Kreativitas 12.1 Nani darmayanti

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

A. Menyimak Puisi

    

    Dalam pelajaran pertama di Kelas Unggul, Anda akan belajar mendengarkan atau menyimak puisi. Mendengarkan puisi merupakan salah satu kegiatan apresiasi selain membaca puisi dengan penuh penghayatan, menulis puisi dan mendeklamasikannya, serta menulis resensi puisi. Kegiatan apresiasi tersebut menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam (dengan penuh penghayatan), merasakan hal yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi, dan menghargai puisi sebagai karya seni dengan keindahan dan kelemahannya.

    Dalam Kamus Istilah Sastra, Abdul Razak Zaidan (1991) membatasi pengertian apresiasi puisi sebagai penghargaan atas puisi sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi itu. Dalam batasan ini, syarat untuk dapat mengapresiasi karya sastra adalah kepekaan batin terhadap nilai-nilai karya sastra sehingga seseorang

1. mengenal,

2. memahami,

3. menafsirkan,

4. menghayati, dan

5. menikmati karya sastra tersebut.

    Untuk mengapresiasi puisi, kita harus mengenal hakikat puisi, yaitu tema, nada dan suasana, perasaan, serta amanat dari puisi tersebut.


1. Tema Puisi

   Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema mengacu kepada penyair. Pembaca harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema sebuah puisi. Oleh karena itu, tema bersifat khusus (diacu dari penyair), objektif (semua pembaca harus menafsirkan sama), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya). Tema yang banyak terdapat dalam puisi adalah tema ketuhanan (religius), kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilan, kritik sosial, demokrasi, dan kesetiakawanan. harus dihargai, diperhatikan, dan ditolong. Ia juga manusia yang mempunyai martabat yang sama seperti kita. Martabat gadis itu lebih tinggi daripada menara katedral, artinya martabat gadis itu dapat juga menjadi lebih tinggi daripada orang-orang kaya atau orang beriman sekalipun.

2. Nada dan Suasana Puisi

   Di samping tema, puisi juga mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itu terciptalah suasana puisi. Ada puisi yang bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, serius (sungguh-sungguh), patriotik, belas kasih (memelas), takut, mencekam, santai, masa bodoh, pesimis, humor (bergurau), mencemooh, karismatik, filosofis, khusyuk, dan sebagainya.


    Nada kagum, misalnya, terdapat dalam puisi "Perempuan- Perempuan Perkasa" (Hartoyo Andangjaya) dan "Diponegoro" (Chairil Anwar). Nada main-main, misalnya, terdapat dalam puisi "Biarin" (Yudhistira ANM Massardi) dan "Shang Hai" (Sutardji Calzoum Bachri). Nada Patriotik, misalnya, terdapat dalam puisi "Karawang Bekasi" (Chairil Anwar) dan "Pahlawan Tak Dikenal" (Toto Sudarto Bactiar). Penyakit telah menggerogoti tubuh Chairil Anwar sehingga ia menyadari bahwa kematian akan datang kepadanya. Gambaran hidupnya yang dihantam penyakit tersembunyi digambarkan dalam lirik di tingkap merapuh/dipukul angin yang terpendam. Ia pasrah meskipun di saat menjelang kematiannya, ada yang belum diucapkan. Kematian disebutnya sebagai kekalahan yang selalu ditunda.

3. Perasaan Puisi

   mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan dapat kita tangkap jika puisi itu dibaca keras dalam pembacaan puisi atau deklamasi. Membaca puisi atau mendengarkan pembacaan puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita mengetahui perasaan penyair yang melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut. Perasaan yang menjiwai puisi dapat merupakan perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal. Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam "Senja di Pelabuhan Kecil", J.E. Tatengkeng dalam "Anakku", Agnes Sri Hartini dalam "Selamat Jalan Anakku", dan Rendra dalam "Orang-Orang Rangkas Bitung". 4. Amanat Puisi Amanat, pesan, atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca atau pendengar setelah membaca atau mendengar pembacaan puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca atau pendengar. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh terhadap amanat puisi. Cara menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca atau pendengar terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca atau pendengar, amanat tidak dapat dilepaskan dari tema dan isi puisi yang dikemukakan penyair.

