BAB. XIV. OPERASI DAN MANAJEMEN PENANGKAPAN IKAN BAMBANG SETIONO

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari


Daftar isi

OPERASI DAN MANAJEMEN PENANGKAPAN IKAN


14.1. Melakukan penangkapan ikan


Secara garis besar alat tangkap dapat dibedakan dari segi kemampuan usaha (permodalan), jangkauan area penangkapan serta jenis alat penangkap yang digunakan. Demikian pula bahwa nelayan yang merupakan sumberdaya utama dalam melakukan kegiatan operasi dapat dibedakan pula antara nelayan skalla kecil (small scale fishery), skalla menengah (medium scale fishery) dan nelayan skalla besar (large scale fishery). Diperkirakan jumlah alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan Indonesia mencapai 250 jenis, dari jumlah ini 90% adalah merupakan alat penangkap ikan tradisional, sedangkan sisanya dapat dikatagorikan sebagai alat penngkap modern atau semi modern.
Timbulnya banyak jenis alat tangkap tersebut karena lautan Indonesia yang beriklim tropis, kondisi dan topografi dasar perairan daerah satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Secara umum kegiatan usaha penangkapan terhadap jenis-jenis sumberdaya perikanan dapat dikemukakan sebgai berikut :
- Untuk udang
- Untuk ikan tuna dan sejenisnya serta ikan pelagis besar lainnya
- Untuk ikan pelagis kecil
- Untuk ikan demersal
- Untuk ikan dan biota perairan karang


14.1.2. Mengoperasikan jaring lingkar dan payang


Yang dimaksud dengan pukat kantong lingkar adalah suatu jaring yang terdiri dari kantong (bunt or bag), kaki (sayap) yang dipasang pada kedua sisi (kiri-kanan) mulut jaring alat perangkap ini dalam pengoperasiannya dilingkarkan pada sasaran tertentu (kawanan ikan), dan pada akhir penangkapan hasilnya dinaikan ke atas geladak perahu/kapal atau di daratkan ke pantai. Berdasarkan kreteria pukat kantong lingkar dibedakan payang, dogol dan pukat tepi.
A. Payang
Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal oleh nelayan Indonesia. Payang termasuk alat penangkap tradisional, namun keberadaannya untuk perikanan laut Indonesia sampai saat ini tetap dianggap penting dan masih produktif maupun dalam penyerapan tenaga kerja.
Nama payang berbeda-beda menurut daerahnya seperti daerah Jakarta, Tegal, Pekalongan, Bratang dan daerah lain di pantai Utara Jawa menamakan payang adalah payang, payang uras untuk daerah Selat Bali dan sekitarnya, payang ronggeng untuk daerah (Bali Utara), payang gerut untuk daerah Bawean, payang puger untuk daerah Puger Jawa Timur, payang jabur untuk daerah Pandelengan/Madura dan lampung, dll.
Konstruksi alat tangkap payang atau pukat kantong lingkar secara garis besar terdiri dari bagian kantong (bag), badan/perut (body or belly), dan kaki/sayap (leg/wing). Besar mata jaring (mesh size) dari mulai kantong sampai sayap/kaki berbeda-beda artinya bervariasi mulai dari 1 cm. Bagian mulut jaring bagian atas menonjol kebelakang jika dibandingkan dengan mulut bagian bawah karena dimaksudkan bahwa payang adalah menangkap ikan pelagis yang cenderung bergerak kearah dalam jika terperangkap alat payang sehingga kesempatan lolos menjadi terhalang pada akhirnya masuk kedalam kantong jaring. Pada bagian bawah kaki/sayap dan mulut jaring diberi pemberat , sedangkan dibagian atas diberi pelampung dengan jarak tertentu pelampung yang berukuran paling besar ditempatkan dibagian tengah (bagian tengah bibir mulut bagian atas) dari mulut jaring. Pada kedua ujung depan kaki/sayap disambung dengan tali panjang umumnya disebut tali slmabar/tali hela/tali tarik.
Penangkapan dengan jaring payang dapat dilakukan baik malam maupun siang hari. Untuk malam hari terutama pada hari gelap (tidak dalam keadaan terang bulan) operasi penangkapan dibantu dengan menggunakan alat bantu lampu. Sedangkan untuk penangkapan yang dilakukan pada siang hari menggunakan alat bantu rumpon/payaos ( fish agregating device) kadang-kadang tanpa menggunakan alat bantu rumpon.
Penangkapan dengan payang dan sejenis ini dapat dilakukan baik dengan perahu layar maupun dengan kapal motor. Penggunaan tenaga berkisar 6 orang untuk payang berukuran kecil dan 16 orang untuk payang besar. Payang termasuk alat tangkap yang produktifitasnya tinggi dan dikenal hampir seluruh daerah perikanan laut Indonesia, namun yang paling , banyak ialah di pantai Utara Jawa termasuk Madura, Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Hasil tangkapan terutama jenis-jenis pelagis kecil seperti ikan layang, selar, kembung, lemuru, tembang japuh, dll). Hasil tangkapan tergantung keadaan daerah dan banyak sedikitnya ikan yang ada di sekitar rumpon.

B. Jaring Lampara
Asal mulanya jaring lampara digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup. Jaring ini diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1950-an khususnya di daerah dimana banyak penangkapan cakalang (pole and line) perairan sulawesi Utara (Air Tembaga), Sulawesi Selatan dan perairan Indonesia Timur.
Ukuran jaring lampara bervariasi mulai panjang 25-50 depa dan lebar (dalam jaring) antara 6 – 20 depa. Kantong jaring relatif besar. Sekilas bentuk jaring lampara seperti payang, terdiri dari sayap (kiri dan kanan) dan kantong. Kantong untuk lampara berbeda dengan kantong jaring payang yaitu ujungnya tidak lagi lancip (berbentuk kerucut) tetapi lebih cenderung menggelembung hal ini dimaksudkan agar ikan-ikan umpan yang tertangkap tidak mudah mati karena masih tersedia cukup ruang untuk bergerak (tidak berdesak-desakan). Penangkapan ikan umpan hidup dengan lampara dlakukan pada malam hari, dan penangkapannya dibantu dengan lampu untuk mengumpulkan ikan umpan. Pertama-tama menjelang malam hari lampu-lampu yang ada di kapal/perahu dinyalakan. Jika telah terkumpul ikan umpan lampu yang ada di kapal dimatikan dan dipersiapkan perahu lampu menjauh dengan kapal dan dipersiapkan pula perahu yang membawa jaring. Jika telah cukup jarak perahu lampu dan ketebalan/populasi ikan umpan cukup banyak , maka perahu jaring mulai menurunkan jaring mengelilingi perahu lampu. Setelah kedua ujung tali jaring bertemu dikapal jaring membentuk lingkaran maka selanjutnya diadakan penarikan. Setelah
penarikan jaring mendekati pada bagian kantong, kemudian lingkaran besi (diameter kurang lebih 2 meter) dilemparkan kedalamnya dan terjadilah bentuk kantong yang sempurna menyerupai mangkok. Selanjutnya kawanan ikan umpan yang telah terkurung dalam kantong berikut perahu ditarik kembali ke kapal diikuti oleh perahu lampu untuk menyelesaikan hasil tangkapan.
Pemindahan ikan umpan dari kantong jaring ke bak-bak di dalam kapal penangkapan (tuna clipper) dilakukan dengan cara menyeroknya sedikit demi sedikit dan dikerjakan dalam tempo yang cepat agar tidak lekas mati. Hasil tangkapan yang diperoleh terdiri dari berbagai jenis ikan umpan seperti : layang (decapterus spp), kembung (rastrelliger spp.), sardin
(clupeid), teri (stelephorus spp), lolosi (Caesio spp).
Alat penangkap
Musim penangkapan dapat dilakukan di sepanjang tahun, terutama di perairan pantai dan teluk-teluk. Hasil penangkapan yang baik umumnya dilakukan pada malam gelap, keadaan laut tidak bergelombangdan arus tidak begitu kuat.


14.1.3. Mengoperasikan Jaring insang (gill net) dan Bubu


A. Jaring Gill net
Yang dimaksud dengan jaring insang (gill net) ialah suatu alat tangkap berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, ris atas – bawah. Besar mata jaring bervariasi disesuaikan dengan sasaran ikan yang akan ditangkap. Ikan yang tertangkap itu karena terjerat (gilled) pada bagian insang lubang penutup insang (operculum) atau terpuntal (entangled) pada mata jaring yang terdiri dari satu lapis (gill net), dua lapis atau tiga lapis (trammel net). Panjang jaring dapat mencapai antara 300 – 500 m, tergantung dari banyaknya piece jaring yang digunakan atau dioperasikan.
Dilihat dari cara pengoperasiannya alat tangkap ini dapat dihanyutkan yang disebut dengan jaring gill net hanyut (drift gill net), dilabuh (set gill net), dan dilingkarkan (encircling gill net). Khusus untuk jaring insang dasar (bottom gill net) atau dikenal dengan nama Jaring klitik.

