Ilmu Sosial Budaya Dasar

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

I. KONSEP ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

1.1 Latar Belakang Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
Latar belakang diberikannya Ilmu Sosial Dasar (ISD), adalah banyaknya kritik yang ditujukan kepada sistem pendidikan di perguruan tinggi oleh sejumlah cendikiawan, terutama sarjana pendidikan, sosial, dan kebudayaan. Mereka menganggap sistem pendidikan yang sedang berlangsung ini berbau kolonial dan masih merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan dari “politik balas budi” (erische politiek) yang dianjurkan oleh Conrad Theodore van Deventer. Sistem ini bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga terampil untuk menjadi “tukang-tukang” yang mengisi birokrasi mereka di bidang, administrasi, perdagangan, teknik dan keahlian lain, dengan tujuan eksploitasi kekayaan negara.
Ternyata sekarang masih dirasakan banyaknya tenaga ahli yang berpengetahuan keahlian secara khusus dan mendalam (spesialis), sehingga wawasannya sempit. Padahal sumbangan pemikiran dan adanya komunikasi ilmiah antar disiplin ilmu diperlukan dalam memecahkan berbagai masalah sosial masyarakat yang demikian kompleks. Sering suatu masalah terasa tuntas pemecahannya menurut suatu disiplin ilmu tertentu, tetapi ternyata bagi disiplin ilmu yang lain masih merupakan masalah besar.
Hal lain ialah sistem pendidikan kita menjadi sesuatu yang “elite” bagi masyarakat kita sendiri, kurang akrab dengan lingkungan masyarakat, tidak mengenali dimensi-dimensi lain diluar disiplin keilmuannya. Perguruan tinggi seolah-olah menara gading yang banyak menghasilkan sarjana-sarjana “tukang”, tidak atau kurang peka terhadap denyut kehidupan, kebutuhan, serta perkembangan masyarakat. Sebagai upaya untuk mengatasi kegusaran para cendekiawan tersebut, diberikanlah ilmu sosial dasar sebagai pelengkap pembentukan sarjana paripurna sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam paradigma kuliahnya mempunyai ciri-ciri tersendiri, banyak menyangkut “problem oriented” yang dirasakan dan nyata di masyarakat.
Tenaga ahli yang dihasilkan oleh perguruan tinggi diharapkan memiliki tiga jenis kemampuan yang meliputi personal, akademis, dan kemampuan profesional.
Kemampuan personal adalah kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan (pancasila), serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Kemampuan akademis adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sistematis dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahan.
Kemampuan profesional adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu budaya dasar, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan di perguruan tinggi. Rapat rektor-rektor universitas / institut negeri se Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 11 s/d 13 Oktober 1971 di Tugu menyimpulkan pentingnya pemberian mata kuliah basic social science (ilmu sosial dasar) dan basic humanities (ilmu sosial dasar) dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Maka dalam rapat kerja para pengajar tanggal 25 s/d 28 Oktober 1971 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen P dan K diputuskan bahwa kedua mata kuliah tersebut (ISD dan IBD) akan diberikan di semua fakultas dalam lingkungan universitas / institute negeri di seluruh Indonesia, yang kemudian ditegaskan dalam surat Direktur Pendidikan Tinggi Nomor 1338/DPT/A.71.
Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara, dan masyarakt Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:
1. Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaan, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan primordial, kesukuan dan kedaerahan
2. Proses pembangunan yang sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan dampak negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya. Akibat lebih jauh dari pembenturan nilai budaya ini ialah timbulnya konflik dalam kehidupan.
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi, yang disamping memiliki segi-segi positifnya, juga memiliki segi-segi yang negatif. Akibat dampak negatif teknologi, manusia ini menjadi resah dan gelisah.
Keresahan manusia tersebut muncul akibat adanya benturan-benturan nilai teknologi modern dengan nilai-nilai tradisional karena sains dan teknologi berpihak pada suatu kerangka budaya. Terjadilah kontak budaya dengan kebudayaan asing yang menimbulkan perubahan orientasi budaya dan menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat.
Dari segi pandangan politis, Indonesia adalah sesuatu yang utuh. Akan tetapi, di dalam keanekaragaman kebudayaannya secara jujur diakui masih terdapat jarak komunikasi diantara kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik budaya pada seseorang yang bergerak dari satu kelompok etnis ke kelompok etnis yang lain. Konflik budaya tersebut acap kali bertaraf nasional. Oleh karena itu seorang sarjana calon intelektual harus mampu mengenal dan menyadari adanya masalah semacam ini, memiliki wawasan yang luas tentang soal-soal kebudayaan, sehingga sanggup dan mampu memegang peranan dalam usaha-usaha pembangunan dan modernisasi.
1.2 Lingkup ilmu sosial dan budaya dasar
Program pendidikan umum berusaha untuk memperluas cakrawala perhatian dan pengetahuan para mahasiswa sehingga tidak terbatas pada bidang pengetahuan keahlian serta golongan asal masing-masing. Ia membantu mahasiswa menemukan diri sendiri dan menempatkan diri dalam perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang sedang berlangsung. Menghadapkannya dengan masalah-masalah susila yang secara sadar ataupun tidak sadar, senantiasa dihadapi, serta masalah-masalah yang diwujudkan oleh kenyataan-kenyataan kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Disamping itu juga memberikan pengertian kepada mereka mengenai hubungan kait-mengait dari ilmu pengetahuan. Singkatnya. Program-program pendidikan umum diharapkan menjadikan mahasiswa lebih peka dan lebih terbuka , disertai rasa tanggungjawab yang lebih kuat. Ilmu sosial dasar, sebagai bagian dari Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, mempunyai tema pokok perkuliahan, yaitu hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya. Hubungan ini dapat mewujudkan berbagai ilmu sosial dasar dengan memanfaatkan pengetahuan yang berasal dari lapangan ilmu-ilmu sosial seperti geografi sosial, sosiologi, antropologi sosial, ilmu politik, ilmu ekonomi, psikologi sosial dan sejarah.
Ilmu sosial dasar, sebagaimana halnya dengan ilmu budaya dasar dan ilmu alamiah dasar, bukanlah pengantar suatu bidang keahlian (disiplin) ilmu-ilmu sosial tertentu. Tidak seperti pengantar ilmu politik, pengantar pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang keahlian itu untuk menanggapi masalah-masalah sosial, khususnya masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia
Adapun yang menjadi sasaran perhatian adalah antara lain :
1. Berbagai kenyataan yang bersama-sama merupakan masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan pendekatan sendiri maupun sebagai pendekatan gabungan (antar bidang).
2. Adanya keanekaragaman golongan dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat, yang masing-masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku sendiri, tetapi juga amat banyaknya persamaan kepentingan kebutuhan serta persamaan dalam pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku yang menyebabkan adanya pertentangan-pertentangan maupun hubungan setia kawan dan kerja sama dalam masyarakat kita.
Tegasnya, mata kuliah ilmu sosial dasar itu adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosial dapat ditingkatkan sehingga kepekaan mahasiswa pada lingkungan sosialnya menjadi lebih besar.

Ilmu budaya dasar identik dengan basic humanities. Humanities berasal dari kata latin humanus yang artinya manusiawi, berbudaya, dan halus (refined). Dengan mempelajari ilmu budaya dasar diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus.
Ilmu budaya dasar atau basic humanities tidaklah identik dengan the humanities atau pengetahuan budaya yang mencakup keahlian filsafat dan seni yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang keahlian seperti seni sastra, seni tari, seni rupa dan lain-lain. Jadi, ilmu budaya dasar bukanlan ilmu tentang berbagai budaya, melainkan pengertian dasar dan pengertian umumnya tentang konsep-konsep dan teori-teori budaya yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan, Perdebatan terhadap berbagai masalah budaya ini dilakukan dengan menggunakan suatu keahlian (disiplin) ataupun dengan menggunakan pendekatan berbagai keahlian (interdisiplin).
1.3 Pokok bahasan ilmu sosial dan budaya dasar
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami konsep ilmu-ilmu sosial dan Budaya Dasar yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan di masyarakat. Adapun pokok pokok bahasan yang diberikan meliputi : konsep ilmu sosial budaya dasar – sosial budaya yang banyak mempengaruhi dalam pelayanan kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial budaya yang ada di masyarakat sebagai media dalam peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kebidanan.
1.4 Masalah-masalah budaya dalam ilmu sosial dan budaya dasar
Masalah-masalah budaya adalah segala sistem atau tata nilai, sikap metal, pola berpikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara keseluruhan. Atau dapat dikatakan bahwa masalah budaya adalah masalah tata nilai yang dapat menimbulkan krisis-krisis kemasyarakatan, misalnya terjadinya proses “dehumanisasi” atau pengurangan arti kemanusiaan seseorang. Masalah-masalah budaya tersebut mencakup :
1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya.
2. Hakikat manusia universal. Akan tetapi perwujudannya beraneka ragam. Ada kesamaan-kesamaan, tetapi juga ketidakseragaman yang diungkapkan secara tidak seragam, sebagaimana yang terlihat ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan pikiran dan perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuan mereka.
1.5 Pengertian
Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor, 1897).
Para ahli sudah banyak yang menyelidiki berbagai kebudayaan. Dari hasil penyelidikan tersebut timbul dua pemikiran tentang munculnya suatu kebudayaan atau peradaban. Pertama, anggapan bahwa adanya hukum pemikiran atau perbuatan manusia (baca kebudayaan) disebabkan oleh tindakan besar yang menuju kepada perbuatan yang sama dan penyebabnya yang sama. Kedua, anggapan bahwa tingkat kebudayaan atau peradaban muncul sebagai taraf perkembangan dan hasil evaluasi masing-masing proses sejarahnya. Perlu dicatat bahwa kedua pendapat di atas tidak lepas dari kondisi alamnya atau, dengan kata lain, alam tidak jenuh oleh keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya, atau alam tidak pernah bertindak dengan meloncat. Demikian pula proses sejarah bukan hal yang mengikat, tetapi merupakan kondisi ilmu pengetahuan, agama, seni, adat-istiadat, dan kehendak semua masyarakat.
Mempelajari pengertian kebudayaan bukan suatu kegiatan yang mudah, mengingat banyaknya batasan konsep dari berbagai bahasa, sejarah dan sumber bacaannya atau literaturnya, baik yang berwujud ataupun yang abstrak yang secara jelas menunjukkan jalan hidup bagi kelompok orang (masyarakat). Demikian pula dalam pendekatan modern sudah banyak disiplin ilmu lain seperti sosiologi, psikoanalisis, psikologi (perilaku) mengkaji bermacam-macam masalah kebudayaan, yang tingkat kejelasannya bergantung pada konsep dan penekanan masing-masing unsur konsepnya. Bahkan ada yang bertentangan dalam hal pertanyaan tentang segi epistemologis. Walaupun demikian, menurut Kluckhohn (1951) hampir semua antropolog Amerika setuju dengan dalil proposisi yang diajukan oleh Herkovits dalam bukunya yang berjudul Man and His Work tentang teori kebudayaan yaitu :
1. Kebudayaan dapat dipelajari.
2. Kebudayaan berasal atau bersumber dari segi biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia.
3. Kebudayaan mempunyai struktur
4. Kebudayaan dapat dipecah-pecah kedalam berbagai aspek.
5. Kebudayaan berisifat dinamis.
6. Kebudayaan mempunyai variabel.
7. Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis dengan metode ilmiah.
8. Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang (individu) untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya.
Pengertian kebudayaan yang dikemukakan oleh E.B. Taylor maupun dalil-dalil yang dikemukakan oleh Herkovits masih bersifat luas sehingga pengkajian kebudayaan masih sangat bervariasi. Untuk memperoleh pengertian kebudayaan yang lebih sistematis dan ketat, diperlukan konsensus tentang definisi mengingat kebudayaan merupakan totalitas pandangan hidup. Untuk maksud tersebut, Kroeber dan Klukhohn (1950) mengajukan konsep kebudayaan sebagai kupasan kritis dari definisi-definisi kebudayaan (konsensus) yang mendekati. Definisinya adalah : Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbul-simbul yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok mausia, termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi; pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham, dan terutama keterikatan terhadap nilai-nilai. Ketentuan-ketentuan ahli kebudayaan itu sudah bersifat universal, dapat diterima oleh pendapat umum meskipun dalam praktek, arti kebudayaan menurut pendapat umum ialah sesuatu yang berharga atau baik (Bakker, 1984).
Pendek kata, kebudayaan dalam kaitannya dengan ilmu budaya dasar adalah penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani. Tercakup didalamnya usaha memanusiakan diri di dalam alam lingkungan, baik fisik maupun sosial. Nilai-nilai ditetapkan atau dikembangkan sehingga sempurna. Tidak memisah-misahkan dalam membudayakan alam, memanusiakan hidup, dan menyempurnakan hubungan insani. Manusia memanusiakan dirinya dan memanusiakan lingkungan dirinya.
1.6 Kerangka kebudayaan
Untuk dapat memahami ilmu budaya dasar yang merupakan panduan beberapa pengertian, konsep, atau teori pengetahuan budaya, bila perlu terlebih dahulu mempelajari kerangka kebudayaannya sendiri. Sebab apa yang dikatakan definisi, pengertian atau teori tentang pengetahuan budaya, semuanya merupakan komponen dari susunan suatu ilmu, yang tidak dapat melepaskan diri dari objek materi dan objek formal suatu ilmu.
Untuk memudahkan dalam dialektika tentang kebudayaan yang wawasannya begitu luas, perlu dipahami terlebih dahulu tentang kerangka kebudayaan, yang meliputi konsep kebudayaan, wujud kebudayaan, unsur kebudayaan, sistem budaya, sistem sosial, kebudayaan fisik, dan pengertian lainnya. Demikian pula dalam observasi ilmiah terkadang sulit untuk membatasi dan memusatkan perhatian kepada suatu gejala. Akan tetapi sering dalam prakteknya suatu kegiatan ilmiah mengandung banyak nuansa yang tidak jelas sudut pandangnya (persepsinya).
1. Konsep Kebudayaan
Menurut Koentjoroningrat (1980), kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan kata “budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan “kebudayaan” yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu artinya sama saja. Menganalisis konsep kebudayaan perlu dilakukan dengan pendekaan dimensi wujud dan isi dari wujud kebudayaan.
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu :
a. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia. Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat kepada kepala-kepala manusia yang menganutnya. Disebutkan bahwa sistem budaya karena gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas, melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat hubungannya, sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang relatif mantap dan kontinyu.
b. Kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat konkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini tidak dapat melepaskan diri dari sitem budaya. Apapun bentuknya pola-pola aktivitas tersebut ditentukan atau ditata oleh gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala manusia. Karena saling berinteraksi antara manusia, maka pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan, konsep, dan pikiran baru serta tidak mustahil dapat diterima dan mendapat tempat dalam sistem budaya dari manusia yang berinteraksi tersebut.
c. Wujud sebagai benda. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang konkret biasa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai pada beda yang bergerak.
2. Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan di dunia, baik yang kecil, bersahaja dan terisolasi, maupun yang besar, kompleks, dan dengan jaringan hubungan yang luas. Menurut konsep B. Malinowski, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsur universal, yaitu :
a. Bahasa
b. Sistem tekonologi
c. Sistem mata pencaharian
d. Organisasi sosial
e. Sistem pengetahuan
f. Religi
g. Kesenian

Gambar 1. Kerangka Kebudayaan (dikutip dari Koentjoroningrat, Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan Nasional, 1985).
Sistem budaya
Sistem sosial
Kebudayaan Fisik

Kerangka kebudayaan merupakan dimensi analisis dari konsep kebudayaan yang dikombinasikan ke dalam suatu bagan lingkaran. Mengapa dengan bagian lingkaran ialah untuk menunjukkan bahwa kebudayaan itu bersifat dinamis. Kerangka kebudayaan digambarkan dengan tiga lingkaran konsentris (lihat gambar). Sistem budaya digambarkan dalam lingkaran yang paling dalam dan merupakan inti, sistem sosial dilambangkan dengan lingkaran kedua di sekitar inti, sedangkan kebudayaan fisik dilambangkan dengan lingkaran yang paling luar. Unsur kebudayaan universal yang tujuh macam itu dilambangkan dengan membagi lingkaran tersebut menjadi tujuh sektor yang masing-masing melambangkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka terlihat jelas bahwa tiap unsur kebudayaan yang universal itu dapat mempunyai tiga wujud kebudayaan, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

II. KELOMPOK SOSIAL

2.1 Pengertian
Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, jika manusia hidup sendiri maka akan terjadi gangguan dalam perkembangan jiwanya. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut gregariousness dan karena itu manusia disebut social animal (hewan sosial); hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama. Didalam hubungan dengan manusia lain yang agaknya penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat hubungan-hubungan tadi. Reaksi ini kemudian menimbulkan dorongan untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Sejak lahir manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu :
1. keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat).
2. keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Untuk memenuhi keinginan tersebut manusia akan berkelompok sesuai alam sekitarnya menjadi kelompok sosial atau social group di dalam kehidupan manusia.
Syarat agar himpunan manusia dikatakan sebagai kelompok sosial :
1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
3. ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi bisa merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, idiologi politik yang sama, dan lain-lain. Tentunya mempunyai musuh bersama misalnya, dapat pula menjadi faktor pengikat/pemersatu.
4. berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku,
5. bersistem dan berproses.
2.2 Kelompok Sosial teratur
1. Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis, sebagaimana dapat diumpamakan dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban terutama akan dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kerabatan, rukun tetangga dsb.
Patembayan adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk patembayan terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik, misalnya ikatan antar pedagang, organisasi dalam suatu pabrik atau industri dsb.
Tonnies menyesuaikan kedua bentuk kehidupan bersama manusia yang pokok tersebut di atas dengan dua bentuk kemauan azasi manusia, yaitu Wesenwille dan Kurwille.
Wesenwille adalah bentuk kemauan yang dikodratkan, yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami. Perasaan dan akal merupakan kesatuan dan kedua-duanya terikat pada kesatuan hidup yang alamiah dan organis.
Kurwille adalah bentuk kemauan yang dipimpin oleh cara berpikir yang didasarkan pada akal. Kurwille tersebut adalah kemauan yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan rasional sifatnya, unsur-unsur lain berfungsi sebagai alat belaka.
Ciri-ciri Paguhyuban (Menurut Tonnies)
a. Intimate, hubungan menyeluruh yang mesra.
b. Private, hubungan yang bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja.
c. Exclusive, hubungan tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang-orang lain di luar “kita”.
Didalam paguyuban terdapat suatu kemauan bersama (common will), ada suatu pengertian (understanding) serta juga kaidah-kaidah yang timbul dengan sendirinya dari kelompok tersebut. Apabila terjadi pertentangan antara anggota paguyuban, maka pertentangan tersebut tidak akan dapat diatasi dalam suatu hal saja.
Dalam patembayan terdapat public life artinya bahwa hubungannya bersifat untuk semua orang; batas-batas antara “kami” dan “bukan kami” kabur. Pertentangan antara anggota dapat dibatasi pada bidang tertentu sehingga suatu persoalan dapat dilokalisasi.
Tipe paguyuban
a. Paguyuban karena ikatan darah (Gemeinschaft by blood), yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan, contoh keluarga, kekerabatan.
b. Paguyuban karena tempat (Gemeinschaft by place), yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang yang berdekatan tempat tinggal, sehingga dapat saling tolong menolong. Contoh rukun tetangga, rukun warga, arisan.
c. Paguyuban karena jiwa pikiran (Gemeinschaft by mind), merupakan paguyuban yang terdri dari orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa dan pikiran yang sama, ideologi yang sama. Paguyuban ini ikatannya tidak sekuat karena darah atau keturunan.
Gabungan atau campuran dari paguyuban dan patembayan disebut Burgerliche Gesellschaft, misal perseroan terbatas.
2. Formal Group dan Informal Group.
Organisasi formal (formal group) merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha-usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang disebut spesialisasi. Formal group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara anggota – anggotanya.
Organisasi ditegakkan pada landasan mekanisme administratif. Organisasi yang mempunyai bagian-bagian seperti misalnya bagian administrasi, bagian logistik, bagian pemeliharaan kendaraan, bagian penyuluhan dst. Organisasi semacam ini biasa disebut birokrasi.
Organisasi yang dibentuk menurut cara birokrasi mempunyai ciri :
a. Tugas-tugas organisasi didistribusikan dalam beberapa posisi yang merupakan tugas-tugas jabatan. Secara implisit terjadi pembagian kerja, sehingga terjadi spesialisasi.
b. Posisi-posisi dalam organisasi terdiri dari hirarki struktur wewenang. Hirarki berwujud sebagai piramida dimana setiap jabatan bertanggungjawab terhadap bawahan mengenai keputusan dan pelaksanaan.
c. Suatu sistem peraturan mengenai keputusan-keputusan dan pelaksanaan.
d. Unsur staf yang merupakan pejabat bertugas memelihara organisasi dan khususnya keteraturan komunikasi.
e. Para pejabat berharap bahwa hubungan dengan bawahan dan pihak lain bersifat orientasi impersonal.
f. Penyelenggaraan kepegawaian didasarkan pada karir.
Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau pasti. Kelompok-kelompok tersebut terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali itu menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman yang sama. Contoh lain adalah klik (Clique) suatu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik tersebut ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antar anggota, biasanya hanya bersifat “antar kita” saja.
3. Membership Group dan Reference Group
Membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas untuk menentukan keanggotaan seseorang secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak karena perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan mempengaruhi derajad interaksi di dalam kelompok tadi, sehingga ada anggota yang tidak sering kumpul.
Berdasarkan derajat interaksi :
a. nominal group-member
Seorang anggota nominal group dianggap oleh anggota-anggota lain sebagai seorang yang masih berinteraksi dengan kelompok sosial yang bersangkutan, akan tetapi interaksinya tidak intens.
b. peripheral group-member
Seorang anggota peripheral group seolah-olah sudah tidak berhubungan lagi dengan kelompok yang besangkutan sehingga kelompok tersebut tidak mempunyai kekuasaan apapun juga atas anggota tadi.
Kelompok “bukan anggota” dapat dipecah menjadi beberapa kategori :
a. Orang-orang bukan anggota suatu membership group yang tidak memenuhi syarat, dapat dibedakan dari bukan anggota yang memenuhi syarat, tetapi tidak berafiliasi dengan kelompok yang bersangkutan.
b. Sikap terhadap kenggotaan kelompok.
c. Kelompok terbuka dan tertutup
d. Ukuran waktu bagi bukan anggota.
Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
Tipe Referece Group :
a. Tipe normatif (normative type) yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang.
b. tipe perbandingan (comparison type) yang merupakan pegangan bagi individu didalam menilai kepribadiannya.
Apabila teori reference group dihubungkan dengan non-membership dapat disimpulkan :
a. Bukan anggota yang memenuhi syarat (calon anggota) mempunyai kecenderungan untuk mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok, dimana kemudian dia menjadi anggota.
b. Bukan anggota yang besikap masa bodoh, tidak menganggap kelompok sebagai reference groupnya.
c. Bukan anggota yang tetap ingin menjadi anggota, tetapi menganggap suatu kelompok sebagai reference-groupnya
d. Perbedaan antara bekas anggota dengan mereka yang bukan anggota adalah penting karena kenyataan bahwa pada umumnya bekas-bekas anggota tidak akan mau menggap bekas kelompoknya sebagai reference-groupnya.
4. Kelompok Okupasional dan Volonter
Kelompok Okupasional merupakan kelompok yang terdiri dari oang-orang yang melakukan pekerjaan sejenis. Kemudian timbul kelompok profesi yang terediri dari kalangan profesional seolah-olah mempunyai monopoli terhadap bidang ilmu dan teknologi tertentu.
Kelompok volunter mencakup orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat yang semakin luas daya jangkauannya. Kelompok volunter mungkin didasarkan atas kepentingan primer.
Kepentingan primer mencakup:
a. kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.
b. kebutuhan akan keselamatan jiwa dan harta benda
c, kebutuhan akan harga diri
d. kebutuhan untuk dapat mengembangkan potensi diri.
e. kebutuhan akan kasih sayang.
2.3 Kelompok sosial tak teratur
1. Kerumunan (Crowd)
Kerumunan atau crowd yaitu kerumunan orang-orang yang timbul dari tengah-tengah orang ramai. Kelompok ini akan bubar begitu saja kalau yang diinginkan telah terpenuhi. Pertalian akan hilang begitu saja kalau orang-orang itu telah meneruskan perjalannanya.
Syarat untuk kelompok ini ialah suatu tempat dimana orang-orang tidak kenal satu sama lain, dengan kepentingan dan tujuan yang tidak bertalian satu sama lain.
Ukuran utama adanya kerumuman adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya batas kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telinga dapat mendengarkannya.
Kerumuman tidak terorganisasi, dapat mempunyai pimpinan, tetapi tidak mempunyai sistem pembagian kerja atau sistem pelapisan sosial. Interaksi didalamnya bersifat spontan dan tidak terduga, yang berkumpul mempunyai kedudukan yang sama. Kerumunan dapat bereaksi. Sugesti biasanya berasal dari pusat perhatian, sedang dari yang jauh tidak diacuhkan.
Untuk membubarkan kerumunan antara lain : (1) mengalihkan pusat perhatian (2) menakut-nakuti (3) memecah belah pendapat umum sehingga terjadi pertentangan antara mereka sendiri.
Terjadinya kerumuman disebabkan antara lain (1) penggunaan fasilitas yang sama dalam memenuhi keinginan pribadinya, (2) seseorang ingin meniru perbuatan orang lain, kemudian diikuti oleh orang lain yang menyaksikannya.
Kerumunan yang beraksi ada kecenderungan untuk merusak dari pada membangun, tetapi ada kerumunan yang punya tujuan baik seperti misalnya menghadiri khotbah keagamaan.
Bentuk Umum Kerumuman
a. Kerumuman yang berartikulasi dengan struktur sosial
i. Khalayak penonton atau pendengar yang formal (formal audiences) merupakan kerumuman yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, akan tetapi sifatnya pasif (Contoh nonton film, menghadiri khotbah)
ii. Kelompok ekspressif yang telah direncanakan (planned expressive group), adalah kerumuman yang pusat perhatiannya tak begitu penting akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut serta kepuasan yang dihasilkannya. Fungsinya adalah sebagai penyalur ketegangan-ketegangan yang dialami orang karena pekerjaan sehari-hari. Contoh orang yang berpesta, berdansa dsb.
b. Kerumunan yang bersifat sementara (Casual Crowds)
i. Kumpulan yang kurang menyenangkan (Inconvenient agregations), adalah orang-orang yang antri karcis, orang-orang yang menunggu bis, dsb. Dalam kerumunan itu kehadiran orang-orang lain merupakan halangan terhadap tercapainya maksud seseorang.
.ii. Kerumunan orang-orang yang dalam keadaan panik (Panic crowds) yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha menyelamatkan diri dari suatu bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu dalam kerumunan tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik.
iii. Kerumunan penonton (Spectator crowds) yang terjadi karena ingin melihat suatu kejadian tertentu. Kerumunan semacam ini hampir sama dengan khalayak penonton akan tetapi bedanya adalah bahwa kerumunan penonton tidak direncanakan, sedangkan kegiatan-kegiatan pada umumnya tak terkendalikan.
c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (Lawless crowds)
i. Kerumunan yang berbentuk emosional (Acting mobs). Kerumunan semacam ini bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya kumpulan orang-orang tersebut bergerak karena merasakan bahwa hak-hak mereka diinjak-injak atau karena tak adanya keadilan.
ii. Kerumunan immoral (Immoral crowds) hampir sama dengan kelompok eksprsif. Bedanya adalah bahwa yang pertama bertentangan dengan norma-norma masyrakat. Contohnya orang-orang yang mabuk.
2. Publik
Berbeda dengan kerumuman, Publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, televisi, film dsb. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi karena jumlahnya yang sangat besar, maka tak ada pusat perhatian yang tajam dan karena itu kesatuan juga tak ada. Setiap aksi publik diprakarsai oleh keinginan individu (misal penggunaan suara dalam pemilu), dan ternyata individu-individu dalam suatu publik masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang sesungguhnya dan masih lebih mementingkan kepentingan-kepentingan pribadi dari pada mereka yang tergabung dalam kerumuman. Dengan demikian, tingkah laku pribadi kelakuan publik didasarkan pada tingkah laku atau perilaku individu. Untuk memudahkan mengumpulkan publik tersebut, digunakan cara-cara dengan menggandengkan nilai-nilai sosial atau tradisi masyarakat bersangkutan, atau dengan menyiarkan pemberitaan-pemberitaan, baik yang benar maupun yang palsu sifatnya.
2.4 Bentuk kelompok sosial
2.4.1 Bedasarkan Besar Kecilnya Kelompok (Menurut Georg Simmel)
1. Nomad yaitu kelompok sosial yang mempunyai bentuk paling kecil terdiri dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial.
2. Dyad yaitu kelompok sosial yang terdiri dari dua orang
3. Triad yaitu kelompok sosial yang terdiri dari tiga orang
2.4.2 Berdasarkan Derajad Interaksi Sosial (Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker)
1. Face-to-face grouping yaitu kelompok-kelompok dimana anggota-anggotanya saling mengenal. Contoh : keluarga, rukun tetangga dan desa.
2. Anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat, seperti kota-kota, korporasi dan negara,
2.4.3 Berdasarkan Kepentingan
1. Kelompok yang hidupnya sebentar saja, oleh karena kepentingannyapun tidak berlangsung dengan lama. Cotoh : kerumunan.
2. Kelompok yang kepentingannya relatif bersifat tetap (permanen).
2.4.4 Berdasarkan Derajad Organisasi
1. Kelompok sosial yang terdiri dari kelompok-kelompok yang terorganisasi dengan baik. Contoh : negara.
2. Kelompok sosial yang hampir tak terorganisasi. Contoh : kerumunan.
Bentuk Kelompok Sosial secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
1. Kategori utama: Kesatuan wilayah
Tipe Umum: Komuniti
Tipe Khusus : Suku, bangsa, daerah, kota, desa, rukun tetangga. 1. Kriteria Utama:
1). Kepentingan
2). Bertempat tinggal di suatu wilayah tertentu
2. Kategori utama : Kesatuan-kesatuan atas dasar kepentingan yang sama, tanpa organisasi yang tetap 2. Kriteria utama:
1). Sikap yang sama dari anggota-anggota kelompok yang bersangkutan.
2). Organisasi sosial yang tidak tetap (temporer).
1). a). Tipe umum: kelas
b). Tipe khusus: kasta, elit, kelas dasar persaingan, kelas atasa dasar kerja sama Kriteria tambahan untuk tipe-tipe khusus:
1). Kemampuan untuk bewrpindah daeri satu kelompok ke kelompok lain (mobilitas).
2). Perbedaan dalam kedudukan prestise, kesempatan, dan tingkat ekonomis.
2). a). Tipe umum: kelompok etnis dan ras
b). Tipe khusus : kelompok atas dasar perbedaan warna kulit, kelom-pok-kelompok imigran, kelompok-kelompok nasional Kriteria tambahan untuk tipe-tipe khusus: asal kelompok. Golonmgan (stock), luas wilayah, tempat tinggal, ciri-ciri badaniah
3). a). Tipe umum : kerumunan
b). Tipe khusus : kerumunan dengan kepentingan yang sama dan dengan kepentingan umum Kriteria tambahan untuk tipe-tipe khusus:
1). Kepentingan-kepentingan yang sementara
2). Sifat kelompok semenetara
3. Kriteria utama : Kesatuan-kesatuan atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap, asosiasi 3. Kritereia utama:
1). Kepenetingan-kepentingan yg terbatas
2). Organisasi sosial yang tertentu.

Tipoe umum: kelompok primer (primarygroup)
Tipe-tipe khusus: keluarga, kelompok perm,ainan, klik (clique), club
Kriteria tambahan untuk tipe-tipe khusus:
1). Jumlah keanggotaan terbatas
2). Organisasi sosial yang formal
3). Pentingnya hubungan-hubungan yang tidak bersifat pribadi
4). Jenis kepentingan yang dikejar
Tipe umum: Asosiasi besar
Tipe khusus: negara, gereja, perkumpulan atas dasar ekonomi, persatuan buruh dan sebagainya Kritereia tambahan untuk tipe-tipe khusus :
1). Jumlah anggota secara relatif terbatas
2). Organisasi sosial yang formal
3). Pentingnya hubungan-hubungan tidak bersifat pribadi
4). Jenis kepentingan yang dikejar.
Ada kalanya dasar untuk membedakan kelompok-kelompok sosial adalah faktor-faktor berikut :
1. Kesadaran akan jenis yang sama.
2. Adanya hubungan sosial
3. Orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan.
Dengan demikian tipe-tipe umum kelompok sosial sebagai berikut :
No. Kelompok Sosial
Kesadaran
akan jenis
yang sama Adanya
hubungan sosial Orientasi pada tujuan yang
sudah ditentukan
1. Kategori statistik - - -
2. Kategori sosial + - -
3. Kelompok sosial
+ + -
4. Kelompok tak teratur
+ + -
5. Organisasi formal + + +
1. Kategori statistik adalah pengelompokan atas dasar ciri tertentu yang sama seperti kelompok umur.
2. Kategori sosial merupakan kelompok individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki bersama, umpamanya, Ikatan Dokter Indonesia.
3. Kelompok sosial, seperti misalnya keluarga batih.
4. Kelompok tidak teratur, yakni berkumpulnya orang-orang di satu tempat pada waktu yang sama, karena pusat perhatian yang sama. Contohnya orang-orang antri karcis kereta api.
5. Organisasi formal, setiap kelompok yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan telah ditentukan terlebih dahulu. Contohnya birokrasi.


