BAB X EKOSISTEM DAN KONSERVASI

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Gambar 10.1. Interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.
Bila ada waktu luang, coba kalian lakukan suatu observasi terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di sekitar lapangan terbuka yang masih alami, halaman sekolah, atau taman rekreasi. Di sana mungkin kalian melihat kupu-kupu yang terbang tinggi dan hinggap dari bunga ke bunga lainnya, capung yang beraneka ragam, laba-laba menyergap mangsa yang terperangkap di bawah jalanya, atau burung-burung yang bertengger di dahan kayu sambil mencari makanannya. Semua itu contoh interaksi antar spesies di alam. Lingkungan hidup adalah ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama dengan makhluk hidup (biotik) dan makhluk tak hidup (abiotik). Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan, hewan dan tumbuhan, serta terdapat hubungan saling ketergantungan diantaranya (Gambar 10.1) Standar Kompetensi Mengidentifikasi hubungan antar komponen dalam ekologi, interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya, komponen penyusun ekosistem serta peranan manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kompetensi Dasar
10.1. Mengidentifikasi peristiwa interaksi antar komponen biologi.
10.2. Memahami hakikat ekologi dan saling ketergantungan antar makhluk hidup.
10.3. Mengidentifikasi proses-proses terjadinya perubahan lingkungan.
10.4. Mendeskripsikan definisi dan bentuk ekosistem di alam.

10.5. Mengidentifikasi jenis dan contoh ekosistem yang terdapat di dunia.
10.6 Mengidentifikasi proses suksesi yang terjadi di alam.
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Makhluk Hidup dan Lingkungan, kalian diharapkan dapat memahami komponen lingkungan; interaksi antar komponen; peristiwa rantai dan jaring-jaring makanan; piramida energi dengan siklus biogeokimia; proses perubahan yang terjadi di lingkungan; konsep niche, habitat, dan ekosistem; tipe-tipe ekosistem; serta proses dan tipe suksesi.
Kata-Kata Kunci
Afotik                                                           Neritik
Amensalisme                                           Netralisme
Antibiosa                                                    Neuston
Abatial                                                         Niche
Batial                                                           Parasitisme
Bentos                                                        Perifiton
Bioenergi                                                   Piramida biomassa
Biomassa                                                  Piramida energi
Bioma                                                         Piramida jumlah
Ekosistem                                                  Plankton
Ekologi                                                        Predasi
Fagotrof                                                      Profundal
Food chain                                                 Protokooperasi
Fotik                                                             Populasi
Komensalisme                                         Rodentia
Kompetisi                                                   Saprofit
Komunitas                                                  Siklus biogeokimia
Limnetik                                                      Spektrum biologi
Litoral
Mutualisme
Nekton
10.1. Makhluk hidup dan lingkungan
10.1.1. Interaksi antar komponen
           Setiap makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang terdapat di sekeliling makhluk hidup, berupa unsur-unsur biotik maupun unsur abiotik yang mempengaruhi dan dipengaruhi makhluk hidup tersebut. Ruang lingkup ekologi meliputi beberapa unit dalam spektrum biologi. Unit-unit lingkup ekologi tersebut secara hirarki dimulai dari individu, populasi, komunitas, ekosistem dan bioma. Individu adalah satuan makhluk hidup dari satu spesies tertentu. Misalnya satu tumbuhan rumput, seekor belalang, seekor burung atau seekor ular. Populasi merupakan sekelompok makhluk hidup terdiri atas berbagai kumpulan yang saling berinteraksi sesamanya pada suatu tempat dan waktu tertentu. Misalnya populasi rumput, populasi belalang, populasi puyuh, atau populasi ular. Komunitas adalah kelompok makhluk hidup terdiri atas berbagai populasi yang saling berinteraksi sesamanya pada suatu tempat dan waktu tertentu. Misalnya komunitas padang rumput, meliputi populasi rumput, populasi belalang, populasi burung puyuh, dan populasi ular. Sedangkan komunitas kolam, meliputi populasi ganggang, populasi siput, populasi tanaman air, populasi ikan tertentu.
            Eksosistem adalah suatu kondisi hubungan interdependensi (saling ketergantungan) antara faktor biotik (jenis-jenis makhluk hidup) dengan faktor abiotik (fisik dan kimiawi) pada suatu tempat dan waktu tertentu. Misalnya ekosistem kolam, ekositem pantai, atau ekosistem hutan rawa gambut. Bioma merupakan ekosistem dalam skala besar yang melibatkan iklim akibat perbedaan letak geografis, disebut juga ekosistem klimaks. Misalnya gurun, hutan hujan tropis, hutan gugur, dan tundra. Ekologi merupakan cabang biologi yang relatif baru, namun banyak kaitannya dengan cabang-cabang ilmu biologi lainnya. Keterkaitan ekologi dengan cabang-cabang biologi lainnya dapat ditunjukkan pada Gambar 10.2.
            Pendekatan ekologi adalah memahami faktor-faktor dan prosesproses penting yang melandasi keberadaan dan kelimpahan jenis di tempat hidupnya. Berbagai faktor atau proses penting itu dijadikan sumber informasi dan titik acuan untuk kepentingan manusia. Makhluk hidup meluangkan waktunya untuk berkompetisi dalam memperoleh makanan, tempat berlindung, dan pasangan kawin. Di dalam lingkungan biotik terdapat interaksi antara individu sejenis maupun antara jenis berbeda. Interaksi antara individu dapat menyebabkan keuntungan, kerugian, atau tidak menimbulkan pengaruh sama sekali seperti terdapat pada Tabel 10.1.


Beberapa macam hubungan atau interaksi ekologi antar sesama makhluk hidup terjadi dalam bentuk saling merugikan, saling membunuh, atau saling menguntungkan. Berikut ini uraian interaksi antar spesies dalam suatu komunitas.
1. Kompetisi
Beberapa spesies dapat hidup berdampingan di dalam sebuah komunitas sepanjang mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda dalam suatu relung ekologi, meskipun relung mereka saling tumpang tindih. Kehidupan demikian dapat terpenuhi selama kebutuhan hidup terhadap sumber yang sama tersedia dalam jumlah yang berlebihan. Akan tetapi jika sumber kebutuhan terbatas, maka hubungan antarspesies akan berubah menjadi suatu bentuk persaingan atau kompetisi. Kompetisi adalah interaksi antara dua makhluk hidup yang mengakibatkan kedua makhluk hidup tersebut mengalami kerugian. Adapun kebutuhan hidup yang sering diperebutkan antara lain, adalah makanan, tempat berlindung, tempat bersarang, sumber air, danpasangan untuk kawin. Semakin besar tumpang tindih relung ekologi, semakin sering terjadi kompetisi. Bentuk kompetisi yang terjadi berupa kompetisi intraspesifik (kompetisi antar anggota satu spesies), contohnya jenis burung di hutan yang memakan serangga yang sama.



Kompetisi interpesifik merupakan kompetisi antar anggota yang berbeda spesies. Kompetisi ini terjadi jika dua atau lebih populasi pada suatu wilayah memiliki kebutuhan hidup yang sama, sedangkan ketersediaan kebutuhan tersebut terbatas. Sebagai contoh adalah rusa dan kambing yang sama-sama membutuhkan rumput sebagai pakan di tempat yang sama. (Gambar 10.3). Di alam, persaingan antar individu dalam spesies penting artinya untuk mengatur populasi spesies tersebut sehingga terjadi suatu keseimbangan.











