BAB 4. DONGENG

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

Dongeng

A Relevansi Isi Dongeng dengan Situasi Sekarang

Tujuan pembelajaran:
Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharapkan dapat menemukan pelajaran moral yang dapat dicontoh pada situasi sekarang.


Dongeng adalah cerita tentang tokoh yang mengalami suka dan duka kehidupan. Banyak cerita dongeng yang dapat memberikan pelajaran yang baik untuk kehidupan kita. Misalnya, pelajaran tentang kebaikan moral yang selalu menang dalam melawan kejahatan, pengorbanan seorang ibu, dan kecerdikan dalam menghadapi masalah. Banyak cerita dongeng yang dapat kita ambil manfaatnya, agar kita selalu berhati-hati dalam perbuatan sehari-hari. Perhatikan contoh berikut ini!

                                                    Kisah Skolong Pemuda Tampan

Tersebutlah seorang anak muda bernama Skolong Reba Todo. Karena nadar kedua orang tuanya, Skolong yang tampan itu sudah direncanakan untuk dijodohkan dengan anak bibinya. Walaupun anak bibinya itu belum lahir, Skolong sudah disuruh ibunya untuk mulai tinggal bersama dengan bibinya. Maksud ibunya, kelak kalau bibinya melahirkan anak gadis yang cantik maka gadis itu langsung akan dijodohkan dengan Skolong. Skolong pun berangkat menuju ke rumah bibinya. Ia diterima oleh bibinya dengan ramah. Bibinya sangat senang karena Skolong tampan dan rajin. Skolong membantu mencarikan kayu api. Ia pun rajin bekerja di kebun bersama pamannya. Waktu itu bibinya sedang hamil. Tentu saja Skolong berharap bibinya melahirkan seorang putri cantik. Tetapi harapan tinggal harapan, tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan, ternyata, yang lahir bukanlah seorang putri cantik. Melainkan sebuah cue atau ubi hutan yang berbulu-bulu. Cue biasanya tumbuh begitu saja di hutan, tidak ditanam manusia dan juga tidak dipelihara manusia. Paman, Bibi, dan Skolong tentu sangat sedih. Mereka tak habis pikir atas kelahiran si Cue. Tapi bagaimanapun makhluk itu adalah anak mereka. Mereka harus menerima dengan ikhlas. Lebih-lebih si Cue bisa bicara layaknya manusia. Mereka berharap Skolong tetap bersedia menerima Cue sebagai calon istrinya. Namun, pemuda itu tidak mau. Skolong pun berniat untuk kembali ke rumah ibunya.

"Kakak Skolong," kata Cue, "kalau kau kembali ke rumah ibumu, aku juga ikut."
"Adik Cue! Jangan ikut aku!" kata Skolong. "Walaupun kau larang aku tetap pergi bersamamu."
"Aku akan bunuh kamu di jalan!" kata Skolong. "Walaupun aku dibunuh, aku tetap mengikutimu dan membantu ibumu," kata Cue.