Perhatikan puisi "Doa" (Chairil Anwar) berikut.

   Puisi "Doa" karya Chairil Anwar mengandung bermacam-macam amanat, seperti yang terlihat di bawah ini.

a. Manusia sering berbuat dosa dalam hidupnya. Oleh karena itu, hendaknya, manusia bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.

b. Tuhan selalu menerima manusia yang bertobat.

c. Tobat adalah jalan menuju kebaikan dan meminta ampunan kepada Tuhan.

d. Jangan menutup diri terhadap pengampunan Tuhan sebab hanya dengan ampunan-Nya hidup kita dapat menjadi lebih baik.

Berikut ini adalah sebuah puisi karya Apip Mustopa. Mintalah teman Anda untuk membaca di depan kelas

B. Menemukan Ungkapan, Peribahasa, dan Majas dalam Puisi

   Dalam Pelajaran 1A, Anda telah belajar menyimak puisi. Sekarang, Anda akan melanjutkan kembali pelajaran tersebut. Dengan demikian, pemahaman Anda tentang menyimak puisi akan semakin lengkap. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar menyimak puisi berdasarkan bahasa yang digunakannya. Dalam puisi, biasanya, akan ditemukan ungkapan, peribahasa, dan majas. Apabila Anda memahami hal tersebut, Anda akan semakin mudah memahami pesan yang tersirat dalam puisi. Oleh karena itu, Anda akan diperkenalkan dengan ungkapan, peribahasa, dan majas.

1. Ungkapan

Ungkapan adalah kata atau kelompok kata yang mempunyai makna khusus dan makna tersebut sudah disepakati oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut. Contoh:

2. Peribahasa

Peribahasa adalah kalimat atau kelompok kata yang tetap susunannya dan, biasanya, mengiaskan maksud tertentu. Peribahasa dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berikut.

a. Pepatah

adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran.

Contoh:

• Hidup berakal mati beriman (Hendaknya kita berpanjang akal dalam mengerjakan sesuatu)

• Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga (Kebaikan seseorang akan selalu dikenang selama-lamanya)

b. Perumpamaan

adalah peribahasa dalam bentuk perbandingan, biasanya, dalam peribahasa tersebut digunakan kata seperti, ibarat, bagai, bak, laksana, dan umpama.

Contoh:

• Bagai itik pulang petang (Pekerjaan yang dikerjakan dengan santai)

• Ibarat seekor balam, mata terlepas badan terkurung (Seseorang yang dipingit; hidupnya selalu diawasi)

c. Pameo

adalah peribahasa yang dijadikan semboyan.

Contoh:

• Esa hilang, dua terbilang.

• Sekali di udara, tetap di udara.


3. Majas

Majas (figurative of speech atau figurative language) adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk memperoleh efek tertentu dari suatu benda atau hal dengan cara membandingkannya dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Dengan kata lain, penggunaan majas tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (bdk Tarigan, 1995: 112). Menurut Perrine (dalam Waluyo, 1995: 83), penggunaan majas dipandang lebih efektif untuk menyatakan maksud penyair karena

a. majas mampu memberi kesenangan imajinatif;

b. majas adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca;

c. majas adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair;

d. majas adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang singkat. Secara garis besar, majas dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok besar, seperti yang tampak dalam tabel berikut.

a. Majas Perbandingan

1) Perumpamaan (simile)

   Perumpamaan (simile) adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan dengan sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan dengan pemakaian kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa. Majas perumpamaan ini dapat dikatakan majas yang paling sederhana dan paling banyak digunakan. Contoh: • Wajahnya putih laksana bulan purnama. • Cobaan ini seperti badai yang tiada henti.

2) Metafora Metafora

   adalah perbandingan yang dilakukan secara implisit antara dua hal yang berbeda. Metafora hampir sama dengan perumpamaan, hanya saja dalam metafora perbandingan dilakukan secara langsung tanpa menggunakan kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa. Contoh:

• Aku adalah binatang jalang dari kumpulannya terbuang.