2. Simbiosis
            Sebuah hubungan yang dekat antara dua spesies makhluk hidup yang berbeda disebut simbiosis, yang berarti hidup bersama. Simbiosis dapat dibedakan menjadi parasitisme, komensalisme, protokooperasi, dan mutualisme. Simbiosis parasitisme merupakan bentuk interaksi antara dua jenis populasi dengan satu jenis memperoleh keuntungan sedangkan jenis lain menderita kerugian. Makhluk hidup yang memperoleh keuntungan dari interaksi ini disebut parasit, sedangkan makhluk hidup yang dirugikan disebut inang. Parasit memperoleh makanan dari inang (hospes). Ada dua jenis parasit, yaitu endoparasit (makhluk hidup yang hidup di dalam jaringan tubuh inangnya, seperti bakteri paru-paru, cacing perut, dan Plasmodium) dan ektoparasit (parasit yang hidup dipermukaan tubuh inangnya, seperti kutu daun, hama wereng, benalu). Parasit dapat hidup pada permukaan kulit, atau dalam tubuh makhluk hidup(inangnya). Beberapa contoh hubungan para-sitisme adalah : caplak dan pinjal anjing hidup pada permukaan kulit dan menghisap darah anjing; cendawan pada udang; dan Carapus sp. (ikan mutiara) hidup pada Actinopygia sp. (mentimun laut). Simbiosis komensalisme adalah bentuk interaksi yang menyebabkan satu individu jenis populasi mendapatkan keuntungan, sedangkan individu jenis yang lain tidak terpengaruh (tidak diuntungkan, maupun dirugikan). Contoh: ikan remora yang melekatkan diri dengan alat penghisap pada sisi bawah ikan hiu. Ikan remora mendapat makanan dari sisa-sisa makanan hiu, sedangkan hiu tidak dirugikan dengan kehadiran ikan remora. Simbiosis protokooperasi merupakan bentuk interaksi yang dapat menghasilkan keuntungan secara bersama-sama, tetapi bukan merupakan keharusan bagi kedua populasi untuk selalu saling behubungan agar dapat hidup. Contoh: burung pemakan kutu dengan kerbau. Simbiosis mutualisme adalah bentuk interaksi yang menyebabkan kedua spesies sama-sama mendapat keuntungan, disebut juga dengan simbiosis obligat. Contohnya adalah polinasi pada bunga dibantu oleh lebah, kupu-kupu, burung, atau kelewar. Begitu juga interaksi antarasemut dengan tumbuhan Acacia di daerah tropis.
3. Predasi
          Merupakan jenis interaksi makan dan dimakan. Pada predasi, umumnya satu spesies memakan spesies lainnya. Ada juga beberapa hewan memangsa sesama jenisnya (sifat kanibalisme). Makhluk hidup yang memakan disebut pemangsa (predator), sedangkan makhluk hidup yang dimakan disebut mangsa (prey). Predasi tidak terbatas antar hewan, tetap juga dapat terjadi pada herbivora dan tumbuhan. Pada predasi antar hewan, predator kebanyakan berukuran lebih besar daripada mangsanya. Ekologi dan saling ketergantungan Di dalam ekosistem, diantara komponen pembentuknya terdapat hubungan saling ketergantungan, sehingga perubahan pada komponen yang satu akan menyebabkan perubahan pada komponen yang lain. Contoh: Kepadatan suatu tanaman tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, sebaliknya keadaan dan kesuburan tanah tergantung juga pada tanaman dan hewan yang hidup di kawasan itu. Salah satu hubungan saling ketergantungan yang jelas antara komponen pembentuk ekosistem adalah peristiwa makan dan dimakan melukiskan suatu rantai makanan atau jaring-jaring makanan. Adanya rantai makanan menyebabkan terjadinya piramida energi, piramida jumlah, piramida biomassa dan aliran materi yang berupa siklus atau daur.

        Rantai makanan dan jaring-jaring makanan Petunjuk yang dapat digunakan sebagai ciri keberadaan sebuah ekosistem adalah energetika (produsen, konsumen dan dekomposer), produktivitas ekosistem, dan daur unsur diantaranya adalah nitrogen, karbon dan fosfor Dalam ekosistem, produsen yang berupa tumbuhan merupakan makanan dari hewan-hewan herbivora (konsumen primer). Selanjutnya macam-macam herbivora menjadi makanan dari hewan-hewan karnivora (konsumen sekunder). Hewan-hewan karnivora dapat pula menjadi makanan dari hewan karnivora lain (konsumen tersier atau karnivora puncak = top carnivor). Proses transfer energi makanan dari sumbernya (tumbuhan) melalui serangkaian proses makan dimakan disebut rantai makanan (food chain). Pada umumnya jumlah tingkatan dalam rantai makanan terdiri dari 4 atau 5 tingkatan. Masing-masing tingkatan disebut tingkatan tropik (tropic level). Tumbuhan menempati tingkatan tropik pertama, hewanhewan herbivora menempati tingkatan tropik kedua, hewan-hewan karnivora menempati tingkatan tropik ketiga, demikian seterusnya. Proses saling makan dalam ekosistem biasanya tidak terjadi dalam urutan yang linear, melainkan merupakan proses yang kompleks.
        Proses saling makan yang kompleks ini disebut jaring makanan (food web). Hal ini disebabkan karena satu makhluk hidup seringkali mempunyai makanan banyak. Misalnya ikan kecil, makan microcrustaceae, alga, serangga dan mikroorganisme lainnya. Jadi dalam ekosistem alamiah, sebenarnya rantai makanan yang linear hampir tidak pernah terjadi.
10.1.2. Piramida energi
        Materi dan energi kimia potensial ditransfer dari satu tingkatan tropik ke tingkatan tropik yang di atasnya. Dalam proses transfer energi ini tidak pernah 100% efesien. Selalu ada sebagian energi yang hilang ataupun tidak dapat dimanfaatkan. Hal ini dapat dipahami karena masing-masing tingkat tropik melakukan fungsi kehidupan, dan tidak semua anggota tingkatan tropik yang di bawahnya dapat dimanfaatkan oleh anggota tingkat tropik yang di atasnya. Sehubungan dengan itu terjadilah aliran energi, dimana energi berpindah melalui tiap tingkatan tropik yang semakin lama semakin kecil. Energi tidak pernah habis, tetapi berubah menjadi bentuk yang lain, misalnya panas. Berhubungan dengan inilah maka istilah aliran energi digunakan dalam ekosistem, bukan siklus energi.

        Kalau jumlah energi untuk tiap-tiap tingkatan tropik ini digambarkan dalam suatu histogram dimana tingkatan tropik yang tinggi di sebelah atas maka akan membentuk semacam piramida yang disebut piramida energi, yang berarti makin tinggi tingkatan tropiknya, jumlah energinya makin kecil. Data yang diperoleh Howard Odum dari studi ekosistem sungai di Silver Spring, Florida menunjukkan bahwa hanya 17% energi potensial dari produsen yang ditransfer ke herbivora. Konsumen tingkat dua hanya memperoleh 21% dari energi potensial yang ada pada herbivora. Hanya kira-kira 5% energi potensial pada konsumen sekunder yang ditransfer ke konsumen tersier. Dan konsumen tersier hanya menerima kira-kira 0,1% energi potensial yang berasal dari produsen. Piramida jumlah dan biomassa Adanya energi yang hilang sepanjang rantai makanan menyebabkan terjadinya piramida jumlah (pyramide of number) dan piramida biomassa (pyramide of biomass).
         Piramida jumlah memberi pengertian bahwa makin rendah tingkatan tropiknya makin besar jumlah individunya, sedangkan makin tinggi tingkatan tropiknya makin sedikit jumlah individunya. Selanjutnya piramida biomassa memberi pengertian bahwa makin rendah tingkatan tropiknya makin besar biomassanya, meskipun jumlah individu mungkin sedikit. Biomassa adalah bobot kering makhluk hidup per satuan luas ekosistem. Produktivitas ekosistem merupakan keseluruhan sistem yang dinyatakan dengan biomassa atau bioenergi dalam kurun waktu tertentu. Produktivitas eksosistem merupakan parameter pengukuran yang penting dalam penentuan aliran energi total melalui semua tingkat trofik dari suatu ekosistem. Energi matahari memasuki seluruh tingkat trofik dalam suatu ekosistem melalui produsen, tersimpan dalam bentuk senyawasenyawa organik (hasil fotosintesis). Seluruh senyawa organik yang dikandung dalam produsen dari suatu eksosistem disebut Produktivitas Primer Kotor (PPK). PPK digunakan oleh produsen untuk respirasi (sekitar 35%), sisanya sebagai Produktivitas Primer Bersih (PPB). PPB dari produsen inilah yang digunakan oleh konsumen pertama dan konsumen berikutnya, dengan nilai PPB yang semakin mengecil.

Siklus Materi dalam Ekosistem
Kalau energi yang ada dalam suatu ekosistem itu merupakan aliran maka materi merupakan aliran yang bersiklus. Artinya materi yang berupa air, CO2, serta mineral-mineral tanah akan berpindah terusmenerus melalui masing-masing tingkatan tropik dan setelah melalui proses mineralisasi oleh pengurai akan dimanfaatkan kembali oleh produsen. Siklus materi yang terjadi di biosfer disebut siklus biogeokimia artinya suatu siklus dari bahan kimia, dari bagian abiotik dalam ekosistem ke komponen biotik, kemudian diuraikan lagi menjadi mineral. Air (H2O) dalam biosfer mengalami siklus biogeokimia dimana struktur kimianya tidak berubah. Unsur-unsur kimia lain seperti N, P, S, C, di dalam siklus biogeokimia akan berubah-ubah melalui bentuk molekul yang bermacam-macam misalnya unsur C, di dalam siklus biogeokimia terdapat dalam bentuk CO2, karbonat, atau karbon organik.
Habitat dan niche
Habitat adalah tempat hidup asli (di dalam alam) suatu makhluk hidup. Pengertiannya dapat disamakan dengan tempat tinggal atau alamat suatu makhluk hidup di alam. Sebagai contoh, habitat kecebong adalah air yang tergenang, tidak terlalu keruh dan terdapat tumbuhtumbuhan air. Niche atau relung yang berasal dari bahasa Prancis (Niche) atau bahasa Latin (Nidus) yang berarti sarang. Dalam ekologi, niche memiliki dua pengertian yang berbeda.