III. INTERAKSI SOSIAL
3.1 Pengertian
Interaksi sosial adalah proses sosial, pengetian mana menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Pengertian tentang interaksi sosial sangat berguna didalam memperhatikan berbagai masalah masyarakat. Umpamanya di Indonesia dapat dibahas mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara berbagai suku bangsa atau antara golongan terpelajar dengan golongan agama. Dengan mengetahui dan memahami perihal kondisi-kondisi apa yang dapat menimbulkan serta mempengaruhi bentuk-bentuk interaksi sosial tertentu, maka pengetahuan kita dapat pula disumbangkan pada usaha bersama yang dinamakan pembinaan bangsa dan masyarakat.
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia berkerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya.
3.2 Bentuk Interaksi Sosial
1. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperatioon) persaingan (competition) dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).
2. Suatu pertikian tak mungkin berlangsung selama-lamanya. Mungkin penyelesaian tersebut hanya dapat diterima untuk sementara waktu, dalam arti bahwa kedua belah pihak berdamai karena kekuatan saling berimbang (akomodasi). Dan ini dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial.
Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi, yaitu :
1. Proses yang asosiatif (processes of association) yang terbagi kedalam tiga bentuk kihusus lagi yaitu :
a. akomodasi
b. asimilasi dan akulturasi.
2. Proses yang disosiatif (process of dissociation) yang mencakup :
a. persaingan
b. pertentangan atau pertikaian yang meliputi contravertion dan conflict
Sistematika yang lain pernah dikemukakan oleh Kimball Young, sbb:
1. oposisi (opposition) yang mencakup persaingan (competition) dan pertentangan atau pertikaian (conflict).
2. Kerja sama (co-operation) yang menghasilkan akomodasi (accomodation),dan
3. diferensiasi (differentiation) merupakan suatu proses dimana individu di dalam masyarakat memperoleh hak dan kewajiban atas perbedaan usia, seks dan pekerjaan.
Menurut Tamotsu Shibutani, dalam pola-pola interaksi terjadi :
1. akomodasi dalam situasi rutin.
2. ekspresi pertemuan dan anjuran
3. interaksi strategis dalam pertentangan
4. pengembangan perilaku massa
Dengan kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha sama antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama tertentu. Kerja sama timbul karena adanya orientasi para individu terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainnya (yang merupakan out-group-nya).
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu untuk menunjuk kepada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadan, berarti kenyataan adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara individu dan kelompok sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.
Bentuk-bentuk akomodasi yang penting adalah:
1. Coercion
2. Compromise
3. Arbitration
4. Mediation
5. Conciliation
6.; Toleration
7. Stalemate
8. Adjudication
Hasil-hasil akomodasi antara lain :
1. usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri dari bentuk-bentuk pertentangan yang baru guna kepentingan integrasi masyarakat.
2. menekan oposisi
3. koordinasi pelbagai kepribadian yang berbeda
4. perubahan dari lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan yang baru.
5. perubahan-perubahan kedudukan.
6. membuka jalan ke arah asimilasi.
Asimilasi merupakan suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedan-perbedaan yang terdapat antara individu atau kelompok dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama.
Bentuk-bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi adalah :
1. interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama.
2. interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan.
3. proses asimilasi dipercepat, apabila interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer.
4. Asimilasi diperkuat apabila frekuensi interasksi-interaksi sosial tinggi, tetap dan apabila ada keseimbangan antara pola-pola asimilasi tersebut.
Faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi;
1. Toleransi
2. kesempatan-kesempatan dalam bidang ekonomi yang seimbang.
3. suatu sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
4. sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5. persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
6. perwakilan campuran
7. adanya musuh bersama dari luar.
Faktor yang menghalangi terjadinya asimilasi:
1. kehidupan suatu golongan tertentu, dalam masyarakat isolasi.
2. kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.
3. perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
4. perasaan bahwa kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih superior daripada golongan atau kelompok lainnya.
5. dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri fisik dapat pula menjadi penghalang terjadinya asimilasi.
6. adanya in-group feeling yang kuat.
7. apabila golongan minoritas mengalami gangguan golongan yang berkuasa.
8. perbedaan kepentingan dan pertentangan pribadi.
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana individu atau kelompok yang bersaing , mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan kekerasan atau ancaman.
Persaingan mempunyai dua tipe umum, yaitu yang bersifat pribadi dan yang tidak bersifat pribadi.
Bentuk-bentuk persaingan adalah:
1. persaignan ekonomi
2. persaingan kebudayaan
3. persaingan untuk mencapai suatu kedudukan dan peranan yang tertentu dalam masyarakat.
4. persaingan karena perbedaan ras.
Hasil persaingan sebagai berikut :
1. perubahan kepribadian seseorang
2. kemajuan
3. solidaritas kelompok
4. disorganisasi
Kontravensi (Contravention) ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpuasan terhadap diri seseorang atau terhadap suatu rencana
Kontravensi mencakup lima subproses yaitu :
1. proses umum
2. bentuk yang sederhana
3. bentuk yang intensif
4. yang bersifat rahasia
5. yang bersifat taktis.
Tipe umum kontravensi adalah kontravensi yang menyangkut generasi seks dan kontravensi.
Tipe-tipe yang merupakan tipe perbatasan antara kontravensi dengan pertentangan atau pertikaian adalah :
1. Kontravensi antara masyarakat setempat.
2. antagonisme keamanan
3. kontravensi intelektual
4. oposisi moral
Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.
Sebab musabab atau akar-akar pertentangan adalah :
1. perbedaan individu-individu
2. perbedaan kebudayaan
3. kontravensi intelektual
4. oposisi moral
Pertentangan-pertentangan yang menyangkut suatu tujuan, nilai atau kepentingan, sepanjang tidak berlawanan dengan pola-pola hubungan sosial di dalam struktur sosial yang tertentu, maka pertentangan-pertentangan tersebut bersifat positif.
Masyarakat biasanya mempunyai alat-alat tertentu untuk menyalurkan benih-benih permusuhan; alat tersebut dalam ilmu sosiologi dinamakan safety-valve institutions yang menyediakan obyek-obyek tertentu yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak yang bertikai ke arah lain.
Bentuk-bentuk pertentangan adalah :
1. Pertentangan pribadi
2. pertentangan masal
3. pertentangan antara kelas-kelas sosial, umumnya disebabkan oleh karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan
4. pertentangan politik
5. pertentangan yang bersifat internasional.
Akibat dari bentuk pertentangan adalah :
1. tambahnya solidaritas ingroup
2. mungkin sebaliknya yang terjadi, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok
3. perubahan kepribadian
4. akomodasi, dominasnsi dan takluknya satu pihak tertentu.
3.3 Fungsi Interaksi Sosial
Tujuan akomodasi adalah sebagai berikut :
1. Untukmengurangi pertentangan antara individu atau kelompok sebagai akibat perbedaan paham.
2. Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.
3. Akomodasi kadang-kadang diusahakan untuk memungkinkan kerja sama antara kelompok-kelompok yang hidup terpisah sebagai akibat dari bekerjanya faktor-faktor sosial, psikologis dan kebudayaan.
4. Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok yang hidup terpisah.

Fungsi persaingan
1. untruk menyalurkan keinginan-keinginan yang bersifat kompetitif.
2. sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian tersalurkan menjadi sebaik-baiknya.
3. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan seleksi sosial.
4. sebagai alat untuk menyaring warga golongan-golongan karya untuk mengadakan pembagian kerja.


IV. KONSEP KELUARGA SEBAGAI ANGGOTA MASYARAKAT
4.1 Pengertian keluarga
Keluarga diartikan sebagai suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial, yang ditandai dengan adanya kerja sama ekonomi. Menurut Robert Maciver (1925), Keluarga adalah penekanan sifat-sifat keluarga sebagai medium dimana terselenggara antar hubungan kemanusiaan yang karib. Keluarga merupakan lembaga sosial pokok dalam masyarakat terdiri dari satu atau lebih dari satu wanita, hidup bersama dengan satu atau lebih dari satu laki-laki. Para anggota diikat dengan berbagai hak dan kewajiban. Fungsi keluarga adalah berkembang biak, mensosialisasi atau mendidik anak, menolong, melindungi atau merawat orang-orang tua (jompo). Deferensi peranan ialah fungsi solidaritas, alokasi ekonomi, alokasi kekuasaan, alokasi integrasi (sosialisasi), dan ekspresi atau menyatakan diri. Kesemuanya atas pertimbangan umur, perbedaan seks, generasi, perbedaan posisi ekonomi, dan pembagian kekuasaan. Bentuk keluarga terdiri dari seorang suami, seorang isteri, dan anak-anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama (disebut keluarga inti). Secara resmi biasanya selalu terbentuk oleh adanya hubungan perkawinan.
4.2 Fungsi keluarga
1. Pengaturan Seksual
Pada setiap masyarakat dijumpai norma-norma keabsahan (norems of legitimacy), yaitu kelahiran diluar nikah tidak dibenarkan. Setiap masyarakat mengatur siapa boleh menikah dengan siapa, dan menentang kehamilan insidental atau hubungan seks kebetulan. Adanya incest taboo berupa larangan hubungan seks secara kerabat yang terlalu dekat, secara sosiologis bermaksud mencegah berkembangnya persaingan seksual di kalangan keluarga sendiri yang berpotensi merusak serta mengikat keluarga yang berbeda-beda dalam masyarakat melalui pernikahan. Hal ini mendorong integrasi sosial dan solidaritas yang menyeluruh. Adanya norma-norma keabsahan dan kewajiban beban dalam keluarga, sudah merupakan hukum sosial. Menurut Broniskow Malinowsy, hukum sosial menetapkan janganlah anak itu dilahirkan ke dunia tanpa seorang lelaki yang mengemban tugas menjadi ayah yang bertanggungjawab. William J. Gode (1983), telah menyusun jenis-jenis penyimpangan sosial pengaturan seksual menurut tingkat ketidak setujuan sosial atau menurut ketidak seimbangan dalam struktur sosial. Jenis-jenis penyimpangannya dalah :
a. Hidup bersama atas dasar suka sama suka (“kumpul kebo”)
b. Pergundikan
c. Hubungan seorang bangsawan dengan gundiknya (zaman praindustri masyarakat Barat) atau raja dengan selir.
d. Melahirkan anak pada masa tunangan.
e. Perzinahan, sang lelaki sudah menikah.
f. Kehidupan bersama seorang yang bertarak (celibat, pastoral, biarawan, menahan hawa nafsu) dengan orang lain yang juga hidup bertarak atau dengan yang tidak bertarak.
g. Perzinahan, sang wanita sudah menikah.
h. Perzinahan, kedua-duanya telah menikah.
i. Kehidupan bersama seorang wanita kasta tinggi dengan lelaki kasta rendah.
j. Incest (hubungan seksual dalam satu keluarga), saudara lelaki dengan saudara perempuan.
k. Incest, bapak dengan anak perempuan.
l. Incest, ibu dengan anak laki-laki.
2. Reproduksi
Berkembangnya teknologi kedokteran, selain memberikan dampak positif bagi program keluarga berencana, dapat pula menimbulkan masalah terpisahnya kepuasan seksual dengan pembiakan. Kehadiran anggota baru dapat dipandang sebagai penunjang atau malapetaka, bagi masyarakat tani dapat dikatakan menunjang, terutama dalam penyediaan tenaga kerja. Bagi masyarakat yang tingkat kehidupannya cukup baik seperti di Eropa, kehadiran anggota keluarga (jumlah anak) lebih dari dua dapat mempengaruhi status sosialnya. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut teori kapilaritas dalam masalah kependudukan.
Pandangan terhadap jumlah punya anak bermacam-macam, ada yang mengharapkan untuk jaminan bagi orang tua di masa depan, ada yang bermotivasi agama, ada alasan kesehatan, dsb. Yang jelas, di suatu negara, bila alat kontraseptif mudah diperoleh dan banyak digunakan, ada keengganan untuk mempunyai anak, dan angka senggama sebelum pernikahan menjadi meningkat (William J. Goode, 1983).
3. Sosialisasi
Manusia sebagai makhluk dalam evolusinya lebih bergantung kepada kebudayaan, dan bukan kepada naluri atau insting. Masyarakat dan kebudayaannya menjadi tergantung kepada keefektifan sosialisasi, yaitu sejauh mana sang anak mempelajari nilai-nilai, sikap-sikap dan tingkah laku masyarakat dan keluarganya. Oleh karena itu, masyarakat harus membentuk atau menuntut unit yang meneruskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Di dalam keluarga seorang anak memperoleh landasan bagi pembentukan kepribadian, sikap, perilaku, dan tanggapan emosinya.
4. Pemeliharaan
Masa kehamilan yang cukup panjang disertani masa kritis dan tugas menyusui berlarut-larut, membuat ibu yang sedang hamil perlu perlindungan dan pemeliharaan. Demikian pula anak yang baru dilahirkan sampai jangka waktu tertentu, sampai dapat berdiri sendiri, menuntut terpenuhinya segala kebutuhan hidupnya. Kedua orang tua menanamkan hubungan kasih dengan anak-anaknya melalui ikatan ketergantungan emosional, memaksa secara bertahap ke arah berdiri sendiri. Manusia tidak berdaya waktu dilahirkan, dan akan cepat mati tanpa pemeliharaan. Sampai usia beberapa tahun manusia belum dapat memelihara diri sendiri. Karakteristik ini berhubungan dengan ciri unik manusia yaitu :
a. mausia lebih lama dewasa daripada binatang.
b. tidak mempunyai naluri untuk menyederhanakan penyesuaian dengan lingkunganya.
c. memiliki otak yang paling rumit diantara semua hewan.
5. Penempatan Anak di dalam Masyarakat.
Jangan menentukan penempatan sosial seorang anak, pengaturan wewenang membantu menentukan kewajiban peranan orang-orang dewasa terhadap sang anak. Anak merupakan simbol berbagai macam hubungan peran yang penting diantara orang-orang dewasa. Adanya pemesraan antara orang tua dan kehadirannya terus-menerus, menimbulkan tuntutan-tuntutan kepada berbagai orang dewasa. Orang-orang dewasa inipun mengadakan tuntutan satu dengan yang lainnya karena anak. Jika anak tidak mempunyai ayah yang sah, kewajiban-kewajiban itu menjadi kacau atau tidak dijalankan, atau bertentangan dengan kewajiban yang telah ditetapkan. Penempatan sosial ditetapkan oleh masyarakat atas dasar keanggotaann keluarga melalui pemberian orientasi hubungan seperti orang tua, saudara kandung, dan kerabat. Berikutnya penempatan sosial melalui orientasi individu pada kelompok lain yang secara sosial telah mapan, seperti hubungan nasional, etnik, agama, organisasi masyarakat, kelas dan sebagainya.
6. Pemuas Kebutuhan Perseorangan
Hubungan suami isteri dibentuk oleh jaringan teman-teman dan anak di tempat mereka hidup, tetapi teman tidak dapat menggantikan kepuasan hubungan suami-isteri dengan anaknya. Setiap orang tua menjalin hubungan emosional yang erat segera setelah kelahiran sang bayi. Keluarga merupakan tempat persemaian sifat-sifat individu yang khas selaku manusia. Banyak kasus atau pengalaman menunjukkan, anak-anak yang tidak dibesarkan oleh orang tuanya sendiri banyak mengalami penderitaan, mulai dari kematian sampai gangguan perkembangan emosionalnya. Anak yang dilahirkan merupakan manifestasi cinta kasih kedua orang tuanya, dan bukan proses kebetulan apalagi terpaksa. Dengan terbentuknya keluarga dan memperoleh anak, suami-isteri dapat menutupi kekurangan-kekurangan alamian masing-masing dan persatuan ini melindungi mereka dari kesulitan yang dihadapi seorang bila hidup sendiri. Perkawinan yang sah dan terhormat dapat memuaskan keinginan seksual perseorangan. Berkumpulnya suami isteri berarti memastikan kelangsungan hidup manusia.
7. Kontrol Sosial
Dari keluarga inti dapat pula menjadi keluarga luas karena disadari adanya kebutuhan rasa aman, menghidari kemungkinan bahaya atau desakan dari anggota masyarakat lainnya. Maka keluaga berfungsi sebagai pelindung. Contonya marga (keluagara besar). Ini disebabakan oleh adanya tambahan sejumlah orang yang sekerabat, baik dari pihak ayah atau ibu, atau berdasarkan pertalian darah (consanguinal) atau secara perkawinan (conjugal). Keluaga consaguinal hubungannya dapat melalui garis laki-laki (patrileneal) atau garis wanita (matrilineal). Ada juga yang bilateral, yaitu ibu dan ayah merupakan atau dianggap leluhur seketurunan. Pada masyarakat Sunda ada kelompok kekerabatan yang disebut gulangkep, yaitu punya kekerabatan tetapi tidak jelas karena banyak perkawinan antar keluarga. Bondooyot lain lagi, yaitu kelompok keturunan yang nonunilinmeal (tidak satu garis), tetapi nenek moyang kelompok ini diikat oleh adat-istiadat pantangan sampai tujuh turunan, cadu tujuh turunan. Kadang-kadang dasar nenek moyangpun dihukumkan untuk tujuh turunan.
4.3 Bentuk-bentuk keluarga
Menurut Tipe kuno
1. Keluarga paling luas yang bercorak kesukuan.
2. Keluarga besar (saudara-saudara laki-laki dengan isteri-isteri dan anak-anaknya masing-masing yang hidup bersama dari suatu warisan yang tidak dibagi-bagi).
3. Keluarga generasi-generasi patriarkal,
4. keluarga seorang bapak dengan isterinya (atau beberapa orang isterinya) dan anak-anaknya yang belum dewasa, sedangkan biasanya ada pula beberapa anggota keluarga lebih jauh yang menumpang dalam keluarga.
Berdasarkan farekukensinya diurutkan 4 tipe keluarga :
1. Monogami
2. Poligami
3. Polianddri
4. Perkawinan kelompok
Dari sudut komposisi anggotanya:
1. Keluarga inti (nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari laki-isteri dan anak-anaknya. Keluarga yang terdiri dari suami, isteri, anak yang belum berkeluarga, dengan menempati rumah atau sebagian dari rumah
2. Keluarga besar / Keluarga luas/ Keluarga consanguine / extended family yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan angota famili ayah-ibu dan anggota keluarga yang terdiri dari perkawinan tambahan. Terdiri dari lebih dari satu keluarga inti membentuk satu keluarga rumah tangga sendiri.
Menurut Koentjoroningrat:
1. Keluarga luas utrolokal, terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga batih dari anak-anak laki maupun perempuan.
2. Keluarga luas verilokal : terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti dari anak-anak laki.
3. Keluarga luas uxorilokal, terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga batih dari anak-anak perempuan.
4.4 Peran dan fungsi anggota keluarga
Di dalam sebuah keluarga, seorang ayah mempunyai peranan memimpin keluarga. Ia bertindak sebgai kepala keluarga. Ibu dan anak-anaknya sebagai anggota keluarga memiliki tugas yang lain. Tugas utama seorang ayah adalah mencari nafkah bagi keperluan hidup keluarga. Sedangkan seorang ibu mempunyai tugas mengatur segala keperluan rumah tangga. Tugas utama anak adalah belajar, disamping itu juga dapat membantu orang tua mereka.
Sebuah keluarga biasanya terdiri atas ayah, ibu dan anak. Masing-masing anggota keluarga mempunyai kewajiban terhadap keluarga. Setiap anggota keluarga juga memiliki hak. Kewajiban dan hak anggota keluarga berbeda diantar satu dengan yang lain. Seorang ayah memiliki tugas sebagai kepala rumah tangga. Kewajiban utama kepala rumah tangga ialah mencari nafkah bagi keperluan keluarga. Seorang ayah bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarga. Seorang ayah juga bertugas melindungi semua anggota keluarga. Tugas terpenting ayah kepada anak-anaknya adalah mendidik mereka hingga menjadi orang yang bertanggungjawab. Selain itu, pemberian nasihat kepada anak-anaknya agar hidup jujur, tertib, bersih, dan beriman kepada Tuhan juga merupakan tugas seorang ayah. Sedangkan hak seorang ayah ialah memperoleh rasa hormat dari anggota keluarga yang lain.
Kewajiban utama seorang ibu adalah mengurus rumah tangga. Ibu harus bersusaha membimbing anak-anaknya agar menjadi manusia yang sehat dan berbudi pekerti luhur. Oleh karena itu seorang ibu harus pandai mengatur gizi makanan keluarga sehari-hari. Seorang ibu juga bertugas mengatur hasil nafkah yang diberikan oleh ayah bagi kepenetingan keluarga.
Kewajiban seorang anak ialah patuh dan taat kepada perintah orang tua. Seorang anak juga wajib menghormati ayah dan ibunya. Setiap anak berkewajiban membantu pekerjaan sehari-hari orang tuanya di rumah. Tugas utama seorang anak adalah belajar. Seorang anak berhak mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Seorang anak juga berhak mendapat pendidikan yang layak dari orang tuanya.



V. KEBUDAYAAN
5.1 Pengertian kebudayaan (dari beberapa pendapat)
Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor, 1897).
Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbul-simbul yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi; pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham, dan terutama keterikatan terhadap nilai-nilai. (Kroeber dan Klukhohn, 1950)
Kebudayaan ialah sesuatu yang berharga atau baik (Bakker, 1984)
5.2 Tujuan ruang lingkup kebudayaan
Tujuan Ilmu Budaya Dasar adalah :
1. Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2. Memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3. Mengusahakan agar para mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. Mata kuliah ini berusaha menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi masalah dan nilai-nilai dalam lingkungan masyarakat mereka khususnya, dan masalah nilai-nilai umumnya, tanpa terikat oleh disiplin mereka.
4. Menjembatani para akademisi kita agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain.
Lingkup budaya dasar mengharapkan mahasiswa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus.
5.3 Unsur-unsur kebudayaan
Menurut Melvile J. Herkovits, 4 unsur pokok kebudayaan :
1. Alat-alat teknologi
2. Sistem ekonomi
3. Keluarga
4. Kekuasaan politik
Menurut Bronislaw Malinowski, unsur-unsur pokok kebudayaan yaitu :
1. sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara pra anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
2. organisasi ekonomi
3. alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama.
4. organisasi kekuatan.
Menurut pendapat para sarjana, unsur kebudayaan yang besar (cultural universal):
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transpor dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sitem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya.).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4. Bahasa (lisan maupun tulisan).
5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).
6. Sistem pengetahuan
7. Religi (sistem kepercayaan).
Menurut RaphLinton kegiatan kebudayaan (cultural activity) dibagi menjadi :
1. Cultural Universal pencaharian hidup dan ekonomi, antara lain kegiatan-kegiatan pertanian, peternakan, sistem produksi dan lain-lain. Kesenian misalnya, meliputi kegiatan-kegiatan seni tari, seni rupa, seni suara dan lain-lain.
2. Trail-comple, misalnya kegiatan pertanian menetap meliputi unsur-unsur irigasi, sistem mengolah tanah dengan bajak, sistem hak milik atas tanah dsb.
3. Items, adalah unsur kebudayaan yang paling kecil, misal bagian dari alat bajak.
5.4 Sistem budaya dan sistem sosial
Sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang bekerjasama untuk melakukan suatu maksud.
Ciri-ciri sistem :
1. Fungsi (function),
2. Satuan (unit),
3. Batasan (boundary),
4. Bentuk (structure).
5. Lingkungan (enviroment),
6. Hubungan (relation),
7. Proses (process),
8. Masukan (input),
9. Keluaran (output),
10. Pertukaran (exchange)
Sistem budaya atau cultural system merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan lepas satu dari yang lainnya, tetapi selalu berkaitan dan menjadi suatu sistem. Dengan demikian sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan yang diartikan pula adat istiadat Adat istiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, norma-norma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan, termasuk norma agama.
Fungsi sistem budaya adalah menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia. Proses belajar dari sistem budaya ini dilakukan melalui pembudayaan atau institutionalization (pembudayaan). Dalam proses pembudayaan ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini dimulai sejak kecil, dimulai dari lingkungan keluarganya, kemudian dengan lingkungan di luar rumah, mula-mula dengan meniru berbagai macam tindakan. Setelah perasaan dan nilai budaya yang memberikan motivasi akan tindakan meniru itu diinternalisasi dalam kepribadiannya, maka tindakannya itu menjadi suatu pola yang mantap, dan norma yang mengatur tindakannya dibudayakan. Tetapi ada juga individu yang dalam proses pembudayaan tersebut yang mengalami deviants, artinya individu yang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan sistem budaya di lingkungan sosial sekitarnya.
Konsep sistem sosial merupakan alat analisis relatitas sosial sehingga sistem sosial menjadi suatu model analisis terhadap organisasi sosial. Konsep sistem sosial adalah alat pembantu untuk menjelaskan tentang kelompok-kelompok manusia. Tiap-tiap sistem sosial terdiri atas pola-pola perilaku tertentu yang mempunyai struktur dalam dua arti, pertama, relasi-relasi sendiri antara orang-orang bersifat agak mantap dan tidak cepat berubah, kedua, perilaku-perilaku mempunyai corak atau bentuk yang relatif mantap.
Dalam sistem sosioal, paling tidak harus terdapat empat hal :
1. Dua orang atau lebih
2. Terjadiinteraksi di antara mereka
3. Bertujuan
4. Memiliki struktur, simbol, dan harapan-harapan bersama yang dipedomaninya.
Menurut Parsons sistem sosial dapat berfungsi apabila dipenuhi empat syarat fungsional :
1. Adaptasi, menunjuk pada keharusan bagi sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkunganya.
2. Mencapai tujuan, merupakan persyaratan fungsional bahwa tindakan itu diarahkan pada tujuan-tujuannya (bersama sistem sosial).
3. Integrasi, merupakan persyaratan yang berhubungan dengan interelasi antara para anggota dalam sistem sosial.
4. Pemeliharaan pola-pola tersembunyi, konsep latensi (latency) pada berhentinya interaksi akibat keletihan dan kejenuhan sehingga tunduk pada sistem sosial lainnya yang mungkin terlibat.
Unsur-unsur sistem sosial adalah :
1. Keyakinan (pengetahuan)
2. Perasaan (sentimen),
3. Tujuan, sasaran, atau cita-cita,
4. Norma,
5. Kedudukan peranan (status),
6. Tindakan atau pangkat (rank),
7. Kekuasaan ataupengaruh (power),
8. Sangsi,
9. Sarana atau fasilitas,
10. Tekanan ketegangan (stress-strain).
5.5 Jenis-jenis kebudayaan di Indonesia
Beberapa pendapat tentang kebudayaan Indonesia
1. Kebudayaan Indonesia ialah kebudayaan suku-suku yang memuncak pada suatu saat. Dengan kata lain, kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan suku. Sehingga dapat dibayangkan bahwa apa yang terbaik dan paling baik dalam kebudayaan suku menjadi kebudayaan Indonesia.
2. Kebudayaan Indonesia itu merupakan sebuah sintesa dari berbagai macam budaya suku, melahirkan suatu yang baru. Malahan kebudayaan Indonesia itu lain sama sekali dengan kebudayaan suku. Sesuatu yang baru, dan lahir bukan dari suku-suku.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan: Kebudayaan Indonesia memang belum menjadi sebuah wujud yang kental dan menyeluruh, namun demikian sudah ada dan sedang dalam taraf berkembang.
Kebudayaan Indonesia yang sedang kembang itu antara lain :
1. Pancasila.
2. Bahasa Indonesia
3. Undang-Undang Dasar tahun 1945
4. Modernisasi dan Pembangunan.
5. Lagu kebangsaan dan lagu wajib
5.6 Ciri-ciri khusus kebudayaan yang ada di Indonesia
Ciri khusus kebudayaan Indonesia dicirikan oleh aneka warna bangsa Indonesia yang dinyatakan dalam “bhineka tunggal ika” (bhinna = bentuk partisip-pasif dari akar kata Sanskerta bhid = pecah; ika = itu; tunggal = satu; jadi bhineka tunggal ika = terpecah itu satu itu). Yang dimaksud kebudayaan khas Indonesia adalah tiap hasil karya putra Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya, pokoknya asal khas dan bermutu saja, sedemikian rupa sehingga sebagian besar orang Indonesia mau dan bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan karya tadi.


VI. PERKEMBANGAN NILAI BUDAYA
6.1 Konsep nilai, sistem nilai dan orientasi nilai.
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi, bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai budaya itu.
Konsepsi-kosepsi tentang nilai yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat membentuk sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya demikian kuat meresap dalam jiwa warga masyarakat sehingga sukar diganti dengan nilai budaya dan dalam waktu yang singkat.

Kerangka Kluckhohn Mengenai Dasar Masalah Dasar Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai-Budaya manusia

Masalah dasar dalam hidup Orientasi Nilai Budaya

Hakekat Hidup (MH) Hidup itu buruk Hidup itu baik Hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hi¬dup itu menjadi baik
Hakekat Karya (MK) Karya itu untuk nafkah hidup Karya itu untuk ke¬dudukan, kehormat¬an, dsb. Karya itu untuk me-nambah karya
Persepsi manusia ten-tang waktu (MW) Orientasi ke masa kini Orientasi ke masa lalu Orientasi ke masa depan
Pandangan manusia terhadap alam (MA) Manusia tunduk ke¬pa¬da alam yang dah¬syat Manusia berusaha menjaga keselaras¬an dengan alam Manusia berhasrat menguasai alam
Hakekat hubungan an-tara manusia dengan sesamanya (MM) Orientasi kolateral (horisontal), rasa ke¬tergantungan ke¬pa¬da sesamanya (ber¬ji¬wa gotong ro¬yong) Orientasi vertikal, ra¬sa ketergantungan ke¬¬pada tokoh-tokoh atasan dan berpang¬kat Individualisme menilai tinggi usaha atas keku¬atan sendi¬ri.