• Dia sampah masyarakat di daerah ini.

• Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya.

3) Personifikasi

   Personifikasi adalah majas yang melekatkan sifat-sifat insani (manusiawi) pada benda-benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Penggunaan majas personifikasi dapat memberi kejelasan dan bayangan angan (citraan) yang konkret.

4) Alegori

Alegori adalah cerita yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Alegori dapat dikatakan sebagai metafora yang dilanjutkan. Jadi, memahami majas alegori harus dari keseluruhan teks. Cerita fabel (dongeng binatang) merupakan salah satu contoh alegori. Selain itu, kita juga dapat menemukan

contoh alegori dalam teks puisi,


b. Majas Pertentangan

1) Hiperbola

Hiperbola adalah majas yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan, baik jumlah, ukuran, maupun sifat-sifatnya. Tujuan menggunakan majas hiperbola adalah untuk mendapatkan perhatian yang lebih saksama dari pembaca.

Contoh:

• Sampah-sampah di Kota Bandung bertumpuk setinggi gunung.

• Karena kekurangan gizi, badan anak itu kerempeng tinggal kulit membalut tulang.

• Buku Harry Potter telah mengguncang dunia.

2) Litotes

Litotes sering dikatakan sebagai kebalikan dari hiperbola. Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya.

Contoh:

• Mampirlah ke gubuk kami yang kurang nyaman ini. (Padahal, kenyataannya, rumahnya bagus dan nyaman.)

• Ini hanyalah tulisan biasa yang kurang berbobot. (Padahal, isi tulisan tersebut sangat bagus.)

3) Ironi

Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme dengan munculnya kata-kata yang lebih kasar.

Contoh:

• Aduh, bersih sekali kamar ini, sampah makanan bertebaran di mana-mana.

• Rajin sekali Anda datang ke sekolah, bel masuk sudah berbunyi dua jam yang lalu.


c. Majas Pertautan

1) Metonimia

Metonimia adalah majas yang mempergunakan nama suatu barang untuk sesuatu yang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut. Dapat dikatakan pula bahwa metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau suatu hal sebagai penggantinya.

Contoh:

• Siswa kelas X sedang menonton pementasan Shakespeare di gedung teater. (Shakespeare digunakan untuk mengganti salah satu karya drama Shakespeare yang dipentaskan.)

• Saya lebih suka Dewa karena lirik lagunya penuh makna. (Hal yang dimaksud dengan Dewa dalam kalimat tersebut adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh kelompok band Dewa.)

• Peristiwa terbakarnya Garuda menambah panjang catatan peristiwa kecelakaan pesawat udara di tanah air. (Hal yang dimaksud garuda dalam kalimat tersebut bukan burung, melainkan nama pesawat terbang.)

2) Sinekdoke

Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya. Sinekdoke digunakan untuk mengungkapkan kejadian langsung dari sumbernya sehingga menimbulkan gambaran yang lebih konkret. Ada dua macam sinekdoke, yakni pars pro toto dan totem pro parte.

a) Pars pro toto

adalah sinekdoke yang menyatakan bagian untuk keseluruhan. Maksudnya, untuk menonjolkan suatu hal dengan menyebutkan salah satu bagian yang terpenting dari keseluruhan hal, keadaan, atau benda dalam hubungan tertentu. Misalnya, hanya menyebutkan suara, mata, hidung, atau bagian tubuh yang lain untuk menggambarkan orang.

Contoh:

• Sudah lama dia tidak kelihatan batang hidungnya.

• Setiap tahun, semakin banyak mulut yang harus diberi makan.

b) Totem pro parte

adalah sinekdoke yang menyebutkan keseluruhan atau melihat sesuatu secara generalisasi untuk menonjolkan sebagian. Contoh: • SMA Nusantara menjadi juara umum dalam lomba catur nasional. • Bandung meraih pres tas i gemi lang di bidang kesenian.

3) Eufimisme

Eufimisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Eufimisme berkaitan dengan bentuk konotasi positif dari sebuah kata.

