Cara Mengomentari Kutipan Novel dan Implementasinya 8.2

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

  1. Mengo­men­tari ku­tipan novel remaja (asli atau terje­mah­an)

Kutipan novel biasanya mengambil/mengutip sebagian kecil dari sebuah novel. Pada pelajaran terdahulu, kamu telah mempelajari kutipan novel terjemahan. Pada pelajaran kali ini, kamu akan mempelajari bagaimana menanggapi hal-hal menarik dari sebuah kutipan novel asli. Kutipan novel berikut adalah kutipan dari novel Y.B. Mangunwijaya yang berjudul Balada Dara-Dara Mendut. Hal-hal menarik yang akan kamu temukan antara lain tokoh-tokoh dan perwatakan, bahasa yang digunakan, perjuangan, serta sejarah.

Perhatikan kutipan berikut ini!

Nenek di halte trem, berambut pirang putih berkilau buatan, tetapi pas, berbusana necis elegan, dengan wajah sedikit gemuk seperti ikan duyung yang berkesan selalu tersenyum ramah, dipilih Rukmi untuk ditanyai. ”Wah,” pikir Rukmi, ”Nenek-nenek negara maju kok punya kesempatan merias dan mempermuda diri sehingga kelihatan modislah, tidak memelas kesannya, walaupun sudah senja usia. Tidak seperti negeri-negeri, di mana orang masih bergulat menegakkan periuk. Cobalah untunguntungan.” Yang disapanya menunduk luwes ke gadis yang untuk ukurannya kecil itu dan menunjuk ke arah kios penjual pommes frites*1
”Ke Keizersgracht, Nona? Kios itu ke kiri. Nomor berapa yang nona cari? Kebetulan saya tinggal di jalan itu juga. Ah, sudah dekat sekali. Nomor 3 tingkat atas? Apakah saya salah terka, Nona mencari Nyoya van Roeloff tot Roeloff, ya Maria Josefin, oma ramah. Maaf indeskresi saya, apakah nona dari Indonesia? Tampak dari selendang batik Anda yang bukan main bagusnya. Ya, ya, saya baru saja pulang dari sana. Suami saya bekerja sebagai konsultan di Pelabuhan Tanjung Perak.
Sayang hanya sebentar. Tetapi, Nyonya Josefin pasti dapat bercerita lebih banyak lagi tentang negeri Anda, De Gordel van Smaragd aan de Evenaar.*2 Ya, ia senang sekali cerita tentang Indonesia, nenek tua yang amat baik itu. Tetapi, maafkan kekurangsopanan saya mengambil waktu Anda. Nah Nona mudah sekali. Kios itu ke kiri, terus sedikit dan nomornya sudah jelas. Semoga kita dapat bersua nanti dalam rumah tetangga saya itu yang selalu saya puji sebagai nenek dari Negeri Insulinde yang paling gracieus. Silakan Nona. Sampai jumpa lagi!”
Orang-orang Belanda ramah juga, pikir Riki. Ternyata, bukan monopoli orang-orang Nusantara saja. Nyonya Marie Josefin dengan nama keluarga amat panjang van Roeloff tot Roeloff (yang menunjukkan keningratan suaminya) teman sekalas Eyang; seorang totok Belanda, tetapi lahir di bumi Indonesia. Ayahnya punya perkebunan kopi luas di pegunungan Jambu, Ambarawa, tidak suka memondokkan anak perempuannya di Magelang yang penuh anak-anak lelaki tersohor nakal dari Rumah Yatim Piatu anak Indo Pa van der Steur. Sesudah Perang Dunia, ia masih dapat kontak sedikit dengan kawan-kawan lamanya berkat majalah Hallo Mendoet. Ternyata, rumah teman Eyang itu betul sangat antik, gagah masih dari zaman VOC abad Gubernur-Jendral Jan Pieterszoon Coen dan direnovasi amat bagus bergaya kuno; hanya dengan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan modern. Sungguh anggun, indah seperti dalam dongengdongeng istana zaman Barol-Rokoko si Putri Cinderella dalam illustrasi C. Jetses dari kepustakaan anak nun dulu yang masih disimpan penuh dedikasi dan sering ditunjukkan dan diceritakan oleh Eyang pada cucu-cucunya tentang masa ketika masih di SD.