B. Bubu
Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuk bubu banyak sekali hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri seperti bentuk sangkar, silinder, gendang, segi tiga memanjang (kubus), dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu, secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan, mulut dan pintu.
Bubu termasuk alat perangkap (traps) artinya alat tangkap ini berupa jebakan dan alat tangkap ini sifatnya pasif. Badan bubu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung, mulut
bubu berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat pengambilan hasil tangkapan. Dilihat dari cara operasional penangkapannya bubu dapat dibedakan menjadi 3 golongan :
- Bubu dasar (ground fishpot)
- Bubu apung (floating fishpot)
- Bubu hanyut (drifting fishpot)


14.1.4. Jaring Trawl (trawl nets)


Yang dimaksud dengan jaring trawl adalah suatu jaring kanting yang ditarik dibelakang kapal berjalan menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis ikan demersal lainnya. Menurut sejarahnya asalnya alat tangkap trawl ini dari laut tengah dan pada abab ke 16 masuk ke Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan negara eropa lainnya. Jaring trawl yang sekarang ini telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan jika dibandingkan dengan asal mulanya alat tangkap trawl ini dibuat.

Sesuai dengan terbukanya mulut jaring, pada dasarnya trawl secara garis besar dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
- Otter trawl : terbukanya mulut jaring dikarenakan adanya dua buah papan (otter board) yang dipasang diujung muka kaki/sayap jaring yang pada prinsipnya menyerupai layang-layang (kite).
- Beam trawl : terbukanya mulut jaring dikarenakan bentangan (rentangan) kayu/besi pada mulut jaring, disebut juga fixsmouth trawl.
- Paranzella : terbukanya mulut jaring karena ditarik oleh dua buah kapal yang jalannya sejajar dengan jarak tertentu, disebut juga pair trawl.
A. Otter trawl
Otter trawl termasuk jaring tarik yang sangat penting, bahkan terpenting dibandingkan dengan trawl yang lain. Otter trawl menggunakan otter board dalam kepentingan membuka mulut jaring kearah horisontal pada waktu operasi penangkapan dilakukan. Jika di tinjau dari cara operasi penangkapannya maka otter trawl ada juga yang disebut stern trawl dan side trawl.
Stern trawl
Stern trawl adalah otter trawl yang cara pengoperasiannya (penurunan dan pengangkatan) jaring dilakukan dari bagian belakang (buritan) kapal. Pukat udang (shrimp trawl) pada prinsipnya terdiri dari bagian kantong (cod end), badan (body), sayap (wing), sewakan (otter board) dan tali tarik (warp). Desain pukat udang pada prinsipnya adalah sama dengan pukat harimau atau jaring trawl lainnya. Material (bahan) yang dipakai adalah PE, nylon, kawat (wire) Pukat udang ini dioperasikan dengan ditarik menelusuri dasar perairan oleh kapal berukuran 100 GT atau lebih dengan anak buah kapal (crew) lebih dari 10 orang. Lama penarikan antara 1-3 jam tergantung keadaan daerah penangkapan (fishing ground). Daerah penangkapan dipilih dasar perairan yang permukaannya rata, berdasar lumpur atau lumpur pasir.

Operasi penangkapan dapat dilakukan siang dan malam hari tergantung keadaan pula. Hasil tangkapannya meliputi udang jerebung (Penaeus merguensis), udang windu (Penaeus merguensis), udang dogol (Penaeus merguensis), udang krosok (Penaeus merguensis). Hasil sampingannya adalah berbagai ikan demersal seperti : bulu ayam (Setipirnna spp.), petek (Leiognathus spp.), gulamah (Sciena spp.), nomei (Harpodon spp.), rajungan (Portunus pelagicus), cumi-cumi (loligo spp.), sotong (Sepia spp.) dan lain-lainnya.

Double rigged shrimp trawl (Trawl udang ganda)
Trawl udang ganda adalah otter trawl yang dalam operasi penangkapannya menggunakan dua buah unit jaring sekaligus yang ditarik pada kedua sisi lambung kapal. Dengan penggunaan trawl udang ganda ini terutama berpengaruh terhadap luas liputan area penangkapan. Yang dengan demikian diharapkan hasil tangkapannya menjadi berlipat ganda dibanding bila hanya menggunakan satu jarring.
Side trawl
Yang dimaksud dengan side trawl (trawl samping) adalah otter trawl yang operasi penangkapan (penurunan jarring/setting of the net dan cara pengangkatan jarring hauling of the net) dilakukan dari salah satu sisi lambung kapal. Pada waktu penangkapan dilakukan, arah angin merupakan factor penting.
Dengan berkembangnya system penangkapan dengan stern trawl maka system penangkapan dengan side trawl kurang bahkan tidak berkembang lagi.
B. Pair Trawl (Trawl kapal ganda)
Pair trawl adalah termasuk tipe paranzela disebut trawl kapal ganda, atau juga disebut bull trawl karena di dalam operasi penangkapannya menggunakan dua kapal, dan otter board tidak digunakan lagi. Pair trawl lebih dikenal sebagai fish trawl (trawl ikan). Hasil tangkapan utama adalah ikan-ikan demersal dan sebagian ikan pelagis. kakap (lutjanus spp.), kurisi (Nemipterus spp.), selar (Caranx spp.), mata merah (Priacanthus spp.), kuniran (Upeneus spp.), manyung (Arius spp.), beloso (Saurida spp.), lencam (Lethrinus spp.), sontong (Sepia spp.), udang barong (Panulirus spp.) dan lain-lainnya.
C. Beam Trawl
Beam trawl disebut fix mouth trawl atau trawl bermulut tetap atau bingkai tetap. Beam trawl adalah jarring tarik dimana terbukanya mulut jarring dikarenakan adanya rentangan (bentangan) kayu atau besi pada mulut jarring. Bentangan atau rentangan dapat dapat berbentuk bingkai empat persegi panjang atau menyerupai huruf U terbalik atau seperti kuda-kuda. Bentuk jarring lebih menyerupai kerucut dan tanpa sayap /kaki (bandingkan dengan jarring pada otter trawl). Bahan jarring dapat dari benang katun, nilon, polyethylene.
Panjang jarring seluruhnya kurang lebih 2 kali panjang bingkai. Besar mata bervariasi kecil pada bagian kantong dan membesar kearah bagian mulut.
Hasil tangkapan terutama udang rebon disamping itu tertangkap ikan teri, tembang juga ikut tertangkap. Untuk saat sekarang ini beam trawl sudah tidak digunakan lagi.


14.1.5. Mengoperasikan alat tangkap pancing (Hook and line)


Pancing adalah salah salah satu alat tangkap yang umum dikenal oleh masyarakat ramai terlebih dikalangan nelayan. Pada prinsipnya pancing ini terdiri dari dua komponen utama yaitu tali (line) dan mata pancing (hook).
Banyak ragam dari pancing, mulai dari bentuk yang sederhana yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk kesenangan semata-mata (game fish) sampai dalam bentuk ukuran skala besar yang digunakan untuk perikanan industri. Pancing rawai (Long line) Pancing rawai atau long line adalah suatu pancing yang terdiri dari tali panjang (tali utama atau main line) kemudian pada tali tersebut secara berderet pada jarak tertentu digantungkan tali pendek (tali cabang atau branch line) yang ujungnya diberi mata pancing (hook). Panjang rentangan tali main line dapat mencapai ratusan meter bahkan puluhan kilometer.
Berdasarkan sasaran yang hendak dicapai dan cara pengoperasiannya pancing rawai dibedakan menjadi rawai cucut (shark long line), rawai tuna (tuna long line). Rawai tuna tergolong rawai hanyut (drift long line) tetapi umumnya hanya disebut tuna long line. Dalam industri perikanan pancing rawai tuna ini mempunyai nilai produktivitasnya tinggi. Satu perangkat rawai tuna terdiri dari ribuan mata pancing dengan panjang tali mencapai puluhan km. (15 – 75 Km).

Sebelum kegiatan penangkapan dimulai perlu diperhatikan tentang umpan yang akan digunakan. Ikan yang dapat digunakan sebagai ikan umpan antara lain Ikan umpan yang memiliki kwalitas ikan segar. :
- Ikan lemuru (Sardinella longicep)
- Belanak (Mullet)
- Layang (Decapterus spp.)
- Kembung Rastrelliger spp.)
- Bandeng (Chanos-chanos)
Kemudian menyediakan jumlah ikan umpan sesuai dengan jumlah mata pancing yang akan digunakan. Anak buah kapal mengambil posisi masing-masingsesuai dengan tugasnya sementara kapal dijalankan dengan kecepatan antara 3 – 4 knots selanjutnya dilakukan pelepasan pancing. Mula-mula pelampung dan tiang bendera dilepas beserta tali pelampungnya, kemudian disusul lepas tali utama akhirnya tali cabang yang diikuti mata pancing yang telah diberi umpan, begitu seterusnya secara bergantian antara tali utama dengan branch line disambungkan di lempar ke laut (antara satu rawai dengan rawai yang lain disambung melalui satu tali penyambung).
Penarikan rawai dilakukan 5 – 6 jam kemudian setelah pelepasan pancing. Biasanya dimulai pada pukul 12.00 dan selesai menjelang matahari terbenam. Penarikan pancing dilakukan di bagian depan kapal dengan bantuan alat penarik (Line hauler). Penarikan pancing (hauling) secara berurut dimulai dari tiang bendera – pelampung – tali pelampung serta pemberat diangkat keatas deck kapal – tali utama – berikut tali cabang beserta mata pancingnya dan begitu terus sampai keseluruhan satuan mata pancing terangkat ke atas geladak kapal.
Hasil tangkapan ikan antara lain jenis-jenis tuna tetapi banyak jenis-jenis ikan lain yang tertangkap sebagai hasil sampingan. Jenis ikan tuna yang tertangkap seperti :
- Madidihang (Thunnus albacares)
- Cakalang (Katsuwonus pelamis)
- Tuna mata besar (Thunnus obesus)
- Tuna sirip biru (Thunnus maccoyii)
- Albakora (Thunnus alalunga)
Sedangkan hasil tangkapan sampingannya adalah :
- Layaran (Isthiophorus orientalis)
- Setuhuk putih (Makaira mazara)
- Ikan pedang (Xiphias gladius)
- Setuhuk hitam (Makaira india)
- Setuhuk loreng (Tetrapturus mitsukurii)
- Jenis cucut (cucut mako, cucut martil dan lain-lainnya)

Pancing Gandar (Pole and line)
Huhate (skipjack pole and line) atau umumnya disebut dengan pole and line adalah alat tangkap ikan cakalang dengan menggunakan pancing. Alat tangkap ini banyak digunakan di perairan Indonesia Timur (Minahasa, Air Tembaga, Ambon, Bacan, laut Banda, Ternate-Tidore, Morotai dan Sorong). Dalam operasi penangkapannya menggunakan bantuan ikan umpan hidup (live bait fish) dan semprotan air.