"Ibuku tidak suka padamu karena kamu sebuah cue. Badanmu tidak berbentuk, kaki dan tanganmu tidak ada. "Bagaimana kamu bisa membantu ibuku? Lagi pula, badanmu kotor dan penuh bulu," demikian kata-kata Skolong. Sambil berkata begitu, Skolong berkemas-kemas untuk segera kembali ke rumah orang tuanya. Si Cue pun ikut berkemas-kemas. Si Cue tidak malu dan tidak sakit hati sekalipun diejek oleh Skolong. Skolong Reba Todo berjalan menuju ke kampungnya. Sekitar lima belas meter di belakangnya menyusul pula si Cue hendak menuju ke kampung Skolong. Di tengah perjalanan, kadang-kadang si Cue bergulir mendahului si Skolong, tetapi Skolong tidak mengetahuinya. Skolong mengira bahwa si Cue masih berada di belakangnya, tahu-tahu si Cue berada di depannya. Jika si Cue sedang berada di depan, seolah-olah Skolong melihat rombongan manusia yang berjalan dari arah berlawanan. Sebenarnya, rombongan itu adalah rombongan si Cue, tetapi skolong tidak mengenalnya. Ketika Skolong berpapasan dengan rombongan itu, beberapa orang bertegur sapa dengan Skolong.
"Tuan-tuan, ada sebuah Cue yang mengikuti saya, kalau tuan-tuan melihatnya, bunuh saja atau lemparkan cue itu ke jurang yang gelap," pinta Skolong kepada rombongan tersebut.
Setiap ada perjumpaan seperti itu, Skolong dilirik seorang gadis cantik yang ada dalam rombongan. Dalam sekejap mata gadis cantik itu berlalu bersama dengan rombongannya, dan saat itu juga Skolong mendengar nyanyian seorang gadis. "Wahai Skolong, dalam perjalananmu yang jauh, kau lalui beberapa kampung, kau pandangi seorang gadis, betapa cintaku padamu, aku rindu belaianmu."
Mendengar suara nyanyian itu, Skolong diam sejenak. Dipandanginya alam di sekitarnya, barangkali di sana ada seorang gadis yang sedang bernyanyi. Akan tetapi, di sekitarnya tiada seorang manusia pun. Yang ada hanyalah burung-burung berkicau. Skolong pun menoleh ke arah si Cue, siapa tahu si Cue juga bisa menyanyi. Akan tetapi, si Cue tak kelihatan. Keluarga Skolong sibuk menyiapkan segala sesuatu. Mereka mengira bahwa Skolong akan datang bersama istrinya. Begitu pemuda itu masuk kampung, keluarganya tidak melihat seorang gadis berjalan dengan Skolong, yang dilihat hanyalah sebuah cue yang bergulir mengikuti Skolong. "Saya tidak perlu disambut dengan meriah suara gong dan gendang," kata si Cue. "Hai, Cue itu bisa bicara," kata orang kampung dengan penuh keheranan. Si Cue tidak perduli dengan kata-kata orang. Ia masuk ke rumah Skolong dan segera membantu orang tua Skolong untuk menanak makanan dan menimba air di pancuran.
"Oe. Inang," panggil si Cue kepada bibinya, "Aku pergi timba air." Bibinya sangat heran. Si Cue menggeret-geret wadah air yang kosong. Sampai di pancuran, ia menanggalkan kulitnya. Orang tidak melihatnya. Begitulah kerjanya setiap hari. Dalam Minggu itu pada pesta wagal, yaitu salah satu pesta adat dalam tata cara perkawinan orang Manggarai. Dalam pesta itu akan diadakan pertandingan caci. Dalam pertandingan yang dimainkan kaum lelaki itu biasanya ada iringan pukulan gong dan gendang oleh kaum wanita, gadis-gadis biasanya membawakan tarian khas Manggarai. Si Cue mengetahui pesta wagal yang disertai caci. Oleh karena itu, si Cue menyiapkan rombongannya. Ia berpura-pura pergi menimba air di pancuran. Di sana ia menanggalkan dan menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Setelah itu, tiba-tiba muncullah serombongan manusia: tua muda, laki perempuan, pemuda dan gadis-gadis. Rombongan si Cue itu berarak-arak menuju ke halaman kampung, yaitu tempat berlangsungnya permainan caci. "Rombongan dari mana ini?" tanya Skolong kepada orang-orang yang
sekampung dengannya. "Mungkin dari kampung Rejeng," jawab seorang kampung. Rombongan yang dipimpin Cue sungguh menarik perhatian karena penuh dengan gadis cantik dan pemuda tampan. Malam harinya Skolong bermimpi. Dalam mimpi ia disuruh untuk mengikuti si Cue ke pancuran. Ketika si Cue pagi-pagi buta hendak berangkat ke air pancuran, Skolong mengikutinya dan bersembunyi di sekitar pancuran. Dari persembunyian itu Skolong melihat si Cue menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Setelah itu, muncullah serombongan manusia. "Oo... ini rombongan si Cue," kata Skolong dalam hati. Begitu si Cue dan rombongannya berjalan menuju ke halaman kampung untuk mengikuti caci hari kedua, secara diam-diam Skolong mengambil kulitnya.
Pesta caci hari kedua pun segera dimulai. Si Cue yang telah berubah menjadi gadis cantik itu sedang menari dengan lenggak-lenggoknya di halaman. Semua mata memandangi kecantikannya. Pada saat si Cue sedang asyik menari, Skolong meletakkan kulit si Cue di atas asap api, si Cue yang sedang menari tiba-tiba pingsan. Orang-orang terkejut dan Skolong pun segera menolongnya. Kulit Cue yang kena asap api itu segera dicelupkan ke dalam air lalu dibalutkan ke kepala gadis cantik yang pingsan itu. Pelan-pelan gadis itu sadar. Setelah sadar, ia ditanya Skolong.
"Siapakah kau yang sebenarnya?" tanya Skolong. "Saya...anak bibimu," jawabnya pelan dan pasti.
Sekarang Skolong semakin mengerti, bahwa sebuah cue yang dilahirkan bibinya tempo hari ternyata seorang gadis cantik. Skolong agak merasa malu dan rikuh jika ingat betapa dulu ia mengejek si Cue dan memperlakukan gadis itu dengan sikap dan kata-kata kasar.
Namun si Cue tidak mendendam, pada dasarnya ia memang mencintai pemuda itu, maka ia tidak merasa terhina dan malu ketika diejek Skolong. Mereka segera dinikahkan dan akhirnya hidup bahagia hingga hari tua.
Sumber. MB Rahmyah Cerita Rakyat Indonesia
Penerbit: Tertib Terang Surabaya.

