Cara Menjelaskan Alur, Pelaku, dan Latar Novel Serta Implementasinya 8.2

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

  1. Menjelas­kan alur ceri­ta, pelaku, dan latar no­vel (asli atau terjemahan)

Dalam sebuah novel, setiap tokoh memiliki karakteristik yang unik dan berbeda satu dengan yang lain. Karakter tokoh dapat dianalisis melalui dialog antartokoh, deskripsi/gambaran langsung dari pengarangnya, dan pandangan atau sikap tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Alur dalam novel merupakan urut-urutan kejadian cerita. Pada pelajaran yang lalu kamu telah mempelajari jenis alur, yaitu alur maju, alur mundur dan gabungan dari dua jenis alur tersebut. Alur memiliki tahapan. Dalam novel, alur biasanya detail dan kompleks. Tahapan alur, antara lain pengenalan cerita, pengenalan konflik, klimaks, antiklimaks, dan berakhir pada penyelesaian.

Dengarkan pembacaan novel berikut ini!
Judul       : Perempuan Kembang Jepun
Penerbit : Gramedia
Tahun     : 2006

....
Pengurus kelenteng sendiri tidak merasa keberatan menampung dan memberi makan para pengungsi. Yang mengungsi ke dalam kelenteng bukan saja orang-orang Cina yang sering bersembahyang di sana, tapi juga orang-orang Jawa yang tinggal di sekitar kelenteng.
Hanya aku dan Kaguya yang orang Jepang!
Awalnya, pengurus kelenteng dan pengungsi lainnya tidak tahu bahwa aku dan Kaguya orang Jepang karena aku seputih dan sesipit orang Cina. Kaguya lebih mirip anak Indonesia dengan matanya yang bulat besar dan bulu matanya yang lentik. Hanya kulit kuningnya yang menbuat ia tampak berbeda dengan anak-anak pribumi.
Aku sendiri bisa membaca semua huruf kanji yang ada di dalam Kelenteng Boen Bio karena huruf-huruf kanji Cina dan Jepang hampir sama, hanya berbeda pada saat mengucapkannya. Aku juga ikut melakukan ritual sembahyang di Kelenteng Boen
Bio karena sewaktu menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku di Jepang, aku juga kerap bersembahyang di kuil.
Namun aku tidak bisa berlama-lama tinggal di kelenteng itu karena Kaguya tidak bisa berbicara dengan bahasa Jawa ataupun Cina. Aku dan Kaguya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jepang. Lalu, muncullah kasak-kusuk di antara pengungsi
yang sampai ke telinga para pengurus kelenteng bahwa aku bukan orang Cina dan bukan pula orang Jawa.
Sampai pada suatu hari…….
“Aku salah satu pengurus kelenteng ini. Orang-orang memanggilku Tuan Tan,” pria itu memanggilku di ruang kerjanya.
“Aku Tjoa Kim Hwa…….” Kemudian, Tuan Tan menanyaiku dalam bahasa Cina.
Aku mulai gemetar, tidak tahu persis apa pertanyaannya, tapi aku dapat menangkap maksudnya. Pasti ia mencurigai identitasku. Rasa takut pelan, tapi pasti merayapi hatiku.
Apakah aku akan diusir? Ke mana aku harus mengungsi membawa seorang bocah berusia dua tahun sementara keadaan di luar kacau sekali? Aku mulai gelisah dan panik sendiri. Aku menggeliat seperti duduk di atas bara. Ketika melihat aku tidak menjawab pertanyaannya, pria itu langsung menatapku dengan pandangan menyelidik.
“Kamu orang Jepang….,” gumamnya.
“Ya…tetapi….aku bisa sedikit bahasa Indonesia,” kataku tersendat. “Aku juga bisa membaca huruf kanji.”
“Kenapa bersembunyi di sini?” Pria itu mengajakku bicara dalam bahasa Cina.
Lalu, ia meraih selembar kertas putih dan menuliskan beberapa huruf kanji di atas kertas itu. Ia menyodorkannya padaku.
Kuambil kertas yang ditulisnya. Kubaca. Lalu, kutulis juga jawabannya di atas kertas itu.
“Apakah tidak boleh?” aku balik bertanya dengan tulisan dengan perasaan was-was. Pria itu menatapku dengan pandangan heran.
“Rumahmu di mana? Kenapa justru mengungsi ke Kelenteng Boen Bio? Bukankah kamu tahu, orang-orang Cina membenci orang Jepang. Tentara Jepang telah membantai tiga ratus ribu orang di Nanjing. Kejam sekali. Apalagi orang-orang Indonesia…..Tentara Jepang benar-benar melukai perasaan orang Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, Jepang tidak lebih dari penipu. Awalnya, mengaku saudara tua yang hendak membantu memberikan kedaulatan penuh di negara ini. Tetapi, penderitaan yang dialami bangsa ini lebih menyakitkan daripada dijajah Belanda. Romusa, jugun ianfu, kemiskinan,
