KELANGSUNGAN HIDUP MAKHLUK HIDUP.Sukis Wariyono

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan dan bertahan hidup yang berbeda-beda. Ada makhluk hidup yang jumlahnya terus berkurang, karena lingkungan sekitar tidak melindunginya dari hewan pemangsa. Selain itu, ada makhluk hidup yang mempunyai keturunan dengan jumlah banyak, sedangkan makhluk hidup lainnya mempunyai keturunan yang sedikit. Mengapa hal itu terjadi?

Setiap makhluk hidup selalu berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Suatu jenis makhluk hidup dapat hidup lestari pada suatu lingkungan karena berbagai hal. Misalnya, jenis makhluk hidup tersebut dapat menyesuaikan diri atau berdaptasi terhadap lingkungannya, dapat lolos dari seleksi alam, dan dapat berkembang biak.

A. ADAPTASI MAKHLUK HIDUP

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika makhluk hidup tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, makhluk hidup tersebut dapat punah. Sebagai contoh, jika ayam dipindah ke air lama-kelamaan akan mati karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan berair. Jadi, adaptasi adalah kemampuan makhluk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kemampuan adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan hidup. Makin besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan bertahan hidup. Dengan kemampuan adaptasi yang besar, suatu jenis makhluk hidup dapat menempati habitat yang beragam.

Manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Hampir semua habitat dihuni oleh manusia. Dari pantai hingga pegunungan yang tinggi, dari hutan tropis yang yang panas dan lembap sampai gurun pasir yang kering dan panas, serta daerah kutub yang dingin.

Secara garis besar adaptasi makhluk hidup dibedakan menjadi tiga, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi perilaku.

1. Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi merupakan bentuk adaptasi pada makhluk hidup yang paling mudah kita kenal. Sebab adaptasi morfologi berkaitan dengan bentuk tubuh organ tubuh bagian luar. Berbagai contoh adaptasi morfologi sebagai berikut.

a. Adaptasi morfologi pada paruh burung

Apa jenis makanan berbagai macam burung (unggas) yang ada di sekitarmu? Kalau kita amati, ada burung yang memakan bijibijian, ada yang memakan serangga, ada yang memakan daging, dan ada yang mengisap madu. Untuk mengambil makanan dari lingkungannya, burung memerlukan paruh yang sesuai dengan makanannya.

Bentuk paruh burung nuri pendek dan kuat, sesuai dengan makanannya yang berupa biji-bijian. Bentuk paruh burung elang runcing agak panjang dan ujung paruh atas agak membengkok ke bawah. Bentuk paruh seperti itu cocok untuk merobek daging. Bentuk paruh burung pelikan panjang, lebar, dan agak berkantong. Hal itu disesuaikan dengan jenis makanannya yang licin, misalnya ikan. Bentuk paruh burung kolibri khas sekali sebagai pengisap madu, yaitu kecil, runcing, dan panjang. Aneka ragam bentuk penuh burung sesuai dengan jenis makanan itulah yang merupakan bentuk adaptasi marfologi.

b. Adaptasi morfologi pada kaki burung

Selain dapat dilihat dari bentuk paruhnya, adaptasi morfologi pada burung juga dapat dilihat dari bentuk kakinya. Ada kaki burung petengger, kaki burung pemanjat, kaki burung perenang, dan ada pula kaki burung pencengkeram. Dapatkah kamu menyebutkan bentuk kaki burung lainnya? Pada umumnya burung petengger mempunyai jari kaki panjang dan semua jari terletak pada satu bidang datar. Bentuk kaki seperti itu cocok untuk hinggap pada ranting-ranting pohon yang kecil, contohnya burung kutilang. Kaki burung pemanjat mempunyai dua jari ke depan dan dua jari ke belakang, misalnya kaki burung pelatuk. Kaki burung perenang, terdapat selaput renang di antara jari-jarinya. Burung yang biasa berenang, misalnya angsa, itik, pinguin, dan pelikan. Kaki burung pencengkram mempunyai ukuran yang pendek dan cakarnya sangat tajam. Jika sedang mencengkram mangsa, jari depannya dapat diputar ke belakang. Burung yang mempunyai kaki seperti itu, misalnya burung elang, rajawali, dan burung hantu.