Dari contoh cerita dongeng tersebut kita dapat mengambil manfaatnya. Tidak seharusnya kamu menilai seseorang dari ujud luarnya atau lahirnya saja. Akan tetapi, nilailah juga sikap dan budi pekertinya. Seperti halnya si Cue, walaupun bentuknya aneh seperti ubi, ternyata, ia seorang yang baik hati. Ketabahan dan keuletannya akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan. Masih banyak lagi cerita dongeng yang dapat kamu ambil manfaatnya.

Latihan 4.1
Simaklah dongeng berikut dan jawablah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya!

                                                        Leo dan Simon
                                                      Oleh Hadi Pranoto

Tuan Mugabe seorang pengusaha kayu. Ia mempunyai banyak pekerja yang pandai membuat kayu-kayu gelondongan menjadi meja, kursi, dan lemari yang bagus. Ia juga mempunyai dua penebang kayu yang bertugas menebang pohon di perkebunan miliknya. Tuan Mugabe sangat memperhatikan lingkungan. Setiap satu pohon ditebang, maka ia akan menanam seratus pohon kecil di perkebunannya yang luas.
Suatu hari, dua penebang kayu yang bekerja untuknya sakit. Tuan Mugabe mencari dua penebang kayu yang baru. Cukup banyak pekerja yang melamar. Namun, akhirnya Tuan Mugabe memilih dua pemuda, Leo dan Simon. Leo berbadan besar dan kuat. Tuan Mugabe tak ragu mempekerjakannya. Simon bertubuh sedang, namun semangatnya untuk bekerja cukup besar. Tuan Mugabe menerimanya dengan beberapa persyaratan. "Kalau hasil kerjamu kurang dari sepuluh batang pohon per hari kau akan dipecat," katanya. "Baik Tuan," kata Simon bersemangat. Tuan Mugabe kemudian memberi keduanya kapak besar. Leo dan Simon pun mulai bekerja. Hari pertama Leo berhasil menebang lima belas batang pohon besar.
Sementara Simon hanya delapan pohon. "Sudah kuduga. Kau pasti tidak mampu," ujar Tuan Mugabe
"Maaf tuan. Berilah hamba kesempatan seminggu lagi. Hamba akan bekerja lebih keras lagi," jawab Simon. Tuan Mugabe pun setuju. "Leo, tidak salah aku memilihmu. Kau memang pekerja keras yang
baik,"Puji Tuan Mugabe pada Leo. "Terima kasih, Tuan. Hamba akan bekerja lebih keras lagi," jawab Leo
bangga. Karena pujian majikannya, Leo bekerja semakin bersemangat lagi. Sementara Simon masih mempersiapkan alat kerjanya, Leo telah menebang satu pohon.
"Hari ini aku akan menebang pohon lebih banyak dari kemarin," kata Simon dalam hati. Maka mulailah ia bekerja dengan lebih giat. Sore itu Simon berhasil menebang sepuluh pohon. Leo dua belas batang pohon. "Tidak apa-apa, Leo. Hasil tebanganmu masih lebih banyak. Kau tetap pekerja kesayanganku," puji Tuan Mugabe.
"Terima kasih, Tuan. Besok hamba akan bekerja dua kali lebih giat," janjinya.
"Simon, bekerjalah terus seperti hari ini. Kau tetap lulus," kata Tuan Mugabe.
"Terima kasih, Tuan. Hamba akan bekerja lebih cermat dan teliti lagi," jawabnya.
Pagi-pagi sekali Leo telah pergi ke hutan. Ia menebang pohon dengan semangat dan mengerahkan seluruh tenaganya. Sementara Simon pagi itu, mulai bekerja seperti biasa. Akan tetapi, menjelang sore hari Leo hanya berhasil mengumpulkan sembilan batang pohon. Simon malah berhasil menebang dua
belas batang pohon. Tuan Mugabe menjadi heran. Ia tahu kalau Leo selalu bekerja lebih awal dan lebih giat, sedangkan Simon bekerja dengan waktu dan kecepatan biasa.
"Maafkan hamba, Tuan. Sepertinya hamba kehilangan tenaga dan kekuatan," keluh Leo sedih.
"Aneh! Kenapa sekarang justru hasil tebangan Simon lebih banyak?

