Ekonomi Pertanian

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

I. PENDAHULUAN 1.1. Definisi Ilmu Ekonomi Pertanian Menurut Mubyarto : Ilmu Ekonomi Pertanian yaitu bagian dari ilmu ekonomi umum yang mempelajari fenomena-fenomena dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pertanian baik mikro maupun makro. Menurut A Kaslan Tohir : a. Ilmu Tata Rumah Tangga Pertanian : yaitu bagian dari ilmu ekonomi umum yang mempelajari masalah-masalah pertanian. b. Ilmu Ekonomi Pertanian, yaitu suatu pengetahuan yang meliputi pelajaran-pelajaran tentang perusahaan pertanian, pemeriksaan perusahaan dan penaksiran. Ilmu Ekonomi Pertanian yaitu ilmu yang mempelajari masalah pertanian dari sudut ekonomi. 1.2. Sejarah Ilmu Ekonomi Pertanian a. Di Eropa 1885 “penggubah” ilmu ekonomi pertanian adalah Von Der Golts, yang menulis buku “Handbuch der Landwirtschaffichen Bertriebelehre”. b. Di Amerika Serikat 1890 karena depresi pertanian, ilmu ekonomi pertanian lahir. 1892 mata pelajaran Rural Economics di University Ohio AS. 1901 mata pelajaran Economics of Agriculture di Universitas di Cornell 1903 Farm Management di Universitas Cornell 1910 Agricultural Economics di beberapa Universitas di AS. c. Di Indonesia 1950 Prof. Iso Reksohadiprojo dan Prof. IR. Teko Sumodiwirjo adalah Bapak Ilmu ekonomi Pertanian di Indonesia dengan kuliah-kuliahnya di Fakultas Pertanian IPB (dulu UI) dan UGM. Di UGM kemudian diikuti fakultas-fakultas : Hukum, Sospol dan Ekonomi. 1955 Fakultas Ekonomi UGM membuka jurusan Ekonomi Pertanian (semula Ekonomi Agraria). 2-1969 Berdiri Himpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) di Ciawi Bogor. 1.3. Sifat Ilmu Ekonomi Pertanian a. Merupakan Cabang Ilmu Pertanian Yaitu bagian atau aspek-aspek sosial ekonomi dari persoalan-persoalan yang dipelajari oleh ilmu pertanian. 1). Ilmu Ekonomi Pertanian Cabang-cabangnya : tataniaga, ekonomi produksi pertanian dan lain-lain. 2). Ilmu Sosiologi Pedesaan b. Merupakan Cabang Ilmu Ekonomi Yaitu ilmu ekonomi yang diterapkan pada bidang pertanian. Pemisahan di atas lama-kelamaan kabur karena mata kuliah yang diberikan menjadi hampir sama. 1.4. Manfaat Ilmu Ekonomi Pertanian Sebagai suatu cabang ilmu kemasyarakatan yang penting yang akan merupakan suatu alat analisa ilmiah untuk membahas dan mendalami persoalan-persoalan yang timbul dalam bidang pertanian, pembangunan pertanian dan pembangunan ekonomi di Indonesia pada umumnya

o0o


II. EKONOMI PERTANIAN DI INDONESIA 2.1. Pembagian Pertanian a. Berdasarkan Komoditi 1) Kehutanan Hutan di Indonesia dicirikan sebagai hutan-hutan tropik, dimana pada daerah yang bercurah hujan tinggi hutannya sangat lebat. Dari seluruh tanah Indonesia 63 % dari padanya ditutupi oleh hutan. Tabel 1. Hutan per Propinsi di Indonesia No Propinsi Luas (Ha) Persen Sumber 1 Nangroe Aceh Darussalam 3.335.713,00 2,50 SK No. 170/Kpts-II/00 2 Sumatera Utara 3.742.120,00 2,81 SK No. 44/Menhut-II/05 3 Sumatera Barat 2.600.286,00 1,95 SK No. 422/Kpts-II/99 4 Riau 9.456.160,00 7,09 SK No. 173/Kpts-II/1986 5 Kepulauan Riau 0,00 0,00 gabung provinsi Riau 6 Jambi 2.179.440,00 1,63 SK. No. 421/Kpts-II/99 7 Bengkulu 920.964,00 0,69 SK. No. 420/Kpts-II/99 8 Sumatera Selatan 3.742.327,00 2,81 SK No. 76/Kpts-II/01 9 Bangka Belitung 657.510,00 0,49 SK No. 357/Menhut-II/04 10 Lampung 1.004.735,00 0,75 SK No. 256/Kpts-II/00 11 DKI Jakarta 475,45 0,00 SK No. 220/Kpts-II/00 12 Jawa Barat 816.602,70 0,61 SK No. 195/Kpts-II/03 13 Banten 201.787,00 0,15

14 Jawa Tengah 647.133,00 0,49 SK No. 359/Menhut-II/04 15 DI. Yogyakarta 16.819,52 0,01 SK No. 171/Kpts-II/00 16 Jawa Timur 1.357.206,30 1,02 SK No. 417/Kpts-II/99 17 Bali 127.271,01 0,10 SK No. 433/Kpts-II/99 18 Nusa Tenggara Barat 1.035.838,00 0,78 SK No. 598/Menhut-II/2009 19 Nusa Tenggara Timur 1.555.068,00 1,17 SK No. 423/Kpts-II/99 20 Kalimantan Barat 9.101.760,00 6,83 SK No. 259/Kpts-II/00 21 Kalimantan Tengah 15.300.000,00 11,48 SK No. 759/Kpts/Um/10/82 22 Kalimantan Timur 14.651.053,00 10,99 SK No. 79/Kpts-II/01 23 Kalimantan Selatan 1.566.697,00 1,18 SK No. 435/Menhut-II/2009 24 Sulawesi Utara 725.514,00 0,54 SK No. 452/Kpts-II/99 25 Gorontalo 647.668,00 0,49 SK No. 325/Menhut-II/2010 26 Sulawesi Tengah 4.394.932,00 3,30 SK No. 757/Kpts-II/99 27 Sulawesi Tenggara 2.518.337,00 1,89 SK No. 454/Kpts-II/99 28 Sulawesi Selatan 2.118.992,00 1,59 SK No. 434/Menhut-II/2009 29 Sulawesi Barat 1.185.666,00 0,89 SK No. 890/Kpts-II/99 30 Maluku 7.146.109,00 5,36 SK No. 415/Kpts-II/99 31 Maluku Utara 0,00 0,00 Gabung dengan maluku 32 Papua 40.546.360,00 30,42 SK No. 891/Kpts-II/99 33 Papua Barat 0,00 0,00 Gabung dengan papua Papua 40.546.360,00 30,42

INDONESIA 133.300.543,98 100,00 Sumber : http://alamendah.org/2011/01/05/luas-hutan-indonesia-di-tiap-provinsi/ Tabel 2. Hutan per Pulau di Indonesia No Pulau Luas (Ha) Persen 1 Sumatera 27.639.255 20,72

2 Jawa 3.040.023,97 2,28

3 Bali & Nusa Tenggara 2.718.177,01 2,05

4 Kalimantan 40.619.510 30,48

5 Sulawesi 11.591.109,00 8,70

6 Maluku 7.146.109,00 5,36

Papua 40.546.360,00 30,42

INDONESIA 133.300.543,98 100,00

2) Tanaman Perkebunan Tanaman perkebunan iklim sub-tropik dan tanaman iklim sedang yang ada di Indonesia : teh, kopi, kina. Sedangkan tanaman iklim panas : tembakau, tebu, karet dan kopra. 3) Tanaman Pangan Tanaman pangan iklim sub tropik dan tanaman iklim sedang yaitu : sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan tanaman iklim panas : padi, jagung. Pulau jawa yang tidak dilewati katulistiwa mempunyai dua musim yang sangat berbeda yaitu musim penghujan dan musim kemarau yang memberi ciri khas pada sifat pertanioan di Jawa. Padi, tanaman bahan makanan utama di Jawa di tanam awal musim penghujan: Nopember, Desember, Januari dan dipanen April-Juni. Pada bulan Januari-Maret sebagai musim kekurangan cadangan pangan, tetapi hal ini ditutup dengan dipanennya tanaman palawija pada tanah tegalan. Di luar Jawa tidak begitu dikenal istilah musim paceklik karena : - banyak hasil tanaman perdagangan : kopi, lada, karet. - Hujan turun hampir sepanjang tahun (hujan katulistiwa). 4) Peternakan Pada daerah dengan curah hujan sedang dan rendah, ditandai oleh adanya hutan yang tidak lebat dan padang sabana. Indonesia bagian timur (makin ke timur makin kering) adalah daerah sabana yang cocok untuk kehidupan ternak terutama sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba. Tabel 3. Jumlah Ternak / unggas di Indonesia Per Pulau (angka sementara sensus pertanian 1973). Ternak Pulau (persen) Sumatera Jawa / Madura Bali / Nusatenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Sapi 10,4 61,9 14,3 1,4 11,7 0,3 Kerbau 21,3 47,5 15,1 0,5 14,5 1,1 Kuda 3,5 24,6 43,8 0,1 27,7 0,3 Kambing/Domba 7,9 82,5 5,2 0,5 3,3 0,6 Bai 24,1 5,5 43,1 13,8 12,8 0,7 Ayam Kampung 16,6 62,0 7,5 4,6 8,7 0,6 Ayam ras 15,6 71,3 4,5 5,8 2,6 0,2 Itik & Itik Manila 21,4 57,9 4,4 6,3 9.9 0,1

      Tidak termasuk Irian Jaya
      SUMBER : BPS, Sensus Pertanian 1973, Jakarta, 1975

5) Perikanan Perikanan ialah segala usaha penangkapan budidaya ikan serta pengolahan sampai pemasaran hasilnya. Sumber perikanan ialah binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di perairan baik darat maupun laut. (1) Ikan laut Daerah perikanan laut yang penting antara lain : • Selat Andalas • Kepulauan Riau • Bangka/Bliton • Lautan Indonesia dari sebelah barat Sumatera sampai pantai selatan pulau Jawa • Selat Makarsar • Laut Jawa • Pantai Kalimantan Barat • Laut Arafuru • Dsb. Perikanan laut merupakan mata pencaharian pokok para nelayan. Penangkapan masih dilakukan dengan cara-cara tradisional karena pengetahuan dan modal yang sangat terbatas. (2) Ikan darat Daerah perikanan darat yaitu di danau, sungai, rawa-rawa, tambak, waduk, kolam dan sawah. Luas permukaannya berfluktiasi sepanjang tahun, bergantung pada banyaknya curah hujan. b. Ditinjau Dari Segi Ekonomi 1) Usahatani Pertanian Rakyat / Pertanian Keluarga / Pertanian Subsisten / Pertanian Setengah Subsisten. Usahatani keluarga (family farm) tujuan utamanya adalah sebagai pendapatan keluarga yang terbesar. Secara ekonomis dapat dikatakan bahwa hasilnya sebagian besar untuk memenuhi konsumsi keluarga, dan faktor-faktor produksi atau modal yang digunakan sebagian besar berasal dari dalam usahatani sendiri. Pertanian rakyat meliputi : (1) Pencarian hasil-hasil hutan. Petani dalam hal ini mencari hasil-hasil hutan sebagai pemenuhan kebutuhan keluarganya saja/ (2) Perkebunan rakyat Tanaman perkebunan rakyat / hasil perkebunan rakyat meliputi tembakau, tebu rakyat, kopi, lada, karet, kelapa, teh, cengkeh, panilik, buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan, tanaman perkebunan rakyat sebagian besar diusahakan di luar Jawa. (3) Tanaman Pangan Tanaman pangan meliputi padi dan palawija (jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian) dan tanaman hortikultura yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Tanaman pangan disuahakan di sawah, ladang dan pekarangan. (4) Peternakan Dalam hal peternakan keluarga, pengusahaannya masih bersifat sambilan disamping para petani juga mengusahakan usahatani lainnya. (5) Perikanan Apabila pendapatan seorang petani sebaian besar dari perikanan (darat atau laut) maka dia disebut nelayan. Nelayan dapat dianggap sebagai petani biasa apbila sifatnya yang kecil-kecilan dan yang tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari nelayan dan keluarganya. 2) Perusahaan Pertanian Perusahaan pertanian sebagai lawan pertanian rakyat adalah perusahaan pertanian untuk memproduksi hasil tertentu dengan sistem pertanian seragam dibawah management yang terpusat dengan mempergunakan metode-metode ilmiah dan tehnik pengolahan yang efisien. Perusahaan pertanian dapat dibagi menjadi : (1) Kehutanan Ilmu ekonomi kehutanan pada prinsipnya merupakan ilmu yang menerangkan bagaimana hubungan antara tanah-tanah hutan dengan manusia dan alokasi sumber-sumber industri serta bagaimana cara untuk mengelolanya sehingga sumber-sumber tersebut dapat memberikan kepuasan yang diinginkan oleh manusia. Kegiatan memungut hasil hutan pada hakekatnya merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan (management) hutan. Ilmu ekonomi kehutanan ini diperlukan karena : • Pada umumnya produksi kehutanan (kayu) membutuhkan jangka waktu yang panjang. • Pada kenyataannya modal (dalam hal ini tumbuhannya) juga merupakan hasil akhir. • Dan masalah yang paling sulit bahwa nilai hutan tidak dapat langsung diukur dengan harga pasar yang ada. Kategori hutan berdasarkan rencana pemerintah dibagi dalam : • Hutan lindung yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap tanah, tata air, iklim serta lingkungannya. • Hutan suaka alam yang berfungsi memberikan pelindungan terhadap binatang, untuk keprluan pengetahuan dan kebudayaan. • Hutan produksi yaitu hutan yang memberi manfaat produksi kayu dan hasil hutan yang lain, berdasarkan pengelolaannya hutan yang berlaku, yang mengenal prinsip kekekalan hasil. • Hutan wisata yaitu hutan yang menyediakan keindahan alamnya untuk kepentingan pariwisata. Tabel 4. Tipe Dan Luas Hutan di Indonesia No. Tipe Hutan Luas (jutaan Ha) Persentase (%) 1 Hutan Payau 1,0 0,8 2 Hutan Rawa 13,0 10,7 3 Hutan Pantai 1,0 0,8 4 Hutan Gambut 1,5 1,2 5 Hutan hujan/tropika basah 89,0 73,0 6 Hutan musim 1,0 0,8 7 Hutan sekunder/tanah kosong 15,5 12,7 Indonesia 122,0 100,0 Sumber : Ditjen Kehutanan, Kehutanan Indonesia Tahun 1974 (2) Perkebunan (Plantation) Perkebunan di Indonesia yang dilakukan secara komersial dimulai tahun 1870 dengan pengundangan hukum Agraria oleh pemerintah kolonial Belanda yang memungkinkan pemilik modal besar di Negeri Belanda dan negeri-negeri Eropa barat lainnya menanam modalnya di Indonesia Hak-hak usaha tersebut dikenal dengan nama : • Hak erfpacht maksimum maksimum 75 tahun dengan luas maksimum 360 ha. • Hak opstaal untuk mendirikan bangunan pabrik untuk usaha. • Hak eigendom untuk rumah-rumah tempat tinggal.