c. Adaptasi morfologi pada mulut serangga

Adaptasi morfologi pada serangga dapat kita lihat pada tipe mulutnya. Bagian mulut serangga pada dasarnya terdiri atas satu bibir atas (labrum), sepasang rahang (mandibula), satu hipofaring, sepasang maksila, dan satu bibir bawah (labium). Pada belalang, jangkrik, dan kecoa mulutnya dilengkapi dengan rahang atas dan rahang bawah yang sangat kuat. Tipe mulut seperti pada serangga tersebut dinamakan tipe mulut penggigit. Kutu dan nyamuk mulutnya mempunyai rahang yang panjang dan runcing, sehingga memungkinkan untuk menusuk kulit manusia atau hewan lain. Tipe mulut seperti itu dinamakan tipe mulut penusuk-pengisap. Kupukupu mulutnya dilengkapi dengan alat, seperti belalai yang panjang dan dapat digulung. Tipe mulut seperti pada kupu-kupu tersebut dinamakan tipe mulut pengisap. Lebah madu dan lalat mulutnya dilengkapi dengan alat untuk menjilat atau bibir. Tipe mulut seperti itu disebut tipe mulut pengisap-penjilat.

2. Adaptasi Fisiologi Berbeda dengan adaptasi morfologi yang tampak dari luar diri makhluk hidup, adaptasi fisiologi tidak begitu tampak sehingga sulit mengenalinya. Hal ini karena berkaitan dengan fungsi organ tubuh bagian dalam Beberapa contoh adaptasi fisiologi pada makhluk hidup sebagai berikut. a. Adaptasi terhadap kadar oksigen Oksigen merupakan zat yang sangat diperlukan makhluk hidup untuk pernapasan. Oleh karena itu, perubahan kadar zat tersebut di lingkungan akan sangat memengaruhi aktivitas organ tubuh.

Di berbagai tempat dengan ketinggian yang berbeda, kadar oksigennya akan berbeda. Kadar oksigen di dataran rendah cukup tinggi. Makin tinggi suatu tempat, kadar oksigennya makin rendah. Apa yang akan terjadi, jika seseorang berpindah dari dataran rendah ke dataran tinggi atau sebaliknya? Ingatlah bahwa oksigen dari alat pernapasan akan diangkut ke sel-sel tubuh oleh sel darah merah (eritrosit). Di dataran rendah kadar oksigen udara cukup tinggi sehingga absorbsi oksigen oleh pembuluh kapiler dapat berlangsung secara efektif dengan jumlah eritrosit yang normal. Apa yang akan terjadi jika orang yang jumlah eritrositnya normal pindah ke dataran tinggi yang kadar oksigennya rendah? Karena yang bertugas mengangkut oksigen di dalam tubuh adalah eritrosit, tubuh akan beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah eritrosit (sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam alat pernapasan dapat berjalan efektif.

b. Adaptasi pada sistem pencernaan

Pernahkah kamu melihat saluran pencernaan herbivora, misalnya sapi? Saluran pencernaan herbivora panjang dan menghasilkan enzim selulase yang dapat menguraikan selulosa. Dengan adanya selulase, pencernaan makanan yang berupa tumbuhan menjadi lebih mudah. Ingatlah, sel tumbuhan mempunyai dinding yang kuat, yang sulit untuk dicerna hewan.

Adaptasi fisiologi pada sistem pencernaan juga terjadi pada cacing Teredo navalis (hewan semacam kerang pengebor). Hewan ini sering disebut cacing kapal karena perusak kayu galangan kapal. Teredo navalis muda yang baru menetas mempunyai sepasang cangkok. Pada tepi cangkok terdapat gigi mirip kikir yang berfungsi mengebor kayu. Setelah dewasa, Teredo navalis menjadi makhluk mirip cacing. Pada saluran pencernaannya terdapat kelanjar yang mampu menghasilkan enzim selulase. Dengan enzim itulah kayukayu yang telah dilumatkan dengan gigi kikirnya dapat dicernakan

c. Adaptasi ikan terhadap salinitas (kadar garam)

Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar garamnya, yaitu perairan laut dan perairan tawar. Air laut mempunyai kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang hidup di air laut dan air tawar masing-masing memiliki cara adaptasi yang khusus. Ikan air laut tidak dapat bertahan hidup, jika dipindahkan ke air tawar, demikian pula sebaliknya.

