Keindahan Alam - Sarwiji 7.2

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

KEINDAHAN ALAM


A. Menyimak dan Merefleksi Isi Puisi

Setelah mengikuti pembelajaran berikut ini, kamu diharapkan dapat:
􀁺 menentukan citraan isi puisi
􀁺 merefleksi isi puisi yang didengarkan.

Pada pembelajaran sebelumnya, kamu telah mampu merefleksi isi puisi dengan mempertimbangkan nada, suasana, irama, dan pilihan kata. Pada pembelajaran berikut ini, kamu akan mempelajari bagaimana merefleksi puisi dengan menangkap isi puisi, seperti gambaran penginderaan, perasa, dan pendapat, serta merefleksi isi puisi.

1. Citraan Isi Puisi

Untuk menyampaikan maksud, ide, dan gagasannya, pengarang berusaha mengkonkretkan melalui gambaran (citraan) penginderaan, perasa, dan pendapat. Dengan penggambaran atau citraan itu, ide dan gagasan pengarang akan semakin mudah ditangkap pembacanya.

Perhatikan contoh citraan puisi berikut ini!
......................................
Angin berhembus tertahan-tahan
Daun berisik rasa kesukaan
Bulan perlahan-lahan
Menuju maghrib peraduan
Karya Y.E. Tatengkeng

Pada baris pertama puisi di atas seolah-olah pembaca merasakan hembusan angin, " angin berhembus tertahan-tahan". Inilah yang dimaksud gambaran perasa. "Daun berisik rasa kesukaan" pada baris kedua seolah pembaca dapat mendengar suara daun yang berisik.Larik "bulan perlahanlahan", "menuju maghrib peraduan" merupakan penggambaran indera penglihatan, yakni sedang menyaksikan bulan yang akan segera tenggelam.

2. Menentukan Gambaran Penginderaan, Perasa, Pendapat, dan Merefleksikan Isi Puisi

Bacalah puisi berikut ini dengan cermat!
Tanah Kelahiran

Seruling di pasir tipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang-Tangkubanperahu
Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun
Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali
Kenakan kebaya ke pewayangan,
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.
(Ramadhan K.H., Priangan Si Jelita)

Bentuklah kelompok diskusi yang terdiri atas empat atau lima orang.
a. Diskusikan gambaran penginderaan, perasa, pendapat pada puisi di atas!
b. Renungkan isi puisi di atas, kemudian tuliskan perasaanmu setelah membaca puisi itu.
c. Tuliskan simpulanmu isi puisi di atas.

B. Menanggapi Cara Pembacaan Cerpen

Setelah mengikuti pembelajaran berikut ini, kamu diharapkan dapat:
􀁺 mengungkapkan tokoh-tokoh dengan cara penokohannya disertai data tekstual
􀁺 menanggapi cara pembacaan puisi temanmu.

Pada pembelajaran sebelumnya, kamu telah dapat menanggapi bagaimana temanmu membacakan cerpen. Nah, kali ini kamu dalami lagi materi pembelajaran tersebut.

1. Mendengarkan Pembacaan Cerpen

Mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan cerpen berikut ini. Dengarkan dengan saksama dan sebutkan tokoh serta penokohannya!

                                                  Pada Tikungan Berikutnya
                                                Cerpen Musmarwan Abdullah

Aku berjalan kaki menempuh jalan pinggiran kota menuju ke kantor redaksi. Cerpenku kali ini dimuat pada saat yang tepat, di saat aku membutuhkan uang sesedikit apa pun. Nah, cuma itu yang ingin kusampaikan padamu, kawan. Selebihnya, tak ada yang dapat kuceritakan. Di ruang langit menggelantung awan-asap mesiu. Di hamparan tanah, darah bepercikan di batu-batu jalan. Dan, ke mana pun wajah kupalingkan, yang kulihat hanya tentara-tentara.

"Berhenti!" tiba-tiba berteriak sekelompok tentara yang berdiri di tepi jalan yang tengah kulewati. Dan, begitulah aku wajib berhenti setiap tubuh kerempeng ini berpapasan dengan tubuh-tubuh mereka yang gagah dalam uniform militer yang megah.
"Angkat bajumu!"
Dan, aku mengangkat bajuku. Mereka meneliti sekeliling pinggangku. Tak ada pistol-rakitan yang terselip di sana. Tak ada sebilah rencong yang menantang di situ.