Pertama:
Niche adalah lingkungan kecil (micro environment) yang khusus bagi suatu jenis makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk hidup yang lain walaupun keduanya terdapat dalam suatu ekosistem.
Kedua:
Niche adalah peranan suatu makhluk hidup dalam komunitas, misalnya sebagai produsen, konsumen atau pengurai. Dalam pengertian ini, niche dikenal sebagai jabatan, profesi, pekerjaan, ataupun status fungsional.

           Di dalam suatu ekosistem yang stabil, setiap spesies menempati niche tersendiri. Kalau dua spesies menempati niche yang sama, maka akan terjadi persaingan yang sangat besar, karena mereka mempunyai kebutuhan biologi yang sama.10.2. Komponen penyusun ekosistem Setiap makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang terdapat di sekeliling makhluk hidup, kecuali makhluk hidup itu sendiri. Ada dua macam faktor, yaitu biotik dan abiotik. Faktor biotik (hayati) adalah segala makhluk hidup di sekitar dan di dalam makhluk hidup, misalnya: ayah, ibu, teman sekelas, anjing, pinjal pada anjing, dan pohon sepanjang jalan.
          Faktor abiotik adalah segala sesuatu yang bersifat tidak hidup tetapi diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup misalnya air, cahaya, suhu, kelembaban udara, tanah, dan angin Beberapa makhluk hidup dari spesies yang sama yang menempati suatu kawasan tertentu pada masa tertentu disebut populasi. Contohnya: populasi kambing di suatu desa, populasi cecak di suatu rumah, dan
populasi padi di sebidang tanah.
        Kepadatan populasi adalah jumlah individu dalam hubungannya dengan ruang yang mereka tempati pada waktu tertentu (D = N/S). Satuan untuk makhluk hidup di darat adalah satuan luas, misalnya m2, sedangkan untuk makhluk hidup yang hidup di air umumnya dipakai satuan volume, seperti m3, dan liter.
Contoh:
Dalam satu kebun yang menempati ukuran 50 m X 100 m terdapat 72 pohon karet, berapakah kepadatan pohon karet dalam kebun tersebut?
Jawab:
Kepadatan pohon karet adalah 72 : (50m x 100m) = 0.014 tiap m2. Kepadatan populasi suatu makhluk hidup dalam ruang dan waktu tertentu ditentukan oleh adanya hubungan angka-angka kematian (mortalitas), kelahiran (natalitas), migrasi (emigrasi dan imigrasi). Di alam, kita tidak akan pernah menjumpai sebuah populasi tunggal, melainkan bersama-sama dengan populasi lainnya. Berbagai populasi yang saling berinteraksi dan hidup bersama pada suatu kawasan tertentu dan pada saat tertentu disebut komunitas. Komunitas secara sederhana terdiri atas produsen, konsumen dan dekomposer. Contoh: pada sutun padang rumput dapat kita temukan populasi serangga, populasi rumput, dan populasi mikrob tanah. Rumput merupakan produsen, serangga merupakan konsumen, dan mikrob merupakan dekomposer. Interaksi antara populasi dalam komunitas itu bermacam-macam, ada yang sangat erat, ada yang kurang erat dan ada yang tidak jelas terlihat. Kita dapat mengkategorikan interaksi antar populasi, sebagai berikut:
a. Netralisme
b. Kompetisi atau persaingan
c. Predasi
d. Parasitisme
e. Komensalisme
f. Mutualisme
g. Antibiosa
Komunitas dengan lingkungan abiotik tempat hidupnya membentuk suatu ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (faktor biotik dan abiotik). Contoh ekosistem, misalnya: akuarium, kolam, sawah, padang rumput, dan hutan.
10.2.1. Faktor biotik
Komponen biotik terdiri dari berbagai jenis mikroorganisme, cendawan, ganggang, lumut, tumbuhan paku, tumbuhan tingkat tinggi, invertebrata, dan vertebrata serta manusia. Setiap komponen biotik memiliki cara hidup sendiri yang akan menentukan interaksi dengan komponen biotik lainnya dan komponen abiotik. Misalnya tumbuhan hijau melakukan fotosintesis untuk memperoleh makan, herbivora memakan tumbuhan, dan mikroorganisme menguraikan sisa-sisa tumbuhan serta hewan untuk memperoleh energi. Berdasarkan fungsinya, komponen biotik dapat dibedakan atas:
a. Produsen (berklorofil = autotrof)
b. Konsumen (heterotrof), terdiri atas beberapa tingkat yaitu:
        1. Konsumen primer (hewan herbivora).
        2. Konsumen sekunder (hewan yang makan hewan herbivora).
        3. Konsumen tersier (hewan karnivora).
c. Pengurai (dekomposer: bakteri, cendawan).
            Produsen adalah makhluk hidup yang menyusun senyawa organik atau membuat makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari. Makhluk hidup yang tergolong produsen, meliputi makhluk hidup yang melakukan fotosintesis (tumbuhan, bakteri fotosintesis, ganggang hijau, ganggang hijau-biru). Konsumen (makhluk hidup heterotrof) adalah makhluk hidup yang tidak mampu menyusun senyawa organik atau membuat makanannya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, makhluk hidup ini bergantung pada makhluk hidup lain. Hewan dan manusia tergolong sebagai konsumen.
           Dekomposer atau detritivora (pengurai) merupakan makhluk hidup yang menguraikan sisa-sisa makhluk hidup mati untuk memperoleh makanan atau bahan organik yang diperlukan. Penguraian memungkinkan zat-zat organik yang kompleks terurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana dan dapat dimanfaatkan kembali oleh produsen. Makhluk hidup yang termasuk dekomposer adalah bakteri, cendawan, cacing, beberapa jenis rodent dan serangga tanah.
10.2.2. Faktor abiotik
Faktor abiotik merupakan faktor yang bersifat tidak hidup (non hayati), meliputi faktor-faktor iklim atau klimatik (suhu, cahaya, tekanan udara, kelembaban, angin, curah hujan), dan faktor-faktor tanah atau edafik (jenis tanah, struktur dan tekstur tanah, derajat keasaman atapun pH, kandungan mineral dan air, serta dalamnya permukaan air tanah). Masing-masing faktor tersebut dapat diukur dan diketahui pengaruhnya pada makhluk hidup. Faktor abiotik bersifat saling berkaitan dan tidak satu pun bekerja sendiri-sendiri.
Suhu
Suhu atau temperatur adalah derajat energi panas. Sumber utama energi panas adalah radiasi matahari. Suhu merupakan komponen abiotik di udara, tanah, dan air. Suhu sangat diperlukan oleh setiap makhluk hidup, berkaitan dengan reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup memerlukan enzim. Kerja suatu enzim dipengaruhi oleh suhu tertentu. Suhu juga mempengaruhi perkembangbiakan makhluk hidup. Contohnya, beberapa jenis burung akan melakukan migrasi menuju ke daerah yang suhunya sesuai untuk berkembang biak.
Cahaya
Sinar matahari menyediakan energi cahaya yang digunakan tumbuhan dalam fotosintesa, tetapi juga menghangatkan lingkungan hidup dan menaikkan suhu air. Selanjutnya akan terjadi penguapan, dan setelah terjadi proses kondensasi dapat turun ke bumi dalam bentuk hujan dan salju. Cahaya matahari terdiri dari beberapa macam panjang gelombang. Panjang gelombang, intensitas cahaya, dan lama penyinaran cahaya matahari berperan dalam kehidupan makhluk hidup. Misalnya tumbuhan memerlukan cahaya matahari dengan panjang gelombang tertentu untuk proses fotosintesis.