Padahal tubuhmu lebih besar dan kuat dibanding Simon," Tuan Mugabe heran. Karena penasaran, Tuan Mugabe pun berusaha menyelidiki hal itu. Pagi-pagi sekali, ia sudah berada di dalam hutan mengawasi kedua pekerjanya. Yang pertama datang adalah Leo. Begitu sampai, ia langsung menebang pohon
dengan gigihnya. "Hhmmm, Leo lebih dulu mulai bekerja sebelum Simon. Tapi mengapa?” pikir Tuan Mugabe. Tak lama kemudian, datanglah Simon. Begitu sampai, ia tidak langsung bekerja. Simon mengeluarkan kapak dan mengasah kapaknya sampai tajam berkilat. Melihat hal itu Tuan Mugabe tersenyum, ia kini tahu jawabannya.
Sore itu, Simon berhasil mengumpulkan dua belas batang pohon. Sementara Leo cuma delapan batang. Leo menemui majikannya dan meminta maaf dengan sedih. Tuan Mugabe tersenyum,"Kapan terakhir kali kau mengasah kapakmu?"

"Mengasah?" Hamba tidak punya waktu untuk mengasah kapak, hamba terlalu sibuk menebang pohon," jawab Leo jujur.
"Itulah sebabnya hasil kerjamu menurun. Kau bekerja dua kali lebih keras, padahal kau memakai kapak yang tumpul. Akibatnya, kau butuh waktu lebih lama untuk menebang pohon," jelas Tuan Mugabe. Leo mengangguk mengerti. Ia kini sadar kecerobohannya. Ia juga mengagumi kecermatan Simon dalam bekerja.
Sumber: Bobo, 21 Desember 2006

Pertanyaan:
1. Dari cerita tersebut, pesan apa yang dapat kamu ambil?
2. Apakah pesan tersebut masih cocok dan bermanfaat untuk situasi sekarang?

Tugas 4.1

  1. Carilah cerita dongeng di koran atau majalah yang memberikan pesan dan manfaat untuk situasi sekarang!
  2. Tulislah pada selembar kertas pesan yang ada dalam cerita dongeng tersebut!

B Mendongeng dengan Alat Peraga

Tujuan pembelajaran:
Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharapkan dapat mendongeng dengan menggunakan alat peraga.

Tentu kamu pernah melihat orang mendongeng dengan menggunakan bantuan alat peraga. Seperti wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang, wayang golek yang terbuat dari kayu juga dimainkan oleh dalang. Pernahkah kamu melihat orang mendongeng dengan bantuan boneka tangan? Tentu kamu pernah melihat atau bahkan sering melihat "Laptop Si Unyil", film pendidikan yang ditayangkan pada salah satu stasiun televisi swasta. Tokoh dalam film tersebut dimainkan dengan tangan yang digerakkan oleh jari-jari tangan.

Perhatikan contoh alat peraga untuk mendongeng berikut ini!


Simaklah cerita dongeng berikut ini!

                                                   Pedagang yang Budiman


Sera adalah seorang pedagang keliling. Ia ramah dan selalu gembira. Sambil menyusuri jalan ia menjajakan barang jualannya, "Barang bagus! Barang bagus! Siapa mau beli? Siapa mau beli?" Sera senang jika ibu-ibu mau membelikan anak-anak mereka barang yang bagus. Hatinya puas melihat anak-anak tersenyum bahagia. Suatu hari, saat Sera sedang menyusuri jalan, ia melihat pedagang keliling lain bernama Taro.

