun ia ikut menjadi tokoh, misalnya cerita tentang kehidupan orang-orang terdekat pengarang, ayah, ibu, adik, atau sahabat seperti roman sastra berjudul “Ayahku” yang dikarang oleh HAMKA.

b. Pengarang berada di luar cerita

terdiri atas pengarang serbatahu.Ia yang menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, mengatur dan mereka semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. Ia tidak mengetahui secara bathin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah bagaimana pengarang menguraikan ceritanya. Ada yang menggunakan bahasa yang lugas, ada yang bercerita dengan bahasa pergaulan atau bahasa sehari-hari. Ada juga yang bercerita dengan gaya satire atau sindiran halus, menggunakan simbol-simbol, dan sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu menimbulkan daya tarik dan penciptaan suasana yang tepat bagi pengembangan tema serta alur cerita. Setiap pengarang besar biasanya sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya. Contoh Cerpen populer (perhatikan gaya bahasanya).


                                                                                                             S I T I

Tadi pagi aku ngamuk. Rasanya ini amukanku yang terdahsyat sepanjang sejarah. Keseeel ..... banget. Sumbernya, yah, siapa lagi kalau bukan si Siti. Itu pembantu baru yang kelakuannya suka bikin takjub orang serumah. Bayangkan saja, masak draft paper kewiraan yang sudah setengah mati kubuat, seenaknya saja dia lempar ke tempat sampah. Dia tidak tahu berapa besarnya pengorbananku untuk membuat paper itu. Tiga malam nyaris tidak tidur. Bahkan Hunter, pujaan hatiku yang setiap Minggu malam selalu kunantikan kehadirannya, kali ini terpaksa aku cuekin. Eh ..... tahutahu hasil kerja kerasku itu dilempar ke tempat sampah. Gimana aku tidak kesal setengah mati. Dasar bego si Siti itu. Aku ‘kan sudah wanti-wanti ribuan kali agar dia jangan sekali-kali menyentuh kertas-kertasku. Biar kamarku berantakan kayak kapal pecah juga, nggak apa, asal kertas-kertas berhargaku aman. Siti, Siti, kamu kira gampang bikin paper, segampang bikin sambal terasi? Si Siti ini memang lain. Umurnya baru sekitar delapan belas tahun, sedang centil-centil-nya. Kerjanya sih cukup lumayan. Dia juga cukup rajin. Cuma yang namanya centil ..... aujubilah, deh. Setiap pagi kalau ayahibuku sudah berangkat kerja, dia selalu menyetel dangdut di ruang tamu, keraaaaas ..... banget. Mau tuli rasanya kuping mendengarkan lagu-lagu supernorak itu. Kepala pun jadi pusing. Paling malu kalau ada teman yang telepon. Pasti yang nelpon langsung komentar, “Eh, ketahuan, ya, kamu suka lagu gituan. Ngaku aja deh.” Belum lagi kalau teman-teman datang. Dia mulai bertingkah kayak cacing kepanasan, sibuk cari perhatian. Apalagi kalau yang datang itu cowok, wah, langsung resek, deh, dia, ketawa-ketawa centil dengan suara cempreng-nya. Ingin rasanya aku bentak dia. Sayang Ibu selalu melarang, “Sabar, Rit,” kata Ibu berulang-ulang. Penyakit si Siti bukan cuma centil saja. Dia juga superbego. Disuruh ini, dia kerjakan yang lain. Pernah ketika Ibu mau pergi ke pesta, si Siti disuruh menyetrika gaun yang akan dipakai. Tahu apa yang dilakukannya? Itu baju malahan dicuci! Sinting nggak tuh? Pernah dia kusuruh membeli Sunsilk, eh, pulang-pulang dia membawa semangkuk mie pangsit! Selama hampir empat bulan dia bekerja, entah sudah berapa kali dia memperlihatkan kebegoannya. Bukan sekali dua kali aku dibuatnya senewen. Tapi yang dilakukannya tadi pagi betul-betul sudah keterlaluan dan aku tidak tahan lagi untuk tidak memakinya. Semua kejengkelanku harus kutumpahkan, kalau tidak, bisa aku yang gila. Ya, tadi pagi Siti kubentak-bentak sepuas hati. Semua koleksi kata-kata kasarku kukeluarkan. Seisi kebun binatang Afrika kusebut satu per satu. Si Siti menunduk. Entah dia menyesali perbuatannya, entah mengumpat di dalam hati, aku tidak peduli. Tidak sedikit pun tersirat rasa kasihan di hatiku. Yang ada saat itu hanya kemarahan yang meluap-luap. Darft Kewiraan yang sudah lecak kupungut dari tong sampah dan kuseterika. Dengan susah payah aku berusaha mengenali kembali hurufhuruf yang ada di situ, dan aku salin lagi ke kertas baru. ....................... Ting-tong. Wah siapa yang siang-siang begini bertamu, pikirku. Ketika pintu kubuka, Evi, Uci, Tini, dan Ani cengar-cengir di hadapanku. Tanpa dipersilahkan, mereka langsung nyelonong masuk ke ruang tamu. Keempat kuya ini memang sobat-sobatku, dan tidak malu-malu lagi. “Aduh ....., panas betul, Rit. Minta minum, dong, yang pake es, ya? Siropnya cherry kalau ada,” kata si Ani. Buset, kebiasaan jelek si Ani belum hilang juga. Selalu minta suguhan begitu masuk rumah. Biasanya aku tinggal suruh si Siti saja, tapi kali ini aku sendiri yang terpaksa membuat minuman. “Koq sepi, sih, Rit?” Evi bertanya. “Pada lagi liburan, di Bandung. Gue nggak ikut karena ngebela-belain bikin paper Kewariaan, ndak tahunya pas darft-nya jadi, eh, dibuang si Siti ke tempat sampah. Sial banget, deh.” “Ya, ampun! Sinting banget, sih, pembokat elo! Gile, kalo gue jadi elo, sih, nggak tau, deh, gue bakalan mencak-mencak kayak apa,” kata Uci. “Uh ....., tadi pagi juga gue udah ngamuk berat. Terus, tahu nggak gimana reaksi si Siti? Ha, pasti elo nggak nyangka, deh. Sekarang dia lagi ‘pesiar’ dalam rangka melancarkan aksi ngambek-nya,” kataku kesal. “Lho, jadi dia sekarang nggak ada di rumah?” Aku mengiyakan. “Ck ..... ck ..... ck ..... Hebat banget pembantu elo! Bener-bener sinting tulen. Udah, pecat aja, deh, pake susah-susah segala,” kata Ani bersemangat. “Memang gue udah mikir begitu. Pokoknya, begitu nyokap bokap gue pulang, langsung gue laporin, deh, si Siti. Biar tahu rasa kalau dipecat,” kataku. “Eh, jangan langsung dipecat dulu,” kata Tini memberi saran. “Emang kenapa ?” tanyaku heran. “Elo kira gampang cari pembantu sekarang? Maksud gue yang orang baik, gitu. Jangan-jangan elo bakalan dapat yang lebih brengsek. Bisa runyam, ‘kan?” Tini ber-celoteh panjang-lebar. “Iya juga, sih. Hati-hati, lho, pembantu sekarang banyak yang nggak jujur. Tetangga gue aja barusan kemalingan. Malingnya nggak jauh-jauh, pembantu sendiri, yang habis nyopet langsung kabur,” tambah Evi. “Soal pembantu suka nyolong, sih, nggak jauh-jauh. Itu si Sum pembantu di rumahku yang tampangnya ndeso banget dan tak pernah bertingkah macam-macam, taunya dia itu tangannya panjang. Di rumah gue nggak boleh narok apa-apa sembarangan. Bisa langsung lenyap tanpa bekas!” cerita Uci. “Kenapa nggak dipecat saja ?” tanyaku. “Susah, Rit, nyari pembantu sekarang. Nyokap gue lagi nyari, tapi belum ketemu. Kita nggak mau ngambil pembantu dari penyalur, soalnya banyak yang mengeluh tentang pembantu yang diambil dari sana. Jadi, sementara ini si Sum tetap saja dipakai. Paling-paling sekarang kita yang harus ekstrahati- hati. Lagipula dia ‘kan nggak bakalan berani ngambil yang gede-gede,” kata Uci lagi. “Ngomong-ngomong, kita pulang yuk,” kata Ani. “Tadi kita kesini ‘kan cuma mau minta minum gratis, habis jalan-jalan dari Blok M.” Teman-temanku pulang. Aku sendiri lagi. Gelas-gelas kotor kubawa ke dapur. Buset, makin banyak saja yang kotor. Kucuci semua, kususun di rak piring. Lalu aku ingat air minum sudah habis, dan aku juga harus masak nasi untuk makan malam. Selesai melakukan kedua hal itu, aku teringat lagi bahwa tanaman di taman belum disiram, dan ikan-ikan di kolam belum diberi makan. Wah capek juga rasanya. Aku jadi ingat, si Siti pasti tiap hari capek sekali melayani seluruh kebutuhan keluarga kami. Mulai dari subuh sampai malam. Salah sedikit nggak apa-apalah. Toch dia juga baru sekitar empat bulan bekerja, jadi belum terlalu berpengalaman. Aduh, tiba-tiba aku jadi kasihan sama si Siti. Pasti dia sakit hati kubentak-bentak dengan kata-kata kasar tadi pagi. Memang, sih, dia salah. Tapi mestinya aku ‘kan bisa menggunakan kata-kata yang lebih ‘beradab’ untuk memperingatkannya. Hari semakin malam. Siti ....., ke mana, sih, kamu? Pulang, dong! (Dikutip dari tulisan Maria Margareta Manuwembun dalam buku Menulis Secara Populer, Ismail Marahimin) Contoh cerpen berjenis ekspresionisme