Tabel 5. Perkebunan di Indonesia No. Status Perusahaan Jumlah Luas (Ha) Persen 1 Perkebunan Negara (PNP) 343 1.123.492 50,5 2 Perkebunan Swasta Nasional 1.225 773.462 37,7 3 Perkebunan Swasta Asing 64 157.128 7,1 4 Perkebunan Joint Venture 26 91.535 4,1 5 Perkebunan Pemerintah Daerah 52 32.670 1,5 6 Perkebunan Lain-Lain 91 47.358 2,1 Indonesia 1.801 2.225.645 100,0 Sumber : BPS, Sensus Pertanian 1973 Tabel 6. Pembagian Perkebunan Berdasarkan Letak Daerah Pulau 1973 Daerah Jumlah Luas Rata2 Luas (Ha) Perkebunan Persen Ha(000) Persen Jawa 773 42,9 677 30,4 876 Sumatera 594 33,0 1.314 59,1 2.213 Kalimantan 85 4,7 59 2,7 697 Sulawesi 236 13,1 128 5,7 542 Nusatenggara 41 2,3 16 0,7 395 Maluku 72 4,0 30 1,7 420 Sumber : BPS, Sensus Pertanian 1973 3) Peternakan komersiil Usaha ini dijalankan oleh golongan ekonomi yang mempunyai kemampuan dalam segi modal, sarana produksi dengan tehnologi yang agak modern. Semua tenaga kerja dibayar dan makanan ternak terutama dibeli dari luar dalam jumlah yang besar. Tujuan utamanya adalah, mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya. Biaya produksi ditekan serenah mungkin agar dapat menguasai pasar. c. Pertanian secara tehnis ekonomis proses pengambilan hasil dari tanah atau alam dapat dibedakan menjadi : 1) Pertanian ekstraktif Yaitu mengambil hasil dari alam dan tanah tanpa usaha untuk mengembalikan sebagian hasil tersebut untuk keperluanpengambilan di kemudian hari. Pertanian semacam ini meliputi :  Perikanan sungai  Perikanan laut  Pengambilan hasil hutan baik yang sifatnya subsisten ataupun komersiil. Eksploitasi hutan secara besar-besaran yang banyak diusahakan di Kalimantan Timur, Kalimtan Selatan, Sumatera dll. 2) Pertanian Generatif Yaitu pertanian yang memerlukan usaha pembibitan atau pembenihan, pengolahan, pemerliharaan, pemupukan dll baik untuk tanaman maupun untuk hewan. Salah satu faktor produksi yang harus ada dalam pertanian generatif adalah bibit atau benih. 2.2. Pertanian Dalam Perekonomian Indonesia Pertanian di Indonesia menempati sektor teratas dalam sumbangannya terhadap perekonomian Indonesia. Permintaan hasil pertanian terutama rempah-rempah banyak diminati oleh bangsa-bangsa : Portugis, Belanda, Inggris dan bangsa Eropa barat lainnya pada abad 15 dan 16. Keadaan ini pulalah yang menyebabkan bangsa Belanda akhirnya menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Pada tahun 1930-an investasi asing mencapai US $ 1,0 milyard, 54 % diantaranya ditanam dalam bidang pertanian. Pada tahun 1973, 65 % dari penduduk bekerja di sektor pertanian tetapi hanya menyumbang + 40 % dalam produk domestik bruto. Ini berarti bahwa pendapatan per kapita penduduk sektor pertanian relatif lebih rendah, sekitar 2/3 dari pendapatan di luar sektor pertanian. Tabel 7. Produk Domestik Bruto Berdasarkan Sektor (milyar dan persen) Tahun Pertanian Pertambangan Industri Lain-Lain Total 2008 716.656,2 541.334,3 1.376.441,7 2.314.256,2 4.948.688,4

14,48% 10,94% 27,81% 46,77% 100 2009 857.196,8 592.060,9 1.477.541,5 2.214.615,2 5.141.414,4 16,64% 11,49% 28,68% 42,99% 100 2010 985.470,5 719.710,1 1.599.073,1 3.142.598,2 6.446.851,9 15,29% 11,16% 24,80% 48,75% 100 2011 1.091.447,3 879.505,4 1.806.140,5 3.645.688,0 7.422.781,2 14,70% 11,85% 24,33% 49,11% 100 2012 1.190.412,4 970.599,6 1.972.846,6 4.108.005,7 8.241.864,3 14,44% 11,78% 23,94% 49,84% 100 Sumber : http://www.bps.go.id/pdb.php Lapangan pekerjaan sangat terbatas di bidang pertanian sedara relatif berarti jumlah tenaga kerja lebih banyak dari pada sumberdaya menjadi setengah menganggur (disguised unemployment). Tabel 8. Penduduk Berdasarkan Lapangan Pekerjaan (persen) Tahun Pertanian Industri Pertambangan Lain-lain Total 1930 73,9 11,5 0,9 14,7 100 1961 73,3 5,8 0,3 20,6 100 1971 61,7 7,5 0,2 30,6 100 Sumber : BPS, Sensus Penduduk, 1961, 1971




Tabel 9. Proporsi Nilai Eksport Indonesia Untuk Beberapa Tahun (persen) Tahun Pertanian Non Minyak Minyak Total 1928 79 t-a t-a t-a 1938 65 10 25 100 1950-59 58 27 25 100 1960-69 49 17 34 100 1970 44 15 41 100 1971 47 14 39 100 1972 38 13 51 100 1973 39 11 50 100 1974 22 8 70 100 Sumber : indikator Ekonomi, Desember 1975


 III. PERSOALAN-PERSOALAN EKONOMI PERTANIAN 3.1. Jarak Waktu (gestation period) yang lebar antara pengeluaran dan penerimaan pendapatan dalam pertanian a. Nelayan penangkap ikan yang dapat menerima hasil setiap hari sehabis menjal; ikannya tidak punya masalah gestation period ini. b. Tanaman pangan seperti padi jagung dan kacang-kacangan mempunyai persoalan yang paling menarik. Untuk tanaman yang bersifat musimnan seperti ini maka pada musim panen (dalam keadaan pasar yang normal) terdapat harga yang rendah dan pada musim paceklik terdapat harga yang tinggi. Untuk padi di Jawa : tanam sekitar Nopember-Januari dan dipanen April-Juni.

Gambar 1. Variasi harga musiman padi bulu No. 1 di pasar pedesaan di Jawa & Madura

                                                                                                   112%
                           104 %
                      Rp. 2973
                                                                               97%
                                                 87%



                                      I                 II                III                 IV
                                 Jan-Mar    Apr-Jun       Juli-Sept      Okt-Des
    Pendapatan petani hanya diterima setiap panen, sedangkan pengeluaran harus diadakan setiap hari, setiap minggu atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum panen tiba. Untuk mengatasi hal tersebut petani biasanya mengharapkan panenan di luar padi seperti tembakau, kacang tanah atau tanaman perdagangan lainnya. Disamping itu ternak dapat pula diusahakan untuk dijual guna memenuhi kebutuhan serupa itu.
    Petani untuk keperluan itu yang besar sering menjual tanamannya pada saat masih hijau di sawah atau pekarangan dan ladang-ladangnya baik dengan harga penuh atau berupa pinjaman sebagian. Penjualan tanaman selama masih hijau disebut ijon. Menurut definisi dan perngertian sehari-hari, sistim ijon adalah sistim "pinjaman" dengan jaminan tanaman hidup dengan bunga yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada tingkat bunga yang berlaku.
    Untuk mengatasi persoalan-persoalan demikian maka salah satu tujuan utama kebijaksanaan pertanian adalah mengusahakan stabilisasi harga dan pendapatan petani antara musim yang satu dengan musim yang lain dari tahun ke tahun.

3.2. Pembiayaan Pertanian

    Persoalan yang paling sulit dalam ekonomi pertanian adalah : persoalan pembiayaan. Hal ini dikarenakan adanya kemelaratan yang luas di kalangan petani, keterlibatan mereka pada hutang, baik hutang biasa maupun dengan sistem ijon. Untuk mengatasi hal ini diperlukan pemberian kredit kepada petani dengan bunga yang rendah dan dengan sistim yang sederhana / mudah.

3.3. Tekanan Penduduk dan Pertanian.

    Menurut Malthus (1888) pertumbuhan penduduk menurut deret ukur, sedangkan produksi bahan makanan hanya bertambahh menurut deret hitung. Ternyata keamjuan tehnologi mampu melipat gandakan produksi bahan makanan dan produksi pertanian pada umumnya. Akan tetapi sampai sekarang Hukumn Malthus tersebut masih dianut orang banyak.
    Pembagian penduduk di Indonesia tidak seimbang baik di Jawa Madura / Luar Jawa maupun antara kota dan desa. Luas pulau Jawa-Madura + 7 % dari Indonesia dan DKI hanya 0,03 % ternyata jumlah penduduknya mencapai + 64 % dan 4 %.
    Komposisi penduduk di Indonesia yang tidak produktif (umur 0-14 th dan > 65 Th) mencapai 47 % dengan demikian tingkat ketergantungan adalah tinggi.

Cara mengatasi tekanan penduduk tersebut al: - usaha peningkatan intensifikasi pertanian - usaha peningkatan ekstensifikasi pertanian - usaha peningkatan diversifikasi pertanian - usaha peningkatan rehabilitasi pertanian - industrialisasi - pembatasan penduduk melalui KB - transmigrasi

    Ditinjau dari sudut ekonomi pertanian maka adanya persoalan penduduk dapat dilihat daritanda-tanda berikut :

- persediaan tanah pertanian yang makin kecil. - produksi bahan makanan per jiwa yang terus menurun - bertambahnya pengangguran - memburuknya hubungan-hubungan pemilik tanah dan bertambahnya hutang-hutang pertanian. 3.4. Pertanian Subsisten

    Pertanian subsisten adalah suatu sistem bertani dimana tujuan utamanya dari si petani adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta keluarganya. Penerimaan pertanian subsisten adalah apa yang dapat dinikmatinya secara pribadi dan bersama-sama masyarakat. Sedangkan biaya adalah apa yang tidak dapat dinikmatinya.

o0o


IV. FAKTOR-FAKTOR KELEMBAGAAN DALAM EKONOMI PERTANIAN 4.1. Lembaga dan Peranannya dalam Pertanian Lembaga (institution), yaitu organisasi atau kaerah-kaedah baik formil maupun informil, yang mengatur perilaku dan tindakan anggota masyarakat tertentu baik dalam kegiatan rutin sehari-hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu.

   Lembaga desa dapat dibagi :

a. bersifat asli berasal dari adat kebiasaan yang turun temurun, misealnya : pemilikan tanah, jual beli dan sewa menyewa tanah, bagi hasil, gotong royong, koperasi, arisan. b. yang baru diciptakan baik dari dalam maupun dari luar masyarakt desa, misal : Bimas adalah lembaga yang dibentuk untuk mencapai tujuan meningkatkan produksi padi dan pendapatan petani secara massal. Badan Kredit Desa (BKD), sebagai perubahan dari lembaga pinjam meminjam uang di bawah tangan. 4.2. Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan Pertanian Berdasarkan penelitian di India, Guy Hunter, menyimpulkan bahwa persoalan administrasi pembangunan pertanian pada pokoknya menyangkut 4 hal yaitu : a. Koordinasi didalam tindakan-tindakan administrasi pemerintah dalam rangka melayani keperluan petani yang bermacam-macam seperti informasi pertanian, bantuan tehnik, investasi, kredit, pemasaran dll. b. Pola hubungan senantiasa berubah antara jasa-jasa yang dapat diberikan oleh pemerintah dengan jasa-jasa para pedagang atau koperasi. c. Masalah mendorong partisipasi petani dan penduduk desa dalam keseluruhan pembangunan pertanian. d. Masalah kelembagaan yaitu keperluan akan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tertentu pada tahap pembangunan yang senantiasa berubah-ubah. 4.3. Penyuluhan Pertanian Penyuluhan pertanian (agricultural extension) / Pendidiukan non formal yaitu suatu bentuk pendidikan yang cara, bahan dan sasarannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, waktu maupun tempat petani. a. fungsinya : koordinasi dari tugas administrasi pemerintahan untuk membantu petani melaksanakan usahatani sebaik-baiknya, menuju usahatani yang efisien. b. tujuannya : menambah kesanggupan petani dalam usahataninya c. tugasnya : membantu petani agar senantiasa meningkatkan efisiensi usahatani. Tugas dan kepentingan petani : meningkatkan penghasilan pertaniannya dan penghasilan keluarganya (farm income) Penyuluhan dapat dianggap berhasil kalau : a. Pengetahuan petani mengenai sesuatu yang berguna bertambah b. Ada penerimaan (adopsi) petani terhadap hal-hal yang dianjurkan penyuluh c. Petani bersedia bekerjasama dengan penyuluh d. Petani bersedia memberi balas jasa kepada penyuluh e. Penyuluh dapat merubah sikap petani yang merugikan f. Pengetahuan praktis yang ada pada penyuluh bertambah g. Penyuluh dapat memberitahukan sesuatu yang berguna diluar tujuan proyek tertentu. h. Ada perkembangan keinginan pada kedua pihak untuk mempertahankan hubungan. Di Indonesia penyuluhan pertanian belum berhasil karena : a. Penyuluh mnasih terlalu sedikit b. Alat-alat penyuluhan pertanian yang sangat kurang c. Pendidikan para penyuliuh yang kurang memadai d. Gaji penyuluh yang rendah, dll 4.4. Kegiatan Gotongroyong dan Pembangunan Pertanian Gotongroyong adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Gotongroyong yang asli di Indonesia adalah mulai ditemukan pada tahun 2000 SM sampai kira-kira tahun 1800 pada waktu bangsa-bangsa Eropa mulai datang di Indonesia. Alasan, syarat dapat dilaksanakannya gotongroyong : a. Macam pekerjaan atau proyek yang bersangkutan harus menyangkut seluruh atau sebagian besar warga masyarakat. b. Proyek yang bersangkutan adalah merupakan proyek desa setempat dan tidak dibiayai oleh pemerintah pusat atau pemerintah propinsi. c. Proyek yang bersangkutan biasanya sangat urgen untuk dapat diselesaikan dengan cepat misalnya karena menyangkut hajat hidup seluruh atau sebagian besar warga desa. Gotongroyong dapat ditingkatkan oleh pemerintah dengan cara: a. Membantu dalam bidang organisasi b. Menyediakan bahan-bahan dan alat-alat khusus c. Bantuan teknis dan management d. Bantuan keuangan