Air
Air merupakan pelarut mineral-mineral tanah sangat penting bagi tumbuhan dan keperluan dalam tubuh hewan, serta sebagai medium bagi makhluk hidup hidup. Air dapat berbentuk padat, cair, dan gas. Di alam, air dapat berbentuk padat, misalnya es dan kristal es (salju), serta berbentuk gas berupa uap air. Dalam kehidupan, air sangat diperlukan oleh makhluk hidup karena sebagian besar tubuhnya mengandung air.
Kelembaban
Kelembaban merupakan salah satu komponen abiotik di udara dan tanah. Kelembaban di udara berarti kandungan uap air di udara, sedangkan kelembaban di tanah berarti kandungan air dalam tanah. Kelembaban diperlukan oleh makhluk hidup agar tubuhnya tidak cepat kering karena penguapan. Kelembaban yang diperlukan setiap maklhuk hidup berbeda-beda. Sebagai contoh, cendawan dan cacing memerlukan habitat yang sangat lembab.
Udara
Udara terdiri dari berbagai macam gas, diantaranya nitrogen (78.09%), oksigen (20.93%), karbon dioksida (0.03%), dan gas-gas lain. Nitrogen diperlukan makhluk hidup untuk membentuk protein. Oksigen digunakan makhluk hidup untuk bernafas, sedangkan karbondioksida diperlukan tumbuhan untuk fotosintesis.
Garam-Garam Mineral
Garam-garam mineral antara lain ion-ion nitrogen, fosfat, sulfur, kalsium, dan natrium. Komposisi garam-garam mineral tertentu menentukan sifat tanah dan air. Contohnya kandungan ion-ion hidrogen menentukan tingkat keasaman, sedangkan kandungan ion natrium dan klorida di air menentukan tingkat salinitas (kadar garam). Tumbuhan mengambil garam-garam mineral (unsur hara) dari tanah dan air untuk proses fotosintesis.
Tanah
Tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang disebabkan oleh iklim atau lumut, dan pembusukan bahan organik. Tanah memiliki sifat, tekstur, dan kandungan garam mineral tertentu. Tanah yang subur sangat diperlukan oleh makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik pada tanah yang subur. Setiap makhluk hidup dalam ekosistem menempati suatu tempat yang spesifik. Tempat hidup tersebut antara lain di dasar perairan, di bawah bebatuan, atau di dalam tubuh makhluk lainnya. Itulah sebabnya pada tempat-tempat tertentu kita dapat menemukan makhluk hidup yang khas dan tidak dijumpai di tempat lainnya. Tempat hidup yang spesifik dikenal dengan istilah habitat.

          Untuk melakukan berbagai aktivitas hidupnya, setiap makluk hidup membutuhkan energi dan nutrien. Kebutuhan hidup tersebut dapat dipenuhi melalui berbagai proses yang dapat menentukan kedudukan mereka dalam suatu ekosisitem. Dalam hal ini, makhluk hidup dapat berperan sebagai produsen, konsumen, dekomposer, predator, mangsa, parasit, atau pesaing. Masing-masing makhluk hidup dengan peranannya yang berbeda-beda secara bersama-sama dengan lingkungan abiotiknya akan membentuk suatu relung ekologi. Istilah relung (niche) dalam ekologi dapat diartikan sebagai tempat atau cara hidup. Relung ekologi setiap spesies meliputi semua macamhubungan antara spesies dengan lingkungannya. Contohnya tikus sawah yang dipengaruhi oleh faktor abiotik, misalnya struktur, air, dan iklim di sawah. Sebaliknya tikus sawah juga mempengaruhi lingkungan abiotik dengan membuat lubang-lubang di pematang sawah tempat berlindung dan menyembunyikan makanan. Cara hidup tikus sawah tersebut tidak akan dapat berlangsung di daerah padang pasir atau habitat lainnya. Setiap spesies memerlukan habitat yang sesuai dengan cara hidupnya. Dengan demikian, relung ekologi merupakan cara hidup suatu makhluk hidup pada suatu habitat.
10.3. Tipe-tipe ekosistem
Berdasarkan tempat terjadinya hubungan timbal balik antar komunitas dengan lingkungannya, ekosistem dapat dibedakan atas ekosistem darat, pantai, air tawar dan ekosistem air laut. Seluruh ekosistem yang ada di dunia ini disebut Biosfer. Biosfer juga dapat didefinisikan sebagai bagian bumi yang mengandung makhluk hidupmakhluk hidup hidup.
10.3.1. Ekosistem darat (teresterial)
Berdasarkan perbedaan letak geografis dan fisiografis ekosistem dibedakan atas beberapa bioma atau daerah habitat. Bioma secara geografis merupakan daerah luas unit biotik yang merupakan kumpulan besar tumbuhan dan hewan yang bentuk kehidupan dan kondisi lingkungannya sama atau sering pula disebut dengan ekosistem dalam skala besar. Penamaannya berdasarkan vegetasi (tumbuhan) yang dominan. Beberapa bioma darat antara lain: pamah, pegunungan, gurun, padang rumput, hutan basah, hutan gugur, taiga dan tundra.
10.3.1.1. Pamah
Meliputi daerah dengan ketinggian 0-1000 meter diatas permukaan laut, terdiri dari:

a. Hutan rawa air tawar
Terletak di belakang hutan bakau, dengan ketinggian pohonpohon yang sama dengan perakaran khusus (akar tunjang dan akar lutut). Hutan ini secara teratur digenangi air tawar akibat dari pengaruh pasang surutnya air laut.
b. Hutan rawa gambut
Terletak berdampingan dengan hutan rawa air tawar. Pohonpohonnya berukuran tinggi, kurus, dengan jumlah jenis sedikit. Tanah mempunyai pH rendah (kurang dari 4) dengan sedikit kandungan unsur hara. Bagian vegetasi yang mati akan terendam air sehingga sukar mengalami proses pelapukan dan akan menjadi lapisan gambut. Gambut yang terbentuk memiliki ketebalan 0.5-20 meter, terbentang dari tepi ke tengah hutan.
c. Hutan tepi sungai
Vegetasi rawa musiman, terletak di sepanjang sungai besar. Umumnya tersusun oleh tumbuhan berkayu. Di Kalimantan, hutan tepi sungai merupakan habitat pohon tengkawang dan kayu lilin.
10.3.1.2. Pegunungan
Terdiri dari komposisi jenis dan tinggi tumbuhan yang bervariasi sehingga membentuk strata kanopi (lapisan tudung) yang jelas. Terbagi atas:
a. Hutan pegunungan bawah
Terletak pada ketinggian 1000-2500 meter di atas permukaan laut. Dominasi vegetasi di hutan ini berbeda-beda, tergantung pada ketinggiannya. Ketinggian 1000-1500 meter didominansi oleh tumbuhan semak, sedangkan pada ketinggian lebih dari 1500 meter didominansi oleh lumut, anggrek, dan tumbuhan paku efifit.
b. Hutan pegunungan atas
Meliputi daerah dengan ketinggian 2500-3300 meter di atas permukaan laut. Hutan ini memiliki pohon-pohon dengan tinggi hingga 25 meter dan sangat lebat, tetapi keanekaragaman jenisnya sangat sedikit dibandingkan dengan hutan dibawahnya.
10.3.1.3. Gurun
Biasanya terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) berbatasan dengan padang rumput. Misalnya gurun Gobi di RRC, Sahara di Afrika Utara, Liano Estacado di Amerika Utara, Kalahari di Afrika Selatan dan Atakama di Amerika Selatan.

Karakteristik gurun adalah
- gersang, curah hujan rendah (±250 mm/tahun).
- sangat terik, penguapan tinggi, kelembaban udara rendah.
- pada siang hari, suhu sangat tinggi.
- perbedaan suhu siang dan malam sangat besar (siang ± 400C, malam hari ± 200C)
Ciri-ciri tumbuhan gurun adalah:
- tanaman semusim dengan daun kecil-kecil, relatif sedikit, berbunga dan berbuah pada waktu hujan datang (tumbuhan evader), berumur relatif

  pendek.
- tanaman tahunan dengan daun seperti duri atau tak berdaun, dilapis semacam lilin (kutikula), aka berukuran panjang dan mempunyai jaringan

  untuk menyimpan air (sukulen) , misalnya: kaktus.
Ciri-ciri hewan gurun adalah:
- rodentia (pengerat), ular, kadal, kalajengking dan sebagainya yang mencari mangsa pada pagi atau malam hari. Bahkan juga hewan unta, kodok, dan kumbang dapat beradaptasi dengan lingkungan gurun.
10.3.1.4. Padang rumput
Terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropis ke daerah subtropik. Padang rumput ini diberi nama yang berbeda-beda (Gambar 10.4), disebut Steppa (Rusia Selatan), Puzta (Hongaria), Prairi (Amerika Utara) , dan Pampa (Argentina).

Karakteristik padang rumput adalah :
- curah hujan kurang lebih antara 250-800 mm/tahun.
- hujan turun tidak teratur.
- Porositas (pori tanah) banyak, sehingga aliran udara dalam tanah sangat lancar dan drainase (pengaturan atau peresapan air) berjalan cepat.


Ciri-ciri tumbuhan padang rumput adalah:
- Terdiri atas tumbuhan terna (herba) dan rumput, yang keduanya tergantung pada kelembaban.
Ciri-ciri hewan gurun adalah :
- herbivora, misalnya bison, zebra, kanguru, kijang.
- karnivora, misalnya singa, harimau, dan serigala.
- jenis lainnya, misalnya rodentia, insekta dan burung.
10.3.1.5. Hutan basah/hutan hujan tropis
Terdapat di daerah tropik dan subtropik (Gambar 10.5). Misalnya di berbagai daerah di Indonesia, Papua New Guinea, Australia bagian Utara, lembah Amazon Amerika Selatan, lembah Kongo Afrika, Muang Thai, Malaysia maupun di Amerika Tengah.