                                                                                                   KOMPOR GAS

Sahdan terlaksanalah keinginan istri saya untuk memiliki kompor gas dengan dua nyala. Impian itu sudah lama selalu mengusik hatinya. Maka, ketika honorarium pekerjaan terjemahan dari hasil penelitian Mevrouw Vochig Okselen tentang konsep harmoni orang Jawa datang, istri saya segera membayar kompor gas dan tabungnya dengan kontan. Anak-anak dan saya sangat gembira melihat ia berbahagia. Bahkan saya sangat terharu. Betapa tidak! Walaupun kompor gas itu dibeli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, istri saya membayangkan seakanakan barang luar biasa dahsyat itu hadiah dari saya. Ia juga minta agar anak-anak membayangkan begitu. Mungkin istri saya melihat apa yang disebut hidup adalah jalinan antara kenyataan dan impian. Saya menerima realitas itu tanpa perasaan getir; seorang suami terkadang hampir sekadar lambang. Maka, dengan semangat tinggi, pagi itu, saya membantu membersihkan rumah; menyapu halaman dan lantai. Sambil bersiul keroncong petir, saya berjanji dalam hati bahwa saya akan mencari pekerjaan tambahan di samping tugas rutin saya. Siapa tahu saya kelak bisa menabung. Kepingin benar saya membelikan mesin tulis, meja tulis, kursi, dan lampu duduk untuk istri saya. Kepingin benar saya melihat dia bahagia dengan tugasnya sebagai penerjemah. Ah, betapa malasnya saya selama ini. Sungguh mlekocot saya! Di luar kerja kantor, tak pernah terbetik dalam benak mencari tambahan rejeki. Melepaskan lelah sehabis “bekerja keras” menyapu halaman dan lantai, saya duduk di kursi teras. Hujan semalam tampak masih berbekas. Daunan basah, dan butir-butir air gemerlap kena cahaya matahari pagi. Kupu-kupu beterbangan kian kemari dengan warna-warni. Terlintas dalam pikiran, alangkah ajaib jenis binatang yang satu ini. Tak bersuara, tak bersengat, tak menganggu. Begitu rapuh tubuhnya, tapi begitu mempesona warnanya. Saya mencoba menebak pesan Tuhan di balik kehadirannya. Jam dinding mengeleneng satu kali. Saya tersentak. Saya tahu. Saya harus segera mandi dan lari ke kantor. Sudah terlalu sering saya diperingatkan Pak Sabar karena saya hampir selalu terlambat setiap hari. Saya berdiri sambil menghirup udara segar. “Kula nuwun” seorang lelaki setengah baya tiba-tiba muncul di pintu halaman. Lelaki itu menyandarkan sepedanya dengan tiga jeringen minyak tanah di bagasinya. Sebelum saya mendekatinya, lelaki itu langsung bertanya apakah minyak tanah di dapur masih cukup. Tiba-tiba saya gugup. Dengan spontan saya jawab bahwa minyak tanah kami masih cukup. “Mungkin seminggu lagi, Mas,” jawab saya. Lelaki itu mengangguk, menuntun sepedanya dan mendorongnya. Ada perasaan menyesal menyelinap di hati saya. Seandainya saya tidak harus pergi ke kantor, mungkin saya bisa mengajaknya duduk-duduk barang sejenak sambil menikmati kopi. Tetapi gagasan yang selalu saya rencanakan itu tak pernah terlaksana. Secara tidak saya sadari, ternyata, saya selalu mendapatkan dia sebagai kurang penting. Dan ketika saya menyadari bahwa kemarin istri saya membeli kompor gas, makin terasa, lelaki itu makin tidak penting. Dia hanya bagian dari teknologi memasak yang kini mulai ketinggalan zaman. Mas Marta Lenga, demikian nama lelaki itu, akan dilupakan ketika ibu-ibu mulai tidak mengenal kompor minyak. Kemajuan zaman telah meninggalkannya. Tujuh belas tahun lalu, tatkala istri saya mulai mengenal kompor minyak, teman saya lain, Pak Karta Areng, tersingkir. Saya bayangkan, kelak, jika kompor listrik mulai merata digunakan orang, Den Harja Gas, calon langganan kami, mungkin akan tersingkir pula. Sejarah telah melahirkan orang tampil dan kemudian membantingnya. Saya mencatatnya dengan tekun. Seperti angin, mereka datang dan lenyap. Akan tetapi, berbeda dengan Pak Karta Areng, Mas Marta Lenga terasa lebih menggelisahkan saya. Mungkin karena dia selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh. Tubuhnya selalu basah oleh keringat dan minyak tanah. Giginya selalu kotor, dan selalu ada sisa-sisa makanan di antara sela-sela. Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya baru datang sebagai penghuni baru di kampung itu, Mas Marta adalah partner saya beronda. Waktu itu, Mas Marta adalah seorang penjaga sepeda di sebuah kantor. Sementara itu, istrinya mempunyai sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Ketika orang makin banyak menggunakan kompor minyak, warung itu perlahan-lahan berubah menjadi semacam agen kecil minyak tanah. Agen itu pernah menjadi besar, banyak pegawai yang mengantar minyak tanah kepada langganan-langganan di kampung saya dan sekitarnya. Akan tetapi pula, kebesarannya tidak bisa bertahan lama. Seingat saya, menurunnya langganan Mas Marta justru ketika rumah-rumah baru megah mulai dibangun, dan rumah-rumah gaya lama dipugar. Mungkin, dengan arsitektur ala Spanyol, dengan kamar mandi model seperti yang di hotelhotel mewah, kompor minyak terasa kurang up-to-date. Dan bersamaan dengan itu pula, mobil yang menjajakan gas mulai sering lewat. Tetapi Mas Marta, walaupun makin jarang lewat di depan rumah, tetap berkunjung ke rumah kami setiap dua minggu. Pernah sekali dia bercerita bahwa daerah jelajahnya makin luas, tetapi justru karena daerah langganannya bukan makin meluas. Semula saya kurang paham dengan ceritanya. Baru sekarang saya mengerti, langganannya kini adalah orang-orang yang tinggal di pedukuhan. Dengan makin luasnya daerah jelajah, makin sedikit minyak yang terjual. Sebab untuk bolak-balik membawa tiga jerigen minyak di atas bagasi sepeda, Mas Marta tak cukup kekar. Dia tidak memiliki otot seperti yang dimiliki Mike Tyson. Karena itu, setiap hari ia hanya mampu menjual enam jerigen minyak tanah. Ini artinya, dia bolak-balik pulang dua kali. Itu pun kalau hari tak hujan. Tepat pukul lima sore, seperti sudah direncanakan, istri saya dan saya tiba di rumah Mas Marta. Kami disambutnya dengan sangat ramah, walaupun ada kesan mereka sedikit kaget. Dengan tergopoh, istri Mas Marta segera menyiapkan teh dan kue-kue, dan ditaruhnya di atas meja. Saya memandang sekeliling ruang tamu. Pada dinding bambu, tergantung gambar-gambar tokoh wayang, seperti yang saya lihat dijual di sepanjang Malioboro. Saya membayangkan, jika Mas Marta ternyata pengemar wayang kulit, mungkin sekali waktu bisa saya ajak begadangan nonton bersama. Dengan sangat hati-hati, saya mulai menjelaskan alasan saya berkunjung. Juga mulai saya terangkan bahwa mungkin kami tidak lagi memerlukan minyak tanah. “Wah, Ibu sudah punya kompor gas, ya?” katanya menyambut gembira. Saya kaget. Istri saya mengangguk. Yang lebih mengejutkan saya, Mas Marta bahkan berkata bahwa ia ikut gembira karena kami sudah mempunyai kompor gas itu. “Kami selalu prihatin selama ini karena di kampung Bapak tinggal ibu ini yang belum memasak dengan kompor gas,” sambung istri Mas Marta. Lalu Mas Marta mulai menerangkan bahwa sudah beberapa bulan dia memikirkan untuk berhenti berkeliling menjajakan minyak tanah. Alasannya, langanan makin berkurang. “Tapi kami tidak sampai hati. Sebab kalau kami berhenti jualan minyak, Bapak dan Ibu masak pakai apa, coba?” katanya. Saya tertegun. “Apa mau buka warung lagi?” tanya istri saya sambil mengipas-ngipaskan saputangan. Istri Mas Marta menggeleng, dan Mas Marta sendiri tersenyum. Tersenyum lebar-lebar. Gila! Pikir saya. Begitu hebatnya orang ini berhadapan dengan nasib berselubung perubahan zaman yang mempermainkannya. “Mungkin mau buka kos-kosan?” sambung saya bertanya. Mas Marta menggeleng tiga kali. Istri Mas Marta menggeleng empat kali. Pertanyaan ini saya dasarnya atas informasi Marsengax, seorang mahasiswa Fakultas Hukum, yang pernah ditawari sewa kamar oleh Mas Marta. Di samping itu, istri Mas Marta pernah menawarkan sawahnya yang tak begitu luas di Desa Bulu kepada ibu saya beberapa tahun yang lalu. “Daripada dibeli orang yang enggak–enggak,” katanya pada waktu itu. Kalu benar Mas Marta mau buka kos-kosan, pastilah sawah itu sudah laku dan uangnya dipergunakan untuk memperluas rumah dan menemboknya. Tapi ternyata tidak. “Lalu, Mas Marta mau jualan apa?” desak saya tak tahan. Mas Marta, sekali lagi, tersenyum lebar. Senyuman yang penuh optimisme. “Pakne ini, sekarang,’kan sering didatangi orang. Apalagi kalau malam Jumat Kliwon,” kata istrinya. “Maksudnya menjadi dukun?” tanya istri saya. Istri Mas Marta menggeleng. “Sekali waktu Mas Marta melihat laba-laba kakinya tinggal tujuh. Ee, lha kok esoknya keluar dengan kepala tujuh!” “Kepala apa?” tanya istri saya penuh heran. “Itu, nomor!” tukas Mas Marta. “Dan ketika saya bilang kepada Dik Srundeng bahwa nomor yang akan keluar persis dengan nomor motor Pak Sardula, ee, nembus betul.” Saya tertegun. “Lha, mulai saat itu, banyak orang datang kepada kami minta nomor. Kalau mereka datang, biasanya membawa gula, teh, kopi, rokok, terkadang beras, roti kalengan, dan juga uang,” sambung istri Mas Marta. “Lumayan sekali. Tak usah kerja, rezeki datang sendiri.” Saya tertegun. “Kalau Bapak mau, bisa saya beri kapan-kapan,” kata Mas Marta.“Kan tinggal bapak yang belum punya mobil. Siapa tahu, nomor yang saya pilih nembus.” Saya tertegun. Istri saya makin sibuk mengipaskan saputangannya. Udara pasti terasa gerah baginya karena dia harus menyadari betapa suaminya selama ini kurang agresif memburu rezeki. Betapa berat, saya bayangkan mengakui kemalasan suaminya. Romlah, anak bungsu Mas Marta muncul. Segera istri saya menyerahkan bingkisan kecil. Juga untuk istri Mas Marta. “Kok repot-repot,” tukas istri Mas Marta. Lalu kami minta pamit, dengan alasan saya masih banyak pekerjaan. Dan sebelum saya sampai di pintu, Mas Marta membisikkan sesuatu ke telinga saya. Saya mengangguk dan mengatakan terima kasih. Ketika kami tiba di rumah, saya gantian membisikkan sesuatu ke telinga istri saya. “Apa?” tanya istri saya. “Kepala delapan?” (Dikutip dari karangan: Bakdi Soemanto D. dalam buku Menulis Secara Populer, Ismail Marahimin )