V. PRINSIP-PRINSIP EKONOMI DALAM USAHATANI 5.1. Definisi Usahatani Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan yang didirikan di atas tanah dsb. Farm, yaitu sebagai sutu tempat atau bagian dari permukaamn bumi dimana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu apakah ia seorang pemilik, penyakap ataupun manger yang digaji. Ilmu usahatani (farm management), yaitu bagian dari ilmu ekonomi pertanian yang mempelajari cara-cara petani menyelenggarakan usahatani. 5.2. Tujuan Usahatani Tujuan usahatani yaitu bagaimana petani dapat memperbesar hasil sehingga kehidupan seluruh keluarganya menjadi lebih baik. Untuk mencapai tujuan ini petani selalu memperhitungkan untung ruginya walau tidak secara tertulis. Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya (pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkan. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi. Agar tujuan usahatani tercapai maka usahataninya harus produktif dan efisien. Produktif artinya usahatani itu produktifitasnya tinggi. Produktivsitas secara teknis adalah perkalian antara efisiensi (usaha) dan kapasitas (tanah). Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input. Kapasitas tanah menggambarkan kemampuan tanah itu menyerap tenaga dan modal sehingga memberikan hasil produksi bruto yang sebesar-besarnya pada tingkat tehnologi tertentu. 5.3. Hasil Produksi dan Biaya Produksi Hasil produksi dibagi menjadi :  Hasil produksi kotor (bruto), yaitu luas tanah dikalikan hasil per kesatuan luas.  Hasil produksi bersih (netto), yaitu hasil produksi kotor setelah dikurangi semua biaya yang dikeluarkan.  Pendapatan marginal, yaitu tambahan pendapatan yang didapat dengan penambahan satu kesatuan biaya. Macam efisiensi usahatani :  Efisiensi produksi (fisik) yaitu banyaknya hasil produksi fisik yang dapat diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input).  Efisiensi ekonomi yaitu efisiensi fisik yang dinilai dengan uang. Apabila rasio hasil bersih (netto) dengan biaya produksi makin tinggi berarti semakin efisien. Penggunaan faktor produksi dianggap paling efisien apabila faktor-faktor produksi itu sudah dikombinasikan sedemikian rupa sehingga rasio dari tambahan hasil fisik (marginal physical product) dari faktor produksi dengan harga faktor produksi sama untuk setiap faktor produksi yang dipergunakan. Secara matematis dapat ditulis :


dimana : MPxi = tambahan hasil produksi fisik karena tambahansatu satuan faktor produksi Xi = faktor produksi ke i i = 1, 2, ..., n Hxi = Harga faktor produksi ke i Untuk mencapai keuntungan maksimum bisa dicapai :


Biaya produksi berdasar alat ukurnya : a. Biaya yang berupa uang tunai b. Biaya dalam bentuk inatura Biaya produksi berdasar penggunaannya : a. Biaya tetap, yaitu jensi biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi b. Biaya variabel, yaitu biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung dengan besarnya produksi c. Biaya total, yaitu keseliuruhan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi Biaya produksi berdasar hubungannya dengan produksi : a. Biaya total rata-rata, yaitu merupakan pembagian dari selurujh biaya dengan produksi b. Biaya tetap rata-rata, yaitu besarnya biaya tetap dibagi dengan seluruh hasil produksi c. Biaya bariabel rata-rata, yaitu besarnya biaya variabel dibagi dengan seluruh hasil produksi d. Biaya batas (marginal), yaitu tambahan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk menghasilkan satu kesatuan tambahan hasil produksi. Jenis biaya yang lain : - Oportunity cost, yaitu biaya yang harus ditanggung petani karena telah tidak menggunakan kesempatan terbaik (opportunity) yang dapat dipilih baik untuk menanam maupun untuk mengerjakan sesuatu. 5.4. Fungsi Produksi Fungsi produksi, yaitu suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input). Secara matematis fungsi produksi :

                  Y = f(X1, X2, ... , Xn)

dimana : Y = hasil produksi fisik

        X1 ..... Xn = faktor-faktor produksi

Faktor produksi meliputi: tanah, modal, tenaga kerja dan management. Fungsi produksi ini menganut hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing returns), yaitu perilaku kenaikan hasil produksi yang semula naik terus dan pada suatu titik tertentu kenaikan produksinya akan menurun. Hukum ini disebut juga hukum mengenai proporsi yang variabel (law of variable proportions), yaitu hukum yang menerangkan perilaku kenaikan hasil produksi tambahan, bila salah satu faktor produksi variabel dinaik turunkan dengan membiarkan faktor produksi lainnya, sehingga perbandingan jumlah (proporsi) faktor-faktor produksi berubah. Elastisitas produksi, yaitu persentase perubahan hasil produksi total dibagi dengan persentase perubfahan faktor produksi.


dimana : Y = hasil produksi (output)

        X = faktor produksi (input)
      HPM = hasil produksi marginal
      HPR = hasil produksi rata-rata

Efisiensi skala produksi dapat dibagi antara lain : a. Increasing return to scale (skala produksi yang menaik), yaitu merupakan laju kenaikan produksi yang menaik (lebih besar dari kenaikan sebelumnya) b. Constant return to scale (skala produksi yang tetap), yaitu efisiensi skala kenaikan hasil produksi hanya sebanding atau tetap sama dengan hasil sebelumnnya. c. Decreasing return to scale (efisiensiskala produksi yang menurun), yaitu skala kenaikan produksi dengan hasil produksi yang menurun (lebih kecil dari kenaikan sebelumnya). 5.5. Kombinasi Hasil-Hasil Produksi Macam kombinasi hasil produksi antara lain : a. Komoditi gabungan (joint product), yaitu komoditi-komoditi yang secara bersama-sama keluar dari satu proses produksi. Misal: beras dan katul. b. Komoditi yang bebas bersaing (competitive independent product, substitutes), yaitu komoditi-komoditi yang bersangkutan bverdiri sendiri dan bahkan saling bersaing. Misal : padi dan tebu. c. Komoditi komplementer, yaitu kenaikan komoditi yang satu malah menaikan produksi lainnya. Misal : krotolaria dan padi. d. Komoditi suplementer (tambahan), yaitu produksi satu komoditi dapat ditambah tanpa mempunyai pengaruh mengurangi atau menambah produksi komoditi lainnya. Misal : usahatani padi dan kerajinan tangan. Elastisitas of substitution, yaitu persentase perubahan produksi barang yang satu dibagi dengan persentase perubahan produksi barang lainnya.

                            o0o


VI. TANAH DALAM PRODUKSI PERTANIAN

6.1. Tanah Sebagai Faktor Produksi Tanah sebagai salah satu faktor produksi adalah merupakan pabriknya hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi keluar. Tanah sebagai faktor produksi mempunyai kedudukan yang penting, hal ini bisa dibuktikan dengan besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya. Balas jasa dari tanah dapat berupa inatura (bagi hasil) maupun sewa tanah berupa uang tunai (rent). Tinggi rendahnya sewa tanah tergantung dari : - kesuburan tanah (kemudian juga letak dari pasar) (defferential rent). - adanya kelangkaan (scarcity rent) - kegunaan tanah untuk usaha tertentu. Naik turunnya sewa tergantung naik turunnya harga komoditi, bukan sebaliknya. 6.2. Hubungan Antara Pemilik dan Penggarap Tanah Hubungan antara pemilik dan penggarap tanah tidak lain adalah merupakan hubungan antara penawaran dan permintaan. Karena tanah jumlahnya relatif tetap sedang penduduk yang memerlukan tanah selalu meningkat maka tanah dapat dikatakan semakin langka, yang berarti sewa tanah semakin tinggi atau kedudukan penggarap semakin lemah. Karena kedudukan pemilik tanah kuat maka pemilik tanah : - akan memilih menyakapkan tanahnya pada petani yang sanggup menawarkan bagi hasil yang lebih menarik. - memilih petani penyakap yang lebih rajin dan menunjukkan kesungguhan dalam mengerjakan tanah. Untuk mengatasi lemahnya kedudukan penggarap maka dibuatlah UUPBH (Undang-Undang Pokok Bagi Hasil) dengan maksud : a. adanya jaminan dalam hal waktu penyakapan b. dapat ditentukan secara lebih jelas kewajiban masing-masing pihak sehingga penyakap dapat terdorong untuk mengadakan investasi. c. agar pembagian hasil dapat bersifat adil, tidak ada fihak yang merasa dirugikan 6.3. Perpecahan dan Perpencaran Tanah Perpecahan (division) tanah adalah pembagian milik seseorang kedalam bidang atau petak-petak kecil, untuk diberikan kepada ahli-ajhli waris pemilik tanah itu. Perpencaran (fragmentasi) tanah adalah kenyataan adanya sebuah usahatani (di bawah satu managmen) yang terdiri atas beberapa bidang yang berserak-serak. Perpecahan dan perpencaran tanah mempunyai kerugian : a. kurang efisiennya penggunaan waktu b. Pengairan menjadi sulit c. pengawasan harus lebih banyak Sebab timbulnya perpecahan dan perpencaran tanah : - jual beli - pewarisan dan hibah perkawinan - sistim penyakapan (tenancy) Cara mengatasi perpencaran dan perpecahan antara lain : - land reform, yaitu usaha untuk membatasi luas minimum sawah garapan - diatur agar hanya anak-anak petani yang benar-benar ingin bertani meneruskan usahatani orang tuanya, sedangkan yang lain mendapatkan uang tunai saja. - konsolidasi tanah, yaitu penggabungan petak-petak atau bidang-bidang sawah yang berserak-serak menjadi satu atau lebih petak-petak sawah yang lebih besar. - transmigrasi ke daerah-daerah lain. 6.4. Bentuk milik Tanah dan Produksi Pertanian a. Tanah Milik Perorangan (yasan). Tanah yasan dapat dijual dan diwariskan dengan cara-cara dipecah-pecah besar kemungkinan menjadi terpusat pada pemilik-pemilik tanah kaya di desa atau di luar desa, justru mengandung aspek negatif. b. Tanah untuk kepentingan bersama (hak ulayat, hak pertuanan atau hak persekutuan) yang pelaksanaannnya dilakukan oleh Kepala Desa. Hak ulayat dapat memberikan bermacam-macam hak kepada masyarakat misal : hak menggunakan tanah sebagai tempat tinggal, tanah pertanian tempat menggembala, mengambil hasil hutan, berburu atau menangkap ikan. Namun dalam pelaksanaan harus diawasi Kepala Desa. c. Tanah Konsen (hak mengerjakan, norowito). Tanah konsen dapat diwariskan tetapi tidak dapat dipecah-pecah. Dalam sistim ini sudah ada faktor konservasi atau perlindiungann pada efisiensi penggunaan tanah. Intensitas dalam mengerjakan tanah lebih baik dibanding sistem yasan. d. Tanah Persewaan atau Penyakapan. Persewaan tanah dengan uang tunai pada saat keadaan perekonomian stabil lebih banyak dilaksanakan, sedang dalam keadaan tidak stabil lebih banyak dengan sistim bagi hasil (share cropping). Sistim bagi hasil walau tidak tertulis ternyata jarang menimbulkan sengketa. e. Hak erpact (sewa turun temurun), hak opstal, hak eigendom, hak sewa. Hak-hak tersebut hanya dilakukan oleh pemerintah Belanda untuk mendapatkan modal dari masing-masing negara Eropa yang sekarang diubah dengan : hak guna bangunan, hak milik, hak pakai dll. Hak-hak tersebut biasanya digunakan untuk tanaman tahunan. 6.5. Pengairan dan Konserevasi Tanah Pengairan yaitu meliputi pengaturan kebutuhan air bagi tanaman, sehingga didalamnya termasuk juga drainase. Irigasi yaitu membawa air dari sungai ke sawah-sawah. Macam pengairan/irigasi a. Pengairan teknis, yaitu pengairan yang menggunakan saluran-saluran tehnis. b. Pengairan setengah teknis c. Pengairan rakyat Konservasi tanah yaitu mengurangi laju pengusahaan tanah sekarang untuk memungkinkan pengusahaan yang lebih besar dikemudian hari. Tujuan diadakannya konservasi tanah adalah untuk mengatasi pengurangan kesuburan tanah sebagaiu akibat dari dikerjakan tanah tersebut terus menerus. Kerusakan tanah dapat terjadi antara lain : - pengerjaan tanah yang terus menerus - Roof bouw, yaitu eksploitasi yang berlebih-lebihan pada saat sekarang sehingga merugikan eksploitasi dimasa yang akan datang. - banjir dan erosi tanah terutama di lereng gunung Usaha konservasi tanah antara lain : - rotasi tanam - pengjhijauan