"Pergi Sera!" seru Taro marah. "Ini jalanku! Aku lebih dulu berada di jalan ini! Kau boleh berdagang di sini setelah aku pergi!" Sera segera pindah ke jalan lain. Taro mengetuk pintu rumah pertama. Seorang gadis kecil membuka pintu.
"Oh, Nenek!" katanya. "Maukah Nenek membelikanku sesuatu?"
"Kita tidak punya uang," kata Nenek. "Tapi coba tanya pedagang itu. Apa dia mau menukar barang yang kamu suka dengan kendi hitam kita?" Ketika si gadis keluar, ia memperlihatkan kendi hitam pada Taro. Taro mengamati lalu membuat goresan kecil pada kendi itu. Ia sangat terkejut, ternyata kendi hitam itu terbuat dari emas. Timbul ide liciknya. Wanita tua ini tidak tahu kendinya terbuat dari emas. Akan kukatakan kendi ini jelek. Lantas aku pergi.
Nanti aku kembali dan membelinya dengan harga yang sangat murah. Begitu pikir Taro. Lalu ia berkata,
"Kendi ini tidak bagus!" Setelah mengembalikan kendi pada gadis, ia segera pergi. Tak lama kemudian, Sera melewati jalan itu. "Barang bagus!" serunya. "Siapa mau beli? Siapa mau beli?"
Saat gadis kecil itu melihat Sera, ia berkata, "Nenek, boleh aku bertanya ke pedagang itu? Mungkin dia mau menukar barang yang kubutuhkan dengan kendi ini..."
"Kata pedagang yang tadi kendi ini jelek," sahut Nenek. "Tapi coba tanya pada pedagang ini."
Gadis kecil itu memanggil Sera. "Maukah Bapak menukar kendi nenekku dengan barang bagus yang kubutuhkan?" Sera mengamati kendi itu. Ia melihat goresan yang telah dibuat oleh Taro.
"Nyonya!" katanya pada si Nenek. "Kendi ini terbuat dari emas!" Nenek memandang dengan takjub. "Tetapi kata pedagang yang tadi, kendi ini tidak bagus!" sahutnya.
"Oh tidak," kata Sera. "Kendi ini terbuat dari emas. Aku akan membayar dengan semua uangku yang ada. Lalu aku akan kembali membawa uang lebih banyak." Ia tersenyum pada gadis kecil itu. "Gadis kecil, ambillah beberapa barang yang kamu mau," katanya.
Setelah Sera pergi, datanglah Taro si pedagang pertama tadi. Ia berkata, "Aku telah berjalan jauh. Tapi aku teringat pada cucumu yang ingin barang daganganku. Aku akan memberi beberapa yang ia mau. Tukarlah dengan kendi hitam tua milikmu." Nenek lalu menceritakan apa kata Sera tentang kendi tuanya. "ia memberi kami uang banyak. Nanti ia akan kembali membawa uang lebih banyak."
"Uang lebih banyak?" seru Taro kecewa. "Dia harus memberiku uang juga. Bagaimanapun, aku yang pertama melihat kendi itu!" Taro terus bersungut-sungut. Gadis kecil dan neneknya hanya tersenyum geli melihatnya. Mereka bersyukur bertemu Sera si pedagang yang jujur. Besoknya, Sera berhasil menjual kendi dengan harga tinggi. Ia membayar lebih banyak pada Nenek. Saat pulang, ia berkata pada istrinya, "Aku telah melakukan yang terbaik untuk kendi itu. Aku telah melakukan yang terbaik, sangat baik."
"Apakah kamu akan kaya?" tanya istrinya.
"Benar," kata Sera. "Aku merasa kaya sekarang, karena bisa memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mampu. Mampu membantu orang lain yang kesusahan, membuatku merasa sangat bahagia..."
(Diterjemahkan Oleh Tututha, dari Some Pretty Little Thing)
Sumber: Bobo, 19 April 2007

Dari cerita tersebut, kamu membutuhkan empat boneka untuk bercerita. Tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut mempunyai sifat yang berbeda.