Contoh: tunakarya bentuk halus dari pengangguran tunasusila bentuk halus dari pelacur prasejahtera bentuk halus dari sengsara tunarungu bentuk halus dari cacat tuli

4) Alu sio Alusi atau alusio

adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan praanggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan pembaca untuk menangkap pengacuan tersebut.

Contoh:

• Tugu ini mengingatkan kita pada peristiwa Bandung Lautan Api.

• Saat mendengar Moh. Toha, saya teringat kembali peristiwa peledakan gudang senjata di Bandung Selatan.


d. Majas Perulangan

1) Aliterasi

Aliterasi adalah majas yang menggunakan kata-kata dengan bunyi awal yang sama (purwakanti).

Contoh:

Contoh lain misalnya: dara damba daku datang dari danau duga dua duka diam di diriku

2) Repetisi

Repetisi adalah majas yang mengandung pengulangan berkali-kali atas kata atau kelompok kata yang sama. Bentuk repetisi dapat terlihat secara jelas dalam mantra dan puisipuisi karya Sutardji Calzoum Bachri. Kini, perhatikanlah puisi berikut.


C. Menyimak Prosa

    Fiksi Anda akan belajar menyimak prosa fiksi. Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, yang tidak terikat rima dan irama. Berdasarkan bentuknya, prosa terdiri atas novel, cerpen, dan dongeng. Struktur novel atau cerpen dibentuk oleh unsur-unsur intrinsik, yaitu tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat.

1. Tema

   Tema merupakan inti atau pokok yang menjadi dasar pengembangan cerita. Tema mempunyai posisi atau kedudukan yang penting dalam sebuah cerita. Untuk memahami tema sebuah cerita, kita harus membaca cerita itu secermat-cermatnya.

2. Alur (Plot)

   Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Pola pengembangan suatu cerpen atau novel tidak seragam. Secara umum, jalan cerita terbagi dalam bagian-bagian berikut:

a. pengenalan cerita;

b. timbulnya konflik;

c. konflik memuncak;

d. klimaks; dan

e. pemecahan masalah atau penyelesaian.

Perhatikan bagan berikut dengan saksama.

3. Latar

  Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan budaya yang digunakan dalam suatu cerita. Latar dapat bersifat faktual atau imajiner. Fungsi latar adalah memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita. Dengan demikian, apabila pembaca sudah menerima latar sebagai sesuatu yang benar, dia akan lebih siap dalam menerima pelaku ataupun kejadian-kejadian yang ada dalam latar itu.

4. Penokohan

Penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.

Untuk menggambarkan karakter tokoh-tokohnya, pengarang dapat menggunakan teknik berikut.

a. Teknik analitik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.

b. Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui:

1) penggambaran fisik dan perilaku tokoh;

2) penggambaran lingkungan kehidupan tokoh;

3) penggambaran bahasa yang digunakan para tokoh;

4) pengungkapan jalan pikiran tokoh; dan

5) penggambaran oleh tokoh lain.

5. Point of View atau Sudut Pandang

    Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita.

Posisi pengarang ini terdiri atas dua macam, yaitu:

a. Berperan langsung sebagai orang pertama, sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita yang bersangkutan. Biasanya, tokoh tersebut menggunakan kata ganti aku.

b. Hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.

6. Amanat

  Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat disimpan rapi dan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukan amanat, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, tetapi harus membaca keseluruhan cerita sampai tuntas.

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Keraf, 1991: 113). Ruang lingkup gaya bahasa meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata. Berikut terdapat sebuah cerpen. Mintalah salah seorang teman Anda untuk membaca cerpen ini, sedangkan teman-teman yang lain menyimak dengan baik.


D. Menyimak Teks Ilmiah Sederhana

    Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah belajar menyimak prosa fiksi dan puisi. Sekarang, Anda akan belajar menyimak prosa ilmiah atau teks ilmiah atau karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah disusun berdasarkan hasil penelitian. Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah, membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori, proses gejala alam, atau proses sosial. Karya ilmiah hasil penelitian dapat berupa makalah, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah yang dipublikasikan (artikel atau buku).

