Cara Menunjukan Relevansi Isi Dongeng Situasi Sekarang dan Implementasinya 7.1

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:
Kompetensi Dasar :
 

  1. Menunjukkan relevansi isi dongeng yang diperdengarkan dengan situasi sekarang

Tentunya kamu pernah membaca buku cerita dongeng. Dongeng apakah yang kamu sukai? Cobalah kamu ingat-ingat buku cerita dongeng apa saja yang pernah kamu baca! Serta dongeng apa saja yang pernah diceritakan oleh ayah atau ibu sewaktu kamu masih kecil? Sekarang kamu akan berlatih untuk mengulas dan mengomentari buku cerita.

                                                            Ketamakan An Li
                                                            
Oleh Rikianarsyi A


Di sebuah kota, hiduplah seorang saudagar kaya namun tamak yang bernama An Li. Suatu hari, saat An Li sedang berjalan-jalan, ia mendengar percakapan dua penduduk desa. "Menurut cerita, di dalam hutan itu, ada sebuah bukit sakti. Bukit itu bisa melipat-gandakan kekayaan ..." An Li penasaran. Ia terus menguping sampai akhirnya ia tahu di mana letak bukit yang dibicarakan kedua orang itu.
Tanpa membuang waktu, An Li segera pergi ke bukit sakti itu. Ia pergi ke hutan yang terletak di tepi kota itu. Belum lama ia masuk ke hutan itu, tiba-tiba muncullah seorang pertapa tua di hadapan An Li. "Pertapa tua, betulkah ada bukit sakti di dalam hutan ini?" tanya An Li. Pertapa itu langsung menjelaskan. "Bukit itu akan segera kau temukan begitu aku pergi. Dakilah bukit itu. Di sana terdapat empat tangkai mawar biru. Kau hanya boleh memetik satu tangkai.Jangan berbalik ke mawar yang sudah kau lewati! Ingatlah pesanku. Keserakahan
akan menghancurkanmu. Menyesal tak ada gunanya," lanjutnya lalu menghilang. Pada saat itu juga, muncul sebuah bukit hijau di hadapan An Li. Saudagar itu agak takut. Namun, ia mengikuti petunjuk pertapa tua tadi.
Setelah An Li mendaki, ia menemukan setangkai mawar biru yang tumbuh di tanah. An Li segera mendekat. Saat jemari An Li menyentuh helai mahkota mawar tersebut, muncullah peri kecil. Sambil tersenyum sang Peri berkata lembut,"An Li, bila kau memetik mawar ini, maka hartamu akan berlipat lima kali. Kau akan menjadi orang terkaya di kotamu."
"Ah, tanpa memetik kau pun, aku sudah menjadi orang terkaya di kotaku, "
An Li pun meninggalkan mawar pertama. Beberapa saat kemudian, An Li menemukan mawar kedua. "Mawar kedua ini akan membuatmu menjadi orang terkaya di seluruh negeri, An Li," Ucap peri penjaga mawar itu.
"Huh, tanpa mawar ini pun sebentar lagi aku pasti bisa melebihi kekayaan Kaisar Chen," jawab An Li sombong lalu melanjutkan perjalanannya.
Lalu sampailah An Li pada mawar ketiga. Muncul peri yang berkata, "Petiklah mawar ketiga ini, An Li. Kau akan menjadi orang terkaya di pulau." "Mawar pertama membuatku menjadi orang terkaya di kota. Mawar kedua
membuatku menjadi orang terkaya di negeri. Mawar ketiga ini membuatku menjadi orang terkaya di pulau. Hahaha berarti mawar keempat akan membuatku menjadi orang terkaya di dunia!" ucap An Li penuh ketamakan. Ia lalu bertekad menemukan mawar keempat. An Li berlari penuh semangat mencari mawar keempat. Setelah mendaki cukup lama, barulah mawar keempat terlihat. An Li segera mendekat. Dengan penuh ketamakan, tangan An Li mencabut mawar itu hingga ke akar-akarnya. Anehnya, pada saat tangannya menggenggam mawar tersebut. Warna biru mawar itu langsung berubah menjadi hitam. Bersamaan dengan itu, muncul peri penjaga mawar keempat. Wajahnya sangat mengerikan. "Ingatlah An Li, ketamakan dan rasa tidak puas hanya akan menghancurkanmu! Dengan memetik mawar ini, terlihat betapa tamaknya engkau! Tahukah kau apa yang akan mawar ini berikan untukmu jika kau memetiknya?" tanya sang peri penuh kemarahan.
"Aku akan menjadi orang terkaya di dunia kan?" tanya An Li gugup. "Tidak akan! Mawar keempat yang telanjur kau petik itu akan membuatmu menjadi orang paling miskin di dunia. Hartamu akan habis! Terimalah akibat dari
ketamakanmu, An Li!" seru sang Peri. Ucapan tersebut seketika membuat An Li berada di kotanya sendiri.
"Malangnya nasib Tuan An Li. Baru tadi pagi kudengar empat kapal dagangnya tenggelam. Kini rumah dan hartanya terbakar habis. Bahkan kereta kudanya juga dirampok tadi siang!" sayup-sayup An Li mendengar persakapan sekelompok penduduk kota.
"Hei, lihat! Pengemis itu mirip sekali dengan Tuan An Li!" seru seorang anak kecil kepada temannya, saat ia melihat An Li. An Li langsung melihat dirinya sendiri. Benar saja. Baju yang kini ia pakai sudah compang-camping. An Li terjatuh lemas. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya saat ini. Andai saja mawar pertama, kedua, dan ketiga membuatnya puas. Andai saja ia tidak mendengarkan percakapan tentang harta yang bisa dilipatgandakan... Andai saja ia tak tamak. Memang benar apa yang dikatakan sang Pertapa Tua. Tak ada gunanya menyesal. Semua ini terjadi karena ia tak pernah puas dan bersyukur atas apa yang ia miliki.
Sumber: Bobo, 22 Februari 2007