Ciri-ciri hutan hujan tropis adalah :
- curah hujan kurang lebih antara 2000-2250 mm/tahun.
- Keragaman jenis pohon sangat besar, dan berbeda antar hutan pada letak geografis yang

   berbeda.
- tinggi pohon-pohon utama berkisar antara 50-80 m

- cabang-cabang pohon yang tinggi berdaun lebat sehingga membentuk tudung (kanopi). Berhubungan dengan itu maka di dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang di sekitar makhluk hidup). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari, sedang dasar hutan selalu gelap, sehingga terbentuk variasi suhu dan kelembaban Secara umum kelembaban di dalam hutan relatif tinggi tinggi, suhu sepanjang hari sekitar 250C.
- dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan yang khas, yaitu:

  •  Liana (tumbuhan memanjat) misalnya rotan.
  • Epifit (tumbuhan menempel) misalnya anggrek, lumut, paku sarang burung.
    - jenis hewan diantaranya adalah kera, burung, babi hutan, kucing hutan, macan tutul, badak, bajing, ular pohon, kadal pohon, katak pohon, serangga, dan lain-lain.
    10.3.1.6. Hutan gugur/deciduous forest
    Hutan jenis ini terdapat di daerah beriklim sedang yaitu sebagian besar wilayah Eropa dan Cina, sebagian di Amerika Selatan dan dataran tinggi Amerika Tengah, serta Amerika Utaran bagian timur.

Karakteristik hutan gugur daun adalah :
- curah hujan merata sepanjang tahun (± 750-1000 mm/tahun).
- adanya musim dingin, semi, panas dan gugur.
- spesies pepohonan sedikit, antara 10-20 spesies, dengan jarak antar pepohonan tidak terlalu rapat
Tumbuhan menggugurkan daunnya menjelang musim dingin. Tumbuhan yang umum adalah: Maple (Acer camestre), Syseamore (Acer pseudoplanatus), Oak (Quercus robur dan Quercus petrata), Beech (Fagus sylvatica),birch (Betula spp), dan Ash (Fraxinus spp).
- jenis hewan diantaranya rusa, rubah, kijang dan burung pelatuk.
10.3.1.7. Taiga = hutan konifer
Kebanyakan terdapat di belahan bumi sebelah utara, juga terdapat di pegunungan daerah tropik. Karakteristik hutan konifer adalah:
- suhu di musim dingin rendah.
- curah hujan ± 350-400 mm/tahun.
- biasanya merupakan hutan yang terdiri dari satu genus, diantaranya adalah Norway spruce (Picea abies), Scot pine (Pinus sylvestris), birch (Betula

   pubescens)
- semak dan tumbuhan basah sedikit sekali.

- pertumbuhan tanaman terjadi pada musin panas, berlangsung antara 3-6 bulan.
- hewan-hewannya antara lain moose (sejenis rusa), beruang hitam, ajag, musang dan burung-burung yang berimigrasi ke sebelah selatan pada

   musim gugur.
10.3.1.8.Tundra/Padang lumut
Tundra berarti dataran tanpa pohon, terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara.
Karakteristik tundra adalah :
- suhu sangat rendah
- curah hujan ± 12 cm/tahun.
- musim dingin yang panjang dan gelap serta musim panas yang panjang dan terang terus menerus.
- terdiri tumbuhan semusim berumur pendek dan berbunga serentak pada musim pertumbuhan pendek ± 60 hari,
- jenis tumbuhannya: lumut Sphagnum, lichenes, tumbuhan berbiji semusim, tumbuhan kayu yang pendek-pendek dan rumput, tumbuhan tersebut

   mampu beradaptasi terhadap keadaan dingin.
- jenis-jenis hewan antara lain: sapi, kesturi, rusa, rusa kutub, beruang kutub, cerpelai kutub (lemning), insekta terutama nyamuk dan lalat hitam,

  burung pinguin, anjing laut dan walrus.
Adaptasi hewan tundra antara lain:
- mempunyai rambut atau bulu yang tebal.
- lapisan lemak yang tebal.
- bulu yang berwarna putih.
Catatan:
Urutan bioma dari ekuator ke kutub (suksesi latitudinal) sama dengan urutan bioma dari dataran rendah ekuator ke arah yang lebih tinggi (suksesi altitudinal). Urutan bioma dari suatu gunung di daerah tropika ialah hutan gugur, konifer, tundra dan daerah es.
10.3.2. Ekosistem perairan (air tawar)
Terdapat di tempat yang airnya tenang (disebut sebagai perairan lentik), misalnya danau, rawan, kolam dan di tempat yang airnya berganti-ganti atau mengalir (lotik), misalnya sungai.
Ciri-ciri ekosistem air tawar adalah:
- salinitas rendah bahkan lebih rendah daripada protoplasma.
- variasi suhu bergantung pada kedalaman
- adanya aliran air (pada sungai).

- Jenis-jenis tumbuhan bervariasi diantaranya adalah: Hidrylla sp., eceng gondok (Eichornia crassipes), kiambang (Salvinia natans).
       Berbagai jenis alga (ganggang) dapat tumbuh pada perairan tawar. Adaptasi jenis tanaman terhadap kondisi yang selalu berair adalah: anatomi batang banyak berongga, daun lebar, stomata banyak, gutatoda di tepi ujung daun, berkutikula, serta selnya berdinding yang dapat membatasi osmosis ke dalam sel. Sedangkan yang hidup di sungai mempunyai akar atau alat semacam akar yang melekat pada dasar sungai. Keragaman hewan yang hidup dalam ekosistem air tawar cukup tinggi. Adaptasi jenis hewan terhadap kondisi perairan adalah:
- mensekresikan air yang berlebih.
- sistem ekskresi, pencernaan dan insang berfungsi untuk
memelihara keseimbangan air dalam tubuh.
- terhadap aliran air, penyesuaiannya dengan alat pelekat atau otot yang kuat.
- alat gerak umumnya berupa sirip atau serupa sirip.
Makhluk hidup air tawar dikelompokkan berdasarkan 2 bentuk, yaitu:
1. Berdasarkan aliran energi, dibedakan:
    a. Autotrof (produsen), yaitu tumbuhan hijau dan mikroorganisme yang melakukan kemosintesis dan fotosintesis.
    b. Fagotrof (makro konsumen), yaitu herbivora, predator dan parasit.
    c. Saprofit, yaitu makhluk hidup yang hidup pada subtrat sisa-sisa makhluk hidup hidup lainnya.
2. Berdasarkan kebiasaan hidup di lingkungan air, dibedakan:

  •  Plankton, yaitu hewan atau tumbuhan (mikroorganisme) yang hidup melayang-layang dalam air. Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton contohnya: alga mikroskopis (Chlorophyccae, Cyanophyceae, Diatomae), sedangkan zooplankton contohnya: Protozoa serta hewanhewan lain golongan Porifera, Coelenterata, Crustacea, dan lain-lain.
  • Nekton, yaitu hewan-hewan yang aktif berenang kian kemari umpama ikan, amfibi dan serangga air.
  • Neuston, yaitu jenis hewan yang beristirahat atau berenang di permukaan air. Contohnya: beberapa jenis insekta yang berenang di dalam atau di permukaan air.

     d. Perifiton, yaitu baik tumbuhan maupun hewan yang melekat atau bertengger pada batang, daun, akar tumbuhan ataupada permukaan benda

         lain. Contohnya: hydra, ganggang dan tiram.
    e. Bentos, yaitu hewan-hewan yang melekat atau beristirahat pada dasar atau hidup pada endapan. Contohnya: siput, kerang, dan cacing.
3. Berdasarkan bagian daerah tempat hidup, dibedakan atas:
a. Daerah Litoral, yaitu daerah yang airnya dangkal (bagian pinggir) dengan sinar matahari sampai pada dasar. Di daerah ini terdapat tumbuh-

    tumbuhan berakar.
b. Daerah Limnetik, yaitu daerah air terbuka yang mendapat sinar matahari efektif. Di daerah ini terjadi keseimbangan antara fotosintesis dengan

    respirasi yang dilakukan oleh makhluk hidup-makhluk hidup yang hidup di situ. Komunitas di daerah ini terdiri atas plankton, nekton dan kadang-

    kadang neuston.
c. Daerah Profundal, yaitu daerah di bawah daerah limnetik sampai pada dasar. Daerah ini sering tidak dijumpai pada setiap kolam.
Selanjutnya, berdasarkan deras aliran, habitat sungai dapat dibedakan menjadi:
- daerah yang deras aliran airnya.
- daerah yang lambat aliran airnya.
10.3.3. Ekosistem Air Laut
Ciri-ciri ekosistem air laut adalah:
- salinitas tinggi di daerah tropik dan rendah di daerah yang jauh dari katulistiwa.
- tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
- pada permukaan laut, perubahan suhu juga sesuai dengan musim.
- di daerah tropik perbedaan suhu air bagian atas dengan dibawahnya tinggi, hal ini menyebabkan air laut tidak dapat
   bercampur. Batas dari kedua bagian ini disebut termoklin. Di daerah dingin, perbedaan suhu air di permukaan dengan suhu air di bawahnya dapat

   dikatakan tidak ada, akibatnya air dapat bercampur terus.
- hewan tingkat tinggi (misalnya ikan), mempunyai cara menyesuaikan diri terhadap tekanan osmosis air laut adalah dengan jalan:

  •  banyak minum dan mengeluarkan urine sedikit.
  • pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang.
  • garam yang berlebih diekskresikan lewat insang secara aktif.
    Pembagian Ekosistem Laut
    1. Berdasarkan daya tembus sinar matahari ke dalam air laut, dapat dibedakan menjadi daerah:
       a. fotik, yaitu daerah yang masih dapat diterangi sinar matahari.
       b. afotik, yaitu daerah yang sama sekali gelap.
    Diantara kedua daerah ini, terdapat suatu daerah remang-remang yang sering disebut dengan nama twilight.
    2. Secara fisik, habitat laut dibagi menjadi 4 kelompok berikut:
        a. daerah litoral, yaitu daerah yang berbatasan dengan darat.
        b. daerah neritik, yaitu daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai pada dasarnya (± 200 m).
        c. daerah batial, yaitu daerah yang kedalamannya ± 200-2500 m.
        d. daerah abisal, yaitu daerah yang lebih dalam dan lebih jauh dari pantai.
    3. Berdasarkan kebiasaan hidup, makhluk hidup laut
    Dibedakan menjadi plankton, perifiton, nekton, neuston, dan bentos. Di bagian laut yang dalam tidak terdapat produsen. Oleh karena itu dalam proses makan memakan di kalangan hewan-hewan berlaku hukum rimba. Hewan-hewan di lautan yang dalam kebanyakan berwarna hitam atau merah tua dan mempunyai mata yang sangat peka. Sementara itu, hewan-hewan yang terdapat dalam goa yang gelap kebanyakan buta dan putih (kehilangan pigmen). Rantai makanan di daerah ini terjadi karena adanya gerakan air dari pantai ke tengah, di samping adanya gerakan air dari permukaan ke bawah dan sebaliknya.
    10.3.4. Ekosistem Pantai
    Karena hempasan gelombang air laut, di daerah pasang surut yang merupakan perbatasan darat dan laut akan terbentuk gundukan pasir. Setelah gundukan ini biasanya terdapat hutan, yang disebut hutan pantai. Ekosistem hutan pantai terdiri atas beberapa formasi. Formasi adalah unit vegetasi yang terbentuk karena habitatnya dan penamaannya disesuaikan dengan tumbuhan yang menyolok. Secaraberurutan, formasi yang terdapat pada ekosistem hutan pantai dari daerah pasang surut ke arah darat adalah:

1. Hutan Mangrove (bakau)
- terdapat di daerah pasang surut
- dibedakan atas:
a. Yang dasarnya dari lumpur. Tumbuhan khasnya, antara lain: Rhizopora (bakau), Avicennia (kayu api), Bruguiera (bogem), Acanthus, Cerbera dan

    Ceriops.
b. Yang dasarnya dari beting/pasir koral. Tumbuhan khasnya ialah Sonneratio alba (preparat). Cara tumbuhan beradaptasi antara lain:

  • mempunyai akar nafas (Aficennia dan Sonneratia).
  •  mempunyai akar lutut (Bruguiera)
  •  mempunyai daun-daun yang tebal dan kaku dengan lapisan

kutikula yang tebal untuk mencegah penguapan air yang berlebihan.

  • bijinya berkecambah dalam buah, belum tanggal dari pohon induknya, dan jelas tampak akar yang tumbuh ke bawah, panjangnya mencapai satu meter. Fenomena ini dikenal dengan vivipari.
    2. Formasi Pes-caprae
    - di daerah berpasir garis pantai.
    - dicirikan oleh Ipomea-pes-caprae (Telapak kambing) sebagai
    tumbuhan penyusun yang paling menyolok. Di samping itu juga
    didapati rumput angin (Spinifex sp.).
    3. Formasi Barringtonia
    - terdapat setelah formasi pes-caprae (lebih jauh dari garis pantai).
    - daerahnya berpasir/berbatu cadas.
    - formasi ini dimulai dari daerah yang ditumbuhi oleh pandan (Pandanus), bakung (Crinum), dan babakoan. Sedangkan tumbuhan penyusunnya yang paling menyolok adalah pohon Barringtonia sp. (keben, butun) dan Terminalia sp. (ketapang).
    10.3.5. Air Payau (Estuari)
    Merupakan wilayah pertemuan antara air tawar dengan air laut atau disebut muara sungai (estuari). atau pantai lumpur. Dalam peristiwa inilah air payau terbentuk dengan tingkat salinitas diantara air tawar dan air laut. Vegetasi didominasi oleh tumbuhan bakau dan nipah. Beberapa makhluk hidup laut melakukan perkembangbiakan di wilayah ini, seperti ikan, udang, dan moluska yang banyak dijumpai dan dapat di makan. Berdasarkan kadar garamnya (salinitas), estuari dibedakan atas:
    1. Oligohalin, yaitu daerah yang berkadar garam rendah (± 0.25%)

    2. Mesohalin, yaitu daerah yang berkadar garam sedang (berkisar antara 0.25-1.6%)
    3. Polihalin, yaitu daerah dengan kadar garam tinggi (1.6-3%).
10.4. Suksesi dan klimaks
              Dalam hidup sehari-hari, Kalian tentu sering melihat hidup matinya tanaman di pekarangan rumah atau hewan yang memakan tumbuhan atau hewan lainnya. Di sekitar kita, cendawan mendaur ulang bahan-bahan kimiawi, penyusun komponen biotik setiap eksosistem. Dalam hal ini ekosistem bersifat dinamis. Pernahkah kalian melihat bekas areal sawah yang dibiarkan pemiliknya? Atau sebidang halaman rumah yang berumput yang rapi dan teratur sebagai sebuah lingkungan yang stabil. Lingkungan seperti ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan komunitas karena rumput dipotong secara rutin. Dalam kondisi alamiah, halaman rumput yang tidak terawat akan banyak ditumbuhi oleh semak. Semak akan tumbuh membentuk hutan. Pada kondisi tertentu, pertumbuhan hutan akan terhenti, dikenal sebagai proses suksesi.

           Vegetasi yang pertama muncul dalam proses suksesi pelopor/perintis, biasanya terdiri atas kelompok sianobakteria (alga biru-kehijauan). Kehadiran kelompok ini akan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, sehingga memacu perkecambahan dan pertumbuhan kelompok-kelompok lainnya. Suksesi akan mencapai klimaks, bila terbentuk suatu komunitas tertentu yang komposisi populasinya relatif tetap dan stabil. Disebut komunitas klimaks. Komunitas klimaks merupakan akhir dari serangkaian prosessuksesi. Artinya, komunitas demikian dapat dicapai setelah melalui beberapa tahap suksesi. Tiap-tiap tahap suksesi disebut tahap suksesional, sedangkan seluruh rangkaian tahapan suksesi dikenal dengan istilah sere.

          Beberapa ciri komunitas klimaks antara lain adalah: mampu menyokong kehidupan seluruh spesies yang hidup didalamnya dan mengandung lebih banyak makhluk hidup dan macam interaksi dibandingkan komunitas suksesional. Contoh komunitas klimaks adalah suksesi rawa menjadi daratan. Tipe komunitas klimaks yang berkembang dibedakan oleh faktorfaktor pembatas lingkungan. Di daerah dimana air merupakan faktor pembatas, komunitas klimaksnya adalah gurun. Pada daerah pegunungan, komunitas klimaksnya terdiri dari lumut kerak dan lumut, jarang terdapat pohon karena faktor pembatasnya adalah suhu, air, dan angin. Sepanjang kondisi lingkungan menjadi konstan, maka komunitas klimaks akan tetap bertahan.

Sebuah tatanan lingkungan yang terbentuk dari ekosistem alami yang mengalami perusakan disebut ekosistem suksesi. Dibedakan atas 2 bentuk, yaitu:
a. Suksesi primer
Terbentuk pada substrat batu, seperti penutupan tanah oleh timbunan abu setelah letusan gunung merapi. Contohnya suksesi Gunung Krakatau dan Gunung Batur. Di Indonesia, proses suksesi primer berhasil diamati di daerah bekas Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883. Kawasan yang sebelumnya tertutup lapisan lahar membatu, mulai muncul makhluk pioner (liken).
b. Suksesi sekunder
Terbentuk pada substrat lama yang telah rusak akibat aktivitas manusia. Misalnya, penebangan hutan di Bukit Lawang atau pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera pada tahun 2001 dan 2003.