Konstruksi alat tangkap pole and line terdiri dari bagian-bagian bambu (bamboe’s pole), tali pancing dan mata pancing. Mata pancing untuk huhate (pole and line) ada dua macam yaitu mata pancing yang tidak berkait dan yang berkait.
Bentuk kapal cakalang mempunyai beberapa kekhususan antara lain :
- Dibagian atas deck kapal bagian depan (haluan) terdapat pelataran digunakan sebagai tempat pemancing untuk melakukan pemancingan
- Dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk menyimpan umpan hidup
- Dilengkapi dengan sistem semprotan air (water splinkers system)yang dihubungkan dengan suatu pompa
- Dilengkapi dengan system semprotan air (water splinkers system yang dihubungkan dengan suatu pompa
Kapal cakalang yang umum digunakan mempunyai ukuran 20 GT dengan kekuatan 40 – 60 HP. Sedangkan tenaga pemancing berjumlah antara 22 – 26 orang. Di kapal pole and line susunan ABK antara lain terdiri dari : 1 orang sebagai Nakhoda, 1 orang motoris, 1 – 2 orang pelempar umpan (boi-boi), 1 orang sebagai juru masak dan sisanya sebagai pemancing.
Sebelum penangkapan ikan dengan pole and line dimulai terlebih dahulu mencari gerombolan ikan cakalang. Dengan melihat tanda-tanda adanya burung-burung yang menyambar-nyambar atau datang ke tempat rumpon yang telah dipasang sebelumnya. Setelah diketemukan gerombolan ikan cakalang pelemparan umpan dilakukan untuk merangsang ikan cakalang dekat dengan kapal, dinyalakan semprotan air, pelemparan umpan terus dilakukan, pemancingan segera dilakukan sampai ikan cakalang hilang (menjauhi kapal).

Troll line (Pancing tarik atau tonda)
Pada prinsipnya pancing ini terdiri dari tali panjang, mata pancing, tanpa pemberat, menggunakan umpan tiruan, umpan palsu (imitation bait). Umpan tiruan dapat terbuat dari bulu ayam, bulu domba, kain-kain berwarna menarik, bahan dari plastik dibuat berbentuk sesuai dengan aslinya seperti cumi-cumi, ikan dan lain-lain. Cara penangkapannya dengan menarik/menonda pancing tersebut baik dengan perahu layar maupun dengan kapal motor secara horisontal menelusuri perairan. Penangkapan dilakukan pada pagi hari sampai menjelang sore hari.
Hasil tangkapan ikan terutama tongkol, cakalang, tenggiri, madidihang, setuhuk dll.
Hand line (Pancing ulur)
Yang dimaksud dengan hand line (pancing ulur) ialah suatu bentuk pancing yang digunakan hanya satu tali utama tetapi bisa menggunakan pancing. Alat tangkap ini banyak digunakan oleh nelayan khususnya nelayan skala kecil (small scale fishery).
Konstruksi alat tangkap hand line terdiri dari beberapa komponen yaitu :
- Tali pancing (line)
- Mata pancing (hook) dan
- Pemberat (sinkers)
Lokasi pemancingan dapat dilakukan di sembarang tempat (di karang, tempat dangkal maupun dalam) atau ditempat-tempat rumpon. Dalam satu unit hand line ada yang memakai banyak mata pancing yang disambung diikat sepanjang tali utama pada jarak satu sama lain yang telah ditentukan (rawai tegak atau vertical long line). Prinsip pemancingan dilakukan yaitu setelah pancing diturunkan ke dalam air sampai menyentuh dasar perairan kemudian diangkat.

14.2. Menerapkan penanganan dan penyimpanan hasil tangkap


14.2.1. Menerapkan penanganan dan penyimpanan hasil tangkap


secara benar dan higienis
Penanganan ikan segar adalah semua pekerjaan yang dilakukan terhadap ikan segar sejak ditangkap sampai saat diterima oleh konsumen dan pekerjaan tersebut dilakukan oleh nelayan, pedagang, penolah, penyalur, pengecer dan seterusnya hingga konsumen.
A. Pendinginan ikan
Dengan mendinginkan ikan sampai sekitar 00C maka ikan dapat diperpanjang masa kesegarannya antara 12 – 18 hari sejak saat ikan ditangkap dan mati, tergantung pada jenis ikan, cara penanganan dan keadaan pendinginannya. Contoh ikan tuna yang ditangani dan didinginkan dengan baik sejak ditangkap, dapat bertahan sampai 21 hari sebelum dinyatakan tidak layak untuk dikomsumsi/dimakan orang. Perlu diketahui bahwa dengan pendinginan, maka kegiatan bakteri dapat dihambat, artinya bahwa bakteri pada kondisi itu masih hidup dan melakukan perusakan terhadap ikan tetapi lambat. Kegiatan akan normal kembali bila suhu naik. Kegiatan bakteri dapat dihentikan bila ikan mencapai suhu – 120C, suhu ini dapat dicapai melalui cara pembekuan ikan.
Cara pengawetan dengan pendinginan yang dilakukan terhadap ikan dimaksudkan bahwa ikan mendapatkan kemungkinan terbesar untuk dapat mengawet sifat-sifat asli ikan seperti tekstur daging, rasa, bau, dll. Terutama jenis-jenis ikan tuna, tenggiri, bawal, kakap, lemuru, kembung, dan lain sebagainya dapat dipasarkan dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu pendinginan adalah cara yang murah, cepat dan efektif serta fleksibel untuk digunakan di atas kapal di daerah penangkapan. Efisiensi pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat kesegaran ikan sesaat sebelum didinginkan. Pendinginan yang dilakukan sebelum regor mortis berlalu merupakan cara yang paling efektif jika disertai denganteknik yang benar, sedangkan pendinginan yang dilakukan setelah autolysis berjalan tidak akan banyak berguna. Handling atau penanganan ikan dengan pendinginan dapat dilakukan dengan salah satu atau kombinasi dari cara-cara berikut ini :
- Pendinginan dengan es
- Pendinginan dengan es kering (dry ice)
- Pendinginan dengan air dingin :
- Air tawar bercampur es atau air yang didinginkan dengan mesin pendingin
- Air laut dingin bercampur es (chilled seawater, CSW)