6.2 Sistem nilai di masyarakat
Menilai berarti memberi pertimbangan untuk menentukan apakah sesuatu itu bermanfaat/berguna atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah. Hasil penilian diebut nilai (value). Manusia selalu lebih menghendaki nilai kemanfaatan/kegunaan dari pada kerugian, nilai kebaikan dari pada keburukan dan nilai kebenaran dari pada kesalahan. Alasannya adalah nilai kerugian, keburukan dan kesalahan itu nol atau kosong, tidak berarti apa-apa, bahkan dapat menjadi sumber kehancuran, kemiskinan dan kebodohan atau kesalahan dia dianggap telah melakukan penyimpangan karena salah arah serta salah jalan. Manusia ini perlu disadarkan dan diselamatkan, sehingga dia kembali ke jalan yang benar, baik dan bermanfaat / berguna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat.
Sistem nilai budaya yang sudah berpola meliputi segala aspek nilai kehidupan masyarakat. Kehidupan masyarakat adalah pola kehidupan yang berkelompok dalam bentuk-bentuk tertentu karena :
1. ikatan perkawinan dan keturunan darah, seperti keluarga.
2. Kesatuan geografis, seperti desa dan marga.
3. Kesamaan asal usul seperti etnis Melayu, Cina dan Sunda
4. Kesamaan kepentingan dan tujuan, seperti subak, organisasi pemuda dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta
5. Kesamaan keahlian dan ketrampilan seperti profesi keilmuan.
Sistem nilai budaya yang sudah berpola merupakan gambaran sikap, pikiran, dan tingkah laku anggota/warga yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat. Setiap anggota / warga masyarakat menyesuaikan diri dengan sistem nilai budaya mereka yang sudah berpola itu. Sistem nilai budaya tersebut adalah produk budaya hasil pengalaman hidup yang berlangsung terus menerus, terbiasa yang akhirnya disepakati bersama sebagai pedoman hidup mereka dan sebagai identitas kelompok masyrarkat. Sistem nilai budaya yang sudah berpola itu antara lain mengenai :
1. struktur kelompok masyarakat
2. bentuk rumah dan anggota penghuninya.
3. perkawinan dan proses pelangsungannya
4. etika dan tata krama dalam pergaulan hidup
5. bahasa dan tutur kata dalam komunikasi
6. bentuk dan cara berpakaian serta penggunaannya dan
7. tata tertib makan dan minum (jenis, cara, dan penyajiannya).
Pengalaman nyata yang mereka peroleh dalam hubungan dan interaksi sesama anggota masyararkat mengandung nilai-nilai yang menyatukan dan memperkuat kesatuan mereka dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai hidup tersebut terus menjadi kenangan yang tidak terlupakan, harapan menatap masa depan yang lebih cerah. Belajar dari pengalaman menempuh tahap-tahap perekembangan dan konflik yang telah dialami oleh anggota keluarga, kemudian ditujukan pula kepada leluhur dan menjadi acuan pula bagi generasi. Seperti dikatakan oleh Paul Pearsall (1997), pada beberapa pola pertumbuhan keluarga yang berkembang, anggota keluarga yang memiliki perspektif dan kepedulian terhadap fase dan pola pertumbuhan keluarga, adalah cara utama menyadarkan diri siapa mereka, sanggup mengatasi krisis keluarga, tabah dan mempertahankan pandangan hidup keluarga. Pandangan hidup yang dimaksud adalah sistem nilai budaya.
6.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai budaya.
Menurut Munandar Sulaiman (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perkembangan nilai budaya adalah :
1. Jarak komunikasi antara kelompok etnis.
Masih terdapat jarak komunikasi antara kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik budaya seseorang yang bergerak dari satu kelompiok etnis ke kelompok etnis yang lain. Contoh migdrasi ke kelompok etnis yang berbeda mungkin menimbulkan pergeseran sistem nilai budaya yang sudah ada di daerah kelompok etnis penduduk asli, misalnya menganggap rendah status etnis pendatang (negatif), tetapi mungkin juga etnis pendatang menjadi penggerak pembangunan di daerah kelompok etnis penduduk asli (positif).
2. pelaksanaan pembangunan,
Pelaksanaan pembangunan yang terus menerus akan dapat merubah sistem nilai ke arah yang positif dan negatif..
Pergeseran sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain :
a. Pola hidup tradisional, dan bertaraf lokal yang berbau mistis, berubah menjadi pola hidup modern bertaraf nasional-internasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan teklnologi.
b. Pola hidup sederhana yang hanya bergantung pada alam lingkungan, meningkat menjadi pola hidup modern yang mampu menguasai alam lingkungan dengan dukungan prasarana dan sarana serta teknologi.
c. Pola hidup makmur yang hanya kecukupan sandang, pangan, dan perumahan meningkat menjadi pola hidup makmur dan juga sehat, teratur, bersih dan senang serta aman sesuai dengan standar menurut ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Kemampuan kerja yang hanya berbasis kekuatan fisik dan pengalaman, meningkat menjadi kemampuan kerja berbasis keahlian, dan ketrampilan yang didukung teknologi.
Pergeseran sitem nilai yang mengarah negatif antara lain :
a. Penggusuran hak milik seseorang untuk kepentingan pembangunan tanpa prosedur hukum yang pasti dan tanpa ganti kerugian yang layak, bahkan tanpa ganti kerugian sama sekali.
b. Mengurangi atau meniadakan arti kemanusiaan seseorang memandang manusia sebagai obyek sasaran yang selalu dikenai penertiban, serta hak asasinya tidak dihargai.
c. Tindakan sewenang-wenang dan tidak ada kepastian hukum dalam hubungan antara penguasa / pejabat / majikan dengan rakyat bawahan / buruh.
3. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menimbulkan konflik dengan tata nilai budaya yang sudah ada, perubahan kondisi kehidupan manusia, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakan. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi yang selain memiliki segi positif, juga memiliki segi negatif.Sebagai dampak negatif teknologi, manusia menjadi resah. Keresahan manusia muncul akibat adanya benturan nilai teknologi modern dengan nilai-nilai tradisional (konvensional). Ilmu pengetahuan dan teklnologi berpihjak pada suatu kerangka budaya. Kontak budaya yang ada dengan budaya ssing menimbulkan perubahan orientasi budaya yang mengakibatkan perubahan sistem nilai budaya.
6.4 Perbedaan nilai dan moral
Nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenai baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, mulia-hina, maupun penting atau tidak penting.
Dalam kenyataannya orang dapat saja mengembangkan perasaannya sendiri yang mungkin saja berbeda dengan perasaan sebagian besar warga masyarakat. Kenyataan ini melahirkan adanya nilai individual, yakni nilai-nilai yang dianut oleh individu sebagai sebagai orang perorangan yang mungkin saja selaras dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang lain, tetapi dapat pula berbeda atau bahkan bertentangan. Adapun nilai-nilai yang dianut oleh sebagian warga masyarakat dina¬ma¬kan nilai sosial.
Berikut dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai nilai sosial :
1. Kimball Young, nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.
2. A. W. Green : nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap obyek.
3. Woods: nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
Jenis-jenis nilai
Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu sebagai gerikut :
1. Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
2. Nilai vital, yaitu meliputi bergai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas.
3. Nilai kerohanian, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia seperti :
a. nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta);
b. nilai keindahan, yakni nilai yang bersumber pada unsur perasaan (estetika);
c. nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa) dan
d. nilai keagamaan, (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.
Ciri-ciri nilai sosial
Untuk lebih mengenal nilai sosial, berikut dikemukakan beberapa ciri tentang nilai sesuai yang dikemukakan oleh Huky:
1. Nilai merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis ataupun bawaan lahir.
2. Nilai sosial diimbaskan. Nilai dapat diteruskan dan diimbaskan dari satu orang atau kelompok ke orang atau kelompok lain melalui berbagai macam proses sosial seperti kontak sosial, komunikasi interaksi, difusi, adaptasi, adopsi, akulturasi maupun asimilasi.
3. Nilai dipelajari. Nilai diperoleh, dicapai dan dijadikan milik diri melalui proses be¬la¬jar, yakni sosialisasi yang berlangsung sejak masa kanak-kanak dalam keluarga.
4. Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang disetujui dan yang telah diterima secara sosial itu menjadi dasar bagi tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan.
5. Nilai merupakan asumsi-asumsi abstrak dimana terdapat konsensus sosial ten¬tang harga relatif dari obyek dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial secara konsep¬tu¬al merupakan abstraksi dari unsur-unsur nilai bermacam-macam obyek di dalam masyarakat.
6. Nilai-nilai cenderung berkaitan satu dengan yang lain dan membentuk pola-pola dan sistem nilai dalam masyarakat. Dalam hal ini apabila tidak terjadi keharmo¬nis¬an jalinan integral dari nilai-nilai akan timbul problema sosial dalam masyarakat.
7. Sistem-sistem nilai beragam bentuknya antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, sesuai dengan penilian yang diperlihatkan oleh setiap kebudayaan terhadap bentuk-bentuk kegiatan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain, keanekaragaman kebudayaan dengan bentuk dan fungsi yang saling berbeda, menghasilkan sistem nilai yang berbeda pula.
8. Nilai selalu memberikan pilihan dari sistem-sistem nilai yang ada, sesuai dengan tingkatan kepentingannya.
9. Masing-masing nilai dapat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.
10. Nilai-nilai juga melibatkan emosi dan perasaan.
11. Nilai-nilai dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat secara positif maupun negatif.
Fungsi nilai sosial
Fungsi sosial antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.
2. Sebagai petunjuk arah: cara berpikir, berperasaan, dan bertindak, serta panduan me¬nen¬tu¬kan pilihan, sarana untuk menimbang penilaian masyarakat, penentu dalam memenuhi peran sosial, dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial.
3. Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai mendorong, menuntun, dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai menimbulkan perasaan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.
4. Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan kelompok atau masyarakat.
5. Nilai dapat berfungsi sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.
Pengertian Norma Sosial
Nilai dan norma selalu berkaitan, walaupun demikian keduanya dapat dibedakan. Untuk melihat kejelasan hubungan antara nilai dengan norma, dapat dinyatakan bahwa norma pada dasarnya adalah juga nilai tetapi disertai dengan sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya. Nilai merupakan sikap dan peerasaan-perasaan yang diperlihatkan oleh orang perorangan, kelompok ataupun masyarakat secara keseluruhan tentang baik-buruk, benar-salah, suka-tidak suka, dan sebagainya terhadap obyek, baik material maupun non material. Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan orang-perorang, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial. Dengan kata lain, nilai dan norma sosial bergandengan dalam mendorong dan menekan anggota masyarakat untuk memenuhi atau mencapai hal-hal yang dianggap baik dalam masyarakat.
Norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar masyarakat.
Norma dibangun di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial.
Macam-macam norma sosial
Dilihat dari tingkat sanksi atau kekuatan mengikatnya terdapat beberapa macam norma.
1. Tata cara (usage)
tata cara merupakan norma yang menunjuk kepada satu bentuk perbuatan dengan sanksi yang sangat ringan terhadap pelanggarnya, misalnya aturan memegang garpu atau sendok ketika makan, cara memegang gelas ketika minum, serta mencuci tangan sebelum makan. Suatu pelanggaran atau penyimpangan terhadapnya tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekadar celaan atau dinyatakan tidak sopan oleh orang lain.
2. Kebiasaan (folkways)
Kebiasaan atau folksways merupakan cara-cara bertindak yang digemari ma¬sya¬ra¬kat sehingga dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang. Folksways mem¬pu¬nyai kekuatan mengikat lebih besar dari pada tata cara. Misalnya mengu¬cap¬kan salam ketika bertemu, membungkukkan badan sebagai tanda penghor¬mat¬an kepada orang yang lebih tua, serta membuang sampah pada tempatnya. A¬pa¬bi¬la perbuatan tersebut tidak dilakukan, maka dianggap sebagai penyim¬pang¬an terhadap kebiasaan umum dalam masyarakat dan setiap orang akan me¬nya¬lah¬kan¬nya. Sanksinya dapat berupa teguran, sindiran atau dipergunjing¬kan.
3. Tata kelakuan (mores)
Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama atau ideologi yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut jahat. Contoh : larangan berzina, berjudi, minum minuman keras, penggunaan narkotika dan zat-zat aditif (obat-obatan terlarang), dan mencuri. Menurut Mac Iver dan Page, apabila kebiasaan (folkways) tidak hanya dianggap sebagai cara berperilaku, tetapi juga diterima sebagai norma pengatur, maka kebiasaan tadi pun menjadi mores. Ia mencerminkan sifat-sifat yang hidup dan secara sadar atau tidak digunakan sebagai alat pengawas oleh masyarakat terhadap warganya. Tata kelakuan di satu pihak memaksakan suatu perbuatan dan di lain pihak melarang suatu perbuatan, sehingga secara langsung merupakan suatu alat pengendalian sosial agar anggota masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakan dan perbuat¬an-perbuatannya dengan tata kelakuan itu.
Tata kelakuan sangat penting dalam masyarakat, karena berfungsi:
a. memberi batas-batas kepada kelakuan-kelakuan individu. Setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan masing-masing yang sering kali berbeda antara yang satu dengan yang lain. Suatu masyarkat dengan tegas malarang pergaulan bebas antara pemuda dengan pemudi, sebaliknya larangan tersebut dapat saja tidak jelas pada masyarakat yang lain. Namun juga terdaoat perilaku-perilaku yang secara umum atau universal ditentang atau dilarang oleh tata kelakuan yang berlaku di berbagai masyarakat dari berbagai suku bangsa di dunia.
b. Tata kelakuan mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya. Di satu pi¬hak tata kelakuan memaksa agar individu menyesuaikan tindakan-tindakan¬nya dengan tata kelakuan yang berlaku, dan di lain pihak memaksa masyara¬kat untuk menerima individu berdasarkan kesanggupannya menyesuaikan dirinya dengan tata kelakuan yang berlaku. Bahkan, tata kelakuan dapat masyarakat memberikan penghargaan kepada para warganya yang dapat dianggap sebagai teladan dalam bertindak dan bertingkah laku.
c. Tata kelakuan menjaga solidaritas antara anggota-anggota masyarakat sehing¬ga mengukuhkan ikatan dan mendorong tercapainya integrasi sosial yang kuat.
4. Adat ( customs)
Adat merupakan norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikat sehingga anggota-anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat akan menderita, karena sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Misalnya pada masyarakat yang melarang terjadinya perceeraian, apabila terjadi suatu perceraian maka tidak hanya yang bersangkutan yang mendapatkan sanksi atau menjadi tercemar, tetapi seluruh keluarga atau bahkan masyarakatnya. Sanksi atas pelanggaran terhadap adat istiadat dapat berupa pengucilan, dikeluarkan dari masyarakat atau harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya melakukan upacara tertentu sebagai media rehabilitasi dirinya.
5. Hukum (laws)
Hukum merupakan norma yang bersifat formal dan berupa aturan tertulis. Ketentuan sanksi terhadap pelanggar paling tegas apabila dibandingkan dengan norma-norma yang disebut terdahulu. Hukum adalah suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajiban ataupun larangan, agar dalam masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan. Ketentuan-ketentuan dalam norma hukum lazimnya diindikasikan dalam bentuk kitab undang-undang atau konvensi-konvensi.
Disamping norma-norma yang tersebut di atas, dalam masyarakat masih terdapat pula norma yang mengatur tentang tindakan-tindakan yang berkaitan dengan estetika, seperti tari-tarian, pakaian, musik, arsitektur rumah, dan interior mobil. Mirip dengan estetika adalah mode atau fashion. Mode atau fashion merupakan cara atau gaya dalam melakukan atau membuat sesuatu yang sering berubah-ubah dan diikuti oleh banyak orang. Salah satu ciri khas mode adalah sifatnya yang massal dan tiba-tiba dalam waktu yang relatif singkat.
Norma yang bserlaku dalam masyarakat dapat pula dibedakan berdasarkan jenis atau sumbernya yaitu sebagai berikut :
1. Norma agama, yakni ketentuan-ketentuan hidup bermasyarakat yang bersumber pada ajaran agama (wahyu atau revelasi).
2. Norma kesopanan atau etika, yakni ketentuan-ketentuan hidup yang berlaku dalam hubungan atau interaksi sosial antar manusia dalam masyarakat.
3. Norma kesusilaan, yakni ketentuan-ketentuan yang bersumber pada hati nurani, moral atau filsafat hidup.
4. Norma hukum, yakni ketentuan-ketenteuan tertulis yang berlaku dalam bersumber pada kitab undang-undang suatu negara tertentu.
6.5 Pandangan dari nilai masyarakat terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
Sebagai bagian dari adat istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya tadi sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat
Keluarga juga berfungsi sebagai sumber budaya dan nilai budaya. Dikatakan sum¬ber budaya karena keluarga adalah pusat interaksi sosial pertama suami dan isteri ke¬mu¬di¬an ditambah anak yang lahir dari hubungan suami dan isteri. Dengan demiki¬an, interaksi sosial yang membentuk budaya keluarga adalah interaksi ayah dan i¬bu, interaksi antara ayah-ibu dan anak mereka. Karena interaksi tersebut berlang¬sung lama dan terus menerus, maka terbentuklah sistem nilai budaya yang bersifat nor¬ma¬tif dalam lingkungan keluarga, yang menjadi pedoman hidup anggota keluar¬ga. Sistem nilai ini akhirnya membudaya. Fungsi keluarga ini disebut juga fungsi sosial budaya.
Perkembangan budaya dapat mengakibatkan terjadi perubahan sistem nilai dalam kehidupan keluarga. Karena keluarga itu awal dari kehidupan bermasyrakat, maka perubahan sistem nilai akan terjadi pula dialam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Faktor internal yang mempengaruhi kehidupan keluarga terutama berasal dari kelakuan ayah dalam membimbing keluarga. Faktor internal tersebut antara lain :
1. kemauan kerja keras menghidupi keluarga.
2. melindungi anggota keluarga.
3. memberi contoh berbuat baik kepada keluarga dan lingkungan hidupnya.
4. kemampuan menciptakan norma moral bagi kehidupan keluarga.
Ayah sebagai kepala keluaraga menjadi panutan keluarga. Artinya, apabila terjadi perubahan sistem nilai pada ayah selaku kepala keluarga, akan diikuti pula oleh anggota sekeluarga. Apabila perubahan sistem nilai itu positif dalam arti bermanfaat menuju pada kebaikan dan kesejahteraan hal ini menjadi faktor pendorong ke arah perkembabngan budaya yang lebih maju dan sehat. Kehidupan keluarga tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas. Contoh perubahan sistem nilai positif itu antara lain sbabgai berikut:
1. budaya malas dan pasif berubah menjadi budaya aktif kreatif dan produktif.
2. budaya komuniasi kurang terbuka dalam keluarga berubah menjadi budaya kasih sayang, ramah, serta suka memperhatikan dan menghargai pendapat anggota keluarga.
Sebaliknya, apabila perubahan sistem nilai yang dicontohkan oleh ayah selaku kapala keluarga itu negatif (akbiat pengaruh faktor eksternal), artinya merusak tata kehidupan keluarga yang sudah baik, hal ini akan menimbulkan dampak yang merugikan nilai-nilai kehidupan keluarga. Dampak merugikan terseebut dapat berbentuk peniruan mentah-mentah oleh anggota keluarga terhadap kelakuan yang dicontohkan ayah sebagai kepala keluarga, bahkan mungkin akan ditiru juga oleh anggota masyakat di lingkungannya.
Beberapa contoh perubahan sistem nilai negarif, antara lain adalah:
1. Peniruan budaya Barat tanpa menghiraukan aspek keburukannya.
2. Budaya paguyuban berubah menjadi budaya pamrih (komersial).
3. kemauan kerja keras yang produktif berubah menjadi suka bersantai dan konsumtif.
4. Tutur, bahasa halus berubah menjadi kasar dalam pergaulan keluarga.
5. Pergaulan santun berubah menjadi bebas dan mengabaikan etika.
6. Busana tertutup berubah menjadi mode terbuka dan merangsang.
Anggota keluarga atau anggota masyarakat yang lain yang tidak setuju dengan perubahan sistem nilai negatif akan memberikan reaksi dan sikap oposisi. Bentuk bentuk reaksi dan sikap oposisi itu antara lain tercermin pada keadaan berikut ini:
1. Pembangkangan, kebencian, ataupun permusuhan dalam keluarga.
2. Interaksi dan komunikasi dalam keluarga semakin berkurang dan tidak berarti.
3. Rasa hormat, saling menghargai, dan kasih sayang dalam keluarga makin pudar dan menjadi kurang bermakna.
4.. Keadaan norma kehidupan keluarga mulai kendur dan cenderung dilanggar.
5. Pergi dari dan datang ke rumah tidak pernah lagi terdengar ucapan salam santun.
Faktor eksternal dapat mengubah sistem nilai keluarga menuju ke arah perbaikan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik daripada keadaan sebelumnya (perubahan sistem nilai positif). Faktor eksterenal tersebut antara lain adalah yang berikut ini:
1. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan.
Faktor ini membekali keluarga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan guna menjadi hidup berkualitas.
2. Kegiatan keagamaan
Faktor ini membekali keluarga dengan iman dan takwa yang menjadi pedoman kehidupan etis dan berguna sebagai pencegah perbuatan mungkar yang merugikan diri sendiri dan keluarga.
3. Pergaulan dan komunikasi
Faktor ini membekali keluarga dengan pengalaman hidup yang bermanfaat bagi perbaikan nasib dan menjadi sumber keberhasilan.
4. Pembauran dalam kelompok masyrakat
Faktor ini membekali keluarga dengan pengalaman sistem nilai yang diperolehnya dari hubungan dan cara hidup masysdrakat setempat.
5. Adaptasi budaya setemopat dan budaya pendatang
Faktor ini membekali keluarga dengan sitem nilai baru yang lebih baik dari keadaan sebelumnya karena perpaduan dan penyesuaian unsur-unsur positif dari kedua budaya yang berlainan.

VII. KONSEP MASYARAKAT DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA
7.1 Masyarakat Pedesaan Dan Perkotaan
Banyak alasan penting membicarakan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Selain belum ada kesepakatan umum tentang keberadaan masyarakat desa sebagai suatu pengertian yang baku, juga kalau dikaitkan dengan pembangunan yang orientasinya banyak dicurahkan ke pedesaan, maka pedesaan memiliki arti tersendiri dalam kajian struktur, sosial data kehidupannya. Dalam keadaan desa yang “sebenarnya”, desa masih dianggap sebagai standar dan pemeliharaan sistem kehidupan bermasyakat dan kebudayaan asli seperti tolong-menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong-royong, kesenian, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat, kehidupan moral susila, dan lain-lain.
Orang kota membayangkan bahwa desa ini merupakan tempat orang bergaul dengan rukun, tenang, selaras, dan “akur”. Akan tetapi justru dengan berdekatan, mudah terjadi konflik atau persaingan yang bersumber dari peristiwa kehidupan sehari-hari, hal tanah, gengsi, perkawinan, perbedaan antara kaum muda dan tua serta antara pria dan wanita. Bayangan bahwa desa tempat ketenteraman pada konstelasi tertentu ada benaarnya, tetapi yang nampak justru bekerja keraslah yang merupakan syarat pokok dapat hidup didesa. Hal ini erat masalahnya dengan istilah terbelakang yang selalu tampak di pedesaan, sehingga perbaikan kehidupannya perlu dikembangkan melalui perangsang seperti kredit, Banpres, Inpres, Bimas, Inmas, dan sebagainya.
Demikian pula dalam konteks pembangunan desa (pertanian), semula orang beranggapan bahwa masyarakat pertanian mengalami involusi pertanian yang berjalan dalam proses pemiskinan dan apapun tekonologi dan kelembagaan modern yang masuk ke pedesaan, akan sisa-sia. Pernyataan-pernyatan sumbang ini justru merangsang para peneliti atau penentu kebijaksanaan dalam membangun masyarakat desa. Adanya kontroversi kesan atau pendapat ini mungkin lebih tepat bila dihubungkan dengan berbagai gejala sosial seperti konsep-konsep perubahan sosial atau kebudayaan.
7.2 Pengertian masyarakat
Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, asal katanya socius yang berarti kawan. Adapun kata “masyarakat” berasal dari bahasa arab, yaitu syirk, artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk-bentuk aturan hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melainkan oleh unsur-unsur kekutan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan. Para ahli sepoerti Maclver, J.L. Gillin, dan J.P. Gillin sepakat, bahwa adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara,. Dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama sehingga masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu, yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Untuk arti yang lebih khusus masyarakat disebut pula kesatuan yang mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat. Mirip jiwa manusia yang dapat diketahui, pertama melalui kelakuan dan perbuatannya sebagai Penjelmaanya yang lahir, kedua melalui pengalaman batin dalam roh manusia perseorangan sendiri. Bahkan memperoleh “superioritas”, merasakan sebagai sesuatu yang lebih tinggi nilainya daripada jumlah bagian-bagiannya. Sesuatu yang “kokoh-kuat”, suatu perwujudan pribadi bukan di dalam, melainkan diluar, bahkan di atas kita.
7.3 Unsur-unsur masyarakat
Masyarakat tidak hanya sekedar sekumpulan orang atau khalayak ramai. Masyarakat memiliki komponen-komponen berikut ini :
1. Ada sejumlah orang yang relatif besar jumlahnya, saling berinteraksi baik antar individu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok sehingga menjadi satu kesatuan sosial budaya.
2. Menjadi struktur dan sistem sosial budaya, baik dalam skala kecil (mikro-antar individu), maupun dalam skala yang lebih luas (makro-antar kelompok).
3. Berada dalam suatu kawasan tertentu. Ada dua macam kawasan yang oleh Robert Lawang disebut satuan administratif (desa-kecamatan-kabupaten-propinsi), dan satuan teritorial (kawasan pedesaan-perkotaan).
4. Berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama, antar genererasi.
Unsur-unsur masyarakat kalau diringkas mencakup hal sebabgai berikut:
1. Manusia bukan hidup sendiri-sendiri tetapi hidup bersama
2. Setiap individu sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan
3. Masyarakat hidup bersama
4. Bercampur untuk jangka hidup waktu yang lama.
7.4 Syarat-syarat masyarakat
Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian serta golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.
Syarat masyarakat atanra lain :
1. Diantara mereka harus ada pertalian satu sama lain. Pengaruh dan pertalian kebatinan yang terjadi dengan sendirinya disini menjadi unsur yang sine qua non (yang harus ada) bagi masyarakat.
2. Sedikitnya tiap anggota sadar akan adanya anggota lain, dan mau tidak mau ia memperhatikan adanya orang lain itu dalam tiap langkahnya.
3. Kalau cara memperhatikan itu telah menjadi adat, tradisi atau lebih menjadi lembaga, maka perhatian itu tetap dipelihara sekalipun tidak ada seseorang didekatnya.
7.5 Ciri-ciri masyarakat desa dan masyarakat kota.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan dan perkotaan dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orietasi terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas-heterogenitas, diferensiasi sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengendalian sosial, pola kepemimpinan, ukuran kehidupan, solidaritas sosial dan nilai atau sistem nilainya.
1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam.
Masyrakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografisnya di daerah desa. Mereka suilit “mengontrol” kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam, seperti dalam pola berpiklir dan falsafah hidupnya. Tentu akan berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam. Misalnya dalam bercocok tanam dan menuai harus pada waktunya, sehingga ada kecenderungan nrima. Padahal mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Pada umumnya atau kebanyakan mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang (bidang ekonomi) merupakan pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang non pertanian. Sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha (business) atau industri, demikian pula kegiatan mata pencaharian keluarga untuk tujuan hidupnya lebih luas lagi. Di masyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi. Sebaliknya seorang petani harus kompeten dalam bermacam-macam keahlian seperti keahlian memelihara tanah, bercocok tanam, penyakit, pemasaran,. Dan sebagainya. Jadi, petani keahliannya lebih luas bila dibandingkan dengan masyarakat kota.
3. Ukuran komunitas
Komuniktas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian di bidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri, dan akibatnya daerah pedesaabn mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya. Tanah pertanian luasnya bervariasi. Bergantung kepada tipe uisaha taninya, tanah yang cukup luasnya sanggup menampung usahatani dan usaha ternak sesuai dengan kemampuannya. Oleh sebab itu komunitas pedesaan lebih kecil dari pada komunitas perkotaan.
4. Kepadatan penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri. Contohnya dalam perubahan-perubahan permukiman, dari penghuni satu keluarga (individual family) menjadi pembangunan multikeluarga dengan flat dan apartemen seperti yang terjadi di kota.
5. Homogenitas dan Heterogenitas
Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perliaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Kampung-kampung bagian dari suatu masyarakat desa mengenai minat dan pekerjaannya hampir sama, sehingga kontak tatap muka lebih sering. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen terdiri dari oprang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian. Sebagai contoh, dalam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen. Hal ini karena daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan transportasi menyebabkan kota menarik orang-orang dari berbagai kelompok etnis untuk berkumpul di kota.
6. Diferensiasi sosial
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi di dalam diferensiasi sosial. Fasilitas kota, hal-hal yang berguna, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan (tempat tinggal), menyebabkan terorganisasinya berbagai keperluan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. Kenyataan ini bertentangan dengan bagian-bagian kehidupan di masyarakat pedesaan. Tingkat homogenitas alami ini cukup tinggi, dan relatif berdiri sendiri dengan derajat yang rendah daripada diferensiasi sosialnya.
7. Pelapisan sosial
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti “piramida sosial”, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada di antara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
Ada beberapa perbedaabn “pelapisan sosial tak resmi” ini antara masyarakat desa dan masyarakat kota :
a. Pada masyrakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial politik lebih banyak sistem pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
b. Pada masyarakat desa kesenjangan (gap) antara kelas ekstrem dalam piramida sosial tidak terlalu besar, sedangkan pada masyararakat kota jarak antara kelas ekstrem yang kaya dan miskin cukup besar,. Di daerah pedesaan tingkatanhya hanya kaya dan miskin saja.
c. Pada umumnya masyarakat pedesaan cenderung berada pada kelas menengah menurut ukuran desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota. Kepindahan orang miskin ini disebabkan tidak mempunyai tanah, mencari pekerjaan ke kota, atau ikut transmigrasi. Apa yang dibutuhkan dan diinginkan dari golongan ini sering desa tidak mampu mengatasinya.
d. Ketentuan kasta dan contoh-contoh perilaku yang dibutuhkan sistem kasta tidak banyak terdapat, tetapi di Indonesia, khususnya di Bali, ada ketentuan kelas ini. Dalam kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi ke dalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Satria, Vesia, dan Sudra. Ketiga lapisan yang tersebut pertama menjadi satu dengan istilah Triwangsa, berhadapan dengan yang disebut Jaba untuk lapisan keempat, yang hanya bagian terkecil dari seluruh masyarakat Bali, baik di kota maupun di desa, Lapisan Triwangsa berhak memakai gelar-gelar di depan namanya, seperti :
untuk Brahmana : Ida Bagus (bagi pria)
untuk Satria : Cokorda, Dewa, Ngakan, dan Bagus;
untuk Vesia : I Gusti dan Gusti;
untuk Sudra : Pande, Kbon, Pasek, Pulasari, Parteka, Sawan, dan lain-lain.
8. Mobilitas sosial
Mobilitas berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, mobilitas teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau di daerah desa dan kota sendiri.
Terjadinya peristiwa mobilitas sosial demikian disebabkan oleh penduduk kota yang heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan-kelembagaan, saling tergantungnya organisasi-organisasi, dan tingginya diferensiasi sosial. Demikian pula di kota. Maka mobilitas sering terjadi di kota dibandingkan dengan dideaerah pedesaan. Mobiltas teritorial (wilayah) di kota lebih sering ditemukan daripada di daerah pedesaan, dan segi-segi penting dari mobilitas tersebut adalah:
a. Banyak penduduk yang pindah kamar atau rumah ke kamar atau rumah lain, karena sistem kontrak yang terdapast di kota dan di desa tidak demikian.
b. Waktu yang tersedia bagi penduduk kota untuk bepergian per satuan penduduk lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang desa.
c. Bepergian setiap hari di dalam atau di luar dan pusat penduduk, di daerah kota lebih besar dibandingkan dengan penduduk di desa.
d. Waktu luang di kota lebih sedikit dibandingkan dengan di daerah pedesaan, sebab mobilitas penduduk kota lebih tinggi.
Hal lain, mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak ketimbang dari kota ke desa. Tipe desa pertanian dan kebiasaan pindah mempengaruhi mobilitas sosial, seperti perpindahan yang berkaitan dengan mencari kerja, ada yang menetap atau tinggal sementara, sesuai dengan musim dan waktu pengolahan pertanian. Apabila dibandingkan penduduk kota lebih dinamis dan mobilitasnya cukup tinggi. Kesemuanya berbeda dalam hal waktu dan arah mobilitasnya. Pergerakannya dapat terjadi secara bertahap, baik arahnya secara horizontal ataupun vertikal. Kebiasaan ini di desa kurang terlihat, dan di kota lebih memungkinkan dengan waktu yang relatif singkat.
9. Interaksi sosial
Tipe interaksi sosial di dea dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya majupun kuantitasnya. Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, diantaranya:
a. Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu lebih sedikit. Demikian pula kontak melalui radio, televisi, majalah, poster, koran dan media lain yang lebih sophisticated.
b. Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal sepintas lalu, dan tidak bersifat pribadi (impersonal), tetapi melalui tugas atau kepentingan yang lain. Di desa kontak sosial terjadi lebih banyak dengan tatap muka, ramah tamah (informal), dan pribadi. Hal yang lain pada masyarakat pedesaan daerah jangkauan kontak sosialnya biasanya terbatas dan sempit, Di kota kontak sosial lebih tersebar pada daerah yang luas, melalui perdagangan, perusahaan, industri, pemerintahan, pendidikan, agama, dan sebagainya. Kontak sosial di kota penyebabnya bermacam-macam dan bervariasi bila dibandingkan dengan “dunia kecil” atau masyarakat pedesaan.
10. Pengawasan sosial
Tekanan sosial oleh masyarakat di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah-tamah (informal), dan keadaan masyarkatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal, dan nantinya dapat berarti sebagai pengawasan sosial. Di kota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang “terkena” aturan yang ditegakkan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.
11. Pola kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingdkan dengan di kota. Keadaan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka, dan individu lebih banyak saling mengetahui daripada di daerah kota. Misalnya karena kesalahan, kejujuran, jiwa pengorbanannya , dan pengalamannya. Kalau kriteria ini melekat terus pada generasi selanjutnya, maka kriteria keturunanpun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.
12. Standar kehidupan
Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasiltas agama, dan fasilitas lain akan membahagiakan kehidupan bila disediakan dan cukup nyata dirasakabn oleh penduduk yang jumlahnya padat. DI kota, dengan konsentrasi dan jumlah penduduk yang padat, tersedia dan ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, sedangkan di desa terkadang tidak demikian. Orioentasi hidup dan pola berpikir masyarakat desa sederhana dan standar hidup demikian kurang mendapat perhatian.
13. Kesetiakawanan sosial
Kesetiakawanan sosial (social solidarit) atau kepaduan dan kesatuan, pada masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan banyak ditentukan oleh masing-masing faktor yang berbeda. Pada masyarakat pedesaan kepaduan dan kesatuan merupakan akibat dari sifat-sifat yang sama, persamaan dalam pengalaman, tujuan yang sama, dimana bagian dari masyarakat pedesaan hubungan pribadinya bersifat informal dan tidak bersifat kontak sosial (perjanjian). Pada masyarakat pedesaan ada kegiatan tolong-menolong (gotong-royong) dan musyawarah, yang pada saat sekarang masih dirasakan meskipun banyak pengaruh dari gagasan ideologis dan ekonomis (padat karya) ke pedesaan. Kesatuan dan kepaduan di daerah perkotaan berbeda. Dasarnya justru ketidaksamaan dan perbedaan pembangian tenaga kerja, saling tergantung, spesialisasi, tidak bersifat pribadi, dan macam-macam perjanjian serta hubungannya lebih bersifat formal. Pada masyarakat pedesaan ada istilah sambat. Dalam bahasa Sunda nambet artinya minta toiong. Dalam istilah umum bahasa Indonesia adalah gotong-royong. Aktivitas ini terlihat dalam menyiapkan peseta atau uparacara memmbangun rumah, perkawinan, khitanan atau kematian. Sifatnya lebih otomatis menjadi nama baik keluarga. Kegiatn ini nampak pula dalam sistem pertanian seperti derep, mengolah sawah bersama-sama secara bergiliran, dan sebagainya. Aktivitas kerja sama yang disebut gotong-royong ini pengertiannya berkembang. Yang asalnya aktivitas kerja sama antara sejumlah besar warga masyarakat desa dalam menyelesaikan sesuatu proyek tertentu bagi kepentingan umum, menjadi bersifat dipaksakan seperti padat karya. Sifat gotong-royong tidak memerlukan keahlian khusus. Semua orang dapat mengerjakannya, dan merupakan gejala sosial yang universal. Inilah yang dikatakan jiwa kebudayaan. Jiwa musyawarah nampak dalam masyarakat Indonesia. Artinya, keputusan suatu rapat seolah-olah merupakan pendirian suatu badan, di mana pihak mayoritas dan minoritas saling mengurangi pendirian masing-masing, dekat-mendekati, sehingga harus ada kekuatan atau tokoh yang mendorong proses mencocokkan dengan dimensi kekuasaan mulai dari persuasi sampai paksanan. Kenyataan menunjukkan bahwa jiwa musyawarah merupakan ekspresi gotong-royong.
14. Nilai dan Sistem Nilai
Nilai dan sistem nilai didesa dengan di kota berbeda, dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara, dan norma yang berlaku. Pada masyarakat pedesaan, misalnya mengenai nilai-nilai keluarga, dalam masalah pola bergaul dan mencari jodoh kepala keluarga masih berperan. Nilai-nilai agama masih dipegang kuat dalam bentuk pendidikan agama (madrasah). Aktivitasnya nampak hidup (fenomenanya). Bentuk-bentuk ritual agama yang berhubungan dengan kehidupan atau proses mencapai dewasanya manusia, selalu diikuti dengan upacara-upacara. Nilai-nilai pendidikan belum merupakan orientasi bernilai penuh bagi penduduk desa, cukup dengan bisa baca-tulis dan pendidikan agama. Dalam hal nilai-nilai ekonomi, terliht pada pola usaha taninya yang masih bersifat subsitem tradisonal, kurang berorientasi pada ekonomi. Masih banyak nilai lainnya yang berbeda dengan masyarakat kota. Dalam hal ini masyarakat kota bertentangan atau tidak sepenuhnya sama dengan sistem nilai di desa.
7.6 Sumberdaya yang ada di pedesaan dan perkotaan dalam upaya kesehatan ibu dan anak.
Sehat adalah keadaan seseorang yang tidak sakit badan dan jiwa, cukup makanan bergizi, hidup di lingkungan bersih, serta perilaku dan interaksi sesuai dengan etika dan hukum.
Sumber daya yang ada di pedesaan dan perkotaan antara lain sumberdaya alam, sumber daya manusia dan sumber daya teknologi.
1. Sumberdaya Alam
Keadaan alam di pedesaan dicerminkan oleh adanya lingkungan yang masih asli, terdapat bentangan lahan pertanian yang luas, alam pegunungan yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohonan sehingga polusi udara relatif masih rendah dibandingkan dengan di perkotaan. Namun demikian penyakit itu banyak sekali ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain perilaku masyarakat sendiri. Norma serta budaya lingkungan yang menentukan gaya hidup masyarakat akan menciptakan keadaan lingkungan yang sesuai dengannya dan menimbulkan penyakit yang sesuai pula dengan gaya hidupnya tadi. Bagaimana seklelompok masyarakat memperlakukan lingkungan air, udara dan sebagainya,
Dari segi faktor udara, udara di pedesaan lebih bersih dibandingkan dengan udara di perkotaan sehingga akan berpengaruh baik terhadap kesehatan ibu dan anak. Untuk sumberdaya air, di pedesaan ada daerah-daerah yang sulit mendapatan air, ada pula yang relatif mudah untuk mendapatkan air bersih; sebaliknya di perkotaan penyediaan air bersih sudah disiapkan oleh pemerintah nmelalui PDAM. Air yang kotor akan lebih mudah menimbulkan penyakit dibanding dengan air yang telah diolah secara higinies.
2. Sumberdaya Sosial Ekonomi dan Budaya
Keadaan sosial pedesaan lebih erat dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Keadaan sosial yang mempunyai hubungan yang erat akan lebih memudahkan dalam hal tolong menolong sebatas kemampuan fisik yang dipunyainya. Keadaan ekonomi sangat menentukan terhadap upaya kesehatan ibu dan anak, karena uapaya peningkatan kesehatan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keadaan ekonomi masyarakat desa relatif lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat kota, keadaan ekonomi masyarakat desa relatif seimbang sedang keadaan ekonomi masyarakat kota terjadi gap yang cukup tajam antara yang kaya dan yang miskin.
Budaya masyarakat yang masih kurang paham terhadap kesehatan ibu dan anak misalnyanya seorang anak dikatakan jika banyak makan susu malah cacingan, justru menyebabkan perilaku yang kurang menguntungkan terhadap usaha kesehatan anak yang bersangkutan.
3. Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia meliputi pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang dimililki oleh orang tersebut. Masyarakat pedesaan umumnya mempunyai pengetahuan lebih rendah dibanding dengan masyarakat perkotaan, demikian pula ketrampilan yang dimiliki masyarakat pedesaan relatif lebih homogen, sedang ketrampilan masyarakat perkotaan relatif lebih variatif. Dengan pengetahuan yang rendah terhadap upaya kesehatan menyebabkan kesehatan ibu dan anak menjadi kurang mendapat perhatian.
4. Sumberdaya teknologi
Teknologi di pedesaan kondisinya kurang menguntungkan dibandingkan dengan di perkotaan. Di daerah perkotaan banyak fasilitas-fasilitas umum yang berhubungan dengan peningkatan kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Rumah Bersalin, Klinik, dan lain sebagainya. Dengan teknologi yang memadai mudah dijangkau oleh masyarakat sehingga dapat lebih memudahkan usaha kesehatan ibu dan anak.
7.7 Masalah-masalah masyarakat pedesaan dan perkotaan
Masalah sosial adalah masalah yang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Gempa bumi bukanlah masalah sosial, tetapi kejadian-kejadian yang bersangkutan padanya, seperti kekacauan, keganasan orang, hancurnya penghidupan dan pengawasan sosial, merupakan masalah sosial. Jadi masalah sosial adalah masalah yang menyangkut banyak orang, yang bersangkutan dengan hal pemuasan kebutuhan hayati dan sosial menurut aturan-aturan yang telah diakui.
Beberapa masalah sosial antara lain :
1. Masalah pelanggaran dan kejahatan.
Masalah ini menimbulkan banyak ongkos untuk alat-alat pengusutan, penuntutan, hukum peradilan dan lemaga-lembaga pemasyarakatan. Juga mengganggu hidup yang teratur serta mempengaruhi nilai-nilai hidup, baik bagi yang melakukannya maupun bagi yang menjadi korban.
Pelanggaran dan kejahatan kanak-kanak biasanya mempunyai kecenderungan untuk melanjut ke masa dewasa.
Beberapa segi masalah ini perlu mendapat perhatian, umpanya:
a. Pelanggaran dan kejahatan itu agaknya adalah hasil dari susunan lembaga-lembaga sosial yang ada.
b. Penindakan terhadap pelaku-pelaku pelanggaran dan kejahatan tidak selalu efektif. Banyak yang bersalah tidak ditindak atau kalau diberi hukuman juga tidak setimpal dosanya. Banyak orang menganggap bahwa sistem penuntutan dan peradilan sekarang kurang menjamin ketentuan hukum.
c. Rupanya sistem lembaga pemasyarakatan, yang mempunyai tujuan melindungi masyarakat dan memperbaiki penjahat-penjahat itu, belum mencapai tjuannya.
Pelbagai faktor yang banyak berhubungan dengan masalah ini, telah diketahui atau dianggap jelas yaitu :
a). penghasilan ekonomi yang rendah dan tidak tetap sepanjang tahun
b). Keadaan kehidupan di kota dimana terdapat kekacauan dalam susunan masyarakat, kesukaran penghidupan bagi yang rendahan, perbedaan yang menyolok antara yang punya dan yang miskin,
c). banyaknya keluarga yang rusak (broken homes) karena kematian, perceraian dan kelalaian fihak orang tua, menjadi sebab bagi tumbuhnya pelanggaran dan kejahatan di kalangan anak-anak.
d). Pengaruh negatif dari bioskop, buku komik, radio dan televisi dst.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pelanggaran dan kejahatan antara lain : sekolah-sekolah dapat memberikan sumbangan yang positif dengan jalan pelajaran agama, budi pekerti, disiplin, dan juga dengan menyalurkan keinginan anak-anak dengan sebaik-baiknya. Perbaikan dalam lapangan perumahan dan rekreasi yang cukup serta murah diperlukan sekali. Adanya lapangan pekerjaan yang layak penghasilannya merupakan syarat utama bagi penyelesaian masalah ini.
2. Kesehatan sebagai masalah sosial
Kesehatan dikatakan sebagai masalah sosial karena :
a. adanya perbedaan yang nyata antara fasilitas kesehatan yang terdapat di pelbagai daerah, baik kualitas maupun kuantitasnya.
b. Kemungkinan sampainya fasilitas kesehatan dan cara pemberantasan penyakit kepada seluruh rakyat pada waktu sekarang masih belum tercapai.
Bagi kebanyakan orang Indonesia keadaan sakit selama waktu agak panjang akan merupakan suatu bencana dan memasukkan mereka ke dalam jurang hutang. Biaya dokter, obat-obatan dan perawatan di rumah sakit ada di luar jangkauan kemampuan mereka.
Untuk mengatasi masalah kesehatan disarankan para pegawai negeri dan perusahaan-perusahaan besar memperoleh tunjangan kesehatan, tetapi jumlah dan cara memperolehnya belum lagi memuaskan. Sedang bagi rakyat biasa keadaannya jauh lebih jelek.
3. Masalah Minoritas
adalah persoalan hubungan antara golongan di mana tiap anggota minoritas menjadi subyek prasangka (prejudice) dan perbedaan (diskriminasi) oleh golongan mayoritas. Prasangka adalah suatu sikap yang tidak berdasarkan pemeriksaan, fakta-fakta terlebih dahulu, sedang dikskriminasi mencakup arti memperlakukan orang secara tidak sama atau membeda-bedakan menurut golongannya.
Diskriminasi golongan minoritas itu ada beberapa macam, umpamanya:
a. Diskriminasi ekonomi, seperti larangan melakukan suatu usaha tertentu, kesempatan memperoleh fasilitas yang tidak sama, upah yang dibeda-bedakan dst.
b. Diskriminasi pendidikan, banyak hubungannya dengan diskriminasi ekonomi, seperti pembatasan memasuki lembaga pendidikan tertentu atau adanya sistem pendidikan yang terpisah bagi masing-masing golongan.
c. Diskriminasi politik, dalam mana orang-rang dari golongan minoritas tidak diberi hak pilih dan dipilih. Meskipun tidak secara resmi mungkin ada penutupan kesempatan menduduki jabatan-jabatan penting bagi mereka dari golongan minoritas itu.
d. Yang paling susah untuk ditembus secara hukum adalah diskriminasi sosial. Dalam hal ini banyak orang golongan minoritass sukar memperoleh perubahan dalam lingkungan yang membencinya, atau sukar diterima dalam pergaulan hidup setempat. Pernikahan antara golongan merupakan hal yang belum lazim, apalagi bila ada perbedaan agama.
4. Perang
merupakan sebuah masalah sosial yang paling sulit harus dihadapi manusia, karena tidak dapat diselesaikan dalam satu masyarakat saja, tetapi harus ada kerjasama internasional.
5. Masalah yang lain diantaranya pembagian penghasilan yang tidak merata,. Soal pengangguran, pengawetan sumber-sumber alam, perihal keluarga, agama, politik, masalah orang tua dst.
Masalah penting yang lain:
a. Migrasi atau perpindahan penduduk dari satu daerah ke yang lainnya. Juga dalam rangka migrasi ini penting persoalan urbanisasi atau pengaliran orang-orang dari pedesaanke kota.
b. Pelbagai ketunasusilaan merupakan masalah yang tidak ada henti-hentinya, seperti pelacuran, perjudian, obat bius, minuman kerjas dst.
c. Masyarakat modern mempunyai maslah lain dalam bentuk kekurangan rekreasi atau hiburan yang baik dan murah.
d. Menurut undang-undang maka rakyat berhak atas kesempatan pendidikan yang layak. Tetapi dalam kenyataannya masih banyak perbedaan dalam bentuk dan jumlah kesempatan bagi daerah-daerah serta bagi lapisan masyarakat yang berlainan.