  1. Sera seorang pedagang yang sangat ramah.
  2. Taro seorang pedagang yang licik.
  3. Cucu.
  4. Nenek.

Latihan 4.2
Simaklah dongeng berikut, kemudian jawablah pertanyaan yang
mengikutinya!

                                                           Si Tanduk Panjang


Konon kata yang empunya cerita, dahulu kala binatang rusa tak mempunyai tanduk. Justru anjing yang mempunyai tanduk panjang dan bercabang-cabang. Bermula dari cerita inilah kemudian rusa mempunyai tanduk panjang. Pada suatu ketika musim panas berkepanjangan tiba, hampir semua sungai kering tak berair. Semua hewan kehausan dan kelaparan karena rumput dan tanaman tidak tumbuh lagi. Hal itu juga dialami oleh sepasang rusa yang pergi mencari air dengan menyusuri bukit dan lereng-lereng gunung. Pada akhirnya, mereka menemukan sebuah sungai yang masih ada airnya. Banyak pula hewan lain yang telah
berada di situ. "Sudah lama sekali kita mengembara, baru sekarang kita menemukan air di sini. Lihat, sudah banyak binatang lain yang berkumpul," kata Rusa Jantan kepada istrinya.
Rusa Betina memalingkan wajahnya ke segala penjuru. "Memang tempat ini sudah ramai dikunjungi oleh binatang lainnya," kata Rusa Betina.
Sepasang rusa itu kemudian turun ke sungai. Tiba-tiba Rusa Betina mengamit punggung suaminya seraya berkata, "Coba lihat ke sana! Siapa gerangan yang sedang kemari. Sungguh tampan ia, tanduknya sangat indah dan menarik. Wah, sungguh gagah sekali tampaknya." Si Rusa Jantan menoleh, memerhatikan pendatang baru yang sedang menuruni bukit menuju sungai.
"Yang ke sini itu adalah Anjing. Dia sahabatku, namun sudah lama kami tak jumpa," karta Rusa Jantan.
"Hai, Rusa! Mengapa engkau juga berada di sini?" tegur si Anjing kepada sahabatnya.
"Ya, tak usah heran. Bukankah sekarang ini air sangat sulit diperoleh, makanan pun tak ada. Airlah yang membuat kita begini, pergi berkeliaran hingga ketemu di tempat ini," kata Rusa Jantan.
Kemudian mereka turun ke sungai untuk minum melepas dahaga. Setelah minum, mereka berpencar kembali.
"Mana Anjing itu tadi?" tanya Rusa Betina kepada suaminya.
"Oh itu di sana! Di bawah pohon sedang beristirahat, mungkin ia masih kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh." Sahut Rusa Jantan.
"Kalau begitu, marilah? Kita juga beristirahat di sana bersama dengan dia," ajak si Rusa Betina.
"Ah, kamu ini. Selalu saja ketampanan si Anjing yang jadi buah mulutmu," sahut si Rusa Jantan. Tapi akhirnya mereka pergi juga, ke tempat si Anjing yang tengah beristirahat.
Ketika mereka berteduh di bawah pohon besar yang tak jauh dengan si Anjing, Rusa Betina itu selalu memandangi si Anjing. Sang Rusa Jantan juga terus menerus memerhatikan tingkah laku istrinya.
"Hei!" tegur si Rusa Jantan.
"Kenapa kau selalu memandangi si Anjing? Sedang aku tak kau perhatikan?" tanya Rusa Jantan dengan jengkel "Tentu saja. Aku sangat mengagumi tanduk Anjing itu, sungguh tak terkatakan indahnya. Oh,......sungguh bagus sekali," jawab Rusa Betina segan memuji-muji tanduk di Anjing.
"Apakah ia lebih gagah dariku?" tanya si Rusa Jantan pada istrinya.
"Yah tentu saja tidak. Tetapi yang jelas tanduknya sangat bagus. Sekiranya engkau bertanduk seperti dia, pasti kau akan jauh lebih gagah daripada si Anjing" jawab Rusa Betina. Rusa Jantan terdiam sejenak. Ia berusaha mencari akal.
"Lebih baik begini," katanya sesaat kemudian. Kalau kau mau lihat aku bertanduk, nanti aku meminjam tanduk si Anjing. Aku akan ke sana dulu untuk menyiasatinya."
Rusa Jantan itu tampaknya termakan oleh rayuan si istrinya. Ia segera menemui si Anjing.
"Hei saudara Anjing. Istriku ingin melihat kita berlomba lari," kata Rusa Jantan berbohong. Si Anjing yang tak ingin mengecewakan sahabatnya menyetujui usul itu. Mereka kemudian pergi ke tepi padang rumput untuk berlomba.
"Apabila saya sudah berdiri dan mengangkat kakiku, maka mulailah kalian berdua lari" Rusa Betina memberi aba-aba. Rusa Jantan dan Anjing itu kemudian berlomba lari, ternyata, Anjing dapat dikalahkan oleh si Rusa. Si Anjing menjadi kecewa karena kekalahannya itu. Sang Rusa Jantan pun segera menghibur sambil menyiasatinya.
"Begini saudara Anjing. Engkau tadi dapat ku kalahkan karena engkau memakai tanduk sehingga larimu lambat. Nah, supaya adil bagaimana kalau aku sekarang yang memakai tanduk itu. Kemudian kita berlomba lagi."
Sang Anjing segera menyetujui lagi usul sahabatnya tanpa curiga. Ia segera melepas tanduknya dan memberikannya kepada si Rusa Jantan. Kemudian Rusa Jantan memakai tanduk si Anjing yang besar dan bercabang-cabang indah itu. Segera mereka berlomba lagi. Ketika Rusa Jantan melihat si anjing berlari
sekencang-kencangnya di depan, ia pun berlari terus membelok ke arah lain menjauhi si Anjing. Sementara itu, si Anjing terus berlari dan berlari. Karena merasa akan menang, ia menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ketika dilihat si Rusa tidak ada di belakangnya.
Sadar merasa ditipu, si Anjing berlari kembali memburu si Rusa dengan marah. Akan tetapi, karena si Rusa lebih gesit dan lincah, si Anjing tak mampu menyusulnya. Akhirnya, tanduk si Anjing dibawa lari oleh si Rusa.
Itulah sebabnya hingga kini, bila Anjing melihat Rusa pasti segera mengejarnya, karena ingin mengambil kembali tanduknya yang dipinjam si Rusa. Hingga saat ini, binatang Rusa Jantan memiliki tanduk yang indah dan kukuh, membuat ia tampak lebih gagah
Sumber: MB Rahimsyah
Cerita Rakyat Nusantara
Penerbit: Terbit Terang Surabaya.