                            o0o


VII. MODAL DALAM PRODUKSI PERTANIAN

7.1. Modal Uang dan Kredit Berdasarkan pengertian ekonomis, modal yaitu barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang baru yaitu dalam hal ini hasil pertanian. Misal : ternak beserta kandangnya, cangkul, bajak dan alat-alat pertanian lain, pupuk, bibit, hasil panen yang belum dijual, tanaman yang belum dijual, tanaman yang masih di sawah dll. Berdasarkan penggunaan uang, modal yaitu uang yang tidak dibelanjakan, jadi disimpan kemiudian untuk diinvestasikan. Kredit yaitu suatu transaksi antara dua pihak dimana yang pertama disebut kreditor menyediakan sumber-sumber ekonomi berupa barang, jasa atau uang dengan janji bahwa pihak kedua (debitor) akan membayar kembali pada waktu yang telah ditentukan. Gunanya kredit yaitu sebagai suatu alat untuk membantu penciptaan modal. Macam kredit : a. Kredit investasi, yaitu kredit yang dipakai untuk membiayai pembelian barang-barang modal yang bersifat tetap yaitu habis dalam suatu proses produksi. Misal: tanah, ternak, mesin-mesin dll. b. Kredit Modal Kerja, yaitu kredit yang tidak untuk investasi. Misal: pupuk, bibit, pestisida, upa tenaga kerja 7.2. Modal Sebagai Faktor Produksi Ganti rujgi atau balas jasa dari modal yaitu berupa bunga modal atau rente yang biasanya diukur dalam persen dari modal p[okok untuk satu kesatuan waktu tertentu misalnya bper bulan, per triwulan, pertahun. Macam modal berdasar asalnya : a. Modal Sendiri (equity capital). b. Modal pinjaman (credit) c. Modal pemberian Macam modal berdasar sumberdaya : a. Modal fisik atau modal materiil. Modal fisik merupakan jelmaan dari pengetahuan mengenai cara-cara dan metode-metode baru yang bersifat tehnis (technological knowledge). Misal: bibit, alat-alat pertanian, ternak dsb. b. Modal immateriil / manusiawi (human capital). Modal manusiawi merupakan jelmaan pengetajhuan mengenai cara-cara dan metode-metode baru yang sifatnya organisatoris atau managerial (managerial knowledge). Misal: bertambahnya ketrampilan petani. 7.3. Kredit dalam Pertanian Macam kredit yang pernah diberikan pemerintah : a. Bimas b. KIK (Kredit investrasi kecil) c. KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) Pentingnya peranan kredit disebabkan oleh : a. kenyataamn bahwa secara relatif memang modal meriupakan faktor produksi non alami (bikinan manusia) yang persediaannya masing sangat terbatas terutama di negara-negara yang sedang berkembang. b. sangat kecil kemungkinan untuk memperluas tanah pertanian c. persediaan tenaga kerja yang melimpah Masalah perkreditan dalam infestasi antara lain : a. Pemberian kredit usahatani dengan bunga yang ringan perlu untuk memungkinkan petani melakukan inovasi-inovasi dalam usahataninya. b. Kredit itu harus bersifat dinamis yaitumendorong petani untuk menggunakan secara produktif dengan bimbingan dan pengawasan yang teliti. c. Kredit yang diberikan selain bantuamn modal juga merupakan perangsang untuk menerima petunjuk-petunjuk dan bersedia berpartisipasi dalam program peningkatan produksi. d. Kredit pertanian yang diberikan kepada petani tidak perlu hanya terbatas pada kredit usahatani saja yang l;angsung diberikan bagi produksi pertanian tetapi harus pula mencakup kredit-kredit untuk kebutuhan rumahtangga (kredit konsumsi). Kredit produksi dan kredit konsumsi

    Untuk membedakan antara kredit produksi dan kredit konsumsi pada usahatani subsisten sulit dibedakan, sehingga pernah diusulkan hanya dinamakan kredit tani saja.

Syarat bisa dilaksanakannya kredit konsumsi antara lain : a. Barang-barang ataunjasa yang akan diperoleh dengan kredit itu memang sungguh diperlukan sekali. b. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dan tidak dapat menunggu hingga penghasilan naik. c. Petani dapat mengambelaikan kredit tersebut dengan cara yang tidak mengakibatkan kemerosotan taraf hidupnya. 7.4. Struktur Perkreditan Pertanian Macam-macamn kredit perorangan : a. Kredit dengan jaminan tanaman (ijon) b. Kredit dengan jaminan tanah (gadai tanah) c. Kredit uang atau barang yang dibayar kembali denganuang atau barang tanpa jaminan Macam-macam lembaga perkreditan a. Bank yang meliputi Bank Desa, Lumbung Desa dan BRI b. Perusahaan Negara Pegadaian c. Koerasi-koperasi dan Koperasi Pertanian (Koperta).

                           o0o


VIII. TENGA KERJA DALAM PRODUKSI PERTANIAN

8.1. Tenaga Kerja Sebagai Faktor Produksi

    Tenga kerja dikatakan sebagai faktor produksi karena adanya balas jasa berupa upah tenaga kerja. Di masayarakat yang  sedang berkembang seperti Indonesia, tenaga kerja melimpah ruah sehingga upah tenaga kerja relatif murah. Sedang di negara maju (seperti Amerika) jumlah tenaga kerja untuk usahatani relatif langka sehingga perlu efisiensi tenaga kerja

Beberapa syarat untuk menjamin efisiensi tenaga kerja yang maksimum : a. persediaan tanah harus cukup b. alat-alat pertanian, mesin-mesin dan tanaga kerja (power) harus cukup c. Ilmu pengetahuan dan tehnologi pertanian harus cukup d. Management useahatani harus jempolan (uperior) Macam tenaga kerja berdasar penggunaannya : a. Tenaga kerja untuk usahatani kecil-kecilan (usahatani pertanian rakyat). Tenaga kerja ini sebagian besdar berasal dari keluarga petani sendiri, terdiri dari ayah, anak dan isteri petani. Tenaga kerja keluarga tidak dinilai dengan uang. Bila kurang maka petani minta tolong kepada tetangga atau familinya. b. Tenaga kerja untuk perusahaan pertanian yang besar seperti perkebunan, kehutanan, peternakan dsb. Tenaga kerja ini sebagian besar berasal dari luar keluarga. Kedudukan petani dalam usahatani : a. Menymbangkan tenaga (labor) b. Sebagai pemimpin (manager) 8.2. Produktivitas Tenaga Kerja

    Untuk negara sedang berkembang produktivitas marginal tenga kerja masih belum diketahui apakah nol atau positip. Bila nol berarti ada pengangguran tak kentara (disguised unemployment) dan bila potisip berarti bentuk penganggurannya adalah tidak penuh (under employment).

Macam underemployment a. Pengangguran yang sifatnya tehnis (misal pengangguran musiman) b. Pengangguran yang sifatnya sosial tradisional Cara meningkatkan produktivitas tenaga kerja : a. pendidikan b. latihan 8.3. Mobilitas dan Efisiensi Tenaga Kerja

    Mobilitas tenaga kerja di pedesaan untuk ke kota masih kurang dikarenakan oleh kurang adanya kesempatan kerja di perkotaan, disamping itu yang diperlukan adalah tenaga kerja yang terdidik dan terlatih. Masalah mobilitas adalah masalah alokasi dan ralokasi yang sifatnya dapat musiman / sementara maupun yang tetap. Untuk tanaman pertanian, mobilitas tenaga kerja cukup tinggi. 

Mobilitas mempunyai tujuan ekonomis antara lain : a. Sebagai cara mengurangi perbedaan tingkat pendapatan antara desa dan kota. Kalau ditinjau dari sudut petani usaha untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian. b. Sebagai suatu cara untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian Masalah efisiensi tenaga kerja tidak semata-mata me nyangkut faktor ekonomi tetapi juga non ekonomi. 8.4. Transmigrasi dan Migareasi Sebagai Perluasan Lapangan Kerja Persoalan transmigdrasi dapat ditinjau dari 4 segi : a. Sebagai persoalan pemecahan masalah penduduk pada umumnya b. Sebagai cara untuk memperluas areal tanah pertanian c. Cara untuk memperluas kesempatan kerja d. Cara untuk membantu pembangunan di daerah Macam transmigrasi berdasarkan tujuannya : a. Scara ekonomi mikro. Transmigrasi akan terjadi bila produktivitas marginal tenaga kerja di daerah baru jauh lebih tinggi dari pada produktivitas marginal tenaga kerja di daerah lama dengan memperhitungkan biaya pindah di daerah lama ke daerah baru. b. Secara ekonomi makro Transmigdrasi adalah salah satu alokasi investasi biasa yang hanya bersifat produktif apabila hasilnya melebihi biaya investasi itu.

                           o0o


IX. PERMINTAAN DAN PENAWARAN ATAS HASIL PERTANIAN 9.1. Teori Dan Penerapannya Harga, yaitu ukuran nilai dari barang-barang dan jasa-jasa. Tingkatan harga hasil pertanian dapat dibagi menjadi : a. Harga pada tingkat petani (producers price) b. Harga pada tingkat konsumen (retail price). c. Harga pada tingkat pedagang besar (wholesable price). Yang menyebabkan suatu barang mempunyai harga antara lain : a. barang itu berguna b. barang itu jumlahnya terbatas Barang yang berguna bagi manusia dan jumlahnya terbatas disebut barang-barang ekonomi. Suatu barang merupakan barang ekonomi dalam ilmu ekonomi dinyatakan barang tersebut mempunyai permintaan dan penawaran. Suatu barang mempunyai permintaan karena barang yang bersangkutan berguna, sedangkan barang tersebut mempunyai penawaran karena jumlahnya terbatas. Yang mempengaruhi permintaan antara lain : - harga barang yang bersangkutan - pendapatan, rasa, adat kebiasaan dan keadaan konsumen lainnya. Yang mempengaruhi penawaran antara lain : - harga barang yang bersangkutan - metode dan tehnik produksi, biaya produksi atau harga-haraga faktor produksi, hasil paanen per hektar dll. Kurva permintaan turun dari kiri atas ke kanan bawah artinya bila harga naik / turun maka jumlah barang yang diminta menjadi turun / naik.Sebab terjadinya hubungan negatif antara jumlah barang yang diminta dan harga antara lain : a. adanya efek penggantian (substitusi) b. adanya efek pendapatan 9.2. Konsep Elastisitas Permintaan A. Elastisitas Harga Guna konsep elastisitas harga : untuk mengukur besar kecilnya perubahan jumlah barang yang diminta konsumen sebagai akibat perubahan harga

      % perubahan jumlah barang yang diminta

e = --------------------------------------------------

      % perubahan harga

e = ~ : kurva permintaan horizontal, perubahan harga barang hanya mempunyai 2 akibat yaitu jumlah yang diminta tak terhingga atau sama dengan nol. e > 1 : permintaan elastis e = 1 : unitary elasticity, yaitu setiap perubahan harga membawa perubahan proporsional dalam jumlah yang diminta e < 1 : permintaan tidak elastis

e = 0 : kurva permintaan vertikal, berapapun harga barang, jumlah yang diminta tidak akan terpengaruh

Cara mengukur elastisitas

a. elastisitas pada satu titik di dalam kurva permintaan (point elasticity)

     dQ     P

e = --- X --

     dP     Q

dimana : Q = jumlah barang yang diminta

        P = harga

b. elastisitas diantara dua titik pada kurva (arc elasticity)

      /\Q   P1 + P2

e = ---- x ---------

      /\P   Q1 + Q2

dimana : /\Q = perubahan jumlah yang diminta

        /\P = perubahan harga
         P1 = harga yang pertama
         P2 = harga yang kedua
         Q1 = jumlah yang pertama
         Q2 = jumlah yang kedua

Untuk mengadakan perhitungan elastisitas harga yang dapat dipercaya dari angka-angka statistik ternyata diperlukan data time seriers yang panjang, paling sedikit 20 tahun. B. Elastisistas Silang Atas Prmintaan (cross elasticity) Guna elastisitas silang : untuk mengukur besar kecilnya perubahan jumlah barang yang diminta konsumen sebagai akibat perubahan harga barang lain

        % perubahan jumlah yang diminta atas barang X

es = ---------------------------------------------------------

                    % perubahan harga barang Y

es > 0 : barang X & Y merupakan barang pengganti es < 0 : barang X & Y merupakan barang komplementer C. Elastisitas Pendapatan atas Permintaan (income elasticity of demand) Gunanya : untuk mengukur besar kecilnya perubahan jumlah barang yang diminta komsumen sebagai akibat perubahan pendapatan

       % perubahan jumlah barang yang diminta

ep = --------------------------------------------------

       % perubahan pendapatan

Peranan elastisitas pendapatan : mampu menerangkan perbedaan perilaku ekonomi dari berbagai golongan pendapatan masyarakat dalam pembelian barang-barang. Cara mengukur ep : untuk negara yang belum maju berdasarkan pengeluaran (ecpenditure elasticity) yaitu perbandingan antara persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perubahan pengeluaran konsumen. D. Fleksibiltas Harga (elastisitas jumlah) Gunanya : untuk mengukur besar kecilnya perubahan harga sebagai akibat perubahan jumlah barang