- Air laut yang didinginkan dengan mesin pendingin (refrigerated sea water, RSW)
- Pendinginan dengan udara dingin
Jenis-jenis Es
Secara umum cara yang terbaik untuk mendinginkan ikan adalah dengan menggunakan es, karena es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak mempengaruhi keadaan ikan dan dengan biaya yang tidak mahal. Es pada umumnya dibuat dari bahan air tawar tetapi dapat pula dibuat dengan air laut.
Berdasarkan bentuknya es dapat dikelompokan menjadi 5 (lima) bentuk antara lain :
1. Es balok (block ice), berupa balok berukuran 12 – 60 kg per balok,
2. Es tabung (tube ice)
3. Es keping tebal (plate ice)
4. Es keping tipis (flake ice)
5. Es halus (slush ice)
Es balok adalah yang paling banyak di produksi dan banyak pula dibutuhkan oleh nelayan, karena murah dan mudah dalam pengangkutannya.
Es curah jika di campur dengan garam dapur mempunyai titik cair jauh di bawah 00C. Es yang bercampur dengan garam ini dapat mendinginkan ikan dengan cepat dan lebih efisien, tetapi menyebabkan ikan agak asin dan beratnya menjadi berkurang.
Menilai mutu es yang baik dapat dilihat dari kemurnian dan kejernihan yaitu terlihat padat, bening dan kering (tidak meleleh). Es yang tidak kering menunjukan bahwa suhunya hanya 00C, sedangkan es yang kering suhunya dapat mencapai -70C. Sedangkan es yang kurang baik adalah tidak padat, berwarna putih terdapat rongga-rongga yang berisi udara atau kotoran lain. Cara-cara penanganan ikan dalam pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada :
- Tempatnya seperti di kapal, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan, pasar ikan, pabrik pengolahan ikan, supermarket, dll.
- Jenis ikan
- Tujuan pendinginan
- Penataan dan perbandingan jumlah ikan dan es didalam peti atau palka
Prosedur umum yang dianjurkan dalam penanganan ikan sebelum disimpan ialah ikan terlebih dahulu dibuang isi perut dan insangnya, tetapi bila ikannya berukuran kecil dan dalam jumlah yang banyak maka pada umumnya ikan disimpan dalam keadaan utuh. Pencucian juga dianjurkan untuk membuang kotoran, lendir dan darah. Jika keadaan memungkinkan, air dingin dan bersih yang boleh digunakan untuk mencuci ikan. Hindarkan pencucian ikan dengan air kolam pelabuhan, air sungai dan yang sejenisnya, karena dapat menyebabkan proses mempercepat pembusukan.
Faktor yang lain seperti kecepatan penanganan ikan segera didinginkan dilakukan dengan cepat agar suhu ikan dapat segera diturunkan. Salah satu contoh untuk mencampur ikan dengan es dalam penyimpanan ialah pertama sekali dengan membuat lapisan es pada dasar wadah peti, kemudian diatasnya diletakan lapisan ikan, begitu seterusnya secara bergantian dan ditutup dengan lapisan es sebagai lapisan teratas. Dan ikan tidak boleh bersinggungan langsung dengan dinding wadah oleh sebab itu antara dinding wadah dengan ikan juga diberikan es.
Penggunaan Cool-Room
Cool room adalah ruang penyimpanan ikan yang didinginkan dengan mesin pendingin dan suhunya dapat diatur antara -50C hingga -50C. Pengaturan suhu itu dilakukan dengan menggunakan sebuah termostat yang bekerja secara otomatis sesuai dengan yang diminta suhu cool room. Perlu diketahui bahwa kapasitas mesin pendingin pada cool room sangat
kecil dan hanya dapat diandalkan untuk mendinginkan udara didalam cool room saja. Oleh karena itu ikan yang dimasukan kedalam cool room harus diberi es.
Cool room sebaiknya pada dinding-dindingnya, langit-langit dan lantainya diberi lapisan isolasi, agar panas dari luar tidak menerobos masuk kedalam ruang pendingin. Tanpa isolasi ini, sangat sulit untuk mengharap agar suhupenyimpanan dapat diturunkan. Pelapisan isolasi pada cool room merupakan salah satu cara mempertahankan suhu yang rendah di dalam ruang penyimpanan. Anjuran lain yang perlu diperhatikan dalam penanganan suhu cool room tetap terjaga antara lain :
- Hindarkan membuka pintu cool room lebih lama dari yang diperlukan
- Jangan memasukan benda-benda yang tidak diperlukan ke dalam cool room
- Jangan terlalu banyak orang yang masuk ke dalam cool room, karena setiap orang yang masuk akan menghasilkan panas
- Jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu di dalam cool room
- Jangan membiarkan lampu penerangan di dalam cool room hidup jika tidak diperlukan

Pendinginan dengan es kering
Es kering adalah CO2 yang dipadatkan. Daya pendingin es kering jauh lebih besar dari es biasa dalam berat yang sama. Es biasa mencair pada suhu 00C hanya menyerap panas 80 kkal/kg es, sedangkan es kering menyublim pada suhu -78,50C menyerap panas 136,6 kkal/kg.
Es kering tidak boleh menempel langsung pada ikan yang didinginkan karena suhu yang sangat rendah dapat merusak kulit dan daging ikan.


Pendinginan dengan air dingin
Air dingin dapat mendinginkan ikan dengan cepat karena persinggungan yang lebih baik dari pada pendinginan dengan es. Melihat praktek yang berlangsung dalam penangkapan, penanganan dan pengolahan ikan, maka air yang didinginkan adalah air yang mempunyai mutu kesehatan yang diizinkan yang didinginkan dengan cara penambahan es atau direfrigerasi mekanik agar suhunya berada sekitar 00C sampai -10C yang digunakan untuk menurunkan suhu dan memelihara tetap dingin ikan basah supaya daya awet ikan menjadi
lebih panjang, rupa dan teksturnya lebih baik selama penyimpanan, pengangkutan dan pengolahan, mengapa karena laju pertumbuhan bakteri di hambat sampai batas minimum.
Secara keseluruhan diperoleh enam jenis air yang didinginkan sesuai dengan kombinasi berikut ini :
1. Air didinginkan dengan es, disingkat ADI (chilled fresh water, CFW)
2. Air direfrigerasi, AREF (refrigerated fresh water, RFW)
3. Air laut didinginkan dengan es, ALDI (chilled sea water, CSW)
4. Air laut direfrigerasi, ALREF (refrigerated sea water, RSW)
5. Air garam didinginkan dengan es, AGADI (chilled brine, CB) dan
6. Air garam direfrigerasi, AGAREF (refrigerated brine, RB)
Persyaratan penanganan dan penyimpanan secara hygienik Kapal harus didesain agar cepat dan efisien dapat menangani ikan, memudahkan pembersihan dan disinfeksi, dan harus baik konstruksi dan jenis materialnya agar tidak mengakibatkan kerusakan atau pencemaran hasil tangkapan.
Maksud dari ketentuan tersebut diatas agar :
1. ikan tidak dicemari oleh air comberan dan buangan asap bahan bakar, oli gemuk dan lain-lain kotoran
2. ikan terlindungi terhadap kerusakan fisik, suhu tinggi, panas matahari dan pengeringan oleh angin
3. ikan hanya berkontak dengan air dan es bersih serta material tahan karat yang halus dan mudah dibersihkan

Perlu juga diperhatikan tentang konstruksi palka dimana :
1. harus terbuat dari bahan tahan karat, cukup luas untuk melindungi ikan
2. mudah dibongkar pasang mempunyai pegangan dan alur yang memungkinkan air, lendir dan darah cepat mengalir meninggalkan ikan
3. harus diinsulasi dan lapisan penutup palka yang kedap air
Maksud dari ketentuan tersebut diatas agar :
1. panas tidak masuk ke dalam palka yang akan cepat melelehkan es dan menaikan suhu ikan yang mengakibatkan ikan cepat busuk
2. air lelehan es tidak menyusup melalui lapisan penutup dan membasahi bahan insulasi yang akan mengurangi efisiensinya
3. air lelehan dan buangan dari palka dan tangki cepat mengalir ke dalam kolam pembuangan yang dilengkapi pula dengan pompa pembuangan air kotoran yang mempunyai filter.


14.2.2. Menerapkan penanganan dan penyimpanan hasil tangkap


Dalam setiap operasi penangkapan, ikan yang tertangkap harus  diperlakukan dengan sebaik-baiknya, sebab perlakuan ini merupakan langkah pertama yang sangat menentukan mutu ikan dalam prosesproses berikutnya. Bila langkah ini tidak dapat dipenuhi sebagaimana anjuran yang diberikan maka mutu ikan hasil tangkapan akan menurun terus hingga pada konsumen, pada akhirnya nilai jual ikan menjadi rendah. Faktor yang mempengaruhi kecepatan pembusukan ikan Penyebab utama kerusakan-kerusakan pada ikan yang telah diuraikan tersebut diatas menyebabkan terjadinya penurunan mutu ikan. Ada beberapa kerusakan yang dapat disampaikan antara lain :
Kerusakan phisik
Kerusakan fisik pada ikan dapat terjadi pada saat penangkapan, penanganan diatas kapal, penyimpanan dalam palka, dalam pengangkutan atau pada saat pemasaran. Kerusakan fisik ikan dimaksud adalah ditandai dengan luka-luka dan bekas gencetan oleh benda atau karena penyusunan ikan dalam palka. Ikan yang mengalami luka akan mempercepat laju pembusukan karena mikrobiologis yang dapat menciptakan area penetrasi bakteri pembusuk menuju jaringan daging ikan.
Kerusakan kimiawi
Proses penurunan secara kimiawi adalah ditandai dengan adanya perubahan bau dan rasa menjadi tengik (rancidity) disebabkan oleh oksidasi lemak, dan warna ikan menjadi kusam.