Setelah kamu membaca cerita dongeng tersebut, apa penilaianmu tentang cerita itu? Coba perhatikan hal-hal berikut.

1.
Data buku
Cerita dongeng berjudul "Ketamakan An Li" Bobo Harga
Rp7.500.00.
2.
Ringkasan cerita
Seorang saudagar kaya namun tamak. Ketika dihadapkan
pada suatu pilihan, keserakahan memenuhi saudagar itu.
Kekayaan yang telah dimiliki sirna karena keserakahannya
sendiri.
3.
Komentar
Sangat menarik, karena terdapat suatu amanat atau pesan yang
mengharuskan kita untuk selalu menahan diri dari kese-
rakahan dunia. Nikmati apa yang telah Tuhan berikan kepada
kita, janganlah mengikuti hawa napsu duniawi semata.
4.
Penilaian
Dongeng ini sangat menarik ketika kita baca, terlebih jika
ada ilustrasi gambar dan warna menarik yang menggam-
barkan seuasana dongeng pada waktu itu.

Dalam memberikan sebuah komentar terhadap suatu cerita dongeng, tidak boleh mengatakan itu baik atau buruk sebelum kita tahu mengapa itu disebut baik atau buruk. Agar kamu dapat mengomentari cerita dongeng, perhatikan panduan berikut ini!

  • Judul
  1. Sangat menarik.
  2. Menarik.
  3. Biasa.
  • Alur cerita
  1. Mudah dimengerti atau dipahami.
  2. Dapat dipahami tetapi kurang lancar.
  3. Sulit dipahami.
  • Latar
  1. Kejadian tergambar dengan baik (tempat, waktu, dan suasana).
  2. Kurang jelas.
  3. Tidak dapat terbayangkan terjadinya peristiwa.
  • Perwatakan
  1. Tokoh digambarkan dengan jelas.
  2. Tokoh dijelaskan namun kurang dimengerti.
  3. Watak tokoh tidak diceritakan.
  • Bahasa
  1. Mudah dipahami
  2. Kurang dipahami
  3. Tidak dapat dipahami
  • Nilai
  1. Terdapat pelajaran berharga dan hiburan.
  2. Pelajaran yang ada kurang.
  3. Tidak ada pelajaran berharga yang patut ditiru.

Berdasarkan panduan tersebut, kamu dapat mengomentari cerita dongeng. Kamu dapat juga memberikan komentarmu sendiri berdasarkan apa yang telah kamu baca tentang cerita dongeng tersebut.
Latihan 3.1
Bacalah cerita berikut ini! Berikan pendapatmu dan tulislah komentarmu pada kertas folio, kemudian tukarkan pekerjaanmu dengan pekerjaan temanmu. Bandingkanlah komentarnya, apakah ada pendapat yang berbeda? Tulislah perbedaannya, kemudian diskusikan dengan teman-temanmu!

                                                              Santoana


Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak. Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas. Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung.

"Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa. Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana gagah..."
Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya, pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana. Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati. Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama,
"Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur." Jawaban dari para burung itu tidak membuat Merak putus asa. Ia terus terbang, terbang... sampai akhirnya ia tiba di sebuah pulau yang sangat panjang. Bertanyalah Merak dengan napas terengah-engah.
"Pulau apakah ini?"
"Ini adalah Pulau Panjang," jawab Camar santun.
"Masih jauhkah tanah Sumbawa?" tanya Merak lagi.
"O, pulau yang terbentang di depan kita itu adalah Pulau Sumbawa.
Mendengar jawaban Camar, Merak pun sangat gembira. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa merasa lelah dia pun terbang lagi. Pulau Sumbawa akhirnya berhasil ia pijak. Kini ia tinggal mencari Santoana. Merak melangkah gemulai di sekitar pantai. Ekornya terkibas, leher jenjangnya melongok ke kiri dan ke kanan. Setelah agak lama mengitari pantai bertemulah dia dengan burung hitam besar yang sedang mencari makan di tepi pantai. Orang Sumbawa menyebutnya Bongarasang.
Merak mendekat dan menceritakan maksud kedatangannya ke Pulau Sumbawa. Ia juga bertanya tentang Santoana. Bongarasang sangat terpesona melihat Merak yang cantik. Timbullah akal liciknya. Bongarasang pura-pura diam dan tertunduk malu.
"Kenapa diam?" tanya Merak tak sabar.
"Aku diam dan malu karena akulah yang kau cari," kata Bongarasang berbohong. Merak lemas mendengar perkataan Bongarasang.
"Indah kabar daripada rupa," keluhnya kecewa, sebab Bongarasang tidak setampan yang ia bayangkan.
Akan tetapi, karena sudah niatnya untuk menikah dengan Santoana, akhirnya Merak menikah dengan Bongarasang yang dianggapnya Santoana. Waktu pun berlalu. Akhirnya pasangan itu mempunyai anak. Merak dan Bongarasang berencana mengadakan pesta besar. Bongarasang juga ingin memperkenalkan istrinya yang cantik kepada semua undangan.
Hari pesta pun tiba. Semua undangan berdatangan. Burung tua ketua adat juga datang. Merak dan anaknya sudah berdandan di tengah ruangan. Semua tamu memuji kecantikan ibu muda yang berasal dari Pulau Jawa itu. Bongarasang tersenyum bangga. Ketika acara gunting bulu untuk keselamatan bayi burung akan dimulai, berkatalah ketua adat,
"Tunggu sebentar, Santoana belum datang."
Mendengar kata ketua adat itu, seketika wajah Merak berubah merah. Ia sangat marah kepada suaminya yang telah berbohong. Bongarasang tertunduk takut Merak menunggu dengan dada berdebar. Seperti apakah gerangan Santoana? Dari kejauhan, Santoana datang dengan gagahnya. Bulunya indah mengkilat
tertimpa sinar mentari. Suaranya terdengar nyaring. Pinggulnya melenggok dengan ekor berwarna hijau tua. Berjuntai tertiup angin. Bulu-bulu halus dengan perpaduan warna yang sangat indah, membungkus badan dan lehernya. Tiba-tiba Merak terbang meninggalkan keramaian pesta. Hatinya sakit tak terkira menyangka kalau selama ini dia sudah dibohongi. Sambil menitikkan air mata, ia melantunkan lagu sedih daerah Sumbawa.
Kulempat let biru do,
Ku buya sanak parana
Kudapat taruna kokoh
(Kulewati beberapa pulau dan samudra, untuk mendapat jodoh yang sepadan, namun bertemu dengan lelaki pembohong) Akhirnya Merak meninggalkan Pulau Sumbawa dengan perasaan malu dan kecewa. Anaknya ikut malu dan bersembunyi di dalam tanah. Sampai sekarang anak burung itu tetap bersarang di dalam tanah. Namanya Bartong. Santoana kemudian dikenal dengan nama Ayam hutan. Menurut cerita, itulah sebabnya burung Merak tidak ada di Pulau Sumbawa sampai sekarang.
(Cerita rakyat Sumbawa - Nusa Tenggara Barat,
diceritakan kembali oleh Agung TE Syahbuddin)
Sumber: Bobo, 14 September 2006

Tugas 3.1

  1. Carilah sebuah cerita dongeng pada koran atau majalah, kemudian buatlah ulasan atau komentar dengan panduan tersebut. Informasi tentang terbitan, ringkasan cerita, tanggapanmu terhadap cerita dongeng, dan penilaian kamu terhadap cerita dongeng tersebut!
  2. Tulislah komentarmu pada buku tugas!
  3. Tukarkan pekerjaanmu dengan pekerjaan teman sebangkumu, kemudian diskusikanlah!

Beri Penilaian

Rating : 4.2/5 (44 votes cast)


Peralatan pribadi