              Peristiwa tersebut telah menimbulkan berbagai masalah, baik yang bersifat lokal maupun regional. Asap yang berasal dari kebakaran hutan tersebut dapat menyebabkan udara dipenuhi oleh gas karbondioksida (CO2), serta gas yang dapat mengganggu sistem pernafasan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ratusan jenis tumbuhan dan hewan terbakar. Ribuan plasma nutfah hilang tiada bekas. Selain itu, banyak hewan yang terpaksa meninggalkan habitatnya karena rusak atau sumber makanannya berupa tumbuhan mati terbakar. Tumbuhan dan hewan kehilangan kesempatan untuk hidup, berinteraksi dan berkembang biak. Selanjutnya hutan tersebut sekarang telah mengalami pemulihan secara bertahap, dari satu vegetasi ke vegetasi lainnya dalam kurun waktu yang cukup panjang. Proses perubahan vegetasi ini berlangsung terus-menerus, dari komunitas sederhana menjadi kompleks, disebut suksesi sekunder. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angin topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan hutan. Proses suksesi sangat terkait dengan faktor lingkungan, seperti letak lintang, iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukan struktur komunitas klimaks. Misalnya jika suksesi berlangsung di daerah beriklim kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput.

         Jika suksesi berlangsung di iklim dingin dan basah maka proses suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) konifer, serta jika berlangsung di daerah iklim hangat dan basah maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan hujan tropik. Laju proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Suksesi pada daerah yang ekstrim, misalnya di puncak gunung, lereng Danau Toba, atau daerah yang sangat kering berlangsung ribuan tahun. Proses suksesi terjadi di daratan dan perairan, pada dua kelompok yaitu tumbuhan dan hewan.
10.5. Perubahan Lingkungan
Perubahan lingkungan dapat terjadi:
a. Secara alami (misalnya: akibat gempa bumi, gunung meletus, angin ribut dan banjir).
b. Akibat perbuatan manusia (misalnya: akibat penebangan hutan untuk pertanian, pembangunan rumah, jalan besar, pabrik, dan bendungan).
        Perubahan lingkungan secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Sehubungan dengan itu, agar makhluk hidup bisa hidup normal maka perubahan lingkungan tidak boleh sampai keluar dari kisaran tertentu. Manusia dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan secara aktif karena manusia mempunyai tingkat kemampuan berfikir (kecerdasan) yang lebih tinggi dari makhluk lain. Misalnya bila suhuterlalu rendah, manusia akan memakai pakaian hangat atau membuat api unggun. Manusia mampu mengubah lingkungan misalnya pemberian pupuk, penghijauan, reboisasi, irigasi dan sebagainya untuk meningkatkan bidang pertanian dan melestraikan lingkungan. Sedangkan untuk mendukung peningkatan sumber daya perairan, manusia dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas perikanan dengan proses pembibitan, pembudidayaan dan teknik akuakultur ikan di tambak secara tepat guna. Perubahan lingkungan oleh manusia, walaupun untuk kepentingan manusia sendiri, namun perlu diperhitungkan masak-masak, misalnya mendirikan pabrik, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan menurunkan daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan adalah ketersediaan sumber daya alam cukup ruang untuk memenuhi kebutuhan dasar pada tingkat kestabilan sosial tertentu.

Lingkungan yang stabil adalah keseimbangan diantaranya komponen-komponen penyusunnya. Hutan yang tidak terganggu merupakan ekosisitem yang stabil, adanya perubahan oleh manusia membuat ekosistem menjadi tidak stabil. (Gambar 10.6). Kestabilan ekosistem dapat diukur juga pada skala yang lebih sempit. Sebagai contoh adalah habitat cacing tanah (Pheretima sp.) yang hidup ditanah yang lembab. Tanah yang lembab memiliki suhu, kelembaban dan kandungan zat organik yang sesuai dengan kebutuhan hidup cacing tanah. Jika tanah tidak terganggu , maka kestabilan tetap terjaga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam sebuah ekosistem terjadi keseimbangan yang dinamis dalam bentuk saling ketergantungan komponen yang satu dengan komponen lainnya dan sebaliknya. Contoh lain bentuk saling ketergantungan adalah ditemukan sumber alam berupa pupuk yang disebut guano di Peru pada akhir abad 19. Guano terbentuk akibat adanya aliran Humbolt, yaitu aliran air dari kutub selatan ke arah kutub utara sampai ke pantai Peru sehingga membawa banyak mineral fosfat dan nitrat.


                                                                                                                               Rangkuman
              Setiap makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan adalah segala sesuatu yang terdapat di sekeliling makhluk hidup, berupa unsur-unsur biotik dan abiotik yang saling mempengaruhi makhluk hidup tersebut. Unit-unit lingkup ekologi tersebut secara hirarki dimulai dari individu, populasi, komunitas, ekosistem dan bioma yang ditunjukkan dalam spektrum biologi. Pendekatan ekologi adalah memahami faktor-faktor dan prosesproses penting yang melandasi keberadaan dan kelimpahan jenis di tempat hidupnya. Makhluk hidup meluangkan waktu untuk berkompetisi dalam memperoleh makanan, tempat berlindung, dan pasangan kawin. Didalam lingkungan biotik terdapat interaksi antara individu sejenis maupun antara jenis yang berbeda, terdiri atas kompetisi, dan simbiosis.
               Kompetisi terbagi atas: kompetisi intraspesifik (kompetisi antar anggota satu spesies), dan kompetisi interspesifik (kompetisi antar anggota yang berbeda spesies). Simbiosis terdiri dari amensalisme, protokooperasi, mutualisme, komensalisme, parasitisme, dan predasi. Antara komponen pembentuk ekosistem terdapat hubungan saling ketergantungan, sehingga perubahan pada komponen yang satu akan menyebabkan
perubahan pada komponen yang lain. Peristiwa makan dan dimakan yang melukiskan suatu rantai makanan atau jaring-jaring makanan. Peristiwa rantai makanan menyebabkan terjadinya piramida energi, piramida jumlah, piramida biomassa dan aliran materi yang berupa siklus atau daur materi dalam ekosistem.
            Siklus materi yang terjadi di biosfer disebut siklus biogeokimia artinya suatu siklus dari bahan kimia, dari bagian abiotik dalam ekosistem ke komponen biotik, kemudian diuraikan lagi menjadi mineral. Habitat adalah tempat hidup asli (di dalam alam) suatu makhluk hidup. Niche dapat bermakna ganda. Pertama, lingkungan kecil (micro environment) yang khusus bagi suatu jenis makhluk hidup. Kedua, peranan suatu makhluk hidup dalam komunitas, misalnya sebagai produsen, konsumen atau pengurai. Daya dukung lingkungan adalah ketersediaan sumber daya alam cukup ruang untuk memenuhi kebutuhan dasar pada tingkat kestabilan sosial tertentu. Perubahan lingkungan dapat terjadi secara alami dan buatan manusia. Secara alami, misalnya: akibat gempa bumi, gunung meletus, angin ribut dan banjir. Sedangkan secara buatan akibat aktivitas manusia, misalnya: akibat penebangan hutan untuk pertanian, pembangunan rumah, jalan besar, pabrik, dan bendungan.
            Manusia mampu mengubah lingkungan misalnya pemberian pupuk, penghijauan, reboisasi, irigasi dan sebagainya untuk meningkatkan bidang pertanian dan melestarikan lingkungan. Setiap makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya. Komponen penyusun eksosistem terdiri atas dua, yaitu biotik dan abiotik. Faktor biotik (hayati) adalah segala makhluk hidup di sekitar dan di dalam makhluk hidup, sedangkan abiotik terdiri dari lingkungan, fisik (iklim, suhu, penyinaran, tekanan udara, kelembaban, angin, curah hujan, dan faktor-faktor tanah edafik, dan kimia (pH, senyawa kimia, dan lainnya. Interaksi antar populasi dikategorikan dalam bentuk netral, kompetisi atau persaingan, predasi, parasitisme, komensalisme, mutualisme dan  antibiosa.