2. Prosa Nonfiksi Prosa nonfiksi ialah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau khayalan pengarang, tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang. Karangan ini diungkapkan secara sistematis, kronologis, atau kilas balik dengan menggunakan bahasa semiformal. Karangan ini berbentuk eksposisi, persuasi, deskripsi, atau campuran. Prosa nonfiksi disebut juga karangan semiilmiah.

Yang termasuk karangan semi ilmiah ialah : artikel, tajuk rencana, opini, feature, tips, biografi, reportase, iklan, pidato, dan sebagainya.

a. Artikel Artikel ialah karangan yang berisi uraian atau pemaparan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(1) isi karangan bersumber pada fakta bukan sekadar realita

(2) bersifat faktual dengan mengungkapkan data-data yang diketahui pengarang bukan yang sudah umum diketahui (realita)

(3) uraian tidak sepenuhnya merupakan hasil pemikiran pengarang, tapi mengungkapakan fakta sesuai objek atau narasumbernya

(4) isi artikel dapat memaparkan hal apa saja seperti, pariwisata, kisah perjalanan, profil tokoh, kisah pengalaman orang lain, satir, atau humor.


Contoh artikel (1) berisi kisah perjalanan:


                                                                                       MENAPAK TANAH BADUI

Neda agungnya paralun / neda panjangnya hampua / bisi nebuk sisikunya / bisi nincak lorongananya /Aing dek nyaritakeun/ urang Badui ..... / (Mohon ampun sebesarnya / mohon maaf selalu / bila menyentuh intinya / bila menginjak larangannya / Akan kuceritakan tentang orang Badui .....). Dan, Judistira Garna, sang antropolog dari UNPAD itu pun bercerita tentang kearifan orang Badui, yang dalam kesederhanaan hidup mampu membendung gencarnya kedatangan alam modern. Wawasan mereka yang dalam tentang kehidupan seakan memberikan citra yang kebalikannya, bahwa masyarakat Badui adalah masyarakat terasing. Penasaran karena melihat begitu hormatnya Judistira yang merupakan pakar yang paling top dalam Badui ini, sampai-sampai ia harus meminta maaf sebelum ia bercerita tentang mereka, aku merasa ingin segera mengangkat ransel menuju Banten, Jawa Barat, tempat suku yang begitu ketat menjaga tradisinya itu bermukim. Ajakan ringan yang dilemparkan seorang sahabat pun segera kutanggapi serius. Dan segera, berempat, kami berangkat ke sana. Goyangan kereta api Tanah Abang-Rangkas Bitung, gojlokan mobil colt tua yang berlari kencang, membawa kami ke rumah Pak Sarkaya, penduduk Pasar Simpang, Desa Cibungur, Kecamatan Lewi Damar, Rangkas Bitung. Pak Sarkaya terkenal sering main ke daerah Badui. Sebetulnya ada tempat lain yang dapat mencapai daerah Badui lebih cepat, seperti yang ditawarkan kenek-kenek mobil colt di Rangkas Bitung, tapi kami tidak merasa terburu-buru. Malam itu juga, disertai doa dan titipan salam Pak Sarkaya untuk Jaya, anak kepala suku Cibeo, kami bergerak perlahan menuju Cibeo, satu dari tiga perkampungan Badui Dalam. Sebetulnya, empat jam berjalan sudah akan dapat membawa kami, para peloncong alam, dari Ciboleger ke’pintu gaerbang’ pemukiman Suku Badui. Namun, prinsip ’menikmati alam’ yang kami anut membuat Ciboleger baru mulai kelihatan tujuh jam kemudian. Desa Keduketuk adalah desa pertama yang kami jumpai, salah satu dari sekian banyak desa suku Badui Luar yang ‘memagari’ tiga suku Badui Dalam. Hitam adalah kesan menyeluruh penampilan orang-orang Badui Luar. Celana komprang hitam selutut, baju kampret hitam lurik, dan ikat kepala berwarna biru tua dan hitam merupakan pakaian sehari-hari khas mereka. Rokok yng mereka isap memperlihatkan sikap ‘menerima’ kemajuan zaman. Setelah ngobrol sedikit dengan warga desa ini, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kurang lebih lima buah bukit kami jejaki lewat jalan setapak yang kadang-kadang terjal mendaki. Kelelahan selalu terobat oleh hijaunya alam yang indah dan keramah-tamahan warga Badui Dalam yang sedang berada di huma (ladang) masing-masing Keasyikan kami melangkah dikejutkan seorang gadis cilik yang nyelonong ngelewati kami. Lho, dia ‘kan yang tadi nyelonong di Ciboleger bersama ayahnya sambil menunggu kayu bakar siap? Ya, di belakangnya, sang ayah melangkah tenang memikul kayu bakar. Mereka tersenyum ramah, tidak ada tanda-tanda mengejek kami yang sudah kehabisan napas.Begitu cepat mereka menyusuri jalan mendaki dengan kaki terlanjang! Gelap turun. Si cilik dengan ayahnya sudah lama menghilang. Hati-hati kami menapak bukit dengan bantuan senter-senter kecil menerang jalan. Senda gurau warga Badui Dalam yang sedang dalam perjalanan pulang dari humanya membuat kami tidak merasa sendirian atau takut salah jalan. Dengan ramah, mereka memimpin jalan menuju perkampungan, santai melenggang tanpa penerangan. Senter memang tabu bagi mereka. Tidak ada larangan bagi kami untuk tetap menggunakannya, namun mereka pun tetap berpatokan pada bintang-bintang di langit. Andai tak ada bintang? Sebatang lilin yang ditempatkan di batok kepala cukuplah buat mereka. Jaya menyambut kami di perkampungan. Dipersilakannya kami membersihkan diri dengan air dari dalam potongan-potongan bambu sepanjang setengah meter, yang tampaknya memang ada di tiap teras rumah penduduk Cibeo. Rumah-rumah panggung beratap daun nira itu tidak berpaku sebuah pun. Hanya pasak-pasak yang membuat rumah-rumah itu tegak berdiri. Ventilasi berupa jendela hanya di rumah kepala suku, sedangkan rumahrumah lain sudah cukup puas dengan membuat lobang-lobang kecil di dinding yang terbuat dari gedek. Tidak ada kursi, meja, atau tempat tidur. Pakaian pun cuma di-buntel, ditaruh di tempat khusus di langit-langit rumah. Perlengkapan memasak yang sangat tradisional diletakkan saja tanpa alas di lantai rumah yang terbuat dari bambu. Dengan perlengkapan memasak yang tradisional itulah, mereka ramah menyediakan diri memasak supermi yang kami bawa. Bersama kami menyantap hidangan hangat itu. Tidak ada sendok, garpu, hanya daun yang dilipat membentuk cengkok. Gelas juga cuma dari bambu. Bambu dan kayu memang merupakan bahan baku utama hampir seluruh perkakas yang mereka gunakan. Cerita-cerita yang diungkapkan Jaya merupakan pelepas lelah bagi kami. Jaya, satu-satunya warga Cibeo yang dapat berbahasa Indonesia, menjawab semua keingintahuan kami. Sunda Wiwitan, begitulah mereka menyebut agama mereka. Dan dengan mengikuti penanggalan mereka sendiri, mereka berpuasa selama kurang lebih tiga bulan setiap tahunnya, mulai saat subuh belum lagi sempat menyapa, hingga saat matahari sudah meringkuk di sudut bumi, setiap harinya. Jika masa panen selesai, tokoh-tokoh masyarakat Badui Dalam menyambangi tampat arca Domas suci, di hulu Sungai Ciujung.Di sana, mereka melaporkan apa-apa yang telah terjadi dalam setahun itu dan memohon berkah untuk tahun mendatang. Kerja dan kerja. Itulah yang selalu mereka lakukan. Itulah ibadah yang selalu mereka sucikan. Itulah yang mereka sebut ‘bertapa’. Sebab dengan terus ‘bertapa’, dengan kata lain terus bekerja, mereka tidak lagi punya waktu untuk menyimak iri, dengki, tamak, malas, atau perasaan dan perbuatan jahat lainnya. Sebuah perjalanan tidak bisa dilakukan semau hati karena tidak ada kendaraan yang boleh digunakan. Jaya pun hanya mengandalkan kekuatan kakinya selama empat hari menyusuri rel kereta api menuju Jakarta. Juga, tidak setiap warga boleh meninggalkan daerah Badui Dalam ini. Bahkan kepala suku mempunyai kewajiban untuk tinggal saja di kampungnya. Malam telah larut. Di tengah damainya perkampungan suku Cibeo ini, kami tertidur. Dan ketika subuh belum lagi pantas disebut, Jaya telah pergi ke huma bersama warga kampung lain. Berladang tanpa cangkul, bajak, apalagi traktor. Begitu sederhananya, sesederhana pakaian mereka yang hanya celana komprang plus baju kampret, serta ikat kepala putih, yang membedakan mereka dari orang-orang Badui Luar. Sementara ibuibu bertelanjang dada keluar menyapu halaman rumah mereka sambil menyusui anak. Matahari meninggi. Kami pamit menuju Cikertawana dan Cikeusik, dua daerah perkampungan Badui Dalam lain. Kembali kami melangkah kaki di jalan setapak yang membelah bukit-bukit dan menyusuri sungaisungai yang menawan. Di Cikeusik kami hanya mendapatkan seorang penduduk yang kemudian menjamu kami dengan pisang besar yang dibakar begitu saja di bara api. Gula aren khas Badui menjadi campuran susu yang kami buat, ditambah sajian buah asam kranji, sangat menghibur hati kami yang kecewa karena sepinya kampung, ditinggal warganya pergi ke huma. Tak lama kami di sana karena waktu sudah mengharuskan kami beranjak pulang. Dua hari berada di tengah orang-orang Badui, cukup membuat kami mengerti rasa hormat yang tumbuh di dalam hati Judistira Garna, karena kami pun merasakan hal yang sama. Di balik sikap sederhana dan sorot mata yang lugu dan polos, ada ‘sesuatu’ yang membuat mereka sanggup begitu kuat menggenggam tradisi mereka, ‘sesuatu’ yang membuat jiwa terasa begitu damai di tengah-tengah mereka. Laranganlarangan yang tidak pernah dilanggar, dan tidak adanya keinginan untukberontak, merupakan hal yang terasa sulit dibayangkan. Namun dengan kesederhanaan mereka, orang-orang Badui membuktikan sebuah kekuatan yang mampu mengekang emosi, dan ini merupakan salah satu sifat arif dan bijak. Badui adalah suku yang jauh di pelosok hutan, namun rasanya banyak yang dapat dipelajari manusia-manusia modern tentang arti sebuah pribadi yang tegar dan kokoh. Hanya sebuah pikukuh (ketentuan mutlak) sederhana, yang telah tertanam dalam di nadi orang-orang Badui, yang membuat mereka begitu mengagumkan: Gunung jangan dilebur. Lembah jangan dirusak. Larangan jangan diubah. (Ditulis oleh Nuria Widyasari) Contoh artikel