Karya tulis ilmiah atau laporan ilmiah, pada umumnya, memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

a. Karya ilmiah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

b. Karya ilmiah disusun secara sistematis, dengan tata urutan yang jelas.

c. Karya ilmiah dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat diterima akal sehat.

d. Fakta yang digunakan dalam karya ilmiah harus dapat dipercaya.

e. Karya ilmiah harus dapat menimbulkan gambaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, dan kondisi penerima karya ilmiah.

f. Karya ilmiah harus dibuat lengkap dan sempurna.

g. Karya ilmiah harus objektif dan aktual.

Karya tulis ilmiah memiliki sistematika penulisan khusus. Secara umum, sistematika penulisan tersebut meliputi pendahuluan, pembahasan, kesimpulan, dan saran.

1. Bagian Pendahuluan

  Pada bagian pendahuluan atau awal pembahasan, dikemukakan hal-hal yang berkenaan dengan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sumber data. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan berikut.

a. Latar Belakang Masalah

Pada bagian ini, penulis mengemukakan alasan mengapa suatu hal perlu diteliti dan ditulis. Misalnya, karena masalah yang dibahas mempunyai arti penting bagi masyarakat.

b. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah merujuk pada masalah-masalah yang dikemukakan dalam latar belakang. Penulis membatasi ruang lingkup permasalahan agar lebih fokus dan mudah untuk dirumuskan.

c. Perumusan Masalah

Perumusan masalah harus jelas. Permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian diajukan dalam bentuk pertanyaan. Merujuk pada pertanyaan itu, penulis melakukan langkah-langkah penelitian dan penelaahan sehingga pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan tepat.

d. Tujuan Penelitian

Dalam tujuan penelitian atau penulisan, dikemukakan usaha-usaha dan hasil-hasil yang telah dicapai secara garis besar. Jika karya ilmiah bertujuan menyampaikan pandangan atau penilaian penulis tentang topik yang telah diteliti, tujuan umummengemukakan hipotesis penelitian dan penilaian penulis sesudah penelitian. Dalam tujuan khusus, perlu dikemukakan pertimbangan-pertimbangan yang mendukung penilaian.

e. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dapat diuraikan secara umum dan khusus. Misalnya, untuk kepentingan praktis, bidang keilmuan atau bidang profesi penulis, dan untuk kepentingan kelompok atau instansi.

f. Penentuan Sumber

Data Penentuan sumber data meliputi populasi dan sampel. Populasi di bidang metodologi penelitian berarti sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel penelitian. Adapun sampel berarti contoh, yakni bagian kecil data penelitian yang dianggap dapat mewakili keseluruhan data yang dianalisis untuk memperoleh informasi tentang seluruh data penelitian.

g. Hipotesis

Hipotesis adalah sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.

h. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembahasan dan penelitian karya ilmiah. Biasanya, definisi operasional menguraikan rumusan kata atau frase yang terdapat dalam judul.

2. Bagian Isi atau Pembahasan

  Pada bagian pembahasan, dikemukakan gagasan permasalahan yang hendak disampaikan. Jika karya tulis itu merupakan sebuah laporan penelitian, di dalamnya dikemukakan temuan-temuan dan analisis atas data sebagai hasil dari penelitian yang telah dilakukan.

3. Bagian Penutup

Bagian penutup karya tulis ilmiah diisi dengan kesimpulan dan saran atau rekomendasi. Di dalamnya, dikemukakan secara singkat masalah-masalah penting dari pembahasan sebelumnya. Rekomendasi, pada intinya, merupakan tindak lanjut yang dikehendaki atas temuan atau masalah-masalah yang belum terbahas dalam karya tulis itu. Perhatikan contoh karya ilmiah berikut. Sebelum Anda mencoba menulis sebuah karya ilmiah, bacalah contoh penulisan karya ilmiah yang berjudul "Perilaku Sadar Lingkungan Hidup pada Siswa-Siswa SMK Merdeka II" berikut ini.


Beri Penilaian

Rating : 4.2/5 (16 votes cast)


Peralatan pribadi