Ikan air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih rendah dibandingkan kadar garam di lingkungannya. Ikan tersebut beradaptasi dengan cara selalu minum dan mengeluarkan urine sangat sedikit. Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah cairan yang berada di sel-sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tekanan osmosis sel-sel tubuh ikan air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air di lingkungannya, karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih tinggi daripada kadar garam air lingkungannya. Menurut hukum osmosis, larutan akan berpindah dari yang bertekanan osmosis rendah (encer) ke larutan yang bertekanan osmosis tinggi (pekat). Dengan demikian banyak air yang masuk ke tubuh ikan melalui selsel tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan mengeluarkan banyak urine.

Mengapa ikan mas atau katak tidak mampu hidup di air laut, sebaliknya paus tidak mampu berada di kolam air tawar? Tekanan osmosis di dalam sel-sel tubuh ikan air tawar jauh lebih rendah dibanding tekanan osmosis lingkungan air laut. Akibatnya, apabila ikan air tawar dimasukkan ke air laut, bentuk preadaptasinya adalah minum air sebanyak-banyaknya agar cairan di dalam sel-sel tubuh yang keluar secara osmosis ke lingkungan dapat teratasi. Namun hal ini akan sulit terus dilakukan karena apabila tekanan osmosis cairan di dalam sel-sel tubuh terlalu rendah sel-sel tubuh akan mengerut sehingga ikan air tawar tersebut mati.

3. Adaptasi Tingkah laku (adaptasi behavioral) Adaptasi tingkah laku mudah kita amati karena berupa perubahan tingkah laku untuk menyesuaikan lingkungannya agar tetap terjaga kelangsungan hidupnya. Beberapa contoh adaptasi tingkah laku sebagai berikut.

a. Mimikri

Bunglon mengelabuhi musuhnya dengan mengubah warna kulitnya. Jika berada di dedaunan, warna kulit bunglon menjadi hijau. Sebaliknya, apabila berada di tanah, warna kulit bunglon menjadi seperti tanah (kecokelatan). Perubahan warna kulit sesuai warna lingkungannya seperti yang dilakukan oleh bunglon tersebut dinamakan mimikri.

b. Autotomi

Cecak merupakan contoh hewan yang ekornya mudah putus. Dalam keadaan bahaya, cecak mengelabui musuhnya dengan cara memutuskan ekornya disebut autotomi. Jika seekor cecak dikejar oleh pemangsa, ekornya secara mendadak putus dan bergerak- gerak sehingga perhatian pemangsa akan tertuju pada ekor yang bergerak tersebut. Kesempatan itu digunakan cecak untuk menghindarkan diri dari kejaran pemangsa.

c. Hibernasi

Musim dingin adalah musim yang sangat sulit bagi hewan. Banyak hewan yang tidak dapat bertahan hidup pada musim yang keras ini. Beberapa hewan melewatinya dengan tetap giat mencari makan. Sementara itu hewan yang lain bertahan hidup dengan terlelap dalam suatu tidur khusus yang dinamakan hibernasi. Ciriciri hewan yang melakukan hibernasi, yaitu suhu tubuh rendah serta detak jantung dan pernapasan sangat lambat. Tujuannya untuk menghindari cuaca yang sangat dingin, kekurangan makanan, dan menghemat energi. Contoh hewan yang melakukan hibernasi antara lain ular, kura-kura, ikan, dan bengkarung yang tetap tinggal di sarangnya selama musim dingin.

d. Estivasi

Di beberapa belahan dunia, cuaca yang paling buruk adalah cuaca pada musim panas. Pada musim panas, udara sangat panas dan kering. Beberapa hewan bergerak mencari tempat perlindungan dan tidur. Tidur di musim panas disebut estivasi. Kata ini berasal dari kata latin yang berarti musim panas. Tujuan hewan melakukan estivasi adalah untuk menghindari panas yang tinggi dan kekurangan air. Lemur kerdil, kelelawar, dan beberapa tupai adalah mamalia yang berestivasi untuk menghindari cuaca kering.