(2) berisi info kesehatan:


                                                                         TERTAWA LANCARKAN PEREDARAN DARAH

BALTIMORE---Ilmuwan dari University of Maryland Center. Baltimore. Amerika Serikat (AS) berhasil menunjukkan keterikatakan antara tawa dan kesehatan. Berdasarkan penelitan yang dilakukannya, tawa terlihat dapat melancarkan peredaran darah. “Tiga puluh menit berolahraga sebanyak tiga kali dalam seminggu serta 15 menit tertawa lepas semestinya dijadikan bagian dari gaya hidup sehat,” ujar Michael Miller dari universitas tersebut. Tertawa, lanjut Miller, dapat membuat pembuluh darah arteri menjadi tidak tegang. Sementara itu, aliran darah pun dibuatnya lebih lancar. “Kondisi ini terlihat dari percobaan yang melibatkan 20 orang relawan,” ungkapnya. Kedua puluh relawan dijelaskan Miller diajak menonton film komedi King Pin. Dengan memakai ultrasonik, Miller mengukur aliran darah dan pembuluh darah arteri di lengan para relawan, baik sebelum maupun sesudah menonton film tersebut. Hasil pengindraan membuktikan pembuluh darah arteri 19 orang relawan menjadi rileks dan aliran darahnya lebih lancar dari biasanya. Itu terjadi selama 30 hingga 45 menit setelah film usai ditonton.Sementara itu, kondisi sebaliknya terjadi saat relawan yang sama diajak menonton adegan menegangkan dari film perang Saving Private Ryan. Dinding arteri para relawan menjadi tegang hingga menghalangi aliran darah. Secara keseluruhan, aliran darah turun 35 persen setelah menyaksikan adegan menegangkan dan meningkat 22 persen selama adegan yang memancing tawa. Dari penelitian itu, Miller menyimpulkan tertawa dapat menyehatkan kondisi dinding pembuluh darah arteri. Tertawa diyakini bisa mengurangi risiko terkena penyakit jantung. “Setidaknya, tertawa jelas dapat memangkas dampak stres mental yang berbahaya bagi dinding pembuluh darah,” imbuhnya. Hasil penelitian ini menurut Andrew Steptoe dari University College London, Inggris, sangat logis. Dia mengatakan emosi yang positif tentu akan menimbulkan efek yang juga positif. “Sekarang ini penelitian ilmiah yang mengungkapkan keterikatan antara emosi positif dan kesehatan sedang mengalami peningkatan.“ Miller awal pekan ini (7/3) mempresentasikan hasil penelitiannya di ajang pertemuan American College of Cardologi yang berlangsung di Orlando, Florida. Ia berharap dapat mengungkapkan lebih jauh bagaimana tawa dapat bermanfaat. “Kami tidak tahu manfaat langsung dari tertawa. Demikian pula dengan dampak tidak langsung dari pengurangan stres, “ ungkapnya. (Republika, 9 Maret 2005) b. Tajuk Rencana Tajuk rencana atau editorial adalah karangan yang bersifat argumentatif yang ditulis oleh redaktur media massa mengenai hal-hal yang faktual dan aktual (sedang terjadi atau banyak dibicarakan orang). Isi tajuk merupakan pandangan atau tanggapan dari penulisnya mengenai suatu permasalahan atau peristiwa. Tajuk rencana juga diistilahkan dengan editorial. Contoh Tajuk Rencana:

                                                                                             Komersialisasi Pendidikan

Keluhan bertubi-tubi datang. Orang tua mengadu tentang besarnya biaya sekolah negeri dan swasta yang sama-sama “ganas” melakukan pungutan.Istilah komersialisasi pendidikan marak belakangan ini. Berbeda dengan tahun lalu, keluhan komersialisasi tahun ini lebih masif. Unjuk rasa masyarakat menggarisbawahi keluhan orang tua. Penegasan pemerintah, pungutan boleh dilakukan asal terkendali dan tidak komersial, bisa kontraproduktif. Penegasan itu dianggap bukan pelarangan, tetapi pembenaran. Sekolah negeri, juga perguruan tinggi negeri tidak kalah mahal dibandingkan swasta. Sebagai contoh, uang penerimaan siswa baru SMA negeri di Jakarta Timur Rp 7.375.000, sementara di SMA swasta di Jakarta pusat Rp 11.718.000. Bangku sekolah dijualbelikan! Keresahan orang tua mengingatkan para pengambil keputusan. Meski Indonesia sudah merdeka lebih dari 60 tahun, belum pernah masalah pendidikan ditangani serius. Belum selesai soal ujian, muncul soal buku, kurikulum, merosotnya mutu, dan seterusnya. Memang setelah reformasi dibanding era sebelumnya, ada langkah maju setapak. Dulu baru sebatas penegasan pentingnya pendidikan (pengembangan SDM), sekarang penambahan alokasi 20 persen dari total anggaran nasional. Sampai tahun ini, baru terealisasi 8 persen. Pro dan kontra masih riuh, di antaranya daya dukung manajemen Depdiknas. Oleh karena itu, tak perlu kaget ketika Jepang mengalokasikan anggaran pendidikan 100 kali lipat dibanding Indonesia. Sebaliknya, harus kaget ketika Banglades, negara kecil dan miskin, mengalokasikan anggaran 2,9 persen dari anggaran nasional mereka; sementara Indonesia di era bersamaan hanya 1,4 persen. Pendidikan adalah tugas masyarakat dan pemerintah. Ketika praksis pendidikan tidak lagi dominan sebagai kegiatan sosial tetapi bisnis, hukum dagang “ada rupa ada harga” berkembang subur. Menyelenggarakan lembaga pendidikan serupa lembaga bisnis. Memang dari sana pula lembaga pendidikan swasta berkembang. Ketika pemerintah juga melakukan praktik yang sama, timbul pertanyaan, negeri dan swasta kok sama? Lembaga-lembaga sekolah negeri ikut “ganas” melakukan berbagai pungutan. Parodi pendidikan hanya menghasilkan air mata memperoleh pembenaran. ......... Anggaran cukup bukan segala-galanya. Ketersediaan anggaran baru memenuhi salah satu dari sekian persyaratan praksis pendidikan. Namun,ketersediaan anggaran mencerminkan seriusnya perhatian, keberanian memberikan prioritas, dan sesuatu yang tidak selesai hanya jadi wacana berkepanjangan.

(Sumber: Kompas, Jum’at ,13 Juli 2007)

c. Opini Opini adalah tulisan berisi pendapat, pikiran atau pendirian seseorang tentang sesuatu. Opini termasuk bentuk prosa faktual karena meskipun masih bersifat pendapat penulisnya, namun tetap dalam opini diungkapkan berbagai alasan yang dapat menguatkan pendapat tersebut. Contoh Opini: DAMPAK BURUK TAYANGAN TELEVISI Akhir-akhir ini, kita sering melihat tayangan televisi yang mengandung pornografi, kekerasan, dan mistik. Hal ini merisaukan para orang tua karena tayangan itu jelas tidak baik bagi perkembangan mental anak-anak mereka. Hal tersebut berpotensi untuk mendidik anak-anak menjadi penakut, suka kekerasan, dan menjadi dewasa sebelum waktunya. Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan anak-anak dari pengaruh semacam ini? Sebenarnya ada yang bisa dilakukan tanpa harus menyalahkan stasiun televisi. Pertama, batasi jam anak menonton televisi. Kedua, dampingi mereka saat menonton televisi agar orang tua bisa menjelaskan dan menyaring acara yang mereka tonton. Terakhir, berilah anak sarana hiburan yang lain seperti buku agar mereka mengurangi konsumsi terhadap televisi. Akhirnya, penulis juga mengimbau pada pengelola stasiun televisi agar menempatkan acara berbau seks, kekerasan, dan mistik pada jam-jam anak-anak jarang menonton, misalnya pada jam anak sekolah, atau tengah malam pada saat anak-anak sudah tidur. Ingat, televisi sedikit banyak adalah “guru” yang mudah memberikan pendidikan pada anak-anak.

(Ditulis oleh: Febriano Jody Ariawan dalam buku Komposisi Karangan, Lahmudin Finoza)

d. Feature Feature atau ficer ialah sejenis artikel eksposisi yang memberikan tekanan aspek tertentu yang dianggap menarik atau perlu ditonjolkan dari suatu objek atau peristiwa yang memiliki daya tarik secara emosional, pribadi, atau bersifat humor. Isi feature bukan berita yang aktual, tapi kejadian yang sudah berlalu. Contoh Feature / ficer:

                                                          

                                                                                                      EMPING CONDET

Jika Anda kebetulan makan emping, barangkali yang Anda makan itu emping condet. Dan jika pada suatu kali Anda menelusuri jalan setapak yang lengang, sejuk, dan teduh di pelosok Condet, telinga Anda pastilah akan mendengar bunyi ketukan bertalu-talu di sepanjang jalan itu, bersahutsahutan dari rumah ke rumah. Suara itu tak lain dari suara penduduk yang sedang ngemping. Kalau Anda melongok sedikit, hampir di depan setiap rumah terlihat emping yang sedang dijempur, diletakkan di atas anyaman bambu di atas tanah. Yang memegang peranan utama dalam membuat emping adalah buah melinjo. Pohon melinjo banyak dijumpai di antara rimbunnya pepohonan di Condet. Konon dahulu, jika buah melinjo sedang masak, seluruh pohon kelihatan merah menyala. Daunnya yang hijau tidak tampak sama sekali. Apabila buah melinjo diturunkan, hasilnya antara 50-80 liter. Tapi sekarang merosot sampai 20 liter saja dalam sekali musim, yang biasa dipanen 2 kali dalam setahun. Lagipula sekarang tidak banyak pohon melinjo yang diizinkan berbuah karena harus digunduli dan sekali dalam 5 hari pucukpucuk daunnya yang muda dipetik kemudian dijual. Pasti laris karena daun itu merupakan bahan utama untuk sayur asem. Sekeranjang daun melinjo harganya antara Rp 300,- sampai Rp 700,- tergantung cuaca. Makin panas suhu, makin tinggi harga daun melinjo. Namun, konsumsi sayur asem yang luar biasa ini telah sangat mengurangi produksi buah melinjo, sedangkan ‘pabrik’ emping harus bekerja terus untuk mendatangkan income sampingan bagi penduduk Condet. Apa akal? ‘Impor!’ sekitar 70 s.d. 80% buah melinjo yang diemping di Condet sekarang ini adalah barang ‘impor’ dari Lenteng Agung, Pondok Bambu, Serang, dan daerah lain di sekitar Jakarta.Kendati demikian, kesibukan memetik bauh melinjo masih merupakan acara tetap musiman di Condet. Pagi-pagi sang bapak dibantu anak lelakinya akan menurunkan semua buah melinjo, lalu meletakkannya di beranda atau di pakarangan rumah. Semua anggota keluarga segera turun tangan memisahkan melinjo yang sudah masak betul dari yang belum begitu masak yang segera dapat dijual untuk campuran sayur asem. Buah yang masak yang segera dikupas kulitnya. Anak-anak tetangga yang berkerumun menonton biasanya turut bantu mengupas. Untuk setiap liter melinjo bersih mereka dapat upah Rp 20 dan seorang anak yang cekatan dapat menyelesaikan 5 liter dalam waktu 2 jam. Lumayan. Kulit melinjo yang merah ini tidak pula dibuang begitu saja. Setelah direbus sebentar lalu dikeringkan, dan siaplah kulit ini untuk dijadikan campuran sambal goreng, opor, lodeh atau pun kalio. Bisa juga diiris panjang-panjang dan digoreng bersama ikan teri, dengan cabai, atau tidak. Jika buah melinjo yang bersih sudah tersedia, pekerjaan membuat emping dapat dimulai. Untuk ini, dibutuhkan sebuah tungku dengan kayu bakar dan sebuah kuali tanah, sedikit pasir, sebuah landasan dari batu (untuk ini banyak digunakan ubin bekas dari sisa bongkaran rumah zaman dulu, yang tebalnya sampai 5 cm dan panjang/lebarnya 60 cm), martil besi dan anyaman bambu untuk tempat menjemur. Memang mulai banyak juga orang yang menggunakan kompor minyak tanah dan kuali baja atau aluminium, tapi barang-barang ini masih dipandang sebelah mata oleh orang Condet. Nah, bila semua sudah siap, buah melinjo digongseng bersama pasir, di dalam wajan yang diletakkan di atas tungku yang apinya kecil. Ini dilakukan sebentar saja, 3-5 menit, tapi sementara itu buah mesti terus diaduk. Yang sudah mulai hangus kulitnya segera diangkat, ditegakkan di atas sepotong papan kecil, dan ditokok pelan dengan martil. Kulitnya segera pecah, lalu isinya diletakkan di atas landasan dan ditokok lagi dengan martil sampai pipih. Setelah pipih, sudah kelihatan seperti emping. Karena masih basah, emping ini dipindahkan ke anyaman bambu untuk dijemur. Mengangkat emping basah dari landasan ke anyaman bambu memerlukan teknik tersendiri. Jika buah melinjonya cukup tua dan menggongseng tepat, emping basah itu akan mudah diangkat, seperti mengangkat kue dadar kecil dari wajan. Kalau salah satu atau kedua persyaratan itu tidak terpenuhi, terpaksa digunakan sejenis alat, yaitusekeping kecil seng yang digunakan seperti pisau khusus untuk menyayat emping basah itu dari landasan batu. Sementara itu, buah melinjo terus dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam kuali, dan yang sudah masak langsung dikeluarkan, dikupas, dan dipipihkan. Biasanya satu tim pembuat emping terdiri atas seorang ibu dengan dua anak gadisnya. Mereka bertiga dapat menyelesaikan 10 liter melinjo dalam waktu 7 jam, mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 3 sore, diselang-seling tugas-tugas lain seperti memasak, mencuci, dan sebagainya. Apabila yang mereka kerjakan bukan melinjo hasil kebon sendiri, artinya apabila yang mereka mengambil upahan membuat emping, untuk mengerjakan 10 liter melinjo mereka memperoleh Rp 600. Emping yang dihasilkan dari 10 liter melinjo itu adalah sekitar 4 kg, kering. Kalau harga jual borongan emping sekitar Rp 1150 per kilogram, dapat Anda perhitungkan sendiri mana yang lebih menguntungkan antara mengizinkan pohon melinjo berbuah atau menjual pucuknya untuk konsumsi sayur asem. Orang Condet melakukan keduanya. Emping ‘satu melinjo’ jarang dibuat di Condet, kecuali atas pesanan. Yang banyak dibuat adalah emping ‘multimelinjo’ yang ukurannya besarbesar. Ada emping 8 melinjo, 12 melinjo (yang paling banyak dibuat), bahkan ada yang 30 melinjo, yaitu emping besar yang garis tengahnya mencapai 25 cm dan banyak dijumpai di restoran-restoran besar. Untuk emping ukuran besar ini, ada cara pembuatan tertentu. Mula-mula dibuat dulu bentuk bulan sabit, kemudian setengah lingkaran, baru sesudahnya lingkaran penuh yang rapi. Melihat proses ini, tidak dapat tidak timbul ide, dapatkan misalnya emping dirancang bentuknya menurut pesanan? Untuk merayakan ulang tahun anak Anda barangkali Anda ingin emping berbentuk Tongki Bebek? Atau bintang? Belum pernah dicoba, memang. Anda mau pesan?