Kerusakan mikrobiologis
Jutaan bakteri yang terdapat pada seekor ikan yang baru ditangkap tidaklah tersebar merata pada seluruh tubuh ikan, melainkan terpusat pada tiga tempat yaitu pada kulit, insang dan isi perut. Jenis-jenis bakteri yang biasanya terdapat pada ikan termasuk dalam golongan Achromobacter dan Flavobacterium serta Pseudomonas maupun Clostridium. Suhu lingkungan adalah salah satu syarat diperlukan oleh bakteri-bakteri tersebut dapat hidup, dimana pada saat ikan masih hidup suhu ikan masih cukup rendah artinya bakteri mikroorganisme belum dapat bertumbuh dengan baik, Akan tetapi, segera setelah ikan mati dan proses autolisis berjalan, suhu ikan berangsur-angsur naik dan pada suatu saat memungkinkan bagi pertumbuhan bakteri pembusuk.
Histamin
Kerusakan dan pembusukan ikan banyak kaitannya dengan kandungan histamin. Histamin terjadi setelah ikan mati dan dibiarkan pada suhu tinggi sehingga bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak. Kadar histamin pada ikan segar dipengaruhi oleh tingkat kesegarannya, jenis ikan, ukuran, maupun warna dagingnya. Bakteri tertentu menghasilkan enzim histidin dekarboksilase selama pertumbuhannya. Enzim ini bereaksi didalam tubuh ikan yang menghasilkan histamin dan cenderung lebih stabil dari pada bakteri dalam keadaan beku dan aktif kembali dengan sangat cepat setelah di thawing. Studi terbaru mengatakan bahwa bila produksi histamin meningkat disebabkan karena kandungan histidin dekarboksilase tinggi,
dan pembentukan histamin dapat berlanjut walaupun dalam keadaan beku. Dari ratusan bakteri yang telah diteliti ada tiga jenis bakteri yang mampu memproduksi histamin dari histidin dalam jumlah tinggi yaitu : Proteus morganii atau Morganella morganii (terdapat pada ikan Big eye tuna, Skipjack), Enterobacter aerogenes (pada Skipjack), Clostridium perfringens (pada Skipjack). Masalah serius dalam penanganan tuna dalam mempertahankan mutu ikan tuna adalah adanya kandungan histamin dan pembentukan histamin dapat berhenti pada suhu 00C sedangkan pada suhu 200C histamin terbentuk dalam jumlah yang banyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan mutu ikan Proses pembusukan daging ikan merupakan proses yang komplek dan sulit untuk dimengerti permulaanya. Faktor yang berperan penting dalam proses pembusukan / kerusakan adalah bakteri. Bakteri telah ada sewaktu ikan tersebut masih hidup dan terdapat pada bagian insang, kotoran dan permukaan tubuhnya Ikan yang ditangkap segera menuju proses pembusukan. Kecepatan membusuknya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah teknik penangkapan ikan. Ikan yang ditangkap dengan alat tangkap payang, purse siene, trawl, pole and line lebih baik keadaannya jika dibandingkan dengan menggunakan alat tangkap gill net dan long line.
Pada alat tangkap payang, purse siene, trawl, pole and line ikan yang ditangkap segera diangkat ke deck untuk segera ditangani. Sedangkan pada alat tangkap long line dan gill net ikan yang tertangkap dan mati terbenam di dalam air sehingga kondisi ikan kurang baik sewaktu diangkat di deck. Penyebab yang kedua adalah reaksi menghadapi kematiannya yang dalam hidupnya bergerak cepat seperti tongkol, tenggiri, cucut, biasanya meronta-ronta kuat bila terkena alat tangkap dan akibatnya banyak kehilangan tenaga, cepat mati, rigor mortis cepat terjadi dan cepat pula berakhir ini berarti bahwa ikan akan mengalami proses pembusukan yang cepat pula. Berbeda dengan ikan bawal misalnya, ikan bawal tidak banyak melakukan reaksi yang berlebihan saat tertangkap dengan alat tangkap bahkan kadang-kadang masih dalam keadaan hidup sehingga proses regor mortis lambat dan proses pembusukan berlansung lambat. Jenis dan ukuran ikan juga dapat mempercepat proses pembusukan, ikan-ikan kecil membusuk lebih cepat dari pada ikan yang besar. Keadaan fisik sebelum ikan tertangkap lemah misalnya ikan yang sakit, lapar atau habis bertelur, akan lebih cepat membusuk dibanding ikan yang pada saat ditangkap dalam keadaaan segar dan kenyang. Suhu berperan penting terhadap kemunduran ikan dimana semakin tinggi suhu ikan maka semakin cepat bakteri berbiak. Suhu ikan diturunkan serendah mungkin maka kegiatan bakteri dapat dihentikan. Suhu palka ikan harus dijaga dan dilindungi dengan memperhatikan konstruksi palka Penyimpanan di dalam palka Ikan yang sudah disiangi dan dicuci bersih, atau ikan-ikan kecil yang telah dicuci dimasukan dengan hati-hati ke dalam palka ikan. Mengangkut ikan ke dalam palka tidak boleh dengan dilempar-lemparkan atau dituangkan dari atas sehingga banyak melukai ikan.
Menyusun ikan di dalam palka dapat dilakukan dengan tiga (3) cara yaitu dengan :
1. bulking diartikan bahwa ikan-ikan ditumpuk di dalam ruangan palka secara bergantian denan es curah

2. shelfing diartikan bahwa cara mengatur ikan di atas rak-rak dalam palka
3. boxing diartikan bahwa cara mengatur ikan di dalam peti (kayu, plastik, aluminium, dll) dicampur dengan es.


14.3. Melakukan perawatan alat tangkap ikan


14.3.1. Merawat alat tangkap ikan dan peralatan dek


Setiap alat penangkapan ikan yang digunakan dalam usaha penangkapan ikan akan terjadi penyusutan alat tangkap yang digunakan, sehingga akan mengakibatkan terjadinya penurunan nilai kekuatannya dan dalam jangka waktu tertentu akan rusak sama sekali sehingga tidak dapat digunakan lagi. Nilai penyusutan alat tangkap itu dapat ditentukan
oleh :
- Pengaruh mekanis
- Perubahan sifat-sifat bahan karena reaksi kimia
- Pengerusakan oleh jasad-jasad renik
- Pengaruh alam
Sebab-sebab kerusakan bahan yang diakibatkan oleh hal tersebut diatas tidak dapat dicegah bahwa proses itu terus dan ada selama alat tangkap itu digunakan. Oleh sebab itu perlu diadakan penanganan dan merawatnya dengan baik dan benar agar alat tangkap tersebut dapat bertahan lebih lama dalam penggunaannya.
Cara merawat atau pemeliharaan alat penangkapan ikan secara umum sebenarnya sangat sulit untuk dibedakan antara perawatan dan pemeliharaan suatu alat, karena keduanya saling berhubungan yang erat. Memelihara suatu alat sebenarnya sudah termasuk perawatan, sedangkan perawatan adalah merupakan salah satu cara pemeliharaan. Pemeliharaan alat-alat penangkapan ikan dapat dilakukan dengan caracara sebagai berikut :
- Simpanlah alat tangkap dalam tempat yang aman
Berbagai penyebab kerusakan alat dapat terjadi seperti jaring dimakan tikus atau hewan-hewan lain atau jaring terbakar sehingga sangat perlu diperhatikan dalam penyimpan dalam tempat yang aman.
Oleh karena itu pada waktu alat-alat penangkapan tidak digunakan tempatkan dan disimpan dalam gudang yang baik dan bersih serta jauh dari bahaya kebakaran
- Hindari dari hal-hal yang memungkinkan akan menimbulkan kerusakan seperti penyinaran matahari langsung terutama pada panas terik, bekas-bekas minyak dan kotoran lainnya.

Pada umumnya alat penangkap ikan yang telah selesai digunakan dijemur. Hal ini perlu diperhatikan bahwa untuk alat-alat penangkapan ikan yang bahannya dari serat-serat sintetis hendaknya jangan dijemur dengan sinar matahari langsung menyebabkan alat penangkap mudah lapuk.
Sebaiknya alat-alat tersebut setelah dipakai hendaknya dicuci dahulu dengan air tawar kemudian diangin-anginkan saja (ditiriskan di tempat yang sejuk) sampai kering, kemudian diangkat dan dimasukan ke dalam gudang.
- Gunakan alat dengan secara hati-hati
Semua benda apapun yang digunakan jika cara pemakaiannya dengan hati-hati, baik dan benar pasti alat tersebut akan lebih awet bila dipakai dengan seenaknya saja (sembarangan) tidak pakai aturan.
Contoh bila kita hendak memasang atau mengoperasikan alat tangkap dalam suatu perairan tertentu terlebih dahulu harus yakin benar bahwa daerah penangkapan tersebut adalah merupakan daerah penangkapan (fishing ground) yang baik, bebas karang atau tonggak lain, dasar perairan yang tidak rata yang akan menyebabkan tersangkutnya jaring atau alat lainnya.
- Segera perbaiki sedini mungkin terutama pada kerusakan-kerusakan kecil.
Alat penangkapan yang selesai digunakan dalam operasi pengkapan ikan pasti terdapat kerusakan kecil dan besar, oleh sebab itu jika melihat terdapat kerusakan alat tangkap maka segera dilakukan perbaikan. Biasanya perbaikanlangsung artinya saat operasi penangkapan berlangsung atau perbaikan dilakukan saat tidak melakukan operasi penangkapan.
Kerusakan-kerusakan alat tangkap pada umumnya disebabkan oleh :
- Gesekan antara alat dengan benda-benda lain (badan kapal misalnya)
- Tersangkut oleh benda-benda lain (karang, tonggak dan sebagainya)
- Digigit atau karena sirip ikan atau gerakan ikan yang akan melepaskan diri
- Sengaja dirobek oleh nelayan karena terjadi kekusutan
Yang dimaksud dengan peralatan deck adalah peralatan kapal yang diperlukan sebagai penunjang operasi penangkapan ikan. Dengan peralatan deck maka oparasi penangkapan ikan dapat berjalan lancar.