"Keluarkan kartu pendudukmu!"
Ya, kukeluarkan kartu pendudukku. Mereka membaca dengan suara agak tinggi: "Nama lengkap: Musmarwan bin Abdullah! Jenis kelamin: laki-laki! Tempat/tanggal lahir: Tanjong, sembilan-belas-enam-tujuh! Agama: Islam! Pekerjaan: penulis cerita pendek!" Sampai di sini mereka berhenti. Tentara yang membaca itu melihat ke arah temannya.
"Coba buktikan!" kata temannya itu.
Lalu mereka memberiku selembar kertas dan sebatang pena. Sambil tetap berdiri di situ aku menulis, "Tak ada yang dapat kuceritakan padamu, kawan, di saat inspirasi telah menjadi langka di ruang kontemplasi para tukang tulis cerita. Dialog telah gagal antara pemerintah dan kaum pemberontak. Pemerintah mengakui, mereka telah bikin melarat provinsi ini selama berpuluh-puluh tahun. Tetapi, pemberontak tetap bersikukuh; ingin provinsi ini lepas dari republik. Maka, pemerintah menetapkan provinsi ini dalam status darurat militer...."

"Hentikan!" teriak mereka. Dan begitulah aku wajib menghentikan tulisanku. Tentara yang berteriak itu melihat ke arah temannya. Teman itu mengangguk, "Orang ini dapat dipercaya," katanya. Lalu menyambung, "Darurat militer diberlakukan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh provinsi ini, kau tahu?!" Aku mengangguk. Dan, aku dilepaskan untuk meneruskan langkahku.

Di tikungan berikutnya, aku berpapasan dengan sekelompok tentara yang lain. "Berhenti!" teriak mereka. Dan, aku berhenti.
"Angkat bajumu!" Aku mengangkat bajuku.
"Mana Ka-Te-Pe-mu!" Aku menyerahkan KTP-ku. Mereka membaca dengan suara agak tinggi,
"Nama: Musmarwan bin Abdullah! Tempat/tanggal lahir: Tanjong, sembilan-belas-enam-tujuh! Kawin/tidak kawin: kawin! Pekerjaan: penulis cerita pendek!" Sampai di data ini mereka berhenti. Tentara yang membaca itu melihat ke arah temannya.
"Coba buktikan!" teriak temannya itu. Dan aku pun disuruh menceritakan sesuatu dengan lisan.

Sambil tetap tegak di situ, aku berkata: "Tak ada yang dapat kuceritakan padamu, kawan, di saat inspirasi adalah ilham yang hampa di ruang kontemplasi para tukang tulis cerita. Aku tak punya keinginan untuk menembak tentara dan membunuh polisi karena aku bukan orang-orang pemberontak itu. Aku malah menyesal pada cerita-cerita ciptaanku yang tidak mampu memberikan pencerahan pada orang-orang kampung agar mereka tidak lagi memusuhi tentara dan membenci polisi, terutama di tengah darurat militer seperti ini. Atau barangkali selama ini memang ada yang tidak beres pada dua institusi ini?"

"Sudah! Cukup!" teriak mereka. Lalu menyambung, "Darurat militer digelarkan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh provinsi ini, kau tahu?!"

Aku mengangguk. Selanjutnya aku bebas meneruskan langkahku. Dan, pada tikungan berikutnya, aku berjumpa lagi dengan sekelompok tentara yang lain. Hal yang sama terjadi. Aku disuruh bercerita. Dan, aku bercerita. Dan, pada kalimat-kalimat terakhir ceritaku kubilang, "Aku bukan penganut rasisme. Waktu kaum pemberontak membunuh dan mengusir orang-orang transmigran, aku malah menangis sambil memeluk anakku karena terbayang pada anak-anak mereka yang terseret-seret di semak-semak belukar seraya mulut mendesis memanggil ibu atau ayah mereka yang terbunuh hingga tidak dapat menuntun mereka mengarungi belantara demi belantara."