(Ditulis oleh: Ismail Marahimin dalam buku Menulis Secara Populer)

e. Biografi Biografi adalah kisah atau riwayat kehidupan seorang tokoh yang ditulis oleh orang lain. Biografi ditulis dengan berbagai tujuan. Salah satunya untuk memberikan informasi bagi pembaca tentang latar belakang kehidupan seorang tokoh dari sejak kecil hingga mencapaikarir di kehidupannya kemudian. Jika tokoh itu sendiri yang menulisnya disebut otobiografi. Biografi termasuk prosa naratif ekspositoris atau prosa faktual yang mengungkapkan fakta-fakta nyata. Contoh penggalan Biografi:

 

                                                                                SEKELEBAT RIWAYAT RAMADHAN K.H.

Ia suka dipanggil Tutun oleh keluarganya, dan disapa Atun oleh teman-teman dekatnya. Ia sendiri biasa menuliskan namanya, Ramadhan K.H. semacam kependekan dari Ramadhan Kartahadimadja. Lahir di Bandung, 16 Maret 1927, Ramadhan adalah anak ke tujuh dari sepuluh bersaudara. Ayahnya Rd. Edjeh Kartahadimadja, adalah seorang patih pada masa kekuasaan Hindia Belanda. Ramadhan lahir dari pernikahan Rd. Kartahadimadja dengan istri ketiganya, Sadiah. Masa kecil Ramadhan dilewatkan di Cianjur, sebuah kota yang dipeluk hawa sejuk, tanah kelahiran pengarang ternama Utuy Tatang Sontani (1918-1978). Dunia Ramadhan serupa bianglala: Ia mengubah puisi dan mengarang novel serta cerita pendek ; ia pernah bekerja sebagai wartawan, mengasuh ruangan kebudayaan, dan hingga kini menjadi penulis lepas; ia menerjemahkan karya-karya sastra mancanegara dan turut aktif membangun jembatan budaya yang menghubungkan Indonesia dengan negeri-negeri asing; ia menyunting sejumlah buku dan pernah turut mengelola lembaga penerbitan; ia pernah ikut aktif dalam pengelolaan organisasi kesenian; ia pun belakangan terkenal sebagai penulis biografi tokoh-tokoh terkemuka Indonesia. Tak diragukan lagi, Ramadhan K.H. menduduki tempat terpandang di jajaran penulis Indonesia. (Dikutip dari buku: Ramadhan K.H. Tiga Perempat Abad)

f. Tips Tips ialah karangan yang berisi uraian tentang tata cara atau langkahlangkah operasional dalam melakukan atau membuat sesuatu. Disajikan dengan ringan, sederhana, dan bahasa yang populer. Karangan ini termasuk jenis artikel ekspositoris.Contoh karangan berisi tips: BEBERAPA CARA MEMBASMI KETOMBE Ketombe memang amat menjengkelkan, tidak hanya bagi wanita, tapi juga bagi pria. Apabila rambut dihinggapi ketombe, kulit kepala terasa gatal yang luar biasa, terutama bila terkena sinar matahari. Bila Anda terkena penyakit ini, dan belum menemukan obat yang mujarab, di sini dapat Anda temukan beberapa cara yang mudah untuk mengatasinya. Cobalah salah satu cara berikut, yang menurut Anda paling sesuai dan paling mudah untuk Anda lakukan. Cara pertama adalah dengan menggunakan daun kikim (istilah Sunda: daun antahan). Petiklah kira-kira 25 lembar daun kikim ini, tumbuk sampai halus, kemudian sedu dengan 1 liter air panas. Setelah airnya menjadi hangat-hangat kuku, pakailah untuk membahasi rambut Anda sampai rata. Biarkan selama kurang lebih 5 menit, kemudian keramaslah rambut Anda seperti biasa. Ulangi ini sampai tiga kali selama seminggu, dan ketombe yang senantiasa menganggu akan lenyap, tanpa Anda harus mengeluarkan biaya yang besar. Jika Anda mengalami kesukaran mendapatkan daun kikim, cobalah buah mengkudu. Cara ini pun cukup mudah. Sediakan 2 atau 3 buah mengkudu, bubuhi air setengah gelas, dan remas-remas. Setelah lumat saring untuk mengambil airnya. Pakailah air perasan buah ini untuk keramas. Biarkan selama 5 menit, cucilah rambut Anda seperti biasa. Untuk menghilangkan baunya yang kurang sedap, pakailah shampoo seperti biasa. Air rendaman daun kangkung yang masih muda pun dapat menghilangkan ketombe. Caranya cukup sederhana. Sediakan daun kangkung yang masih muda sebanyak kira-kira 20 tangkai. Sebaiknya petiklah sendiri di tempatnya agar getah yang dihasilkan lebih banyak. Cincang-cincanglah daun kangkung itu. Kemudian rendam di dalam sebaskom air. Setelah selama satu malam, air rendaman itu akan berwarna kebiru-biruan. Pakailah air ini untuk keramas setiap hari. Kepala yang berketombe berat akan terasa pedih bila dikeramas dengan air rendaman kangkung ini, dan makin sering keramas akan makin berkurang pedih maupun gatalnya sehingga akhirnya akan hilang sama sekali. Untuk mencegah agar jangan sampai berketombe lagi, keramasilah rambut Anda dengan air rendaman kangkung seperti ini seminggu sekali secara rutin.Setiap kali keramas, air rendaman kangkung harus baru. Resep ini hanya untuk satu kali pakai. Dan jangan pula lupa bahwa setiap selesai keramas dengan air rendaman kangkung ini Anda harus mencuci rambut dengan air sampai bersih. Boleh juga Anda gunakan shampoo seperti biasanya. Selamat mencoba, semoga Anda terbebas dari ketombe yang menjengkelkan.

(Ditulis oleh Yulia Ain Sani dalam “Menulis Secara Populer” oleh Ismail Marahimin, 2001)

g. Reportase Reportase ialah karangan yang berupa hasil laporan dari liputan suatu peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung atau belum lama berlangsung untuk keperluan berita di media massa. Bersifat informasi aktual. Contoh reportase, yaitu berita langsung tentang kejadian bencana alam gempa jogja, atau janjir di Jakarta. h. Jurnalisme Baru (New Journalism) Jurnalisme Baru (new journalism) ialah semacam berita yang dituliskan ke dalam bentuk novel atau cerita pendek. Karena berbentuk cerita, unsur-unsur pembangun sebuah cerita seperti, alur, tokohtokoh, latar, dan konflik, dipenuhi meskipun isinya merupakan fakta atau kejadian yang sebenarnya. Isi jurnalisme baru merupakan hal-hal kejadian luar biasa yang menghebohkan atau menggemparkan seperti kejahatan sadis, peperangan, dan musibah besar yang menarik perhatian masyarakat atau dunia. Dalam jurnalisme baru, diungkapkan hal-hal dari peristiwa tersebut yang belum terungkap ialah pemberitaan media massa, seperti latar belakang, motif, tujuan, jalan pikiran, dan sebagainya. Oleh sebab itu, penulis jurnalisme baru harus berusaha mengumpulkan sebanyakbanyaknya data dari narasumber, tokoh yang terlibat atau para saksi dari kejadian yang akan diungkapkan. Contoh tulisan jurnalisme baru, yaitu perang Vietnam, Perlharbour, In Cold Blood (peristiwa pembunuhan sadis–berdarah dingin–terhadap empat keluarga petani di Kansas Amerika Serikat), atau kisah Kusni Kasdut, penjahat besar di era tahun 60-an di Indonesia, dan sebagainya.i. Iklan Iklan ialah informasi yang disajikan lewat media massa, buletin atau surat edaran yang bertujuan untuk memberitahukan atau mempromosikan suatu barang atau jasa kepada khalayak untuk kepentingan bisnis, pengumuman, atau pelayanan publik. Iklan terdiri atas iklan keluarga, undangan, pengumuman, penerangan, niaga, lowongan pekerjaan, dan sebagainya.