Setiap kapal penangkapan ikan ada perbedaan jenis peralatan deck yang digunakan tergantung jenis dan macam alat tangkapnya. Contoh alat tangkap long line dengan jaring lingkar (Purse siene), salah satu peralatan deck untuk kapal long line adalah line hauler, kemudian peralatan deck untuk kapal purse siene adalah power block. Tentu ada peralatan deck lainnya yang juga mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya adalah winch dan kapstan. Pada umumnya perawatan peralatan deck harus dilakukan perawatan secara rutin dan berkala karena alat tersebut adalah sangat penting jika tidak dapat dioperasikan maka akan menghambat kegiatan operasi penangkapan. 1

4.3.2. Merawat alat bantu penangkapan ikan


Berhasil atau tidaknya tiap usaha penangkapan ikan dilaut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan (fishing ground), gerombolan ikan (populasi), dan keadaan potensinya, untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan (mengumpulkan) kawanan ikan sebelum penangkapan dilakukan ialah menggunakan alat bantu penangkapan (fish agregating device, fish lure) atau biasa disebut ”rumpon” dan ”sinar lampu (fish fishery). Disebut alat bantu penangkapan karena membantu untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat dan jika ikan telah terkumpul kemudian dilakukan operasi penangkapan ikan. Perbedaan kedua alat bantu penangkapan terbut adalah ditinjau dari fungsi dimana rumpon dipergunakan untuk penangkapan siang hari, sedangkan lampu dipergunakan penangkapan malam hari, terutama pada bulan gelap sebab pada waktu bulan terang cahaya sinar lampu kurang berperan artinya cahaya lampu tidak terpusat pada satu titik dengan radius tertentu sehingga ikan-ikannya tersebar atau tercerai berai.
Rumpon ditinjau dari kedalaman perairan maka rumpon dapat dibedakan menjadi rumpon dangkal dan rumpon dalam. Penyebutan jika rumpon dangkal adalah ”rumpon” saja, sedangkan rumpon dalam disebut ”payos”. Rumpon dioperasikan biasanya pada kedalaman 30 – 75 m. Setiap alat bantu penangkapan baik rumpon maupun payos dibuat sudah pasti memiliki daya efektif alat dapat digunakan, dengan demikian baik bahan atau material yang digunakan mempunyai batas kemampuan atau kekuatan sehingga secara keseluruhan pada batas waktu tertentu rumpon tidak dapat digunakan. Demikian juga alat bantu payos seperti lampu adalah satu kebutuhan yang sering diperlukan untuk mengganti lampu yang mati.

Rumpon ditanam di dalam air jadi bahan-bahan yang digunakan harus memilih bahan yang tahan air.


14.4. Menerapkan prinsip-prinsip manajemen kapal penangkap ikan


Konsep manajemen kapal penangkap ikan
Manajemen telah banyak disebut sebagai seni untuk menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain dengan tidak melakukan pekerjaan itu sendiri. Dari definisi tersebut diatas maka dapat diperluas pengertiannya bahwa manajemen kapal penangkapan ikan itu adalah bagaimana mengatur kapal penangkap ikan untuk melakukan fungsinya dari berbagai pekerjaan yang harus dilakukan sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi manajemen kapal penangkap ikan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pemeliharaan dan pelepasan sumberdaya manusia agar tercapai tujuan yang diharapkan. Beberapa pandangan penting yang harus diperhatikan bila kita menginginkan manajemen kapal penagkap ikan dapat berlangsung dengan baik harus mempertimbangkan antara lain :
1. Pendekatan sumberdaya manusia
Martabat dan kepentingan hidup manusia hendaknya tidak diabaikan agar kehidupan mereka layak dan sejahtera. Dengan memperhatikan akan kehidupan mereka layak dan sejahtera maka tidak akan menggangu tugas-tugas bagi setiap manusia yang terlibat dalam kegiatan operasi penangkapan.
2. Pendekatan manajerial
Kerja sama antar departemen yang terkait dalam melakukan tugastugas dalam suatu organisasi sangat diperlukan, dimana satu dengan yang alin saling memenuhi, melengkapi bahkan saling mengoreksi. Pendegelasian tugas dan tanggung jawab bagi setiap manajer terhadap bawahannya sangat diperlukan, yang pada akhirnya diharapkan pengoperasian kapal penangkap ikan dapat mencapai tujuan.
3. Pendekatan sistem
Secara umum sistem yang dimaksud adalah organisasi yang merupakan sistem yang lebih besar, oleh karena itu manajemen suatu organisasi harus dievaluasi dengan kreteria besarnya konstribusi yang dibuat oleh organisasi. Model manajemen diperlukan suatu sistem yang terbuka dimana masing-masing bagian atau departemen saling berhubungan. Masing-masing bagian saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.
4. Pendekatan proaktif
Manajemen meningkatkan konstribusinya kepada para karyawan, kemudian manajer dan organisasi melalui antisipasinya terhadap masalah-masalah yang akan timbul. Bila hal ini tidak dilakukan, maka upaya-upaya reaktif perlu diambil, dan ini berarti pemecahan masalah-masalah menjadi lebih sulit dan perusahaan bisa kehilangan berbagai kesempatan

5. Pendekatan prioritas
Manajemen selalu dan senantiasa diperhadapkan pada suatu persoalan yang sulit jika muncul beberapa masalah yang bersamaan, inilah saatnya pihak manajemen harus mengambil keputusan yang bijak dengan memperhatikan tingkat prioritas penyelesaiannya. Jika hal ini dilakukan dengan bijaksana maka organisasi dan seluruh sistem akan berjalan dengan lancar.
Organisasi kelembagaan perikanan
Organisasi struktural dibawah pengawasan dan pengendalian dari pusat yaitu Departemen Kelautan dan Perikanan, demikian juga untuk tingkat instansi dibawahnya yaitu DKP Propinsi Dati I, DKP Kabupaten Dati II dan seterusnya.

Merencanakan operasi penangkapan ikan dan docking kapal Didalam merencanakan operasi penangkapan ikan sangat diperlukan persiapan-persiapan yang meliputi persiapan yang berhubungan dengan Departemen Deck / nautika, departemen mesin, departemen penangkapan. Hubungan dari ke tiga departemen ini semua kebutuhan akan perencanaan operasi penangkapan ikan dapat dipenuhi dengan lancar dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing departemen. Tahap persiapan ini sangat penting karena dari sinilah semua rencana dapat dipastikan, dimana daerah penangkapan yang menjadi tujuan penangkapan, berapa lama operasi dilaksanakan, berapa jumlah yang harus disediakan bahan bakar, bahan makanan, air tawar, sudah siapkah alat tangkap yang digunakan, dlsb.
Persiapan dalam merencanakan operasi penangkapan ikan dapat dibagi menjadi :
Persiapan di darat meliputi :
1. Pengurusan dokumen kapal, surat ukur kapal, pas tahunan, surat ijin berlayar, sertifikat kesempurnaan, surat ijin usaha penangkapan dan sijil awak kapal.
2. Pemeriksaan dan uji coba kesiapan peralatan navigasi dapat dioperasikan dan berfungsi dengan baik.
3. Perlengkapan kapal yang lain seperti Blok, Takal dan Takal Dasar diperiksa diberi gemuk tempat-tempat yang bergerak, segel-segel rantai jangkar juga diperiksa dan dipersiapkan.
4. Tata dan atur alat tangkap yang akan digunakan serta alat bantu penangkapannya
5. Melengkapi perbekalan kapal antara lain : bahan bakar, minyak pelumas, perlengkapan perbaikan jaring (benang, jaring, pelampung pemberat, dll.), bahan makanan, obat-obatan.
Persiapan di laut meliputi :
1. Kegiatan mempersiapkan alat penangkapan sebelum sampai di tempat daerah penangkapan
2. Tentukan yang pasti posisi penangkapan melalui alat-alat navigasi yang ada
Docking kapal
Didalam mencapai suatu tujuan usaha atau kegiatan haruslah melalui tahap-tahap dimana akan mempermudah didalam pelaksanaannya. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan, serta pengawasan, semuanya itu akan terwujud bila satu sama lainnya bisa seimbang. Untuk itu peranan yang sangat penting didalam menentukan keberhasilan ialah pengawasan dan kontroling segala kegiatan.

Salah satu kebutuhan pokok kapal yang harus dilakukan tepat waktu adalah total perawatan atau docking kapal. Hal ini dilakukan untuk laik laut, sehingga keselamatan kapal beserta isinya dapat terjamin. Pekerjaan yang dilakukan di dalam docking ini adalah merawat, memeriksa bahkan mungkin mengganti semua peralatan yang ada di kapal harus di uji kelayakannya.
Persiapan di dalam merencanakan kegiatan docking kapal anatara lain :
1. Kesiapan bahan baku dan suku cadang
2. Perkiraan waktu docking
3. Jenis-jenis pekerjaan yang harus dikerjakan dalam dock
4. Tenaga ahli yang menangani (dock enginer)
5. Biaya
6. Prosedur administrasi docking
7. Pengajuan perencanaan perawatan dan docking
Beberapa contoh pekerjaan yang dilakukan dalam docking antara lain meliputi :
1. Pekerjaan lambung kapal
2. Pekerjaan katup-katup sea chest
3. Pekerjaan jangkar, rantai jangkar dan ceruk jangkar
4. Pekerjaan pada sistem propulsi
5. Pekerjaan kalibrasi turbo charger dan fuel injection pump
6. Pekerjaan dll.
Setelah semua kegiatan pekerjaan docking dinyatakan selesai, untuk mendapatkan hasil yang tidak diragukan lagi atau baik, maka harus dilakukan sea trial. Jika hasil sea trial tidak ada masalah artinya semua peralatan telah berjalan sempurna maka kapal sudah dinyatakan selesai docking.
Menghitung eksploitasi kapal per trip Besar biaya yang harus dipikul oleh sebuah kapal yang hendak melakukan operasi penangkapan ikan tergantung dari :
Biaya tetap dan biaya yang tidak tetap artinya biaya tetap itu seperti biaya penyusutan kapal dan alat tangkap, sedangkan biaya tidak tetap / berubah-ubah itu seperti jumlah bahan bakar, makanan, dlsb. Untuk itu besarnya biaya ditentukan seperti jarak tempuh kapal dalam pelayaran menuju fishing ground, besar mesin penggerak kapal, lama waktu operasi/trip dan biaya-biaya lainnya. Jika sebuah kapal penangkap ikan dimana biaya total eksploitasi (TC) yang dikeluarkan sama dengan hasil yang diperoleh (TR) maka kapal tersebut sudah tidak menguntungkan. Tentu yang menjadi harapan setiap nelayan yang kelaut keuntungan atau membawa hasil uang.