        Seluruh ekosistem yang ada di dunia ini disebut Biosfer. Biosfer didefenisikan sebagai bagian bumi yang mengandung makhluk hidupmakhluk hidup . Ekosistem dapat dibedakan atas ekosistem darat, pantai, air tawar dan ekosistem air laut. Beberapa bioma darat antara lain: pamah, pegunungan, gurun, padang rumput, hutan basah, hutan gugur, taiga dan tundra. Sedangkan bioma pantai terdiri dari mangrove, formasi pes caprae, formasi baringtonia, dan air payau. Ekosistem air tawar dapat dibedakan atas perairan dengan air tenang, misalnya danau, rawan, kolam; serta perairan dengan air mengalir. Berdasarkan bagian daerah tempat hidup, dibagi tiga yaitu litoral, limnetik dan profundal. Bioma perairan terdiri dari berdasarkan daya tembus sinar matahari ke dalam air laut, terbagi atas fotik dan afotik. Secara fisik, habitat laut dibagi empat yaitu, berupa: litoral, neritik, batial dan abisal.
           Berdasarkan kebiasaan hidup, makhluk hidup perairan dibedakan menjadi plankton, perifiton, nekton, neuston, dan bentos. Sebuah komunitas terbentuk melalui serangkaian proses yang disebut suksesi suksesi. Dibedakan atas 2 bentuk, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer terbentuk pada suatu wilayah yang belum pernah terjadi kehidupan sama sekali, sedangkan suksesi sekunder terbentuk pada wilayah yang pernah ada kehidupan kemudian rusak akibat kejadian alam atau akibat aktivitas manusia. Contoh: komunitas yang terbentuk setelah letusan Gunung Krakatau, Gunung Kelud, atau hutan yang terbentuk setelah kebakaran. Suksesi akan mencapai klimaks, bila terbentuk suatu komunitas tertentu yang komposisi populasinya relatif tetap dan stabil disebut komunitas klimaks
Soal Latihan
A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e untuk jawaban yang tepat!
1. Bila karbondioksida dalam ekosistem jumlahnya makin berkurang, maka makhluk hidup yang pertama-tama akan mengalami dampak negatif 

    adalah ....
    a. pengurai d.karnivora
    b. produsen e.karnivora puncak
    c. herbivora
2. Salah satu alasan mengapa kita harus berusaha untuk melestarikan lingkungan adalah untuk ....
    a. meningkatkan usaha pariwisata
    b. melindungi kehidupan margasatwa
    c. meningkatkan hasil produksi pangan
    d. menambah devisa negara
    e. menjaga keseimbangan antara lingkungan biotik dan abiotik
3. Dalam suatu ekosistem yang tercemar DDT hidup berbagai komponen organik, antarnya: rumput, cacing, tikus, ular, burung biji, kelinci, serigala.

    Akumulasi DDT paling tinggi terdapat pada tubuh ....
    a. rumput
    b. cacing
    c. kelinci
   d. serigala
   e. tikus

4. Didalam suatu ekosistem yang normal, kelompok makhluk hidup yang paling kecil biomassanya adalah ....
    a. pengurai                       d. konsumen III
    b. produsen                     e. konsumen IV
    c. konsumen II
5. Dalam suatu ekosistem kolam terdapat: 1. ikan karnivora, 2. bakteri pengurai, 3. fitoplankton, 4. ikan herbivora, 5. zat-zat organik. Dari komponen

    ekosistem tersebut dapat disusun suatu mata rantai makanan ....
    a. 3-4-5-1-2                     d. 3-4-1-2-5
    b. 2-5-3-4-1                     e. 5-3-4-1-2
    c. 5-3-4-2-1
6. Iklim di daerah pegunungan berbeda dengan daerah hutan dataran rendah. Penentu iklim dalam hal ini adalah ....
    a. letak geografis             d. suhu
    b. letak topografi               e. curah hujan
   c. intensitas cahaya
7. Dalam siklus unsur, di alam sumber oksigen yang utama adalah ....
    a. aktivitas produsen
    b. aktivitas konsumen
    c. aktivitas dekomposer
    d. denitrifikasi
    e. dekomposisi
8. Interaksi yang terjadi antara rayap dan flagelata di dalam ususnya termasuk interaksi ....
    a. predasi                             d. parasitisme
    b. kompetisi                         e.komensalisme
    c. mutualisme
9. Interaksi merupakan ganguan bagi A, B tidak berpengaruh merupakan interaksi bersifat ....
    a. amensalisme
    b. komensalisme
    c. mutualisme
    d. parasitisme
    e. predatorisme
10. Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar dan tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial

      tertentu disebut ....
      a. kualitas lingkungan
      b. kuantitas lingkungan

      c. parameter lingkungan
      d. daya dukung lingkungan

      e. siklus lingkungan
11. Adaptasi tumbuhan menahun di gurun mempunyai daun yang ....
     a. berbentuk duri
     b. lebar dan tipis
     c. lebar dan tebal
     d. kecil dan tipis
     e. pita dan panjang
12. Adaptasi ikan dengan tekanan osmotik air laut dilakukan dengan cara ....
      a. sedikit minum, banyak buang urine
      b. banyak minum, sedikit buang urine
      c. sedikit membuang urine, banyak buang garam
      d. banyak membuang urine, dan garam
      e. garam laut disaing insang secara aktif
13. Jenis ikan pada perairan laut yang memanfaatkan plankton sebagai makanannya , dapat ditemukan pada zona pada ....
       a. batial                       d. pantai
       b. abisal                     e. limnetik
       c. afotik
14. Bioma yang paling banyak jenis populasinya adalah ....
      a. tundra                                     d. taiga
      b. hutan gugur                           e. hutan tropis
      c. padang rumput
15. Tumbuhan semusim berumur pendek dan bijinya akan tumbuh tiap datang musim penghujan, merupakan cirri dari bioma ....
      a. hutan tropis                                    d. padang rumput
      b. gurun                                               e. taiga
      c. hutan gugur
16. Ikan-ikan besar yang hidup di daerah neritik dan litoral perlu mengadakan adaptasi berikut ini, kecuali ....
       a. fisiologi                                            d. behaviour

       b. anatomi                                           e. klimatologi                  

       c. morfologi
17.Pada perjalanan suatu suksesi, yang biasanya menjadi pelopor adalah ....
       a. lumut                                             d. tumbuhan berkayu

       b. tumbuhan hijau                          e. cendawan
       c. bakteri fotosintetik
18. Ciri khas suatu rantai makanan adalah ....
       a. adanya aliran energi: produsen-konsumen
       b. aliran energi pindah: konsumen-produsen
       c. adanya materi biotik
       d. aliran energi yang tetap
       e. energi selalu berasal dari cahaya matahari
19. Gurun adalah suatu habitat alami yang memiliki sifat suhu yang tinggi pada siang hari, dingin pada malam hari, dan kurang air, sehingga di

     tempat itu jarang dijumpai ....
     a. mamalia                    d. ular
     b. insekta                       e. amfibia
     c. rodentia
20. Untuk beradaptasi dengan defisiensi air, tumbuhan menahun di gurun mempunyai daun yang ....
       a. menyerupai duri                      d. sempit dan tipis
       b. lebar dan tebal                        e. tipis sekali
       c. lebar dan tipis
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!
1. Tuliskan kedua definisi niche yang kalian ketahui!
2. Bagaimanakah hubungan antara transformasi energi dengan energi yang hilang dalam tiap tingkatan tropik?
3. Sebutkan bentuk-bentuk interaksi antara individu sejenis maupun antara jenis yang berbeda!
4. Perubahan lingkungan dapat terjadi disebabkan dua hal. Jelaskanlah!
5. Buatlah satu contoh rantai makanan dalam ekosistem sawah!
6. Jelaskanlah perbedaan antara daur nitrogen, daur karbon dan daur sulfur di alam!
7. Jelaskan perbedaan antara Produksi Primer Bersih (PPB) dan Produksi Primer Kotor (PPK)!
8. Sebutkan definisi dari:

     a. Ekosistem
     b. Komunitas
     c. Niche
     d. Populasi
9. Buatlah suatu jaring-jaring makanan dan berikan penjelasannya!
10. Gambarkan bentuk spektrum biologi hubungan ekologi dengan ilmu biologi lainnya!
11. Tuliskan ciri-ciri tumbuhan hydrofit!
12. Tuliskan ciri-ciri, tumbuhan dan hewan yang terdapat pada hutan gugur/deciduous forest!
13. Secara fisik, habitat laut terbagi 4 bentuk. Jelaskanlah!
14. Apakah yang menjadi syarat-syarat terjadinya suksesi primer dan suksesi sekunder?
15. Pengendalian hama tanaman dapat dilakukan menggunakan predator. Apakah yang dimaksud dengan predator dan berikan beberapa contoh

       jenis predator!
16. Mengapa ekologi disebut sebagai ilmu multidisipliner? Berikan contoh bidang apakah yang kalian ketahui!
17. Apakah perbedaan antara kompetisi intraspesies dan kompetisi antarspesies? Berikan masing-masing contohnya!
18. Berdasarkan kebiasaan hidup di lingkungan air, makhluk hidup dibedakan menjadi lima kelompok. Sebutkanlah!
19. Tuliskan ciri-ciri tumbuhan hutan hujan tropis!
20. Apakah yang dimaksud dengan ....
       a. bioma
       b. klimaks
       c. neuston, ferifiton, bentos
      d. profundal
      e. formasi
       f. meso halin
      g. iklim mikro


Beri Penilaian

Rating : 4.1/5 (42 votes cast)


Peralatan pribadi