Pertanyaan:
1. Siapa sajakah tokoh-tokoh dalam cerita dongeng tersebut?
2. Bagaimanakah watak tokoh-tokoh tersebut?
3. Apa pesan yang dapat kamu ambil dari cerita dongeng tersebut?

Tugas 4.2
1. Buatlah gambaran tokoh dalam dongeng "Tanduk Panjang" dengan menggunakan kardus!
2. Berceritalah di depan kelas dengan boneka tersebut!
3. Mintalah pendapat temanmu! Jika ada yang salah perbaikilah!

Situs Bahasa

Kata seru
Kata seru yang dipakai dalam suatu kalimat menambah jelas maksud kalimat. Kata seru yang menyatakan rasa hati
1. Kata seru yang menyatakan rasa heran
Contoh:
a. Oh, Nyonya! Kendi ini terbuat dari emas!
b. Aduh, indahnya tanduk itu!
2. Kata seru biasa
Contoh:
a. Barang bagus! Barang bagus!
b. Kendi ini tidak bagus!
3. Kata seru yang menyatakan sakit
Contoh:
Aduh! Kakiku sakit.
4. Kata seru yang menyatakan rasa kesal
Contoh:
a. Pergi sana! Jangan dekat-dekat!
b. Ini jalanku! Aku yang lebih dulu berada di sini!
5. Kata seru yang menyatakan minta perhatian
Contoh:
a. Oh, Nenek! Maukah Nenek membelikanku sesuatu?
b. Oh, itu di sana! Lihatlah!


C Membaca Teks Perangkat Upacara

Tujuan pembelajaran:
Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharapkan dapat membaca teks perangkat upacara dengan benar.