Menentukan daerah penangkapan
Salah satu persiapan dalam merencanakan operasi penangkapan adalah menentukan daerah penangkapan. Tujuan dan sasaran ikan yang akan ditangkap juga menjadi satu pertimbangan alat tangkap yang akan digunakan.
Contoh dalam penangkapan udang, maka alat penangkapan yang digunakan adalah trawl udang (shrimp trawl), sebelum melakukan operasi penangkapan (setting dan hauling jaring), maka menentukan daerah penangkapan menjadi faktor yang sangat penting, jika salah maka resiko akan menjadi persoalan.
Menentukan daerah penangkapan udang pertimbangannya bahwa dasar perairan harus rata, bentuk dasar lumpur atau lumpur berpasir. Jika tidak rata maka kemungkinan alat tangkap trawl akan mengalami kesulitan bergerak dan bahkan bisa hilang karena tersangkut perairan yang tidak rata itu.
Jadi perlu kita mengetahui habitat dan behavour, migrasi serta jumlah ikan yang akan ditangkap. Monitoring membuat laporan daerah dan hasil tangkapan Setiap perusahan perikanan mempunyai bentuk dan sistem yang berbeda-beda. Artinya bahwa laporan hasil tangkap misalnya harus segera dillaporkan sesuai bentuk laporan yang telah disediakan oleh instansi, dimana satu dengan yang lain mempunyai bentuk laporan sendiri.
Pada umumnya isi dari laporan hampir mempunyai kesamaan antara perusahaan perikanan yang satu dengan yang lainnya. Didalam laporan daerah dan hasil tangkapan ikan itu antara lain yang penting adalah :
Nama kapal, posisi lintang dan bujur setting dan hauling, jenis dan berat ikan yang tertangkap, cuaca juga perlu disampaikan, jumlah alat tangkap yang dioperasikan (hook rate).
Monitoring daerah penangkapan adalah sangat penting dalam upaya untuk meningkatkan hasi tangkapan. Karena dengan monitoring maka pada setiap musim ikan dapat diprediksikan perkiraan daerah penangkapan. Oleh sebab itu kegiatan antara monitoring dan laporan daerah penangkapan itu harus dilakukan dan wajib bagi setiap kapal penangkap ikan yang melakukan operasi penangkapan.


14.5. Menerapkan hubungan kemanusiaan dan tanggung jawab sosial di atas kapal


14.5.1. Mengidentifikasi aspek umum hubungan antar manusia


Dalam suatu kehidupan bersama atau kelompok dalam suatu daerah atau tempat tentu diperlukan suatu kehidupan yang satu dengan yang lain mengadakan suatu hubungan dalam suatu kepentingan yang sama. Hubungan atau interaksi antar kehidupan manusia perlu ada satu normanorma atau kaidah-kaidah yang harus disepakati bersama. Dengan suatu komitmen bersama dalam membangun suatu hubungan dimaksudkan agar tidak timbul permasalahan yang dapat menggangu hubungan yang telah dijalin bersama.
Beberapa aspek umum dalam hubungan antar manusia antara lain :
1. Aspek kepentingan bersama
Hubungan antar manusia yang dikoordinir itu adalah hubungan dalam satu kelompok yang sama jenis (wanita, pria, pengusaha, dll). Dari hubungan ini akan menjadi suatu kekuatan dalam membangun ketentraman dan saling melengkapi, saling memberi, saling mengasihi, saling peduli, dll.
2. Aspek sosial
Didalam kehidupan manusia diatas muka bumi pasti ada yang kaya dan ada yang kurang mampu. Ada manusia yang pintar dan ada yang kurang pintar, dlsb. Oleh sebab itu dalam hubungan antar manusia akan didapatkan pengaruh terhadap yang kurang mampu menjadi lebih giat untuk mendapatkan suatu perubahan yang meningkat. Demikian juga akan terjadi motivasi dan semangat untuk menjadi orang yang pintar.
3. Aspek kejiwaan
Karena kekurangannya manusia akan berubah sifat dan karakternya, merasa tidak ada gunanya bahkan merasa dirinya tidak layak untuk mengadakan hubungan dengan orang lain.
4. Aspek ekonomi
Hubungan antar manusia dapat terjadi karena tingkat ekonomi yang sama, seperti satu hubungan antar pengusaha
5. Aspek budaya
Hubungan antar manusia dapat terjadi karena mempunyai latar belakang budaya dan suku yang sama, dapat lebih fleksibel dan mempertahankan budaya nenek moyang kita.
6. Aspek saling melindungi
Didalam hubungan manusia bermasyarakat pasti ada benturan-benturan atau konflik yang terjadi. Konflik dapat terjadi karena lepas dari komitmen yang telah disepakati, bahkan keluar dari norma dan kaidah yang ada.

dapat diselesaikan bahkan pada saat yang akan datang akan lebih baik lagi dan konflik itu tidak akan kembali.


14.5.2. Hubungan antar manusia dalam kehidupan sosial di kapal


Diatas kapal terdapat suatu kehidupan yang diciptakan oleh manusia ( ABK ) yang mempunyai suatu kepentingan yang sama. Oleh karena itu aspek kepentingan bersama harus selalu ditimbuhkan ibaratnya seperti satu tubuh, jika salah satu anggota terganggu maka anggota yang lain akan merasa terganggu juga. Oleh sebab itu, rasa memiliki dan melindungi satu dengan yang lain juga dipelihara, jangan sampai pudar. Prestasi kerja atau hasil kerja di kapal tidak nampak kerja yang sifatnya individual tapi oleh karena satu team. Keberhasilan suatu kerja akan mempengaruhui hasil yang diperoleh, jika hasil kerja meningkat maka tingkat sosialnyapun akan meningkat. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik dan berkualitas tentu melalui seleksil Dalam kelompok ABK ini telah terseleksi sebelumnya ( jika akan menjadi crew kapal dilakukan ujian-ujian tingkat profesi, bahkan kemampuan menjadi ABK). Jika kemampuan profesi telah teruji tentu berdampak pada hasil kerja yang baik pula. Dengan peningkatan kemampuan maka akan terjadi peningkatan status yang berdampak pada kehidupan sosialnya. Sebaiknya hindarkan terjadi pengelompokan karena kehidupan sosialnya, ini akan berdampak pada prestasi kerja dan bahkan rawan konflik.


14.5.3. Hubungan sosial dalam lingkungan kerja


Seperti banyak yang kita lihat bahwa dilingkungan kerja dapat terjadi karena hubungan sosialnya. Misalnya di dalam lingkungan kerja didirikan koperasi, dimana sudah banyak mengetahui bahwa koperasi tiu adalah merupakan tempat berhubungan satu dengan yang lain dalam kepentingan yang bersama-sama. Jika bekerja tidak merubah tingkat sosialnya maka lebih baik mencari tempat kerja yang lain.


14.5.4. Menerapkan kepemimpinan diatas kapal


Dalam Undang-Undang N0. 21 Thn 1992 tentang pelayaran mendefinisikan Pemimpin kapal itu adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum di atas kapal untuk jenis dan ukuran tetentu serta mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu, berbeda yang dimiliki Nakhoda.
Nakhoda kapal adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum diatas kapal dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Awak kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil Anak Buah Kapal (ABK) adalah awak kapal selain Nakhoda atau pemimpin kapal. Semua pelaut yang bekerja di atas kapal tanpa kecuali disebut awak kapal (Ship’s crew) termasuk Nakhoda. Demikian juga halnya dengan pemimpin kapal atau Nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK) yang terdiri dari perwira kapal dan yang bukan perwira kapal. Dari keterangan tersebut diatas bahwa di atas kapal terdapat dua jabatan yaitu ” Nakhoda ” dan ” Pemimpin Kapal ”. Istilah Nakhoda kapal digunakan bagi pimpinan umum di atas kapal yang besarnya 100 m3 atau lebih bagi kapal motor, dan 300 m3 atau lebih bagi kapal yang tidak digerakan dengan motor (kapal layar).
Sedangkan istilah Pemimpin Kapal digunakan bagi pimpinan umum di atas kapal yang besarnya kurang dari 100 m3 untuk kapal motor dan kurang dari 300 m3 kapal tanpa motor.
Jadi pimpinan umum diatas kapal yang besarnya kurang dari 100 m3 bagi kapal motor dan kurang dari 300 m3 bagi kapal tanpa motor tidak dapat disebut Nakhoda melainkan Pemimpin kapal.
Perbedaan perlu diperjelas dan ditegaskan serta diciptakan agar jangan setiap orang yang memimpin kapal menyebut dirinya ” Nakhoda ”. Sebab jika tidak terjadi perbedaan maka akan ada orang yang tidak mengerti sehingga yang sebenarnya dia bukan Nakhoda contoh seseorang yang memimpin kapal kecil yang sedang menangkap ikan menganggap dirinya
Nakhoda.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
- Semua orang yang bekerja diatas kapal disebut awak kapal termasuk Nakhoda
- Nakhoda adalah pemimpin umum diatas kapal yang dibantu oleh KKM (Kepala Kamar Mesin) dan perwira deck (mualim) dan perwira mesin lainnya seperti Masinis-masinis, dalam
menyelenggarakan kegiatan di atas kapal