VIII. ASPEK SOSIAL BUDAYA KESEHATAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
8.1 Aspek sosial budaya yang berhubungan dengan kesehatan anak.
Dari sekian banyak usaha manusia biasanya inisasi dilakukan dengan usaha KIA karena berbagai alasan, yang antara lain adalah:
1. Masyarakat peka terhadap kesehatan anak,
2. Bersama KIA dapat dilakukan aktivitas kesehatan masyarakat lainnya seperti : pendidikan kesehatan, usaha peningkatan gizi, kesehatan balita, kesehatan lingkungan, keluarga berencana dan seterusnya. Dengan demikian usaha-usaha lain dapat ikut berkembang bersama denganusaha KIA.
Kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambbatan pada umumnya adalah norma, adat kebiasaan, kepercayaan, ketergantungan sikap, dan lain-lain, yang tidak menunjang kesehatan. Kesehatan anak terutama sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat sekitarnya. Bagaimana mereka mengelola lingkungan hidupnya, jadi status kesehatan lingkungannya, sangat menentukan kesehatan bayi, terutama karena bayi melewatkan sebagian besar waktunya di dalam lingkungan tersebut. Jadi, penyakit yang diderita bayi biasanya bersumber dari lingkungan sekitarnya.
Pola penyakit di Indonesia ini setara dengan negara-negara lain yang berpenghasilan kurang lebih sama. Hal ini tampak jelas apabila ditelaah keadaan penyakit di berbagai negara; ternyata bahwa, negara tergolong ‘miskin’ banyak menerita penyakit menular, sedang negara yang tergolong ‘kaya’, banyak menderita penyakit tidak menular. Keadaan seperti ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Negara/masyarakat miskin atau berstatus sosial ekonomi rendah, keadaan gizinya rendah, pengetahuan tentang kesehatannyapun rendah, sehingga keadaan kesehatan lingkungannya buruk dan status kesehatannya buruk. Di dalam masyarakat sedemikian akan mudah terjadi penularan penyakit, teruama anak-anak yang merupakan golongan yang peka terhadap penyakit menular. Sebagai akibatnya, banyak terjadi kematian anak, sehingga usia harapan hidup pendek, Keadaan ini juga mendukung tingginya angka kelahiran, sehingga terdapat populasi yang muda; jadi tergolong populasi dengan resiko tinggi terhadap penyakit menular, sehingga penyakit menular terus menerus terdapat, dengan demikian siklus penyakit menular menjadi lengkap.
8.2 Aspek sosial budaya yang berhubungan dengan kesehatan ibu
Sebagai manusia mulai dalam kandungan sudah memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang salah satu kebutuhannya adalah kesehatan. Kesehatan janin sangat banyak dipengaruhi oleh kondisi orang tuanya yang dalam hal ini terutama kondisi ibunya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagi janin selama dalam kandungan ibunya, antara lain :
1. Ibu mengalami keracunan sewaktu janin atu anak dalam kandungan.
2. Ibu terkena infeksi oleh virus, bakteri lues, morbili, TBC, kholera, thypus dan lain-lain.
3. Ibu menderita kencing manis.
Sebab-sebab keracunan belum diketahui secara pasti. Mungkin karena zat asing tertentu yang masuk ke dalam darah melalui placenta (bali) ginjal atau dari kedua organ tersebut bersamaan. Keracunan ini ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, protein di dalam kencing dan himpunan cairan dalam tubuh ibu.
Biasanya gejala ini ringan saja dan dapat ditanggulangi dengan segera. Tetapi ada juga kasus yang cukup serius. Cara perawatan yang baik adalah menghindari jangan sampai penyakit ini menjadi serius. Sebaliknya sering memeriksakan tekanan darah dan kadar protein dalam urine. Karena perawatan kehamilan di masa sekarang cukup baik dan intensif, maka keracunan makin lama makin jarang ditemui.
Untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi bila ada vaksin untuk mencegahnya maka imunisasi adalah jalan terbaik. Dan sebaliknya apabila sudah terkena penyakitnya maka segera dibawa ke dokter (Puskesmas) terdekat.
Kemajuan dibidang kedokteran dan ilmu kebidanan memungkinkan seorang ibu yang berpenyakit kencing manis tetap melahirkan bayi yang sehat dan normal. Ibu itu harus mengalami diet yang ketat, pengawasan yang ketat, dan obat insulin. Bayi yang keluar dari ibu yang diabetes cenderung lebih besar dari pada bayi lainnya. Ini disebabkan karena kelaian hormonal. Kecuali itu bayi cenderung mendapatkan gangguan pernafasan.
8.3 Hubungan aspek sosial terhadap pembangunan kesehatan
Kebijakan Pembangunan Kesehatan dalam Konteks PHC (Primary Health Care) / Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
Pasca Perang Kemerdekaan
1. Pelayanan preventif melengkapi pelayanan kuratif
2. Konsep Bandung Plan yang merupakan embrio konsep puskesmas
Tahun 1960
Lahirnya Undang-Undang Nomor 9 tahun 1960, tentang Pokok-Pokok kesehatan “Tiap-tiap warga negara berhak mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan wajib diikut sertakan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah”.
Pelita I
1. Perbaikan kesehatan rakyat dipandang sebagai upaya yang meningkatkan produktivitas penduduk.
2. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.
3. Pelayanan kesehatan melalui puskesmas
Pelita II
1. Trilogi pembangunan, isinya diantaranya adalah meningkatkan kesadaran untuk meningkatkan jangkauan kesehatan.
2. Kesehatan akan keterlibatan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
3. Pengembangan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) tahun 1975 yang meruepakan wujud operasional dari Primary Helath Care (PHC) melalui pendekatan edukatif.
Pelita III
Tahun 1982 lahirnya Sistem Kesehatan Nasional, yang menekankan pada:
1. Pendekatan kesisteman
2. Pendekatan kemasyarakatan
3. Kerjasama lintas program dan kerjasama lintas sektoral.
4. Melibatkan peran serta masyarakat.
5. Menekankan kepada pendekatan promotif dan preventif.
Pelita IV
1. PHC/PKMD diwarnai dengan prioritas untuk menurunkan tingkat kematian bayi, anak dan ibu serta menurunnya tingkat kelahiran.
2. Menyelenggarakan program posyandu di setiap Desa.
Pelita V
1. Meningkatkan mutu posyandu
2. Melaksanakan 5 kegiatan posyandu (Panca Krida Posyandu)
a. Kesehatan Ibu dan Anak
b. Keluarga Berencana
c. Imunisasi
d. Perbaikan gizi
e. Penanggulangan diare
3. Sapta Krida Posyandu (7 kegiatan) dengan penambahan kegeiatan :
f. Sanitasi dasar
g. Penyediaan obat esensial.
Ciri-ciri PKMD
1. Kegiatan dilaksanakan atas dasar kesadaran, kemampuan dan prakarsa masyarakat sendiri, dalam arti bahwa kegiatan dimulai dengan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang memang dirasakan oleh masyarakat sendiri sebagai kebutuhan.
2. Perencanaan kegiatan ditetapkan oleh masyarakat secara musyawarah dan mufakat.
3. Pelaksanaan kegiatan berlandaskan pada peran serta aktif dan swadaya masyarakat dalam arti memanfaatkan secara optimal kemampuan dan sumber daya yang dimiliki masyarakat.
4. Masukan dari luar hanya bersiofat memacu, melengkapi dan menunjang, tidak mengakibatkan ketergantungan.
5. Kegiatan dilakukan oleh tenaga-tenaga masyarakat setempat.
6. Memanfaatkan teknologi tepat guna.
7. Kegaitan yang dilakukan sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari 8 unsur PHC.
Prinsip-Prinsip PKMD
1. Kegitan masyarakat sebaiknya dimulai dengan kegiatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat setempat walaupun kegiatan tersebut bukan merupakan kegiatan kesehatan secara langsung. Ini berarti bahwa kegiatan tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan saja, melainkan juga mencakup aspek-aspek kehidupan lainnya yang secara tidak langsung menunjang peningkatan taraf kesehatan.
2. Dalam membina kegiatan masyarakt diperlukan kerajasama yang baik:
a. Antar dinas-dinas/instansi-instansi/lembaga-lembaga lainnya yang bersangkutan.
b. Antar dinas-dinas/instansi-instansi/lembasga-lembaga tersebut dengan masyarakat.
3. Dalam hal masyarakat tidak dapat memecahkan masalah atau kebutuhannya sendiri, maka pelayanan langsung diberikan oleh sektor yang bersangkutan.
Wadah Kegiatan PKMD
Karena kegiatan PKMD merupakan bagian integral dari pembangunan desa, sedangkan wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa adalah LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), maka dengan sendirinya wadah kegiatan PKMD adalah LKMD
Pembangunan PKMD yang bersifat lintas sektoral dengan sendirinya merupakan bagian dari tugas Tim Pembina LKMD.
Strategi Pembinaan.
1. Tim pembina PKMD di masing-masing tingkat sekaligus dijadikan sebagai forum koorduinasi di masing-masing tingkat.
2. Setiap kegiatan partisipasi masyarakat yang akan dipromosikan oleh salah satu sektor, terlebih dahulu dibahas dalam forum koordinasi, untuk memungkinkan bantuan dari sektor-sektor lain untuk menghindari tumpang tindih.
3. Jenis bantuan apapun yang akan dijalankan harus selalu berdasarkan pada proporsi kebutuhan masyarakat setempat.
4. Seluruh tahap kegiatan, mulai dari pesiapan, perencanaan, pelaksanaan, penilian, pembinaan sampai dengan perluasan, dilakukan oleh masyarkat sendiri dan di mana perlu dibantu oleh Pemerintah secara lintas program dan lintas sektoral.
5. Wadah kegiatan PKMD aalah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) sesuai Surat Keputusan Presiden Nomor 28 tentang “Penyempurnaan dan penempatan fungsi Lembaga Swadaya Desa menjadi LKMD. Maka pada dasarnya LKMD merupakan wadah partisipasi masyarakat dalam pembgangunan desa.
6. PKMD adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarkat dari masyarkat dan untuk masyarakat. Pembangunan dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah adalah suatu pendekatan, bukan program yang berdiri sendiri.
Pengembangan dan Pembinaan
1. Pengembangan dan pembinaan PKMD berpedoman pada GBHN
2. Pengembangan dan pembinaan PKMD dilaksanakan dengan kerjasama lintas program dan lintas sektoral melalui pendekatan edukatif.
3. Koordinasi pembinaan melalui jalur fungsional pada tiap tingkatan, tingkat propinsi oleh gubernur, tingkat kabupaten oleh bupati, tingkat kecamatan oleh camat.
4. PKMD merupakan bagian integral dari pembangunan desa seara keseluruhan.
5. Kegiatan dilaksanakan dengan membentuk mekanisme kerja yang efektif antara instansi yang berkepentingan dalam pembinaan masyarakat desa.
6. Puskesmas sebagai pusat pengembangan dan pembangunan kesehatan berfungsi sebagai dinamisator.
Mekanisme pembinaan peranserta masyarakat dalam PKMD
Untuk mengenal masalah dan kebutuhan mereka sendiri, masyarakat mendapatkan bimbingan dan motivasi dari puskemas yang bekerjasama dengan sektor-sektor yang bersangkutan. Pemuka masyarakat diarahkan untuk membahas masalah dan kebutuhan yang dirasakan oleh mereka dan membimbing untuk memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan sumber daya setempat yang tersedia. Dalam hal masalah atau kebutuhan hanya sebagian dapat diatasi sendiri, maka puskesmas bersama dengan sektor yang bersangkutan memberi bantuan teknis atau materi yang dibutuhkan dengan catatan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.
Dalam hal masalah dan kebutuhan masyarkat tidak mungkin diatasi sendiri, maka pelayanan langsung diberikan oleh puskesmas dan atau sektor yang bersangkutan.
Hal-hal yang diperlukan Dalam Pelaksanaan Kegiatan PKMD
1. Masyarakat perlu dikembangkan pengertiannya yang benar tentang kesehatan dan tentang program-program yang dilakanakan pemerintah.
2. Masyarakat perlu dikembangan kesadarannya akan potensi dan sumber daya yang dimiliki serta harus dikembangkan dan dibina kemampuan dan keberaniannya, untuk berperan secara aktif dan berswadaya dalam meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan mereka.
3. Sikap mental pihak penyelenggara pelayanan perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar dpat menyadari bahwa masyarakat mempunyai hak dan potensi untuk menolong diri mereka sendiri, dalam meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan mereka.
4. Harus ada kepekaan dari pada para pembina untuk memahami aspirasi yang tumbuh di masyarakat dan dapat berperan secara wajar dan tepat,.
5. Harus ada keterbukaan dan interaksi yang dinamis dan berkesinambungan baik antara para pembina maupun antara pembina dengan masyarakat, sehingga muncul arus pemikiran yang mendukung kegiatan PKMD.
Persiapan Bagi Pelaksana
Persiapan bagi pelaksana dari masyarakat sangat penting artinya,. Persiapan yang dimaksud dapat dilakukan melalui :
1. Pelatihakn Kader
2. Kunjungan kerja
3. Studi Peerbandingan.
Pengadaan Fasilitas
Kelestarian PKMD akan lebih terjamin bila fasilitas yang disediakan dari swwadahya masyarakat melalui potensi dan suimberdaya yang ada di masyarakat yang dapat digali dan dimanfaatkan. Bila masyarakata tidak memilkinhya barulan para penyelenggara pembinaan PKMD berusaha untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarkat./ Dengan ketentuan tidak menimbulkan ketergantungan bagi masyarakat.
8.4 Pengertian pembangunan kesehatan
Pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaksanakan atas dasar gotong royong dan awalnya dalam rangka menolong diri sendiri dalam memecahkan masalah untuk memenuhi kebutuhannya dibidang kesehatan dan di bidang lain yang berkaitan agar mampu mencapai kehidupan sehat sejahtera.
8.5 Tujuan pembangunan masyarakat desa dalam bidang kesehatan
Tujuan pembangunan masyarakat desa dalam bidang kesehatan antara lain :
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menolong diri sendiri dibidang kesehatan dalam rangka meningkatkan mutu hidup.
2. Tujuan khusus
a. Menumbuhkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimilikinya untuk menolong diri mereka sendiri dalam meningkatkan mutu hidup mereka.
b. Mengembangkan kemampuan dan prakarsa masyarakat untuk berperan secara aktif dan berswadaya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri.
c. Menghasilkan lebih banyak tenaga-tenaga masyarakat setempat yang mampu, terampil serta mau berperan aktif dalam kegiatan pembangunan desa.
d. Meningkatnya kesehatan masyarakat dalam arti memenuhi beberapa indikator
1). Angka kesakitan menurun
2). Angka kematian menurun, terutama angka kematian bayi dan anak.
3). Angka kelahiran menurun
4). Menurunnya angka kekurangan gizi pada anak balita.
8.6 Nilai-nilai filosofi dalam pembangunan
Primary Health Care (PHC)
Latar Belakang
Sidang kesehatan sedunia (World Health Essembly) tahun 1977 melahirkan kesepakatan global untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS) pada tahun 2000. Yakni tercapainya suatu derajat kesehatan yang optimal yang memungkinkan setiap orang hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi. Karena kesehatan dimulai dimana orang bermukim di tempat-tempat orang bekerja. Orang akan mengetahui cara-cara yang lebih baik untuk mencegah penyakit dan menyembuhkan penyakit serta cacat yang terlanjur terjadi. Setiap akan mengetahui cara yang lebih baik untuk berkembang, menjadi orang tua dan kemudian mati dengan tenang.
Selanjutnya pada tahun 1978, dalam suatu kompresi di Alma Ata, ditetapkan prinsip-prisip Primary Health Care (PHC) sebagai pendekatan atau strategi global guna mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS), dan Indonesia ikut menandatangani, menyatakan bahwa untuk mencapai Health For All pada tahun 2000 Primary Health Care adalah kuncinya. Sedangkan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa adalah suatu bentuk operasional PHC.
Hal tersebut disadari benar bahwa kesehatan adalah kebutuhan dasar dan modal utama untuk hidup, karena setiap manusia berhak untuk hidup dan memilki kesehatn. Kenyataannya tidak semua orang memperoleh atau mampu memiliki derajat kesehatan yuang optimal, karena berbagai masalah bersama secara global, diantaranya adalah kesehatan lingkungan yang buruk, sosial ekonomi yang rendah yang menyebabkan tidak terpenuinya kebutuhan-kebutuhan gizi, pemeliharaan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, Primary Health Care merupakan salah satu pendekatan dan alat untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua pada tahun 2000 sebagai tujuan pembangunan kesehatan semesta dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Di Indonesia bentuk operasilnal PHC adalah PKMD dengan berlandasakan pada Gasris-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan ketetapan MPR untuk dilaksanakan dengan melibatkan kerjasama lintas sektoral dari instansi-instansi yang berwenang dalam mencapai derajat kesehatan dan kesehjahteraan masyarakat.
Perkembangan Kosep PHC
PHC merupakan hasil pengkajian, pemikiran, pengalaman dalam pembangunan kesehatan di banyak negara, yang diawali dengan kampanye masal pada tahun 1950-an dalam pemberantasan penyakit menular, karena pada waktu itu banyak negara tidak mampu menegatasi dan menanggulangi wabah penyakit TBC, campak, diare dan sebagainya. Oleh karena itu dibentuklah suatu Forum Internasional yang menekankan pentingnya memperhatikan aspek sosial, kesehatan dan penyakit di semua negara untuk menekan angka kesakitan dan kematian.
Pada tahun 1960 teknologi kuratif dan preventif dalam infrastruktur pelayanan kesehatan telah mengalami kemajuan. Oleh karena itu timbullah pemikiran untuk mengembangkan kosnsep “Upaya Dasar Kesehatan”
Pada tahun 1972/1973, WHO megadakan studi dan mengungkapkan bahwa banyak negara tidak puas atas sistem kesehatan yang dijalankan, dan banyak isue tentang kurangnya pemerataan pelayanan kesehatan di daerah-daerah pedesaan.
Dan tahun 1977 pada sidang kesehatan dunia dicetuskan kesepakatan untuk melhairkan “Health For All by The Year 2000”, yang sasaran semeseta utamanya dalam bidang sosial pda tahun 2000 adalah “Tercapainya derajat kesehatan yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial maupun ekonomi.” Oleh karena itu dituntut perubahan orientasi dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi perubahan-perubahan dari :
Pelayanan kurataif ke kuratif dan preventif
Daerah perkotaan ke pedesaan
Golongan mampu ke golongan masyarakat berpenghasilan rendah
Kampanye massal ke upaya kesehatan terpadu
Kesehatan vertikal
Tahun 1978 Konferensi Aima Aata mentapkan PHC sebagai pendekatan atau strategi global guna mencapai Kesehatan Bagi semua pada tahun 2000.
Definisi
PHC aalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam maasyarakat, melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyaarkat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib sendiri (self determination).
Tujuan PHC
Tujuan Umum
Adalah mencoba menemukan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang diselenggarakan, sehingga akan tercapai tingkat kepuasan pada masyarkat yang menerima pelayanan.
Tujuan Khusus
1. pelayanan harus mencapai keseluruhan penduduk yang dilayani
2. Pelayanan harus dapat diterima oleh pendjuduk yang dilayani
3. Pelayanan harus berdasarkan kebutuhan medis dari populasi yang dilayani
4. Pelayanan harus secara maksimum menggunakan tenaga dan sumber-sumber daya lain dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Fungsi PHC
PHC hendaknya memenuhi fungsi-fungsi sebagai berikut :
1. Pemeliharaan kesehatan
2. Pencegahan penyakit
3. Diagnosis dan pengobatan
4. Pelayanan tindak lanjut.
5. Pemberian sertifikat
Tiga Unsur Utama PHC
1. Mencakup upaya-upaya dasar kesehatan
2. Melibatkan peran serta masyarakat
3. Melibatkan kerjasama lintas sektoral
Lima Prinsip Dasar PHC
1. Pemerataan upaya kesehatan
2. Penekanan pada upaya preventif.
3. Menggunakan teknologi tepat guna
4. Melibatkan peran serta masyarakat
5. Melibatkan kerjasama lintas sektoral
Elemen PHC
Dalam pelaksanaan PHC paling sedikit harus memiliki 8 elemen, yaitu :
1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta pengendaliannya.
2. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi
3. Penyediaan air bersih dan saniasi dasar
4. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
5. Imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi utama
6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat
7. Pengobatan penyakit umum dan ruda paksa
8. Penyediaan obat-obat esensial.
Ciri-Ciri PHC
1. Pelayanan yang utama dan intim dengan masyarakat
2. Pelayanan yang menyeluruh
3. Pelayanan yang tergoragniasi
4. Pelayanan yang mementingkan kesehatan individu maupun masyarkat
5. Pelayanan yang berkesinambungan.
6. Pelayanan yang progresif.
7. Pelayanan yang berorientasi kepadda keluarga
8. Pelayanan yang tidak berpandangan kepada salah satu aspek saja.
Tanggungjawab Perawat dalam PHC
Tanggungjawab perawata dalam PHC lebih duitik beratkan kepada hal-hal sebagai berikut:
1. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan implementasi pelayanan kesehatan dan program pendidikan kesehatan.
2. Kerja sama dengan masyarakat, keluaarga dan individu.
3. Mengajarkan konsep kesehatan dasar dan teknik asuhan diri sendiri pada masyarakat.
4. Memberikan bimbingan dan dukungan kepada petugas pelayan kesehatan dan kepada masyarakat.
5. Koordinasi kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat.
8.7 Faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam pembangunan
Faktor Pendorong
Berdasarkan orientasi budaya, terdapat mentalitet yang mendorong pembangunan diantaranya ;
Berdasar orientasi budaya mengenai hakekat hidup dan karya, masyarakat mempunyai orientasi yang bersumber kepada suatu nilai budaya yang berorientasi terhadap hasil karya manusia itu sendiri.
Orientasi waktu untuk masa kini dan yang akan datang akan memberi motivasi masyarakat untuk menabung dan hidup hemat.
Orientasi hubungan manusia dengan alam punya mentalitet dengan jiwa rasionalisme
Orientasi hubungan dengan manusia yang menghargai jerih payah dengan sengaja dari fihak individu untuk maju dan menonjol di atas yang lain. Disamping itu juga adanya hasrat untuk berdiri dan berusaha sendiri dan rasa disiplin yang murni
Disamping itu ada faktor tradisional yang mendorong pembangunan diantaranya : kemampuan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa bertanggung jawab sendiri, rasa disiplin murni
Setelah zaman revolusi dan post revolusi adanya nilai yang berorientasi terhadap archievement dari karya, nilai yang mementingkan explorasi, sifat hemat, dan jiwa bersaing.
Faktor Penghambat
Berdasarkan orientasi budaya, terdapat mentalitet yang menghambat pembangunan diantaranya ;
Berdasarkan hakekat hidup dan karya manusia bahwa konsep tidak bersumber kepada suatu nilai–budaya yang berorientasi terhadap hasil karya manusia itu sendiri (tidak achievement oriendted), tetapi hanya terhadap amal dan karya (ibarat orang sekolah yang tidak mengejar ketrampilan yang diajarkan, tetapi hanya ijazahnya saja).
Berdasarkan persepsi manusia mengenai waktu, orientasi yang terlampau banyak terarah ke zaman yang lampau akan melemahkan kemampuan seseorang untuk melihat ke masa depan. Hal ini melemahkan motivasi untuk menabung dan hidup hemat.
Berdasar hakekat hubungan manusia dengan alam, dalam kenikmatan diskusi , dan berkhayal, ada kesempatan untuk melarikan diri dari kesuilitan-kesuilitan hidup sehari-hari di dalam dunia yang sedang terganggu oleh zaman pancaroba ini, dan bersembunyi dalam alam kebatinan. Adanya konsep bahwa manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilingkungi oleh masyarakat dan alam semesta disekitarnya, dan di dalam sistem makrokosmos tersebut ia harus merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang mahabesar itu. Suatu mentalitet yang terelampau banyak menggantungkan diri kepada nasib.
Berdasar oarientasi hubungan manusia dengan sesamanya adanya konsep yang mewajibkan suatu sikap konformisme yang besar (artinya, orang sebaiknya menjaga agar jangan dengan sengaja berusaha untuk menonjol di atas yang lain). Disamping itu mentalitet menunggu restu dari atasan sebagai wujud sikap orientasi nilai budaya yang terlampau ke arah kepada orang orang yang berpangkat tinggi, yang senior, dan orang-orang yang tua.
Disamping mentalitet di atas juga adanya nilai tradisional seperti nilai yang terlampau banyak berorientasi vertikal ke arah tokoh pembesar, atasan dan senior. Nilai yang terelampau berorientasi terehadap nasib.
Berdasarkan hasil dari kekacauan zaman revolusi dan post revolusi antara lain : hilangnya rasa kepekaan mutu dan timbulnya “mentalitet menerabas”