Jenis tanaman jahe-jahean dan rerumputan melakukan estivasi di musim kemarau dengan mengeringkan dedaunannya. Adapun, pohon jati melakukan estivasi di musim kering dengan menggugurkan seluruh daunnya. Hibernasi dan estivasi, keduanya, disebut dormansi. Jadi, dormansi merupakan masa istirahat bagi makhluk hidup untuk tetap bertahan pada cuaca yang buruk.

e. Adaptasi tingkah laku pada rayap

Rayap adalah golongan serangga penghancur kayu. Mengapa rayap dengan mudah dapat mencerna kayu? Rayap mampu mencerna kayu bukan karena mempunyai enzim yang dapat mencerna kayu, melainkan karena di dalam ususnya terdapat hewan flagellata yang mampu mencernakan kayu. Hewan flagellata mampu menghasilkan enzim selulose.

Secara periodik, rayap mengalami pengelupasan kulit. Pada saat kulit mengelupas, usus bagian belakang ikut terkelupas, sehingga flagellata turut terbawa oleh usus. Untuk mendapatkan kembali flagellata tersebut, rayap biasanya memakan kembali kelupasan kulitnya (Gambar 4.10). Berbeda dengan rayap dewasa, rayap yang baru menetas suka menjilati dubur rayap dewasa untuk mendapatkan flagellata.

f. Adaptasi tingkah laku pada mamalia air

Hewan vertebrata dari golongan mamalia dan reptilia yang hidup di dalam air tetap bernapas dengan paru-paru. Hal itu tampak jelas pada cara bernapasnya, misalnya paus. Setiap saat paus muncul ke permukaan air untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya sampai paru-parunya penuh sekali, yaitu sekitar 3.350 liter. Setelah itu, paus akan menyelam kembali ke dalam air. Dengan udara sebanyak itu, paus mampu bertahan selama kira-kira setengah jam di dalam air. Pada saat muncul kembali di permukaan air, hasil oksidasi biologi dihembuskan melalui lubang hidung, seperti pancaran air mancur. Sisa oksidasi ini berupa karbon dioksida yang jenuh dengan uap air yang telah mengalami pengembunan (kondensasi).

Untuk lebih memahami adaptasi tingkah laku makhluk hidup, lakukan kegiatan berikut secara berkelompok. Sebelumnya, bentuklah satu kelompok yang terdiri atas 4 siswa; 2 laki-laki dan 2 perempuan.

B. SELEKSI ALAM Tujuan Pembelajaran

Alam selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh bencana alam, keadaan suhu yang terlalu dingin atau panas, pergantian musim, dan sebagainya. Adanya perubahan kondisi alam tersebut menuntut makhluk hidup untuk melakukan adaptasi. Masih ingatkah kamu, apa tujuan adaptasi? Tidak semua makhluk hidup mempunyai kemampuan adaptasi yang sama. Akibatnya, ada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup, namun ada pula yang musnah karena tidak mampu bertahan hidup.

Selain dipengaruhi oleh perubahan alam, kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, parasit, pemangsa, wabah penyakit, dan sebagainya. Suatu jenis makhluk hidup akan selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga sering kali terjadi persaingan antarmakhluk hidup. Makhluk hidup yang kuat akan menang dan bertahan, sedangkan mahluk hidup yang lemah akan kalah dan mati atau menyingkir ke tempat lain. Makhluk hidup yang menyingkir ke tempat yang baru tetap hidup, jika mampu beradaptasi. Sebaliknya makhluk itu akan mati, jika tidak mampu beradaptasi.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa alam seolaholah melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Hanya makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan baru yang dapat hidup, sedangkan yang tidak dapat menyesuaikan diri akan mati. Jadi, seleksi alam adalah proses pemilihan atau penyeleksian yang dilakukan oleh alam terhadap makhluk hidup yang dapat beradaptasi karena adanya perubahan-perubahan alam.

Seleksi alam juga terjadi pada setiap tahap kehidupan makhluk hidup, yaitu pada saat makhluk hidup belum mencapai masa reproduksi (masih muda), pada saat masa reproduksi (dalam mencari pasangan), atau pada masa pembuahan dan masa embrio. Dari berbagai kemungkinan tersebut, seleksi yang berlangsung sebelum reproduksi tampaknya yang paling mudah terjadi. Hal itu disebabkan karena dengan ketidakmampuan makhluk hidup melakukan reproduksi berarti tidak dapat mewariskan gen kepada keturunannya.