Nyonya van Roeloff tot Roeloff di Mendut Josy Menyer dipersunting oleh seorang insinyur muda yang bertugas merestorasi candi-candi Borobudur dan Mendut. Setiap Minggu, Insinyur ngganteng itu khusus mengikuti Misa Kudus di kapel Mendut, hanya untuk mengagumi si Josy. Apalagi sang insinyur pejabat Dinas Purbakala itu pengagum kebudayaan Jawa Kuno, sedangkan Josefin fasih berbahasa Jawa karena sejak kecil diasuh oleh babu-babu di rumah ayahnya, masih ditambah pergaulannya dengan sekian ratus anak-anak Jawa di Mendut. Maka, segera saling cocoklah mereka.
Keizersgracht adalah kanal lebar yang menjadi bagian rute tetap dari perahu-perahu wisata kota Amsterdam yang termasyur antik itu dan diapit oleh dua jalan tidak terlalu lebar karena dulu tentu saja tidak diperhitungkan dilewati mobil-mobil. Untuk sampai di pintu utama orang harus menaiki dulu anak-anak tangga terjal dengan pagar-pagar besi kuno yang dicor seni, sejajar dengan jalan. Tiang-tiang pagar dihiasi dengan bola-bola kecil dari kuningan yang mengkilau jenaka. Pintu utama rumah amat besar dan berat terbuat dari kayu eik dengan engsel-engsel besi tempa yang merelungrelung berselera seni. Jendela-jendela berkaca-kaca kecil melengkung-cembung, terbingkai oleh batang-batang timah hitam. Seperti lentera-lentera andong kecil.
”Ah, goeie genade,*1 kamu Hanna, ya Hanna dari Mendut!” seru spontan Nyoya van Roeloff tot Roeloff setelah membuka pintu. Spontan hangat diciumnyalah Rukmi.
”Mari, mari masuk,” imbauannya dengan suara halus. “Wel-wel, dit’s geweldig,*2 cucu Hanna di Den Haag dan sekarang di Amsterdam, siapa dulu mengira,” sambutannya dengan mata membelalak bersinar ria seperti tidak percaya kepada pasangan matanya sendiri. Nyonya baik hati itu saking kagetnya langsung bertanya ini dan itu, macam-macam sambil berulang-ulang geleng-geleng kepala tetapi tersenyum penuh syukur.
”Kau sungguh mirip persis nenekmu. Bukan main!”
”Nama babtisku Maria Yohanna juga,” sambut Rukmi tersenyum senang.
”Bukan main! Bukan main! Surat nenekmu dan suratmu membuat aku bahagia. Sungguh, selamat datang! Semoga kau senang juga di sini. Ya, aku masih ingat betul nenekmu dan sekarang sesudah kaumuncul di mukaku ini, ya semua lebih kuingat kembali.” Dan tertawa kecillah nyonya-rumah.
“Nenekmu dulu tergolong anak bandel yang macam-macam akalnya, sumber kegembiraan bagi kami  teman-teman yang lain. Dalam asrama yang serba monoton, semua kelabu sama terus hari yang satu dengan hari yang lain, anak nakal sungguh penghibur yang paling jitu. Oh, asal kau tahu saja, tanpa anak-anak nakal seperti nenekmu itu, saya sudah main keluar asrama. Mengantuk dan membosankan. Ya ya ya, si Hanna itu ya di Hanna itu. Dan itu Marietje dan Fin, Yul, Gabi dan Oetje dan tentu saja Trees, Cecilie, Elenoor, ah sungguh masa anak-anak yang menyenangkan. Mestinya selalu harus dibuat monumen agar diingat abadi.”
“Ada-ada saja yang membuat kami tertawa cekikikan di antara acara-acara yang menyiksa anak. Tetapi maafkan aku terlalu egois untuk bercerita saja tentang diriku. Bagaimana Anda, Nona Rukmi, begitu bukan, namamu? Nanti sore sesudah kita makan malam dan nyaman minum kopi, kita masih dapat mengobrol banyak. Sekarang kutunjukkan kamarmu; kamar tidur ini hanya untuk tamu khusus. Dulu selalu dipakai untuk ibu mertua saya jika mereka menginap di Ámsterdam. Letakkan koporkopor di atas meja rendah itu. Pintu ini langsung ke kamar mandi dan toilet. Nah, sekarang akan kuperlihatkan foto ini. Siapa ini?” Di meja tulis kabinet berdirilah foto berukuran besar dalam bingkai ukiran Jepara yang bagus. '''''
Sumber: Balada Dara-Dara Mendut 72 – 74 Kanisius 1993.


Beri Penilaian

Rating : 3.2/5 (45 votes cast)


Peralatan pribadi