       % perubahan harga

fh = -----------------------

      % perubahan jumlah

Harga dalam hal ini sebagaivariabel takbebas (dependent variable). Sedangkan jumlah merupakan variabel yang bebas (dependent variable). 9.3. Kurva Penawaran dan elastisitas Penawaran Perbedaan penawaran dengan permintaan : a. pentingnya faktor waktu dalam hal penawaran, hal ini penting karena hasil-hasil pertanian bersifat musiman, yaitu bulanan atau tahunan sehinggga suatu kenaikan harga di pasar tidak dapat segera diikuti dengan naiknya panawaran kalau memang panen belum tiba. Jadi dalam jangka pendek elastisitas penawaran in elastis. b. Pengaruh harga terhadap jumlah yang ditawarkan biasanya tidak dapat dibalikkan (irreversable), hal ini karena kalau kenaikan harga setelah beberapa waktu tertentu mendorong kenaikan jumlah yang ditawarkan maka penurunan harga tidak akan dapat mengembalikan jumlah yang ditawarkan ke tingkat sebelumnya.Macam elastisitas penawaran : A. Elastisitas Harga atas Penawaran

       % perubahan jumlah yang ditawarkan

e = ---------------------------------------------

       % perubahan harga 

yang mempengaruhi elastisitas penawaran : a. efek substitusi b. efek pendapatan (bisa positip / negatif); bila negatif terjadi kurva penawaran yang terbalik (backward bending supply curve) B. Elastisitas silang

         % perubahan jumlah barang X yang ditawarkan

es = --------------------------------------------------------

         % perubahan harga barang Y

es > 0 : maka barang X dan Y merupakan barang yang dihasilkan bersama (joint product) es < 0 : maka barang X dan Y merupakan barang yang bersaing (competitive product) 9.4. Cobweb Theorema Macam kasus Cobweb : a. Siklus yang mengarah pada fluktuasi yang jaraknya tetap (epermintaan = epenawaran)b. Siklus yang mengarah pada titik keseimbangan (epermintaan > epenawaran) b. Siklus yang mengarah pada eksplosi harga yaitu fluktuasi dengan jarak yang semakin membesar (epermintaan < epenawaran) Asumsi yang dipakai Cobweb Theorem sbb : a. Adanyan persaingan sempurna dimana penawaran semata-mata ditentukan oleh reaksi produsen perseorangan terhadap harga. Harga ini oleh setiap produsen dianggap tidak akan berubah dan produsen juga menganggap jumlah produksinya tidak akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap pasar. b. Periode produksi memerlukan waktu tertentu, sehingga penawaran tidak dapat secara langsung bereaksi terhadap harga tetapi diperlukan waktu tertentu. c. Harga ditentukan oleh jumlahbarang yang datang ke pasar dan harga itu cepat bereaksi terhadapnya.

                           o0o


X. TATANIAGA PERTANIAN 10.1. Arti dan Fungsi Tataniaga Tataniaga / pemasaran / distribusi, yaitu suatu macam kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Syarat efisiensinya tataniaga : a. mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya. b. mam,pu mengadakan pembagian yang adil dari pada keseluruhan harga yang dibayar konsusmen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu. Biaya tataniaga di Indonesia masih tinggi disebabkan oleh bermacam-macam, misal jalan yang buruk, kelemahan modal petani, industri pengolahan yang belum maju dsb. Macam perdagangan : a. distribusi, yaitu barang yang diproduksi oleh suatu pabrik pada tempat tertentu kemudian dibagi-bagi ke pelosok yang tersebar. b. pengumpulan, yaitu menunjuk pada kegiatan mengumpulkan hasil-hasil yang jumlahnya sedikit dari petani produsen yang tersebar-sebar. Fungsi tataniaga : mengusahakan agar pembeli memperoleh barang yang diinginkan pada tempat, waktu dan bentuk serta harga yang tepat (pengngkutan, penyimpanan dan pengolahan). 10.2. Biaya Tataniaga (marketing margin) Semakin maju ekonomi suatu negara maka biaya pemasaran akan semakin tinggi. Tinggi rendahnya biaya tidak bisa dibandingkan dengan efisiensi tataniaga . Yang mempengaruhi biaya tataniaga antara lain : a. Kualitas produk b. daya tahan produk c. faktor resiko d. macam komoditi e. daerah / lokasi pemasaran f. pungutan-pungutan resmi/tidak resmi g. macam lemnbaga pemasaran & efektifitas pemasaran yang dilaksanakan 10.3. Industri Pengolahan Hasil-Hasil Pertanian Makin maju suatu negara, industri pengolahan hasil pertanian semakin penting dalam pemasaran. Semula dari barang setengah jadi menjadi barang-barang yang siap dikonsumsikan. Dengan adanya pengolahan hasil pertanian, diharapkan keuntiungan yang didapat menjadi semakin tinggi. 10.4. Grading dan Standardisasi Grading, yaitu klasifikasi hasil-hasil pertanian ke dalam beberapa golongan mutu yang berbeda-beda, masing-masing dengan nama dan etiket tertentu. Standardisasi, yaitu penentuan mutu barang menurut ukuran atau patokan tertentu. Keuntungan grading yang baik, adil dan teliti antara lain : a. Konsumen dapat memperoleh barang yang paling sesuai dengan keinginannya dan tingkat pendapatannya. b. Produsen mendapat jaminan memperolejh harga yang sesuai dengan mutu hasil produksinya c. Konsumen dan produsen terlindung dari praktek-praktek kurang jujur dalam tataniaga. o0o


XI. PASAR DAN KEBIJAKSANAAN TATANIAGA 11.1. Sifat-Sifat dan Bentuk-Bentuk Pasar

    Sifat harga hasil pertanian yaitu adanya variasi / kegoncangan kegoncanganyang khas antara saat panen dan musim panen. Harga naik pada saat paceklik dan harga turun pada saat panen. Naik turunnya harga dipengaruhi oleh naik turunnya permintaan atau turun naiknya penawaran.

Kegoncangan harga di negeri yang belum maju disebabkan oleh : a. peranan sektor pertanian masih sangat penting b. sebagai akibat, dan berhubungan erat dengan kenyataan tersebut, pemerintah dan sektor-sektor di luar pertanian belum mampu untuk menyumbang pada stabilisasiharga-harga hasil pertanian itu. Bentuk-bentuk pasar diantaranya : a. Pasar persaingan sempurna yang punya syarat sebagai berikut - jumlah penjual dan pembeli banyak - barang yang diperdagangkan harus homogen (sama) - bebas menjual / membeli di pasar - pengetahuan yang sempurna dari penjual dan pembeli. b. Monopoli, yaitu jumlah penjual 1 dan pembeli banyak c. Monopsomi, yaitu satu pembeli berhadapan denganpenjual yang banyak. d. Oligopoli / Oligopsomi, beberapa penjual dan beberapa pembeli. 11.2. Struktur Tataniaga Beberapa Hasil Pertanian a. Struktur Tataniaga beras, ada 2 yaitu : 1) Saluran swasta Petani ↓ Huller Desa ↓

Pedagang Besar

↓ Pedagang Pengecer ↓ Konsumen






2) Saluran Pemerintah

Petani ↓ Huller Desa ↓ Pedagang Besar ↓ Dolog (depolog) ↓ Kantor-kantor Pemerintah ↓ Konsumen


b. Struktur tataniaga kopi di Lampung








Keterangan :

tetap
                   : kadang-kadang
                   : jarang
              

A. Petani Produsen mengolah kopi menjadi beras kualitas asalan B. Tengkulak desa merupakan tengkulak pengumpul yang mendatangi desa-desa merupakan tangan kanan dari pedagang lokal C yang menyediakan modal atau alat pengankutan bagi B C. Pedagang lokal (di kecamatan) disebut Cengkau, pengumpul kopi dari tengkulak-tenkulak dan petani-petani yanbg menjual langsung. D. Pedagang hasilbumi (diibu kota Telukbetung) kedudukannya sama dengan C tapi lebih besar. E. Eksportir membeli kopi dari D, C dan lkadang-kadang juga dari B dan A, eksportir ini mensortir / mengolah untuk kualitas ekspor. F. Pedagang Luar Negeri

11.3. KebijaksanaanMemajukan Industri Pengolahan

     Pada umumnya pengolahan dan pengawetan bahan-bahanpertanian memerlukan biaya yang tidak sedikit. Padahal tanpa adanya pengolahan dan pengawetan bahan-bahan hasil pertaniankonsumen kurang tertarik akan hasil-hasil pertanian dan tataniaga hasil pertanian menjadi terhambat akibat selanjutnya produsen (petani) menjadi kurang bergairah memproduksi kemnbali. Oleh karena itu pemasaran akan industri pengolahan harus datang lebih dahulu harus ditingkatkan.

11.4. Tataniaga dan Pembangunan Pertanian

    Bahwa perkembangan tataniaga memang merupakan kunci dari pembangunan pertanian. tanpa pasar, produksi pertanian tidak akan lancar. Oleh karena itu pemerintah perlu memberikan sarana dan fasilitas-fasilitas pemasaran hasil pertanian misalnya jalan yang baik, kebijaksanaan pajak yang menddukung dan peraturan-peraturan daerah yang lain.

o0o


XII. PERSOALAN-PERSOALAN PERDAGANGAN 12.1. Asal Mula dan Sebab-Sebab Perdagangan

    Pada pertanian subsisten tidakj terjadi perdagangan karena setiap keluarga petani memenuhi segala keperluannya dari dalam rumah tangga dan usahataninya sendiri dan tidak menjual hasil-hasilnya ke l uar. Dengan berkembangnya pertanian, maka petani mencari sarana produksi dari luar dan mulai menjual hasil-hasil produksi usahataninya keluar. Keperluan petani makin lama makin berkembang sehingga dia perlu tukar menukar antar produk sehingga timbullah spesialisasi dalam berusahatani.
    Bahwa usahatani banyak tergantung dari sifat alam sehingga antara daerah yang satu dengan daerah yang lain menghjasilkan hasil usahatani yang berbeda, oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan yang semakin beraneka ragam petani mengadakan tukar menukar antar daerah, dan selanjutnya antar pulau dan akhirnya antar negara.
    Sebab-sebab terjadinya perdagangan ada beberapa teori al:

a. Teori keuntungan absolut (lalw of absolute advantage) Prinsip hukum keuntungan absolut mengatakan bahwa : suatu negara akan berspesialisasi dalam berproduksi barang dimana negara tgersebut mempunyai absolute advantage. Contoh : Komoditi Daerah A Daerah B Padi 50 unit 25 unit Kelapa 25 unit 50 unit Dari tabel di atas berarti daerah A lebih baik menanam padi karena keuntiungan absolutnya akan lebih tinggi dibanding menanam kelapa, sebaliknya daerah B lebih menguntungkan menanam kelapa. Dengan demikian apabila daerah A perlu kelapa lebih baik membeli ke daerah B; sebaliknya bila daerah B perlu padi maka lebih baik beli dari daerah A. b. Teori keuntungan komparatif / relatif Teori keuntungan komparatif / relatif menyatakan bahwa suatu daerah akan menghasilkan dan kemudian mengeksport suatu barang yang mempunyai keuntungan komparatif terbesar atau kerugian komparatif terkecil Contoh : Komoditi Daerah A Daerah B Gula 40 unit 20 unit Tembakau 30 unit 10 unit Dari tabel di atas daerah A untuk gula punya keuntungan komparatif sebesar 40 : 20 = 2, sedang untuk tembakaiu keuntungan komparatifnya 30 : 10 = 3 dengan demikian daerah A akan memproduksi tembakau karena keuntungan komparatifnya lebih besar. Pada daerah B gula keuntungan komparatifnya 20 : 40= 0,5, sedang untuk tembakau keuntungan komparatifnya 10 : 30 = 1/3 jadi daerah B lebih baik memproduksi gula karena keuntungan komparatifnya lebih besar. 12.2. Spesialisasi dan Diversifikasi

    Faktor-faktor yang mendorong spesialisasi suatu daerah :

a. Tidak adanya sumber-sumber alam yang berarti b. Keuntungan komparatif yang tinggi dalam satu produk, baik dalam persediaan bahan baku maiup[un dalam permodalan, ketrampilan dan kecakapan manusia dan upaya pembangunan lain. c. Hubungan transport dan komunikasi yang cukup baik dengan daerah-daerah lain sehingga keburukan-keburukan spesialisasi tidak perlu timbul. d. Industri pertanian yang bersangkutan memungkinkan pembagian kerja yang baik dengan daerah-daerah sekitarnya, sehingga membawa keuntungan secara nasional.

    Faktor-faktor yang mendorong diversifikasi

a. Prospek jangka panjang yang kurang menentu dari satu hasil utama b. Tersedianya sumber-sumber alam lain yang mempunyai prospek yang baik dan permintaan yang lebih elastis c. Biaya transport yang tinggi dalam ekspor impor antar daerah 12.3. Perdagangan Antar Pulau

    Sudah sejak jaman dulu Jawa mempunyai surplus perdagangan dibanding luar Jawa terutama beras dan gula pasir./ Luar Jawa punya surplus kopra, ikan ain dan hasil-hasil tanaman perkebunan. Berdasarkan komposisinya Jawa surplus barang jadi, sedang Luar Pulau Jawa untuk barang-barang mentah dan setengah jadi.

12.4. Perdagangan Luar Negeri

    Perekonomian Indonesia bersifat terbuka, sehingga maju mundurnya tergantung juga maju mundurnya perekonomian dunia. Perekonomian Indonesia masih besar pada apenyediaan bahan-bahan mentah dan hasil-hasil pertanian. Sumbangan terbesar devisa masih berada pada sektor pertanian. Ekspor hasil pertanian terutama karet, namun persentasenya makjn lama makin turun. Setelah karet perkembangnan ekspor berikutnya adalah kayu terutama dari Kalimantan.