Contoh makhluk hidup yang telah punah karena seleksi alam adalah dinosaurus. Hewan tersebut telah punah sekitar 65 juta tahun yang lalu. Perubahan alam yang terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama menyebabkan makhluk tersebut tidak mampu menyesuaikan diri dan akhirnya punah.

Sekitar 100 juta tahun yang lalu, konon pernah terjadi hujan meteor yang mematikan tumbuhan. Akibatnya semua hewan pemakan tumbuhan (herbivora) musnah dan yang bertahan hidup tinggallah hewan pemakan daging (karnivora) dan hewan pemakan segala (omnivora). Hewan-hewan yang masih hidup tersebut akhirnya secara terus-menerus melakukan persaingan, dan dinosaurus yang menang adalah kelompok pemakan daging. Namun pada akhirnya semua dinosaurus tersebut musnah dan dewasa ini kita hanya dapat mengamati fosilnya.

Punahnya beberapa jenis makhluk hidup juga terjadi di Indonesia, misalnya badak Jawa dan badak Sumatra. Punahnya kedua jenis badak itu sebagian besar dikarenakan hilangnya hutan dataran rendah dan perburuan. Pengobatan tradisional di Timur Jauh (daratan Cina) masih banyak yang menggunakan bahan dasar cula badak, juga berperan terhadap kepunahan badak.

Contoh lain peristiwa seleksi alam adalah keadaan populasi kupu-kupu Biston betularia di Inggris sebelum revolusi industri dan setelah revolusi industri. Di Inggris ada dua macam Biston betularia, yaitu kupu-kupu bersayap cerah dan bersayap gelap. Sebelum terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah lebih besar daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Adapun setelah terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah lebih kecil daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Mengapa dapat terjadi demikian? Menurut dugaan, hal itu dapat terjadi karena sebelum revolusi industri lingkungan masih cerah, sehingga kupukupu bersayap cerah lebih adaptif dari pada kupu-kupu bersayap gelap. Sebaliknya, setelah revolusi industri keadaan lingkungan lebih gelap oleh jelaga. Akibatnya kupu-kupu bersayap gelap lebih adaptif terhadap lingkungannya sedangkan kupu-kupu bersayap cerah tidak adaptif sehingga lebih mudah ditangkap oleh predator.

C. PERKEMBANGBIAKAN MAKHLUK HIDUP

Setiap makhluk hidup mempunyai usia yang terbatas dan pada akhirnya akan mati. Banyak tanaman sayuran, seperti sawi, kol, lobak, dan wortel hanya mempunyai masa hidup sekitar tiga bulan. Hewan-hewan tertentu, seperti ayam, itik, dan unggas lainnya mempunyai masa hidup yang lebih pendek dibanding dengan hewan-hewan, seperti anjing, kucing, sapi dan harimau. Namun, mengapa makhluk hidup tersebut dapat mempertahankan jenisnya?

1. Peranan Perkembangbiakan

Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan berkembang biak. Ada jenis makhluk hidup yang hanya berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya, seperti sawi, wortel, dan kol. Adapun hewan yang hanya berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya, misalnya ikan sidat. Walaupun hanya mampu berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya, tumbuhan dan hewan tersebut dapat mempertahankan jenisnya.

Sekarang ini banyak hewan dan tumbuhan yang hampir mengalami kepunahan, misalnya burung elang jambul, cenderawasih, harimau Jawa, badak bercula satu, beruang Bengkulu, dan bunga Rafflesia arnolldi. Faktor-faktor yang menyebabkan hewan dan tumbuhan mengalami kepunahan, yaitu daya regenerasi yang rendah, terdesak oleh populasi lain (kalah bersaing), bencana alam, dan gangguan manusia.

a. Daya regenerasi rendah

Hewan atau tumbuhan ada yang mampu menghasilkan keturunan dalam jumlah banyak selama masa hidupnya, namun ada pula yang hanya menghasilkan keturunan dalam jumlah sangat sedikit. Badak menjadi dewasa pada umur sekitar 7 tahun dan dapat mencapai umur 30 tahun. Badak hanya melahirkan satu ekor anak setiap melakukan perkembangbiakan membutuhkan waktu 3,5 sampai 4 tahun. Rafflesia arnolldi juga mempunyai daya regenerasi yang rendah, karena hanya dapat tumbuh pada umbi-umbian tertentu. Beberapa jenis burung mempunyai masa hidup yang singkat, sehingga keturunan yang dihasilkan dalam masa hidupnya juga sedikit. Hal tersebut berarti daya regenerasinya juga rendah.