IX. ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERKAITAN DENGAN PRAPERKAWINAN, PERKAWINAN, KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS DAN BAYI BARU LAHIR

9.1 Aspek sosial budaya pada setiap perkawinan
Seseorang sudah mulai dari awalnya perkembangan seksnya sudah mulai terbentuk. Hasil penyelidikan mikroskopis telah membuktikan bahwa tanda-tanda pertama adanya suatu organ seks (gonad) mulai tampak waktu si janin berusia empat minggu. Masih sedini ini belum dapat ditentukan kelamin apakah organ seks tersebut, maka masa itu disebut masa neetral, tak ada perbedaan antara kelamin laki-laki ataupun wanita. Masa ini berlangsung sampai era tujuh minggu sesudah saat pembuahan. Maka mulailah sekarang masa pemisahan jenis kelamin. Tetapi struktur indung telurnya sendiri baru nampak sesudah si janin berusia lima bulan. Sampai saat ini mulai tampak adanya telur-telur primer (ovum) di dalam indung telur itu. Pada waktu janin dilahirkan, sudah ada dua buah indung telur dan masing-masing mengandung tiga ratus ribu telur primer. Telur-telur yang paling primitif ini kemudian akan menghilang sendiri selama pertumbuhan si bayi, tetapi maih cukup cadangan dengan segala cadangan telur untuk kemudian hari. Maka seorang wanita dilahirkan sudah dengan segala cadangan telur yang merupakan bakal hidupnya sampai dewasa. Tetapi telur-telur primer (dasar) ini bagaikan tidur, tidak berfungsi apa-apa sampai tibalah saat menstruasi (haid) pertama bertahun-tahun kemudian. Dan seluruh pertumbuhan pemisahan jenis kelamin ini ditentukan oleh Chromosom seks. Baik perkembangan indung telur yang menciptakan seorang makhluk wanita maupun pertumbuhan testis (buah pelir) yang menciptakan makhluk lelaki.
Perkembangan seks seorang mulai matang saat orang tersebut sudah remaja (masa adolensensi), yaitu masa transisi (peralihan) dari masa anak ke masa dewasa. Maka, dalam masa ini juga mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat tersendiri, yaitu bahwa pada masa ini ada perubahan-perubahan yang menonjol baik dalam keadaan fisik (jasmaniah) maupun psikisnya. Perubahan dalam segi fisik adalah mulai bekerjanya hormon-hormon seksual akibat yang timbul adalah adanya perubahan-perubahan dalam jasmani anak, misalnya :
1. Pada anak wanita :
a. terjadinya menstruasi (haid).
b. Membesarnya buah dada
c. Pinggul mulai melebar
d. Timbulnya rambut-rambut pada tempat-tempat tertentu dan lain-lain.
2. Pada anak laki-laki
a. Mulai mengeluarkan sperma
b. Suara mulai berubah (ngagoragori)
c. Pertumbuhan fisik berjalan cepat, sampai mencapai maksimal
d. Timbul rambut pada tempat-tempat tertentu, misal kumis, jenggot dan sebagainya.
Semua perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh keadaan tersebut di atas pada umumnya dipergunakan sebagai patokan atau kriteria datangnya masa adolesensi.
Disamping hal-hal yang terjadi pada pertumbuhan fisik, seseorang yang sudah matang kebutuhan seksnsya akan timbul beberapa minat antara lain:
1. Timbul minat terhadap dirinya (persona interest).
Disamping memperhatikan keindahan dirinya, juga timbul perasaan kurang senang terhadap dirinya, misal bentuk tubuhnya dirasa terlalu gemuk dan sebagainya. Oleh karena itu anak mulai memperhatikan alat-alat kecantinan, demikian pula hal-hal yang lain.
2. Timbul minat terhadap jenis kelamin yang lain.
Dalam hal ini adolesensi ingin mengetahui seluk beluk dari jenis kelamin yang lain. Apabila keadaan ini tidak mendapat bimbingan yang sebaik-baiknya, maka tidak jarang anak akan tersesat kepada jalan yang tidak baik, dan fakta telah banyak menunjukkan hal ini.
Pada saat seorang telah matang dalam hal seksual tersebut maka apabila orang yang berlainan jenis berhubungan kelamin akan dapat menghasilkan keturunan.
Hubungan seksual pada masyarakat manusia tidaklah sebebas hubungan antara binatang. Hubungan seksual yang bebas menyebabkan kerawanan sosial. Sedang manusia sebagai insan yang berbudi luhur selalu menghendaki keberaturan sosial sehingga segala sesuatu tindakan terus disesusikan dengan norma yang berlaku pada lingkungannya. Hal ini adalah sejalan dengan perkembangan manusia yang selalu dituntut adanya hak dan kewajiban.
Hubungan seksual dari masyarakat Indonesia diatur oleh ikatan pernikahan. Dua orang berlainan jenis apabila sudah melaksanakan ikatan pernikahan berarti secara hukum sudah sahlah mereka untuk melangsungkan keturunannya. Secara hukum hubungan pernikahan ini diatur oleh UU No. 1 Th 1974 tentang Perkawinan. Dalam pasal 2 ayat 1 dari UU tersebut menyatakan bahwa : Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Jadi kebutuhan biologis ini haruslah dilaksanakan sesuai dengan peraturan agamanya masing-masing. Namun demikian secara umum agar pelaksanaan di lapang tidak disalah gunakan maka negarapun ikut mengaturnya.
Walaupun pada dasarnya tingkat kematangan biologis seseorang bisa saja dari umur yang relatif muda namun dengan adanya pertimbangan psikologis maka yang diperkenankan melaksanakan perkawinan bagi pria sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita sudah mencapai umur 16 tahun (pasal 7 (1) UU No. 1 th 1974). Penetapan umur tersebut disamping didasarkan atas pertimbangan psikologis juga atas pertimbangan fisik. Seorang laki-laki apabila ingin kawin maka mereka harus sanggup memberi nafkah kepada isteri dan keluarganya. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat 2 ayat 233 yang berbunyi sebagai berikut: “... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf....”. Hal tersebut mempunyai makna yang dalam agar orang yang baru membentuk keluarga dapat mempertahankan keharmonisan keluarganya berkelanjutan.
Menurut Syariat Islam
Pesta pernikahan disyari’atkan dengan tujuan agar pernikahan itu diketahui orang dan terkenal, agar orang lain mengetahui bahwa si fulan telah nikah dengan si fulanah, sehingga tidak timbul finah dari mereka.
Pengumuman dan informasi pernikahan dapat terjadi dari tiga hal berikut:
1. Walimah
Yang dimaksud walimah ialah, mengundang orang menghadiri acara makan. Lebih afdhal apabila ada sajian daging kambing.
2. Nyanyian
Disunnatkan juga melantunkan dan memperdengarkan nyanyian dalam pesta pernikahan, yaitu nyanyian yang bebas dari kata-kata jorok, percintaan dan pengumbaran hawa nafsu. Juga tidak dilantunkan oleh para artis, yaitu mereka yang menjadikan nyanyian sebagai profesi dan mata pencahariannya. Sebagaimana tidak boleh dengan alat-alat musik yang membuat pendengarnya lalai, lupa diri dan justru merangsang nafsu syahwat. Yang dibolehkan hanya rebana dan semacamnya.
3. Rebana (Dufuf)
Oleh karena rebana dapat menarik perhatian orang dan karenanya acara pernikahan semakin semarak. Memukul rebana oleh Rasulullah SAW diperbolehkan pada dua acara, yakni pernikahan dan hari raya (ied).
4. Ucapan Selamat
Telah menjadi sebuah tradisi, bahwa setelah akad nikah, orang lain katakanlah para undangan memberikan ucapan selamat (tahniah) dan do’a serta hadiah kepada kedua mempelai.
Ucapan selamat yang diucapkan oleh Rasulullah adalah : “Semoga keberkahan Allah senantiasa menyertaimu dan mengumpulkanmu dalam kebaikan selalu”. (HR Ahmad dan empat pemilik sunan). Atau ucapan : “Semoga Allah SWT senantiasa memberkatimu”. (HR. Muslim).
5. Hadiah
Memberi hadiah kepada pengantin baru baik laki-laki maupun perempuan sudah menjadi tradisi, dan dari segi syariat Islam hukumnya sunaah.
“Dari Aisyah ra berkata : Rasulullah SAW menerima hadiah dan juga memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang memberi”. (HR Bukhari).
“Dan dari Abu Hurairah ra, dari Arasulullah SAW bersabda: Saling memberilah hadiah niscaya kalian saling mencintai”. (HR Nasai dan Abu Ya’la).
9.2 Aspek sosial budaya pada setiap trimester kehamilan
Orang Jawa punya budaya selamatan sehubungan dengan kehamilan sebagai berikut :
Selamatan orang mengandung jika sudah dapat :
1 bulan 1. Jenang abor-abor (sungsum), yaitu tepung beras dibuat jenang diberi garam, dicampur santan.
2 bulan 1. Sega janganan, yaitu tumpeng tepinya keliling ditempatkan sayuran, seperti sayur seperti kebiasaan sendiri-sendiri, tetapi harus ganjil, seperti sayuran macam 9, 11 dan seterusnya asal ganjil.
2. Jenang abang, yaitu beras dibuat jenang dikasih gula jawa (gula kelapa).
3. Jenang putih, yaitu beras dibuat jenang diberi santan.
4. Jenag abang putih, yaitu jenang abang ditumpangi jenag putih, yang dibuat seperti di atas.
5. Jenang sbaro-baro, yaitu katul dibuat jenang dikasih gula jawa yang disisir dan kelapa yang sudah diparut.
6. Pipis kenthel, yaitu tepung beras diberi garam dan diberi santan, diberi gula jawa yang disisir, kemudian dibungkus dimasak (didang).
7. Jajan pasar dan kembang boreh, yaitu seadanya jajan pasar dikompliti.
3 bulan selamatannya sama dengan 2 bulan.
4 bulan 1. Sega punar, yaitu nasi wuduk diberi kunir dan diberi asam, lauknya kerbau satu (daging dan segala macam jeroan sedikit komplit dan mata satu), memakai samabal goreng.
2. Apem, tepung beras dicolok ragi dan diberi gula jawa.
3. Kupat, yaitu segala macam kupat janur : a. sinta, b. jago, c. sidalungguh, d. luwar.
5 bulan 1. Sega janganan, seperti di atas.
2. Uler-uleran, yaitu tepung beras diberi air diwowori nopal merah, kuning, hitam dan lain-lain, kemudian dibentuk ulat.
3. Ketan mancawarna, yaitu ketan dibuat macam-macam rupa, serta enten-enten, untuk pasangan makan.
Selamatan 5 bulan itu, kemudian memberi tahu sanak famili, memintakan doa selamat, serta memberi makahan ditempatkan takir dirangkap janur kuning (takir ponthang) lidinya jarum warna 5 : mas, suwasa, salaka, wesi dan tembaga, tempatnya tebok atau tempayan tanah. Isinya takir ponthang : nasi wajar dan punar, lauknya gorengan kerbau satu, artinya daging dan jerohan dilengkapi, memakai mata satu, dan makanan untuk selamatan seperti rujak crobo.
6 bulan Apem kocor, yaitu tepung beras dicolok ragi tanpa gula, tetapi untuk dimakan memakai santan.
7 bulan Namanya tingkep.
8 bulan Bulus angrem, yaitu klepon ditutupi srabi putih ditengkurabkan , Srabi = bulusnya, klepon = telurnya yang dierami. Klepon yang dibuat tepung ketan diberi air diwenyedi daun katu atau pandan, atau kara, digulung di dalam memakai gula dikawu. Sedang srabi yang dipakai tepung beras memakai kelapa dijer di pangaron diolah di sangan ditutupi.
9 bulan Jenang procot, yaitu tepung beras diberi gula santan, dibuat jenang, jika sudah setengah masak kemudian ditempatkan kupasan pisang utuh, jika sudah masak ditempatkan di takir. Jika sudah 9 bulan tangal atau jika 10 belum terasa sakit, diselamati dhawet plencing, yang dibuat tepung onggok diberi gula santan, dijual, yang beli anak, memakai uang potongan genteng, seketika dhawetnya harus diminum, jika sudah diminum, anak tadi kemudian lari kencang (mlencing).
------
Keterangan: Jika hamil mendeking, yaitu hamil ke 3, 5, 7, dan seterusnya (hamil waktu ganjil) selamatan memakai sega loyang (nasi kering dimasak /didang), kayunya galar dipan, supaya kurang sakitnya dan selamat, karena hamil mendeking itu lebih sulit waktu melahirkan Jabang bayi.

Selamatan tingkeb
Jika nggarbini (hamil 7 bulan), kemudian tingkeban hari Rabu atau Sabtu, pada tanggal ganjil sebelum tanggal 15.
Yang hamil disiram dan dikramas, mandinya memakai siwur yang masih ada kelapanya, mandinya memakai air bunga setaman (air diberi bunga). Digosok tepung beras manca warna (7 warna) dicampur mangir, pandan wangi dan daun kemuning, yang memandikan dukunnya atau sanak familinya. Duduknya di dingklik dialasi: tikar dan daun-daunan : apa-apa kluwih, dan dhadhap srep, alang-alang dan lemek yang sebangsa sembet yaitu : letrek, jingga, banguntalak, sindur, sembagi, slendang lurik puluhwatu, yuyu sekandang dan lawon.
Sesajiannya:
1. Sega janganan dan jajan pasar
2. Jenang: abang, putih,baro-baro dan jenang procot.
3. Sega garing, kedele, kacang dan wijen digoreng sangan kemudian digongsa.
4. Emping ketan (ketan mentah digoreng sangan dikrawu disisiri gula jawa).
5. Tumpeng robyong. (Tumpeng ditempatkan di centhing, ditempati telur wajar, ikan, trasi, bawang merah dan lombok, itu ditusuki, lomboknya ada di atas sendiri, kemudian ditusukkan di pucuknya tumpeng. Di kiri kanannya sekeliling ditusuki sundukan gereh, krupuk dan jajanganan seperti : kacang, kobis dan sepertinya.)
6. Penyon (tepung beras diberi air, dibuat warna mancawarna, kuning, hitam, putih dan sepertinya, dientreng-entreng sap-sapan, kemudian didang, diiris-iris).
7. Samporna (tepung beras diberi santan,diemba tempurung kelapa tengkurap, di dalam diberi gula kemudian kalangseng).
8. Pring sadhapur, (tepung beras masak diberi air, kapetha tumpeng kecil 9 jodoh, kemudian ditancapi glindingan tepung beras sajenthik-jenthik moncawarna
Setelah madi bersih, kemudian diwuloni dukun dan kemudian ganti mancawarna pasatan, dibeliti lawe merah, putih, hitam, tetapi nglowong jauh dan wateng kemudian mertuanya atau dukunnya nibakake tropong (perangkat buat lawe) yang menerima tropong biyungnya sendiri atau dukunnya dengan bicara : lelaki mau, perempuan mau, janji selamat. Kemudian nibakake cengkir gadhing digambar Kamajaya Ratih, Janaka Sembadra atac Panji dan Candrakirana, juga bicara : jika lelaki seperti : kamajaya,Arjuna, atau Panji, jika perempuan seperti : Ratih, Sembadra atau Candrakirana.
Setelah kemudian masuk rumah berdiri didepan patanen (kamar tengah) disitu sudah disediakan jarit dan kemben tujuh-tujuh,dipakai ganti-ganti dikendorkan saja. Memakai sekali, disitu para sesepuh ada yang mengolok: belum patut, kemudian dicopot (diplorotake), ganti satunya juga disapa lagi belum patut, begitu seterusnya sehingga sampai tujuh kali ganti, terpakasa belum betul, sampai jarit kembennya nglumbruk tidak dapat disingkirkan, kemudian diduduki. Kemudian memakai pakaian yang sebenarnya, yaitu jarit bathik tuntrum, kemben dringin, tanpa baju dan tidak dapat memakai: anting, cincin, gelang kalung dan bunga, kemudian diolok : sudah patut, sudah patut.
Orang Amerika-Meksiko (Galanti, 1991; Kay, 1978; Williams, 1989)
Wanita diharapkan menjadi hamil segera setelah menikah
Waita hamil sangat dipengaruhi oleh ibu dan ibu mertuanya
Aliran udara sejuk dianggap berbahaya selama masa hamil
Apabila apa yang diidamkan wanita tidak dipenuhi, ada anggapan bahwa bayi akan memiliki tanda lahir.
Beberapa suku memperlihatkan perilaku makan pica (makan debu atau kotoran) (tidak umum)
Susu dihindari karena menyebabkan bayi besar, sehingga sulit dilahirkan.
Banyak prediksi tentang jenis kehamilan bayi
Pemeriksanaan pelvis oleh pemberi perawatan kesehatan pria tidak dapat diterima dan menakutkan.
Jamu digunakan untuk mengatasi keluhan kehamilan yang umum.
Minum teh kamomil diduga memastikan persalinan yang efektif.
Orang Amerika-Afrika (Carrington, 1978, Galanti, 1991, William, 1989)
Penerimaan terhadap kehamilan bergantung kepada status ekonomi.
Kehamilan dianggap sebagai keadaan yang “sejahtera”. Hal ini sering menjadi alasan wanita menunda mencari perawatan prenatal, terutama pada keturunan Amerika-Afrika yang berpendapatan rendah.
Mitos orang-orang terdahulu mengatakan bahwa memfoto ibu hamil akan membuat bayi lahir mati, gerakan menggapai ke atas akan menyebabkan lilitan tali pusat.
Mengidam makanan tertentu, seperti ayam, sayuran hijau, tanah liat, kanji, kotoran
Kehamilan dipandang oleh pria keturunan Amerika-Afrika sebagai tanda kejantanan.
Pengobatan mandiri untuk berbagai ketidaknyamanan selama masa hamil, seperti konstipasi, nausea, mual, muntah, nyeri, nyeri kepala, dan nyeri ulu hati.
Orang Amerika-Asia (Chung, 1977; Galanti, 1991; Williams, 1989)
Kehamilan dianggap waktu dimana ibu “memiliki kegembiraan di dalam tubuhnya”
Kehamilan dipandang sebagai proses yang alami.
Jauh lebih disukai pemberi perawat kesehatan wanita.
Yakin pada teori panas dan dingin.
Tidak menggnakan kecap dalam diet untuk mencegah bayi berkulit gelap.
Sup yang dicampur dengan akar ginseng disukai sebagai tonik penguat umum.
Susu biasanya tidak ada dalam diet karena menyebabkan distres lambung.
9.3 Aspek sosial budaya selama persalinan kala I, II, III dan IV
Orang Amerika-Meksiko
Penggunaan “Partera” atau bidan setempat lebih disukai di beberapa tempat, kehadiran ibu lebih disukai daripada suami.
Setelah melahirkan, tungkai ibu dirapatkan untuk mencegah udara masuk ke dalam rahim.
Berisik ketika bersalin.
Orang Amerika-Afrika
Penggunaan “bidan tua” di daerah tertentu.
Berbagai respons emosional; sebagian menangis, beberapa menunjukkan sikap tenang supaya tidak menarik perhatian.
Pasie dapat tiba di rumah sakit jauh sebelum persalinan.
Dukngan emosi seringkali diberikan wanita lain, khususnya oleh ibu sendiri.
Orang Amerika-Asia
Ibu ditemani wanita lain, khususnya ibu sendiri.
Ayah tidak berpartisipasi secara aktif.
Bersalin dengan tenang.
9.4 Aspek sosial budaya dalam masa nifas.
Orang Amerika-Meksiko
Diet dapat dibatasi setelah melahirkan, selama dua hari pertama hanya susu panas dan tortila panggang yang diperbolehkan (makanan khusus untuk memberi tubuh kehangatan).
Tirah baring selama tiga hari setelah melahirkan.
Pertahankan kehangatan
Kepala dan kaki ibu dilindungi dari udara dingin-mandi diperbolehkan setelah 14 hari.
Ibu sering dirawat oleh ibunya sendiri
Tidak berhubungan seksual selama 40 hari.
Orang Amerika-Afrika
Perdarahan per vaginam dianggap sebagai tanda sakitl; mandi berendam dan keramas dilarang.
Teh sassafras dianggap berkhasiat menyembuhkan.
Makan hati dianggap menyebabkan perdarahan per vaginam yang lebih berat karena mengandung “darah” kadar tinggi.
Orang Amerika-Asia
Harus melindungi diri dari Yin (kekuatan dingin) selama 30 hari.
Ambulasi dibatasi
Mandi dan berendam dilarang.
Ruangan hangat
Ibu keturunan cina menghindari buah dan sayur.
Diet
Air minum hangat
Beberapa pasien vegetarian
Ibu keturunan Korea diberi sup ganggang laut dengan nasi.
Diet Cina banyak terdiri dari makanan yang panas.
9.5 Aspek sosial budaya yang berkaitan dengan bayi baru lahir
Orang jawa mempunyai kebudayaan selamatan sehubungan dengan kelahiran antara lain :
1. Selamatan brokohan
Jika bayi baru lahir, dibrokohi yaitu telur mentah banyaknya menurut neptunya hari dan pasarannya lahirnya bayi itu, gula jawa, dhawet, dan ambeng ditempatkan di tempeh, ikannya kerbau satu (sedikit-sedikit tapi komplit) dan pecel ayam sayur menir.
2. Selamatan sepasaran
Selamatan sapasaran, yaitu : nasi tumpeng janganan, jenang abang putioh,baro-baro, dan jajan pasar.
3. Selamatan salapanan
Selamatan selapanan, sama dan sapasaran, hanya saja di tempat tidurnya bayi, disajikan tempurung lubang ditutup daun kemudian ditempati katul dan arang jati, kemudian ditumpangi daun, kemudian ditempati tumpeng, tumpeng tadi di pucuk ditancabi bawang merah, lombok merah dan telur glundungan.
Selain dari itu, anak jika sudah umur selapan hari, kemudian dicukur. Rambut cukur pertama dan potongan kuku dirawat, serta ditempatkan jadi satu dengan potongannya pusar dan kotorannya kelelawar. Perlu dirawati jikalau besuk akan suka kadigdayan kanuragan, aji jaya kawijayan, nora tedas tapak paluning pande sisaning gurenda, potongannya pusar dan lain-lainnya yang dijadikan satu tadi supaya ditelan.
Selamatan 2, 3, 4, 5 dan 6 lapan, hanya janganan, jajan pasar dan jenang abang, putih, baro-baro.
4. Selamatan mudhun lemah
Jika sudah umur 7 lapan, kemudian turun tanah, selamatannya sega janganan dan lain-lain seperti tersebut di atas, serta juwadah dan tetel 7 warna (merah, putih, hitam, kuning, biru, oranye, ungu), air bunga setaman, padi, kapas, tangga tebu arjuna, bokor isi beras kuning, bunga dan segala macam uang: igaran, sen, kethip, talen, rupiyah, ringgit, dan kekayaan: gelang, kalung, cincin, sejenisnya, dan disediani kurungan. Anak dititah diinjak-injakkan jadah tetel, kemudian dinaikkan tangga tebu, jika sudah kemudian dikurung, bokor isi macam-macam tadi, dan padi kapas, didekatkan agar anak bisa main mengambil sekehendaknya, disitu kemudian udhik-udhik (beras kuning dan uang disiratkan, kemudian untuk rebutan yang menonton). Kemudian anak dimandikan air bunga setaman. Setelah selesai dipakaikan pakaian, dan memakai gelang, kalung, kemudian didudukkan di rumah di pasir bokor isi ; beras kuning, uang, kekayaan didekatkan lagi, kemudian di kur - kur - kur (nguwur-uwurake beras kuning yang dicampur uang dan kekayaan), anak tadi didekatkan supaya mengambil.
5. Selamatan tetesan
Jika anak perempuan sudah umur 8 - 10 tahun harus ditetesi (sunat), selamatan dan sajiannya : jenang abang, putih, baro-baro, tumpeng robyong, tumpeng gundhul (tanpa lauk), gula jawa setangkep, kelapa utuh 1, empluk isi beras, kemiri, kluwak, gedhang ayu, suruh ayu, gambir, jambe sagagange, kembang telon, menyan, lawe, kisi, dilah, kendhi, ayam hidup, tindhihe uang rong wang sabenggol. Tempatnya yang dipakai untuk netesi, dihamparkan tikar, di tengah tikar pasir atau babut, ditempati daun: apa-apa, kluwih, dihampari: lerek jingga, bangun tulak, sindur, sembagi, salendhang lurik puluh watu, yuyu sekandang dan lawon. Anak yang ditetesi dipangku di sanak famili yang sudah tua dan kelihatan enak hidupnya, perlu dimintai sawab berkah supaya ketularan mukti, matanya anak tadi ditutupi dari belakang kemudian dukun methet (netes), pethetane, kunir kapuknya dicelupkan di cuwo isi bunga setaman, kemudian kalabuh di sungai. Setelah ditetesi anak tadi kemudian disuruh mengunyah jamu mamahan, yaitu: beras kencur, kunir asem, tumbar, trawas, dan kayhu legi, semua mentah. Jamu tadi dikunyah ganti-ganti airnya ditelan, ampasnya dibuang, kemudian menelan telur ayam mentah. Kemudian anak tadi disiram duduk dingklik dihampari seperti waktu ditetesi, yaitu lemek: tikar, dan dedaunan : apa-apa,kluwih, kara, dhadhapsrep, alang-alang, dan bangsa sembet yaitu : letrek, jingga, banguntulak, sindur, sembagi, slendang lurik puluhwatu, yuyu sekadang dan lawon. Untuk menggosok seperti siraman tingkeban seperti di atas. Setelah mandi anak tadi dipakai pakaian serba baik, didudukkan di depan patanen (kamar tengah)
Orang Amerika-Meksiko
Menyusui dimulai pada hari keempat; kolostrum dapat dianggap “kotor” atau “tercemar”
Minyak zaitun atau minyak jarak diberikan untuk menstibulasi pengeluaran mekonium
Bayi laki-laki tidak disirkumsisi
Telinga bayi laki-laki ditindik
Ikat pinggang dikenakan untuk mencegah hernia umbilikalis.
Ibu mengenakan medali keagamaan selama hamil, dikalungkan pada leher bayi.
Bayi dilindungi dari “mata setan”
Berbagai obat digunakan untuk mengatasi “Mal ojo” dan fontanel yang cekung.
Orang Amerika-Afrika
Pemberian makanan sangat penting
Bayi yang makan dengan baik dianggap “bayi bagus”
Pemberian makanan padat dini
Boleh diberi ASI atau susu botol; menyusui dapat dianggap memalukan
Orangtua takut memanjakan bayi
Umumnya memanggil bayi dengan nama panggilan
Bayi dapat dikenakan baju secara berlebihan supaya tetap hangat
Ikat pinggang digunakan untuk mencegah hernia umbikalis
Penggunaan minyak berlebihan pada kulit kepala dan kulit bayi.
Ikatan kuat dengan keluarga, komunitas, dan agama.
Orang Amerika-Asia
Konsep keluarga penting dan dihargai
Ayah adalah kepala rumah tangga, isteri berperan sebagai bawahan.
Kelahiran bayi laki-laki lebih disukai.
Menunda pemberian nama pada anak.
Sebagian kelompok (misalnya, orang Vietnam) percaya bahwa kolostrum kotor sehingga mereka menunda menyusui sampai air susu keluar.