"Sudah! Cukup! Sedih sekali kau bercerita!"
Dan, aku dibiarkan meneruskan jalanku. Di tikungan berikutnya lagi, nasib yang sama menimpaku pula. Dan, aku bercerita lagi. Pada sepanjang kalimat terakhir kubilang, "Dulu, waktu zaman DOM banyak orang kami yang mati tak wajar kendati kesalahannya sangat kecil dan cukup patut untuk dimaafkan. Sekarang ketika salah satu dari kelompok masyarakat provinsi ini mau benar-benar merenggut tanah kaya ini dari rangkulan republik, eee, semua mau pamer wajah dan jasa di sini. PMI dengan mayatmayatnya, Komnas HAM dengan bukti-bukti orang matinya, Kontras dengan data-data orang hilangnya, televisi dengan liputan perangnya, LSM dengan jasa makelarnya, para cendekiawan dengan komentar-komentar empatinya. O, indah nian. Semua yang di ibukota kebagian job bagus di provinsi ini. Dulu waktu kami menggelepar-gelepar bagai binatang-binatang tak berharga di bawah matahari DOM, ke manakah mereka semuanya? Di provinsi malang ini, setiap tragedi kemanusiaan akan selalu tertutupi oleh tragedi kemanusiaan berikutnya. Lingkaran siklus itu telah membuktikan, ternyata mereka tidak berarti apa-apa bagi kami."

"Sudah! Cukup!" teriak tentara yang berdiri di depanku. "Baik! Jalan!" Dan, aku kembali meneruskan jalanku. Di tikungan berikutnya, lagi-lagi kutemui nasib yang sama. Kukatakan pada mereka, "Dalam setengah hari ini aku sudah delapan kali di-sweeping. Apakah itu belum cukup?" "Haa.. haa.. haa...!" mereka tertawa. Lalu, aku disuruh membuktikan dengan jalan menceritakan kembali kronologi pemeriksaan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan. Ya, kuceritakan. Panjang sekali. Berbusa kedua pinggir mulut ini. Dan, setelah itu aku disuruh lanjutkan jalanku.

Pada belokan selanjutnya, aku berpapasan lagi dengan sekelompok tentara yang lain lagi. Peruntungan yang menimpa tiada beda. Aku lagi-lagi disuruh bercerita untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tukang cerita. Kubilang, "Tak ada lagi yang dapat diceritakan."
"Ceritakan saja!"
"Ruang langit tempat turunnya ilham telah tertutup asap mesiu."
"Cerita apa saja!"
"Tak ada."
"Tentang apa saja!"
"Tidak."
"Apa saja yang melintas di pikiran!"
"Tidak."
"Baik! Jalan! Memang sudah beku otak pengarang kita ini!"

Kulanjutkan perjalananku. Langkah tak bisa kucepatkan karena lelah. Ketika tiba di kantor redaksi, hari sudah sore. Staf bagian keuangan sudah pulang. Aku gagal mengambil honorariumku. Di dompet sudah tidak tersisa sepeser pun. Aku teringat, makanan yang tersisa di rumah hanya cukup dimakan berdua oleh anak dan isteriku tadi pagi. Dan malam ini tak ada sesuatu yang akan kubawa pulang. Mau mengutang, tidak ada tempat untuk mengutang di saat semua tengah melarat.

Aku tiba di rumah manakala senja baru berganti malam. Di kamar kudapati isteri dan anakku sudah tertidur pulas. Aku tahu kenapa isteriku mengambil inisiatif membawa tidur anak kami lebih cepat dari biasanya, hingga ia sendiri jatuh terlelap tanpa sengaja. "Tuk.. tuk.. tuk!!!" ketika aku mau ikut tidur, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku dengan malas membukanya. Seorang tentara bertopi baja menjengukkan wajahnya melalui renggang pintu yang terkuak setengah. "Darurat militer diberlakukan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh provinsi ini, kau tahu?!" katanya. Aku mengangguk. Ia menarik kembali wajahnya. Pintu sudah boleh kututup kembali.

Saat Subuh kurebahkan tubuhku pelan-pelan di samping isteriku. Aku mendesiskan kata-kata mesra padanya, kata-kata selamat tidur. Ya, tidurlah kalian dengan lelap meski perut tidak terisi apa-apa sejak siang tadi. Yang penting jangan memberontak. Di negeri ini memberontak dilarang. Dan, yang lebih penting lagi, jangan menangis. Di provinsi ini tangis tiada artinya.