Membaca adalah suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk kepentingan sendiri, membaca juga berfungsi untuk orang lain. Kegiatan membaca tidak dapat lepas dari kehidupan, contohnya kita setiap hari mendengar berita di radio,
kita juga sering melihat pembacaan berita di televisi dengan gaya pembacaan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dari teks itu sendiri. Cara membaca yang tidak benar akan menimbulkan makna yang berbeda, hasilnya akan terdengar kurang jelas atau tidak dapat dinikmati dengan baik oleh pendengar. Teks resmi atau teks yang dibacakan pada acara resmi memiliki gaya pembacaan yang berbeda. Membaca teks upacara sekolah, sesuai dengan sifatnya yang resmi maka teks harus dibacakan dengan gaya yang terkesan resmi, tegas, jelas, dan khidmat.
Setiap hari Senin, di sekolah-sekolah selalu diadakan upacara bendera. Sekolah-sekolah juga mengadakan upacara peringatan pada hari-hari tertentu, seperti hari Sumpah Pemuda, hari Pendidikan Nasional, hari Pahlawan, hari Kebangkitan Nasional, dan sebagainya. Teksteks yang biasa dibacakan saat upacara sekolah, antara lain: teks Pancasila, teks Pembukaan,
dan teks Undang-Undang Dasar 1945.
Bacalah teks perangkat upacara berikut dengan benar!

Agar kamu dapat membaca teks-teks tersebut dengan benar, perhatikanlah hal-hal di
berikut.

  1. Bersikaplah tenang jangan gugup.
  2. Ucapkan setiap kata dengan jelas dan benar.
  3. Perhatikanlah intonasi kalimat agar terdengar jelas.
  4. Sesekali pandanganmu terarah kepada peserta upacara.
  5. Berbicaralah dengan keras, tetapi jangan berteriak.
  6. Bacalah teks-teks tersebut dengan lancar dan jangan tergesa-gesa.

Sebelum kamu melaksanakan tugas membaca teks tersebut di depan peserta upacara, berlatihlah membaca teks berulang-ulang sampai kamu dapat membaca dengan lancar. Minta tolonglah kepada salah seorang teman atau saudaramu untuk mendengarkan pendapat tentang kelancaran, kecepatan, sikap, intonasi, dan volume suaramu. Jika ada yang salah cara membacamu perbaikilah. Selain teks Pancasila dan UUD 1945, masih ada teks perangkat upacara yang lain, misalnya teks susunan acara upacara, teks ikrar siswa Indonesia, dan teks doa. Teks doa di setiap sekolah berbeda-beda karena setiap sekolah dapat menentukan sendiri teks doa.
Perhatikanlah contoh teks doa di bawah ini!

Untuk melatih cara membaca teks perangkat upacara dengan benar, kamu dapat
menggunakan teks ikrar siswa Indonesia berikut yang biasa digunakan di sekolah-sekolah.

                                      Ikrar Siswa Indonesia
Kami siswa SMP…. (nama sekolah dan alamat) berjanji:
  1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
  3. berbudi pekerti luhur dan senantiasa menjunjung tinggi nama baik sekolah.
  4. hormat dan taat pada orang tua, bapak/ibu guru, karyawan tata usaha, sesama teman, sesama manusia.
  5.  menaati tata tertib sekolah yang berlaku di SMP….
  6. rajin belajar dan senantiasa mengembangkan wawasan keilmuan serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Teks Sumpah Pemuda tidak dibacakan setiap hari Senin, teks tersebut hanya dibacakan setiap tanggal 28 Oktober, pada hari Sumpah Pemuda.


D Menulis Pengumuman

Tujuan pembelajaran:
Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharapkan dapat menulis suatu pengumuman untuk kepentingan sendiri dengan benar.

Pengertian pengumuman dan jenis pengumuman telah kita bahas pada pelajaran yang lalu. Pada pelajaran kali ini, kamu akan belajar membuat pengumuman. Dalam membuat pengumuman, kamu harus menggunakan bahasa yang efektif dan komunikatif. Bahasa efektif artinya ditulis dengan bahasa yang singkat, lugas, dan langsung menjelaskan pada inti permasalahan. Adapun bahasa yang komunikatif adalah bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca dan pendengar.
Perhatikanlah contoh-contoh pengumuman berikut!

Setelah membaca contoh-contoh pengumuman tersebut, apakah contoh tersebut menggunakan bahasa yang efektif dan komunikatif? Bagaimana, artikulasi, lafal, intonasi, dan jeda. Jika ada yang belum kamu pahami tanyakan pada gurumu!

Beri Penilaian

Rating : 3.4/5 (7 votes cast)


Peralatan pribadi