X. CARA-CARA PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA DALAM PRAKTEK KEBIDANAN
Lingkup praktek kebidanan yang digunakan meliputi asuhan mandiri / otonomi pada anak-anak perempuan, remaja putri dan wanita dewasa sebelum, selama kehamilan dan selanjutnya. Hal ini berarti bidan memberikan pengawasan yang diperlukan, asuhan serta nasihat bagi wanita selama masa hamil, berrsalin dan masa nifas.
Bidan menolong persalinan atas tanggung jawabanya sendiri dan merawat bayi yang baru lahir.
Asuhan kebidanan ini termasuk pengawasan pelayanan kesehatan masyarakat di Posyandu (tindakan dan pencegahan), penyuluhan dan pendidikan kesehatan pada ibu, keluarga dan masyarakat, termasuk persiapan menjadi orang tua, menentukan keluarga berencana, deteksi kondisi abnormal pada ibu dan bayi, usaha memperoleh pendamping khusus bila diperluklan (konsultasi atau rujukan), dan pelaksanaan pertolongan kegawat-daruratan primer dan sekunder pada saat tidak ada pertolongan medis.
Praktek kebidanan dilakukan dalam sistim pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masysrakat lainnya, dokter, perawat, dan dokter spesialiis di pusat-pusat rujukan.
10.1 Pendekatan melalui agama
Untuk bisa melakukan pendekatan melalui agama perlu diketahui hukum-hukum yang berlaku bagi agama yang bersangkutan terhadap praktek kebidanan.
Adapun hukum-hukum yang berhubungan dengan agama Islam sehubungan dengan praktek kebidanan antara lain :
1. Ketentuan nikah yang harus belaku menurut hukum Islam
Pada ayat 24/33 dapat disimpulkan bahwa :
a. Lelaki yang belum berkesempatan menikah, hendaklah sabar menahan diri, gerak gerik, dan ucapannya hingga sampai pada waktu dia berkeseanggupan menikah atau setelah memiliki kebutuhan yang diperlukan. Selama itu dia tidak boleh dipertunangkan, karena hal ini akan mendekatkan dia kepada perkgaulan bebas dan zina.
b. Jika orang itu telah berkesanggupan untuk menikah, maka dia boleh memajukan usul kepada ibu bapaknya dan melakukan pinangan terhadap perempuan yang disukai.
c. Lelakilah yang melakukan pinangan, tentunya melalui ibu bapak. Dan memang lelaki itulah yang nantinya yang akan bertanggjungjawab terhadap isterinya dalam berbagai hal hidup. Namun tiada suatu ayat suci yang menerangkan pihak perempuan melakukan peminangan, karena peminangan dari pihak perempuan mungkin diterima oleh pihak lelaki yang belum sanggup untuk beristeri.
d. Tidak boleh bertunganan walaupun selama ini telah terjadi tradisi dalam masyarakat sebagai maksud ayat 7/28.
e. Orang tidak dilarang bercintaan asal saja dalam batas-batas amar makruf nahi mungkar. Maka bilamana orang-orang ini telah berkesanggupan untuk menikah, hendaklah dinikahkan, jika dipandang ada baiknya.
f. Mereka yang akan menikah hendaklah dibantu dengan harta benda atau alat-alat yang dibutukannya sesanggup kemungkinan.
g. Tidak boleh memaksa lelaki atau perempuan yang tidak mau dinikahkan, jika dia memberikan alasan agar tidak dinikahkan.
h. Kalau perlu lelaki dan perempuan itu boleh dinikahkan asal saja untuk kebaikan menurut hukum Islam, yang walaupun pada dasarnya pemaksaan itu dilarang.
i. Ketentuan di atas berlaku juga bagi duda atau janda yang ditimbulkan kematian atau perceraian.
Perempuan yang tidak boleh dinikahi
a. Perempuan musyrik, sebaliknya lelaki musyrik tidak boleh dinikahkan dengan perempuan beriman (2/221, 60/10).
b. Perempuan yang pernah jadi isteri bapak sendiri (4/22).
c. Ibu kandung, anak kandung, saudara kandung, saudara bapak kandung, saudara ibu kandung, anak saudara kandung, mertua, anak tiri yang ibunya sudah dicampuri, perempuan yang pernah jadi ibu tiri, yang pernah jadi isteri anak kandung, sekaligus dua perempuan bersaudara kandung (4/23).
d. Orang yang pernah berzina tidak boleh dinikahkan dengan orang beriman (2/221, 24/3).
Perempuan Yang Boleh Dinikahi
a. Perempuan yang terjaga dalam pemeliharaan ibu bapaknya (4/24).
b. Perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga (4/25).
c. Perempuan beriman dari ahli Kitab (5/5), yaitu perempuan beriman yang terjaga dalam pemeliharaan ibu bapaknya.
d. Perempuan beriman yang lari dari masyarakat kafir, dengan syarat bahwa jika dia telah bersuami, maka harus dibayar kembali mahar yang diterima perempuan itu dulunya, diberikan kepada suaminya yang kafir itu, kemudian harus ditunggu hingga idahnya habis (60/10).
Semua ketentuan hukum mengenai nikah seperti tersebut di atas agar terbentuk dan tersusun masyarakat Islam yang sempurna, bersih, terbebas dari kekafiran, kemusyrikan, dan sifat yang mungkin merusak pergaulan.
Pada setiap pernikahan haruslah dengan keizinan ibu, bapak atau keluarga calon isteri (4/25, 24/33), dinikahkan oleh yang berhak menikahkan (2/237) yaitu bapak calon isteri atau yang mewakili bapaknya itu menurut hukum, dan harus memberikan perongkosan yang telah ditentukan lebih dahulu. Seterusnya harus memelihara dan menjaga perempuan itu lahir batin sebagai isteri yang diredhai menurut hukum Islam.
Hukum Poliandri
a. Poliandri dapat menjadi sumber penyakit menular disebabkan berkumpulnya sperma beberapa orang lelaki dalam satu rahim perempuan, maka keadaannya sama dengan zina (24/2)
b. Poliandri menghalangi kelahiran generasi penerus, bertentangan dengan maksud ayat (4/1), atau paling tidak memperkecil jumlah kelahiran.
c. Poliandri menghilangkan tanggjungjawab kaum lelaki yang seharusnya menjadi pimpinan rumah tangga (2/228, 4/34). Dalam satu rumah tangga harus ada satu pimpinan, yang demikian tak akan berlaku bagi poliandri.
d. Bilamana poliandri terlaksana, maka waktu itu habislah rasa malu dan cemburu,
Hukum Poligami
Ketentuan ayat tentang poligami adalah sebagai berikut :
4/3 : Dan jika kamu cemas tidak dapat berbuat efektif pada anak-anak yatim maka nikahilah perempuan yang rasanya baik untukmu dua dan tiga dan empat. Jika kamu cemas tidak dapat bersikap adil, maka hendaklah satu saja atau yang dimiliki tatahukummu (isteri yang telah kamu nikahi saja). Yang demikian lebih rendah agar kamu tidak berbuat sombong.
4/127 : Merreka menanyai engkau tentang perempuan. Katakanlah, “Allah memberi keterangan padamu tentang mereka, begitupun apa yang dianalisakan atasmu dalam Kitab tentang perempuan yang beranak yatim yang tidak kamu berikan pada mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka sedangkan kamu cinta menikahi mereka. Begitu juga tentang orang-orang lemah dari ana-anak, dan agar kamu berdiri untuk anak-anak yatim dengan efektifitas. Apa-apa yang kamu perbuat dari kebaikan maka Allah mengetahuinya.
24/32 : Dan kawinkanlah perempuan-perempuan janda dari kamu, begitupun lelaki shaleh dari hamba-hambamu dan laki-lakimu yang janda. Jika mereka melarat, Allah akan menyelamatkan mereka dari sebab kurnia-NYA, dan Allah mahaluas mengetahui.
Dari ayat di atas :
a. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak berlaku hal yang menyebabkan orang menjadi janda, baik dia lelaki ataupun perempuan, begitu pula yang tetap membujang karena kemelaratan hidup. Orang-orang ini hendaklah dinikahkan dengan jodoh yang harus dicarikan bersama diantara orang-orang beriman. (24/32, 24/33).
b. Bagi mereka di atas ini tentu saja tidak boleh berlaku poligami begitu pula poliandri.
c. Seorang perempuan, baik gadis ataupun janda, hendaklah menikahinyua seorang lelaki bujang ataupun janda. Dan seorang lelaki, baik yang bujang ataupun yang janda, hendaklah menikahi seorang perempuan yang tidak bersuami. Masing-masingnya tidak boleh poligami atauipun poliandri.
d. Hukum yang menentukan boleh berpoligami hanyalah tercantum pada ayat 4/3 dan 4/127 saja, yaitu lelaki yang beristeri boleh lagi menikahi perempuan lain yang beranak yatim hingga dia memiliki isteri dua, tiga atau empat orang sekaligus.
e. Lelaki yang hendak berpoligami itu haruslah berkesanggupan dalam bidang fisik dan ekonomi untuk memelihara dan membelanjai anggota keluarganya sebagai suami, sebagai bapak kandung, ataupun sebagai bapak tiri.
2. Hukum Ibadah bagi wanita hamil.
a. Darah yang terlihat pada wanita hamil.
Darah haid adalah nama bagi darah yang keluar dari rahim wanita bukan karena melahirkan, dengan dibatasi oleh batas dan waktu tertentu (Al-Kasani dari madzhab Hanafi) Menurut eksiklopedi kedokteran modern, haid adalah siklus wanita yang ditandai dengan keluarnya darah yang ada dalam rahim melalui vagina, karena kehamilan tidak terjadi. Pada hari keempat belas dari siklus masa haid terjadi pembentukan sel telur. Dan ketika tidak terjadi pembuahan, maka permukaan uterus larut bersama darah. Lalu, pembuluh darah rahim mengerut dan lapisan sel yang mengelilingi pembuluh darah pecah, kemudian kotorannya keluar melalu vagina bersama dengan darah haid.
Darah Istihadhah (mustahadhah) adalah darah yang keluar di luar masa haid dan nifas. Istihadhah adalah mengalirnya darah di luar waktunya, disebabkan sakit, rusaknya (organ), serta darah itu keluar dari pembuluh arah mulut rahim yang terletak di rahim paling bawah.
Darah nifas adalah darah yang keluar dari rahim setelah proses persalinan atau selama persalinan. Nifas adalah sisa-sisa darah yang tertahan selama masa kehamilan. Cairan nifas adalah sejumlah pengeluaran (Darah atau lendir) yang keluar dari rahim setelah melahirkan. Cairan itu pada empat hari pertama berupa darah, kemudian warnanya memudah, kadar darahnya semakin sedikit sampai akhirnya menjadi lendir yang tidak berwarna, setelah sepuluh hari.
Hukum bagi wanita yang sedang haid:
Berdasarkan Surat Al baqarah (surat kedua) ayat 222 (2/222) : “Dan maereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: “Haid itu adalah kotoran. “ Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid”.
Karena wanita yang sedang haid dalam keadaan kotor maka:
1). Tidak boleh Puasa (2/184 dan 2/185), iaharus mengqadha (membayar) puasa yang tertinggal selama masa hadi pada bulan Ramadhan.
2). Tidak boleh Shalat (4/43 dan 5/6), dan tidak ada qadha shalat baginya untuk shalat yang tertinggal selama haid.
3). Hendaknya si suami tidak mencampurinya dan mendekatinya, dan si isteri hendaklah menjauhi suaminya. (2/222)
4). Tidak boleh masuk masjid
5). Tidak boleh melakukan thawaf di sekitar Ka’bah.
4). Bila sudah selesai masa haid dia harus bersuci dengan cara mandi junub (4/43 dan 5/6)
Hukum bagi wanita yang sedang nifas:
Sama dengan wanita yang sedang haid.
Hukum bagi wanita mustahadah (Istihadhah)
Darah istihadhah tidak menghalangi wanita untuk melakukan ibadah shalat, puasa, thawaf di sekeliling ka’bah atau ibadah-ibadah lainnya, akan tetapi darah istihadhah membatalkan wudhu.
b. Wanita hamil
Wanita hamil termasuk orang yang mempunyai beban berat, sehingga dia
1). Boleh menjamak shalatnya (Al-Hijr : 78), namun yang lebih baik bila kuat tidak dijama’
2). Boleh tidak puasa (2/184 dan 2/185) namun lebih baik berpuasa bila kuat dan bila tidak berpuasa lebih baik mengqadha’ (mengganti puasa di hari lain), dan jika tidak mungkin harus membayar fidyah.
3). Wajib haji jika memang punya kemampuan untuk melaksanakannya (3/97), kemampuan yang dimaksud meliputi biaya, kesehatan dan kekuatan badan, dimana dengannya ia sanggup memilkul seluruh beban (kewajiban) haji dan seluruh ritualnya.
4). Boleh mewakilkan melempar jumrah.
5). Tidak boleh diceraikan sampai dia melahirkan.(65/4)
6). Menggugurkan kandungan adalah dosa.
3. Waktu melahirkan
Yang boleh membantu ibu dalam proses kelahiran anaknya adalah tenaga ahli wanita. Sedangkan tenaga ahli lelaki (dokter) hanya diperbolehkan jika dalam keadaan sangat darurat (misal operasi). Hal ini dikarenakan adanya larangan membuka aurat selain kepada suaminya. Jika dalam keadaan terpaksa, hukumnya menjadi boleh (mubah) bagi laki-laki menolong persalinan, dengan syarat yang boleh dilihat hanya bagian tubuh yang terpakasa (darurat) harus dilihat, sementara bagian tubuh yang lainnya harus tetap ditutup.
4. Pasca Kelahiran anak
Hal-hal yang disunatkan untuk dilakukan pasca kelahiran anak antara lain.
1). Menyambut kedatangan anak dengan suka-cita dan kegembiraan.
Disunnatkan menyambut kedatangan anak dengan suka cita kegembiraan dan ucapan selamat. Karena itu, apabila seseorang dikaruniai bayi atau isteri dipatkan hamil, maka disunatkan memberikan ucapan selamat dan kabar kegembiraan. (19/7, 37/101, 11/71)
2). Azan di telinga kanan dan iqamah dui telinga kiri anak.
Disunatkan agar mengazankan di telinga kanan bayi dan mengiqamahkan di telinga kirinya pada saat bayi dilahirkan agar yang paling pertama didengar oleh bayi yang bau lahir ialah suaara azan.
3). Mentahnik anak
Disunnatkan agar mentahnik bayi dengan kurma. Yanga dimaksud mentahnik (tahnik) ialah orang tua (ayah) dari bayi yang baru lahir mengunyah kurma atau boleh juga dilaklukan oleh orang terhormat (alim), lalu kunyahan kurma itu dimasukkan (dioleskan) ke dalam mulut bayi.
4). Mengaqiqah anak
Disunnatkan menyembelihkan aqiqah buat bayi yang lahir .
5). Memberi Anak Nama yang Baik.
Disunnatkan memilih dan memberi sebaik-baiknya nama kepada anak yang baru lahir. Pemberian nama sebaiknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi.
6). Mengkhitan Anak
Disunatkan mengkhitan anak, dan sebaiknya lebih cepat lebih afdhal, dan karena melambatkannya makruh. Mengkhitankan anak merupakan salah satu sunnah fithrah.
e. Wanita menyusui
1). Harus menyusui selama 2 tahun penuh (2/233)
2). Boleh disusukan kepada perempuan lain
10.2 Pendekatan melalui kesenian tradisional.
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menginginkan atau memilih sesuatu yang dianggap lebih indah dan menyenangkan hati. Keinginan pada hal yang dirasakan indah dan menyenangkan hati tersebut adalah naluri manusia kepada kebutuhan seni. Untuk memperoleh sesuatu yang dapat menyenangkan itu, manusuia menciptakan segala sesuatu dengan sentuhan seni. Tujuan penciptaan tersebut adalah membuat segala sesuatu yang sebelumnya berkesan biasa, berubah menjadi sesuatu yang dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan batin bagi penciptaannya dan masyarakat umum.
Seni tidak dapat dipisahkan dari kegiatan manusia sehari-hari. Hampir semua aspek kehidupan manusia berkaitan dengan kesenian. Kesenian merupakan ekspresi perasaan manusia. Manusia sebagai pencipta seni mengungkapkan perasaannya melalui beragam media. Karya seni merupakan salah satu bentuk perwujudannya. Ada tiga unsur pokok yang saling berkaitan dalam kesenian, yaitu pencipta (seniman), penikmat seni (apresiator) dan karya seni.
Kesenian akan berkembang apabila didukung oleh masyarakatnya. Masyarakat adalah penikmat dan pelaku seni. Setiap masyarakat memiliki bentuk kesenian yang berbeda. Kesenian yang berkembang di masyarakat perkotaan berbeda dengan masyarakat pedesaan. Perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh kondisi alam, lingkungan, dan sistem nilai.
Seni mempunyai usia kurang lebih sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini. Dalam usianya yang sangat tua, sebni menjadi bagian dari sejarah kehidupan budaya manusia di berbagai belahan bumi, dengan keberagaman bentuk dan jenisnya.
Sekalipun orang telah akrab dengan istilah seni rumusan yang tepat mengenai pengertian seni terkadang masih belum diperoleh dengan jelas. Pengertian seni secara sederhana yang sering dilontarkan oleh masyarakat umum adalah segala macam keindahan yang diciptakan manusia. Seni dipandang sebagai karya indah yang menimbulkan kenikmatan jasmani dan rohani.
Menurut Ensiklopedi Indonesia, seni adalah penciptaan segala hal atau benda yang karena keindahannya orang senang melihat atau mendengarkannya. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lain yang menikmati karya seni tersebut.
Pengertian lain dikemukakan juga oleh Achdiat Kartamiharja, yang menekankan bahwa seni merulakan kegiatan rohani manusia yang menggambarkan kenyataan. Adapun Popo Iskandar sebgagai pelukis dan kritikus seni menyatakan bahwa seni merupakan ekspresi yang diwujudkan secara nyata.
Cabang-cabang Seni
Seni dibagi menjadi beberapa cabang. Hal tersebut disebabkan oleh media pengungkapan seni yang digunakan berbeda-beda. Media tersebut adalah media rupa, media bunyi, media gerak, media lisan, dan tulisan.
Berdasarkan media pengungkapannya, cabang-cabang seni dikelompokkan menjadi lima, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, seni sastra, dan seni drama.

1. Seni Rupa
Seni rupa adalah seni yang muncul karena adanya rupa wujud, artinya karya seni tersebut dapat dinikmati dengan indra penglihatan. Seni rupa merupakan segala bentuk curahan batin dan pengalaman keindahan dengan media garis, bidang, warna, tekstur, volume, dan gelap-terang.
2. Seni Musik
Seni musik atau seni suara adalah karya seni yang disampaikan melalui media suara atau bunyi (suara manusia atau bunyi alat musik).
3. Seni Tari
Seni tari atau seni gerak adalah karya seni yang disampaikan melalui media gerak yang berirama dan indah. Irama, gerak, pembawaan, serta penghayatan merupakan hal yang perlu dikuasai dalam seni tari.
4. Seni Sastra
Seni sastra adalah karya seni yang diungkapkan melalui media bahasa. Media bahsa dapat berupa tulisan atau lisan.
5. Seni Drama
Seni drama adalah cabang seni yang menggunakan media gerak dan media bahasa. Gerak pada seni drama merupakan gerak makna atau akting.
Berdasarkan bentuknya, cabang seni juga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu seni audio, seni vfisual, dan seni audio visual.
1. Seni Audio
Seni audio adalah karya seni yang dapat dinikmati melalui indra pendengaran
2. Seni Visual
Seni visual adalah karya seni yang dapat dinikmati melalui indra penglihatan.
3.Seni Audio Visual
Seni audio visual adalah karya seni yang dapat dinikmati melalui indra penglihatan dan pendengaran.
Berdasar kegunaannya, seni (terutama seni rupa) dapat digolongkan menjadi dua, yaitu seni pakai dan seni murni.
1. Seni Pakai (Applied Art / Useful Art)
Hasil karya seni pakai selain dapat dinikmati mutu seninya juga dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Bentuk karya seni pakai, misalnya hasil kerajinan anyaman rotan.
2. Seni Murni (Fine Art)
Seni murni adalah suatu karya seni yang diciptakan hanya untuk dinikmati tanpa adanya hubungan atau kaitan dengan kegunaan. Dinamakan karya seni murni karena karya seni ini fungsinya betul-betul hanya untuk dinikmati nilai atau mutu seninya, misalnya lukisan.
Fungsi Seni
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk seni yang bermacam-macam itu memiliki fungsi yang berbeda. Para ahli membagi fungsi seni menjadi dua kelompok besar, yaitu fungsi seni untuk kebutuhan individu dan untuk kebutuhan sosial.
1. Fungsi seni untuk memenuhi kebutuhan individu terbagi menjadi dua macam, yaitu kebutuhan emosional, dan kebutuhan fisik.
a. Kebutuhan emosional, berupa uingkapan perasaan melalui kegiatan berkarya seni murni, misalnya melukis, mematung, membuat karya sastra, musik, menari, dan sebagainya.
b. Kebutuhan fisik, berupa benda-benda kebutuhan sehari-hari misalnya bangunan, mebel, pakaian, barang-barang kerajinan, dan sebagainya.
2. Fungsi seni untuk memenunhi kebutuhan sosial terbagai menjadi tiga macam, yaitu kebutuhan agama, kebutuhan pedidikan, dan kebutuhan komersial.
a. Kebutuhan agama, yaitu suatu kegiatan seni yang dilakukan untuk kepentingan keagamaan, misalnya untuk kebutuhan bangunan peribadatan (masjid, gereja, candi, pura, dan vihara).
b. Kebutuhan pendidikan yaitu kegiatan atau hasil penciptaan seni sebagai pendukung kegiatan pendidikan, misalnya agar kalangan terdidik dapat mengapresiasi atau menghargai karya seni, seni dapat digunakan untuk media atau alat bantu dalam menyampaikan materi pelajaran.
c. Kebutuhan komersial, yaitu sesuatu yang dapat diperjual belikan seperti halnya benda ekonomi lainnya, misalnya desain kemasan barang, interior rumah, jilid buku, dan poster.
Kesenian Ritual, tradisional dan Kreasi baru
Banyak jenis kesenian baik kesenian untuk ritual, kesenian tradisional maupun kreasi baru.
Salah satu jenis kesenian yang berhubungan dengan kesenian ritual, tradisional dan kreasi baru adalah tari.
Tari ritual adalah tari yang dibawakan oleh penari untuk kebutuhan upacara, seperti tari Sang Hyang Jaran, tari Sang Hyang Lelipi dan tari Sang Hyang Dedari dari daerah Bali.
Tari tradisional adalah tarian yang dibawakan oleh penari yang menarikan tari tradisional ciri khas daerah / etnis tertentu dan berfungsi sebagai tontonan. Contoh tari tunggal tradisional diantaranya tari Golek Gaya Yogyakarta, tari Wayang Sunda, da ntari Topeng Cirebon. Seudati adalah tari rakyat tradisional yang berasal dari daerah Aceh.Kata seudati kemungkinan besar berasaldari bahsa arab “Syhadatain” atau “Meusaman”. Tari Seudati diyakini oleh orang Aceh muncul seiring dengan perkembangan Islam. Tari ini dipakai untuk mengajarkan agama kepada rakyat Aceh dengan cara yang menghibur.
Tari kreasi baru adalah tari yang dibawakan oleh penari yang membawakan karya koreografer yang diketahui nama penciptanya dan memiliki karakteristik khas koreografernya. Contoh Kebyar Terompang ciptaan I Mario dari Bgali, Tari-tari Putri karya R. Tjetje Sumantri dari Jawa Barat, tari Jaipongan karya Gugum Gumbira, dan tari Piribng karya Hurairah Adam dari Sumatera Barat.
10.3 Pendekatan melalui paguyuban
Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal.
Salah satu contoh bentuk paguyuban adalah keluarga.
Dinamika Keluarga
Keluarga bekerjasama untuk melaksanakan fungsi keluarga. Melalui dinamika keluarga, para anggota keluarga menerima peranan sosial yang sesuai. Peran sosial dipelajari di dalam keluarga secara berpasangan (misalnya, ibu-ayah, orangtua-anak, dan kakak-adik). Sebuah peran sosial tidak muncul dengan sendirinya tetapi dirancang supaya bekerja dengan sebuah mitra-peran. Pasangan peran memungkinkan terjadinya interaksi sosial dalam bentuk perilaku yang dapat diprediksi dan teratur. Peran-peran ini diharapkan saling melengkapi. Beberapa keluarga mempertahankan pasangan peran tradisional, sedangkan keluarga lain mengubah pola perilaku seiring perubahan gaya hidup keluarga. Peran-peran itu bukan ibu-ayah, kakak-adik, tetapi ibu-anak perempuan, ibu-anak lelakli. Negoisasi membawa pasangan peran ini ke kesejajaran yang baru. Negoisasi sangat penting untuk mempertahankan ekuilibrium keluarga.
Setiap keluarga menetapkan batasan antara keluarga tersebut dan masyarakat. Masyarakat secara ekstrim sadar akan perbedaan antara “anggota keluarga” dan “orang-orang luar,” orang-orang tanpa status kekeluargaan. Beberapa keluarga mengisolasi diri dari komunitas luar. Keluarga-keluarga lain memiliki jaringan komunitas yang luas untuk membantu mereka ketika mengalami tekanan. Meskipun terdapat batasan untuk setiap keluarga, anggota keluarga menetapkan saluran sebagai sarana mereka berinteraksi dengan masyarakat. Saluran-saluran ini juga memastikan keluarga menerima sumber-sumber masyarakat yang menjadi bagiannya.
Secara ideal, keluarga menggunakan sumber-sumbernya untuk memberi lingkungan yang aman dan intim bagi perkembangan biopsikososial para anggota keluarga. Keluarga mengasuh neonatus dan mensosialisasikan anak yang sedang bertumbuh secara bertahap. Keluarga menjadi sumber hubungan pertama dengan orang lain. Hubungan paling dini dan paling dekat yang terbentuk anak adalah hubungan dengan orang tua atau orang yang menjadi wali mereka dan hubungan ini berlanjut seumur hidup. Dalam keadaan baik atau buruk, hubungan orangtua-anak mempengaruhi harga diri dan kemampuan individu dalam membentuk hubungan di masa yang akan datang. Keluarga mempengaruhi persepsi anak tentang dunia luar. Keluarga memperlengkapi anak yang sedang bertumbuh dengan suatu identitas yang mencakup pengertian tentang masa lalu dan masa depan. Nilai-nilai kebuda¬ya¬an dan tata cara keagamaan diteruskan dari satu generasi ke generasi keluarga berikutnya.
Melalui interaksi sehari-hari keluarga mengembangkan dan menggunakan pola komuniasi verbal dan non verbal. Pola-pola ini memberi pengertian yang dalam pada pertukaran emosi dalam sebuah keluarga dan bertindak sebagai indikator fungsi interpersonal yang dapat dipercaya. Anggota keluarga tidak hanya bereaksi terhadap komunikasi atau tindakan anggota keluarga yang lain, tetapi juga menginterprestasi dan mendefinisikan komunikasi dan tindakan tersebut.
Seiring perjalanan waktu, keluarga mengembangkan protokol penyelesaian masalah, khususnya yang menyangkut keputusan-keputusan penting, seperti memiliki bayi, membeli rumah, atau menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi. Kriteria yang digunakan dalam membuat keputusan didasarkan pada nilai dan sikap keluarga, terhadap kesesuaian perilaku dan peristiwa moral, sosial, politis, dan ekonomi dalam masyarakat.. Anggota keluarga diberi kekuasaan untuk membuat keputusan kritis melalui tradisi atau negooisasi. Kekuasaan ini tidak selalu dinyatakan. Kekuasaan mencerminkan konsep keluarga tentang dominasi pria atau wanita dan praktik kebudayaan, kebiasaan masyarakat, dan norma komunitas. Akibatnya, anggota keluarga memperoleh status atau hierarki tertentu. Mereka melakukan status ini dengan menerima berbagai peran. Kebanyakan keluarga mempunyai seorang anggota yang “bertanggungjawab” atau “mendukung” atau “tidak dapat diharapkan untuk melakukan sesuatu”.
Dinamika keluarga pada masa hamil
Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga. Karena “konsep merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya seorang anggota keluarga baru dan terjadinya perubuhan hubungan dalam keluarga,” maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi terhadap kehamilan dan menginterpretasinya berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Proses adaptasi keluarga terhadap kehamilan ini berlangsung dalam suatu lingkungan budaya yang dipengaruhi oleh tren-tren sosial.
Adaptasi Maternal
Wanita, dari remaja sampai wanita usaia sekitar 40-an, menggunakan masa hamil 9 bulan untuk beradaptasi terhadap peran sebagai ibu. Adaptasi ini merupakan proses sosial dan kognitif kompleks yang bukan didasarkan pada naluri, tetapi dipelajari. Untuk menjadi seorang ibu, seorang remaja harus beradaptasi dari kebiasaan dirawat ibu menjadi seorang ibu yang melakukan perawatan.Sebaliknyua, seorang dewasa harus mengubah “kehidupan rutin yang dirasa mantap menjadi suatu kehidupan yang tidak dapat diprediksi, yang diciptakan seorang bayi.
Pada awal masa hamil tampaknya tidak ada yang terjadi dan keinginan untuk menghentikan hari-hari yang penuh tuntutan sosial dan aktivitas timbul supaya dapat menikmati waktu kosong tanpa beban. Banyak waktu dihabiskan dengan tidur. Dengan munculnya quickening pada trimester kedua, terjadilah reduksi waktu dan ruang, baik secara geografik maupun sosial karena wanita tersebut mengalih¬kan perhatiannya ke dalam, yakni pada kandungannya dan pada hubungan dengan ibunya dan wanita lain yang pernah atau sedang hamil. Pada trimester ketiga terjadi perlambatan aktivitas dan waktu terasa cepat berlaku karena aktivitas wanita tersebut dibatasi.
Hubungan Ibu-Anak Perempuan
Keberadaan ibu disisi anak perempuannya selama masa kanak-kanak sering kali berarti ibu juga akan hadir dan mendukung selama anaknya hamil. “Dengan ikatan keibuan yang sama dan sikap siap membantu satu sama lain, subyek yang sering dideskripsikan sebagai keakraban tuimbul dan memfasilitasi perkembangan dan adaptasi kedua individu”.
Reaksi ibu terhadap kehamilan anaknya menandakan penerimaannya terhadap cucu dan anak perempuannya. Apabila ibu mendukung, anak perempuannya bisa memiliki kesempatan untuk membicarakan kehamilan dan persalinan serta rasa sukacita atau rasa ambivalen dengan seorang wanita yang meiliki pengetahuan dan menerima kehamilan. Jika ibu seorang wanita hamil tidak bahagia dengan kehamil¬an¬nya, maka wanita tersebut akan mulai meragukan kelayakan dirinya dan apakah anaknya akan diterima orang lain.
Ibu yang menghormati otonomi anak perempuannya membuata rasa percahya diri anak perempuannya tumbuh. Kakek-nenek yang membantu anak-anaknya menjadi mandiri akan dipandang sebagai penolong daripada sebagai pengganggu atau orang yang mendominasi.
Mengenang masa kanak-kanak awalnya dan mendengarkan pengalaman melahir¬kan seorang calon nenek membantu wanita hamil mengantisipasi dan mempersiap¬kan diri menghadapi persalinan dan kelahiran. Mendengar cerita tentang dirinya pada masa kanak-kanak membuat wanita hamil merasa dicintai dan diinginkan. Me¬re¬ka menjadi lebih dekat dengan orang tua mereka dan mulai merasa bahwa meskipun mereka melakukan kesalahan dalam pengalaman mereka menjadi ibu, mereka akan terus dicintai oleh anak-anak mereka.
Hubungan dengan pasangan
Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil biasanya ialah ayah sang anak. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangan prianya selama hamil akan menunjukkan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan penyesuaioan selama masa nifas. Ada dua kebutuhan utama yang ditunjukkan wa¬ni¬ta selama ia hamil. Kebutuhan pertama ialah menerima tanda-tanda bahwa ia cintai dan dihargai. Kebutuhan kedua ialah merasa yakin akan penerimaan pasang¬an¬nya terhadap sang anak dan mengasimilasi bayi tersebut ke dalam keluarga. Wanita hamil harus memastikan tersedianya akomodasi sosial dan fisik dalam keluarga dan rumah tangga untuk anggota baru tersebut.
Adaptasi Paternal
Secara umum calon ayah, sebagaimana ibu yang menantikan kelahiran anaknyua, dianggap telah mempersiapkan diri menjadi orang tua seumur hidupnya. Sadar atau tidak sadar pria akan berpikir untuk memiliki isttri dan anak. Selama berpacaran dan awal perkawinan, diskusi tentang rencana masa depan mngkin meliputi jumlah anak, jarak, dan nama-nama calon anak.
Kepercayaan dan perasasan ayah tentang ibu dan ayah yang ideal dan harapan budaya akan perilaku yang pantas selama masa hamil akan mempengaruhi responnya terhadap kebutuhan isterinya akan dirinya.
Beberapa pria mungkin menunjukkan kepedulian akan istrinya. Sedangkan pria lain justru merasa kesepian dan terasing karena istrinya secara fisik dan emosional terikat dengan calon anak mereka. Pria yang demikian memiliki kenungkinan mencari kenikmatan dan dukungan atas sikap mereka di luar rumah atau melibatkan diri dalam suatu hobi baru atau membenamkan diri dalam pekerjaan. Sebagian pria menganggap kehamilan sebagai bukti kejantanannya dan tidak berpikir sama sekali tentang tanggungjawabnya terhadap si ibu atau anak. Akan tetapi, bagi kebanyakan pria, kehamilan dapat merupakan kesempatan ia dengan sungguh-sungguh mem¬per¬siap¬kan diri menjadi seorang ayah.
Adaptasi Kakek-Nenek
Calon kakek nenek dapat merupakan sumber krisis maturasi bagi calon orang tua. Kehamilan, tidak dapat duisangkal lagi, merupakan bukti bahwa individu kini berusia cukup untuk memiliki seorang anak yang akan melahirkan cucunya. Banyak orang berpikir kakek nenek adalah orang yang tua, berambut putih, dan renta secara pikiran dan fisik. Pada kelompok masyarakat yang mengutamakan orang muda menjadi tua dapat merupakan suatu hal yang aib. Sebagian orang menjadi kakek nenek pada usia 30-an dan 40-an. Kadang-kadang calon ibu yang mengumumkan kehamilannya kepada ibunya di sambut dengan kata-kata, “Berani betul kamu lakukan hal itu kepada saya! Saya belum siap menjadi nenek!” Baik anak wanita maupun ibunya dapat menjadi terkejut dengan komentar tersebut dan merasa sakit hati. Sedangkan calon kakek nenek yang lain bukan hanya tidak mendukung, tetapi juga memakai cara-cara terselubung untuk menekan percaya diri calon orang tua yang masih muda. Ibu mungkin membicarakan kehamilannya yang suilit dulu, ayah mungkin membahas tentang pengeluaran yang tidak pernah berakhir untuk membesarkan anak, dan mertua wanita mungkin mengeluhkan kurangnya perhatian anak lelakinya untuk orang lain karena kini hanya tercurah pada kehamilan menantunya.
Namun, kebanyakan kakek nenek dengan sangat gembira menantikan kehadiran bayi baru dalam keluarga. Hal ini membangkitkan kembali perasaan mereka saat mereka masih muda, drasa suka cita menantikan kelahiran dan menjadi orangtua baru sewaktu anak-anak masih bayi. Mereka mengingat kembali saat bayi mereka pertama kali tersenyum, kata-kata dan langkah-langkah pertama, yang nantinya dapat dipakai untuk mengakui bayi tersebut sebagai anggota keluarga. Rasa puas muncul karena ada kepastian kelanjutan antara generasi terdahulu dan saat ini.
Adaptasi Saduadra Kandung
Berbagai berita kehadiran seorang adik laki-laki atau prempuan yang baru merupakan krisis utama bagi seorang anak. Anak yang lebih besar sering mengalami perasaan kehilangan atau merasa cemburu karena “digantikan” oleh bayi yang baru. Beberapa faktor yang mempengaruhi respon seseorang anak antara lain umur, sikap orang tua, peran ayah, lama waktu berpisah dengan ibu, peraturan kunjungan di rumah sakit, dan bagaimana anak itu dipersiapkan untuk suatu peru¬bah¬an.
10.4 Pendekatan melalui pesantren
1. Pengertian
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Kata pesantren atau santri diduga berasal dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Sumber lain menyebutkan bahwa kaa itu berasal dari bahasa India shastri dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci”, “buku-buku agama”, atau “buku-buku tentang ilmu pengetahuan” (Dewan Reedaksi Ensiklopedi Islam, 1999:99).
Ziemek (1986: 98-99), mengungkapkan bahwa pesantren terdiri dari kata asal “santri” yang memiliki awalan “pe” dan akhiran “an”, yang menunjukkan tempat. Adapun “santri” merupakan ikatan kata “sant” yang berarti manusia baik, yang dihubungkan dengan “tra” yang berarti suka menolong. Dengan demikian, pesantren berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Geertz menjelaskan bahwa santri memiliki arti sempit dan luas. Santri secara sempit adalah : seorang pelajar sekolah agama, yang disebut pesantren. Adapun dalam arti yang lebih luas, kata santri mengacu kepada seorang anggota bagian penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian Geertz dapat ditarik pemahaman, bahwa santri hanya dikenal dalam struktur masyarakat Jawa dan sekaligus pembeda dari masyarakat yang disebut abangan dan priyayi.