b. Terdesak oleh populasi lain

Banyak hewan yang menggantungkan sumber makanan yang sama, misalnya harimau dan srigala yang sama-sama makan daging. Dua komponen ekosistem yang menggantungkan sumber makanan yang sama akan menimbulkan persaingan antarkeduanya. Komponen yang kalah bersaing akan berpindah tempat atau mati, jika tidak mendapatkan sumber makanan lain.

c. Gangguan manusia

Gangguan dari manusia terlihat pada perburuan hewanhewan tertentu. Banyak orang memburu gajah untuk diambil gadingnya atau memburu harimau untuk diambil kulitnya. Ada juga orang yang memburu burung-burung berbulu indah atau hewanhewan lain, hanya untuk pajangan di ruang tamu. Gangguan dari manusia merupakan faktor terbesar yang dapat menyebabkan kepunahan makhluk hidup. Kita seharusnya dapat bersikap lebih arif dalam memanfaatkan sumber daya alam. Bagaimana sikap kalian?

2. Cara Perkembangbiakan

Makhluk hidup berkembang biak dengan berbagai cara. Perkembangbiakan makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perkembangbiakan vegetatif (reproduksi aseksual) dan perkembangbiakan generatif (reproduksi seksual).

a. Perkembangbiakan vegetatif

Tumbuhan umbi-umbian, seperti kentang, ketela rambat, dahlia, dan ubi berkembang biak dengan umbinya. Bawang merah dan bawang putih berkembang biak dengan umbi lapis, sedangkan pisang berkembang biak dengan tunas. Beberapa jenis mikroorganisme, seperti Amoeba dan bakteri berkembang biak dengan membelah diri. Pada prinsipnya, semua perkembangbiakan yang tidak diawali adanya pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, disebut perkembangbiakan vegetatif (reproduksi aseksual).

Jumlah induk yang terlibat dalam perkembangbiakan vegetatif hanya satu. Oleh karena itu, individu baru yang dihasilkannya mempunyai sifat yang sama dengan sifat induknya. Jadi, jika kamu ingin memperbanyak tanaman dengan sifat yang sama dengan induknya sebaiknya dilakukan dengan perkembangbiakan secara vegetatif. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 4.16.

b. Perkembangbiakan secara generatif

Perkembangbiakan secara generatif atau disebut juga perkembangbiakan secara kawin adalah peristiwa terbentuknya individu baru yang di dahului oleh pembuahan (fertilisasi). Pembuahan adalah peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina. Hasil dari peleburan tersebut berupa zigot.

Organisme yang berkembangbiak secara kawin (generatif) meliputi berbagai jenis vertebrata (ikan, katak, reptil, burung dan mamalia) dan avertebrata, seperti cacing tanah, lebah, rayap, udang, dan sebagainya.

Perkembangbiakan secara generatif biasanya melibatkan dua induk. Oleh karena itu, sifat keturunan hasil perkembangbiakan tersebut merupakan gabungan dari sifat kedua induknya, sehingga dapat bervariasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 4.17.

Selain berkembang biak secara generatif atau vegetatif saja, ada sebagian makhluk hidup berkembang biak secara keduanya. Perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif amat jarang terjadi pada hewan. Namun, pada beberapa jenis tumbuhan dapat terjadi dengan kedua cara tersebut, misalnya lumut dan tumbuhan hijau. Beberapa contoh makhluk hidup yang dapat melakukan perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif sebagai berikut.

1) Hydra; secara generatif dengan membentuk ovarium dan testis, secara vegetatif dapat membentuk tunas.

2) Lumut dan tumbuhan paku; secara generatif dengan membentuk sperma dan ovum, secara vegetatif dengan membentuk spora.

3) Tumbuhan biji (mangga, jambu, dan jeruk) secara generatif dengan membentuk biji dan secara vegetatif dengan cangkok.


Beri Penilaian

Rating : 4.3/5 (87 votes cast)


Peralatan pribadi