12.5. Bantuan Pangan dan Pertanian

    Indonesia yang mempunyai penduduk luas pada mulanya masih kekurangan bahan pangan, sehingga perlu bantuan dari negara kaya baik berupa hadiah (grant) maupun berupa kredit, baik secara bilateral maupun secara multilateral.
    Peranan bantuan pangan dan sandang di Indonesia al :

a. sebagai alat untuk mengendalikan inflasi melalui penekanan harga barang-barang konsumsi dan b. sebagai sumber pembiayaan pembangunanyaitu dari hasil penjualan komoditi itu di dalam negeri.

    Bantuan pangan disamping mempunyai peranan di atas juga ada efek negatifnya yaitu mengurangi gairah petani meningkatkan produktivitasnya. Bahaya bantuan pangan tersebut diantaranya lagi :

a. Pengaruh yang negatif, terhadap perangsang investasi dalam pertanian di negeri penerima bantuan karena harga pangan menjadi tertekan. b. Tekanan inflatoiir yang mungkin disebabkan oleh akumulasi uang hasil penjualan pangan (Counterpart funds). c. Kalau karena sesuatu soal politik sehingga bantuanterpaksa terhenti maka akibatnya dapat sangat buruk bagi program-program pembangunan yang sedang berjalan. d. Bahaya bantuan pangan merupakan pengganti bentuk bantuan-bantuan lainnya berupa proyekl-proyek mungkin lebih bermanfaat. e. Bahaya bagi negara-negara lain yang biasanya menjadi ekportir pangan yang kedudukannya diambil alih. 12.6. Perjanjian dan Kerjasama Internasional dalam Hasil-Hasil Pertanian

    Mengingat harga-harga hasil pertanian berfluktuasi, maka untuk mengatasi hal ini perlu dibentuk kerjasama  / organisasi yang menangani hal tersebut dengan tujuan antara lain :

a. stabilisasi harga komoditi b. stabilisasi penerimaan Untuk hal itu telah dibentuk beberapa organisasi al : a. International Rubber Study Group (IRSG); International Rubber Association & Association of Natural Rubber Producing Countries, untuk tanaman karet. b. International Coffe Organization untuk Kopi.


                           o0o


XIII. TEORI-TEORI PEMBANGUNAN PERTANIAN


13.1. Pertamnian dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

    Sejak Repelita I mulai 1 April 1969 pembangunan pertanian diprioritaskan dalam bidang pembangunan ekonomi, hal ini dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya : 

a. konstribusinya dalam pendapatan nasional b. peranannya dalam pemberian lapangan kerja pada penduduk yang bertambah cepat c. konstribusinya dalam penghasilan devisa d. dan lain-lain.

    Pembangunan pertanian harus sejalan dengan pembangunanbidang lain karena mempunyai kaitan erat. Pembangunan pertanaian didorong dari segi penawaran dan dari segi fungsio produksi melalui penmelitian-penelitian, pengembangan tehnologi pertanmian yang terus menerus, pembangunan prasarana sosial dan ekonomi di pedesaan, dan investrasi-investasi oleh negara dala,m jumlah besar. Pertanian dianggap sebagai sektor pemimpin (leading sector) yang diharapkan mendorong sektor-sektor lainnya. Dalam merumuskan pembangunan ekonomi yang lebih teliti, pertanian tidak hanya diharapkan dengan industri dalam model dua sektor (two sectors model) tetapi model antar sektor.

13.2. Model-Model Pembangunan Pertanian

    Model-model pembangunan pertanian yang bisa dipilih negara berkembang diantaranya :

a. Model Jepang Model ini didasarkan atas usahatani yang kecil-kecilan (seperti Indonesia). Model Jepang cukup berhasil dikarenakan antara lain oleh : - dapat dilakukan secara serentak antara sektor pertanian dan sektor industri. - sektor-sektopr saling membantu dan kemajuan yang dicapai sektor industri jauh lebih cepat dari sektor pertanian, sehingga kenaikan tenaga kerja sektor pertanian semuanya dapat diserap oleh sektor industri baik yang sangat modern maupun yang setengah modern., - tidak diinginkannya modal asing, dana-dana pemnbangunan sebagianbesar disumbangkan oleh sektor pertanian dalam bentuk pajak tanah dan cukai yang berat. - jumlah penduduk dan tenaga kerja yang terus berkembang secara absolut menyebabkan dapat diadakannya tabungan dan investasi. b. Model Maxico Model ini didasarkan atas perusahaan pertanian yang komersiil yang sangatefisien yang jumlahnya tidak banyak c. Model stalin Model ini diikuti negara-negara sosialis Eropa Timur, Cina, Kuba dll. d. Model Israil Model ini diikuti olejh negara-negara Afrika 13.3. Syarat-syarat Pembangunan Pertanian

    Syarat mutlak pembangunan pertanian antara lain ;

a. Adanya pasar untuk hasil-hasil usahatani b. Tehnologi yang senantiasa berkembang c. Tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal d. Adanya perangsang produksi bagi petani e. Tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinyu

    Syarat pelancar pembangunan pertanian antara lain :

a. pendidikan pembangunan b. kredit produksi c. kegiatan gotongroyong petani d. perbaikan dalam perluasan tanah pertanian e. perencanaan nasional daripada pembangunan pertanian 13.4. Tehnologi dan Pembangunan Pertanian

    Tehnologi dapat diartikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan ketrampilan di bidang industri. Perubahan tehnologi dapat meliputi perubahan tehnik (technical change) dan inovasi (innovation). Istilah perubahan tehnik jelas menunjukkan usur perubahan suatu cara baik dalam produksi maupun dalam distribusi barang-barang dan jasa-jasa yang menjurus ke arah perbaikan dan peningkatan produktivitas.

Inovasi berarti pula penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, inovasi bersifat baru. Suatu pengenalan tejhnologi baru selalu timbul dampak iuntung dan rugi, oleh karena itu untuk menerimanya diperlukan waktu. Untuk satu daerah dengan daerah lain lamanya waktu penerimaan berbeda beda tergantung dari situasi dan kondisi setempat. 13.5. Menuju Teori Pembangunan Pertanian Indonesia

    Pembangunan pertanian ditinjau dari 4 segi pandangan al:

a. pandangan sektoral, yaitu pertanian ditinjau sebagai satiu sektor berhadapan dengansektor-sektor lainnya dalam perekonomian nasional. b. masalah efisiensi dalam pembangunan faktor-faktor produksi pertanian c. pendekatan darisegi komoditi terutama komoditi-komoditi utama yang dihasilkan d. pendekatan dari segi pembangunan daerah

    Secara ekonomi makro pembangunan pertanian dapat dianalisa melalui kerangka pemikiran :

a. peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi b. sifat-sifat ekonomi dari pada pertanian tradisionil c. proses ekonomidario pada modernisasi pertanian

    Dalam pembangunan pertanian maka peranan pemerintah sangat diperlukan, yaitu pemerintah yang berorientasi pada kemjuan (progress oriented government), yaituj pemerintah yang

a. berwibawa dan mempunyaikekuasaanm yang cukup besar b. kemampuan untuk mewariskan aspirasi dan keinginan seluruh rakyat c. kesungguhan kerja, dan d. mempunyai kemampuan profesi untuk merumuskan dan melaksanakan pembharuan-pembaharuan organisasi dan kelembagaan yang saling berhubungan guna mencapai pembangunan ekonomi yang mantap.

XIV. PERNAN PEMERINTAH DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN 14.1. Kebijaksanaan Pertanian

    Perssoalan yang dipelajari oleh kebijaksanaan pertanian yaitu bagiandari pada kebijaksanaan ekonomi yang menyangkut kepentingan sektor pertanian. Kebijaksanaan pertanian adalajh merupakan serangkaian tindakan-tindakan yang telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan umum kebijaksanaan pertanian adalah memajukan pertanian, mengusahakan agar pertanan menjadi lebih produktif, produksi dan efisien produksi naik dan akibatnya tingkat pengjhidupan petani yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih merata 
    Kebijaksanaan pertanian dapat berupa peraturan-peraturan perundanganyang berlaku. Peraturan dapat berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bersifat pengatur (regulating policies) dan pembangian pendapatan yang lebih adil dan merata (distributive policies). 
    Kebijaksanaan yang spessifik melalui berbagai bidang yang penting diantaranya : 

a. Kebijaksanaan harga

    Kebijaksanaan ini biasanya digabung dengan kebijaksanaan pendapatan sehingga disebut kebijaksanaan harga dan pendapatan (price and income policy). Dariu segi harga kebijaksanaan itu bertujuan untuk mengadakan stabilisasi harga, sedangkan dari segi pendapatannya bertujuan agar pendapatan petani tidak terlalu berfluktuasi dari musim ke musim dan dari tahun ke tahun. Tujuankebijaksanaan harga yang lain yaitu memberikan arah dan petunjuk pada jumlah produksi. 
    Caramelaksanakan kebijaksanaan harga antara lain pe,mberian suatu penyangga (support) atas hasil-hasil pertanian sujpaya tidak terlalu merugikan petani atau langsung mengandung sejumlah siubsidi tertentu bagi petani. 

b. Kebijaksanaan Pemasaran

    Tujuan kebijaksanaan pemasran yaitu untuk memperkuat daya saing petani. Cara kebijaksanaan pemasaran ini yaitu dengan cara memberi tekanan pada perubahan mata rantai pemasaran dari produsen ke konsumen dan memberikan jaminan harga minimum yang stabil pada petani.

c. Kebijaksanaan Strukturil

    Maksud kebijaksanaan strukturil yaitu untuk memperabiki struktur produksi misalnya luas pemilikan tanah, pengenalan dan penguasaan alat-alat pertanan yang baru dan perbaikan prasarana pertanian p[ada umumnya baik prasarana fisik maupun sosial ekonomi 

14.2. Kebijaksanaan Pertanian dan Industri

    Perbedaan antara pertanian dan industri antara lain :

a. Produksi pertanian sangat kurang pasti dan resikonya besar karena tergantung pada alam yang kebanyakan di luar kekuasaan manusia untuk mengontrolnya, sedangkan dindustri tidak demikian b. Pertanian memproduksi bahan-bahan makanan pokok dan bahan-bahan mentah yang dengan majunya ekonomoi dan naiknya tingkat hidup manusia permintaannya tidak akan naik seprti pada permintaan atas barang-barang industri. c. Pertanian dalam bidang usaha dimana tidak hanya faktor-faktor ekonomi saja yang menentukan tetapi juga faktor-faktor sosiologi, kebiasaan dan lain-lain memegang peranan penting sedang industri lebih bersifat lugas (zakelijk). d. Elastisitas harga atas permintaan dan penawaran hasil-hasil pertanian jauh lebih kecil dari pada hasil-hasil industri e. Pertanan biasa diusahakan di pedesaan sedang industri di perkotaan dimana pendapatan penduduk kota jauh lebih tinggi dibanding pendapatan penduduk pedesaan, dimana hal ini disebabkan antara lain : - kestabilan dan kemantapan yang lebih besar dari pendapatan penduduk kota - lebih banyaknya lembaga-lembaga ekonomidamn keuangan yang dapat mendorong kegiatan ekonomi di kota - lebih banyaknya fasilitas pendidikan dan kesehatan di kota memungkinkan rata-rata produktivitas tenaga kerja di kota lebih tinggi., 14.3. 3iversifikasi Pertanian

    Diversifikasi horizontal atau penganekaragaman pertanian adal;ah usaha untuk mengganti atau meningkatkan hasil p[ertanian monokultur (satu jenis tanaman) ke arah pertanian yang bersifat multikultur (banyak macam).
    Diversifikasi vertikal yaitu usaha untiuk memajukan industri-industri pengoglahan hasil-hasil pertanian yang bersangkutan .
    Alasan melakukan diversifikasi antara lain :

a. stabilisasi dalam pendapatan pertanian b. menghilangkan ketergantungannya paa satu atau dua jenis komoditi saja

    Keuntungan diversifikasi :

a. dari segi penawaran, diversifikasi dapat mendatangkan kenaikan pendapatan pada petani karena sistim tumpangsari atau pertanian ca,mpuran semuanya dapat dilakukan pada tanah y ang sama. Bagi pemerintahdiversifikasi dapat mengurangi beban uangk mengadakan pengawasan produksi atas komoditi yang berlebihan. b. dari segi permintaan kenaikan dapat diharapkan baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri selama tanaman deversifikasi benar-benar mempunyai elastisitas pendapatan yang lebih besar. Pada waktu yang bersamaan produksi tanaman-tanaman yang mempunyai nilai gizi tinggi akan terdorong sehingga selera penduduk dapat naik. c. dari segi pembangunan ekonomi keseluruhan, dfaopat meningkatkan perkembangan ekonomi keseluruhan. 14.4. Perencanaan Pertanian

    Perencanaan pertanian adalah proses memutuskan apa yang hendak dilakujkan mengenai tiapa kebijaksanaan dan kegiatan yang mempengaruhi pemnbangunan pertanian selama jangka waktyu tertentu. Ciri khusus perencanaan adalah penentuan dan pemilihan prioritas. Rencana kebijaksanaan produksi bidang pertanian tidak semudah industri karena menyangkut usahatani kecil-kecilan yhang jumlahnya banyak, sehingga pemerintah tidak bisa merencanakan produksi tetapi hanya bisa memberikan kebijaksanaan yang mendorong meningkatknya produksi. Yang penting bagi petani adalah naiknya p endapatan.
    Perencanaanb pembangunan pertanian mungkin yang direncanakan pusat berbeda keadaannya dengan di daerah, hal ini dikarenakan beragamnya daerahj-daerah di seluruh Indonesia. Rencana pembangunan pertanian ini paling populer mulai adanya Repelita I yang memprioritaskan pembangunan ekonomi untuk bidang pertanian, hal inibisa dibuktikan di :

a. anggaran pembangunan yang paling b esar bagi sektoir pertanian dan irigasi., b. proyek-proyek pertanian adalah yang paling banyak c. kebijaksanaanumum perekonomian semuanya diarahkanuntuk mendorong pembangunan pertanian

                           o0o


XV. PENELITIAN EKONOMI PERTANIAN 15.1. Penelitian Ekonomi Pertanian di Indonesia

    Sejak Repelita I maka pekerja-pekerja penelitian dari lembaga-lembaga penelitian banyak diminta untuk mengadakan penelitian-penelitian ekonomi pertanian baik yang bersifat penelitian-penelitian ekonomi murni maupunyang terp[akai untuk kebijaksanaan, hal inidikarenakan Repelita ini menekankan pembangunan pertanian. Mulai saaat itu pula maka dibentuklah lembaga penelitian yang bertujuan untuk mencariu jalan keluar dalam hal meningkatkan taraf hidup petani.