Sumber: Republika, Minggu, 11 Februari 2007


C. Membaca Tabel/Diagram

Setelah mengikuti pembelajaran berikut ini, kamu diharapkan dapat:
􀁺 menyampaikan pertanyaan tentang isi tabel atau diagram
􀁺 menemukan informasi secara cepat dari tabel
􀁺 mengubah tabel atau diagram menjadi bentuk narasi

Tabel memuat sejumlah informasi atau fakta penting yang disusun secara bersistem agar dapat dengan mudah dan cepat dipahami. Dengan melihat tabel, pembaca akan dengan cepat dapat mengetahui isi bacaan dengan mengamati, membandingkan,dan memahami isi bacaan. Dengan demikian, kompetensi dasar memahami isi tabel sangat penting untuk dikuasai, untuk menjadi pembaca yang baik dan efisien.

1. Membaca Teks yang Memuat Tabel

Bacalah teks yang memuat tabel berikut ini!

Kehutanan di Kalimantan Barat
Kalimantan Barat termasuk salah satu provinsi yang memiliki kawasan hutan yang cukup luas setelah Irian Jaya, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, yaitu sekitar 6,39 persen dari luas kawasan hutan di Indonesia. Luas kawasan hutan di Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.259/KPTS-II/2000 tanggal 31 Agustus 2001 adalah sebesar 9.178.760 ha yang terbagi atas kawasan lindung dan kawasan budidaya.

LUAS KAWASAN HUTAN
2001-2003

Dalam kawasan lindung, hutan lindung memiliki luas terbesar, yaitu 2.307.045 ha, setelah itu adalah hutan taman nasional seluas 1.252.895 ha. Selanjutnya, dalam kawasan budidaya, sebagian besar adalah untuk hutan produksi terbatas sebesar 2.445.985 ha dan 2.265.800 ha merupakan hutan produksi biasa. Sementara hutan produksi konversi hanya mencapai 514.350 ha.

Sumber : Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat

2. Bermain Adu Cepat Menyusun Pertanyaan Bacaan

Berbagilah menjadi empat kelompok! Susunlah sepuluh pertanyaan berdasarkan isi bacaan yang telah kamu baca di atas! Lima dari sepuluh pertanyaan yang kamu susun harus menanyakan tentang tabel! Gurumu akan menentukan berapa lama waktu yang disediakan untuk menyusun sepuluh pertanyaan ini. Ketepatan pertanyaan dan kecepatan penyelesaian tugas merupakan kriteria pokok penilaian dalam permainan ini. Selamat bermain!
Contoh pertanyaan :

3. Bermain Adu Cepat Menjawab Pertanyaan Bacaan

Bermainlah adu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun kelompok lain!
a. Pertanyaan kelompok IV akan dijawab oleh kelompok I
b. Pertanyaan kelompok III akan dijawab oleh kelompok II
c. Pertanyaan kelompok II akan dijawab oleh kelompok III
d. Pertanyaan kelompok I akan dijawab oleh kelompok IV
Penilaian difokuskan pada jumlah jawaban benar dan batas waktu yang telah ditentukan.

D. Menulis Pesan Singkat

Setelah mengikuti pembelajaran berikut ini, kamu diharapkan dapat:
􀁺 menyebutkan isi pesan singkat
􀁺 menjelaskan perbedaan pesan singkat resmi dan tidak resmi
􀁺 menulis pesan singkat dengan kalimat efektif.

Pesan singkat dikenal dengan istilah memo. Memo digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu. Memo berasal dari singkatan memorandum yang juga diartikan nota atau surat ringkas yang berisi peringatan tidak resmi, saran, pengarahan atau petunjuk. Memo digunakan dalam situasi khusus, dalam keadaan tergesa-gesa, waktu terbatas atau mendesak. Ada dua jenis memo, yaitu resmi dan tidak resmi. Memo resmi biasanya dibuat oleh instansi pemerintah, kantor swasta atau organisasi. Memo tidak resmi dapat dibuat oleh siapa saja.

1. Memo Resmi dan Memo Tidak Resmi

Perhatikan contoh memo berikut ini!
a. Memo Tidak Resmi

b. Memo Resmi

2. Mendiskusikan Perbedaan Memo Resmi dan Memo Tidak Resmi

Bentuklah kelompok yang terdiri atas empat atau lima orang, kemudian diskusikan dalam kelompokmu perbedaan antara memo resmi dengan memo tidak resmi dengan memperhatikan contoh memo di atas.

Beri Penilaian

Rating : 4.1/5 (20 votes cast)


Peralatan pribadi