2. Sejarah Pesantren
Pesantren diduga telah berdiri sejak tahun 1062. Dasar dugaan ini adalah ditemukannya pesantren Jan Tampes II di Pamekasan Madura (Departemen Agama, 1985 : 668). Dugaan ini diragukan kebenarannya karena jika ada pesantren Jan Tampes II maka tentu ada pesantren Jan Tampes I yang usianya lebih tua.
Menurut Mastuhu (1994: 19-20), lembaga pendidikan pesantren muncul seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu sekitar abad ke-11 atau ke-13. Bukti bahwa Islam telah masuk pada abad tersebut adalah dengan ditemukannya batu nisan atas nama Fatimah binti Maemun (nama yang mengisyaratkan sebagai seorang muslimah) yang wafat pada tahun 474 H atau tahun 1082 di Leran Gresik dan makam Malikus Saleh di Sumatera yang bertarikh abad ke-13.
Keterkaitan pesantren dengan kemunculan Islam di Indonesia diduga karena pesantren merupakan lembaga penyebaran Islam. Oleh karena itu, usia dari lembaga tersebut diduga tidak jauh berbeda dengan usia kemunculan Islam itu sendiri.
Terlepas daari kontroversi mengenai awal keberadaan pesantaren, realitas bah¬wa pesantren telah dikenal di bumi Nusantara ini dalam periode abad 13 – 17 M, ada¬lah tidak bisa dipungkiri. Adapun latar belakang kemuncculan lembaga pendidikan pesantren, pada dasarnya adalah untuk mempersiapkan kader-kader dai yang akan menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakatnya.
Sistem pembelajaran yang digunakan di pesantren me miliki kekhasan tersendiri. Bah¬kan, sistem tersebut tidak dapat dijumpai di negara-negara Islam. Diduga sis¬tem tersebut merupakan rekayasa umat Islam Indonesia terhadap sistem pen¬di¬dik¬an Agama Jawa (Djamari, 1985 : 51-52). Hal ini diasarkan pada fakta bahwa ja¬uh sebelum datangnya Islam ke Indonesia, telah terdapat tempat-tempat pe¬nye¬bar¬an agama Hindu yang disebut dengan pesantren. Fakta lain juga menun¬juk¬kan bahwa lembaga pendidikan dengan model pesantren, tidak ditemukan di ne¬ga¬ra-negara Islam yang lainnya. Akan tetapi, dia banyak ditemukan di dalam ma¬sya¬ra¬kat Hindu dan Budha seperti Inda, Myanmar dan Thaliland.
Perkembangan pesantren berjalan sangat pesat, terutama pada masa kolonialis¬me dan pasca perang kemerdekaan. Perkembangan yang pesat tersebut, diduga di¬se¬bab¬kan akrena bebgerapa hal, antara lain :
a. Pada masa awal penyebaran Islam, para ulama dan kyai mempunyai kedu¬duk¬an yang kokoh di lingkungan kerajaan dan keraton, yaitu sebagai penase¬hat raja atau sultan. Oleh karena itu, pembinaan pesantaren mendapat perha¬ti¬an yang besar dari para raja dan sultan.
b. Pada masa kolonialisme, lembanga pendidikan yang dibangun oleh pemerin¬tah Hindia Belanda pada waktu itu hanya diperuntukkan bagi golongan terten¬tu, sehingga secara umum pesantren merupakan satu-satunya lembaga pen¬di¬dik¬an bagi peribumi muslim.
c. Hubungan transportasi antara Indonesia dan Makkah semakin lancar sehing¬ga memudahkan pemuda-pemuda Islam dari Indonesia menuntut ilmu ke Mak¬kah. Sekembalinya ke tanah air, mereka biasanya langsung mendirikan pesan¬tren di daerah asalnya (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1999: 102).

3. Jenis Pesantren
Berdasaerkan perekembangannya, pesantren dapat diklasisifikasikan kedalam empat jenis (Arifin, 1995:243).
a. Pesantren salafi (tradisional), yaitu pesantren yang hanya memberikan materi aga¬ma kepada para santrinya. Tujuan pokok dari pesantren ini adalah men¬ce¬tak kader-kader dai yang akan menyebarkan Islam di tengah masyarkat¬nya. Hal ini sesuai dengan latar belakang kemunculan pesantren dalam ma¬sya¬ra¬kat. Pada pesantren ini, seorang santri hanya dididik dengan ilmu-ilmu aga¬ma dan tidak diperkenankan mengiktui pendidikan formal. Kalaupun ilmu-il¬mu itu diberikan, maka hal itu hanya sebatas pada ilmu-ilmu yang berhu¬bung¬an dengan ketrampilan hidup.
b. Pesantren ribathi, yaitu pesantren yang mengkombinasikan pemberian materi aga¬ma dengan materi umum. Biasanya, selain tempat pengajian, pada pe¬san¬tren ini jjuga disediakan pendidikan formal yang dapat ditempuh oleh para san¬tri¬nya. Tujuan pokok dari pesantren ini, selain untuk mempersiapkan ka¬der dai, juga memberikan peluang kepada para santrinya untuk mengikuti pen¬di¬dik¬an ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, kelak mereka diha¬rap¬kan dapat mengisi posisi-posisi strategis, baik di dalam pemerintahan mau¬pun di tengah masyarakat.
c. Pesantren khalafi (modern), yaitu pesantren yang didesain dengan kurikulum yang disusun secara baik untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Disebut khalafi, karena adanya berabagai perubahan yang dilakukan bagi pada metode maupun materi pembelajaran. Para santri tidak hanya diberikan mate¬ri agama dan umum, tetapi juga berbagai materi yang berkaitan dengan skill atau vocational (ketrampilan).
d. Pesantren jami’i (asrama pelajar dan mahasiswa), yaitu pesantaren yang mem¬beri¬kan pengajian kepada pelajar atau mahasiswa sebagai suplemen ba¬gi mereka. Dalam perspektif pesantren ini, keberhasilan santri dalam belajar di sekolah formal lebih diutamakan. Oleh karena itu, materi dan waktu pembe¬la¬jar¬an di pesantren disesuaikan dengan luangnya waktu pembelajeran di se¬ko¬lah formal.
Berdasarkan kelengkapan sarana dan fungsi dari pesantren, dibagi menjadi (Ziemek, 1986) :
a. Pesantren tarekat (pesantren kaum sufi), yaitu pesantren yang menyeleng¬gara¬kan pengajian-pengajian yang teratur dalam masjid dengan sistem peng¬a¬jar¬an yang bersifat pribadi. Disini, beberapa orang santri diterima belajar dan ber¬di¬am di rumah kyai. Pesantaren tarekat lebih menekankan kepada pendi¬dik¬an santri dalam hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam pe¬san¬tren ini banyak diajarkan berbagai tahapan untuk mencapai derajad yang lebih tinggi d sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai kegiatan, se¬per¬ti melaksanakan riyadhoh, dzikir dan lain sebagainya.
b. Pesantren klasik/tradisional, yaitu pesantren yang memiliki asrama bagi para san¬tri yang sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal dan tempat belajar yang sederhana. Komplek kediaman para santri sering terdiri dari rumah-rumah kayu/bambu untuk pemondokan maupun ruangan-ruangan belajar yang terpisah.
c. Pesantren plus sekolah, yaitu pesantren dengan komponen-komponen klasik yang dilengkapi dengan suatu madrasah (sekolah) yang menunjukkan adanya dorongan modernisasi dari pembaruan Islam. Madrasah tersebut me¬mi¬lik¬i tingkatan kelas dan kurikulumnya berorientasi kepada sekolah-sekolah resmi.
d. Pesantaren, sekolah plus pendidikan ketrampilan, yaitu pesantren yang di¬sam¬ping menyelenggarakan sekolah, juga menyelengarakan berbagai pendi¬dik¬an ketrampilan bagi para santri dan warga sekitarnya. Pendidikan ketram¬pil¬an tersebut antara lain menjahit, teknik elektro yang sederhana, perbeng¬kel¬an, pertukangan dan lain-lain.
e. Pesantaren Modern, yaitu pesantren yang mencakup pendidikan keislaman kla¬sik dan semua tingkat sekolah formal dari sekolah dasar hingga universi¬tas. Selain itu, pesantren jenis ini juga menyelenggarakan program pendidik¬an ketrampilan. Program-program pendidikan yang berorientasi lingkungan mendapat prioritas utama dari pesantren ini.
4. Tujuan Pesantren
Tujuan pesantatren adalah menciptakan dan mengembagkan kepribadian mus¬lim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dengan jalan menjadi abdi ma¬syara¬kat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad, mampu berdiri sendiri (mandiri), bebasa dan teguh dalam kepribadian, menegakkan Islam dan kejaya¬an Islam di tengah-tengah masyerakat dan mencintai ilmu dalam rangka me¬ngem¬bang¬kan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994:55-56).
5. Model Pembelajaran di Pesantren
a. Pola Interaksi Kyai dengan Santri
Pesantaren, sebagai sebuah lembaga pendidikan memiliki kekhususan, yaitu murid/¬santtri hidup bersama dengan kyai dalam kompleks tertentu. Kondisi ini menyebabkan adanya pola hubungan sebagai berikut:
1). Hubungan yang akrab antara kyai dengan santri
Hubungan ini tercipta antara lain disebabkan karena frekuensi interaksi yang relatif intensif antara kyai dengan santri, sehingga mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Selain itu, peranan kyai sebagai bapak rohani bagi santrinya, dengan sendirinya mempererat hubugnan tersebut.
2). Santri selalu taat dan patuh kepada kyainya.
Ketaatan santri kepada kyai, bukan hanya disebabkan karena peranan bapak anak yang mereka mainkan, tetapi lebih bersifat normatif. Dalam li¬tera¬tur Islam klasik, ditemukan bahwa ketaatan seorang murid/santri ke¬pa¬da gurunya merupakan syarat mutlak untuk memperoleh ilmu yang ber¬man¬fa¬at (Antara lain-Zarnuji: 16). Bahkan, Steebrink (1994:19) menyebut¬kan bahwa hubungan antara kyai dengan santri pada umumnya merupakan hubungan ketaaatan tanpa batas.
Nilai-nilai ketaatan santri kepada kyai merupakan nilai yang memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positif dapat terjadi apabila ketaatan tersebut sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Adapun sisi negatiff dapat timbul pada saat ketaatan tersebut membuahkan penghormatan santri yang berlebihan kepada kyainya.
3). Para santri selalu hidup mandiri dan sederhana.
Kemandirian muncul karena secara psikologis dia dituntut untuk dapat mengatur dirinya sendiri, terlepas dari campur tangah orang tua. Adapun kesederhanaan didorong oleh doktrin kesederhanaan yang diajarkan oleh Islam dan kodisi ekonomi orang tua santri yang mayuoritas bersal dari ka¬lang¬an menengah ke bawah atau petani dan pedagang.
4). Adanya semangat gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan.
Semangat gotong-royong dalam penuh persaduaraan muncul karena ada¬nya rasa persamaan nasib sebagai pelajar yang jauh dari orang tua. Sela¬in itu, juga disebabkan oleh adanya ikatan persaudaraan yang dilandasi oleh nilai-nilai keislaman.
5). Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat.
Kehidupan di pesantren merupakan kehidupan yang tidak bisa dipisahkan da¬ri nilai-nilai ibadah. Oleh kaarena itu, kedisiplinan muncul sebagai mani¬fes¬ta¬si dari bentuk ibadah tersebut. Dengan perekataan lain, sanksi yang di¬beri¬kan kepada seorang santri yang melanggar kedisiplinan bukan ha¬nya sanksi yang bersifat duniawi tetapi juga yang bersifat ukhrawi.
b. Prinsip-prinsip pembelajaran
Menurut Mastuhu (1994:62-64) kegiatan pembelajaeran di pesantren dilaksa¬na¬kan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1). Theocentric
Theocentric adalah pandangan yang menyatakan bahwa semua kejadian, itu berasal, berproses dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Im¬pli¬ka¬si dari padnangan ini adalah bahwa semua kegiatan di pesantren se¬nan¬ti¬a¬sa diwarnai dengan nilai-nilai yang sakral. Kegiatan pembelajaran di¬pandang oleh kyai dan santri sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran tidak ha¬nya dipandang sebagai proses tetapi juga adalah tujuan hidup. Oleh kare¬na itu, kegiatan pembelajran di pesantren tidak memperhitungkan usia.
2). Sukarela dan mengabdi.
Kegiatan pembelajran di pesantren dilakukan berdasarkan sukarela dan meng¬ab¬di. Kyai mengajari santri secara sukarela dan semata-mata meng¬ab¬di kepada Allah Subhanau wa Ta’ala; santri menghormati kyai dan te¬man sebayanya secara sukarela dan juga semata-mata mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan hal itu karena keyakinan bahwa imbalan yang disediakan oleh Allah lebih banyak dan kekal sifat¬nya.
3). Kearifan
Kearifan dalam kegaitan pembelajran pesantren adalah sikap dan perilaku sabar, rendah hati (tawadhu’), patuh terhadap ketentuan agama, mampu men¬capai tujuan tanpa merugikan orang lain dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Sikap ini muncul karena ilmu yang dicari di pe¬santren adalah ilmu-ilmu yang dapat mendekatkan diri seorang hamba ke¬pada tuhannya. Tentunya, ilmu tersebut tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan jalan yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4). Kesederhanaan
Kesederhanaan merupakan nilai yang sangat ditekankan oleh pesantren. Kesederhanaan disini bukan hanya mebnyangkut cara berpakaian, tetapi jug¬a meliputi aspek sikap dan perbuatan,. Selain dituntut berpakaian se¬der¬ha¬na, seiorang kyai/santri juga dituntut sederhana dalam berucap, ber¬buat dan yang lainnya.
5). Kolektivitas
Kolektivitas atau rasa kebersamaan di kalangan pesantren sangat tinggi se¬ka¬li. Hal itu diduga karena kondisi psikologis mereka yang terpisah jauh da¬ri keluarganya, sehingga mereka merasa menemukan saudara baru di pe¬ran¬tau¬an. Selain itu, kondisi lingkungan juga memberikan konstribusi yang signifikan terhadap munculnya rasa kebersamaan. Kondisi lingkung¬an tersebut, seperti kamar tidur sekaligus kamar belajar yang dihuni oleh ba¬nyak orang, tempat mandi yang bersifat umum dan lain sebagainya.
6). Mengatur kegiatan bersama.
Para santri mengatur hampir semua kegiatan pembelajran di pesantren, se¬pe¬rti kegiatan-kegiatan perpustakaan, keamanan, pelaksanaan ibadah, koperasi, olah raga, kursus-kursus ketrampoilan, penataran-penataran, diskusi-diskusi dan lain sebagainya. Sepanjang kegiatan tersebut tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam dan tata tertib pesantaren, mereka diberi kebe¬bas¬an untuk berpikir dan bertidnak.
7). Kebebasan Terpimpin.
Kebebasan terpimpin disini, dimaksudkan bahwa setiap santri diberi kele¬lu¬a¬sa¬an untuk menentukan apa yang ingin diperoleh dari pesantren. Da¬lam konteks ini, pesantren memfasilitasi keinginan santri tersebut. Tentu¬nya dengan rambu-rambu yang jelas, yaitu tata tertib pesantren dan teru¬ta¬ma hukum agama Islam.
8). Mandiri
Setiap santri dituntut untuk mandiri sejak pertama kali dia masuk di pesan¬tren. Dia mengatur dan merencanakan berbagai keperluannya, mulai dari meng¬a¬tur keuangan, mencuci,. Merencanakan pembelajaran dan lain se¬ba¬gai¬nya.
9). Pesantren tempat mencari ilmu dan mengabdi.
Pesantanteren dipandang oleh para pengelola dan santri sebagai tempat un¬tuk mencari ilmu dan mengabdi. Ilmu dalam pandangan mereka diang¬gap suci dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran aga¬ma. Oleh karena itu, seorang santri dapat memperoleh ilmu sebagai berkah dari pengabdiannya kepada kyai.
10).Mengamalkan ajaran agama
Pesantren sangat mementingkan pengamalan ajaran agama, terutama yang berkaitan deangan masalah ibadah. Oleh karena itu, dalam aktivitas sehari-hari para santri senantiasa memiliki perhatian yang serius dalam masalah ibadah, seperti tentang tata cara berwudhu, shalat dan sebagai¬nya.


11).Tanpa ijazah.
Seiring dengan berbagai prinsip yang telah dikemukakan, prinsip lain ada¬lah bahwa pesantren tidak memberikan ijazah sebagai tanda keberhasilan be¬la¬jar. Keberhasilan belajar bukan ditandai oleh ijazah tetapi ditandai o¬leh pengakuan masyarakat dan restu kyai. Prinsip ini tentunya hanya ber¬la¬ku bagi jenis peseantdren salafi dan jami’i. Adapun bagi pesantren riba¬thi dan khalafi, ijazah merupakan kebutuhan yang sangat mendasar untuk me¬nerus¬kan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
12).Restu Kyai
Kegiatan pembelajaran di pesantren, semuanya sangat tergantung kepada restu kyai. Dalam konteks ini, restu memiliki dua muatan yaitu muatan izin dan doa. Izin menunjuk kepada kegiatan yang dikehendaki dan disetujui kyai, sedangkan doa menunjuk kepada dukungan kyai seca¬ra moral yang diwujudkan dalanm permohonannya kepda Allah Subhana¬hu wa Ta’ala. Ijin sangat diperlukan karena posisi kyai sebagai pemimpin pesantaren. Adapun doanya dibutuhkan karena ibadah yang dilakukannya melebihi manusia pada umumnya.
c. Prinsip keberhasilan pembelajaran
Prinsip pembelajran menurut Al-Zarnuji antara lain :
1). Memiliki niat yang benar
Niat merupakan prinsip yang utama dalam kegiatan belajar. Pekerjaan yang sifatnya duniawi (bukan ibadah secara khusus) dapat memperoleh a¬ki¬bat ukhrawi (dianggap ibadah dan memperoleh pahala), dengan ada¬nya niat yang baik dari pelakunya. Sebaliknya, pekerjaan yang sifatnya ukh¬ra¬wi (dianggap ibadah) dapat menjadi pekerjaan duniawi (tidak memperoleh pahala di akhirat) karena niat yang buruk dari pelakunya. Oleh karena itu, seorang murid/santri harus meluruskan niatnya dalam mencari ilmu.
2). Memilih ilmu, guru dan teman belajar yang benar.
Ilmu, guru dan teman belajar merupakan tiga faktor yang dapat mem¬pe¬nga¬ruhi keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Seorang murid/san¬tri akan dapat berhasil jika dia memiliki ilmu yang sesuai dengan karakteristik dan potensi dirinya, dibimbing oleh seorang guru yang alim dan dibantu oleh teman belajar yang baik.
3). Menghormati ilmu dan pemilikinya.
Salah satu keberhasilan seseorang dalam memperoleh ilmu adalah kare¬na dia menghormati ilmu dan pemilikinya. Ungkapan ini memiliki makna bah¬wa; jika seorang murid/santri menghormati ilmu yang tengah dipelajar¬i¬nya, maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh ilmu tersebut. Adapun jika dia menghormati pemilik ilmu (guru), maka da¬lam kegiatan pembelajaran akan tercipta hubungan yang harmonis antara ke¬dua¬nya, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif.
4). Memiliki ketekunan, kesungguhan dan cita-cita yang kuat.
Seorang murid/santri harus memiliki ketekunan, kesungguhan dan cita-cita yang kuat dalam proses pembelajaran. Ketekunan menunjuk kepada kemampuan seorang murid/santri untuk mengikuti proses pembelajaran tan¬pa rasa putus asa. Kesungguhan adalah sikap sepenuh hati yang dicurahkan oleh seorang murid/santtri dalam proses pembelajaran. Ada¬pun cita-cita yang kuat menunjuk kepada motivasinya yang tidak goyah oleh berbagai tantangan yang dihadapinya.
5). Menentukan materi pembelajaran dan ukuran-ukurannya.
Seorang murid/santri juga dituntut untuk dapat menentukan materi pem¬be¬lajaran yang akan dia pelajari secara bertahap. Dengan perkataan lain, ja¬ngan sampai terjadi loncatan tahapan kartena akan mempersulit dirinya sen¬diri. Selain penentuan tahapan, juga hendaknya ditentukan ukuran dari se¬ti¬ap materi pembelajaran yang dipelajarinya.
6). Berserah diri (tawakal) dan menjaga dari sesuatu yang haram (wara’)
Berserah diri merupakan klimaks dari usaha seorang murid/santri dalam mencari ilmu. Usaha yang keras tanpa berserah diri hanya akan meng¬ha¬sil¬kan dua pilihan : berhasil dan diliputi kesombongan diri, atau gagal dengan penuh putus asa. Adapun menjaga dari sesuatu yang haram, tentunya menegaskan bahwa seorang murid/santri tidak boleh meng¬ha¬lal¬kan segala macam cara untuk memperoleh ilmu yang dicarinya, dia akan berusaha sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh aga¬ma Islam
Prinsip Kegiatanm pembelajran di pesanttren menurut Arifin (1995: 264-265):
1). Prinsip kebermaknaan
Prinsip ini mengacu kepada pentingnya memberikan materi pembelajaran yang bermakna bati murid/santri, baik bagi kepentingan hidupnya sebagai in¬dividu maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pem¬be¬la¬jar¬an di pesanten dalam konteks ini harus dapat menghubungkan pelajar¬an yang diberikan dengan minat dan nilai-nilai kehidupan anak serta meng¬hu¬bung¬kan pelajaran dengan kehidupan masa depan anak.
2). Prinsip prasyarat
Prinsip ini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran akan efektif apabi¬la murid/santri memiliki prasyarat untuk melakukan kegaitan tersebut. O¬leh karena itu, seorang guru harus dapat mengkaitkan kemampuan yang te¬lah dimiliki oleh murid/santri dengan kemampuan yuang diberikan dalam kegiatan pembelajaran.
3). Prinsip memberi contoh.
Prinsip ini atau dikenal juga dengan prinsip uswah menghendaki agar seorang guru dapat memberikan contoh yang dapat diamati dan ditiru oleh seorang murid/santri dalam kegiatan pembelajaran. Contoh tersebut harus memiliki ciri-ciri :
a). Mengandung nilai yang tinggi di mata murid/santri.
b). Diyakini akan memberikan keuntungan bagi murid/santri.
c). Tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan murid/santri.
d). Dapat dipergunakan untuk memberikan pendidikan ketrampilan teknik atau sosial


4). Prinsip komunikasi terbuka
Prinsip ini menuntut agar seorang guru dapat mendorong murid/santri un¬tuk lebih banyak mempelajari barbagai bahan pembelajran sehingga pe¬san yang disampaikan oleh guru tebuka bagi mereka. Prinsip ini juga ber¬mak¬na bahwa guru dan murid/santri memiliki keterbukaan terhadap ber¬ba¬gai informasi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga mereka tidak ter¬je¬bak kepada fanatisme yang sempit. Prinsip komunikasi terbuka ini, ten¬tu¬nya hanya dapat dijumpai dalam pesantaren ribathi, khalafi dan jami’i. Se¬bab, pada pesantren salafi, otoritas kyai sangat dominan sehigga santri ti¬dak memiliki ruang yang cukup untuk dapat berkomunikasi langsung de¬ngan kyainya.
5). Prinsip kebaruan/kekinian
Seorang guru dituntut agar dapat menyampaikan materi yang dianggap rela¬tif baru oleh murid/santri. Hal ini disebabdkan minat dan perhatian mu¬rid/¬santri akan lebih tertarik untuk mempelajari hal-hal yang baru. Penger¬ti¬an baru dalam konteks ini tidak menunjuk kepada dzat materi tersebut yang benar-benar baru, sebab materi yang dipelajari pesantren bukan hal yang baru tetapi warisan dari generasi sebelumnya. Akan tetapi, pengerti¬an baru ini disini adalah baru menurut para santri karena sebelumnya me¬re¬ka tidak mengetahui. Dengan perkataan lain, prinsip kebaruan adalah pe¬nyampaian materi yang tidak/belum diketahui oleh santri.
6). Prinsip praktek aktif.
Kegiatan pembelajaran yang mengikutsertakan murid/santri dalam praktek pem¬belajaran akan lebih efektif dari pada hanya menyampaikan materi a¬tau demonstrasi di hadapan mereka. Oleh karena itu, seorang guru ditun¬tut untuk mengikutsertakan mereka dalam berbagai praktek pembelajaran. Ha¬sil penelitian dalam pembelajaran menyebutkan bahwa hasil yang di¬per¬o¬leh dengan mendengar hanya mencapai 15%; mendengar dan melihat mencapai 55%, mendengar, meliahat, memikirkan dan memprak¬tik¬kan dapat mencapai hasil 98% (UPT Perpustakaan IPB, 1989:17).
7). Prinsip praktek terbuka
Praktek terbuka yang mengikutsertakan murid/santri dalam kegiatan pem¬be¬la¬jar¬an akan lebih efektif jika disajikan dalam frekuensi dan urutan wak¬tu yang jelas. Murid/santri dapat mengetahui kemampuan yang dituntut un¬tuk dimiliki oleh mereka. Hal ini berkaitan dengan kesiapan mereka da¬lam menerima materi pembelajaran.
8). Prinsip mengurangi petunjuk
Murid/santri akan lebih baik dalam belajarnya apabila peranan pemberi pe¬tunjuk bagi seorang guru semakin dikurangi. Oleh karena itu, guru hen¬dak¬nya lebih berorientasi kepada peranan sebagai fasilitator dalam kegiat¬an pembelajaran. Prinsip ini tentunya berlaku dalam pesantren yang me¬mi¬liki pola komunikasi dua arah antara guru dengan murid. Pada banyak pesantren, pola komunikasi yang ada cenderung satu arah seihingga akan kesulitan menerapkan prinsip ini.
9). Prinsip kondisi dan konsekuensi-konsekuensi yang menggembirakan.
Kegiatan pembelajaran di pesanatren, hendaknya memiliki kondisi dan kon¬sekuensi-konsekuensi yang menggembirakan. Sebab, kondisi dan kon¬sekuensi tersebut dapat menjadi miotivasi ekstrinsik yang akan men¬do¬rong murid/santri untuk giat dalam belajar. Kondisi dan konsekuensi yang dimaksud tidak hanya bersifat material, tetapi juga immaterial, seper¬ti penghargaan dan pujian bagi murid/santri yang berprestasi.
d. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran di pesantren anatara lain :
1). Sorongan
Sorongan adalah metode belajar individual dimana seorang murid/santri ber¬ha¬dap¬an langsung dengan kyai atau ustadz muda. Teknisnya, seorang san¬tri membaca materi yang telah disampaikan oleh kyai. Selanjutnya, kyai atau ustadz muda membetulkan kesalahan yang dilakukan oleh santri tersebut.
2). Bandongan/wetonan
Bandongan/wetonan adalah metode pembelajaran kelompok (group me¬thods) dan bersifat klasikal, dimana seluruh santri untuk kelas-kelas tertentu mengikuti kyai membaca dan menjelaskan berbagai kitab.
3). Musyawarah / mudzakarah
Musyawarah/mudzakarah adalah metode untuk mendiskusikan berbagai ma¬sa¬lah yang ditemukan oleh para santri. Metode ini digunakan untuk meng¬o¬lah argumentasi para santri dalam menyikapi masalah yang diha¬dapi,. Akan tetapi, dalam prakteknya, materi yang didiskusikan terbatas pa¬da kitab-kitab tertentu yang telah disepakati. Bahkan, tidak jarang mate¬ri tersebut hanya berkisar pada mendiskusikan suatu kitab dari aspek ba¬ha¬sa¬nya, bukan isinya. Selain itu, pemilihan kitab yang akan didiskusikan juga dipengaruhi oleh kecencderungan pesantren tersebut. Pesantren yang menitikberatkan kepada penguasaan tata bahasa Arab, maka kitab yang didiskusikannya adalah kitab yang membahas tata bahasa Arab, begitu puila seterusnya.
4). Hafalan
Hafalan adalah metode untuk menghafal berbagai kitab yang diwajibkan ke¬pa¬da para santri. Dalam praktiknya, kegiatan hafalan merupakan kegi¬at¬an kolektif yang diawasi oleh kyai atau ustadz muda. Biasanya materi ha¬fal¬an disesuaikan dengan kecenderungan dari pesantren tersebut dan minat kyai terhadap ilmu yang digelutinya. Dengan perkataan lain, antara sa¬tu pesantren dengan peseantren lainnya akan memiliki perbedaan produk hafalan.
5). Lalaran
Lalaran adalah metode pengulangan materi yang dilakukan oleh seorang san¬tri secara mandiri. Materi yang diulang merupoakan materi yang telah di¬ba¬has dalam sorongan maupun bendongan. Dalam praktiknya, seorang san¬tri mengulang secara utuh materi yang disampaikan oleh kyai atau us¬tadz muda. Dengan demikian, aspek yang diperkuat dengan metode ini, pa¬da dasarnya adalah aspek penguasasan materi, bukan pengembangan pemahaman.
e. Teknik pembelajaran
Teknik pembelajeran yang dilakukan di pesantren antara lain :
1). Nasehat
Nasehat adalah teknik penyampaian materi yang menggugah jiwa melalui pe¬ra¬sa¬an. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara ceranmah, diskusi atau yang lainnya. Penekanan dari teknik ini adalah upaya menggugah, jadi bu¬kan hanya sekedar ceramah atau diskusi.
2). Uswah (teladan)
Uswah adalah teknik pembelajaran dengan memberi contoh nyata kepada mu¬rid/santri. Teknik ini hampir sama dengan teknik demonstrasi. Perbeda¬an¬nya terletak pada realitas pemberian copntoh. Dalam teknik demonstra¬si, pemberian contoh dilaksanakan dalam proses pembelajran seperti di ke¬las, di laboratorium dan sebagainya. Adanya pemberian contoh dengan tek¬nik uswah dilaksanakan oleh guru dalam setiap sisi kehidupannya. De¬ngan perkataan lain, teknik ini mengajarakan kepada gjuru agar mereka men¬ja¬di contoh bagi murid/santrinya dalam melaksanakan segala sesuatu yang telah diajarkan, sehingga tidak ada kesenjangan antara yang diucap¬kan oleh seorang guru dengan apa yang dilakukannya.
3). Hikayat (cerita)
Hikayat adalah teknik pembelajaran dengan menceriterakan kisah-kisah u¬mat terdahulu sebagai bagian renungan bagi murid/santri. Teknik ini di¬gu¬na¬kan karena ksiah-kisah umat terdahulu senantiasa menyodorkan buk¬ti bahwa orang-orang yang selalu melaksanakan perintah Allah Sub¬ha¬nahu wa Ta’ala akan menuai kebahagiaan, sedangkan orang-orang yang mendurhakai-Nya akan memperoleh kehinaan di dua dan akhirat.
4). Adat (kebiasaan)
Adat adalah teknik pembelajaran dengan memupuk kebiasaan kepda seo¬rang murid/santri untuk melakukan hal-hal tertentu. Teknik ini hampir sa¬ma dengan teknik latihan. Perbedaannya, dalam teknik ini, tujuan pem¬be¬la¬jarannya bukan pada penguasaan materi pembelajaran tetapi internali¬sa¬si dan kristalisasi materi tersebut dalam diri seorang murid/santri. Oleh ka¬re¬na itu, waktu pembelajarannya tidak terbatas pada ruang atau kelas di¬ma¬na murid/santri tersebut belajar, tetapi juga mencakup kehidupan di lu¬ar ruang atau kelas tersebut.
5). Talqin
Talqin adalah teknik yang secara khusus digunakan dalanm pembelajaran Al-Quran. Dalam praktiknya seorang guru memperdengarkan bacaaan Al-Quran kepada murid/santrinya sebagian demi sebagian. Setelah itu mu¬rid/¬santri tersebut disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal.
6). Hiwar
Hiwar (diskusi) adalah teknik pembelajaran yang menekankan olah ar¬gu¬men¬tasi dalam menyampaikan suatu materi. Teknik ini bertujuan membe¬ri¬kan keyakinan dengan menjelaskan argumentasi bagi suatu materi atau menyanggah pandangan yang bertentangan dengan materi tersebut.