15.2. Metode-metode Pendekatan Penelitian

    Ekonomi pertanian tidaklah menjadi perhatianb para sarjana ekonomi saja tetapi juga sarjana-sarjana keahlian lain. Dari sinijelas bahwa dalam hal iniada praktek pinjam meminjam metode analisa. Sebagai contoh adalah meminjam istilah kedokteran sbb:

pertama dikenal fase orioetnasi (symtomas) yang disebut agronomi sosial; fase kedua adalah perumusan masalah (propgnose dan diagnose) dan kemudian diikuti oleh fase pengobatan (therapi, traetment). 15.3. Pendidikan Kader-kader Penelitian

    Cara menggitatkan kader-kader penelitan antara lain :

a. dengan melalui program khusus pendidikan dan latihan penelitian misalnya berupa lokakarya (workshop) b. dengan memperbaiki sistim pendidikan dan kurikulum perguruan tinggi dimana diusahakan agar mahasoiswa secara otomatios menaruh minat yang lebih besar pada penelitian.

                           o0o


DAFTAR PUSTAKA MUBYARTO, 1979, Pengantar Ekonomi Pertanian, LP3ES, Jakarta, 243 hal.



                              o0o


                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                      PERIODE : JULI 1987
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: Sabtu, 11 Juli 1987 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

        =============================================

1. Tujuan pokok Ilmu Ekonomi Pertanian adalah mempelajari kesejahteraan masyarakat, khususnya masuarakat tani. Dengan cara bagaimanakah kesejahteraan itu diukur serta landasan apakah yang dipergunakan dalam pengukuran itu.

2. Alah satu tujuan pokok usaha pertanian adalah memperoleh keuntungan. Apakah yang disebut dengan rentabilitas usaha pertanian itu ?

3. Pemerintah mengambil kebijaksanaan dalam rangka mengendalikan harga hasil-hasil pertanian. Terangkanlah secara ringkas arti dan tujuan penetapan harga dasar (floor price) dan harga atap (Ceiling price) bagi sejumlah hasil-hasil pertanian dewasa ini.

4. Jelaskanlah kemungkinan-kemungkinan perubahan akan permintaan suatu hasil pertanian A, yang dipengaruhi oleh perubahan harga hasil pertanian B. Atas dasar perubahan tersebut, jelaskan kemudian hubungan antara hasil pertanian A dan hasil pertanian B.

                           ooo O ooo
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : DESEMBER 1987
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: SABTU, 12 DESEMBER 1987 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

         ===========================================

1. Apakah tujuan kita mempelajari Ilmu Ekonomi Pertanian ? 2. Kegiatan usaha perikanan laut termasuk dalam kegiatan usaha pertanian dalam arti luas, sedangkan proses pengolahan ikan laut tidak termasuk dalam usaha pertanian, jelaskan jawaban saudara ! 3. Bahan makanan pokok adalah kebutuhan primer masyarakat, apabila harga bahan makanan dirasakan oleh masyarakat terlalu tinggi, tindakan apa yang dilakukan oleh pemerintah dan bagaimana mekanismenya. 4. Pembayaran kembali dari sumber daya tanah adalah renta tanah. Berikan contoh dengan data hipotetis, bahwa rentabilitas yang tinggi tidak menjamin keuntungan.

                           ooo O ooo
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                      PERIODE : MEI 1988
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: RABU, 04 MEI 1988 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

         ==========================================


1. Berikan definisi atau batasan tentang : a. Ekonomi Pertanian b. Rentabilitas Pertanian c. Pasar

2. a. Lengkapilah tabel sumberdaya yang dipergunakan dalam proses produksi pertanian berikut :

Daftar isi

=================================================

Jenis sumberdaya Contoh sumberdaya Pengembalian sumberdaya


Tanah ................. .................... ................ ................. Upah ................ Pupuk .................... ................ ................. ....................


b. Suatu usahatani asparagus menanamkan modal (investasi) sebesar Rp. 100.000.000,- dengan masa proses produksi selama 6 bulan. Usahatani tersebut memperoleh penerimaan sebesar Rp. 125.000.000,-. Berapakah tingkat rente per bulan yang didapatkan oleh usahatani tersebut ?

3. Gambarkan dengan berilah penjelasan : a. Fungsi permintaan :

   Apabila jumlah barang yang diminta bertambah

b. Fungsi biaya penerimaan : Tentukan tempat kedudukan produksi optimal.

4. Permintaan suatu barang (A), sering dipengaruhi oleh harga barang lain (B). Berikan contoh dan penjelasan hubungan antara barang (A) dan (B) yang ditunjukkan oleh elastisitas silang kedua barang tersebut.

                           ooo O ooo
                    UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : NOPEMBER 1988
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 24 NOPEMBER 1988 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

============================

1. a. Berikan batasan Ekonomi Pertanian b. Sebutkan tujuan pokok kegiatan Ekonomi Pertanian

2. Pemerintah telah membuat kebijaksanaan harga pada komoditi-komoditi pertanian tertentu. a. Apakah tujuan dari kebijaksanaan harga tersebut ? b. Pada saat-saat apakah ketentuan harga dasar (floor price)dan ketentuan harga tertinggi (ceiling price) suatu komoditi pertanian diperlukan ?

3. Pada tahun 1984 Indonesia sudah mencapai tingkat swasembada beras, namun hingga sekarang dan selanjutnya upaya diversifikasi pangan tetap diusahakan. a. Apakah yang dimaksud dengan swasembada beras ? b. Apakah sebabnya upaya diversifikasi pangan tetap diusahakan ?

4. Apabila saudara akan mendirikan suatu perusahaan pertanian, a. Sebutkan sumberdaya apakah yang diperlukan. b. Jelaskan kegunaan analisis rentabilitas tanah dalam perusahaan pertanian tersebut.

                           ooo O ooo
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                      PERIODE : JUNI 1989
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 15 JUNI 1989 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

============================

1. Berikan penjelasan secara singkat dan jelaskan :

a. Efisiensi teknis b. Efisiensi ekonomis c. Elastisitas harga terhadap permintaan d. Barang subtitusi e. Barang komplemen.

2. Gambarkan fungsi produksi klasik dan berikan penjelasan tentang :

a. Daerah efisien, tetapi tidak rasional b. Efisiensi teknis c. Hubungan antara usaha intensifikasi pertanian dengan hukum kenaikan hasil yang semakin kurang.

3. Maksud utama pemerintahan dalam menetapkan harga dasar (floor price) dan harga tertinggi (ceiling price), adalah dalam rangka melindungi petani produsen dan masyarakat konsumen. Uraikan secara singkat mekanisme kebijaksanaan harga tersebut. (harap disertakan gambar). 4. Sebutkan dan berikan penjelasan tujuan pokok ilmu ekonomi pertanian.

                        --- o0o ---
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : NOPEMBER 1989
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 16 NOPEMBER 1989 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

============================

Petunjuk : - Soal Ujian dikembalikan bersama lembar jawaban ! - Pilihlah 4 (empat) dari soal-soal dibawah ini !


1. Jelaskan istilah di bawah ini secara singkat dan benar serta perbedaannya.

a. Floor price dan ceiling price b. Permintaan dan penawaran komoditi pertanian c. Elastisitas sendiri (Own elasticity) dan elastisitas silang (cross elastisity).

   d. Normal goods dan inferior goods

e. Iso-cost dan iso-product.

2. Apa pentingnya mengetahui elastisitas permintaan ?. Dan apa pula pentingnya mengetahui elastisitas permintaan jangka pendek (short run) dan jangka panjang (long run).

3. Jelaskan bekerjanya mekanisme kebijaksanaan harga komoditas pertanian !.

4. Tujuan utama mempelajari ilmu ekonomi pertanian adalah untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat petani. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan cara mengenalkan teknologi baru.

a. Bagaimanakah cara mengukur kesejahteraan masyarakat. b. Sebutkan jenis-jenis teknologi baru yang dapat diterapkan di bidang pertanian.

5. Petani sebagai pengusaha pertanian sedapat mungkin bekerja secara efisien dan rasional.

a. Secara teoritis, dimanakah daerah kerja petani tersebut di dalam fungsi produksi (sertakan gambar).

   b. Pada tingkat manakah diperoleh efisiensi teknis tertinggi.

c. Kapankah diperoleh efisiensi ekonomis tertinggi.

6. Jelaskan dengan gambar !

a. Pengaruh harga input terhadap produksi pertanian. b. Pengaruh perubahan produksi pertanian terhadap penawaran hasil pertanan yang bersangkutan.

   c. Pengaruh perubahan penawaran terhadap harga hasil.

7. Diketahui : Y = A + Bx2 + Cx + Dx3

Buktikan, bahwa pada saat produksi rata-rata sama dengan produk marginal, terjadi efisiensi teknis tertinggi.

                        --- o0o ---
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : JUNI 1990
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 14 JUNI 1990 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

============================

1. Fungsi produksi penting sekali untuk diketahui secara teoritis maupun aplikasinya dibidang pertanian. a. Berikan penjelasan disertai dengan gambar tentang fungsi produksi klasik. b. Terdapat beberapa macam fungsi produksi, sebutkan 3 macam dan tuliskan bentuk rumusan matematiknya.

2. Secara teoritis, dipelajari upaya untuk melakukan efisiensi dalam pertanian. a. Sebutkan beberapa efisiensi dalam usaha pertanian dan jelaskan artinya. b. Apabila dikaitkan dengan teknologi pertanian, bagaimanakah cara pengambilan keputusannya.

3. Harga hasil pertanian, merupakan perangsang bagi produsen, sehingga fluktuasi harga hasil pertanian, sering merisaukan masyarakat. a. Jelaskan proses terjadinya fluktuasi harga hasil pertanian b. Bagaimanakah cara penanggulangannya, khususnya bagi komoditi politis.

4. Pupuk merupakan sarana produksi pertanian yang sangat penting, apabila subsidi harga pupuk dilepaskan tentunya akan memberikan pengaruh terhadap produksi dan pasar hasil pertanian.

a. Setujukah anda terhadap pernyataan tersebut, berikan alasannya.

   b. Gambarkan secara teoritis, pengaruh dilepaskannya subsidi tersebut terhadap produksi dan pasar hasil pertanian.
                          --- o0o ---
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : NOPEMBER 1990
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 22 NOPEMBER 1990 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

         ============================================

1. Berikan difinisi/batasan tentang  :

  a. Barang tuna nilai.

b. Fungsi produksi marginal. c. Efisiensi usahatani. d. Harga dasar hasil pertanian. e. Elastisitas harga hasil pertanian.

2. Fungsi produksi, adalah hubungan antara perubahan produksi fisik sebagai akibat dari perubahan penggunaan input produksi.

a. Gambarkan fungsi produksi tersebut secara lengkap, dan berikan penjelasannya. b. Apabila diketahui Y = 10 X + 2 X2 - 0,5 X3

  b.1. Berapakah X pada saat produksi maksimum ?

b.2. Berapakah penggunaan input, agar diperoleh efisiensi teknis tertinggi ? b.3. Buktikan pula, bahwa pada saat efisiensi tertinggi, diketahui rata-rata produksi sama dengan marginal product.

3. Hasil pertanian, sering selalu berkaitan dengan hasil pertanian lainnya. Dengan analisis elasitisitas silang, jelaskan hubungan antar hasil pertanian tersebut !

4. Beberapa waktu yang lalu, subsidi harga pupuk cenderung dikurangi. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap produksi dan penawaran hasil pertanian. Berikan penjelasan tentang kasus tersebut dan jelaskan dengan gambar !

                           ooo O ooo
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                      PERIODE : MEI 1991  
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 16 MEI 1991 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

         ===========================================

I. Usaha di bidang pertanian selalu melakukan kombinasi dan organisasi dari sumberdaya, untuk menghasilkan produksi tertentu. Sebutkan sumberdaya pertanian dan jelaskan bentuk-bentuk balasjasa sumberdaya yang bersangkutan.

II. Untuk kesejahteraan masyarakat, pemerintah telah mengatur harga komodity yang dianggap penting misalnya padi. Jelaskan mekanisme bekerjanya kebijaksanaan harga padi tersebut.

III. Pilihlah satu yang benar, dan jelaskan alasannya.

    1. Jika permintaan suatu barang bertambah, maka harga akan turun, dengan asumsi bahwa barang tersebut mempunyai sifat :

a. Tidak elastis c. Elastis b. Kurang elastis d. bukan a, b dan c 2. Jika elastisitas produksi lebih besar satu, maka

  a. PM > PR    b. PR < PM   c. PM = PR

d. bukan a,b dan c.

3. Kondisi efisiensi harga tercapai, bila : a. NPMx = 1 , b. NPMx = Px c. PR = PM d. bukan a, b dan c

4. Produk marginal untuk input x yang semakin menaik, bila : a. /\ X > /\ Y b. /\ X = /\ Y

c. /\ Y > /\ X d. bukan a,b,c

IV. Diketahui :

  Y =  -2X - 0.5 X2 + 0.5 X3

Pertanyaan : a. berapakah X pada saat produksi maksimum b. berapakah X pada saat efisiensi teknis c. buktikan bahwa pada saat produksi rata-rata maksimum, produksi rata-rata = produksi marginal.