Ciri-ciri bahasa iklan:

(1) Kalimatnya singkat; hanya menonjolkan bagian-bagian yang dipentingkan,

(2) Uraian bersifat informatif dan persuasif,

(3) Menggunakan kata-kata yang terpilih dan menarik perhatian orang untuk mengetahui, mencoba, atau ingin memiliki,


Contoh iklan: 

Contoh iklan berbentuk karangan: Si Mungil dengan Suara Maksi Punya ruangan hiburan ala bioskop di rumah memang menyenangkan, meskipun Anda harus merogoh kocek agak dalam kerenanya. Tapi jika dananya pas-pasan, mungkin Anda bisa menyiasatinya dengan membeli seperangkat Mini HiFi. Untuk kita yang hanya punya dana pas-pasan dan ruangan rumah yang terbatas. Mini HiFi bisa jadi pilihan. Selain kisaran harganya cukup terjangkau, satu set Mini HiFi biasanya sudah dilengkapi dengan berbagai fitur, seperti player yang mampu membaca format DVD, CD-R/CD-RW, VCD, Divx, MP3 dan USB Connection serta speaker. Selain all-in-one, perangkat ini juga mampu menghadirkan kualitas suara cukup baik karena memiliki sistem two-way speaker yang mampu memainkan suara berfrekuensi tinggi dan rendah secara terpisah. Beragam fitur telah dihadirkan dalam perangkat Mini HiFi, seperti produk Mini HiFi keluaran Samsung, yaitu seri MM-DX7T dan MAXDX75T yang mampu membaca format DVD, Divx, MP3-CD, WMA, CD-R/CD-RW. Kedua produk mampu menghadirkan kualitas suara mengagumkan dengan Dual Woofer to Boos Bass Sound, total RMS 200 W dan 2200W PMPO serta koneksitas yang lengkap seperti TV Connection via HDMI out, USB Host with movie playback. Model terbaru Mini HiFi Samsung ini telah dilengkapi pula dengan High Definition Multimedia Interface (HDMI) out put berupa seutas kabel yang berfungsi sebagai alat transmisi digital yang dapat menghantarkan gambar dengan langsung ditancapkan pada televisi. Desain yang elegan dengan balutan warna hitam berkilau dan lekukan yang manis pada tiap sudut menjadikan Mini HiFi Samsung ini sangat cocok apabila dipadupadankan dengan produk TV LCD atau film fit dari Samsung. Nah, selamat menikmati tayangan film favorit berkualitas bersama keluarga tercinta tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam dengan Mini HiFi Samsung MMDX7T dan MAX- DX75T.j. Pidato atau khotbah. Pidato ialah aktivitas mengungkapkan pikiran, ide, gagasan secara lisan dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kalimat kepada orang banyak dengan tujuan tertentu. Pidato biasanya dilakukan dalam acaraacara resmi, seremonial, dan pertemuan-pertemuan ilmiah. Pidato merupakan bentuk komunikasi satu arah karena terdiri atas pemberi pidato satu orang dan orang banyak sebagai pendengar. Bahasa dan isi pidato disesuaikan dengan pendengar (audience) berdasarkan, tingkat pemikiran atau pendidikan, usia, dan topik pembicaraan.

Bagian-bagian pidato ialah seperti berikut.

1. Bagian pembukaan berisi:

(1) salam pembuka

(2) ungkapan sapaan

(3) puji syukur kepada Tuhan

(4) penegasan konteks pertemuan atau acara


2. Bagian isi berisi uraian pidato sesuai dengan yang telah direncanakan atau ingin disampaikan.


3. Penutup pidato, berisi:

(1) kesimpulan isi pidato

(2) harapan-harapan atau himbauan

(3) ucapan terima kasih dan permohonan maaf

(4) salam penutup Beberapa hal berikut harus diperhatikan dalam menyimak pidato.


1. Simaklah isi pidato dengan saksama dari awal hingga akhir.

2. Pahami gagasan, pendapat, atau pesan yang disampaikan dalam pidato.

3. Ingatlah atau catatlah hal-hal penting yang terdapat dalam uraian pidato dan beri komentar.

Contoh Pidato:


                                                               MEMASUKI ABAD TEKNOLOGI, INFORMASI, DAN GLOBALISASI

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Yth. Bapak/Ibu Kepala Sekolah Bapak/Ibu Guru yang saya hormati dan rekan-rekan pelajar yang saya banggakan. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan pidato saya dengan tema: memasuki abad teknologi, informasi, dan globalisasi. Indonesia kini telah memasuki abad baru, yaitu abad teknologi, informasi, dan globalisasi. Dalam masa ini, hanya negara-negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki daya saing yang tinggi, serta memiliki jati diri yang kuat yang dapat bertahan hidup dan memenangkan persaingan di arena percaturan global. Dengan memasuki abad baru, hampir seluruh arus barang, jasa, informasi, manusia, dan bahkan adat budaya akan makin bebas keluar masuk ke suatu negara. Dampak positif globalisasi membawa kemajuan yang pesat bagi kehidupan dan pembangunan, namun dampak negatifnya akan berpengaruh terhadap nilai-nilai peradaban dan budaya bangsa. Kita sebagai pelajar harus mengembangkan sikap disiplin dan etos kerja yang tinggi, membiasakan dan membina sikap yang teguh, tegar, dan tangguh penuh kreativitas dan dinamis, dalam berbagai macam kesulitan dan ujian serta tantangan kehidupan. Selain itu, kita juga harus berkomitmen tinggi, jujur, inovatif, dan mandiri. Berkomitmen tinggi artinya kita harus memfokuskan kepada tugas yang kita kerjakan dan berupaya untuk memperoleh hasil yang maksimal. Jujur, yaitu kita harus jujur dalam mengerjakan pekerjaan kita, tidak melakukan hal-hal negatif yang berhubungan dengan pekerjaan kita, dan tidak melakukan kecurangan. Mandiri, yaitu kita harus mengerjakantugas kita sendiri tanpa meminta orang lain untuk mengerjakannya. Simpulannya bahwa dalam memasuki era teknologi, informasi dan globalisasi, kita harus meningkatkan sumber daya manusia yang kita miliki untuk siap bersaing. Kita juga harus menyiapkan mental, sikap dan semangat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya baik dalam menuntut ilmu maupun bekerja serta senantiasa menghindari pengaruh-pengaruh negatif globalisasi. Hadirin yang berbahagia, Karena itu, melalui pidato ini saya mengajak rekan-rekan pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa untuk mampu memelihara kepribadian dan jati diri bangsa, serta menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya nasional dalam cara yang benar dan positif. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak/ Ibu serta rekan-rekan pelajar yang telah mendengarkan pidato saya. Mohon maaf bila dalam penyampaian pidato ini terdapat kekeliruan dan kesalahan perkataan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

                                                                                                                                                 (Sumber Tugas Siswa SMK N 44, dengan sedikit tambahan)

E. Memahami Puisi

1. Pengertian Puisi Belum ada definisi yang baku untuk memaparkan pengertian puisi. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang berbeda dari bentuk sastra lain seperti prosa dan drama.

Puisi terikat oleh

(1) baris dalam tiap bait,

(2), banyak kata atau suku kata dalam setiap baris,

(3) rima, dan (

4) Irama. Bahkan pada jenis puisi tertentu ada keterikatan pada persajakan seperti, a,a,a,a atau a,b,a,b, misalnya pantun dan syair. Puisi dengan persyaratan seperti di atas merupakan bentuk puisi lama. Puisi yang berkembang saat ini tidaklah lagi mematuhi persyaratan atau keterikatan pada hal-hal tersebut. Puisi lebih diartikan padawujud ekspresi pikiran dan batin seseorang melalui kata-kata yang terpilih dan dapat mewakili berbagai ungkapan makna sehingga menimbulkan tanggapan khusus, keindahan, dan penafsiran beragam. Dalam pengertian bebas yang lain, puisi disebut juga ucapan atau ekspresi tidak langsung atau ucapan ke inti pati masalah, peristiwa, ataupun narasi (Pradopo, 2005: 314).

Pemilihan kata dan penataan kalimat yang terdapat dalam puisi bertujuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan atau pengalaman bathin yang utuh. Hal itu menjadikan puisi mengandung unsur kepadatan, keselarasan, dan keterpaduan. Puisi yang hanya terdiri atas beberapa baris atau satu bait jika mengungkapkan makna yang utuh dan selaras mungkin lebih bernilai daripada sajak yang panjang namun tak utuh dan selaras. Perhatikan contoh puisi di bawah ini.


                                                                                                 SENYUM DAN TAWAMU

Dalam senyummu yang khas ternyata pikiranmu

seperti benang kusut Dalam tawamu

yang riang ternyata pikiranmu

penuh berbagai urusan Oh .....Papa, jangan bohongi aku.