rasa takut dan tertindas, ternyata semua itulah yang diberikan Jepang kepada Indonesia . Kenapa kamu tidak mengungsi dengan sesama orang Jepang saja?” Akhirnya ia menulis panjang lebar.
“Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Di sini tidak pernah ditemukan perempuan Jepang! Apa jadinya kalau tentara Indonesia menemukanmu?” Mata tuanya berlumuran tanda tanya ketika menatapku.
Aku diam dengan air mata mulai menggantung di pelupuk. Sulit sekali rasanya membuka cerita. Lidahku kelu karena hidup telah membeku dan hati membatu. Bingung kerena akan kubawa ke mana langkah kakiku menimbulkan rasa sakit bertubi-tubi di hati. Rasa takut menyesak di dada. Menggumpal di tenggorokan. Meluap menjadi air mata yang siap meleleh.
“Kudengar di luar, orang-orang Jepang dikumpulkan dan didata ulang untuk dipulangkan ke Jepang. Kau tidak mau ikut?” Tuan Tan menulis lagi.
“Aku mau….,” jawabku gemetar. Laki-laki itu diam menunggu kelanjutan ucapanku. Sejenak aku ragu untuk bercerita. Apakah orang Cina ini akan berbaik hati kepadaku? Atau justru ia menyimpan dendam kepada orang Jepang? Jangan-jangan ia malah melaporkanku kepada tentara Indonesia. Lalu, bagaimana? Apakah aku bisa mempercayainya? Batinku berperang sendiri.
“Bagaimana….?” Ia menunggu jawabanku.
Suara kebapakannya meruntuhkan rasa curigaku. Tidak ada pilihan lain bagiku untuk menceritakan keadaanku yang sesungguhnya. Saat ini hanya kepadanyalah aku menggantungkan nasibku dan Kaguya. Semoga saja ia orang yang berbelas kasihan, doaku dalam hati.
“Aku mau…..,” jawabku. “ Tetapi, anakku tidak bisa ikut…..” Tuan Tan menatap Kaguya yang duduk tenang di pangkuanku dengan mengernyitkan keningnya.
“Kenapa anakmu tidak bisa ikut pulang ke Jepang?” Tulisnya lagi. Kami saling menulis dan menjawab di atas selembar kertas.
“Dia anak Indonesia. Dia anak orang Jawa….,” akhirnya aku menuliskan beban berton-ton yang menghimpit dadaku. Ia terperangah cukup lama.
“Siapa ayahnya? Bupati? Wedana? Orang kaya? Di mana rumahnya? Aku akan mengantarmu. Kau pasti aman di sana. Tidak perlu mengungsi di sini,” ia bertanya bertubi-tubi.
Tanpa mampu kutahan, air mataku justru semakin deras mengalir mendengar niatnya yang tulus. Kebaikan hatinya menyentuh sisi terdalam hatiku. Ternyata, tidak semua orang Cina membenci orang Jepang. Aku menggelengkan kepala.
“Aku tidak mau bertemu ayah anakku....,” tulisku dengan bercucuran air mata.
“Aku justru ingin meninggalkannya sejauh mungkin. Aku tak ingin bertemu dengannya lagi....”
Bahuku terguncang ketika aku selesai menulis kata-kata itu. Kututup wajahku dan menangis sepuas hatiku. Sedu sedan yang sejak tadi kutahan tidak mampu kubendung lagi. Air mata berhamburan membanjir di sela-sela jari yang menutup
wajahku.
Laki-laki separuh baya itu terdiam. Ia terkejut melihatku menangis seperti itu. Tetapi, ia sama sekali tidak menghentikan tangisku sehingga di ruang kantor kelenteng itu yang terdengar hanya isakku yang tanpa jeda. Tuan Tan seakan-akan memberiku ruang dan waktu untuk menumpahkan segala getir yang selama ini hanya kukecap sendiri.
“Menangislah....kalau itu bisa membuatmu merasa lebih nyaman. Sejak perang berkecamuk, rasanya tiada henti kami mengeluarkan air mata, sehingga air mata kami sudah kering. Kau boleh menangis sepuasmu. Jangan khawatir. Di sini kau
aman. Bila bebanmu sudah terasa lebih ringan, berceritalah, akan kudengarkan. Mudah-mudahan aku bisa menolongmu...,” katanya lemah lembut.
Sampai akhirnya, kurasakan seluruh rasa takut, cemas, marah, dan sedih yang selama ini berkecamuk tidak menentu meluntur ketika air mataku menyusut. Kutarik napas dalam-dalam untuk memberikan udara di ruang dadaku yang sudah lama hampa. Tuan Tan lalu menuangkan secangkir teh panas cina yang masih mengepulkan asap ketika sedu sedanku sudah berkurang menjadi isak tertahan. Ia mendorong cangkir kecil itu ke depanku. Aroma daun teh cina yang disedu berbaur dengan wangi asap hio tua yang menyeruak masuk ke dalam ruang kantor kelenteng. Sangat mistis.
“Minumlah.... teh panas akan membuatmu merasa lebih nyaman dan hangat.” Tuan Tan memberiku waktu untuk menenangkan diri.


Beri Penilaian

Rating : 3.9/5 (95 votes cast)


Peralatan pribadi