             ------0000------
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                    PERIODE : FEBRUARI 1992
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN  

HARI/TANGGAL: KAMIS, 20 FEBRUARI 1992 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK

============================

1. Jelaskan istilah dibawah ini secara singkat dan benar ! a. Hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang b. Elastisitas silang c. Diversifikasi produksi pertanian d. Barang tuna nilai (inferior good) e. Kebijaksanaan harga hasil pertanian

2. Suatu hasil penelitian tentang perilaku petani padi di Jawa Timur saat ini menyimpulkan bahwa, petani telah pupuk minded, sehingga perubahan harga pupuk tidak mempengaruhi dosis pupuk yang diberikan pada tanaman padi. a. Bagaimanakah pengaruh pencabutan subsidi pupuk terhadap produksi padi di Jawa Timur (penjelasan disertai gambar) b. Bagaimanakah pengaruh pencabutan subsidi pupuk terhadap penawaran padi di pasaran (penjelasan disertai gambar) c. Bagaimanakah pengaruh pencabutan subsidi pupuk terhadap harga gabah di pasaran (penjelasan disertai gambar)

3. Diketahui : Y = 0,6x + 10 x2 - 0,8 x3

  a. Berapakah penggunaan input x pada saat :

a.1. produksi maksimum, a.2. efisiensi teknis tertinggi b. Gambarkan fungsi produksi beserta daerah kerja petani c. Buktikan bahwa pada saat produksi marginal (PM) sama dengan produksi rata-rata (PR), terjadi pada saat produksi rata-rata maksimum.

4. Diketahui : Qdx = 1000 + Py + 0,05 Py2 dimana Qdx = jumlah barang x yang diminta

      Py  = harga barang y

a. Berapakah elastisitas silang barang x terhadap harga barang y. b. Apakah hubungan antara kedua barang tersebut c. Gambarkan kurva permintaan dari persamaan tersebut diatas.

                   --------00000--------
                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                     PERIODE AGUSTUS 1993
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN

HARI/TANGGAL: SABTU/21 AGUSTUS 1993 WAKTU/JAM:120 MENIT PROGRAM STUDI :BP/SE

============================

SOAL :

1. Berikan batasan dan definisi tentang :

  a. Ekonomi Pertanian          d. Pasar bersaing sempurna
  b. Fungsi Produksi            e. Ceiling price
  c. Produksi optimal           f. Elastisitas  silang

2. Komoditi pertanian khususnya beras, merupakan komoditi yang mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya masalah harga.

   a. Mengapa kebijaksanaan harga tersebut menjadi sangat         penting
   b.  Kebijaksanaan harga yang bagaimana yang diterapkan oleh pemerintah pada komoditi beras.

c. Kebijaksanaan apakah yang mendukung kebijaksanaan tersebut diatas (pertanyaan 2.b) 3. Gambar kurva fungsi produksi klasik, lengkap dengan persamaan

  Y = A + B1X + B2X2 + B3X3.
   a. Buktikan bahwa kurva produksi marginal berpotongan dengan kurva produksi rata-rata , pada saat produksi rata-rata mencapai maksimum

b. Buktikan, bahwa pada saat kurva produksi mancapai maksimum, produksi marginal = 0

4. Diketahui Y = 100 x1o x2o,4

          Y  = 2000       Py =  300
            X1 =  200       x1 =  250
            x2 =   50      rX2 = 1500
    a. Bagaimanakah efisiensi ekonomi pada masing-masing penggunaan input X1 dan X2

b. Berapakah penggunaan X1 dan X2 yang optimal, agar petani memperoleh pendapatan yang maksimum.

                       -----****-----

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SU-294-031 FAKULTAS PERTANIAN - UNIV. BRAWIJAYA M A L A N G


                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                     PERIODE FEBRUARI 1994
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN

HARI/TANGGAL: KAMIS/17 FEBRUARI 1994 WAKTU/JAM:90 MENIT PROGRAM STUDI :SOSEK/BPK

PETUNJUK : 1. Jawablah secara singkat dan jelas dengan tulisan yang mudah dibaca


SOAL : 1. Harga produk pertanian Pertanyaan : a. Jelaskan bagaimana terbentuknya harga produk pertanian ? b. Harga produk pertanian kadang-kadang didasarkan pada policy harga dasar. Apa itu harga dasar ? c. Kadang-kadang harga dasar di atas harga pasar, sehingga terkesan harga dasar tersebut tidak bekerja secara baik. jelaskan. d. Apakah semua produk pertanian dipeerlukan harga dasar ? Jelaskan. 2. Transformasi sektor pertanian. a. Apakah yang dimaksud dengan transformasi sektor pertanian ? b. Jelaskan proses transformasi sektor pertanian tersebut menurut Malasis (1975) c. Jelaskan transformasi sektor pertanian dengan industri di Indonesia sekarang ini. 3. Harga hasil pertanian selalu berfluktuasi antara waktu ke waktu. Untuk itu diperlukan kebijaksanaan pemerintah untuk menanggjulangi masalah tersebut khususnya hasil pertanian yang bersifat sebagaikomoditi politis. a. apakah kebijaksanaan pemerintah yang telah ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut, dan jelaskan maksud dan tujuan kebijaksanaan tersebut. b. Gambarkan mekanisme kebijaksanaan tersebut, dan berikan penjelasan upaya pemerintah agar kebijaksanaan tersebut dapat berjalan efektif. 4. Dalam kondisi permintaanpupuk yang tidak elastis, maka pemerintah mencabut subsidi terhadap harga pupuk. a. Uraikan dengan singkat peranan subsidi pertanian di Indonesia. b. Bagaimanakah pengaruh pencabutan harga pupuk terhadap produksi pada kasus di atas.

                         ---- *** ----

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UC894-16 FAKULTAS PERTANIAN - UNIV. BRAWIJAYA M A L A N G


                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                     PERIODE AGUSTUS 1994
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN
           HARI/TANGGAL  : KAMIS/25 AGUSTUS 1994
           WAKTU/JAM     : 90 MENIT/JAM KE I

PROGRAM STUDI :SOSEK/BPK PETUNJUK : 1. Jawablah secara singkat dan jelas dengan tulisan yang mudah dibaca


SOAL : 1. Pada saat ini pemerintah dihadapkan pada permasalahan jumlah cadangan beras yang menipis, yang disertai dengan perubahan harga beras yang cenderung meningkat. Faktor yang diduga mempengaruhi kondisi tersebut adalah musim kemarau yang panjang. Pertanyaan : a. Gaambarkan situasi pasar beras saat ini dengan menggunakan data tersebut di atas. b. Kebijaksanaan apakah yang dilakukan pemerintah terhadap permasalahan tersebut dan apa tujuannya. c. Jelaskan kebijaksanaan tersebut dengan gambar. 2. Jelaskan bekerjanya mekanisme kebijaksanaan harga. Apa yang terjadi bila harga berada di atas ceiling price dan berada di bawah floor price. Jelaskan melalui gambar. 3. Pasar produk pertanian sering kali tidak bekerja mengikuti kaidah pasar sempurna, sehingga fluktuasi harga produk tersebut tajam sekali. Jelaskan. 4. Dalam kondisi permintaan pupuk yang tidak elastis, maka pemerintah mencabut subsidi terhadap harga pupuk. a. Uraikan dengan singkat peranan subsidi pertanian di Indonesia. b. Bagaimanakah pengaruh pencabutan harga pupuk trhadap produksi pada kasus di atas. 5. Jelaskan istilah di bawah ini : a. Resiko dan ketidak-pastian harga. b. Elastisitas permintaan c. Elastisitas silang d. Kurva Cobweb e. Produk Marginal.

                         ---- *** ----

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UC295-20 FAKULTAS PERTANIAN - UNIV. BRAWIJAYA M A L A N G


                     UJIAN NEGARA CICILAN
         BIDANG ILMU PERTANIAN - KOPERTIS WILAYAH VII
                   PERIODE I, FEBRUARI 1995
           MATA UJIAN:  EKONOMI PERTANIAN
           HARI/TANGGAL  : KAMIS/09 FEBRUARI 1995
           WAKTU/JAM     : 90 MENIT/JAM KE I

PROGRAM STUDI :SOSEK/BPK PETUNJUK : 1. Jawablah secara singkat dan jelas dengan tulisan yang mudah dibaca


SOAL : 1.Produksi disektor pertanian selalu berlaku hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang. a. Jelaskan pengertian kenaikan hasil yang semakin berkurang tersebut. b. Kapankah konsep tersebut berlaku. c. Konsep-konsep apakah yang berkaitan dengan proses tersebut diatas. 2. Fluktuasi hasil pertanian sering terjadi, hal ini dapat merugikan petani. Bagaimanakah cara penanggulangan kasus tersebut apabila terjadi pada komoditi polits. 3. Permintaan produk pertanian a. Gambarkan kurva permintaan produk pertanian b. Apa arti kalau kurva tsb. gambarnya lebih tegak dan lebih mendatar ? c. Beri contoh faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan beras di Indonesia. 4. Jelaskan istilah dibawah ini : a. Resiko dan ketidak pastian harga. b. Elastisitas permintaan. c. Elastisitas silang d. Kurva Cobb Webb e. Produk marjinal

                        ----- *** -----

JAWAB SOAL UJIAN SEMESTER 1992/1993

1. a. Karena tanah sebagai pabriknya usahatani.

  b. Tinggi rendahnya nilai tanah tergantung dari :
     1). Kesuburannya, semakin subur semakin mahal
     2). Kelangkaannya, semakin langka semakin mahal.
     3). Kegunaannya, semakin produktif semakin mahal.
  c. Tinggi rendahnya nilai komoditi mempengaruhi nilai tanah, tidak sebaliknya.

2. a. Kredit investasi yaitu kredit yang dipakai untuk membiayai pembelian barang-barang modal yang bersifat tetap, tidak habis dipakai dalam satu proses produksi.

  b. Kredit modal kerja yaitu kredit yang tidak untuk investasi

3. Macam tenaga kerja :

  a. Tenaga kerja pria
  b. Tenaga kerja wanita
  c. Tenaga kerja ternak
  d. Tenaga kerja mesin
  e. Tenaga kerja elektronik

4. Q = 100 - 10 + 25 - 5 + 40 = 150

  a. Eh = -1. 10/150 = -0,067
  b. - Ehs = 0,5. 50/150 = 0,167
     - Ehk = - 0,2. 25/150 = - 0,03
  c. EY = 0,02 . 2000/150 = 0,267

5. a. MR = MC

     310 - 10 Q = 3Q2 + 10 Q + 10
     3Q2 - 300 = 0
     Q2 = 100
     Q  = 10
  b. ã = TR - TC
       = (310 - 5Q)(Q) - (Q3 - 5Q2 + 10Q + 50)
       = 3100 - 500 - 1000 + 500 - 100 - 50
       = 1950
  c. H = 310 - 5.10
       = 260
                              o0o


INDEK

adopsi, 13 agricultural extension, 12 biaya, 11, 14, 15, 23, 24, 28, 32, 44 produksi, 14, 24 cost, 14, 15, 46 deret hitung, 11 deret ukur, 11 disguised unemployment, 8, 22 diversifikasi, 11, 34, 39, 45 efisiensi, 13, 14, 16, 18, 22, 23, 28, 37, 47, 48, 49, 50, 51 ekonomi, 14, 45 fisik, 14 produksi, 14 ekstensifikasi, 11 family farm, 5 farm, 1, 14 farm income, 13 farm management, 14 gestation period, iii, 10 Gotongroyong, iii, 13 hak eigendom, 7 hak erfpacht, 6 hak opstaal, 7 hasil produksi bersih, 14 produksi kotor, 14 hasil produksi, 14 hujan katulistiwa, 3 hutan lindung, 6 produksi, 6 suaka alam, 6 wisata, 6 hutan tropik, 3 Ijon, 10, 11, 21 ilmu ekonomi kehutanan, 6 Ilmu Ekonomi Pertanian, iii, 1, 2, 43 Ilmu Sosiologi Pedesaan, 2 Ilmu Tata Rumah Tangga Pertanian, 1 ilmu usahatani, 14 Industrialisasi, 11 Input, 14, 15, 16, 47, 48, 49, 50, 51 Institution, 12 Intensifikasi, 11, 46 Investasi, 8, 12, 17, 20, 23, 34, 36, 44, 54 kapasitas tanah, 14 KB, 11 Kredit, 11, 12, 20, 21, 34, 37, 54 Lembaga, iii, 12 marginal physical product, 15 musim paceklik, 3, 10 Nelayan, 4, 5 Output, 14, 15, 16 padang sabana, 3 Pembiayaan, 11, 34 pendapatan marginal, 14 Penerimaan, iii, 10, 11, 13, 14, 35, 37, 44 pengangguran, 11, 22 pengorbanan, 14 Penyuluhan pertanian, 12 Perikanan, 4, 5, 7 Perikanan laut, 4, 7 perkebunan rakyat, 5 pertanian ekstraktif, 7 generatif, 8 keluarga, 5 rakyat, 5 setengah subsisten, 5 subsisten, iii, 5, 11 perusahaan pertanian, 5 peternakan keluarga, 5 produksi, 1, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 20, 21, 22, 23, 24, 27, 28, 32, 33, 36, 37, 38, 39, 40, 44, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 53, 54 produktif, 14 produktivsitas, 14 rehabilitasi, 11 revenue, 14 setengah menganggur, 8 stabilisasi harga, 10, 35, 38 subsisten, 7, 11, 21, 33 tanaman hortikultura, 5 pangan, 3, 5 transmigrasi, 11, 18, 23 usahatani, iii, 5, 13, 14, 16, 17, 18, 21, 22, 33, 36, 37, 40, 44, 48, 54 Usahatani keluarga, 5


Beri Penilaian

Rating : 0.0/5 (0 votes cast)


Peralatan pribadi