                                                                                                                                                             (Anita, Jakarta Jakarta. Jakarta : Anita Marta, 1980)

Bandingkanlah dengan puisi berikut ini:


                                                                                                            ANGIN

Ketika aku kecil aku hanya tahu angin yang suka menerbangkan kertas-kertasku Mama bilang, itu angin nakal Dan aku tidak boleh seperti angin itu Lalu mama bercerita tentang angin yang meniup bunga-bunga mawar di kebunku Sekarang aku sudah tahu angin dapat juga membuat aku sakit Kalau aku berangin-angin dan badanku sedang berkeringat Kemarin, papa bercerita tentang angin yang sangat nakal angin itu bernama angin topan Papa bilang, angin itu dapat merobohkan rumah-rumah Oh ..... aku takut sekali Papa membelaiku kau tidak usah takut jika kau rajin berdoa dan tidak nakal Papa aku berjanji tidak nakal dan rajin berdoa Agar Tuhan tidak meniup angin yang sangat menakutkan itu (Sumber Tugas Siswa Lucia Marian Djunjung, SMP Ricci kelas 2A Jakarta Barat) Puisi modern tidak terlalu mementingkan bentuk fisik atau tipografi tertentu. Sebuah uraian disebut puisi meskipun bentuknya mirip prosa tidak berbentuk bait atau baris, tetapi mengandung pengertian yang dalam dari sekadar ungkapan bahasanya, seperti contoh puisi atau sajak Sapardi Djoko Damono di bawah ini. AIR SELOKAN “Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari Minggu pagi. Waktu itu kau berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung—ia hampir muntah karena bau sengit itu. Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu: “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu—alangkah indahnya!” Tetapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali, 2. Hakikat Puisi Puisi bukan lagi sebuah bentuk karya sastra yang kaku dan penuh persyaratan. Puisi dalam pengertian modern adalah puisi yang bebas. Puisi merupakan aktualisasi ekspresi dan ungkapan jiwa penulisnya. Oleh sebab itu, siapa saja dapat membuat puisi, meskipun tentu tetap ada bentuk khas sebuah puisi sebagai ukuran standar yang membedakannya dengan bentuk karya sastra yang lain. Artinya setiap orang dapat menggunakan sarana-sarana kepuitisan seperti rima, irama, diksi, dan lainnya untuk mengintensitaskan ekspresi dan pengalaman jiwanya, bukan menjadikannya syarat pengikat. Sebagai sebuah karya sastra, puisi tetap harus memiliki kemampuan menampung segala unsur yang berkaitan dengan kesastraan.

Setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk memahami hakikat puisi. Tiga aspek tersebut, yaitu: sifat seni, kepadatan, dan ekspresi tidak langsung.

a. Sifat atau Fungsi Seni Sebagai karya sastra, di dalam puisi harus terdapat unsur estetika atau keindahan. Unsur ini dapat dibangun denganpemanfaatan gaya bahasa. Gaya bahasa meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu seperti, bunyi, kata, dan kalimat. Semua unsur bahasa di dalam puisi dapat digunakan untuk menampilkan sisi keindahan di dalam puisi. Perhatikan permainan kata menjadi nada atau tinggi rendahnya bunyi serta menimbulkan keindahan di pendengaran tanpa mengurangi kepaduan atau ke selarasan maknanya pada puisi Hartojo Andangdjaja di bawah ini. NYANYIAN KEMBANG LALANG putih kembang-kembang lalang putih rindu yang memanggil-manggil dalam dendang orang di dangau orang di ladang putih jalan yang panjang kabut di puncak Singgalang sepi yang menyanyup di ujung pandang putih bermata sayang wajah rawan tanah minang

b. Kepadatan Di dalam puisi, ungkapan yang ingin disampaikan tidak semuanya diuraikan. Puisi hanya mengungkapkan inti masalah, peristiwa, atau cerita. Puisi hanya mengungkapkan esensi atau sari pati sesuatu. Maka, untuk menulis puisi, penyair harus pandai memilih kata yang akurat. Terkadang sebuah kata diambil bentuk dasarnya saja dan hubungan antar-kalimat terjadi secara implisit, bahkan kata-kata yang tak perlu dapat dihilangkan. Yang terpenting adalah setiap unsur di dalam puisi memiliki keterikatan dan keterpaduan makna. Maka, salah satu cara untuk mengungkapkan kandungan isi dalam puisi ialah membuat parafrasa puisi menjadi prosa dengan menyempurnakan kalimat atau memberikan pengertian pada kata-katanya agar menjadi jelas atau lugas. Perhatikanlah puisi Chairil Anwar berikut ini. SELAMAT TINGGAL Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu – dalam hatiku? – Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah .....!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal .....!! Selamat tinggal .....!! c. Ekspresi Tidak Langsung Selain mengandung nilai estetika atau keindahan serta bentuk pilhan kata dan tata kalimat yang mengandung pengertian yang padat, puisi juga merupakan media pengungkapan ekspresi secara tidak langsung. Pengungkapan ekspresi tidak langsung ini terbukti dengan dominannya penggunaan kata yang bermakna konotasi atau kiasan. Di dalam puisi, juga penyair dapat menggunakan idiom, pepatah, majas, atau peribahasa dalam mengungkapkan sesuatu secara implisit. Ini dilakukan agar puisi memiliki cita rasa tersendiri dengan penggunaan kata berjiwa atau stilistika sehingga pembaca atau pendengar memiliki rasa ingin tahu kandungan makna yang tersembunyi dalam sebuah puisi atau hal yang sesungguhnya ingin diungkapkan penyair lewat puisinya. Dalam pandangan awam puisi memang harus mengandung daya tarik atau kemisterian. Seorang kritikus sastra mengatakan puisi bukanlah susunan katakata yang membentuk baris dan bait melainkan sesuatu yang terkandung di dalam kata, baris, dan bait itu. Contoh puisi yang menggunakan simbol atau ungkapan: DI MEJA MAKAN Pada mulut terkunyah duka Tatapan matanya pada lain isi meja Lelaki muda yang dirasa Tidak lagi dimilikinya. Ruang diributi jerit dada Sambal tomat pada mata Meleleh air racun dosa. ............ (W.S. Rendra)

3. Unsur-Unsur di dalam Puisi Selain memiliki unsur-unsur yang tampak seperti diksi (penggunaan ungkapan, majas, peribahasa), tipografi (pola susunan puisi seperti larik, bait) dan rima/ritme (persamaan bunyi), puisi juga memiliki unsur batin. Unsur batin di dalam puisi meliputi: tema, rasa (feeling), nada ,dan amanat. a. Tema Tema adalah landasan atau dasar pijakan bagi penyair untuk mengembangkan puisi. Tema juga merupakan gagasan pokok yang diungkapkan dalam sebuah puisi. Jika tema mengenai Tuhan, untaian kata-kata, majas, serta idiom yang digunakan mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan. Begitu pula bila temanya tentang cinta, pilihan kata (diksi) yang digunakan oleh penyair berkaitan dengan permasalahan cinta. Contoh: PADAMU JUA Habis kikis Segala cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rinda rupa Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati Engkau cemburu Engkau ganas Mangsa aku dalam cakarmu Bertukar tangkap dengan lepas Nanar aku gula sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara di balik tirai Kasihmu sunyi Menunggu seorang diri Lalu waktu-bukan giliranku Mati hari-bukan kawanku.... Karya: Amir Hamzah

b. Perasaan /Rasa Rasa adalah ungkapan atau ekspresi penyair kepada sesuatu yang dituangkan ke dalam puisinya. Rasa juga merupakan cara bagaimana penyair mengejawantahkan bentuk perasaan dan pengalaman batinnya kepada keahlian untuk memilih kata-kata figuratif yang dianggap dapat mewakili perasan atau ekspresinya terhadap sesuatu. Keahlian menuangkan gejolak batin, gairah, kerinduan, atau bentuk ungkapan lain berupa pilihan kata dan simbol-simbol gaya bahasa menjadikan puisi makin terasa indah dan punya kedalaman makna. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh lariklarik penggalan puisi Tuhan karya Bahrun Rangkuti di bawah ini. Hanyut aku Tuhanku Dalam lautan kasih-Mu Tuhan bawalah aku Meninggi ke langit ruhani

c. Nada dan Suasana Nada adalah bentuk sikap atau keinginan penyair terhadap pembaca. Apakah penyair lewat puisinya ingin memberikan nasihat, menyindir, mengkritik, atau mengejek pembaca. Suasana adalah akibat yang ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca. Nada dan suasana memiliki kaitan yang erat. Nada puisi yang bersifat kesedihan dapat membuat perasaan pembaca merasa iba. Nada yang mengandung kritikan membuat suasana hati pembaca merasa ingin memberontak dan sebagainya.

d. Pesan atau Amanat Pesan atau amanat adalah hal yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca lewat kata-kata dalam puisinya. Makna dapat ditelaah setelah pembaca memahami tema, nada, dan suasana puisi tersebut. Amanat juga dapat tersirat dari susunan kata-kata yang dibuat oleh penyair. Perhatikan puisi Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro, di bawah ini. DIPONEGORO Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi rapi Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselimpang semangat yang tak bisa mati Maju Ini barisan tak bergenderang bertalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati Maju Bagimu negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas di tinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang Amanat atau pesan yang tersirat dari puisi ini ialah bagaimana semangat Pangeran Diponegoro dapat hadir pada jiwa-jiwa manusia modern yang hidup di zaman sekarang. Meskipun yang dihadapi bukan lagi penjajah melainkan berbagai masalah yang terjadi pada bangsa yang sedang berkembang seperti masalah pengangguran, pemerataan, dan keadilan, namun tetap semangat membela kebenaran khususnya bagi para kaum yang tertindas jangan pernah punah.


Beri Penilaian

Rating : 2.2/5 (14 votes cast)


Peralatan pribadi