f. Materi Pembelajaran
Materi pembgelajaran di pesantren antara lain :
1). Tahuhid, yaitu ilmu yang mempelajari keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sifat, dzat dan perbuatan-Nya. Kita byang dijadikan rujukan antara lain Tijan Ad-Darari, Aqidah Al-Awwam, Kifayah Al-Awwam, Matn As-Sanusiyah, Al-Adyan, Kitab As-Sa’adah, Matn As-Sanusiyah, Ushuluddin, Ad-din Al-Islam dan lain-lain.
2). Fikih, yaitu ilmu yang mempelajari hukum-hukum mengenai berbagai per¬bu¬at¬an, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Kitab yang dijadi¬kan rujukan antara lain Fathul Wahhab, Minhaj Al-Abidin, Minhaj Al-Qawwim, Kifayat Al-Akhyar, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Bidayatul Mujtahid, Mizan Kubra dan lain-lain.
3). Ushul Fikih, yaitu ilmu yang mempelajari metode istinbath hukum para ulama. Kitab yang dijadikan rujukan antara lain Al-Waraqat, Jam’ul Jawami’, Al-Bayan, Ghayat Al-Ushul dan lain-lain.
4). Tafsir, yaitu ilmu yang mempelajari teks-teks Al-Quran, baik dilihat dari su¬dut bahasa, makna, asbab an-nuzul dan yang lainnya. Kitab yang dijadikan rujukan antara lain Tafsir Al Jalalain, Tafsir Ali Ash-Shabuni, Tafsir Al-Munir, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Ibriz, Durut At-Tafsir, Tafsir Al-Maddrasi dan lain-lain.
5). Hadist (riwayat dan hikayat), yaitu ilmu yang mempelajari ucapan, perbu¬at¬an dan ketetapan Nabi Muhammad. Kitab yang dijadikan rujukan antara la¬in Shahih Al0-Bukhari, Shahih Muslim, Bulughul Maram, Riyadush Shalihin, Jawhir Al Bukhari dan lain-lain.
6). Tasawuf, yaitu ilmu yang mempelajari cara-cara pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan pengalaman Nabi, sahabat dan para ulama. Kitab yang dijadikan rujukan antara lain Durratun Nashihin, Ihya Ulumuddin, Tanbihul Ghafuilin, dan lain-lain.
7). Nahwu dan sharaf, yaitu ilmu yang mempelajari struktur bahasa Arab. Kitab yang dijadikan rujukan antara lain Mutammimah, Ibnu Aqil, Kaelani Izzi, dan lain-lain.
8). Akhlak, yaiotu ilmu yang mempelajari baik dan buruk yang berkaitan de¬ngan perilaku seseoerang dalam hidup sehari-harinya. Kitab yang dijadi¬kan rujukian antara lain Ta’lim Al Muta’allim, Uqud Al-Lujain, At-Taarabiyyuah wa At-Ta’lim dan lain-lain.
10.5 Pendekatan sistem banjar (bali)
1. Pendahuluan
Pada desa yang luas dan banyak warganya, desa itu terdiri dari beberapa Banjar A¬dat atau Banjar Sukaduka. Banjar Sukaduka ini merupakan bagian dari Desa A¬dat yang juga mempunyai Kelihan Banjar dan pembantu-pembantu sebagaima¬na halnya dengan Desa Adat. Segala kewajiban, keputusan-keputusan Desa A¬dat yang menjadi beban warga desa disampaikan oleh Bendesa Adat kepada Ke¬lih¬an Banjar dan selanjutnya Kelihan Banjar meneruskan kepada warga desa da¬lam sangkepan atau rapat-rapat banjar, atau dengan surat edaran pada ban¬jar-banjar yang terletak di perkotaan, atau melalui pemberitahuan lisan yang da¬lam bahasa Bali dinamakan “Pengarah” atau “Dedauhan”.
Pemberitahuan umumnya disampaikan oleh petugas khusus yang dinamakan “Kesinoman”, atau “Juru Arah” yang kalau di desa disebut Kesinoman Desa dan bila di banjar dinamakan Kesinoman Banjar.
Apabila suatu banjar mempunyai wilayah yang agak luas dan anggota banjarnya banyak, maka untuk kelancaran penyampaian pengumuman-pengumuman desa atau banjar, diadakan lagi pembagian wilayah kepengurusan menurut kelompok wilayah tempat pemukiman dengan berpedoman pada arah mata angin, misalnya kelompok di sebelah barat, timur, utara atau selatan yang dimanakan “Tempekan”, seperti Tempek Kauh, Tempek Kangin, Tempek Kaja, Tempek Kelod, dan pada masing-masing tempek ditunjuk seorang menjadi Kelihan Tempekan, tetapi Tempekan ini tidak mengatur dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan unit-unit pelaksana dari Agama Hindu, mengadakan caru kecil (salah satu nama sajian persembahan) dan memasang atau nanceb. Sanggah Cucuk (mendirikan Sanggar kecil) di muka rumahnya serta memasang kober masurat Gana (bendera kecil yang berisi lukisan Gana).
Keputusan ini disampaikan oleh Kesinoman Desa kepada para Kelihan Banjar Adat yang selanjutnya akan meneruskan lagi kepada warga banjar dengan perantaraan para Kesinoman banjar.
Dalam keadaan demikian pada umumnya warga desa / warga banjar akan secara patuh melaksanakannnya, karena mereka menyadari benar, bahwa semuanya itu adalah untuk keselamatan desa, banjar dan keluarga mereka masing-masing.
Demikian pula dalam hal pengumpulan dana untuk perbaikan pura dan ke¬wa¬jib¬an-kewajiban warga desa lainnya, disampaikan secara demikian dan secara tra¬di¬si¬o¬nal berjalan sampai sekarang struktur ini telah melembaga dalam masyara¬kat, meskipun dalam prakteknya kadang-kadabng terdapat variasi-variasi sesuai dengan Desa, Kala, Patra.
Variasi ini dapat ditemukan hampir di seluruh Desa Adat, tetapi terdapat satu per¬samaan yang sangat mendasar yaitu bahwa baik struktur organisasi, me¬ka¬nis¬me maupun penunjukkan personil Prajuru Desa disesuaikan dengan kebutuh¬an warga desa atau krama desa dalam mengamalkan ajaran-ajaran Agama Hindu dan dresta (adat istiadatnya)
2. Pengertian
Banjar adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian dari Desa Adat, ser¬ta merupakan suatu ikatan tradisi yang sangat kuat dalam satu kesatuan wila¬yah tertentu, dengan seorang atau lebih pimpinan, yang dapat bertindak ke da¬lam maupun ke luar da¬lam rangka kepentingan warganya dan memiliki kekaya¬an baik berupa material maupun inmaterial.
3. Fungsi Banjar Sukaduka atau Banjar Adat
Fungsi Banjar Sukaduka atau Banjar Adat setiap banjar ditentukan lebih terperin¬ci dan lebih dititik beratkan pada tugas-tugas kemasyarakatannya, antara lain me¬nge¬nai saling membantu dalam penyelenggaraan upacara Panca Yadnya dalam lingkungan keluarga dari paera anggota banjar, gotong royong dalam suka dan duka serta melaksanakan perintah-perintah Desa Adat pada ruang lingkup wilayah yang lebih kecil.
Dengan demikian fungsi dari Banjar Sukaduka yang terutama sekali ialah menga¬tur tata krama kehidupan sosial warga banjarnya berdasarkan ketentuan adat yang berlaku dalam desanya, termasuk upakara yadnya (upacara-upacara keagamaan Hidu) dalam lingkungan wilayah banjarnya.
Selain itu fungsinya itu, baik Desa Adat maupun Banjar Sukaduka dalam mewu¬jud¬kan tujuan warganya menuju Moksa dan Jagadhita atau kesejahteraan mate¬ri¬al dan kebahagiaan rohaniah Desa Adat dan Banjar Sukaduka juga mempunyai fung¬si untuk menggerakkan partisipasi aktif warga desanya terhadap pelaksana¬an program-program pembangunan yang telah digariskan oleh pemerintah seperti misalnya dalam bidang keluarga berencana, masalah kependudukan, pendidikan, kesehatanm, penanggulangan bahaya narkotika, pertanian, kepariwisataan kebudayaan dan lain-lain.
4. Macam Banjar
Pengertian banjar, yaitu Banjar-Banjar Dinas di satupihak merupakan aparat ba¬wah¬an dari Desa Dinas, dan Banjar Adat atau Banjar Sukaduka dipihak lain se¬ba¬gai bagian dari Desa Adat. Dalam melaksanakan peranannya itu hubungan an¬ta¬ra Desa/Banjar Adat dengan Desa/Banjar Dinas bersifat paralel, konsultaif dan saling membantu berlandaskan jiwa paras-paros, kekeluargaan dan kegotongroyongan.
5. Struktur Banjar








Gambar 2. Hubungan Struktural dan Fungsional antara Desa Dinas – Desa Adat – Banjar Dinas – Banjar Adat.
Keterangan : *) Struktur Desa yang Mewakili Mayoritas
DD = Desa Dinas
DA = Desa Adat
BD = Banjar Dinas
BA = Banjar Adate
_____________ = Hubungan Struktural
---------------------- = Hubungan Fungsional

Sejak masa lalu sampai dengan masa kini, desa adat adalah suatu komunitas de¬ngan fokus fungsinya di bidang adat dan agama. Dalam menjalankan fungsi¬nya itu, tiap-tiap desa adat mempunyai kedudukan yang bersifat otonom, dalam ar¬ti tiap-tiap desa adat berdiri sendiri menuruti aturan (awig-awig desa) yang di¬ru¬mus¬kan, dilaksanakan dan dijadikan pedoman bertindak oleh segenap warga de¬sa bersangkutan yang berdomisili dalam suatu desa adat secara struktural mem¬bawahi banjar adat (pada umumnhya lebih dari satu) sebagai sub komuni¬tas yang berorientasi kepada desa adat sebagai induknya. Orientasi kepada de¬sa adat sebagai induk itu, tampak terutama berkaitan dengan konsepsi tri hita ka¬ra¬ma yaitu : Kahyangan desa (pura desa), palemahan desa (tanah desa), dan pa¬wong¬an desa (warga desa).
Desa adat dalam rangka sistem pemerintahan republik tidak terjalin secara struk¬tur¬al. Juga dalam kaitannya terhadap desa dinas, desa adat tersebut hanya ter¬ja¬lin secara fungsional dan tidak secara struktural. Jalinan fungsilnal itu terfokus pa¬da fungsi pokok dari desa adat yaitu pada bidang adat dan keagamaan. Pada bi¬dang-bidang kedinasan, yang mencakup berbagai bidang, seperti misalnya: pen¬di¬dik¬an formal, kesehatan, keluaraga berencana, transmigrasi dan lain-lain, de¬sa adat tidak terkait dalam jalinan struktural. Bidang-bidang kedinasan seperti ter¬se¬but di atas itu berada di tangan urusan desa dinas. Dalam hal kedinasan itu de¬sa dinas membawahi sejumlah banjar dinas. Hubungan strfuktural dan fungsi¬o¬nal antara desa dinas, desa adat dan banjar adat adalah seperti terlihat dalam ba¬gan di atas. Disamping desa adat dan banjar adat, pada masyarakat Bali dike¬nal lagi berbagai jenis lembaga sosial seperti : sekehe dan subak. Kalau desa a¬dat dengan banjar adat berhubungan terjalin secaera struktural, maka sekehe dan subak tidak terkait secara struktural dengan desa adat, melainkan secara fung¬sional dan saling tumpang tindah satu sama lain.
6. Dalam sistem kemasyrakatan
Banjar (terutama di Bali daratan) adalah merupakan kesatuan sosial atas dasar ikatan wilayah. Sesusi dengan fokus fungsinya, dibedakan ata banjar adat dengan fokus fungsi dalam bidang adat dan agama, serta secara struktural menjadi bagian dari desa adat; banjar dinas dengan fokus fungsinya dalam bidang administrasi, serta secara struktural menjadi bagian dari desa dinas.
7. Tujuan Banjar Adat
a. Saling bantu membantu seesama anggota banjar dalam hal : perkawinan, ke¬ma¬ti¬an, pembakaran mayat dan kegiatan yang bersifat suka dan duka lainnya.
b. Ambil bagian dalam hal perbaikan pura desa, perbaikan jalan desa, pem¬ba¬ngun¬an sekolah dan lain-lain.
c. Mengadakan aktifitas bersama dalam lapangan ekonomi untuk menambah pen¬dapatan banjar.
d. Mengadakan aktivitas bersama dalam lapangan keagmaan: upacara-upacara desa.
8. Keanggotaan Banjar
Keanggotaan banjar merupakan suatu keharusan sesudah seseorang itu kawin. Penolakan kenggotan berarti suatu pengasingan sosial. Tiap-tiap anggota mempunyai hak dan kewajiban atas dasar kesamaan.
Keanggotaan banjar dibedakan atas :
a. Anggota marep, yaitu anggota banjar inti, terdiri dari sepasang suami isteri.
b. Anggota romboan, yaitu anggota banjar yang salah satu suami atau isteri meninggal dunia atau anggota banjar masih kecil dan belum kawin.
9. Pimpinan banjar
Pimpinan banjar disebut : klian banjar. Klian banjar ini dibedakan atas klian banjar adat dan klian banjar dinas. Apara-aparat lain pada suatu banjar misalnya ada¬lah wakil/klian, sinoman (media komunikasi). Klian banjar adat secara struk¬tur¬al terkait dengan bendesa adat dan klian banjar dinas dengan perbekel.
Banjar sebagai sub-komunitas desa adat (banjar adat) dan banjar sebagai sub-komunitas desa dinas (banjar dinas) peranannya dalam komunitas sangat besar. Banjar merupakan wadah pelaksanaan dan bermacam-macam kegiatan komuni¬tas, baik yang beraspek ekonomi, kemasyarakatan, agama dan pemerintahan. Pranatas gotong-royong pada hakekatnya terwunjud dan terbina dalam organisa¬si banjar. Disampinng itu banjar juga sangat berperan dalam menunjang berba¬gai kegiatan pemerintah seperti : Keluarga Berencana, pendidikan, kesehatan, transmigrasi, pemuda dan lain-lain.
10. Sekeha
Jenis-jenis sekaha yang ada hubungannya dengan sistem kemasayarakatan, antara lain adalah :
a. Sekeha ngerabin (perkumpulan mengatap nimah)
b. Sekeha gong (perkumpulan gambelan gong)
c. Sekeha angklung (perkumpulan gambelan angklung)
d. Sekeha janger (perkumpulan tari janger)
e. Sekeha barong (perkumpulan tari barong)
f. Sekeha leging (perkumpulan gtari leging).
11. Dalam sistem religi
Organisasi banjar yang berkaitan dengan sistem religi dalam suatu komunitas adalah banjar adat. Seperti telah disebutkan di atas, sesuai dengan fungsinya, banjar adat mempyunyai titik berat fungsinya adalah dalam bidang agama dan adat istiadat. Banjar adat dalam kaitannya dengan bidang religi, berperan sangat besar, ikut mengkonsepsikan dan melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan.
Jenis-jenis sekeha yang ada kaintannya dengan sistem religi, antara lain adalah :
a. Sekeha pemangku (perkumpulan pemangku dan berbagai pura)
b. Sekeha patus (perkumpulan yang berhubungan dengan kematian dan pembakaran mayat)
c. Sekeha dadia (kelompok kerabat dengan salah satu fungsinya adalah mengaktifkan upacara di pura dadia yang bersangkutan)
d. Sekeha teruna dan sekeha daha (perkumpulan pemuda dan pemudi yang belum kawin dan belum menjadi anggota desa inti).


DAFTAR PUSTAKA
ABDUL KADIR MUHAMMAD, 2005, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 264 hal.
BOBAK, LOWDERMILK, JENSEN, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugerah; editor bahasa Indonesia Renata Komalasari, Ed 4, EGC, Jakarta, xx, 1121 hlm
ENDIN MUJAHIDIN, 2005, Pesantren Kilat, Alternatif Pendidikan Agama di Luar Sekolah, Pustka Antara lain-Kautsar, Jakarta, xx+180 hal
HASSAN SHADILY, 1983, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, PT Bina Aksara, Jakarta, 437 hal.
I WAYAN SURPHA, 2004, Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali, Pustaka Bali Post, Denpasar, 176 hal.
KOENTJARATINGRAT, 1974, Kebudayaan Metalitet dan Pembangunan, PT Gramedia, Jakarta, 142 hal.
M. MUNANDAR SOELAEMAN, 2001, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, Refika Aditama, Banduing,. 246 hal.
M. MUNANDAR SOELAEMAN, 2001, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Refika Aditama, Bandung, 327 hal
MUHAMMAD AHMAD KAN’AN, 2003, Menikmati Hubungan Intim Suami-Istri Menggapai Peernikahan Berkah, Pustaka Nawaitu, Jakarta, 226 hal.
NASRUL EFFENDY, 1998, Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, EGC, Jakarta, 294 hal.
SOEKANDAR WIRIATMADJA, 1989, Pokok-Pokok Sosiologi Pedesaan, CV Yasaguna, Jakarta, 148 hal.
SOEKIDJO NOTOATMODJO, 2003, Ilmu Kesehaan Masyarakat, Prinsip-Prinsip Dasar, Penerbit Rinika Cipta, Jakarta, 214 hal.
YAHYA ABDURRAHMAN ANTARA LAIN KHATIB, 2003, Hukum-Hukumn Wanita Hamil (Ibadah, Perdata, Pidana), Antara lain-Izzah, Bangil, 207 hal.


Indek

Acting mobs, 13
Adat, v, 28, 37, 90, 91, 92, 93, 94, 96
adat istiadat, 4, 27, 28, 37, 38, 40, 92, 95
Adjudication, 18
Arbitration, 18
Asimilasi, 18, 19
Bahasa, 7, 28, 30
basic humanities, 2, 3, 4
basic social science, 2
birokrasi, 1, 11, 16, 42
Bondooyot, 25
boundary, 28
broken homes, 48
budhayah, 6
budhi, 6
burgerliche Gesellschaft, 10
Casual Crowds, 13
cipta, 6, 34
Clique, 11
Coercion, 18
common will, 10
competition, 17, 19
Compromise, 18
conflict, 17
conjugal, 24
consanguinal, 24
Contravention, 19
cooperatioon, 17
crowd, 12
Crowd, 12
cultural activity, 28
Cultural Universal, 28
customs, 37
deviants, 29
Deviants, 29
diskriminasi, 48, 49
Dyad, 14
enviroment, 28
erische politiek, 1
estetika, 34, 37
exchange, 28
Exclusive, 10
folkways, 36
formal audiences, 13
Formal Group, 10
function, 28
fungsi sosial, 38
Gemeinschaft, 9, 10
Gemeinschaft by blood, 10
Gemeinschaft by place, 10
Gesellschaft, 9, 10
gonad, 60
gregariousness, 9
gulangkep, 24
Health For All, 55, 56
Hukum, 37, 70, 71, 72, 96
Humanities, 3
Ilmu Sosial Dasar, 1, 96, 99, 100
imaginary, 9
imunisasi, 51
Inconvenient agregations, 13
Informal group, 11
Informal Group, 10
input, 28
insulin, 51
Interaksi sosial, 17, 44
Intimate, 10
Items, 28
jahat, 36
karsa, 6, 34
KBS, 55
Kebiasaan, 36, 44
Kebudayaan, v, 4, 5, 6, 7, 27, 30, 96, 99, 101
kebudayaan fisik, 6, 7, 8
kejahatan, 47, 48
Kelompok, iii, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 99, 101
Kelompok ekspressif, 13
Kelompok Okupasional, 12
kelompok sosial, iii, 9, 11, 12, 14, 16, 17, 35, 43, 101
Keluarga, 22, 24, 25, 27, 38, 52, 76, 77, 95
Kemampuan akademis, 1
Kemampuan personal, 1
Kemampuan profesional, 1
Kerangka kebudayaan, iii, 6, 8, 101
Kerumunan, 12, 13, 14
Kesehatan Bagi Semua, 55, 56
Kesenian, 7, 28, 74, 76
Khalayak penonton, 13
KIA, 50
klik, 11, 15
Kurwille, 10
Lawless crowds, 13
laws, 37
masa adolensensi, 60
masa neetral, 60
Masalah sosial, 47
Masalah-masalah budaya, iii, 4, 101
masyarakat, iii, iv, 1, 2, 3, 4, 5, 9, 12, 14, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 27, 28, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 61, 69, 70, 74, 77, 79, 80, 81, 82, 83, 86, 87, 92, 94, 99, 101, 102
matrilineal, 24
Membership Group, 11
Menilai, 31
Migrasi, 49
mores, 36
nilai, iii, iv, 1, 2, 4, 5, 14, 18, 20, 21, 23, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 38, 39, 40, 41, 46, 47, 55, 58, 59, 74, 75, 77, 83, 84, 85, 87, 99, 101, 102
Nilai, iv, 5, 31, 32, 34, 35, 46, 55, 59, 77, 83, 102
nilai individual, 34
nilai keagamaan, 1, 34
nilai kebenaran, 31, 34
nilai keindahan, 34
Nilai kerohanian, 34
Nilai material, 34
nilai moral, 34
nilai sosial, 14, 34, 35, 36
Nilai vital, 34
Nomad, 14
norma, 13, 14, 18, 22, 28, 29, 31, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 45, 46, 50, 61, 78
Norma agama, 38
Norma hukum, 38
Norma kesopanan, 38
Norma kesusilaan, 38
normative type, 12
Organisasi sosial, 7, 15
output, 28
ovum, 60
Paguyuban, 9, 10, 76
Panca Krida Posyandu, 52
Panic crowds, 13
Patembayan, 9
patrileneal, 24
pelanggaran, 36, 37, 45, 47, 48
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa, 51, 55
Pemeliharaan, 23, 29, 57
Pengaturan Seksual, 22
peradaban, 4, 27
Perang, 49, 51
PHC, 51, 52, 55, 56, 57, 58
PKMD, 51, 52, 53, 54, 56
placenta, 51
planned expressive group, 13
politik balas budi, 1
prasangka, 49
prejudice, 48
Primary Health Care, 51, 55, 56
Private, 10
problem oriented, 1
process, 17, 28
public life, 10
Publik, 14
Reference Group, 11
refined, 3
relation, 28
religiusitas, 34
Reproduksi, 23
revelasi, 34, 38
Sapta Krida Posyandu, 52
self determination, 56
self reliance, 56
Sistem, iii, 1, 6, 7, 8, 27, 28, 31, 32, 35, 38, 46, 51, 81, 101
sistem budaya, 6, 7, 8, 28, 29
Sistem budaya, iii, 7, 8, 28, 101
Sistem XE "Sistem" mata pencaharian, 7
sistem sosial, iii, 6, 8, 28, 29, 41, 101
Sistem XE "Sistem" tekonologi, 7
social animal, 9
social group, 9
society, 40
Sosial, ii, iii, 1, 9, 14, 15, 16, 17, 20, 24, 35, 47, 96, 99, 100, 101
Sosialisasi, 23
Spectator crowds, 13
Stalemate, 18
structure, 28
Tata cara, 36
Tata kelakuan, 36, 37
Teknologi, 47
teori kapilaritas, 23
Tipe normatif, 12
Toleration, 18
Trail-comple, 28
Triad, 14
understanding, 10
unit, 23, 28, 92
unsur pokok kebudayaan, 27
urine, 51
usage, 36
value, 31
Volonter, 12
wahyu, 34, 38
Wesenwille, 10
World Health Essembly, 55


Lampiran 1. GBPP Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
Nama Mata Kuliah : Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
Kode Mata Kuliah :
Kelompok : Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK)
Beban Studi : 2 sks (T=2)
Penempatan : Semester I

Diskripsi Mata Kuliah
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami konsep ilmu-ilmu sosial dan Budaya Dasar yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial buidaya dalam praktek kebidanan di masyarakat. Adapun pokok pokok bahasan yang dibereikan melipouti : konsep ilmu sosial budaya dasar – sosial budaya yang banyak mempengaruhi dalam pelayanan kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial buidaya yang ada di masyarakat sebagai media dalam peningkatan akses masyarakata terhadeap pelayanan kehidupan.

Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan Kopnsep Ilmu Sosial Budaya Dasar
2. Menjelaskan perekembangan nilai-nilai budaya terhadap individu, keluarga dan masyarakat
3. Menjelaskan berbagai aspek kehidupan, perkembangan dan masalah-masalah masyarakat pedesaan dan perkotaan
4. Menjelaskan aspek sosial buidaya yang mempengaruihi perilaku sehat dalam kaitan status kesehatan ibu, bayi dan anak balita danakeluarga
5. Menjelaskan cara –cara poendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan.

Proses Pembelajaran
T: Dilaksanakan di kelas dengan menggunakan ceramah, diskusi, semiar dan penugasan

Evaluasi
1. UTS : 30 %
2. UAS : 50 %
3. Penugasan : 10 %
4. Kuis : 10 %

Buku Sumber
Buku Utama
1. Kuncoroningrat, 1993, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara, Jakarta
2. Drs. H. Abu Ahmadi, 1988 Ilmu Sosial Dasar, Jakarta, Bina Aksara
3. Habib Mustopo, 1988 Ilmu Budaya Dasar Surabaya

Buku Anjuran
1. Nursib Studi Sosial Bandung 1988 UPI Bandung
2. Ir, Drs. M. Munandar Sulaeman 1993, MS Ilmu Budaya Dasar Bandung PT Eresco
3. Drs. Joko Tri Praseiya, dkk 1991 Ilmu Sosioal Budaya Dasar Jakarta
4. Kuncaraningrat, 1993 Manusia dan Kebudayaan Indonesia
5. Hartono 1990 Ilmu Sosial Dasar Bumi Aksara jakarta
6. Kuncorongingrat 1985 Ilmu Sosial Dalam pembangunan Kesehatan, Gramedia Jakarta
7. Wangsanegara S 1986 Buku Meteri Pokok : Ilmu Sosial Dasar Universitas Terbuka
8. Symonds, a and Hunt SC 1996, The Social Meaning of Midwifery Maemillan Press LTD London
9. Symonds a and Hunt SC 1996 The Midwife and Society , Perspective Policies and Practice Maemillan Press LTD London
10. Hepsiomtall, T 1997 Mayes Midwifery : a Texbook for midwives Sociology and Social Conatent of Childbearing, 12th edition WB Saunder Company LTD, London
11. Sujadi, MP 2001 Buku Materi Pokok : Ilmu Budaya Dasar , Pusat Penerbitan Universitas Terbuka


Lampiran 2. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

No. Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok/Sub Pokok Bahasan Waktu Sumber
T P K
Pada akhir perkuliahaan mahasiswa dapat :
1 Menjelaskan konsep ilmu sosial dan ilmu budaya dasar 1.1. Konsep Ilmu Sosial dan Budaya Da¬sar
1.1.1. Latar Belakang Ilmu Sosial dan Bu¬da¬ya Dasar
1.1.2. Lingkup ilmu sosial dan budaya da¬sar
1.1.3. Pokok bahasan ilmu sosial dan bu¬daya dasar
1.1.4. Masalah-masalah budaya dalam il¬mu sosial dan budaya dasar
1.1.5. Pengertian
1.1.6. Kerangka kebudayaan
4 jam BU 1,2
BA 1,2,3,6,7,10,11
1.2. Kelompok Sosial
1.2.1. Pengertian
1.2.2. Kelompok Sosial teratur
1.2.3. Kelompok sosial tak teratur
1.2.4. Bentuk kelompok sosial

1.3. Interaksi Sosial
1.3.1. Pengertian
1.3.2. Bentuk interaksi sosial
1.3.3. Fungsi interaksi sosial
2 Mengidentifikasi perkembangan nilai-nilai budaya terhadap individu keluarga dan masyarakat
2.1. Konsep keluarga sebagai anggota ma¬syarakat.
2.1.1. Pengertian keluarga,
2.1.2. fungsi keluarga,
2.1.3. bentuk-bentuk keluarga,
2.1.4.peran dan fungsi anggota keluarga 4 jam BU 1,2,3
BA 4,5
2.2. Kebudayaan
2.2.1.Pengertian kebudayaan (dari be¬be¬rapa pendapat)
2.2.2. Tujuan ruang lingkup kebudayaan
2.2.3. Unsur-unsur kebudayaan
2.2.4. Sistem budaya dan sistem sosial
2.2.5. Jenis-jenis kebudayaan di Indone¬sia
2.2.6. Ciri-ciri khusus kebudayaan yang ada di Indonesia
3 Menghubungkan perkembangan nilai budaya individu dengan kesmas 3.1. Perkembangan nilai budaya
3.1.1. Sistem budaya dan sistem sosial
3.1.2. Konsep nilai, sistem nilai dan ori¬en¬tasi nilai.
3.1.3. Sistem nilai di masyarakat
3.1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai budaya.
3.1.5. Perbedaan nilai dan moral
3.1.6. Pandangan dari nilai masyarakat terhadap individu, keluarga dan masyarakat. 2 jam BA 2,4,11
4 Mengidentifikasi berbagai aspek kehidupan perkembangan dan masalah-masalah masyarakat pedesaan dan perkotaan 4.1. Konsep masyarakat dan sosial budaya masyarakat Indonesia.
4.1.1. Masyarakat pedesaan dan perko¬ta¬an
4.1.2. Pengertian masyarakat
4.1.3. Unsur-unsur masyarakat
4.1.4. Syarat-syarat masyarakat
4.1.5. Ciri-ciri masyarakat desa dan ma¬sya¬rakat kota.
4.1.6. Sumberdaya yang ada di pedesa¬an dan perkotaan dalam upaya kesehatan ibu dan anak.
4.1.7. Masalah-masalah masyarakat pe¬de¬sa¬an dan perkotaan 4 jam BU 1,2,3
5 Menjelaskan tentang aspek-aspek sosial budaya dalam kesehatan khusus dalam pelayanan kebidanan 5. Aspek sosial budaya kesehatan dalam pelayanan kebidanan.
5..1.1 Aspek sosial budaya yang ber¬hubungan dengan kesehatan anak.
5..1.2. Aspek sosial budaya yang berhu¬bung¬an dengan kesehatan ibu
5.1.3. Hubungan aspek sosial terhadap pembangunan kesehatan
5.1.4. Pengertian pembangunan kese¬hat¬an
5.1.5. Tujuan pembangunan masyara¬kat desa dalam bidang kesehat¬an
5.1.6. Nilai-nilai filosofi dalam pemba¬ngun¬an
5.1.7. Faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam pembangun¬an 4 jam BU 3
BA 1,2,6,8
6 Mengamati dan wawancara langsung di lapangan tentang aspek sosial budaya yang berpengaruh terehadap pelayanan kebidanan 6.1. Aspek sosial budaya yang berkaitan dengan praperkawinan, perkawin¬an, kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.
6.1.1. Aspek sosial budaya pada setiap perkawinan
6.1.2. Aspek sosial budaya pada setiap trimester kehamilan
6.1.3. Aspek sosial budaya selama persalinan kala I, II, III dan IV
6.1.4. Aspek sosial budaya dalam masa nifas.
6.1.5. Aspek sosial budaya yang berkaitan dengan bayi baru lahir. 8 jam BU 3
BA 1,2,6,9
7 Menjelaskan cara-cara pendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan 7.1. Cara-cara pendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan
7.1.1. Pendekatan melalui agama
7.1.2. Pendekatan melalui kesenian tradisional.
7.1.3. Pendekatan melalui paguyuban
7.1.4. Pendekatan melalui pesantren
7.1.5. Pendekatan sistem banjar (bali) 6 jam BU 1,2,3
JUMLAH 32 jam




Beri Penilaian

Rating : 0.0/5 (0 votes cast)


Peralatan pribadi