14.6. Tatalaksana perikanan yang bertanggung jawab


14.6.1. Identifikasi tatalaksana dan pemeliharaan habitat sumber daya laut


Pada prinsipnya pemeliharaan habitat sumberdaya laut itu bukan tanggung jawab semata oleh pemerintah , akan tetapi kita semua bangsa Indonesia. Mengapa demikian jika pemeliharaan ini dilakukan bersama sama antara pemerintah sebagai pihak regulator yang bertanggung jawab atas hukum dan perundang-undangan untuk melindungi sumberdaya laut.
Sedangkan pihak operator adalah pelaku yang mengeksploitasi atau yang mengusahakan sumberdaya itu dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat sebagai pemakai atau pengguna. Agar kelestarian sumberdaya laut terutama ikan dan biota lainnya dapat dinikmati sepanjang tahun bahkan sepanjang masa dunia ini maka perlu diberikan atau tatalaksana mengeksploitasi disertai dengan pemeliharaannya. Jadi antara mengeksploitasi ini harus diikuti dengan pemeliharaan perawatan melalui pengawasan yang melekat.
Semua itu dapat berjalan sesuai dengan aturan kelestarian sumberdaya laut perlu pemerintah mengeluarkan produk-produk hukum yang mengatur tentang tatalaksana pemanfaatan sumberdaya laut. Sumberdaya laut dimaksud mengaqndung arti yang sangat luas karena tidak terbatas biota yang hidup di laut saja tetapi juga kandungan dasar laut seperti minyak dan gas bumi. Oleh sebab itu pemerintah dalam hal ini harus membuat dan melakukan perundang-undangan. Identifikasi tatalaksana yang mengarah kepada pemeliharaan dan perawatan dan penjagaan habitat adalah sangat dan selalu di tegakan tanpa pandang status dan kultur.
Suatu hal hal perlu diperhatikan bahwa jika lingkungan perairan hidup terjadi kerusakan akibat manusia atau bahkan alam pasti akan merubah ekosistem kehidupan biota laut. Oleh sebab itu Undang-undang mengenai penangkapan ikan perlu dilakukan pengawasan terhadap kapal-kapal yang menangkap ikan seperti pembatasan mata jaring, kemudian pembatasan daerah penangkapan ( I, II, III, dan ZEE ). Dapat ditarik kesimpulan bahwa tatalaksana dan pemeliharaaan habitat sumberdaya laut dapat dilaksanakan apabila :
1. Pihak pemerintah sebagai pembuat dan pelaku undang-undang dan hukum
2. Ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
3. Nelayan dan pengusaha sebagai pengguna atau yang memanfaatkan melakukan prosedur sistem yang telah ditetapkan


14.6.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dan optimalisasi


penggunaan alat tangkap, ukuran dan spesies dalam penangkapan ikan Dalam usaha mencapai keberhasilan dalam penangkapan ikan banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain :

1. Efisiensi dan optimalisasi penggunaan alat tangkap (jumlah alat tangkap yang di operasikan).
Dengan berkembangnya alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan, maka perlu diadakan suatu pembatasan optimal alat tangkap (Effort). Karena dengan tidak dapatnya dilakukan pembatasan jumlah alat tangkap maka ada kemungkinan bahwa potensi ikan pada perairan tertentu akan mengalami penurunan. Artinya jumlah alat tangkap tidak sebanding dengan potensi lestari pada daerah penangkapan tersebut, sehingga akan terjadi over fishing.
Pada mulanya memang bahwa sumberdaya perikanan tangkap merupakan sumberdaya yang open access artinya setiap orang dapat melakukan kegiatan penangkapan disuatu wilayah perairan tanpa adanya pembatasan, sehingga terjadi over fishing. Dari dasar open acces inilah kecenderungan terjadinya lebih tangkap, untuk itu perlu di keluarkan suatu peraturan pembatasan alat tangkap yang diijinkan beroperasi
2. Potensi lestari ikan yang di tangkap (Catch)
Pada daerah penangkapan mempunyai nilai optimal kegiatan penangkapan di perbolehkan, dengan maksud agar ikan-ikan tersebut dapat ditangkap sepanjang tahun bahkan selama-lamanya. Hal ini dapat dinikmati apabila menjalankan peraturan yang diijinkan alat tangkap dioperasikan dengan jumlah potensi lestari ikan. Dari kedua faktor itulah maka ada istilah CPUE (catch per unit effort) yang artinya adalah hasil tangkap per unit upaya (spesies atau alat tangkap) dalam tahun atau beberapa tahun.
Kemudian istilah MSY (maximum sustainable yield) artinya adalah suatu upaya yang dapat menghasilkan suatu hasil tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi produktifitas stock secara jangka panjang. Tanda-tanda over fishing itu dapat dilihat dari ukuran dan jumlah spesies yang tertangkap. Jika ukuran ikan dan populasi spesies dalam jumlah yang kecil maka itu menandakan bahwa suatu daerah penangkapan mengalami gejala over fishing. Oleh sebab itu segera diadakan penelitian benarkah bahwa terjadi over fishing.
Peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam mempertahankan daerah penangkapan tidak mengalami over fishing, seperti pemerintah telah mengeluarkan Undang Undang 31 Tahun 2004 pada pasal 8 dimana larangan melakukan penangkapan dan atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, dan atau bangunan yang merugikan dan atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan atau lingkungannya.
Pada pasal. 8. menegaskan bahwa melarang penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan dan tipe alat tangkap yang digunakan.
Peran pemerintah berikut dalam hal kapal penagkap ikan diatur pada pasal 26. Dimana setiap orang yang melakukan usaha penangkapan wajib memiliki SIUP (Surat Ijin Usaha Penangkapan), SIPI (Surat ijin Penangkapan Ikan), SIKPI (Surat ijin Kapal Pengangkut Ikan). Kemudian pada pasal. 37, setiap kapal perikanan Indonesia diberi tanda pengenal kapal perikanan berupa tanda selar, tanda daerah penangkapan (Jalur I, II, dst) dan tanda alat penangkapan ikan. Setiap kapal ikan harus diawaki oleh orang orang masuk dalam sijil kapal,
susunan jabatan tidak jauh berbeda dengan kapal umum, ada Nakhoda diwakili oleh seorang mualin I yang memimpin tugas di kapal dibawah departemen Deck dan ada pula KKM sebagai penanggung jawab departemen mesin dan jajarannya. Kapal penangkap ikan mempunyai crew kapal yang berbeda dengan kapal umum yaitu setiap kapal mempunyai seorang fishing master diluar struktural organisasi kapal. Dan ada pula spesifikasi crew seperti boy-boy dikapal pole and line adalah seorang anak buah kapal yang khususnya hanya sebagai pembuang umpan dan ada di kapal lain yang berbeda alat tangkapnya.
Pada Bab.XIV dalam UU 31 Tahun 2004 berisikan tentang Penyidikan, Penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan perikanan. Pada pasal 72 dan 73, dasar hukum yang dipakai adalah hukum acara yang berlaku, kecuali ditentukan oleh Undang Undang. Didalam menyelesaikan suatu pelanggaran hukum maka peranan penyidik perlu dilakukan oleh penyidik pegawai negeri perikanan atau dapat pula oleh perwira TNI AL dan pejabat Polisi Negara RI.
Penyidik memberitahukan kepada penuntut umum tentang dimulainya dan menyampaikan hasil penyidikan. Penyidik dapat menahan tersangka paling lama 20 hari. Penuntut umum dapat memperpanjang proses pemeriksaan tersangka paling lama 10 hari (pemeriksaan belum selesai). Setelah waktu 30 hr penyidik harus sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum
Penuntutan dilakukan oleh penuntut umum yang ditetapkan oleh Jaksa Agung dan atau pejabat yang ditunjuk. Seorang penuntut umum perkara pidana di bidang perikanan harus sudah berpengalaman menjadi penuntut umum sekurang-kurangnya 5 tahun, telah mengikuti pendidikan dan latihan di bidang perikanan, cakap dan memiliki integritas moral yang tinggi selama menjalankan tugasnya. Penuntut umum menyampaikan hasil penyidikan kepada penyidik.
Penuntut umum melimpahkan perkaranya kepada pengadilan perikanan lagi jika pemerikasaan belum selesaidan Ketua pengadilan dapat memperpanjang 10 hari lagi.
Pemerikasaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana di bidang perikanan tertuang pada pasal.78. dimana Hakim pengadilan perikanan terdiri atas Hakim karier dan Hakim Ad Hoc dengan susunan 2 hakim ad hoc dan 1 hakim karier. Hakim karier dipilih oleh surat keputusan Mahkamah Agung, sedangkan hakim Ad Hoc dipilih Presiden atas usul Ketua M.A.







Beri Penilaian

Rating : 3.8/5 (30 votes cast)


Peralatan pribadi